Anda di halaman 1dari 12

BAB III

ULKUS & GANGREN DIABETIKUM

Ulkus Diabetikum
1. Pengertian
 Ulkus adalah kerasakan lokal atau ekskavasi prmukaan organ atau
jaringan yang ditimbulkan oleh terkupasnya jaringan nekrotik yang
radang. (Kamus Kedokteran, Borland 1985)
 Ulkus diabetikum adalah :
- Ulkus yang biasanya di ekstrimitas bawah yang berkaitan dengan,
DM. (Kamus Kedokteran, Dorland 1985)
- Penyakit kaki diabetik; termasuk komplikasi dari DM kronik.
- Luka yang berakhir dengan kematian saraf / jaringan, biasanya
dalam jumlah yang besar dan umumnya diikuti kehilangan
persediaan vaskular (nutrisi) serta diikuti oleh invasi bakteri dan
pembusukan. (Borland)

2. Penyebab ulkus / gangren diabetikum :


a. Pasokan darah yang berkurang. Dapat terjadi karena tekanan
pembuluh darah, misahiya pada pemasangan torniket, balutan yang
ketat dan pembengkakan tungkai.
b. Obstruksi pada pembuluh darah yang sehat, misahiya pada embolisme
arterial dan frost bite dimana pembuluh kapiler akan tersumbat.
c. Spasme pembuluh darah (pada keracunan orgot).
d. Trombosis yang disebabkan oleh penyakit pada pembuluh darah,
misalnya : aterosklerosis dalam pembuluh arteri, flebitik dalam vena.
(Kamus keperawatan)

3. Mekanisme terjadinya ulkus diabetikum :


Diabetes Mellitus menimbulkan beberapa komplikasi yang nantinya
meningkatkan resiko terjadinya infeksi kaki. Komplikasi tersebut adalah :
- Neuropati : Neuropati sensorik menyebabkan hilangnya perasaan
nyeri dan sensibilitas tekanan sedangkan neuropati otonom
meningkatkan kekeringan dan pembentukan fisum pada kulit (yang
terjadi akibat penurunan perspirasi).
- Penyaki Vaskuler Perifer : Sirkulasi ekstrimitas bawah yang buruk
turut menyebabkan lamanya kesembuhan luka dan terjadinya
gangren.
- Penurunan daya imunitas : Hiperglikemia akan mengganggu
kemampuan lekosit khusus yang berfungsi menghancurkan bakteri.
Denan demikian, pada pasien dengan diabetes yang tidak terkontrol
akan terjadi penurunan resistensi terhadap infeksi tertentu.

Komplikasi ini akan memacu serangkaian kejadian yang khas dalam proses
timbulnya ulkus diabetik pada kaki dimulai dari :
 Cedera pada jaringan lunak kaki. Cedera tidak dirasakan oleh pasien
yang kepekaan kakinya sudah menghilang dan bisa berupa cedar
termal, kimia atau traumatik.
 Pembentukan fisura antara jari-jari kaki atau di daerah kulit yang kering
atau pembentukan sebuah kalus. Jika pasien tidak mempunyai
kebiasaan untuk memeriksa kakinya setiap hari, cedera atau fisura
tersebut akan berlangsung tanpa diketahui sampai terjadi infeksi yang
serius.
Pengeluaran nanah, pembengkakan, kemerahan (akibat selulitis) atau
gangre pada tungkai biasanya merupakan tanda pertama masalah kaki
yang menjadi perhatian pasien. (Buku Ajar KMB 8ed. Bmnner &
Suddarth,EGC : Jakarta, 1996)

