Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDALUHUAN

Dasar Teori
Asam Sinamat
Asam sinamat merupakan sinonim dari asam trans-3-fenil-propenoat sebagai
nama IUPAC dan asam trans--fenilakrilat sebagai nama trivial dari asam sinamat.
Asam sinamat mempunyai rumus molekul C 6H5CH=CHCOOH, bobot molekul
148,15 dan titik lebur 132-134C. kelarutan satu gram asam sinamat larut dalam 2000
ml air pada suhu 25C (kelarutan meningkat dalam air panas), 6 ml alkohol, 5 ml
metanol, atau 15 ml kloroform, sangat larut dalam benzena, eter, asam asetat glasial,
aseton, karbon disulfida, dan minyak. Garam alkalinya larut dalam air. Asam sinamat
berupa kristal monoklin; tidak berwarna, sedikit berbau balsam dan rasa pedas.
Dalam bidang perdagangan, asam sinamat diperjualbelikan secara umum
sebagai bahan baku kimia, misalnya sebagai bahan baku untuk mensintesis asam
hidrosinamat melalui reaksi reduksi. Dalam industri parfum, asam sinamat digunakan
sebagai bahan baku pembuatan ester metil, etil, benzil. Metil sinamat atau etil sinamat
dapat disintesis dengan reaksi esterifikasi dari asam sinamat. Dalam bidang pertanian,
asam sinamat dapat digunakan sebagai herbisida dan pestisida. Dalam bidang
pengobatan asam sinamat dapat digunakan sebagai antibakteri, atijamur, analgesik,
antiinflamasi, choleretic, pencahar, dan pencegah kanker.
Di alam asam sinamat terdapat dalam bentuk bebas dan teresterifikasi
sebagian pada benzoin Sumatra, akar Rheum palmatum,balsam peru dan balsam tolu,
minyak kayu manis, dan juga pada daun koka.
Asam sinamat yang diperoleh dari sintesis merupakan bentuk trans isomer.
Isomer cis dari asam sinamat adalah asam allosinamat. Bentuk cis isomer dengan titik
lebur 68C ini tidak stabil dan akan berubah menjadi bentuk trans yang stabil.
Sintesis asam sinamat dapat melalui berbagai reaksi sintesis, antara lain reaksi
Perkin dan Knoevenagel. Sintesis asam sinamat menurut reaksi Perkin menghasilkan
presentase lebih kecil daripada reaksi Knoevenagel.
Kondensasi Knoevenagel
Reaksi Knoevenagel dikenal sebagai reaksi kondensasi aldol silang antara
aldehid tanpa hidrogen dan senyawa yang memiliki hidrogen yang
distabilkan oleh dua gugus penstabil karbanion/gugus pengaktif (seperti C=O
atau C=N) dengan katalis basa.
Titik Lebur
Titik lebur adalah suhu dimana fase padat dari suatu zat berada dalam
keseimbangan dengan fase cairnya. Titik lebur digunakan dalam penetapan
kriteria kemurnian dari suatu senyawa organic. Umumnya senyawa organik
murni mempunyai titik lebur yang tajam dengan jarak lebur tidak lebih dari
0,5C. Salah satu cara menentukan titik lebur adalah mengambil sedikit kristal
hasil sintesis digerus halus dan diletakkan dalam wadah sampel pada alat

1
Fisher-Johns Melting Point Apparatus, diamati suhu pada saat hasil sintesis
tersebut mulai melebur dan suhu saat semua hasil sintesis melebur.

Benzaldehid
Benzaldehid dapat diperoleh dari minyak dalam biji buah badam pahit
(almond). Benzaldehid mempunyai rumus molekul C6H5CHO; bobot molekul 106,12;
titik didih 179C; indeks bias 1,5456 pada suhu 20C; massa jenis 1,050 pada suhu
15C dan 1,043 pada 25C. Benzaldehid larut dalam 350 bagian air, dapat tercampur
dengan alkohol, eter, dan minyak. Benzaldehid berupa cairan jernih yang sangat
membiaskan cahaya, menjadi kuning selama penyimpanan, dengan bau yang khas
dari buah badam pahit dan rasa pedas. Benzaldehid dioksidasi oleh udara menjadi
asam benzoat.
Struktur molekul benzaldehid adalah pada gambar berikut :

