Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kulit

2.1.1 Struktur Kulit

Kulit terdiri atas dua lapisan, yaitu epidermis dan dermis. Epidermis

merupakan lapisan terluar, dan aksesori-aksesorinya (rambut, kuku, kelenjar sabasea,

dan kelenjar keringat) berasal dari lapisan ectoderm embrio. Dermis berasal dari

mesoderm.4

2.1.1.1 Epidermis

Epidermis merupakan epitel gepeng (skuamosa) berlapis, dengan beberapa

lapisan yang terlihat jelas. Jenis sel yang utama disebut keratinosit. Keratinosit

merupakan hasil pembelahan sel pada lapisan epidermis yang paling dalam stratum

basale (lapisan basal) , tumbuh terus kearah permukaan kulit, dan sewaktu bergerak

ke atas keratinosit mengalami proses yang disebut diferensiasi terminal untuk

membentuk sel-sel lapisan permukaan (stratum korneum). Komponen-komponen

kerangka dalam dari semua sel tersebut disebut filament intermediet, yang didalam

sel-sel epitel tersusun dari sekelompok protein berserabut yang disebut keratin,

masing-masing dihasilkan oleh gen yang berlainan. Adanya mutasi pada gen-gen

tersebut dapat menyebabkan penyakit kulit tertentu. Selama diferensiasi. Filamen-

filamen keratin pada korneosit beragregasi dibawah pengaruh filaggrin. Proses


agregasi disebut keratinisasi, dan berkas-berkas filament membentuk suatu jaringan

intraselular kompleks yang terbenam dalam matriks protein amorf yang merupakan

derivate dari granula-granulakeratohialin pada stratum granulosum (lapisan granular).

Suatu sel dari stratum basale (stratum basal) membutuhkan waktu kurang lebih 8-10

minggu untuk mencapai permukaan epidermis (epidermal transit time), dan sel-sel

yang hilang dari permukaan sama banyaknya dengan sel-sel yang diproduksi pada

stratum basale sehingga ketebalan epidermis selalu tetap. Keseimbangan ini

dipertahankan oleh stimulator-stimulator dan inhibitor-inhibitor pertumbuhan seperti

epidermal growth factor (EGF) dan transforming growth factor alfa dan beta. Sel-sel

pada permukaan kulit (skuamosa dan kornoesit) yang membentuk stratum korneum,

adalah sel-sel mati yang telah mengalami keratinisasi yang secara bertahap secara

terkikis oleh kerusakan yang terjadi setiap hari. Apabila anda mandi setelah sekian

hari tidak terkena air, perhatikan ketika anda menggosok diri dengan handuk, anda

akan mengikis butiran-butiran kecil keratin yang telah menumpuk karena kebiasaan

tidak sehat ini. Apabila gips pelapis diangkat dari suatu anggota tubuh anda yang

mengalami fraktur setelah beberapa minggu terpasang, maka dibagian tubuh itu

biasanya didapatkan suatu lapisan keratin permukaan yang tebal, yang untuk

menghilangkannya membutuhkan penanganan selama berjam-jam.3

Stratum basale terdiri dari sel-sel kolumner yang melekat pada membran

basale, suatu struktur berlapis-lapis yang dari struktur inilah serabut-serabut yang

melekat menyebar kedalam lapisan dermis superfisial. Berselang seling diantara sel-

7
sel basal terdapat melanosit-melanosit sel-sel dendrit besar yang berasal dari neuralis

yang berperan dalam produksi pigmen melanin. Melanosit mengandungorganel-

organel sitoplasma yang disebut melanosom, tempat pembentukan melanin dan

tirosin. Melanosom bermigrasi sepanjang dendrit dari melanosit, dan di transfer

kedalam keratinosit pada stratum spinosum(lapisan sel prikel). Pada orang-orang

yang berkulit putih melanosom mengelompok bersama membentuk kompleks

melanosom yang terikat membrane dan secara bertahap yang berdegenerasi ketika

keratinosit bergerak menuju permukaan kulit. Pada orang-orang yang berkulit hitam,

jumlah melanositnya sama dengan kulit orang putih, tetapi melanosomnya lebih

besar, tetap terpisah, dan secara persisten memenuhi ketebalan epidermis. Stimulus

utama bagi pembentukan melanin yaitu radiasi ultraviolet (UV). Melanin melindungi

intisel pada epidermis terhadap pengaruh buruk dari radiasi UV. Warna kecoklatan

karena kulit terkena sinar matahari merupakan suatu mekanisme perlindungan yang

alami, dan bukan untuk keindahan! Neoplasma kulit sangat jarang terjadi pada orang-

orang berkulit gelap karena terlindung dari pengaruh buruk UV berkat banyaknya

kandungan melanin terhadap kulit mereka. Hal ini tidak terjadi pada orang-orang

berkulit terang yang kandungan melanin pada kulitnya kurang.3,5

Nama stratum spinosum atau lapisan sel prikel (runcing) berasal dari

gambaran seperti paku yang dihasilkan oleh jembatan-jembatan interselular(desmosu)

yang menghubungkan sel-sel yang berdekatan. Sel-sel Langerhans tersebar diantara

stratum spinosum. Sel-sel dendrit ini kemungkinan merupakan modifikasi dari

8
makrofag, yang berasal dari sum-sum tulang dan bermigrasi ke epidermis. Sel-sel ini

