Anda di halaman 1dari 65

TUGAS UAS

PERENCANAAN TAMBANG

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:

RONALD SIMBOLON
09 306 009

FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL


INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN
SUMATERA UTARA
2014

1
Perencanaan Tambang
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumber daya (resources) adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan bagi
kehidupan manusia, baik itu sumber daya manusia, sumberdaya alam hayati,
sumber daya alam nonhayati, dan sumberdaya buatan. Indonesia dianugrahi oleh
Tuhan YME sumber daya alam yang banyak terkandung di dalam bumi Indonesia
ini diantaranya: minyak dan gas alam (migas), emas, berbagai jenis batuan yang
salah satunya adalah batubara. Untuk itu sebagai Negara yang terus berkembang
Indonesia terus berusaha untuk meningkatkan pembangunannya dari berbagai
bidang yang bertujuan untuk mensejahterakan kahidupan masyarakat Indonesia,
baik dari segi ekonomi maupun sumberdaya manusia masyarakat Indonesia itu
sendiri. Penyebaran batu bara yang hampir merata di pulau Sumatera terutama di
daerah jambi dan Sumatera bagian Selatan membuat daerah ini dilirik oleh
berbagai perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan maupun kontraktor-
kontraktor salah satunya adalah PT. Karya Bumi Baratama.
PT. Karya Bumi Baratama adalah perusahaan pertambangan dengan Perjanjian
Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang berlokasi di 2 (dua)
Propinsi yaitu Propinsi Jambi dan Propinsi Sumatera Selatan dengan luas area
PKP2B 18.440 hektar. Wilayah Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan
Batubara (PKP2B) PT. Karya Bumi Baratama berlokasi di daerah Muara Indung,
Tanjung Rambai, Meruap, Ladang Panjang, Lubuk Sepuh Kabupaten Sarolangun,
Propinsi Jambi dan Kabupaten Musirawas Propinsi Sumatera Selatan dan lokasi
pertambangan dapat dicapai dengan kendaraan roda empat melalui jalan Negara.
PT. Karya Bumi Baratama memiliki potensi sumberdaya batubara yang dapat di
tambang untuk itu PT. Karya Bumi Bratama memerlukan rancangan teknis untuk
penambangan batubara di daerah tersebut.

2
Perencanaan Tambang
1.2. Permasalahan

Masalah perencanaan tambang merupakan masalah yang kompleks karena


merupakan problem geometrik tiga dimensi yang selalu berubah dengan waktu.
Geometri tambang bukan satu-satunya parameter yang berubah dengan waktu.
Parameter-parameter ekonomi penting yang lain pun sering merupakan fungsi
waktu pula.

1.2 Maksud Dan Tujauan Perencanaan Tambang

1.2.1 Maksud Perencanna Tambang


Perencanaan ini dimaksudkan untuk mengetahui tahapan-tahapan yang dilakukan
dalam persiapan penambangan tambang batubara, mulai dari pencarian
(eksplorasi) batuan sampai pada tahapan reklamasi. Selanjutnya hasil perencanaan
dituangkan dalam satu bentuk laporan.

1.2.2 Tujuan Perencanaan Tambang

Tujuan dari Perencanaan ini adalah untuk mempersiapkan rencana penambangan


dan rencana produksi di PT. Karya Bumi Baratama, untuk:

1) Menghasilkan batubara pada tingkat produksi yang telah ditentukan dengan


biaya yang semurah mungkin.
2) Menghasilkan aliran kas (cash flow) yang akan memaksimalkan beberapa
kriteria ekonomik seperti rate of return atau net present value.
sehingga penulis bisa menerapkan pengetahuan yang sudah didapat di bangku
kuliah.

1.3 Ruang Lingkup Studi dan Metode Studi


Agar perencanaan tambang dapat dilakukan dengan lebih mudah, maka biasanya
dibagi menjadi tugas-tugas sebagai berikut :

A. Penentuan Batas Dari Pit

3
Perencanaan Tambang
Menentukan batas akhir dari kegiatan penambangan (ultimate pit limit) untuk
cadangan batubara. Ini berarti menentukan berapa besar cadangan batubara
yang akan ditambang yang akan memaksimalkan nilai bersih total cadangan
tersebut. Dalam penentuan batas akhir dari pit, nilai waktu dari uang belum
diperhitungkan.

B. Perancangan Pushback
Merancang bentuk-bentuk penambangan (minable geometries) untuk
menambang habis cadangan batubara tersebut mulai dari titik masuk awal
hingga ke batas akhir dari pit. Perancangan pushback atau tahap-tahap
penambangan ini membagi ultimate pit menjadi unit-unit perencanaan yang
lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Hal ini akan membuat masalah
perancangan tambang tiga dimensi yang kompleks menjadi lebih sederhana.
Pada tahap ini elemen waktu sudah mulai dimasukkan ke dalam rancangan
penambangan karena urut-urutan penambangan pushback telah mulai
dipertimbangkan.

C. Penjadwalan Produksi
Menambang batubara dan lapisan penutupnya (over burden) di atas kertas,
jenjang demi jenjang mengikuti urutan pushback, dengan menggunakan
tabulasi tonase dan tebal untuk tiap pushback yang diperoleh. Pengaruh dari
berbagai tebal lapisan batubara dan batas (cut off grade) dan berbagai tingkat
produksi batubara dan over burden dievaluasi dengan menggunakan kriteria
nilai waktu dari uang, misalnya net present value. Hasilnya akan dipakai
untuk menentukan sasaran jadwal produksi yang akan memberikan tingkat
produksi dan strategi kadar batas yang terbaik.

D. Perencanaan Tambang Berdasarkan Urutan Waktu


Dengan menggunakan sasaran jadwal produksi yang dihasilkan pada
penjadwalan produksi gambar atau peta-peta rencana penambangan dibuat
untuk setiap periode waktu (biasanya per tahun). Peta-peta ini menunjukkan
di bagian mana di dalam tambang batubara dan over burden untuk
penambangan tahun. Rencana penambangan tahunan di buat rinci, di

4
Perencanaan Tambang
dalamnya sudah termasuk pula jalan angkut dan ruang kerja alat, sedemikian
rupa sehingga merupakan bentuk yang dapat ditambang. Peta rencana
pembuangan lapisan penutup (over burden) dibuat pula untuk periode waktu
yang sama sehingga gambaran keseluruhan dari kegiatan penambangan dapat
terlihat.
E. Pemilihan Alat
Berdasarkan peta-peta rencana penambangan dan penimbunan lapisan penutup
dari perencanaan tambang dapat dibuat profil jalan angkut untuk setiap
periode waktu. Dengan mengukur profil jalan angkut ini, kebutuhan armada
alat angkut dan alat muatnya dapat dihitung untuk setiap periode (setiap
tahun). Jumlah alat bor untuk peledakan serta alat-alat bantu lainnya (dozer,
grader, dll.) dihitung pula.
F. Perhitungan Ongkos-Ongkos Operasi Dan Kapital
Dengan menggunakan tingkat produksi untuk peralatan yang dipilih, dapat
dihitung jumlah gilir kerja (operating shift) yang diperlukan untuk mencapai
sasaran produksi. Jumlah dan jadwal kerja dari personil yang dibutuhkan
untuk operasi, perawatan dan pengawasan dapat ditentukan. Akhirnya,
ongkos-ongkos operasi, kapital dan penggantian alat dapat dihitung.

1.4 Pelaksana Studi


Kegiatan penambangan di PT Karya Bumi Baratama (PT KBB) saat ini sedang
melakasanakan tahap eksplorasi pengembangan dan pelaksanaan tahap konstruksi
di blok potensial wilayah PKP2B. Untuk sementara hasil dari kegiatan eksplorasi
tersebut yaitu berupa 3 (tiga) lapisan batubara, dengan ketebalan lapisan antara 7
10 meter yang secara geologi termasuk dalam formasi Muara Enim dan lapisan
batubara ini menyebar dari arah Barat Laut Tenggara dengan kemiringan rata
rata 5. Yang menggunakan tenaga-tenaga ahli di bidang pertambangan

1.5 Jadwal Waktu Studi


Rencana untuk pembuatan laporan perencanaan ini sekitar 3 bulan, untuk
menyempurnakan dan koreksi-koreksi terhadap kegiatan penambangan perlu

5
Perencanaan Tambang
pertimbangan-pertimbangan yan baik, sehingga memaksimalkan kegiatan
penambangan yang akan di lakukan.

6
Perencanaan Tambang
BAB II KEADAAN UMUM

2.1 Lokasi Dan Luas Wilayah


Keberadaan bahan galian di suatu daerah atau wilayah akan memberikan
keuntungan comparative yang khas, karena tidak semua wilayah memiliki potensi
bahan galian yang dapat diusahakan. Keberadaan bahan galian dapat memberikan
manfaat yang optimal, pengembangannya disesuaikan dengan rencana
pembangunan wilayahnya, oleh karena itu suatu perencanaan haruslah meninjau
dari segala aspek, baik aspek geografis maupun geologi.

Lokasi penambangan PT. Karya Bumi Baratama terletak pada 044 00 048
30.00 LS dan 10211 15.00 102 41 5.00 BT. Lokasi penambangan yang
jauh dari pemukiman penduduk sekitar, sehingga mempermudah dalam hal
pembebasan lahan dan lokasi sangat strategis untuk dibangun. PT. Karya Bumi
Baratama adalah perusahaan pertambangan dengan Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara (PKP2B) yang berlokasi di 2 (dua) Propinsi yaitu
Propinsi Jambi dan Propinsi Sumatera Selatan dengan luas area PKP2B 18.440
hektar. Wilayah Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B)
PT. KARYA BUMI BARATAMA berlokasi di daerah Muara Indung, Tanjung
Rambai, Meruap, Ladang Panjang, Lubuk Sepuh Kabupaten Sarolangun, Propinsi
Jambi dan Kabupaten Musirawas Propinsi Sumatera Selatan dan lokasi
pertambangan dapat dicapai dengan kendaraan roda empat melalui jalan Negara.
PT. Karya Bumi Baratama memiliki potensi sumberdaya batubara yang dapat di
tambang untuk itu PT. Karya Bumi Bratama memerlukan rancangan teknis untuk
penambangan batubara di daerah tersebut.

7
Perencanaan Tambang
Gambar 2.1 Peta Kesampaian Daerah

2.2 Kesampaian Daerah Dan Prasarana Perhubungan


PT. Karya Bumi Baratama berlokasi di daerah Muara Indung, Tanjung Rambai,
Meruap, Ladang Panjang, Lubuk Sepuh Kabupaten Sarolangun, Propinsi Jambi
dan Kabupaten Musirawas Propinsi Sumatera Selatan dan lokasi pertambangan
dapat dicapai dengan kendaraan roda empat melalui jalan Negara.

2.3 Keadaan Daerah


Jarak jambi hingga Lubuk Sepuh Kabupaten Sarolangun berjarak 400 Km, lokasi
penyelidikan kurang lebih sekitar 20 Km. Daerah penyelidikan dapat dicapai dari
kota jambi melalui transportasi darat sekitar 6 jam.
Daerah penambangan di daerah lubuk sepuh ini beriklim tropis dengan
temperature udara berkisar antara 25 C 30 C.
Aktifitas penambangan tepatnya di tambang terbuka sangat dipengaruhi oleh
iklim dan cuaca. Pada musim hujan kegiatan penambangan akan terhambat karena
jalan untuk pengangkutan licin, akibatnya aktifitas penambangan tidak biasa
dilakukan. Sebaliknya pada musim kemarau akan timbul banyak debu karena

8
Perencanaan Tambang
kondisi jalan yang kering dan tidak disirami air sehingga secara tidak langsung
iklim dan cuaca sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses produksi.