Asam Malonat
Asam malonat memiliki sinonim sebagai asam propanadioat dan asam metana
dikarboksilat, rumus molekul CH2(COOH)2; BM= 104,06; dan titik lebur 135C.
berupa kristal yang dapat mengiritasi kulit. Satu gram asam malonat larut dalam 0,65
mL air, 2mL alkohol, 1,1 mL metanol, 3 mL propil alkohol, 13mL eter, dan 7mL
piridin. Struktur molekul asam malonat dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Asam malonat memiliki hidrogen yang distabilkan oleh 2 gugus penstabil


karbanion. Asam malonat merupakan senyawa dwiasam dari asam karboksilat.
Asam keto dan dwiasam akan mengalami dekarboksilasi / kehilangan gas
karbondioksida bila dipanaskan.

Piridin
Piridin memiliki rumus molekul C5H5N, bobot molekul 79,10; titik didih 115-
116C; massa jenis 0,9780 pada suhu 25C. Piridin merupakan cairan yang tidak
berwarna dan berkilauan, bau tidak enak, rasa menusuk atau pedas, dan bersifat

2
sebagai basa lemah. Larutan 0,2 M piridin dalam air mempunyai pH 8,5. Piridin dapat
menguap, dapat bercampur dengan eter, air, pretoleum eter, minyak dan cairan organic
lainnya.

Piperidin
Piperidin memiliki sinonim heksahidropiridin, rumus molekul C5H11N; bobot
molekul 85,15; titik didih 106C; masa jenis 0,8622 pada suhu 20C dan indeks bias
1,4354 pada suhu 25C. Piperidin berupa cairan dengan bau khas, bersifat basa kuat,
pKb pada suhu 25C adalah 2,80. Piperidin dapat bercampur dengan air; larut dalam
alkohol, benzena, dan kloroform. Struktur molekul piperidin :

Tujuan
Memahami reaksi konednsasi Knoevenagel
Memahami terbentuknya intermediat karbanion
Mendapatkan kristal yang bagus

BAB II METODE KERJA

3
Prosedur (Harwood)
Weigh the potassium carbonate into 100ml Erlenmeyer flask and add 20ml water and
The benzaldhyde. Swirl themixture vigorously, pour it into a test tube and aloe the
two phases to separate over 30 min when the upper layer of benzaldhyde should be
clear. Meanwhile weigh the propanedioic acif into a second 100 ml conical flask and
dissolve in it the pyridine with gentle warning on a hot water bath. From the test-tube
remove 2 ml of the upper layer carefully using a graduated pipet and add it to the
solution of propanadioic acid in pyridine. Heat the resultant mixture on the water bath
and add a catalytic quantity of piperidine (10 drops). Reaction is indicated by
evolution of bubbles of carbon dioxide as the decarboxylation proceeds. Continue
heating until the rate of appearance of bubbles become very slow (ca. 30 min). make
the volume up to 50 ml with 2 M hydrochloric acid and the filter of the resultant solid
with suction between washing. Tip the crystals into a preweighed 100 ml beaker and
dry them to constant weight in an 80C oven. Record the weight, yield and mp of
your product.

Alat dan Bahan

Alat :
1. Labu Erlenmeyer
2. Gelas ukur
3. Corong pisah
4. Corong Buchner dan labu hisap
5. Pipet tetes

Bahan :
Benzaldehid 5mL
Asam Malonat 3,1g
Piridin 5mL
Piperidin 10 tetes
K2CO3 8g
HCl 2N

Skema Kerja

Timbang K2CO3 8g, dimasukkan dalam Erlenmeyer 100ml. tambahkan air 20ml + 5ml
benzaldehid

4
Kocok campuran secara konstan. Dimasukkan dalam corong pisah, biarkan memisah
menjadi 2 fase selama 30 menit. Lapisan atas adalah benzaldehid jernih

Timbang As.propanadioat (As malonat) 3,1g, dimasukkan Erlenmeyer 100ml lain &
dilarutkan dengan 5ml piridin sambil dihangatkan di waterbath

Benzaldehid yang dipisahkan dari corong pisah diambil 3ml. dimasukkan ke dalam
larutan asam malonat dalam piridin.