merupakan pertahanan imunologis-terdepan dalam melawan antigen dari luar dan

berperan dalam penangkapan dan penyajian antigen tersebut kepada limfosit-limfosit

imunokomponen, sehingga respon imuns dapat ditingkatkan.3,4

Diatas stratum spinosum adalah stratum granulosum, yang terdiri dari sel-sel

pipih yang mengandung banyak partikel yang berwana gelap yang disebut granula

keratohialin. Dalam sitoplasma sel pada stratum granulosum juga terdapat organel

yang disebut granula lamellar (odland body). Dan organel ini mengandung lemak dan

enzim, yang kemudian dilepaskan kedalam interselulare diantara sel-sel stratum

granulosum dan stratum korneum menjadi semacam campuran semen diantara batu

bata selular dan berfungsi sebagai pertahanan bagi epidermis.4

Sel-sel pada stratum korneum merupakan sel-sel gepeng yang mengalami

keratinisasi, tanpa inti sel dan organel-organel sitoplasma. Sel-sel yang berdekatan

saling bertumpang tidih pada bagian tepi, saling mengunci, dan bersama-sama dengan

lemak interseluler membentuk pertahanan yang sangat efektif. Ketebalan stratum

korneum bervariasi tergantung letaknya pada tubuh. Yang paling tebal adalah

dibagian telapak tangan dan telapak kaki.3,4

2.1.1.2 Dermis
Lapisan dermis adalah lapisan dibawah epidermisyang jauh lebih

tebaldaripada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastic dan fibrosa padat

dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi atas:

9
(a)Pars papilare, yaitu bagian berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah; (b)Pars

rerikulare, yaitu bagian yang berisi serabut kolagen, elastin dan retikulin.5
2.1.1.3 Kelengkapan(aksesori) epidermis

Kelenjar keringat ekrim(eccrine) dan apokrin (apocrine) , rambut dan kelenjar

sabaccea, dan kuku merupakan aksesori-aksesori epidermis.5

2.1.2 Fungsi kulit

a. Mencegah terjadinya kehilangan cairan tubuh yang esensial


b. Melindungi dari masuknya zat-zat kimia beracun dari lingkungan dan

mikroorganisme
c. Fungsi-fungsi imunologis
d. Melindungi dari kerusakan akibat radiasi UV
e. Mengatur suhu tubuh
f. Sintesis vitamin D
g. Berperan penting dalam daya tarik seksual dan interaksi sosial.3

Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis,

misalnya tekanan, gesekan, tarikan; gangguan kimiawi zat-zat kimia yang bersifat

iritan misalnya lisol, karbol, asam, dan alkali kuat lainnya; gangguan yang bersifat

panas, misalnya radiasi, sengatan sinar ultra violet; gangguan infeksi luar terutama

kuman/bakteri maupun jamur. Hal tersebut dimungkinkan karena adanya bantalan

lemak, tebalnya lapisan kulit dan serabut-serabut jaringan penunjang yang berperan

sebagai pelindung terhadap gangguan fisis. Melanosit berperan dalam melindungi

kulit terhadap pajaran sinar matahari dengan mengadakan tanning. Proteksi terhadap

rangsangan kimia dapat terjadi karena sifat stratum korneum yang impermeable

terhadap pelbagai zat kimia dan air, disamping itu terdapat lapisan keasaman kulit

10
yang melindungi kontak zat-zat kimia dengan kulit. Lapisan keasaman kulit ini

mungkin terbentuk dari hasil ekskresi keringat dan sebum, keasaman kulit

menyebabkan pH kulit berkisar pada pH 5-6,5 sehingga merupakan perlindungan

kimiawi terhadap infeksi bakteri maupun jamur. Proses keratinisasi juga berperan

sebagai sawar(barrier) mekanis karena sel-sel mati melepaskan diri secara teratur.

(ilmu penyakit kulit dan kelamin).5,6

Respon imun juga berpengaruh pada perlindungan kulit, respon imun terjadi

sebagai akibat peristiwa menyangkut antigen, limfosit, antibody, limfokin/sitokin,

mediator kimia, dan sel efektor untuk melindungi manusia dari bahan-bahan asing

yang merugikan serta menyingkirkan jaringan mati atau rusak, namun dapat terjadi

berbagai penyimpangan fungsi respons tersebut oleh kelebihan atau kekurangan

reaksinya. Kekurangan reaksi respons imun akan mengakibatkan infeksi dan

ketidakmampuan tubuh untuk menghilangkan bahan yang membahayakan. Kelebihan

reaksi respon imun mengakibatkan proses peradangan yang tidak diperlukan dan

memacu terjadinya autoimun.6

2.1.2 PENENTUAN DIAGNOSIS PENYAKIT KULIT

Diagnosis penyakit kulit dimulai dengan melihat aspek morfologi kelainan

kulit. Dalam hal mempelajari kelainan kulit sebaiknya dicoba untuk menentukan ciri

dasar nya.7,8

11
Bila penderita datang untuk pertama kali pada dokter dapat ditanyakan kepada

penderita berobat untuk penyakit atau keluhan apa. Untuk ekzem, dokter tidak

mengobati lipoma atau fibroma yang juga diderita olehnya. Namun bila dilihat

penderita juga menderita basalioma, tentunya juga diberi nasehat supaya tumor

tersebut juga dapat diobati. Hal yang paling penting ditanyakan pada penderita adalah