2.4 Morfologi Daerah

Secara fisiografi daerah Lubuk Sepuh Kabupaten Sarolangun PT. Karya Bumi
Baratama termasuk dalam wilayah Pegunungan Tigapuluh yang merupakan
perbukitan bergelombang sedang sampai terjal ke arah timur dan utara dengan
ketingian bervariasi mulai dari 20m sampai yang paling tinggi 320m dari
permukaan air laut.
Kemiringan lereng di daerah penelitian antara 5-50%. Perbukitan ini dikelilingi
dataran yang sebagian besar berupa dataran rawa pasang surut yang
pelamparannya terletak di sebelah timur perbukitan bergelombang. Kelerengan
daerah termasuk landai dan aliran sungai yang deras. Fenomena tersebut
mencirikan stadia sungai yang tua dengan tingkat erosi horizontal lebih dominan
dari vertikal.
Pegunungan Tigapuluh mempunyai dua anak sungai yaitu Sungai Canako dan
Sungai Gangsal. Sungai Canako mempunyai dua anak sungai utama yaitu Sungai
Alin dan Antam. Sedangkan Sungai Gansal mempunyai empat anak sungai yaitu
Sungai Akar, Sungai Kerintang, Sungai Renteh dan Sungai Selesen. Pola aliran
sungai umumnya dendritik dibagian hulu anak sungainya. Pola anak sungai sejajar
terlihat pada anak sungai orde pertamanya. Arah umum sungai-sungainya adalah
Timurlaut, kecuali Sungai Antam mempunyai arah barat laut. Sungai Alin dan
sungai bagian hulu Sungai Gangsal mempunyai arah ke utara.

9
Perencanaan Tambang
BAB III GEOLOGI DAN KEADAAN ENDAPAN

3.1 Geologi

3.1.1 Lithologi

Berdasarkan Geological Map Daerah penyelidikan termasuk dalam area penelitian


dengan litologi yang cukup lengkap mulai dari Pra Tersier, Tersier hingga Kuarter.
Litologi penyusun di daerah penyelidikan dapat dikelompokan menjadi tiga
yakni :
1. Kelompok batuan Pra Tersier yang terdiri atas:
Batuan Pra Tersier di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi, yaitu:
a. Formasi Gangsal (Pcg)
Terdiri dari batusabak, filit, batusabak berbintik, batupasir termetamorfkan dan
kuarsir.
b. Formasi Pengabuhan (Pcp)
Terdiri dari batu pasir sela, greyweke kuarsit, dan batulanau, setempat dengan
butiran kerakalan, di beberapa tempat berubah menjadi hornfels.
c. Formasi Mentulu (Pcm)
Berupa Tuff, batu lempung tufaan dan batu pasir tufaan, tuff andesit sampa
tuff basalt, kelabu sampai coklat, keras dan forfiri.
d. Granit Akar (Rjg)
Terdiri dari granit, granodiorit, pegmatit, dan apilit dijumpai di sekitar Sungai
Akar dengan warna lapukan jernih hingga merah. Secara stratigarfi Formasi
Gangsal, Formasi Pengabuan dan Formasi Mentulu saling bersilang jari
(membaji). Ketiga formasi tersebut diterobos oleh intrusi granit.

2. Kelompok batuan berumur Tersier yang terdiri dari :


Batuan Tersier yang ada di daerah penyelidikan disusun sari beberapa formasi:
a. Formasi Kelesa (Teok)
Secara tidak selaras Formasi Kelesa di atas batuan batuan Pra Tersier,
formasi ini terdiri dari konglonerat, atau breksi, batupasir kerikilan, tufaan,
yang disisipi batu lempung, serpi dan batubara. Lapisan batubara dalam

10
Perencanaan Tambang
formasi ini memperlihatkan bentuk sifat-sifat hitam mengkilat tidak mengotori
tangan, keras dan ringan.
b. Formasi Lakat (Toml)
Bagian atas terdiri dari batu pasir kuarsa dan batu lempung lanauan atau
karbonan dengan bintil pirit dan kayu terkersikan, bagian bawah terdiri dari
konglomerat polemik dan batu kuarsa dengan batu lempung, tuff, batu lanau
dan sisipan serta lensa lensa batubara.
c. Formasi Tualang (Tmt)
Formasi Tualang melampar luas selaras di atas Formasi Lakat dan menjari
(membaji) dengan satuan batuan yang relatif diatasnya. Bagian atas terdiri dari
batupasir kuarsit, batulempung, batu lumpur puritan dan batupasir gloukonit.
Bagian bawah terdiri dari batu lempung dan batu pasir kuarsa, setempat
gampingan dan lanauan dengan bintil batupasir gampingan juga mengandung
glaukonit dan mika.
d. Formasi Gumai (Tmg)
Tersusun oleh serpih dan batulempung dengan sisipan batupasir dan
batuLumpur. Pada bagian atas dan tengah umumnya karbonan atau gamping
dengan bintil dan lensa mikrit yang mengandung banyak foraminifera.
e. Fomasi Air Benakat (Tma)
Secara stratigrafi Formasi Air Benakat dan Formasi Muaraenim saling
bersilang jari. Formasi Air Benakat terdiri selang seling batu lempung, batu
pasir, serpih dan batu lanau dengan sisipan batu pasir tufaan, lensa- lensa
kuarsa dan lignit.
f. Formasi Muara Enim. (Tmpm)
Terdiri dari perselingan batu pasir tufaan berbutir sedang- halus dengan batu
lempung tufaan, serpi tufaan dan tufa, abu-abu kehitaman, kecoklatan, dan
kemeraan, serpi tufaan dengan sisipan lensa batubara dan kayu karbonan.
g. Formasi Kerumutan ( Qtke)
Formasi Kerumutan diendapkan secara selaras di atas Formasi Muara Enim,
terdiri dari batupasir kuarsa, halus sampai sedang, batu lempung tufaan, tufa
setempat lempung pasiran, tufaan kerikilan, kelabu muda kemerahan, setempat
silang siur .

11
Perencanaan Tambang
3. Endapan Kuarter
Batuan pada Endapan Kuarter di daerah penyelidikan disusun dari beberapa
formasi :
a. Formasi Kasai (Qtk)
Secara stratigrafi Formasi Kasai terendapakan secara tidak selaras di atas
batuan berumur Tersier, yang terdiri dari batupasir kuarsa dan tufaan, tuff,
batulempung tufaan, batupasir tufaan berukura sedang sampai gravel,
berwarna abu-abu terang sampai abu-abu kecoklatan setempat silang siur,
dengan sisipan kayu karbonan
b. Endapan Rawa (Qs)
Terdiri dari lempung, pasir, lanau, lumpur, dan gambut berwarna hitam sampai
coklat, lunak tidak mengeras.
c. Aluvium (Qac)
Berupa lempung, lumpur, lanau pasir, kerakal, dan berangkal berwarna kelabu,
hitam sampai coklat tidak mengeras dengan sisa tumbuan dan lapisan
tipis gambut tersebar merata.

3.1.2 Struktur

Daerah penyelidikan terletak di Cekungan Sumatera Tengah yang berkaitan erat


dengan tektonik yang terjadi akibat penujaman busur samudera. Penujaman di
sebelah barat Sumatera terjadi pada Perm (Cameron, 1980) yang kemudian diikuti
dengan pembentukan busur gunung api Tersier sampai Resen. Cekungan Sumatera
Tengah merupakan bagian dari gunung api ini yang terletak bagian busur belakang
yang terdiri dari batuan metamorf berumur Permokarbon dan sedimen Tersier
sampai Kuarter (Suarna, N, 1991).
Struktur geologi di daerah ini terbentuk oleh tektonik pada Jura Kapur berupa
kelanjutan orogenesa Thai Malaysia diikuti oleh pengangkatan perbukitan
Tigapuluh pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal. Hal tersebut berkaitan dengan
pengangkatan busur Gunung Api Bukit Barisan. Tektonik berikutnya terjadi pada
Oligosen Awal dan mengakibatkan pengangkatan dan pensesaran batuan Tersier
yang terbentuk sebelumnya.

12
Perencanaan Tambang
Pada MioPliosen terjadi pengangkatan dan regresi sehingga batuan-batuan pada
Formasi Tulang, Gumai dan Air Benakat terangkat diikuti oleh pengendapan
Formasi Muara Enim. Berdasarkan pengamatan Citra SAR (Side Airborn Radar),
struktur geologi yang terbentuk akibat tektonik di cekungan Sumatera Tengah
berupa antiklin dan sesar sesar yang berarah baratlaut-tengara, timurlaut-
baratdaya.

Ga
mbar 3.1 Peta Geologi Blok Lubuk Sepuh

3.1.3 Geoteknik

Pada daerah Lubuk Sepuh Kabupaten Sarolangun PT. Karya Bumi Baratama
termasuk lereng yang agak curam hingga curam. Disamping itu pada proses
penambangan (pit slope) maupun yang merupakan sarana penunjang operasi
penambangan (bendungan, jalan, dll) itu tidak stabil maka kegiatan produksi akan
terganggu.

13
Perencanaan Tambang
Oleh karena itu suatu analisis kemantapan lereng merupakan suatu bagian yang
penting untuk mencegah terjadinya gangguan terhadap kelancaran produksi
maupun terjadinya bencana yang fatal.

Dilihat dari jenis material, ada 2 macam lereng, yaitu :

Lereng batuan
Lereng Tanah

Dalam analisis dan penentuan jenis tindakan pengamanannya, lereng batuan tidak
dapat disamakan dengan lereng tanah, karena parameter material dan jenis
penyebab longsor di kedua lereng tersebut sangat jauh berbeda.

Kemantapan lereng pada daerah penambangan umumnya tergantung pada faktor


penyebab sebagai berikut :

1. Lokasi, arah, frekuensi, kekuatan dan karakteristik dari bidang bidang lemah
2. Keadaan tegangan alamiah dalam massa batuan / tanah
3. Konsentrasi lokal dari tegangan
4. Karakteristik mekanik dari massa batuan / tanah
5. Iklim terutama jumlah hujan untuk di daerah tropis
6. Geometri Lereng

Tiga pendekatan utama dari analisis kemantapan lereng adalah :

1. Pendekatan mekanika batuan


2. Pendekatan mekanika tanah
3. Pendekatan yang memakai kombinasi keduanya

14
Perencanaan Tambang
3.2 Keadaan Endapan
3.2.1 Bentuk Dan Penyebaran

Pada blok Blok Lubuk Sepuh terdapat tiga seam batubara yaitu seam D, E dan F
diantara ketiga seam ini seam E merupakan seam utama yang terletak di bagian
atas dalam susunan yang di dominasi oleh batu lempung. Dari keseluruhan seam
E menempati 65% dari total sumberdaya yang teridentifikasi, seam ini merupakan
seam yang paling tebal dan mempunya kualitas terbaik dengan ketebalan mulai
dari 0,7-8 m. Sedangkan seam F merupakan seam yang terletak pada bagian
bawah dari keseluruhan seam F menempati 35 % dari total sumberdaya yang
teridentifikasi. Ketebalannya berkisar antara 0,5-6 m.

3.2.2 Sifat Dan Kualitas Endapan

Kualitas batubara yang dihasilkan PT. Karya Bumi Baratama termasuk kedalam
rank Sub bituminus A. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh PT.
Superintending Company of Indonesia (SUCOFINDO) kualitas batubara PT.
Karya Bumi Baratama adalah 6,194 kkal/kg, kadar sulfur 0,66% dan kandungan
abu 5,60% Dapat dilihat pada tabel 1 dibawaah ini.
Tabel 3.1 Hasil Analisis PT. Sucofindo terhadap kualitas batubara PT. Karya Bumi
Baratama
No. Parameter Satuan Angka
1. Total moisture % 23,70
2. Proximat analysis
a. Inherent moisture % 13,25
b. Volatile matter % 5,60
c. Ash content % 35,33
d. Fixed carbon % 45,82
3. Caloric value (ADB) Kkal/kg 6,194
4. Total sulfur (S) % 0,66

Keterangan:
1. Kandungan Air Total (Total Moisture)
Kandungan air total adalah banyaknya air yang terkandung dalam
batubara, baik yang terikat secara alami, maupun pengaruh kondisi luar
(kandungan air bebas dan kandungan air bawaan).
2. Analisis Proksimat (Proximate Analysis)

15
Perencanaan Tambang
Suatu analisis pada batubara yang bertujuan untuk memeperoleh data-data
kualitas batubara yang meliputi:
Kandungan Air Bawaan (Inherent Moisture)
Kandungan air bawaan adalah kandungan air yang terdapat pada
batubara bersamaan dengan terbentuknya batubara itu, air bawaan ini
mengisi pada pori-pori dari batubara tersebut.
Kandungan Abu (Ash Content)
Merupakan sisa zat organik yang terkandung dalam batubara setelah
dibakar, kandungan abu tersebut dapat dihasilkan dari pengotoran
bawaan dari pembentukan batubara maupun dari proses penambangan.
Kandungan Zat Terbang (Volatile Matter)
Zat terbang merupakan zat aktif yang menghasilkan energi atau panas
apabila batubara tersebut dibakar. Zat terbang umumnya terdiri dari
gas-gas yang mudah terbakar , seperti hidrogen (H), kabon monoksida
(CO), dan methan (CH4). Dalam pembakaran batubara dengan zat
terbang tinggi akan mempercepat pembakaran, sebaliknya zat terbang
rendah akan mempersulit proses pembakaran.
Kandungan Karbon Tertambat (Fixed Carbon)
Merupakan karbon yang tertinggal sesudah zat terbang dan kandungan
airnya hilang. Dengan adanya pengeluaran zat terbang dan kandungan
air maka karbon tertambat secara otomatis akan naik, sehingga makin
tinggi kandungan karbonnya kelas batubara akan naik.
3. Kandungan Nilai Kalori (Caloric Value)
Nilai kalori batubara adalah panas yang dihasilkan oleh pembakaran setiap
satuan berat batubara dalam sejumlah oksigen pada kondisi standar.
4. Total Sulfur (S)
Kandungan sulfur total dalam batubara yang terdapat dalam bentuk pirit
(FeS2) akan bereaksi dengan oksigen, reaksi ini merupakan reaksi
eksotermis yang mana reaksi ini akan membebaskan energi dalam bentuk
panas.
5. As Received (AR)
Batubara yanga masih mengandung air.