4. Tehnik perawatan ulkus diabetikum :


Tehnik perawatan ulkus diabetik disini ditekankan pada daerah kaki.
Perawatan kaki yang bersifat preventif mencakup :
a. Mencuci kaki dengan benar, mengeringkan dan meminyakinya, kita
haras berhati-hati agar jangan sampai celah diantara jari-jari kaki
meajadi basah oleh air atau lotion yang terakumulasi dibagian ini.
b. Inspeksi kaki haras dilakukan setiap hari untuk memeriksa apakah ada
gejala kemerahan, lepuh, fisura, kalus atau ulserasi.
c. Pasien haras diberitahu untuk mengenakan sepatu yang pas dan
tertutup pada bagian jari kaki.
d. Sepatu yang bara haras dikenakan sebentar-bentar (yaitu mula-mula
dikenakan selama 1-2 jam perhari, kemudian lama pemakaiannya
ditingkatkan secara berangsur-angsur) agar tidak terjadi lepuh.
e. Prilaku beresiko tinggi haras dihindari seperti berjalan dengan kaki
telanjang, menggunakan bantal pemanas pada kaki, mengenakan
sepatu yang terbuka pada begian jari kaki dan memangkas kalus.
f. Kuku jari kaki dipotong tanpa membuat lengkungan pada
sudut-sudutnya.
g. Pasien haras mendapatkan penyuluhan untuk mengurangj faktor
resiko seperti konseling tentang kebiasaan merokok dan kenaikan
lemak darah yang turat menimbulkan kelainan vaskuler perifer.
h. Pengendalian glukosa darah untuk menghindari penuranan resistensi
terhadap infeksi dan mencegah terjadinya neuropati diabetik.
(Baku Ajar KMB 8ed. Brunner & Suddarth,EGC: Jakarta , 1996)

5. Faktor resiko mengalami ulkus diabetikum :


 Lama penyakit diabetes yang lebih dari 10 tahun
 Usia pasien yang lebih dari 40 tahun
 Riwayat merokok
 Penuranan denyut nadi perifer
 Penuranan sensibilitas
 Deformitas anatomis atau bagian yang menonjol (seperti bunion dan
kalus)
 Riwayat ulkus kaki atau amputasi.
(Buku Ajar KMB 8ed. Brunner & Suddarth,EGC : Jakarta ,1996)
Sumber lain menyebutkan bahwa faktor resiko timbulnya ulkus diabetik
adalah:
 Faktor kadar glukosa darah
 Kadar haemoglobin rendah
 Lekosit lebih dari 10.000
 Pendidikan rendah
 Keadaan sosial ekonomi rendah
 Starus gizi kurang
 Indeks ankie brachial kurang dari 1 ,0
 Insensitivitas terhadap monofilamen Semmes Weinstein.
(www. google. com)

6. Terapi ulkus diabetikum :


Terapi ulkus kaki meliputi tirah baring, pemberian antibiotik dan
debridemen. Disamping itu pengendalian glukosa darah cenderung ketat
ketika terjadi infeksi untuk mencegah lamanya kesembuhan luka.

7. Askep pada Ulkus diabetikum / gangren diabetikum : Pengkajian :


a. Aktivitas dan istirahat
Gejala : lemah, sulit berjalan, kram otot, gangguan istirahat.
Tanda : takikardi, penurunan kekuatan otot.
b. Makanan dan cairan
Gejala : hilang nafsu makan, mual, muntah.
Tanda : kulit kering, muntah.
c. Neurosensori
Gajala : pusing, kesemutan, paraestesi.
Tanda : disorientasi, gangren memori, kejang, koma.
d. Keamanan
Gajala : kulit kering, gatal, ulkus kering.
Tanda : demam, lesi/ulkus, paralis otot.
e. Seksualitas
Gejala: impoten pada pria
f. Integritas ego
Gajala: stress.
Tanda : ansietas, peka rangsang.

Diagnosa:
a. Kekurangan volume cairan b.d diuresis osmosis
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakcukupan insulin
c. Sirkulasi resiko tinggi sepsis b.d perubahan pada sirkulasi
d. Perubahan sensori perseptual b.d perubahan kimia endogen
Perencanaan:
Tujuan :
a. Homeostasis dapat dipertahankan
b. Faktor- faktor penyebab/pencetus dapat dikontrol
c. Komplikasi dapat dicegah atau diminimalkan
d. Proses panyakit atau prognosa kebutuhan akan
perawatan diri dan pengobatannya dapat dipahami
Intervensi:
a. Pantau tanda-tanda vital (pola nafas, suhu, warna
kulit dan kelembaban)
b. Timbang berat badan tiap had
c. Tentukan program diet dan pola makan pasien
d. Lihat adanya ulkus dan tanda kemerahan
e. Catat lokasi dan intensitas nyeri (skala 0-10)
f. Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi
g. Berikan tindakan kenyamanan (ubah posisi, pijatan punggung) dan
aktivitas terapeutik.