riwayat penyakit, penggunaan obat-obatan untuk penyakitnya ataupun untuk penyakit

lain, penyakit yang diderita oleh keluarga, dan kebiasaan tertentu. Anamnesis tidak

perlu terperinci, akan tetapi dapat dilakukan lebih terarah kepada diagnosis banding

ewaktu inspeksi.7,8

Tindakan berikutnya adalah melakukan inspeksi. Bantuan pemeriksaan

dengan kaca pembesar dapat dilakukan. Pemeriksaan ini mutlak dilakukan untuk

dalam ruangan terang. Anamnesis terarah biasanya ditanyakan pada pnderita

bersamaan dilakukan inspeksi untuk melengkapi data diagnostik. Misalnya penderita

yang menderita dermatitis pada tangannya perlu ditanyakan ada tidaknya kelainan di

tempat lain. Dalam hal ini juga perlu dilakukan inspeksi seluruh kulit tubuh penderita.

Demikian perlu dilakukan pemeriksaan rambut, kuku, dan selaput lender, terutama

pada penyakit tertentu, misalnya liken planus, atau psoriasis.7

Pada inspeksi diperhatikan lokalisasi, warna, bentuk, ukuran, penyebaran,

batas, dan efloresensi yang khusus. Bila terdapat kemerahan pada kulit ada tiga

kemungkinan yaitu eritema, purpura, dan telangiektasis. Cara membedakannya yakni

ditekan dengan jari dan digeser. Pada eritema warna kemereahan akan hilang dan

12
warna tersebut akan kembali setelah jari dilepaskan karena terjadi vasodilatasi

kapiler. Sebaliknya ada purpura tidak menghilang sebab terjadi perdarahan dikulit,

demikian pula telangiektasis akibat pelebaran kapiler yang menetap. Cara lain ialah

yang disebut diaskopi yang berarti menekan dengan benda transparan pada tempat

kemerahan tersebut. Diaskopi disebut positif, disebut negative jika warna merah tidak

menhilang (purpura telangiektasis). Pada telangektasis akan tampak kapiler yang

sedang berbentuk seperti tali yang berkelok-kelok dapat berwarna merah atau biru.6,7

Setelah inspeksi selesai, dilakukan palpasi, peda pemeriksaan ini diperhatikan

adanya tanda-tanda radang akut atau tidak, misalnya dolor, kalor, fungsiolaesa, ada

tidaknya indurasi, fluktuasi, dan pembesaran kelenjar regional maupun generalisata.7

Setelah pemeriksaan dermatologic (inspeksi dan palpasi) dan pemeriksaan

umum (intern) selesai dapat dibuat diagnosis sementara dan diagnosis banding. Bila

diperlukan dapat dikonsultasikan ke bagian lain, misalnya untuk pemeriksaan umum

internis dan juga dapat dilakukan pemeriksaan pembantu, misalnya pemeriksaan

bakteriologik, mikologik, histopatologik, darah, urin, dan imunologik. Setelah

pemeriksaan selesai, diharapkan sampai pada diagnosis yang pasti.8

2.1.2.1 MORFOLOGI PENYAKIT KULIT

Menurut prakken, efloresensi (ruam) primer adalah macula, papul, plak,

urtika, nodus, nodulus, vesikel, bula, pustule, dan kista. Sedangkan yang dianggap

sebagai efloresensi sekunder adalah skuama, krusta, erosi, ulkus, dan sikatriks.

13
Definisi berbagai kelainan kulit dan istilah istilah yang berhubungan dengan kelainan

tersebut.3

1. Makula : kelainan kulit berbatas tegas berupa perubahan warna semata-mata.


Contoh : melanoderma, leukoderma, purpura, petekie, ekimosis.
2. Eritema : kemerahan pada kulit yang disebabkan pelebaran pembulu darah

kapiler yang reversible


3. Urtika : edema setempat yang timbul mendadak dan hilang perlahan-lahan
4. Vesikel : gelembung berisi cairan serum, beratap, berukuran kurang dari cm

garis tengah, dan mempunyai dasar. Vesikel berisi darah disebut vesikel

hemoragik.
5. Pustule : vesikel yag berisi nanah, bila nanah mengendap dibagian bawah

vesikel disebut vesikel hipopion.


6. Bula : vesikel yang berukuran lebih besar. Dikenal dengan istilah hemoragik,

bula purulent, dan bula hipopion.


7. Kista : ruangan berdinding dan berisi cairan, sel, maupun sisa sel. Kista

terbentuk bukan akibat peradangan, walaupun akibat peradangan. Dinding

kista merupakan selaput yang terdiri atas jaringan ikat dan biasanya dilapisi

sel epitel atau endotel. Kista terbentuk dari kelenjar yang melebar dan

tertutup, saluran kelenjar, pembuluh darah, saluran getah bening, atau lapisan

epidermis. Isi kista terdiri atas hasil dindingnya, yaitu serum, getah bening,

keringat, sebum, sel-sel epitel, lapisan tanduk, dan rambut.