16
Perencanaan Tambang
6. Air Dried Based (ADB)
Batubara yang telah dikeringkan, namun masih memiliki kandungan air
bawaan ( Inherent Moisture).
7. Dry Based (DB)
Batubara kering/telah bebas dari kandungan airnya.
8. Dry Ash Free (DAF)
Batubara yang bebas dari total moisture dan bahan anorganik dalam
batubara.
Dengan kalori yang cukup tinggi dan kadar abu yang relatife rendah, sangat
memungkinkan hasil batubara PT. Karya Bumi Baratama mampu bersaing dengan
perusahaan lain dalam mencari pasar penjualan batubara.

3.2.2 Cadangan

Cadangan batubara terukur yang berdasarkan kajian kelayakan semua factor


terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. Tahap
eksplorasi batubara berdasarkan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dikutip dari
Standar Nasional Indonesia (1999), dilaksanakan memlalui empat tahap yaitu:
4 Survei Tinjau
Merupakan tahap eksplorasi paling awal dengan tujuan mengidentifikas
daerah yang secara geologis terdapat endapan batubara yang potensial untuk
penyelidikan lebih lanjut serta mengumpulkan informasi tentang kondisi
geografi, tataguna lahan, serta kesampaian daerah. Kegiatan penyelidikan
antara lain studi geologi regional, penaksiran, penginderaan jauh, dan metode
tak langsung lainnya serta inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan
peta dasar dengan skala sekurang-kurangnya 1 : 100.000.
5 Prospeksi
Tahap ini dimaksud untuk membatasi daerah sebaran endapan yang
akanmenjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. Kegiatan pada tahap ini antara
lain :
Pemetaan geologi dengan skala minimum 1 : 50.000, pengukuran penampang
stratigrafi, pembuatan paritan, pembuatan sumuran, pemboran uji, percontoan
dan analisis.

17
Perencanaan Tambang
6 Eksplorasi Pendahuluan
Tahap eksplorasi ini dimaksud untuk mengetahui gambaran awal bentuk tiga
dimensi endapan batubara meliputi ketebalan lapisan, bentuk, korelasi,
sebaran, struktur, kuantitas dan kualitas. Kegiatan penyelidikan antara lain:
pemetaan geologi dengan skala minimum 1:10.000, pemetaan topografi,
pemboran dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologi, penampang
geofisika, pembuatan sumuran.
7 Eksplorasi Rinci Tahap eksplorasi ini dilakukan untuk mengetahui kuantitas
dan kualitas serta model tiga dimensi endapan secara lebih rinci.
PT. Karya Bumi Baratama memiliki Cadangan terbukti (proved coal reserve) dari
hasil pemboran eksplorasi yaitu sebesar 385.298,32 ton

Gambar 3.2 Model Cadangan Batubara

3.2.2.1 Cara Perhitungan Cadangan

Dalam perhitungan cadangan, penaksiran menggunakan mine area yang


merupakan rumus paling sederhana untuk menghitung volume yang terletak
diantara dua buah penampang yang sejajar dengan luas S1 dan S2 serta jarak L.
Pada metode standar ini rumus
mean area yang digunakan adalah sebagai berikut :
V = L1 + L2 +...+ Ln .3.1
Keterangan :
L1, L2, L3, , Ln = luas setiap penampang (m)
S1, S2, S3, , Sn = luas setiap penampang (m2)
Perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus diatas karena
perhitungan volume batubara ditaksir per blok. Jenis perhitungan ini, dapat pula

18
Perencanaan Tambang
dilakukan dengan menggunakan rumus dibawah ini bila mempunyai jarak yang
sama:
V = L1 + L2 +...+ Ln .3.1
V = ((S1 + S2) + (S2 + S3) + (S3 + S4) + (Sn + Sn)) L/2
maka :
V = ((S1 + 2S2 + 2S3 +.+ 2Sn + Sn )L/2 .3.2
Sedangkan perhitungan luas pada mean area yang menghitung volume antara 2
buah penampang dengan kondisi S1 < 0,5 S2 , maka perhitungan dilakukan
dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
V = {S1 + 2S2 + } L/3 3.3

a. Penaksiran Cadangan dengan Software surfac

Dalam penaksiran cadangan batubara yang memiliki stripping ratio (SR) 8:1 dari
penampang area hasil analisis resgtaphich, endapan batubara yang telah dibagi
menjadi blok-blok dengan interval dengan jarak yang sama yakni 25 m x 25 m
dilakukan pembatasan area luasan penampang dengan menggambarkan poligon
yang melingkupi area tersebut. Kemudian dilakukan projection menjadi bentuk
desain geometri penambangan berupa pit penambangan secara keseluruhan.
Penamaan pit penambangan disesuaikan dengan nama blok yang dibatasi dengan
poligon daerah hasil resgtaphich mulai misalnya : Pit-Blok01, Pit-Blok02, Pit-
Blok03 dan seterusnya. Setelah berbentuk pit penambangan kemudian dilakukan
penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan
antara seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara. Perhitungan ini
dilakukan dengan pembatasan luas poligon dan elevasi penambangan dari bentuk
tiga dimensi pit penambangan.

3.2.2.2 Klasifikasi Dan Jumlah Cadangan

Dalam analisa cadangan adalah distribusi tebal. Cara termudah untuk melihat
distribusi tebal adalah dengan membuat diagram histrogram. Proses
penggambarannya dapat menggunakan klas interval. Parameter statistika seperti
rata-rata, modus, simpangan baku, nilai minimum, dan nilai maksimum
merupakan parameter yang harus diketahui.

19
Perencanaan Tambang
Tabel 3.2 Tabulasi Tebal

Tebal persentase % Tonase(ton) Comulatif


Tonage
11.1 1% 11100 11100
14.43 5% 72150 83250
3.9 10% 39000 122250
2.7 25% 67500 189750
2.75 50% 137500 327250
2.7 75% 202500 529750
2.95 90% 265500 795250
2.4 95% 228000 1023250
2.2 99% 217800 1241050

Kedalaman VS Tebal
60
50
40
30
Depth

20
10
0
11.1 14.43
3.9 2.7 2.75 2.7 2.95 2.4 2.2
Tebal

Gambar 3.3 Kedalaman Vs Tebal

20
Perencanaan Tambang
Tebal Vs Tonage
300000

250000

200000

150000

100000

50000

0
11.1 14.43 3.9 2.7 2.75 2.7 2.95 2.4 2.2

Gambar 3.4 Kedalaman Vs Tebal

Tebal Vs Comulatif tonage


1400000

1200000

1000000

800000

600000

400000

200000

0
11.1 14.43 3.9 2.7 2.75 2.7 2.95 2.4 2.2

Gambar 3.5 Tebal Vs Comulatif Tonage

21
Perencanaan Tambang
BAB IV RENCANA PENAMBANGAN

4.1 Sistem/Metode Dan Tata Cara Penambangan

Dalam kegiatan penambangannya PT. Karya Bumi Baratama melakukannya


dengan tambang terbuka. Metode penambangan yang digunakan adalah sistem
tambang terbuka open pit dikarenakan lapisan endapan batubara yang akan
ditambang secara umum tersingkap dipermukaan tanah sebagai out-crop dengan
kemiringan berkisar antara 5-10, dan ketebalan rata-rata lebih dari 3m.
Penambangan dibuat berdasarkan data hasil eksplorasi detil endapan batubara di
daerah penelitian.
Kegiantan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan
yaitu pembersihan lahan yang sekaligus dilakukan pengupasan dan pemindahan
tanah pucuk, operasi ini dilakukan pada lokasi dimana tambang akan dibuka yang
kemudian diikuti dengan penggalian dan pemindahan lapisan penutup berupa
overburden dan interburden yang dilakukan dengan menggunakan backhoe
dibantu dengan bulldozer. Untuk material lemah sampai sedang langsung
dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truck, dan bila ditemukan material
keras, terlebih dahulu diberaikan dengan bulldozer. Kegiatan terakhir yaitu
penggalian dan pemindahan batubara yang dilakukan dengan menggunakan
backhoe dan bulldozer. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai
sedang langsung digali dan dimuat kedalam dump truck. Sedangkan batubara yang
keras, akan di berai dahulu dengan bulldozer, kemudian digali dan dimuat dengan
backhoe.

22
Perencanaan Tambang
Gamabar 4.1 Tahap Kegiatan Penambangan

4.2 Tahp Kegiatan Penambangan


Tahapan kegiatan penambangan di PT. Karya Bumi Baratama menggunakan
system pushback design, mulai dari pembersiahan lahan hingga tahp produksi
batubara.

23
Perencanaan Tambang
a. Pembersiahan Lahan (Land Clearing)

Pembersihan lahan merupakan aktifitas penambangan yang dilakukan untuk


membersihkan area penambangan dari semak-semak dan pohon-pohon besar
maupun kecil.karena lokasi tambang ini di dominasi oleh hutan karet dan
perbukitan kecil maka pekerjaan pembabatan ini dilakukan oleh Bulldozer.

b. Pengupasan tanah penutup (Over Burden)


Pengupasan tanah penutup dapat dilakukan dengan beberapa metode sebagai
berikut; antara lain:
Back filling digging method
Pada cara ini, tanah penutup dibuang ketempat pembuangan beka
penambangan atau daerah yang tidak memiliki lapisan batubara didalamnya.
Cara ini cocok untuk tanah penutup yang bersifat:
a. Tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan bahan galian
b. Tanah atau batuan lunak
c. Letaknya mendatar
Sistem jenjang
Cara pengupasan lapisan tanah penutup dengan system jenjang (benching). Cara
ini dilakukan pada waktu pengupasan lapisan tanah penutup sekaligus membuat
jenjang. Sistem ini cocok untuk:
a. Tanah penutup yang tebal
b. Bahan galian yang cukup tebal

4.3 Recana Produksi


Untuk melaksanakan suatu penambangan maka diperlukan suatu rencana terlebih
dahulu, sehingga nantinya penambangan dapat berjalan sesuai dengan yang
diinginkan.