Evaluasi:
a. Tanda vital stabil, nadi perifer dapat teraba, turgor kulit dan pengisisn
kapiler baik.
b. Mencerna jumlah kalori yang tepat, menunjukkan tingkat energy
seperti biasanya, berat badan stabil.
c. Faktor resiko menurun, pasien dapat mendemonstrasikan cara tehnik
untuk mencegah infeksi.
d. Mempertahankan tingkat mental seperti biasanya, mengenali dan
mengkompensasi adanya kerasakan sensori.
(Fundamental of Nursing; Potter Perry, 1993)

8. Definisi gangren diabetikum :


 Gas gangren:
- Kerusakan jaringan lokal yang berat, memiliki karakteristik
krepitasi jaringan karena adanya gas dalam jaringan.
- Nekrosis jaringan yang disebabkan adanya gas dan toksin yang
diproduksi oleh mikroorganisme (Clostridium perfringes,
Clostridium nouvi, Clostridium septicum) dalam jaringan yang
luka. (Scientific Foundation of Nursing, Nordmark, Rohweder)
 Gangren diabetikum:
Gangren yang terjadi pada penderita DM, disetiap bagian tubuh dan
umumnya mengenai bagian tubuh yang terletak dibawah terutama
ekstrimitas bawah. Hal ini biasanya karena pasokan darah yang kurang
tetapi terkadang akibat infeksi, (Medical Surgical Nursing, A
Physiologic Approach 4th Ed; Luckman &Sorensens, 1993 WE
Soundesr Company)

9. Mekanisme terjadinya gangren diabetikum :


Pada penderita DM kadar gula sangat tinggi, respon imunnya turun
sehingga rentan terhadap infeksi. Infeksi pada DM sukar sembuh karena
dalam keadaan biperglikemi kuman tumbuh subur sehingga terjadi
pembusukan dan timbullah gangren. (Medical Surgical Nursing, A
Physiologic Approach 4th Ed; Luckman & Sorensens, 1993 WB Sounders
Company) .

10. Penanganan gangren diabetikum :


a. Menghilangkan nyeri
b. Melawan infeksi
c. Memperbaiki anemia
d. Menghentikan rokok penderita (kecuali mungkin bila
iskhemi merupakan akibat trauma)
e. Lindungi tungkai yang sehat.
(Ilmu Bedah Gawat Darurat, Hamilton Bailey, 1992)

11. Pengertian amputasi:


Amputasi berasal dari bahasa Yunani "amputare" yang berarti pancung.
Dalam Ilmu Kedokteran berarti membuang sebagian atau seluruh anggota
gerak, sesuatu yang menonjol atau tonjolan alat (organ) tubuh. (Ilmu
Bedah Gawat Darurat, Hamilton Bailey, 1992)
12. Indikasi dilakukannya amputasi:
 Gas gangren yang telah terbukti
 Cedera vaskular besar yang tidak dapat diperbaiki
 Iskemia otot menyeluruh yang irreversible
 Anestesi telapak kaki
 Stasis upna
 Kehilangan kulit yang luas, misal: pengelupasan
 Fraktur kecil dan devaskularisasi tulang besar
 Penghancuran sendi
 Kekurangan saraf motoris dan atau sensoris yang berarti.
(Ilmu Bedah Gawat Darurat, Hamilton Bailey, 1992)

13. Masalah psikososial pasien dengan amputasi:


 Kemarahan secara terus terang atau tersembunyi
 Depresi
 Mudah menangis
 Makan sangat sedikit
 Kurang tidur atau banyak tidur
 Menghindari interaksi dengan orang lain
 Ketakutan klien akan tidak bisa berjalan lagi sama sekali.
(Medical Surgical Nursing, A Physiologic Approach 4th Ed; Luckman &
Sorensens, 1993 WBSounders Company).

14. Cara melakukan amputasi:


Untuk tindakan life saving maka tindakan harus cepat, umumnya indikasi
karena kerusakan yang hebat dan tidak dapat dipertahankan baik akibat
kehilangan darah maupun akibat penyebaran infeksi (sepsis).
a. Di tempat yang sarananya tidak memadai, maka cara Guillotine masih
dapat dipertahankan yaitu : pemotongan ketinggian (level) dipilih
yang aman baik dari segi infeksi dengan melihat reactive zonenya atau
kerusakan jaringan lunaknya, karena tindakan cara Guillotine
memerlukan tindakan yang kedua yaitu mengadakan stump revision.
b. Apabila sarana memadai a.l. dapat dilakukan resusitasi dengan baik
dan dapat memonitor keadaan pasien selama tindakan amputasi, maka
sebaiknya dilakukan flop amputation dengan demikian tidak perlu
tindakan kedua untuk stump revision : oleh karena itu level yag dipilih
harus tepat dengan mengingat tindakan pasca bedah untuk
rehabilitasinya. Pada umumnya (general rules) menenrukan level
adalah sebagai berikut:
- Panjang puntung, (untuk anggota gerak atas sebaiknya
mempertahankan sepanjang mungkin) dengan memperhatikan
jarak dari sendi proximalnya.
- Daerah yang cukup vaskularisasi jaringan lunak/kulit yang akan
dipakai sebagai penutup (flap). Stabilitas sendi proximal.