8. Abses : merupakan kumpulan nanah dalam jaringan, bila mengenai

kulitberarti didalam kutis atau subkutis. Batas antara ruangan yang berisikan

nanah dan jaringan sekitarnya tidak jelas. Abses biasanya terbentuk dari

14
infitrat radang. Sel dan jaringan hancur membentuk nanah. Dinding abes

terdiri atas jarigan sakit, yang belum menjadi nanah.


9. Papul : penenjolan diatas permukaan kulit, sirkumskrip, berukuran diameter

lebih kecil dari cm, dan berisikan zat padat. Bentuk papul dapat bermacam-

macam, misalnya setengah bola. Contohnya pada eksem atau dermatitis,

kerucut pada keratosis folikularis, datar pada veruka plana juvenilis, datar dan

berdasar polygonal pada liken planus, berduri pada veruka vulgaris,

bertangkai pada veruka filiformis. Warna papul dapat merah akibat

peradangan, pucat hiperkrom, putih, atau seperti kulit disekitarnya. Beberapa

infiltrate mempunyai warna sendiri yang biasanya baru terlihat setelah eritema

yang timbul bersamaan ditekan dan hilang (lupus, sifilis). Letak papul dapat

epidermal atau kutan.


10. Nodus : massa padat sirkumskrip, terletak dikutan atau subkutan, dapat

menonjol, jika diameternya lebih kecil daripada 1 cm disebut nodulus.


11. Plak (plaque) : peninggian diatas permukaan kulit, permukaan rata dan berisi

zat padat biasanya infiltrate. Diameter 2cm atau lebih. Contohnya papul yang

melebar atau papul-papul yang berkonfluensi pada psioriasis.


12. Tumor : istilah umum untuk benjolan yang berdasarkan pertumbuhan sel

maupun jaringan.
13. Infiltrate : tumor terdiri atas kumpulan sel radang.
14. Vegetasi : pertumbuhsn berupa penonjolan bulat atau runcing yang menjadi

satu. Vegetasi dapat dibawah permukaan kulit, misalnya pada tubuh. Dalam

hal ini disebut granulasi seperti pada tukak.


15. Sikaktris : terdiri atas jaringan tak utuh, relief kulit tidak normal, permukaan

kulit tdak licin dan tidak terdapat adneksa kulit. Sikaktris dapat atrofik, kulit

15
mencekung dan dapat hipertrofik, yang secara klinis terlihat menonjol karena

kelebihan jaringan ikat. Bila sikaktris hipertrofik menjadi patologik,

pertumbuhan melampaui batas luka disebut keloid (sikaktris yang

pertumbuhan selnya mengikuti pertumbuhan tumor), dan ada kecenderungan

untuk terus membesar


16. Anetoderma : bila kutis kehilangan elastisitas tanpa perubahan berarti pada

bagian kulit yang lain, dapat dilihat bagian-bagian yang bila ditekan dengan

jari seakan-akan berlubang. Bagian yang jaringan elastiknya atrofi disebut

anetoderma. Contoh striae gravidarum.


17. Erosi : kelainan kulit yang disebabkan kehilangan jaringan yang tidak

melampaui stratum basal. Contoh bila kulit digaruk sampai stratum spinosum

akan keluar cairan sereus dari bekas garukan.


18. Ekskoriasi : bila garukan lebih dalam lagi sehingga goresan sampai di ujung

papil. Maka akan terlihat darah yang keluar selain serum. Kelainan kulit yang

disebabkan oleh hilangnya jaringan sampai dengan stratum papilare disebut

ekskoriasi.
19. Ulkus : hilangnya jaringan yang lebih dalam dari ekskoriasi. Ulkus dengan

demikian mempunyai tepi, dinding, dasar, da nisi. Termasuk erosi dan

ekskoriasi dengan bentuk linear ialah fisura atau rhagades, yakni belahan kulit

yang terjadi pada sendi dan batas kulit dengan selaput lender.
20. Skuama : lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama dapat

halus sebagai taburan tepung, maupun lapisan tebal dan luas sebagai lembaran

kertas. Dapat dibedakan, misalnya pitiriasiformis (halus), psoriasiformis

(berlapis-lapis), iktiosiformis (seperti ikan), kurtikular (tipis), lamellar

16
(berlapis), membranosa atau eksfoliatika (lembaran-lembaran) dan keratotik

(terdiri atas zat tanduk)/


21. Krusta : cairan badan yang mengering. Dapat bercampur dengan jaringan

nekrotik, maupun benda asing (kotoran, obat, dsb). Warnanya ada beberapa

macam yaitu kuning muda berasal dari serum, kuning kehijauan berasal

daripus, dan kehitaman berasal dari darah.


22. Likenifikasi : penebalan kulit disertai relief kulit yang makin jelas
23. Guma : infiltrate sirkumskrip, menahun, destruktif, biasanya melunak.
24. Eksantema : kelainan pada kulit yang timbul serentak dalam waktu singkat

dan tidak berlangsung lama, umumnya didahului demam.