Campuran diatas dipanaskn di waterbath & tambahkan 10 tetes piperidin sampai


gelembung CO2 hilang 30 menit

Tambahkan HCl 2N ad 50ml

Saring dengan corong buchner

Hasil kristal yang diperoleh dikeringkan di oven suhu 80C

Gambar Pemasangan Alat

5
Mekanisme Reaksi

OH
CO O O O
C + C-CH2-C CH-CH-C
H H H OH

COOH
benzaldehid as malonat

6
OH OH
O -CO2 O
CH-CH-C CH-CH2-C
OH OH
COOH

OH
O -H2O O
CH-CH2C CH=CH-C
OH OH

Asam Sinamat

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Diskusi

1. Bagaimana kerja K2CO3 dalam proses pemurnian benzaldehid ?


K2CO3 dilarutkan dalam air lalu ditambah benzaldehid, dimana benzaldehid yang
digunakan kemungkinan tidak atau kurang murni karena berikatan dengan asam
benzoat dalam larutan tersebut. Jadi ion K dalam K2CO3 berikatan dengan asam
benzoat membentuk kalium benzoat sehingga didapatkan benzaldehid yang murni
atau bebas dari asam benzoat.
2. Sebutkan syarat-syarat reaksi kendensasi Knoevenagel
Agar reaksi kondensasi Knoevenagel dapat berlangsung, yang diperlukan hanyalah
satu senyawa dengan suatu gugus karbonil, plus satu senyawa yang memiliki suatu
7
hidrogen . Aldehid yang tidak punya H. Katalis amonia/amina (piridin). Reaksi
yang peka, oleh karena itu benzaldehid harus bebas asam benzoat.

3. Jelaskan fungsi piridin dan piperidin


Piridin sebagai pelarut dan katalis basa. Piperidin sebagai katalis basa.
4. Apa guna HCl ?
Untuk menarik piperidin menjadi piperidinium klorida yang larut air.
Asam sinamat tidak larut air mengkristal
5. Apa fungsi dari K2CO3 ?
K2CO3 berfungsi untuk memurnikan benzaldehid yang sudah berubah menjadi gas
asam benzoat karena penyimpanan. Oleh karena itu ditambahkan K 2CO3 agar
terbentuk Kalium benzoat dan benzaldehid. Kalium benzoat ini larut dalam air
sedangkan benzaldehid tidak larut air sehingga dapat dipisah dengan corong pisah.

6. Apa fungsi asam sinamat ?


Fungsi asam sinamat sebagai aromaterapi, digunakan pada kemenyan.
7. Mengapa dalam pembuatan asam sinamat harus dipanaskan dengan waterbath?
Bagaimana jika diganti dengan airbath?
Dalam pembuatan asam sinamat dipanaskan dengan waterbath agar mempercepat
terjadinya reaksi. Dalam percobaan ini tidak perlu menggunakan airbath karena
menggunakan waterbath saja sudah cukup karena hanya untuk mempercepat
terjadinya reaksi.
8. Dalam cara kerja ditambahkan 10 tetes piperidin, bagaimana jika lebih dari 10 tetes dan
bagaimana jika kurang dari 10 tetes?
Jika piperidin ditambahkan lebih dari 10 tetes maka reaksi akan bersifat basa, hal ini
akan membuat pemborosan biaya dalam pembuatan karena penambahan HCl juga
akan lebih banyak. Tetapi jika piperidin yang ditambahkan kurang dari 10 tetes maka
CO2 tidak seluruhnya hilang.

9. Di dasar teori tertulis hasil yang terbentuk hanya 85%. Kenapa tidak 100%? Apa yang
mempengaruhi?
Hasil yang terbentuk hanya 85% karena reaksi yang terjadi tidak murni. Pada
pembuatan awal benzaldehid yang digunakan sudah tidak murni. Benzaldehid yang
sudah disimpan dalam jangka waktu cukup lama yang sebagian sudah berubah
menjadi asam benzoat. Jika kita menginginkan hasil mencapai 100% maka bahan-
bahan yang digunakan harus murni.