Metode penambangan yang diterapkan adalah metode push back design dimana
penambangan dilakukan dengan menambang over burden kemudian batubara

Rancangan Operasi penggalian batubara dilakukan dengan menggunkana backhoe

24
Perencanaan Tambang
PC600LC-7 dengan kapasitas bucket 0,7m3 dibantu dengan buldozer. Untuk
batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang, langsung digali dan
dimuat kedalam dump truck kapasita 10 ton. Sedangkan yang keras, diberaikan
dahulu dengan bulldozer, kemudian digali dan dimuat dengan backhoe.

a. Penggalian Batubara Bulan 01


Penggalian batubara tahun kesatu dilakukan pada elevasi 240-200 mdpl, dimulai
dari PIT_BLS01 hingga PIT_BLS06 dengan luas 9,73 ha Jumlah batubara yang
digali sebesar 90.000 ton. Backhoe PC160LC 7 yang digunakan yaitu 2 Unit,
dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada penggalian batubara bulan 01
overburden yang dihasilkan sebesar 180.000 ton diangkut ke waste dump.

b. Penggalian Batubara Bulan 02


Penggalian batubara tahun kedua dilakukan pada elevasi 200-160 mdpl, dimulai
dari PIT_BLS06 hingga PIT_BLS12 dengan luas 6,66 ha. Jumlah batubara yang
digali sebesar 90.000 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC
7 yang digunakan yaitu 2 Unit, dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada
penggalian batubara bulan kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material
overburden 360.000 BCM yang berada di waste dump. 3

c. Penggalian Batubara Bulan 03


Penggalian batubara tahun ketiga dilakukan pada elevasi 160-100 mdpl, dimulai
dari PIT_BLS12 hingga PIT_BLS15 dengan luas 20,02 ha. Jumlah batubara yang
digali sebesar 90.000 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC
7 yang digunakan yaitu 2 Unit, dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada
penggalian batubara tahun ketiga dilakukan backfilling dimana jumlah material
overburden 720.000 ton yang berada di waste dump 1.200.000ton ditimbun
kembali kedalam bekas penambangan tahun kedua backfilling dilakukan.

d. Penggalian Batubara Bulan 04


Penggalian batubara tahun keempat dilakukan pada elevasi 100-40 mdpl, dimulai
dari PIT_BLS015 hingga PIT_BLS018 dengan luas 11,44 ha. Jumlah batubara

25
Perencanaan Tambang
yang digali sebesar 98.365 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe
PC160LC 7 yang digunakan yaitu 2 Unit, dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8
unit. Pada penggalian batubara tahun keempat dilakukan backfilling dimana
jumlah material overburden 1.200.000 ton yang berada di waste dump 3,022,685
ton ditimbun.

4.4 Peralatan

Peralatan yang digunakan di PT. Karya Bumi Baratama terlihat pada table 4.1 alat
berat.

Tabel 4.1. Alat Berat PT. Karya Bumi Baratama


Jumla
No Jenis Alat berat Letak
h
1 Excavator:

v Komatsu PC 200 1 unit Tambang

v Komatsu PC 400 1 unit Tambang

v Caterpilar 330 B 1 unit Tambang

v Hyundai Rolex 400 1 unit Tambang

v Hyundai Rolex 320 1 unit Tambang

v Hitachi ex 400 1 unit Tambang

v Hitachi Zaxis 200 1 unit Stock room

Backhoe PC160LC 7 2 unit tamabang


2 Bulldozer

v D155A 1 unit Tambang

vD6D 1 unit Tambang

3 Dump truck

v Hino Ranger FG 235 JJ 6 unit Tambang

Hino Ranger FG 235 JJ 2 unit Tambang

26
Perencanaan Tambang
4.4.1 Rancangan Spiral dan Switchback
Pada umumnya swickback ingin dihindari sebisa mungkin karena cenderung
melambatkan lalu lintas, juga ban akan cepat aus dan perawatan ban akan lebih
besar pertimbangan lain ialah keamanan. Apabila ada sisi tambang yang jauh lebih
rendah dari dinding lainnya disekeliling pit, switchback disisi ini sering lebih
murah dari pada membuat jalan angkut spiral mengelilingi dinding pit.

4.4.2 Jarak Pandang


Jarak pandang adalah jarak yang diperlukan oleh operator untuk melihat kedepan
secara bebas. Pada tambang batbara jarak pandang ini perlu, karena dalam operasi
penggalian batubara, menghasilkan banyak debu, yang akan menganggu jarak
pandang dari operator dump truck.

4.4.3 Lebar Jalan


Tergantung pada lebar alat angkut, biasanya 4 kali lebar truk. Lebar jalan seperi
diatas memungkainkan lalulintas dua arah, ruangan untuk truk yang akan
menyusul, juga cukup untuk selokan penyaliran dan tanggul pengaman.
a) Lebar Jalan Lurus
L =n.Wt + (n+1).(0.5.Wt)
L : lebar jalan angkut minimum, (meter)
n : jumlah jalur
Wt : lebar alat angkut, (meter)
Lebar Jalan Angkut Lurus Nilai 0,5 pada rumus diatas menunjukan bahwa ukuran
aman kedua kendaraan berpapasan adalah sebesar 0,5 wt, yaitu setengah lebar
terbesar dari alat angkut yang bersimpangan. Ukuran 0,5 wt juga digunakan untuk
jarak dari tepi kanan atau kiri jalan kealat angkut yang melintasi secara
berlawanan. Apabilah tidak sesuai dengan ketentuan menurut perhitungan, maka
harus dilakukan perubahan karena selain dapat menghambat dalam kegiatan
pengangkuatan juga berbahaya bagi keselamatan operator dan kendaraan yang
beroperasi.
b) Lebar Jalan pada Tikungan
Lt = n(U + Fa + Fb + Z) + C)

27
Perencanaan Tambang
Z = C= (U + Fa + Fb )
Keterangan :
Lt : Lebar jalan angkut pada tikungan, (meter).
U : Jarak jejak roda, (meter).
Fa : Lebar juntai depan, (meter).
Fb: Lebar juntai belakang, (meter).
C : Jarak antara alat angkut saat bersimpangan,(meter).

Gamabar 4.2 Lebar Jalan

4.4.4 Radius Putar Truck


Jari-jari tikungan (belokan) berhubungan langsung dengan bentuk dan kontruksi
alat angkut yang digunakan. Disini digunakan ukuran alat angkut maksimum.
Dalam penerapan jari-jari lingkaran yang dijalankan oleh roda belakang dan roda
depan berpotongan dipusat C dengan sudut yang sama terhadap penyimpangan
roda. Penentuan besarnya jari-jari tikungan, rumus yang digunakan adalah :

Gamabr 4.3 Formulasi Radius Putar Truck

28
Perencanaan Tambang
4.4.5 Kemiringan Jalan
Super elevasi merupakan kemiringan jalan pada tikungan yang terbentuk oleh
batas antara tepi jalan terluar dengan tepi jalan terdalam karena perbedaan
kemiringan. Tujuan dibuat super elevasi pada daerah tikungan jalan angkut yaitu
untuk menghindari atau mencegah kendaraan kergelincir keluar jalan atau
terguling. Atau berguna untuk mengimbangi gaya sentrifugal (gaya mendorong
keluar) sewaktu kendaraan melintasi tikungan, dan menambah kecepatan.
R = Wb/sin
Dengan :
R : Jari-jari lintasan roda depan, meter
Wb : Jarak antara poros roda depan
dengan belakang
: Sudut penyimpangan roda depan ( )
Superelevasi Tikungan Jalan Angkut. Berdasarkan teori ankintos D.I.C. pada
kondisi jalan kering, nilai super elevasi merupakan harga maksimum yaitu 60
mm/m sedangkan pada kondisi jalan penuh lumpur atau licin, nilai super elevasi
terbesar adalah 90 mm/m. kemiringan tikungan tersebut tergantung tajamnya
tikungan dan kecepatan maksimal kendaraan yang diijinkan pada waktu melintasi
tikungan.
Secara matematis kemiringan tikungan jalan angkut merupakan perbandingan
antara tinggi jalan dengan lebar jalan. Untuk menentukan besarnya kemiringan
tikungan jalan dihitung berdasarkan kecepatan rata-rata kendaraan dengan
koefisien friksinya. Persamaan yang digunakan untuk menghitung superelevasi
yaitu:
tan = V2/R.G
dengan :
V : Kecepatan kendaraan saat melewati tikungan
R : Radius tikungan
G : Gravitasi bumi = 9,8 m/s2
Kemiringan jalan angkut merupakan suatu faktor penting yang harus diamati
secara detail dalam kegiatan kajian terhadap kondisi jalan tambang. Hal ini
dikarenakan kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan kemampuan

29
Perencanaan Tambang
alat angkut, baik dalam pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan.
Kemiringan jalan angkut biasanya dinyatakan dalam persen (%) yang dapat
dihitung dengan mempergunakan rumus sebagai berikut:
Grade () = Dengan:
h : Beda tinggi antara dua titik yang diukur
x : Jarak antara dua titik yang diukur
Secara umum kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik dan
aman oleh alat angkut saat menaiki atau turun dari ketinggian maksimum 8- 10%.

4.4.6 Cross slope dari Jalan Masuk Permuka Kerja


Maksud dari pembuatan cross slope adalah agar jika terdapat air pada jalan, maka
air tersebut akan mengalir pada tepi jalan. Cross slope didapat dari perbandingan
y:x untuk jalan yang tidak berlapis salju atau jalan yang materialnya masih bisa
meresap air, maka cross slope dibuat 1:25. Jika jalan belum memenuhi cross slope
diatas, maka perlu menimbun bagian tengah jalan, sehingga memenuhi
persyaratan cross slope.

4.4.7 Perhitungan Jumlah Truck Yang Digunakan Dalam Kegiatan


Penambangan

Cycle Time Loading Shovel = 5 x 1 menit

= 5 menit

Cycle Time Dump Truck = 11,86 menit

Jumlah Truck yang dibutuhkan agar shovel sibuk :

Cycle Time Alat Angkut


= Cycle time alat muat

11,68
= 5

= 2,34 Truck

30
Perencanaan Tambang
= 3 Truck

Jumlah Truck untuk : 1. unit loading shovel = 3 unit Dump Truck

Jumlah Truck untuk : 2. unit loading shovel = 6 unit Dump Truck

Match Factor (Faktor Keserasian)

Jumlah alat angkut x Cycle Time alat muat


MF = jumlah alat muat x Cycle time alat angkut

6 x 5 (1)
MF = 2 x 11,68

30 menit
MF = 23,36 menit

Effesiensi kerja shovel = 100 %


23,36 menit
Effesiensi kerja Dump Truck = 30 menit x 100 %

= 77,86 %

Maka satu sovel berpasangan dengan 3 daum truk

7.1 Jadwal Rencana Produksi Dan Umur Tambang

Table. 4.2 Produksi Dan Umur Tambang

Produksi produksi
umur
produksi/bulan
Total ton cdngn/bln minggu hari
total volume bb 385,298.32 4.3 90000 22500 3000
total over
3,022,685 16.8
burden 180000 45000 6000
strp 7.85 21.1
umur tambang 1.8 Tahun

Table 4.3 Plan Penambangan


No Deskripsi Plan Volume

31
Perencanaan Tambang
Material Ton Seam
Top Soil
1 Blok 1-16 9.0000

Overburden 180.000
In Pit 180.000
Blok 1 180.000 Extend HW
Blok 5 180.000 Extend HW
Block 6 90.000 E Roof
2 90
Block 7
.000 f Roof
Blok 8 180.000 8
Blok 9 180.000 22
Blok 11-16 180.000 27
Total 3,022,685
GRAND TOTAL
Coal Expose
Block 8 90.000 g Floor
3 >
Blok 9 90.000 h Floor
Total 385,298.32

7.2 Rancangan Penanganan Bahan Galian Yang Belum Terpasarkan


(Kualitas Rendah Atau Belum Ekonomis Saat Itu)
PT. Karya Bumi Baratama memiliki beberapa cadanagan Batubara peringkat
rendah yang mempunyai kandungan air total cukup tinggi sehingga nilai kalor
menjadi rendah. Dengan demikian diperlukan teknologi khusus untuk
memanfaatkan batubara peringkat rendah tersebut agar dapat bersaing dengan
batubara peringkat tinggi yang cadangannya sudah mulai menipis.

Bertolak dari kondisi di atas, PT. Karya Bumi Baratama timbul pemikiran
bagaimana menanggulangi tingginya kadar air dalam batubara. Untuk itu
perusahaan kami melakukan proses UBC.

Proses Ubc (Upgraded Brown Coal)

32
Perencanaan Tambang
Air yang terkandung dalam batubara terdiri atas air bebas (free moisture) dan air
bawaan (inherent moisture). Air bebas adalah air yang terikat secara mekanik
dengan batubara pada permukaan dalam rekahan atau kapiler yang mempunyai
tekanan uap normal. Sedangkan air bawaan adalah air yang terikat secara fisik
pada struktur pori-pori bagian dalam batubara dan mempunyai tekanan uap yang
lebih rendah daripada tekanan normal. Kandungan air dalam batubara, baik air
bebas maupun air bawaan, merupakan faktor yang merugikan karena memberikan
pengaruh yang negatip terhadap proses pembakarannya.

Penurunannya kadar air dalam batubara dapat dilakukan dengan cara mekanik
atau perlakuan panas. Pengeringan cara mekanik efektif untuk untuk mengurangi
kadar air bebas dalam batubara basah, sedangkan penurunan kadar air bawaan
harus dilakukan dengan cara pemanasan.