25. Fagedenikum : proses yang menjurus ke dalam dan meluas (ulkus tropikum,

ulkus mole).
26. Terebrans : proses yang menjurus ke dalam.
27. Monomorf : kelainan kulit yang pada satu macam ruam kulit
28. Polimorf : kelainan kulit yang sedang berkembang terdiri atas brmacam-

macam efloresensi.
29. Telangiektasis : pelebaran kapiler yang menetap pada kulit.
30. Roseola : eksantema yang lenticular berwarna merah tembaga pada

sifilismdan frambusia.
31. Eksantema skarlatiniformis : erupsi yang difus dapat generalisata atau

lokalisata, berbentuk eritema nummular.


32. Eksantema morbiliformis : erupsi berbentuk eritema yang lentikuler
33. Galopans : proses yang sangat cepat meluas (ulkus diabetikum galopans).

2.1.4 Jenis-jenis Penyakit Kulit

2.1.4.1 Dermatitis Kontak Iritan

Dermatitis berasal dari kata derm/o yang artinya kulit dan-itis adalah radang

inflamasi sehingga dermatitis dapat diterjemahkan sebagai suatu keadaan dimana

17
kulit mengalami inflamasi (Buxton, 2005). Salah satu dermatitis eksogen adalah

dermatitis kontak. Dermatitis kontak merupakan inflamasi non-infeksi pada kulit

yang diakibatkan oleh senyawa kontak dengan kulit tersebut (Hayakawa, 2000). Ciri

umumnya, adanya eritema (kemerahan), edema (bengkak), papul (tonjolan kurang

5mm), vesikel (tonjolan cairan dibawah 5mm), crust. (Freedberg, 2003). Secara

umum dermatitis kontak dibagi menjadi 2 : dermatitis kontak iritan dan dermatitis

kontak alergi.4,5

Di Amerika Serikat, 90% klaim kesehatan akibat kelainan kulit pada pekerja

diakibatkan oleh dermatitis kontak. Konsultasi dengan dokter akibat dermatitis lontak

sebesar 4-7% di Skandinavia yang telah lama memakai uji stempel standar, terlihat

insiden dermatitis kontak lebih tinggi daripada di Amerika. Bila dibandingkan dengan

kontak iritan, jumlah penderita dermatitis kontak alergi lebih sedikit. Dermatitis

kontak iritan timbul pada 80% dari seluruh penderita dermatitis kontak sedangkan

dermatitis kontak alergi kira-kira hanya 10-20% sedangkan insiden dermatitis kontak

alergi diperkirakan terjadi pada 0,21% dari populasi penduduk. secara umum usia

tidak mempengaruhi timbulnya sensitasi. Bila dilihat dari jenis kelamin, prevalensi

pada wanita adalah 2 kali lipat disbanding laki-laki.6,9

Di Indonesia laporan dari bagian penyakit kulit dan kelamin FK UNSRAT

Manado dari tahun 1988-1991 menunjukkan insiden dermatitis kontak sebesar 4,45%

Di RSUD dr. Abdul Aziz Singkawang Kalimantan Barat pada tahun 1991-1992

dijumpai insiden dermatitis kontak sebanyak 17,76% sedangkan di RSUD dr.

18
Pirngadi Medan insiden dermatitis kontak pada tahun 1992 sebanyak 37,54% tahun

1993 sebanyak 34,74% dan tahun 1994 sebanyak 40,05%, Selama tahun 2000

terdapat 3897 pasien baru di poliklinik alergi dengan 1197 pasien (30,61%) dengan

diagnosis dermatitis kontak (NASITION dkk, 1994). Dari bulan Januari hingga Juni

2001 terdapat 2122 pasien alergi dengan 645 pasien (30,40%) menderita dermatitis

kontak, di RSUP H. Adam Malik, Medan, selama tahun 2000 terdapat 731 pasien

baru di poliklinik alergi dimana 201 pasien (27,50%)menderita dermatitis kontak.

Dari bulan Januari hingga Juni 2001 terdapat 270 pasien dengan 64 pasien (23,70%)

menderita dermatitis kontak, walaupun demikian kasus dermatitis sebenarnya

diperkirakan 10-50 kali lipat dari data statistik yang terlihat karena adanya kasus yang

tidak dilaporkan. Selain itu, perkiraan yang lebih besar tersebut juga diakibatkan oleh

semakin meningkatkan perkembangan industri.9

a. Etiologi

Hampir semua bahan bisa menjadi penyebab iritasi kulit jika paparan cukup

lama dan atau konsentrasi substansi cukup tinggi. Faktor lingkungan dapat

meningkatkan efek iritasi lain. Adapun berbagai macam penyebab terjadinya iritasi

sebagai berikut:

1. Dry water and temperature variation


2. Water
3. Pelarut/ solvent
4. Metalworking fluid/oils
5. Sodium lauryl sulfate
6. Commulative irritant sulfate

19
7. Hydrofluoric acid
8. Alkalies acid, dll .6
b. Patofisiologi

Dermatitis kontak iritan adalah hasil klinis peradangan yang cukup timbul dari

pelepasan sitokin proinflamasi dari sel kulit (sel keratinosit) biasanya karena respon

rangsangan kimia, bentuk klinis yang berbeda bisa timbul. Tiga perubahan

patofisiologi utama adalah kerusakan barrier, perubahan sel epidermis dan pelepasan

sitokin. Dermatitis kontak iritan ini melibatkan sel-sel epidermis, dermal fibroblast,

sel endotel dan berbagai leukosit berinteraksi satu sama lain dibawah kendali jaringan

sitokin dan mediator lipid. Kreatinosit istirahat menghasilkan beberapa sitokin

konstitutif. Berbagai rangsangan lingkungan (misalnya: sinar ultraviolet, bahan

kimia) dapat menginduksi kreatinosit epidermis untuk melepaskan sitokin berikut :