8
Pembahasan
Sintesis asam sinamat melalui reaksi Knoevenagel dilakukan dengan
mereaksikan benzaldehid yang merupakan aldehid aromatik tanpa hidrogen , asam
malonat (asam dikarbksilat yang memiliki hidrogen ) sebagai prekursor
karbanion/prekursor enolat, piridin sebagai pelarut dan katalis basa, piperidin sebagai
katalis basa.
K2CO3 dilarutkan di air lalu ditambah benzaldehid, dimana benzaldehid yang
digunakan kemungkinan tidak atau kurang murni karena berikatan dengan asam
benzoat dalam larutan tersebut. Ion K dalam K 2CO3 berikatan dengan asam benzoat
membentuk kalium benzoat sehingga didapatkan benzaldehid yang murni atau bebas
dari asam benzoat. Pencampuran dan pemisahan benzaldehid dilakukan di corong
pisah, dimana bagian atas merupakan benzaldehid yang bebas asam benzoat atau
benzaldehid murni dan bagian bawah merupakan asam benzoat yang berikatan dengan
K2CO3 membentuk kalium benzoat.
Asam malonat dilarutkan dipiridin lalu dihangatkan di waterbath. Setelah itu
ditambahkan benzaldehid, dipanaskan di waterbath dan ditambahkan 10 tetes
piperidin sampai gelembung CO2 hilang 30 menit.
Selain sebagai pelarut, piridin juga dapat digunakan sebagai katalis basa dalam
pembentukan karbanion, namun pada praktikum ini digunakan campuran piridin-
piperidin sebagai katalis basa, hal ini dimaksudkan untuk memberikan kondisi basa
lemah yang optimal sehingga didapat hasil sintesis yang maksimal.
Endapan yang terbentuk setelah penambahan HCl 2N ad 50ml berupa garam
HCl dari piridin dan piperidin, disaring dengan corong Buchner, labu hisap, dan
pompa hisap. Kristal atau hasil saringan dikeringkan di oven pada suhu 80C.

9
BAB IV KESIMPULAN
Asam sinamat yang diperolah dari sintesis merupakan bentuk trans isomer. Isomer cis
dari asam sinamat adalah asam allosinamat. Bentuk cis isomer dengan titik lebur 68C ini
tidak stabil dan akan berubah menjadi bentuk trans yang stabil.

Sintesis asam sinamat melalui reaksi Knoevenagel dilakukan dengan mereaksikan


benzaldehid yang merupakan aldehid aromatik tanpa hidrogen , asam malonat (asam
dikarboksilat yang memiliki hidrogen ) sebagai prekursor karbanion/ prekursor enolat,
piridin sebagai pelarut dan katalis basa, piperidin sebagai katalis basa. Dimana reaksi
kondensasi Knoevenagel merupakan reaksi kondensasi aldol silang antara aldehid tanpa
hidrogen dan senyawa yang memiliki hidrogen yang distabilkan oleh dua gugus penstabil
karbanion/ gugus pengaktif (seperti C=O atau CN) dengan katalis basa. Selanjutnya untuk
membentuk garam HCl dari piridin dan piperidin ditambahkan HCl 2N.

10
Daftar Pustaka
Budavari S et al (eds), 1989, The Merck Index, 11th ed, Merc & Co.Inc, USA

Fessenden RJ & Fessenden JS, 1986, Kimia Organik, edisi 3. Jilid 1, terjemahan oleh
pudjaatmaka HA, 1999, Penerbit Erlangga, Jakarta

Fessenden RJ & Fessenden JS, 1986, Kimia Organik, edisi 3. Jilid 2, terjemahan oleh
pudjaatmaka HA, 1999, Penerbit Erlangga, Jakarta

Furniss, BS Hannaford, AJ; Smith, PWG; Tatchel, AR., 1991. Vogels Text Book of Pratical
Organik Chemistry, 5th ed., Longman Scientific & Technical, London

Harwood ML & Moody JC,1989, Experimental Organic Chemistry Principal and Practice,
Publication Oxford, London

Mc Murry J, 2000, Organic Chemistry, 5th edition, Brooks/Cole Publishing Co, Pasific Grove,
USA

Vogel, Al, 1960, Elementary Practical Organic Chemistry, Part I Small Scale Preparation, 3th
edition, Longmans, Green and Co. Ltd., London
11
12