Gambar 4.4. Bagan Air Proses UBC

Proses UBC dilakukan pada temperatur sekitar 150C sehingga pengeluaran tar
dari batubara belum sempurna. Untuk itu perlu ditambahkan zat aditif sebagai
penutup permukaan batubara, seperti kanji, tetes tebu (mollase), slope pekat (fuse
oil), dan minyak residu. Untuk proses UBC, sebagai aditif digunakan minyak
residu yang merupakan senyawa organik yang beberapa sifat kimianya
mempunyai kesamaan dengan batubara. Dengan kesamaan sifat kimia tersebut,
minyak residu yang masuk ke dalam pori-pori batubara akan kering, kemudian
bersatu dengan batubara.

33
Perencanaan Tambang
Untuk proses UBC, sebagai aditif digunakan minyak residu yang merupakan
senyawa organik yang beberapa sifat kimianya mempunyai kesamaan dengan
batubara. Dengan kesamaan sifat kimia tersebut, minyak residu yang masuk ke
dalam pori-pori batubara akan kering, kemudian bersatu dengan batubara. Lapisan
minyak ini cukup kuat dan dapat menempel pada waktu yang cukup lama
sehingga batubara dapat disimpan di tempat terbuka untuk jangka waktu yang
cukup lama (Couch, 1990).

7.3 Rencana Penanganan/Perlakuan Sisa Cadangan Pada Pasca Tambang

Sisa cadangan batubara pada daerah pasca tambang akan langsung di pulihkan
lingkungan alam daerah tersebut. Untuk itu perusahaan PT. Karya Bumi Baratama
menutup tambang dan mereklamasi daerah tersebut. Dengan beberapa kegiatan
diantaranya:

Pembersihan lahan
Pengelolaan Tanah Pucuk
Persemian Tanaman/Pembibitan
Perbaikan Lahan
revegetasi
pemantauan

34
Perencanaan Tambang
BAB V RENANA PENGOLAHAN DAN PENCUCIAN
BATUBARA

5.1 Studi Pengolahan Batubara

Dalam pengolahan batubara, PT. Karya Bumi Baratama memberikan ke pada PT.
Sucofindo merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang jasa dalam
analisis kualitas batubara. PT. Sucofindo sebagai pengontrol kualitas batubara
sehingga dari hasil analisis yang dilakukan PT. Sucofindo dapat dijadikan dasar
untuk penjualan. Tanpa adanya sertifikat hasil analisis dari PT. Sucifindo, PT.
Semen Padang sebagai konsumen tidak bisa menerima batubara hasil produksi PT.
Karya Bumi Baratama.
Untuk meningkatatkan kualitas batubara PT. Sucifindo menggunakan metode
peningkatan kualitas batubara:
Peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan proses Upgraded
Brown Coal (UBC).
Pencucian batubara.
Desulfurisasi limbah batubara dengan flotasi kolom.

5.2 Tatacara Pengolahan Batubara


5.2.1 Tahapan Pengolahan
Tata cara pengolahan yang dilaksanakan merupakan suatu proses penimbunan dan
perubahan bentuk dan/atau ukuran batubara dengan menggunakan peralatan
mekanis, yaitu crushing machine.

35
Perencanaan Tambang
Gambar 5.1 Stoke File

Tahapan proses pengolahan batubara ini mulai dari batubara asalan (berbentuk
tidak beraturan) hingga menjadi batubara masak atau siap jual (berbentuk butiran
yang seragam) dapat diuraikan sebagai berikut :

A. Penimbunan batubara asalan secara terpisah dan berdasarkan seamnya.

B. Pembentukan ukuran batubara tertentu melalui proses crushing untuk setiap


jenis seam batubara atau penyatuan beberapa seam batubara yang mempunyai
spesifikasi hampir sama.

C. Penimbunan kembali batubara masak hasil proses crushing secara terpisah dan
berdasarkan spesifikasinya

Tahapan selanjutnya proses pencairan batubara muda (Brown Coal Liquefacion):

Pengeringan/penurunan kadar air secara efficient

Reaksi pencairan dengan limonite katalisator

Tahapan hidrogenasi untuk menghasilkan produk oil mentah

Deashing Coal Liquid Bottom/heavy oil (CLB)

Fraksinasi/pemurnian light oil (desulfurisasi,pemurnian gas,destilasi produk)

5.2.2 Bagan Alir

36
Perencanaan Tambang
Proses peningkatan kadar batubara yang kelas rendah/muda menggunakan proses
Upgraded Brown Coal (UBC).

Gambar 5.2 Bagan Alir UBC

5.2.3 Recovery Pengolahan


Pengolahan batubara yang dilakukan PT. Sucofindo, Recovery nya hanya 69,80%
saja, berarti ada 30,2 % terbuang sebagai sisa pencucian. Ini juga menyangkut
teknik penambangan yang tidak baik, sehingga batubara banyak pengotoran serta
parting. Setelah dicek dilapangan dan diambil contohnya maka sebagian menjadi
lumpur dan finecoal mempunyai nilai calori diatas 4315 cal/gr. Fine coal ini bisa
dimanfaatkan sebagai briket dan pemanas tungku pembakaran kapur dll.
Hal ini berdasar pada :

1. Kualitas batubara yang diproduksi telah bersih dari unsur pengotor.

37
Perencanaan Tambang
2. Nilai kalori batubara cukup bervariasi, dalam kisaran 5800 ~ 7000 Cal/kg
(dipengaruhi oleh level seamnya).

3. Mempermudah penyediaan stock batubara dengan spesifikasi yang diperlukan


oleh pembeli/pasar.

5.3 Peralatan Pengolahan Batubara

Peralatan pengolahan batubara yang diguankan diantaranya:

1. Hopper (Penampung)

Hopper adalah bak penampung material padat sebelum diteruskan kedalam


crusher (mesin penghancur) dengan bantuan feeder (mesin pengumpan). Hal yang
harus dicermati dalam pemakaian hopper di industri pengolahan bahan galian
adalah pengurangan daya tampung dari hopper. Ukuran material batubara di PT.
Sucofindo yaitu 300 mm,

2. Feeder (Pengumpan)

Feeder adalah mesin pengumpan yang berfungsi untuk menghantarkan material


padat kedalam crusher (mesin penghancur) dari hopper (bak penampung). Feeder
diperlukan untuk menghasilkan laju masuk material padat yang relatif konstan
atau variable speed ke dalam crusher. Laju material padat yang masuk diharapkan
teratur agar kerja crusher dapat menjadi optimal. Dengan laju material padat yang
masuk teratur maka crusher akan terhindar dari kondisi crusher yang mendadak
kosong ataupun mendadak penuh. Kondisi crusher yang kosong atau terlalu penuh
akan mengurangi efektifitas kerja crusher.

3. Peremukan

Adapun mesin crusher yang digunakan berkapasitas 350 MT/jam dengan keluaran
berupa 3 (tiga) macam ukuran batubara, berkisar antara 1mm ~ 500mm.

Sedangkan unit pendukung operasional mesin crusher ini meliputi :

38
Perencanaan Tambang
1. Unit excavator, bertugas sebagai pemberi umpan batubara asalan ke hoper
mesin crusher.

2. Unit wheel loader, bertugas sebagai alat penimbun kembali batubara masak di
beberapa titik penimbunan, yaitu sesuai dengan spesifikasinya.

Gamabr 5.3 Batubaa Yang Sudah Di Crushing

Setelah dilakukan kominusi ukuran batubara kemudian batubara di masukan


kedalam unit pegolahan Upgraded Brown Coal (UBC).

5.4 Hasil Pengolahan Dan Rencana Pemanfaatan Batubara

Hasil pengolahan batubara kualitas rendah yang telah di upgraded brown coal
(UBC) di jual ke PT. Semen andalas. PT. Karya Bumi Baratama menyuplai
batubara ke PT. Semen andalas 20.000 ton/bulan selebihnya di ekspor ke luar
negeri.

39
Perencanaan Tambang
BAB VI PENGANGKUTAN DAN PENIMBUNAN

6.1 Tata Cara

Untuk memenuhi target produksi dari tambang batu gamping yang telah
ditetapkan oleh PT. Karya Bumi Baratama maka diperlukan perencanaan sistem
maupun sarana transportasinya dengan baik. Oleh karena itu transportasi tambang
batubara menjadi aspek yang penting bagi kelancaran pengangkutan batubara dari
lokasi tambang ke stoke file dan selanjutnya ke konsumen.
Saat ini PT. Karya Bumi Baratama mentargetkan produksi batubara yang
dihasilkan adalah 90.000 ton/bulan. Untuk itu perusahan melakukan beberapa
tahapan yaitu:
Pembersihan lahan sekaligus pengupasan dan pemindahan tanah penutup
Penggalian dan pemindahan lapisan penutup (OB/IB)
Penggalian dan pemindahan batubara
Saat ini keserasian alat muat dan alat angkut yang digunakan Saat ini adalah:

1. excavator yaitu caterpillar 330 B (1 unit ).

2. Dump Truck Mitsubishi HD 220 ( 3 unit ).

Excavator

Excavator adalah alat gali dan alat muat yang terdiri dari beberapa jenis dan

masing-masing jenis penggunaanya disesuaikan dengan kondisi kerja yang

dihadapi dilapangan.

Jenis-jenis excavator yaitu:

a. Backhoe

Backhoe adalah alat untuk menggali permukaan tanah asli, pemotongan, dan

perapian tebing dengan alat yang diletakkan di atas permukaan tanah asli atau

khususnya untuk pekerjaan penggalian yang letaknya di bawah kedudukan

40
Perencanaan Tambang
backhoe itu sendiri. Alat ini dipakai untuk pekerjaan yang memerlukan

pengontrolan secara teliti dan dapat digunakan sebagai alat pemuat untuk dump

truck.

Kegiatan pemuatan material batubara dilakukan untuk memuat material ke alat

angkut untuk dipindahkan ke processing atau pemindahan material dari stockroom

ke stockpile atau untuk pemasaran. Keadaan material yang keras tidak

memungkinkan pemuatan material dengan menggunakan tenaga manusia karena

tidak efektif dan membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan pemuatan

tersebut.

Kegiatan diatas menentukan lamanya waktu siklus, tetapi waktu siklus tergantung

pada ukuran backhoe dan sudut swing yang dibentuk. Backhoe yang kecil waktu

siklusnya akan lebih cepat dari backhoe yang lebih besar dan sudut swing yang

kecil akan lebih cepat dari sudut swing yang lebih besar. Disamping itu kondisi

kerja juga sangat berpengaruh terhadap waktu siklus yang dibuat oleh suatu alat.

b. Power Shovel

Power Shovel sangat baik digunakan sebagai alat penggali dan sebagai alat

pemuat karena dapat digunakan pada tebiang yang letaknya lebih tinggi, menurut

buku pemindahan tanah mekanis oleh Partanto 1983, berdasarkan system

kendalinya power shovel dibedakan menjadi dua jenis yaitu:

Kendali kabel

Kendali hidrolik

c. Dumptruck

Dump truck adalah alat angkut yang digunakan pada jarak dekat dan jarak jauh.

Jenis jenis Dump truck:

41
Perencanaan Tambang
Side dump truck

Dump truck yang penumpahan baknya kesamping.

Rear dump truck

Dump truck yang penumpahan baknya kebelakang

Rear and side dump truck

Dump truck yang penumpahan baknya kebelakang dan kesamping.

Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi alat angkut

Salah satu tolak ukur untuk mengetahui baik buruknya hasil kerja alat angkut

adalah besarnya produksi yang dicapai oleh suatu alat. Adapun faktor yang

langsung mempengaruhi hasil kerja alat tersebut adalah:

Keadaan jalan

Yaitu meliputi kekerasan dan kehalusan permukaan jalan. Jalan tambang

dengan kekerasan permukaan yang tinggi maka akan memberi pengaruh

yang besar terhadap kelancaran proses pengangkutan, jalan yang licin,

becek dan berdebu juga akan mempengaruhi kecepatan alat angkut untuk

membawa batubara maupun tanah penutup. Jarak dari front penambangan

sampai ke stock pile Dump Truck harus menempuh 150 m, jalan yang

rusak dari 150 m jarak tempuh ditemukan 2 (dua) titik kerusakan, 10 m

dari front penambangan dan 50 m dari stock pile ditemukan kerusakan

jalan.