Sitokin inflamasi (IL 1, tumor nekrosis faktor-alpha)


Sitokin chemotactic (IL 8, IL 10)
Pertumbuhan promoting cytokins ( IL6, IL7, IL15)
Sitokin pengatur hormon (IL10, IL12, IL18)

Antar molekul adhesi-1 mengandung infiltrasi leukosit kedalam epidermis dalam

reaksi peradangan kulit, termasuk dermatitis kontak iritan.6

2.1.4.2 Infeksi Jamur

Jamur yang bisa menyebabkan penyakit pada manusia antara lain adalah

dermatofit (dermatokhite, bahasa yunani, yang berarti tumbuhan kulit) dan jamur

20
serupa ragi candida albicans, yang menyebabkan terjadinya infeksi jamur superfisial

pada kulit, rambut, kuku, dan selaput lendir. Jamur lainnya dapat menembus jaringan

hidup dan menyebabkan infeksi di bagian dalam. Jamur yang berhasil masuk itu bisa

tetap berada ditempat (disetoma) atau menyebabkan penyakit sistemik ( misalnya

histoplasmosis).3,5

Dermatofit termasuk dalam kelompok jamur yang menyebabkan kelainan

yang disebut infeksi ringumworm. Fase vegetative jamur dermatofit terdiri dari hifa-

hifa bersepta yang membentuk suatu anyaman bercabang-cabang (miselium).

Candida albicans merupakan organisme yang terdiri dari sel-sel bulat atau oval yang

membelah diri melalui pertunasan (budding). Terlepas dari bentuk raginya, candida

albicans bisa membuat pseudohifa yang terdiri dari banyak sel yang tersusun linear,

atau pada keadaan-keadaan tertentu, membentuk hifa yang bersepta.3,5

A. Infeksi Dermatofit
a. Tinea Pedis

Penyakit ini merupakan infeksi dermatofit yang tersering , biasanya terdapat

rasa gatal pada daerah di sela-sela jari kaki yang berskuama, terutama di antara jari ke

tiga dan keempat dan kelima, atau pada telapak kaki. Infeksi ini biasanya ini biasanya

didapat dari adanya kontak dengan debris keratin yang terinfeksi pada lantai kolam

renang dan kamar mandi. Kadang-kadang terjadi penyebaran yang luas ke telapak

dan bagian samping kaki (disebut juga dengan moccasin tinea pedis, karena mirip

dengan bentuk sepatu kulit yang lunak). Penyakit ini juga menyebar kepunggung

21
kaki. Kadang-kadang tinea pedis mengikuti pola timbulnya lesi vestikulobulosa yang

episodic pada telapak kaki, yang terutama terjadi pada cuaca yang hangat. Infeksi

jamur pada kaki sering asimetris, sangat berbeda dengan eksema yang simetris.5

b. Tinea Kruris

Lebih sering terjadi pada laki-laki dan jarang pada wanita. Gambaran

klinisnya khas, dan mudah dibedakan dengan intertrigo, psoriasis fleksural, dan

dermatitis seborok fleksural. Tepi eriematosa yang berskuama pelan-pelan menjalar

ke pelan-pelan menjalar ke bawah paha bagian dalam dan meluas kearah belakang ke

daerah perineum dan bokong. Sumber infeksi hampir selalu berasal dari kaki pasien,

sehingga pasien itu harus diperiksa untuk mencari bukti adanya tinea pedis atau

distrofi kuku karena jamur. Jamur diduga berpindah ke lipat paha setelah menggaruk

kaki atau melalui handuk.3,4

c. Tinea Korporis

Tinea pada tubuh secara khas mempunyai bagian tepi yang meradang,

sedangkan bagian ditengah bersih, tetapi penampakan seperti ini relative jarang.

Bentuk eksema anular lebih sering ditemukan, dalam hal ini sering dikelirukan

dengan ringworm. Eritema anulare, nama yang dianjurkan, juga memberi gambaran

adanya lesi yang anular. Bila diduga ada infeksi jamur maka perlu dilakukan kerokan

ntuk mencari adanya hifa dengan pemeriksaan mikroskopis. Sumber jamur pada

22
orang dewasa biasanya berasal dari kaki, sedangkan pada anak-anak biasanya

menyebar di daerah kulit kepala.3,4

d. Tinea Manum

Ring worm pada tangan biasanya unilateral. Pada telapak tangan

gambarannya berupa lesi eritematosa dengan sedikit skuama, sedangkan pada

punggung tangan gambaran peradangan lebih jelas, dengan pinggir yang berbatas

tegas. Sunber jamur hamper selalu berasal dari kaki pasien.3,4

e. Tinea Unguium

Distrofi kuku jari kaki karena jarum sangat sering terdapat pada orang dewasa

dan hal ini selalu berkaitan dengan adanya tinea pedis. Bagian yang diserang biasanya

mulai dari bagian distal berupa guratan-guratan kekuningan pada lempeng kuku,

kemudian makin lama seluruh kuku menjadi makin tebal, berubah warna dan rapuh.3,4