15. Pengkajian pada pasien sebelum dilakukan amputasi perlu


memperimbangkan :
 Keadaan fisik klien
 Tipe amputasi yang akan dilakukan
 Level amputasi yang dilakukan
 Fungsi vaskuler perifer
 Sikap klien secara umum menuju amputasi
 Kemampuan klien dalam rehabilitasi
 Tipe program rehabilitasi.
(Medical Surgical Nursing, A Physiologic Approach 4th Ed; Luckman &
Sorensens, 1993 WBSounders Company).

16. Perawatan pasien postoperasi:


a. Balutan tekan dan drain dilepas 48-72 jam setelah operasi.
b. Lihat adanya tanda-tanda inflamasi seperti kemerahan dan bengkak
pada lokasi luka dan monitor proses penyembuhan luka.
c. Pembalut diganti setiap hari sampai jahitan pada luka dilepas .(google)
d. Berfokus pada managemen nyeri, pencegahan komplikasi, mobilisasi,
perawatan area,
e. Amputasi , membantu pasien serta keluarga untuk mengatasi stress
psikologis karena kebilangan bagian tubuhnya.
f. Berikan analgesik sesuai indikasi selama beberapa hari
untuk mencegah infeksi.
g. Jaga stabilitas/integritas kulit dan hindari menggunakan krim karena
kelembaban dapat mengakibatkan kerusakan kulit dan infeksi bakteri.
(Manual of Nursing Care, Sounder)

17. Pengertian nekrotomi:


 Pemotongan terhadap mayat
 Eksisi suatu sekuesterum
 Pembuanganjaringanmati

Diabetes Melitus:
1. Pengertian DM :
Adalah sindroma kronis heterogen ditandai dengan peninggian kadar
glukosa darah (hiperglikemi) kronik akibat defisiensi insulin relatif atau
absolut dan atau hiperghlkagonemia. (Seminar pencegahan dan
penanganan komplikasi DM)

2. Penyabab DM:
Kenaikan kadar gula dalam darah akibat kekurangan insulin atau
reseptor insulin tidak berfungsi dengan baik.

3. Tanda dan gejala DM :


 Glukosuria, diuresis osmotik, poliuri, polidipsi, polifagia.
 Keletihan dan kelemahan.
 Napas bau buah
 Luka yang lama sembuh
 Infeksi vaginal
(Buku Saku KMB,Brunner & Suddarth)

4. Macam dan Patofisiologi DM :


Tipe I: Insulin-Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)
Sel-sel beta dari pankreas yang normalnya menghasilkan insulin
dihancurkan oleh proses autoimun sehingga tubuh kekurangan insulin dan
akibatnya kadar gula dalam darah tinggi.
Tipe II: Non-Insulin-Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)
Timbul karena insulin tidak berfungsi dengan baik. Insulin yang
ada tidak bekerja dengan baik karena reseptor insulin pada sel berkurang
atau berabah struktur sehingga hanya sedikit glukosa yang berhasil masuk
akibatnya sel mengalami kekurangan glukosa sedang di sisi lain glukosa
menumpuk dalam darah. Kondisi ini dalam jangka panjang akan merusak
pembuluh darah dan menimbulkan berbagai komplikasi.
(Buku Saku KMB, Brunner & Suddarth)

5. Komplikasi DM:
Komplikasi Akut, terjadi sebagai akibat dari ketidakseimbangan jangka
pendek dalam glukosa darah.
 Hipoglikemia
 Ketoasidosis diabetik (DKA)
 Sindrom hiperglikemik biperosmolar non-ketotic (HHNK).
Komplikasi kronis, umumnya terjadi 10-15 tahun setelah awitan.
 Makrovaskular (penyakit pembuluh darah besar) : mengenai
sirkulasi koroner, vaskular perifer dan vaskular serebral.
 Mikrovaskular (penykit pembuluh darah kecil) : mengenai mata
(retinopati) dan ginjal (nefropati)
 Penyakit neuropati : mengenai saraf sensorik, motorik
dan autonom serta menunjang masalah seperti impotensi dan
ulkus pada kaki.
(Buku Saku KMB, Brunner & Suddarth)