Lebar jalan

42
Perencanaan Tambang
Pada kegiatan tambang terbuka, lebar jalan sangat berpengaruh terhadap

besar atau tidaknya produksi alat angkut. Lebar jalan tambang dapat

dihitung dengan rumus:

Lebar jalan = 3 x lebar alat angkut terbesar + 2 x bahu jalan + 2 x

saluran

Tanjakan maksimum dan jarak pengangkutan

Tanjakan maksimum biasanya dinyatakan dengan persen (%). Biasanya

untuk jalan tambang yang baik besar tanjakan maksimum adalah 8 %.

Artinya jalan tambang naik sebesar 8 m setiap jarak mendatar 100 m.

Apabila suatu kendaraan mendaki suatu tanjakan maka gaya yang

diperlukan untuk mempertahankan kendaraan tetap bergerak akan

meningkat lebih kurang sebanding dengan kemiringan jalan begitupun

sebaliknya.

Effisiensi Kerja

Dalam kegiatan pengangkutan waktu produktif yang digunakan kendaraan

angkut kadang-kadang berada di bawah kondisi ideal dari waktu yang

tersedia, hal ini karena adanya faktor-faktor yang menjadi penghambat dan

tidak dapat dihindari sehingga mempengaruhi kondisi kerja, persiapan alat

kerja, keterampilan kerja operator, pengisian bahan bakar, pengaturan dan

keserasian kerja antara alat muat dan alat angkut, pemeliharaan alat,

metoda kerja dan hal-hal lainnya.

Table 6.1 Alat-Alat Yang Digunakan

Jumla
No Jenis Alat berat Letak
h

43
Perencanaan Tambang
1 Excavator:

v Komatsu PC 200 1 unit Tambang

v Komatsu PC 400 1 unit Tambang

v Caterpilar 330 B 1 unit Tambang

v Hyundai Rolex 400 1 unit Tambang

v Hyundai Rolex 320 1 unit Tambang

v Hitachi ex 400 1 unit Tambang

v Hitachi Zaxis 200 1 unit Stock

Backhoe PC160LC 7 2 unit room

Tamabang
2 Bulldozer

v D155A 1 unit Tambang

vD6D 1 unit Tambang


3 Dump truck

v Hino Ranger FG 235 JJ 6 unit Tambang

Hino Ranger FG 235 JJ 2 unit Tambang

6.2 Peralatan

Lapisan endapan batubara yang akan ditambang, sacara umum tersingkap di


permukaan tanah sebagai out-crop. Kemiringan dip berkisar 6-15, dengan
ketebalan lebih dari 0,5m. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lapisan
endapan batubara di daerah studi, penyebarannya relatif dekat dengan permukaan
tanah dengan kemiringan yang relatif datar.
Berdasarkan observasi lapangan di daerah studi dan sekitarnya ditambah dengan
hasil uji kekuatan batuan utuh dan massa batuan, kondisi bidang diskuntinu, maka
dapat dinyatakan bahwa penggalian overburden dan batubara di blok siambul bisa
dilakukan dengan penggaruan (ripper) dan tidak memerlukan peledakan
(blasting).

44
Perencanaan Tambang
Mempertimbangkan kondisi endapan batubara dan lapisan penutup seperti telah
diuraikan diatas, maka rencana penambangan batubara didaerah studi dipilih
metode tambang terbuka (surface mining). Metode penambagan yang di gunakan
adalah open pit. Kegiatan penambangan dengan cara open pit terdiri dari
serangkaian kegiatan meliputi:
Pembersihan lahan sekaligus pengupasan dan pemindahan tanah penutup
Penggalian dan pemindahan lapisan penutup (OB/IB)
Penggalian dan pemindahan batubara

6.2.1 Pembersihan Lahan sekaligus Pengupasan dan Pemindahan tanah


Pucuk
Operasi pembersihan lahan penambangan dilakukan pada lokasi-lokasi dimana
tambang akan dibuka. Berkaitan dengan operasi ini maka akan dilakukan
beberapa pekerjaan yaitu :

a. Pembabatan semak dan perdu


Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan bulldozer, yang menjalankan
fungsi gali dorong degan memanfaatkan blade dan tenaga dorong yang besar.
Semak dan perdu yang menutupi daerah penambangan didorong kedaerah-
daerah tepi penambangan.
b. Penebangan pohon dan pemotongan kayu
Sebelum operasi pembersihan lahan penambangan, maka perlu dilakukan
penebangan pohon-pohon dan pemotongan kayu-kayu yang ada. Dalam
operasi pemindahan kayu-kayu, digunakan alat-alat pengangkat beban berat
dan rantai besi untuk pengikat dan penarik, kemudian diangkut dengan truk.
c. Operasi pengupasan tanah pucuk (top soil) Operasi pengupasan top soil
yang banyak mengandung bahan organik hasil pelapukan yang meyuburkan
tanah, dilakukan setelahh pembersihan lahan penambangan. Lapisan tanah
subur ini dikupas dengan menggunakan blade dari bulldozer. Lapisan top soil
didorong dan dikumpulkan pada lokasi tertentu dekat dengan daerah operasi
bulldozer, kemudian dimuat menggunakan backhoe PC- 600C-7 dan diangkut
menggunakan dump truck ketempat penyimpanan tanah pucuk. Timbunan

45
Perencanaan Tambang
tanah subur ini, nantinya di manfaatkan pada saat melakukan pekerjaan
reklamasi.

6.2.2 Operasi Penggalian dan Pemindahan Lapisan Penutup (OB/IB).


Operasi penggalian lapisan penutup berupa overburden dan interburden,
dilakukan dengan menggunakan PC-600C-7 kapasitas 3,5m3 dibantu dengan
bulldozer. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian
dan pemuatan ke dump truk kapasitas 3,5 m3. Bila di temukan material keras
terlebih dahulu diberai dengan bulldozer, kemudian digali dan dimuat dengan
backhoe. Pemakaian ripper dan bulldozer disesuaikan dengan kebutuhan operasi
pemberaian material.
Tanah penutup diangkut dengan dump truk dari daerah penambangan ke daerah
penimbunan (dumping area) yang telahh direncanakan, berupa lahan bekas
penambangan (in-pit dump) atau daerah luar tambang (outside dump). Timbunan
tanah penutup ini harus ditutup dengan lapisan tanah subur agar dapat ditanami
kembali.

6.2.3 Operasi Penggalian dan Pemindahan Batubara


Operasi penggalian batubara dilakukan dengan menggunkana backhoe PC600LC-
7 dengan kapasitas bucket 0,7m3 dibantu dengan buldozer. Untuk batubara yang
memiliki kekuatan lemah sampai sedang, langsung digali dan dimuat kedalam
dump truck kapasita 10 ton. Sedangkan yang keras, diberaikan dahulu dengan
bulldozer, kemudian digali dan dimuat dengan backhoe.

6.2.4 Produktifitas Alat Muat (Excavator)


Langkah pertama perhitungan produktifitas alat muat:
1) Kapasitas produksi persiklus (q)
q = ql x K
Dimana:
ql = Kapasitas bucket munjung (m3)
K = Faktor pengisian bucket
Untuk faktor bucket excavator diperoleh berdasarkan tabel dibawah ini:

46
Perencanaan Tambang
Tabel 6.2 Faktor Bucket Alat Muat
Jenis
Faktor
pekerjaa Kondisi kerja
bucket
n
Menggali dan memuat dari stock room dan stockpile 1.0 0.8
Ringan
atau material yang telah dikeruk oleh excavator lain
yang tidak membutuhkan daya gali dan dapat dimuat
munjung.

Menggali dan memuat dari stock room atau 0.8 0.6


Sedang
stockpile,dengan kondisi tanah yang sulit digali dan
dikeruk akan tetapi dapat dimuat hamper munjung.

Menggali dan memuat batu pecah, tanah liat yang 0.6 0.5
Agak
keras,pasir dan kerikil yang telah dikumpulkan,sulit
sulit
mengisi bucket dengan material tersebut.

Bongkahan batu besar dengan bentuk tidak teratur 0.5 0.4


Sulit
dengan banyak rongga diantaranya.

2) Waktu Siklus (Cm)


Waktu siklus (Cm) yang dibutuhkan oleh alat muat excavator adalah:
Cm = waktu gali + waktu swing isi + waktu tumpah + waktu swing kosong

6.2.5 Produktifitas alat angkut (Dump Truck)


1). Kapasitas produksi dump truck (C)
C = ql x K x n
Keterangan:
ql = Kapasitas bucket alat pemuat (m3)
K = Faktor bucket alat pemuat
n = Jumlah siklus yang diperlukan alat muat untuk mengisi dump truck
6.2.6 Keserasian kerja (MF)

47
Perencanaan Tambang
Keserasian kerja adalah pola gerak alat-alat yang terpadu, dimana tidak saling
tunggu menunggu antara alat muat dan alat angkut.
Faktor keserasian kerja:
MF = 1, berarti terjadi keserasian kerja alat muat dan alat angkut 100% dan tidak
ada waktu tunggu
MF < 1, berarti alat angkut bekerja penuh dan alat muat mempuyai waktu tunggu
MF > 1, berarti alat muat bekerja penuh sedangkan alat angkut mempunyai waktu
tunggu

48
Perencanaan Tambang
BAB VII LINGKUNGAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN
KERJA

7.1 Dampak Lingkungan


Dampak nyata kegiatan penambangan dengan metode open pit yaitu
menyebabkan terpotongnya puncak gunung dan menimbulkan kerusakan
topografi, menimbulkan lubang besar, menggunakan alat pengeruk, contoh
mengali deposit batubara, gambut tipis dan datar terletak dekat permukaan.
Lahan menjadi kosong, keras dan kering sehingga memperbesar kemungkinan
terjadinya erosi. Selain itu limbah bahan galian ditumpuk pada suatu lokasi yang
pada saat hujan rentan terhadap erosi. Erosi yang terjadi tidak hanya berdampak
pada area tambang, tetapi juga terhadap perairan di sekitar area tambang. Air
menjadi tercemar dan dapat mengganggu kesehatan masyarakat yang
menggunakan air tersebut maupun biota air yang ada di dalamnya. Sedimen yang
terdapat di perairan dapat menyebabkan pendangkalan sungai.

7.1.1 Pengolahan lingkungan


Berdasarkan ketentuan umum dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang dimaksud dengan pengelolaan hidup adalah
upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi
kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan,
pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup.

A. Pengolahan Lingkungan
Pengolahan linkungan di lokasi tambang meliputi pengolahan tanah pucuk,
perbaiakan kondisi tanah lokasi tambang, persemian bibit tanaman dan revegetasi
lahan. Perbaikan kondisi tanah meliputi perbaikan ruang tubuh, pemberian tanah pucuk
dan bahan organik serta pemupukan dasar dan pemberian kapur. Kendala yang dijumpai
dalam merestorasi lahan bekas tambang yaitu masalah fisik, kimia (nutrients dan
toxicity), dan biologi. Masalah fisik tanah mencakup tekstur dan struktur tanah. Masalah
kimia tanah berhubungan dengan reaksi tanah (pH), kekurangan unsur hara, dan mineral
toxicity. Untuk mengatasi pH yang rendah dapat dilakukan dengan cara penambahan

49
Perencanaan Tambang
kapur. Sedangkan kendala biologi seperti tidak adanya penutupan vegetasi dan tidak
adanya mikroorganisme potensial dapat diatasi dengan perbaikan kondisi tanah,
pemilihan jenis pohon, dan pemanfaatan mikroriza. Secara ekologi, spesies tanaman lokal
dapat beradaptasi dengan iklim setempat tetapi tidak untuk kondisi tanah. Untuk itu
diperlukan pemilihan spesies yang cocok dengan kondisi setempat, terutama untuk jenis-
jenis yang cepat tumbuh,yaitu dengan penanaman tanaman keras yang mampu hidup
didaerah yang kurang air.

