Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A.TINJAUAN TEORI
1. HISAP LENDIR
a. Pengertian
Suctioning atau penghisapan merupakan tindakan untuk mempertahankan jalan nafas
sehingga memungkinkan terjadinya proses pertukaran gas yang adekuat dengan cara
mengeluarkan sekret pada klien yang tidak mampu mengeluarkannya sendiri (Timby,
2009).
Tindakan suction merupakan suatu prosedur penghisapan lendir, yang dilakukan dengan
memasukkan selang catheter suction melalui selang endotracheal (Syafni, 2012).
Dapat disimpulkan hisap lendir merupakan tindakan untuk mempertahankan kepatenan
jalan nafas dengan mengeluarkan sekret pada klien yang tidak mampu mengeluarkannya
sendiri dengan memasukkan catheter suction ke endotracheal tube sehingga
memungkinkan terjadinya proses pertukaran gas yang adekuat.

b. Indikasi
Menurut Smeltzer et al, (2002), indikasi penghisapan lendir lewat endotrakeal adalah
untuk:
1. Menjaga jalan napas tetap bersih (airway maintenance), apabila:
a.Pasien tidak mampu batuk efektif.
b.Diduga aspirasi
2. Membersihkan jalan napas (bronchial toilet), apabila ditemukan:
a.Pada auskultasi terdengar suara napas yang kasar atauu ada suara napas tambahan.
b.Diduga ada sekresi mucus pada saluran pernapasan.
c.Apabila klinis memperlihatkan adanya peningkatan beban kerja sistem pernafasan.
3. Pengambilan specimen untuk pemeriksaan laboratorium.
4. Sebelum dilakukan radiologis ulang untuk evaluasi.
5. Untuk mengetahui kepatenan dari pipa endotrakeal.

5
c. Prosedur
Prosedur hisap lender ini dalam pelaksanaannya diharapkan sesuai dengan standar
prosedur yang telah ditetapkan agar pasien terhindar dari komplikasi dengan selalu
menjaga kesterilan dan kebersihan.
Prosedur hisap lender menurut Kozier & Erb, (2004) adalah:
1. Jelaskan kepada pasien apa yang akan dilakukan, mengapa perlu, dan bagaimana pasien
dapat menerima dan bekerjasama karena biasanya tindakan ini menyebabkan batuk dan
hal ini diperlukan untuk membantu dalam mengeluarkan sekret.
2. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan.
3. Menjaga privasi pasien.
4. Atur posisi pasien sesuai kebutuhan.
Jika tidak ada kontraindikasi posisikan pasien semiflower agar pasien dapat bernapas
dalam, paru dapat berkembang dengan baik sehingga mencegah desaturasi dan dapat
mengeluarkan sekret saat batuk.
Jika perlu, berikan analgesia sebelum penghisapan, karena penghisapan akan
merangsang refleks batuk, hal ini dapat menyebabkan rasa sakit terutama pada pasien
yang telah menjalani operasi toraks atau perut atau yang memiliki pengalaman
traumatis sehingga dapat meningkatkan kenyamanan pasien selama prosedur
penghisapan
5. Siapkan peralatan
a. Pasang alat resusitasi ke oksigen dengan aliran oksigen 100 %.
b. Catheter suction steril sesuai ukuran
c. Pasang pengalas bila perlu.
d. Atur tekanan sesuai penghisap dengan tekanan sekitar 100-120 mm hg untuk
orang dewasa, dan 50-95 untuk bayi dan anak
e. Pakai alat pelindung diri, kaca mata, masker, dan gaun bila perlu.
f. Memakai sarung tangan steril pada tangan dominan dan sarung tangan tidak steril di
tangan nondominan untuk melindungi perawat
g. Pegang suction catether di tangan dominan, pasang catether ke pipa penghisap.
6. Suction catether tersebut diberi pelumas.
a. Menggunakan tangan dominan, basahi ujung catether dengan larutan garam steril.