f. Cattle Ringworm

Didaerah pedesaan, petani-petani muda sering menderita cattle ringworm,

petani-petani yang sudah tua biasanya sudah terinfeksi, dan memperoleh imunitas

terhadap terjadinya reinfeksi, wajah dan lengan bagian depan adalah tempat-tempat

yang sering terkena. Disitu terjadi reaksi peradangan yang hebat terhadap jamur,

menghasilkan gambaran yang menyerupai infeksi bakteri.3,4

B. INFEKSI CANDIDA

23
a. Paronikia Kronis

Merupakan proses peradangan kronis pada lipatan kuku proksimal dan

matriks kuku. Hal ini terutama terjadi pada orang-orang yang tangannya sering

terendam dalam air : ibu rumah tangga, pegawai bar atau rumah makan,penggemar

tanaman dan pedagang ikan. Gambaran klinis berupa penebalan dan eritema pada

lipatan kuku proksimal (boilstering) dan hialngnya kutikula. Kondisis ini cukup

berbeda dengan paronikia bacterial akut, yang timbul cepat, rasa sakit hebat, dan

timbul banyak nanah hijau.3

b. Balanitis

Balanitis berupa bercak-bercak kecil berwarna putih atau daerah yang

mengalami erosi yang terdapat pada kulit ujung penis dan glans penis pada orang

yang tidak disunat. Factor predisposisi adalah kebersihan penis yang buruk .5

c. Intertrigo

Intertrigo merupakan istilah yang dipakai untuk maserasi yang terjadi pada

tempat-tempat dimana dua permukaan kulit menempel seperti lipat paha, aksilla,

daerah lipatan payudara atau daerah dibawah lipatan lemak perut. Obesitas dan

kebersihan yang buruk merupakan factor-faktor yang berpengaruh. Super infeksi oleh

candida sering terjadi, dan hal ini secara klinis bisa dicurigai bila terdapat pustula-

pustula pada bagian tepi daerah yang terkena . Pustula ini mudah pecah dan

24
meninggalkan suatu kolaret skuama, yang memberikan penampakan khas yaitu

bagian tepi seperti kerang pada daerah intertigo.4

2.2 Air Sungai

Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan. Air

merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan, namun demikian, air dapat

menjadi malapetaka bilamana tidak tersedia dalam kondisi yang benar baik kualitas

maupun kuantitasnya. Air bersih merupakan air yang digunakan untuk keperluan

sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila

telah dimasak (Permenkes RI,1990). Menurut kusnoputranto (1997), air sungai adalah

salah satu badan air yang menghasilkan air diatas permukaan daratan yang mengalir

dari dataran tinggi ke dataran rendah. 9

Dalam undang-undang kesehatan No.23 tahun 1992, yang dimaksud dengan

penyehatan air meliputi pengamanan dan penetapan kualitas air untuk berbagai

kebutuhan manusia. Oleh sebab itu air digunakan harus memenuhi persyaratan

kualitas fisik, kimia, dan bakteriologis (Depkes, 1992). Saat ini susah untuk

mendapatkan air yang baik sesuai dengan standar tertentu karena air sudah banyak

tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan rumah tangga maupun

limbah dari kegiatan industri.10

Secara epidemologis, ada keterkaitan erat antara air bersih dengan penyakit

kulit. Dalam kaitannya dengan hal tersebut maka seharusnya air bersih harus

25
memenuhi persyaratan kualitas yang telah ditetapkan. Persyaratan kualitas tersebut

telah tertuang dalam PERMENKES No 416/1999 tentang syarat-syarat dan kualitas

air bersih (Depkes RI, 1990).9,10

Air berwarna berarti mengandung bahan-bahan lain yang berbahaya bagi

kesehatan. Warna pada air disebabkan oleh kontak antara air dengan zat organic yang

sudah lapuk sehingga menghasilkan senyawa yang larut, unsur Fe dan Mn dan kadar

yang tinggi. Senyawa-senyawa lainnya seperti tannin, lignin, dan humus yang terlarut

dalam air. Warna adalah ciri yang dipakai untuk mengkaji kondisi umum dari air

limbah. Warna dalam hal ini seperti berubahnya warna dari jernih menjadi kecoklatan

atan kehijauan, Semakin pekat air semakin jelek kondisinya.11

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.20 Tahun 1990 tentang pengendalian

pencemaran air pasal 7 ayat 1 berdasarkan peruntukannya, air dibagi ke dalam empat

golongan, yaitu :

1. Golongan A
Air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa

pengolahan terlebih dahulu

2. Golongan B
Air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum
3. Golongan C
Air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan
4. Golongan D
Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan dapat digunakan

untuk usaha perkotaan, industri, atau pembangkit listrik tenaga air.