B. Pengelolaan Acid Mine Drainage (AMD)


AMD umumnya muncul dari batuan yang mengandung pyrite, yg jika terekspos
O2 (udara) saat penambangan maka akan teroksidasi membentuk asam sulfat. Jika
ada curah hujan yang cukup maka asam akan menimbulkan timbunan dalam
bentuk lindi (leachate). Proses tersebut dinamakan AMD.
Strategi komprehensif mengendalikan AMD:
Pengelompokan batuan berdasarkan potensi asamnya, dengan tes NAG (Net
Acid Generation) yang akan menghasilkan klasifikasi:
NAF (Non Acid Forming)
PAF (Potencially Acid Forming)
1. Penanganan selektif batuan sisa oleh operator penambangan, batuan PAF
ditempatkan di tengah tumpukan dan NAF di sekeliling tumpukan.
2. Menutup/isolasi batuan PAF di dalam disposal (waste dump) untuk
meminimasi masuknya O2 ke dalam disposal dan mengurangi
pembentukan asam.
Untuk mencegah timbulnya AMD atau danau dengan pH rendah, tidak boleh
terjadi genangan air 1 pit yang lama jika ada batubara yang terbuka (exposed).
Batubara yang terbuka harus ditutup dengan topsoil atau material OB sebelum pit
digenangi air.

C. Pemantauan Lingkungan
Pemantauan lingkuana ini merupakan kegiatan untuk mendapatkan dan
mengevaluasi informasi (data) sebagai bahan untuk penilaian kinerja suatu
kegiatan (operasi). Kinerja adalah ukuran sukses dari penerapan strategi ditinjau
dari tujuan pengelolaan lingkungan.

50
Perencanaan Tambang
Tujuan Pemantauan
Menyediakan informasi untuk evaluasi secara periodic mengenai
lingkungana tambang
Menyediakan informasi untuk mengetahui adanya perubahan di lapangan
Mengetahui besarnya dampak dan membandingkannya dengan prediksi
dampak
Menyakinkan bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan
dilaksanakan secara optimal pada seluruh lokasi kegiatan

Manfaat Pemantauan
Pendeteksian secara dini dampak lingkungan sehingga remediasi
(penanggulangan) dapat dilakukan secara efektif
Menunjukkan kepatuhan/penaatan (compliance) terhadap peraturan,
standar, atau baku mutu lingkungan
Sebagai masukan atau umpan balik (feed back) bagi kegiatan pengelolaan
lingkungan
Mengetahui trend dampak dan kualitas lingkungan

Hal-Hal Yang Perlu Dipantau


Out put yang keluar setelah berinteraksi di dan dengan kegiatan (limbah
cair, limbah padat, limbah pengolahan/tailing, dsb.)
Komponen lingkungan yang terkena dampak(kualitas udara, bentang alam,
tanah, air permukaan dan air tanah, flora, fauna, sosekbud).

7.2 Keselamatan Dan Kesehatan Kerja


Keselamatan dan kesehatan kerja (k3) tidak dapat dipisahkan dengan proses
produksi baik jasa maupun industry pertambangan . Salah satu karakteristik
kegiatan pertambangan adalah padat modal, padat teknologi dan memiliki risiko
yang besar. Kemudian sebagai aktivitas ekstraktif, banyak aktivitas dilakukan
pada kondisi ekstrim sehingga potensi terjadinya kecelakaan sangat besar.

51
Perencanaan Tambang
Kemudian salah satu acuan utama dalam praktek penambangan yang baik dan
benar termasuk di dalamnya pelaksanaan budaya keselamatan dan kesehatan kerja
adalah Kepmentamben No. 555K/MPE/1995 tentang Pedoman Kesehatan
Keselamatan Kerja di Wilayah Pertambangan.

Gambar 7.1 Struktur Organisasi PT. Karya Bumi Bratama

Untuk mewujudkan pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K


3), perusahaan membentuk organisasi dan menunjuk personil yang bertanggung
jawab atas keberhasilan pelaksanaan program K3 tersebut. Wadah organisasi
tersebut adalah:

Kepala Teknik Tambang (KTT).


Pengawas operasional.
Pengawas teknik.
Petugas K3 (safety officer).
Komite K3 (safety committee).

7.2.1 Peralatan K-3

52
Perencanaan Tambang
Untuk menjamin Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat berlangsung dengan
baik perlu diperhatikan fasilitas-fasilitas standar yang mendukung kegiatan dapat
berjalan dengan aman. Alat perlindungan diri (APD) standar seperti topi proyek,
sepatu pelindung, pelindung mata, masker dan pelindung telinga. Selain pakaian
pelindung tersebut, pemasangan papan-papan peringatan, rambu lalu lintas,
ketentuan atau peraturan di letakan pada lokasi tambang PT. Karya Bumi
Baratama. Pengunaan peralatan yang sesuai dengan fungsinya dan ketentuan-
ketentuan yang membuat lokasi kegiatan aman dan di dukung oleh personil yang
menangani setiap kegiatan menguasai operasional akan menjamin keselamatan
dan kesehatan kerja dapat berlangsung baik.
Di lokasi tambang juga agar dilengkapi fasilitas pemadam kebakaran dan gawat
darurat, hal ini untuk menjamin penanganan yang cepat apabila terjadi kecelakaan
agar dapat diatasi dengan cepat, termasuk unit kesehatan yang ditangani paramedi
dan dilengkapi mobil ambulance.

7.3 Langkah-Langkah Pelaksanaan K-3

Pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja tidak akan berhasil apabila tidak
ada program yang jelas dan terarah. Dengan adanya program pelaksanaan
pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang lebih terarah maka
keberhasilan atau penampilan dari pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
lebih mudah dievaluasi dan diatur untuk perbaikan dan peningkatan dalam
program atau waktu selanjutnya.
Langkah-langkah pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja yang harus
dilakukan untuk mencapai hasil yang baik adalah :

Membuat Peraturan Perusahaan


Berdasarkan Kep Men No.555.K disebutkan bahwa Kepala Inspeksi Tambang
harus menerbitkan sekurang-kurangnya 12 pedoman teknis. Selain itu juga
membuat peraturan perusahaan atau pedoman-pedomankerja dan operasi berupa
SOP (Standart Operation Procedure) yang khusus menyangkut keselamatan dan
kesehatan kerja sesuai dengan peraturan pemerintah tentang masalah ini.

53
Perencanaan Tambang
Jadi dukungan manajemen terhadap keberhasilan dari pengelolaan keselamatan
dan kesehatan kerja sangat menentukan, karena bagaimanapun baiknya suatu
organisasi dengan program keselamatan kerja yang baik pula, tidak akan berhasil
tanpa dukungan dari manajemen. Dukungan dari manajemen dapat dibuat dengan
tertulis bahwa manajemen mempunyai komitmen terhadap keselamatan dan
kesehatan kerja, dan dukungan tersebut harus diikuti dengan penyediaan dana dan
perhatian yang cukup.
Peraturan perusahaan dapat bersifat umum dan khusus, Peraturan perusahaan yang
bersifat umum berlaku untuk seluruh kegiatan yang ada, mulai dari lokasi
penambangan, jalan angkut Batubara dan stock pile. Peraturan yang bersifat
khusus dibuat pada masing-masing kegiatan, karena masing-masing kegiatan
tersebut memiliki potensi bahaya yang berbeda, sehingga harus dibuat peraturan
khusus yang spesifik.

Program pendidikan dan latihan dasar K3


Program pendidikan dan pelatihan ini sangat diperlukan, agar pekerja dapat
melakukan pekerjaannya dengan aman. Program pendidikan atau pelatihan,
adalah untuk pekerja baru, pelatihan untuk pekerja dengan tugas baru dan
pelatihan penyegaran untuk pekerja lama. Materi-materi yang biasa disampaikan
dalam pelatihan ini adalah: membuat tata cara yang aman untuk melakukan
pekerjaan, mengidentifikasi potensi bahaya yang ada dalam lingkungan kerja dan
bagaimana cara pencegahan dan tindakan yang harus dilakukan untuk
menghindari apabila bahaya tersebut terjadi. Program pendidikan dan pelatihan
akan dilaksanakan selama kegiatan tambang berlangsung.

Perawatan peralatan kerja.

Guna mencegah terjadinya kecelakaan, maka perlu dilakukan perawatan secara


berkala terhadap semua peralatan yang dipergunakan Peralatan pelindung diri,
sebaiknya diberikan secara secara berkala dan dibatasi waktu pemakaiannya, agar
dapat efektif terpergunakan.

54
Perencanaan Tambang
Kesehatan kerja.

Selain penggunaan peralatan dalam upaya perlindungan terhadap kecelakan,


pemeriksaan kesehatan karyawan wajib dilakukan, baik pada awal mulai bekerja
maupun secara berkala selama dinas kerja. Hal ini dapat mengurangi tingkat
kecelakaan akibat penurunannya tingkat kesehatan pekerja dan karyawan.
Rencana pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja PT. Karya Bumi Baratama
termasuk tetapi tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut :
1. Tingkatan kewenangan dan tanggung jawab untuk kesehatan dan keselamatan
kerja di organisasi.
2. Detail program pelatihan dan induksi.
3. Sistem pencatatan kesehatan & pengobatan
4. Penilaian resiko.
5. Prosedur operasional standar untuk daerah beresiko tinggi.
6. Program pencanangan keselamatan kerja.
7. Pengurus keselamatan kerja dan rapat.
8. Waktu dan format untuk rapat toolbox keselamatan kerja.
9. Laporan Kecelakaan/bahaya dan prosedur investigasi.
10. Analisa statistika keselamatan kerja.
11. Program audit & inspeksi keselamatan kerja.
12. Pencanangan dan pengawasan kesehatan.
13. Persyaratan keselamatan kerja.
14. Kebijakan peralatan keselamatan.
15. Analisa pekerjaan keselamatan kerja.
16. Perizinan.

55
Perencanaan Tambang
BAB VIII LINGKUNGAN KESEHATAN DAN
KESELAMATAN KERJA

8.1 Struktur Organisasi Bagian K3 PT. Karya Bumi Baratama


Kepala Teknik Tambang (KTT) Adalah seseorang yang jabatannya tertinggi di Job
Site untuk memimpin dan bertanggung jawab atas terlaksananya serta ditaatinya
peraturan perundang-undangan K3 pada suatu kegiatan usaha pertambangan di
wilayah yang menjadi tanggung jawabnya (Pasal 1, Kepmen No. 555.K Tahun
1995). Untuk itu KTT membuat beberpa personil yang menangani K3
diantaranya:
Organisasi dan Personil K3
Program K3
Anggaran dan Biaya
Dokumen dan laporan K3

Gambar 8.1 Bagan Organisasi K3

8.2 Jumlah Dan Kriteria Tenaga Kerja


Bagian K3 dan Lingkungan memiliki tanggung jawab atau berfungsi mengontrol
seluruh kegiatan operasional penambangan agar memenuhi standar K3,
bertanggung jawab terhadap pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta
melaksanakan reklamasi lahan bekas tambang.

56
Perencanaan Tambang
Dalam pelaksanaan penambangan Batubara di daerah ini akan membutuhkan
tenaga kerja yang cukup banyak dari berbagai keterampilan. Tenaga kerja yang
berkeahlian rendah banyak didapatkan dari masyarakat setempat (lokal),
sedangkan tenaga kerja yang berkeahlian menengah dan tinggi didatangkan dari
luar daerah. Telah direncanakan pula peningkatan keterampilan dan kemampuan
tenaga kerja lokal maupun tenaga kerja yang dari luar daerah dengan pendidikan
dan pelatihan, terutama pada cara-cara mengoperasikan alat-alat berat.
Dalam hal jumlah dan kriteria tenaga kerja yang diperlukan sesuai dengan Job
Spesifikasi yang dibutuhkan. Dengan mempertimbangkan sistem oganisasi yang
telah direncanakan untuk mendukung kegiatan tambang, operasi pengolahan serta
administrasinya, maka dalam sistem organisasi tersebut disusun kriteria tenaga
kerja. Tenaga kerja dibagi menjadi dua kelompok tenaga kerja yaitu :

Tenaga Kerja Tetap


Tenaga kerja tetap adalah tenaga kerja yang diangkat sebagai karyawan tetap
perusahaan berdasarkan perjanjian kerja yang disepakati bersama. Diangkat
jika sudah memenuhi persyaratan dan kriteria yang telah ditetapkan oleh
Perusahaan.
Tabel 8.1 Daftar Tenaga Tetap
Jumlah Tenaga Kerja
No Jabatan
WNI WNA
1. Direktur Utama 1 -
2. Manager 4 -
3. 6 -
Kepala Bagian
4. 2 -
5. Sekretaris -
Operator Alat Berat: 4 -
Dump Truck 2 -
Loading Shovel 4
Bulldozer 2

Kru-kru Operasi:
6. Pemboran 4 6
Pengolahan 3
Kontrol Produksi 4
Hubungan Masyarakat 3
Pemasaran 6