6
b. Menggunakan ibu jari dari tangan yang tidak dominan, tutup suction catheter untuk
menghisap sejumlah kecil larutan steril melalui catether.Hal ini untuk mengecek
bahwa peralatan hisap bekerja dengan benar dan sekaligus melumasi lumen catether
untuk memudahkan penghisapan dan mengurangi trauma jaringan selama
penghisapan, selain itu juga membantu mencegah sekret menempel ke bagian dalam
suction catether
7. Jika klien memiliki sekret yang berlebihan, lakukan pemompaan dengan ambubag
sebelum penyedotan.
a. Panggil asisten untuk prosedur ini
b. Menggunakan tangan nondominan, nyalakan oksigen ke 12-15 l / min
c. Jika pasien terpasang trakeostomi atau ett, sambungkan ambubag ke tracheascanul
atau ett
d. Pompa dengan Ambubag 3 - 5 kali, sebagai inhalasi, hal ini sebaiknya dilakukan oleh
orang kedua yang bisa menggunakan kedua tangan untuk memompa, dengan
demikian volume udara yang masuk lebih maksimal.
f. Amati respon pasien untuk mengetahui kecukupan ventilasi pasien.
g. Bereskan alat dan cuci tangan.

d. Komplikasi
Dalam melakukan tindakan hisap lender perawat harus memperhatikan komplikasi yang
mungkin dapat ditimbulkan, antara lain yaitu (Kozier & Erb, 2002):
a. Hipoksemia
b. Trauma jalan nafas
c. Infeksi nosokomial
d. Respiratory arrest
e. Bronkospasme
f. Perdarahan pulmonal
g. Disritmia jantung
h. Hipertensi/hipotensi
i. Nyeri
j. Kecemasan.

7
2. VENTILATOR
a. Pengertian
Ventilasi mekanik adalah suatu alat bantu mekanik yang memberikan bantuan
nafas dengan cara membantu sebagian atau mengambil alih semua fungsi ventilasi guna
mempertahankan hidup (Hudak & Gallo, 1998).

Ventilator merupakan alat bantu pernapasan yang dapat digunakan untuk


memperbaiki ventilasi alveolar, pembuangan CO2, serta oksigenasi jaringan yang
adekuat (Firmansyah, 2004)

Ventilasi mekanik adalah alat pernafasan bertekanan negatif atau positif yang
dapat mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen dalam waktu yang lama. (
Brunner dan Suddarth, dalam Tanjung, 2003)

Dari beberapa pengertian tentang ventilator dapat disimpulkan bahwa ventilator


merupakan alat bantu pernafasan untuk memperbaiki ventilasi alveolar untuk membuang
CO2 dan memasukkan O2 samapi ke jaringan dengan adekuat, dapat bertekanan positif
maupun negatif yang dapat digunakan dalam waktu lama untuk mempertahankan hidup.

b. Indikasi
Indikasi pemasangan ventilasi mekanik adalah jika terjadi: (Brunner dan Suddarth, dalam
Tanjung, 2003)
1. Kegagalan Ventilasi
a. Neuromuscular Disease
b. Central Nervous System disease
c. Depresi system saraf pusat
d. Musculosceletal disease
e. Ketidakmampuan thoraks untuk ventilasi
2. Kegagalan pertukaran gas
a. Gagal nafas akut
b. Gagal nafas kronik

8
c. Gagal jantung kiri
d. Penyakit paru-gangguan difusi
e. Penyakit paru-ventilasi / perfusi mismatch

c. Macam ventilator
Menurut sifatnya, ada 3 tipe ventilator, yaitu:
1. Volume Cycled Ventilator.
Perinsip dasar ventilator ini adalah cyclusnya berdasarkan volume. Mesin berhenti
bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai volume yang ditentukan.
Keuntungan volume cycled ventilator adalah perubahan pada komplain paru pasien
tetap memberikan volume tidal yang konsisten.
2. Pressure Cycled Ventilator
Perinsip dasar ventilator type ini adalah cyclusnya menggunakan tekanan. Mesin
berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai tekanan yang telah
ditentukan. Pada titik tekanan ini, katup inspirasi tertutup dan ekspirasi terjadi dengan
pasif. Kerugian pada type ini bila ada perubahan komplain paru, maka volume udara
yang diberikan juga berubah. Sehingga pada pasien yang setatus parunya tidak stabil,
penggunaan ventilator tipe ini tidak dianjurkan.
3. Time Cycled Ventilator
Prinsip kerja dari ventilator type ini adalah cyclusnya berdasarkan waktu ekspirasi
atau waktu inspirasi yang telah ditentukan. Waktu inspirasi ditentukan oleh waktu dan
kecepatan inspirasi (jumlah napas permenit)
Normal ratio I : E (inspirasi : ekspirasi ) 1 : 2

d. Komplikasi
Pada pemakaian ventilasi mekanik ini harus diperhatikan kemungkinan komplikasi yang
dapat timbul,antara lain:
a. Penurunan venous return dan cardiac output sebagai konsekuensi fase inhalasi
b. Pengurangan volume paru
c. Trauma paru ( barotrauma / volutrauma )

9
d. Biotrauma seperti inflamasi, atelektasis, lesi pita suara dan trakea, hipoventilasi
maupun hipoksia karena kesalahan teknis.

3. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETRAMPILAN PERAWAT


A. Pengetahuan
a. Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil pengindraan manusia,atau hasil tahu dari seseorang
terhadap suatu obyek melalui indra yang dimiliki sehingga menghasilkan pengetahuan
yang sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian serta persepsi terhadap obyek
(Benyamin Bloom dalam Notoatmodjo, 2010). Pengetahuan atau kognitif merupakan
domain yang sangat penting untuk seseorang menentukan tindakan.
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu:
a) Tahu.
Tahu artinya dapat mengingat suatu materi yang dipelajarisebelumnya termasuk
dapat mengingat kembalisesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang telah
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b) Memahami
Memahami artinya kemampuan untuk menggunakan materi yang sudah dipelajari
pada situasi atau kondisi yang sebenarnya.
c) Aplikasi
Aplikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi yang nyata.
d) Analisis
Analisis merupakan kemampuan untuk menjabarkan materi atau obyek kedalam
komponen-kpmponen tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut dan masih
berkaitan satu sama lain.
e) Sintesis
Sintesis merupakan kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian secara
keseluruhan menjadi sesuatu yang baru.

10
f) Evaluasi
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk mmberikan penilaian terhadap suatu
materi atau obyek.

Pengetahuan ini dapat diukur dengan melakukan wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek peneliti atau responden.
Pengetahuan diperlukan seseorang agar orang dapat mengadopsi perilaku yang baru
karena berkat pengetahuan tersebut seseorang dapat merasakan manfaat dari perilaku
tersebut bagi dirinya atau orang lain. (Notoatmodjo, 2003)

b. Faktor yang mempengaruhi perilaku


Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo, (2003), kesehatan seseorang atau
masyarakat dipengaruhi oleh dua hal pokok yaitu faktor perilaku dan di luar perilaku.
Selanjutnya perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :
1. Faktor pembawa ( predisposing factor ) didalamnya termasuk pengetahuan, sikap,
kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan lain sebagainya
2. Faktor pendorong ( reinforcing factor ) yang terwujut di dalam sikap dan perilaku
petugas kesehatan maupun petugas lain , teman, tokoh yang semuanya bisa menjadi
kelompok referensi dari perilaku masyarakat
3. Faktor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam lingkungan fisik, sumber
daya, tersedia atau tidaknya fasilitas dan sarana kesehatan

B. Lama Bekerja
a. Pengertian
Pengalaman adalah keseluruhan pelajaran yang dipetik oleh seseorang dari
peristiwa-peristiwa yang dilakukannya dalam perjalanan hidupnya. (Siagian, 2002).
Lebih lanjut Siagian disini mengemukakan bahwa, Pengalaman langsung adalah
apabila seseorang telah pernah bekerja pada suatu organisasi, lalu oleh karena sesuatu
meninggalkan organisasi itu dan pindah ke organisasi yang lain. Sedangkan dengan
pengalaman tidak langsung adalah peristiwa yang diamati dan diikuti oleh seseorang

11
pada suatu organisasi meskipun yang bersangkutan sendiri tidak menjadi anggota dari
organisasi yang sedang diamati atau diikuti.
Pengalaman kerja seseorang menunjukkan jenis-jenis pekerjaan yang telah
dilakukan seseorang dan memberikan peluang besar bagi seseorang untuk melakukan
pekerjaan yang lebih baik. Semakin luas pengalaman kerja seseorang, semakin trampil
seseorang dalam melakukan pekerjaan dan semakin sempurna pula pola berpikir dan
sikap dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Abriyani
Puspaningsih dalam Ayuningtyas, 2012).
Menurut Trijoko dalam Effendy, (2011) mengatakan pengalaman kerja adalah
pengetahuan dan ketrampilan yang telah diketahui dan dikuasai seseorang sebagai
akibat dari perbuatan atau pekerjaan yang telah dilakukan selama beberapa waktu
tertentu.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa pengalaman kerja adalah tingkat
penguasaan pengetahuan serta keterampilan seseorang dalam pekerjaannya yang dapat
diukur dari masa kerja dan dari tingkat pengetahuan serta keterampilan yang
dimilikinya.