26
Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 1990, air sungai termasuk

dalam golongan B yaitu air yang dapat digunakan sebagai bahan baku air minum.11,12

2.2.1 Pengertian Pencemaran Sungai

Pencemaran sungai adalah tercemarnya air sungai yang disebabkan oleh

limbah industri, limbah penduduk, limbah peternakan, bahan kimia dan unsur hara

yang terdapat dalam air serta gangguan kimia dan fisika yang dapat mengganggu

kesehatan manusia.11

Pencemar sungai dapat diklasifikasikan sebagai organik, anorganik, radioaktif,

dan asam/basa. Saat ini hampir 10 juta zat kimia telah dikenal manusia, dan hampir

100.000 zat kimia telah digunakan secara komersial. Kebanyakan sisa zat kimia

tersebut dibuang ke badan air atau air tanah. Pestisida, deterjen, PCBs, dan PCPs

(polychlorinated phenols), adalah salah satu contohnya. Pestisida dgunakan di

pertanian, kehutanan dan rumah tangga. PCB, walaupun telah jarang digunakan di

alat-alat baru, masih terdapat di alat-alat elektronik lama sebagai insulator, PCP dapat

ditemukan sebagai pengawet kayu, dan deterjen digunakan secara luas sebagai zat

pembersih di rumah tangga.13,14

Pencemaran air berarti masuknya material lain ke dalam air sehingga

mengurangi kualitas air dalam penggunaannya. Pencemaran air ini meliputi juga

pencemaran sungai. Padahal sungai merupakan suatu komponen penting yang

berperan dalam siklus hidrologi.11

27
Penyebab pencemaran sungai dapat berasal dari :

1. Tingginya kandungan sedimen yang berasal dari erosi, kegiatan pertanian,

penambangan, konstruksi, pembukaan lahan dan aktivitas lainnya

2. Limbah organik dari manusia, hewan dan tanaman

3. Kecepatan pertambahan senyawa kimia yang berasal dari aktivitas industri

yang membuang limbahnya ke perairan.9

Pencemaran sungai secara lebih lanjut dapat menyebabkan blooming algae akibat

kelebihan nutrien fosfat yang ada di dalam sungai (Round 1981:307). Blooming

algae membuat kadar oksigen pada air menjadi rendah bahkan mencapai nol. Apabila

terjadi blooming algae, maka kehidupan biota di dalam sungai akan berkurang

sehingga dapat menghilangkan suatu ekosistem. Permasalahan lainnya,

Cyanobakteria merupakan alga yang mengeluarkan toksin yang juga beresiko bagi

kesehatan manusia dan hewan (Round 1981:307). Oleh karena itu, apabila terjadi

blooming algae maka sungai tidak dapat digunakan secara total.13

2.2.2 Penyebab pencemaran sungai

Sumber polusi air sungai antara lain limbah industri, pertanian dan rumah

tangga. Ada beberapa tipe polutan yang dapat masuk perairan yaitu : bahan-bahan

yang mengandung bibit penyakit, bahan-bahan yang banyak membutuhkan oksigen

untuk pengurainya, bahan-bahan kimia organik dari industri atau limbah pupuk

pertanian, bahan-bahan yang tidak sedimen (endapan), dan bahan-bahan yang

mengandung radioaktif dan panas.14

28
Penggunaan insektisida seperti DDT (Dichloro Diphenil Trichonethan) oleh

para petani, untuk memberantas hama tanaman dan serangga penyebar penyakit lain

secara berlabihan dapat mengakibatkan pencemaran air. Terjadinya pembusukan yang

berlebihan diperairan dapat pula menyebabkan pencemeran. Pembuangan sampah

dapat mengakibatkan kadar O2 terlarut dalam air semakin berkurang karena sebagian

besar dipergunakan oleh bakteri pembusuk.15

Pembuangan sampah organik maupun yang anorganik yang dibuang kesungai

terus-menerus, selain mencemari air, terutama dimusim hujan ini akan menimbulkan

banjir. Belakangan ini musibah karena polusi air datang seakan tidak terbendung lagi

disetiap musim hujan. Sebenarnya air hujan adalah rahmat. Akan tetapi rahmat dapat

menjadi ujian apabila kita tidak mengelolanya dengan benar.16

2.2.3 Dampak dari pencemaran air sungai

Pencemaran air dapat berdampak sangat luas, misalnya dapat meracuni air

minum, meracuni makanan hewan, menjadi penyebab ketidakseimbangan ekosistem

sungai dan danau, pengrusakan hutan akibat hujan asam, dsb.17

a. Dampak terhadap kesehatan

Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam antara lain:

(a) air sebagai media untuk hidup mikroba patogen; (b) air sebagai sarang insekta

29
penyebar penyakit; (c) jumlah air yang tersedia tak cukup, sehingga manusia

bersangkutan tak dapat membersihkan diri; (d) air sebagai media untuk hidup vektor

penyakit.18-19

b. Dampak terhadap estetika lingkungan

Dengan semakin banyaknya zat organik yang dibuang ke lingkungan perairan,

maka perairan tersebut akan semakin tercemar yang biasanya ditandai dengan bau

yang menyengat disamping tumpukan yang dapat mengurangi estetika lingkungan.

Masalah limbah minyak atau lemak juga dapat mengurangi estetika. Selain bau,

limbah tersebut juga menyebabkan tempat sekitarnya menjadi licin. Sedangkan

limbah detergen atau sabun akan menyebabkan penumpukan busa yang sangat

banyak. Inipun dapat mengurangi estetika.20

2.3 Kerangka Teori

30
Usia
Jenis kelamin
Frekuensi penggunaan
airs sungai
Jenis pemakaian air
sungai

Status sosial Ekonomi

Bahan kimia

Kelembapan

Peradangan/Infeksi

31