6. Penanganan DM :
Managemen kolaborasi
Pengkajian:
a. Gejala yang berhubungan dengan hiperglikemia seperti
poliuria,polidipsi, polifagi, kehilangan berat badan dan fatigue.
b. Komplai pada kelemahan, perubahan penglihatan, sering terkena
infeksi kulit, kering dan gatal, masalah seksual dan
ketidaknyamanan vagina serta semua gejala pada komplikasi.
c. Retinopati yang nyata atau adanya katarak.
d. Perubahan kulit terutama pada lengan dan kaki, menggambarkan
kerusakan sirkulasi perifer.
e. Pada Tipe I, otot lemah dan kehilangan lemak subkutan.
f. Pada Tipe II, kurus, kehilangan lemak sekitar wajah, leher dan
abdomen,
g. Kehilangan turgor kulit dan membran mukosa kering b.d dehidrasi.
h. Penurunan nadi perifer, temperatur kulit dingin dan penurunan
reflek.
i. Hipotensi orthostatic
j. 98/Ketoasidosis diabetik (DKA), karakteristik napas bau buah
karena peningkatan produksi aseton.

Diagnosis keperawatan & Masalah kolaborasi


a. Resiko injuri b.d komplikasi
 Pemenuhan pengobatan terbikti dengan kadar Hb glikosilat
normal.
 Mengenali tanda dan gejala hiperglikemi dan hipoglikemia
secara cepat dan mengambil tindakan cepat untuk mencapai
kadar glukosa darah normal atau mencari bantuan darurat jika
memungkinkan.
 Menunjukkan tidak ada tanda atau gejala komplikasi kronik,
seperti retinopati, nefropati atau neuropati.Pengalaman tidak
ada luka dari diabetes.
b. Ketidaksesuaian penyesuaian diri b.d penyakit kronik dan
pengobatan yang komplek.
 Mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran tentang diabetes dan
managemennya, memperoleh informasi dari sumber yang jelas.
 Menjelaskan pemahaman resep pengobatan dan
mendemonstrasikan keterampilan dalam pengelolaannya.

Perencanaan & Implementasi


 Konsultasi kepada ahli gizi untuk merencanakan diet yang
direkomendasikan mencakup kalori, protein,karbohidrat dan
lemak.
 Memberi insulin atau obat anti diabetes oral.
 Adanya partisipasi pasien dalam masa pengobatan.
 Menjaga laporan yang akurat dari tanda vital, berat badan,
cairan tubuh urin output dan intake kalori. Monitor glikosa
serum dan kadar aseton urin.
 Monitor komplikasi pasien dengan resep regimen diabetes
 Monitor komplikasi akut dalam terapi diabetik terutama
hipoglikemia dan melihat tanda-tanda ketoasidosis dan HHNS
(poliuria, ketidaknormalan neurologi dan stupor)
 Pengobatan reaksi hipoglikemia secara cepat dengan
pemberian karbohidrat seperti jus buah, kembang gula, madu
atau jika pasien tidak sadar beri glukagon atau i.v dextrose,
insulin dan kemungkinan penggantian potassium.
 Monitor efek diabetes pada kardiovaskuler seperti
cerebrovaskular, arteri koroner, kerusakan vaskular perifer
serta efek diabetik pada perifer dan sistem, saraf otomatis.
 Mengamati tanda-tanda tarktus urinary dan infeksi
vagina,adanya nefropati dan neuropati dan neurologi kandung
kemih.
 Menetapkan perawatan kulit terutama pada tangan dan kaki.
 Menganjurkan kepada pasien untuk mengutarakan secara
verbal tentang perasanya mengenai diabetes dan efek
terhadap kehidupannya
 Adanya support secara emosional dan pengkajian realistik
tentang kondisinya, stress, dengan pengobatan yang sesuai
pasien dapat hidup normal.
 Membantu pengembangan strategi koping pasien.

Evaluasi
Pencapaian tujuan tergantung pada kesuksesan managemen
kolaborasi. Untuk pasien dengan DM, evaluasi terfokus pada
kadekuatan kontrol kadar glukosa darah dengan diet, pengobatan dan
latihan, adanya luka dan komplikasi dan keadekuatan pengetahuan.
(Keperawatan Medikal Bedah)