57
Perencanaan Tambang
Perawatan Peralatan 2
Keselamatan Kerja 2
Pesonalia 4
7. Satuan Pengaman
8. 4
9. Supir Bus Karyawan 5
10. Pesuruh 5
11. Cleaning Service

Jumlah 85 -

Tenaga Kerja Tidak Tetap


Adalah tenaga kerja yang diangkat sebagai karyawan tidak tetap perusahaan
berdasarkan perjanjian kerja yang disepakati bersama. Sebagai karyawan tidak
tetap, masa kerja dan kompensasi dari karyawan ini merupakan fungsi dari
jumlah produksi Batubara yang dihasilkan oleh perusahaan. Yang termasuk
dalam kelompok ini adalah para karyawan perusahaan yang dikontrak selama
waktu tertentu untuk melakukan pekerjaan langsung operasi penambangan,
angkutan, dan pengolahan Batubara sebanyak 7 orang

Table 8.2 Daftar Gaji Pekerja

GAJI @ GAJI @ TOTAL GAJI


JABATAN JUMLAH
/BULAN /TAHUN /TAHUN

OPERATOR DUMP TRUCK 12 Rp 5,000,000 Rp 60,000,000 Rp 720,000,000


OPERATOR LOADING SHOVEL 4 Rp 5,000,000 Rp 20,000,000 Rp 240,000,000
OPERATOR BULLDOZER 2- Rp 5,000,000 Rp 10,000,000 Rp 120,000,000
SURVEYOR PENAMBANGAN 2 Rp 7,500,000 Rp 15,000,000 Rp 180,000,000
SURVEYOR PEMBORAN 1 Rp 7,500,000 Rp 7,500,000 Rp 90,000,000
SURVEYOR PENGOLAHAN 2 Rp 7,500,000 Rp 15,000,000 Rp 180,000,000
KRU PEMBORAN 2 Rp 2,500,000 Rp 5,000,000 Rp 60,000,000
KRU PELEDAKAN 3 Rp 2,500,000 Rp 7,500,000 Rp 90,000,000
ELECTRIC BOY 2 Rp 3,000,000 Rp 6,000,000 Rp 72,000,000
KRU BENGKEL 6 Rp 2,500,000 Rp 15,000,000 Rp 180,000,000
KRU GUDANG PELEDAKAN 2 Rp 2,500,000 Rp 5,000,000 Rp 60,000,000
KRU PENGOLAHAN 6 Rp 2,500,000 Rp 15,000,000 Rp 180,000,000
SATPAM GUDANG PELEDAKAN 1 Rp 2,000,000 Rp 2,000,000 Rp 24,000,000

58
Perencanaan Tambang
POLISI GDNG PELEDAKAN 1 Rp 2,500,000 Rp 2,500,000 Rp 30,000,000
KRU GUDANG PERALATAN 4 Rp 2,500,000 Rp 10,000,000 Rp 120,000,000
KRU SATPAM 12 Rp 2,000,000 Rp 24,000,000 Rp 288,000,000
PESURUH 6 Rp 1,500,000 Rp 9,000,000 Rp 108,000,000
MANAGER 1 Rp 25,000,000 Rp 25,000,000 Rp 300,000,000
SUPIR BUS KARYAWAN 2 Rp 2,500,000 Rp 5,000,000 Rp 60,000,000
SUPIR BUS PELEDAKAN 1 Rp 2,500,000 Rp 2,500,000 Rp 30,000,000
CLEANING SERVICE 6 Rp 2,500,000 Rp 15,000,000 Rp 180,000,000
KEPALA BAGIAN 5 Rp 20,000,000 Rp 100,000,000 Rp 1,200,000,000
SEKRETARIS MENEGER 1 Rp 5,000,000 Rp 5,000,000 Rp 60,000,000
SEKRETARIS KEPALA BAGIAN 5 Rp 3,000,000 Rp 15,000,000 Rp 180,000,000
PEGAWAI BAGIAN 30 Rp 2,500,000 Rp 75,000,000 Rp 900,000,000

JUMLAH 91 Rp 5,742,000,000

Jadi total gaji/upah tenaga kerja tetap dalam 1 tahun = Rp 5.742.000.000/tahun


atau US$ 1.664.400 (kursus $ 1 = 10.000)

59
Perencanaan Tambang
BAB IX PEMASARAN

Tingginya harga minyak dunia menyebabkan konsumsi batubara meningkat cukup


tajam, pemenuhan energi baik ditingkat nasional, regional maupun global terus
meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan dan kegiatan ekonomi. Dari total
produksi batubara PT. Karya Bumi Baratama, pasar domestik saat ini hanya
mampu menyerap 24% karena keterbatasan pemanfaatannya. Sedang untuk
sisanya 76% di ekspor.
Pemasaran hasil produksi batubara akan dijual untuk kebutuhan pasar dalam
negeri dan sisanya akan dijual ke luar negeri.
Produk batubara hasil pengolahan dijual dengan harga yang berbeda untuk
masing-masing produk, yaitu :

Kalori 6.000 (ADB) Rp 700.000/ton


Kalori 6.500 (ADB) Rp 750.000/ton
Kalori 7.000 (ADB) Rp 800.000/ton
Kalori 7.500 (ADB) Rp 850.000/ton
PT. Karya Bumi Baratama meproduksi 90.000/ton perbulan

60
Perencanaan Tambang
BAB X INVESTASI DAN ANALISA KELAYAKAN

10.1 Investasi

Dalam menjalankan usaha batubara perusahaan PT. Karya Bumi Baratama


memerlukan investasi awal yang dikeluarkan, sebelum kegiatan penambangan
dilakukan. Besarnya nilai penanaman modal yang dikeluarkan tergantung dari
tahap pertambangan sampai produksi batubara, semakin besar produksi batubara
semakin pesar pula investasi yang di keluarkan.

Untuk memulai kegiatan membuka perusahaan, maka diperlukan modal kerja


awal. Modal kerja diperlukan untuk aktifitas penambangan ini diperoleh dari
modal sendiri dan berasal dari pinjaman bank.

Investasi pengembangan merupakan alokasi modal yang dikeluarkan untuk


mempersiapkan segala hal yang diperlukan sebelum kegiatan penambangan
tersebut dilakukan. Perincian investasi pengembangan adalah sebagai berikut :

Tabel 10.1 Investasi Pengembangan

No Kegiatan Total Biaya


1. Biaya eksplorasi 1.200.000.000
1. Biaya pembebasan tanah 15.180.000.000
2. Biaya land clearing 29.790.000
3. Biaya pembuatan jalan 685.432.000
4. Biaya perizinan 12.750.000
5. Biaya administrasi 24.750.000
6. Modal kerja 2.654.858.865
7. Biaya pajak bumi dan bangunan 2.502.500.000
8. Biaya pengupasan over burden 1.188.750.000
Total 23.479.830.865
Investasi peralatan adalah lokasi modal yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk
membeli peralatan penunjang aktifitas penambangan. Umur peralatan sama
dengan umur penambangan yaitu 5 tahun. Peralatan akan mempunyai nilai sisa
diakhir. Penambangan setelah mengalami penyusutan. Perincian investasi
peralatan adalah sebagai berikut :

Table 10.2 Investasi Peralatan

61
Perencanaan Tambang
No Peralatan Jumlah Harga / unit Total harga
1. Dump truck 2 1.500.000.000 3.000.000.000
2. Loading shovel 2 2.000.000.000 4.000.000.000
3. Bulldozer 1 1.200.000.000 1.200.000.000
4. Traktor 1 1.200.000.000 1.200.000.000
5. Gen set 2 40.000.000 80.000.000
6. Belt conveyor 1 14.000.000 14.000.000
7. Jaw crusher 2 32.000.000 64.000.000
8. Cone crusher 1 50.000.000 50.000.000
9. Screen / deck 8 3.000.000 24.000.000
10. Kerangka screen 4 12.000.000 48.000.000
11. Pondasi alat 1 10.000.000 10.000.000
12. Grizzly 1 12.000.000 12.000.000
13. Hopper 1 8.000.000 8.000.000
14. Compressor 1 450.000.000 450.000.000
15. Bus karyawan 2 500.000.000 1.000.000.000
16. Truck peledakan 2 500.000.000 1.000.000.000
17. Mesin bor 2 250.000.000 500.000.000
18. Mobil direktur utama 1 225.000.000 225.000.000
19. Mobil manager 4 200.000.000 800.000.000
20. Mobil administrasi 2 185.000.000 370.000.000
21. Mobil humas 2 185.000.000 370.000.000
22. Mobil tangki 2 245.000.000 490.000.000
23. Computer 10 6.000.000 60.000.000
Total 8.827.000.000 14.975.000.000

Investasi infra struktur merupakan alokasi modal yang dikeluarkan oleh


perusahaan untuk pembangunan perlengkapan fisik seperti perumahan, kantor dan
bangunan fisik lainnya. Pembangunan fisik ini bersifat permanen dan semi
permanen sesuai dengan kebutuhan. Bangunan fisik juga mempunyai nilai sisa
seperti peralatan. Perincian investasi fisik ini adalah sebagai berikut:

Tabel 10.3 Investasi Infra Struktur

No Bangunan Jumlah Harga/unit Total harga

62
Perencanaan Tambang
1. Rumah direktur utama 1 74.040.000 74.040.000
2. Rumah manager 4 38.390.000 153.560.000
3. Poliklinik 1 11.225.000 11.225.000
4. Mess pekerja 1 138.067.500 138.067.500
5. MCK 1 17.200.000 17.200.000
6. Rumah Genset 2 8.720.000 17.440.000
7. Pos satpam 2 7.110.000 14.220.000
8. Bengkel 1 38.350.000 38.350.000
9. Barak karyawan 1 88.650.000 88.650.000
10. Gudang peralatan 1 22.060.000 22.060.000
11. Kantor 1 122.200.000 122.200.000
12. Musholla 1 12.380.000 12.380.000
13. Gudang bahan peledak 1 99.052.000 99.052.000
677.444.500 808.444.500
Total investasi keseluruhan Rp 808.444.500

10.2 Analaisa Kelayakan


Diperkirakan modal kerja penambangan dan pengolahan sebesar 3 bulan dari
biaya operasi pertahun.

Biaya operasi pertahun meliputi :

Gaji karyawan : Rp 1.342.000.000


Bahan bakar : Rp 755.834.800
Minyak pelumas : Rp 131.373.140
Biaya pemeliharaan alat : Rp 779.750.000
(2,5% dari Invest Alat)

Biaya pemeliharaan bangunan : Rp 42.369.225


Biaya administrasi : Rp 8.750.000
Iuran tetap kepada pemerintah : Rp 690.000
+

: Rp 3.060.767.165

Rp . 3.060 .767. 165/Tahun


Maka biaya operasi perbulan ialah = 12 bulan

= Rp 255.063.930/bulan

63
Perencanaan Tambang
Maka biaya modal kerja sebesar = Biaya operasi / bulan x 3 bulan

= Rp 255.063.930/bulan x 3 bulan

= Rp 765.191.791/3 bulan

10.3 Pendapatan Penjualan

Produk batubara hasil pengolahan dijual dengan harga yang berbeda untuk
masing-masing produk, yaitu :

Kalori 6.000 (ADB) Rp 700.000/ton


Kalori 6.500 (ADB) Rp 750.000/ton
Kalori 7.000 (ADB) Rp 800.000/ton
Kalori 7.500 (ADB) Rp 850.000/ton
Rata-rata harga jual batubara dengan 4 kualitas batubara yaitu:
= (kelas (1) 700.000/ton + kelas (2) 750.000/ton + kelas (3) 800.000/ton + kelas
(4) 850.000/ton) / 4
Rata-rata jual batubara (ABD) = 775.000//ton

cadangan batubara yang 385298.32 ton yang belum ditambang maka perkiraan
yang dapat ditambang adalah sekitar 250.000 ton. Maka pendapatan perusahaan
diperkirakan:

Cadangan 250.000 ton x Rp 775.000 (ABD) = Rp 193.750.000.000.000.000 Total


Biaya total keseluruhan Penambangan= Rp 45.770.467.156/tahun
Dari hasil perkiraan pendapataan tambang yang perkiraan secara kotordar atau
mengalami pengurangan-pengurangan pada tahap-tahap pertambangan maka
tambang ini layak untuk di tambang karena menguntungkan.

64
Perencanaan Tambang
65
Perencanaan Tambang

Anda mungkin juga menyukai