b. Pengukuran Pengalaman Kerja


Foster dalam Effendy, (2011) menyatakan ada beberapa hal untuk menentukan
berpengalaman tidaknya seseorang sekaligus sebagai indikator pengalaman kerja yaitu:
a) Lama waktu/masa kerja
Ukuran tentang lama waktu atau masa kerja tang telah ditempuh seseorang dapat
memahami tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakannya dengan baik.
b) Tingkat pengetahuan yang dimiliki.
Pengetahuan merujuk pada konsep, prinsip, prosedur, kebijakan atau informasi lain
yang dibutuhkan oleh karyawan. Pengetahuan juga mencakup kemampuan untuk
memahami dan menerapkan informasi pada tanggung jawab pekerjaan.
c) Tingkat ketrampilan yang dimiliki.
Ketrampilan merujuk pada kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai
atau menjalankan suatu tugas atau pekerjaan.

12
d) Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan.
Tingkat penguasaan seseorang dalam melaksanakan aspek-aspek teknik peralatan
dan pekerjaan.

Menurut Asri dalam Effendy, (2011) mengatakan pengukuran pengalaman kerja


sebagai sarana untuk menganalisa dan mendorong efisiensi dalam pelaksanaan tugas
pekerjaan. Beberapa hal yang digunakan untuk mengukur pengalaman kerja seseorang
adalah :
a) Gerakannya mantap dan lancar
Setiap perawat yang berpengalaman akan melakukan gerakan yang mantap dalam
bekerja tanpa disertai keraguan.
b) Gerakannya berirama
Artinya tercipta dari kebiasaan dalam melakukan pekerjaan sehari hari.
c) Lebih cepat menanggapi tanda tanda
Artinya tanda tanda seperti akan terjadi kecelakaan kerja
d) Dapat menduga akan timbulnya kesulitan sehingga lebih siap menghadapinya
Bila didukung oleh pengalaman kerja yang dimilikinya maka seorang perawat yang
berpengalaman dapat menduga akan adanya kesulitan dan siap menghadapinya.
e) Bekerja dengan tenang
Seorang perawat yang berpengalaman akan memiliki rasa percaya diri yang cukup
besar

c. Beberapa faktor yang mempengaruhi pengalaman kerja.


Beberapa faktor yang mungkin berpengaruh antara lain (Handoko dalam Effendy,
2011)
a) Latar belakang pribadi, mencakup pendidikan, kursus, latihan, bekerja untuk
menunjukkan apa yang telah dilakukan seseorang di waktu yang lalu.
b) Bakat dan minat, untuk memperkirakan minat dan kapasitas atau kemampuan
seseorang.
c) Sikap dan kebutuhan (attitudes and needs) untuk meramalkan tanggung jawab dan
wewenang seseorang.

13
d) Kemampuan kemampuan analitis dan manipulatif untuk mempelajari kemampuan
penilaian dan penganalisaan.
e) Keterampilan dan kemampuan tehnik, untuk menilai kemampuan dalam
pelaksanaan aspek aspek tehnik pekerjaan.

C. Tingkat Pendidikan
a. Pengertian
Tingkat pendidikan yang diperoleh seseorang dalam arti luas baik secara formal
maupun informal akan berpengaruh terhadap seseorang dalam mengetahui, mengerti,
memahami sesuatu karena kemampuan tersebut dipengaruhi oleh kemampuan belajar
dan daya ingat. (Kariyoso dalam Prayitno, 2008) Selanjutnya menurut Notoadmojo
(2003) Pendidikan adalah upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia
terutama untuk pengembangan aspek intelektual dan kepribadian manusia. Pendidikan
(formal) dalam suatu organisasi adalah suatu proses mengembangkan kemampuan
kearah yang diinginkan oleh organisasi yang bersangkutan
Ambar (2004) menyatakan bahwa, Pendidikan merupakan usaha yang sengaja
diadakan dan dilakukan secara sistematis serta terus-menerus dalam jangka waktu
tertentu, sesuai dengan tingkatannya, guna menyampaikan, menumbuhkan dan
mendapatkan pengetahuan, sikap, nilai, kecakapan atau keterampilan yang dikehendaki.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan pendidikan merupakan usaha


seseorang untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, sikap, ketrampilan yang
dikehendaki yang dilakukan dengan sengaja, terus menerus dan sistematis sesuai
tingkatannya.

D. Pelatihan.
a. Pengertian
Pelatihan merupakan suatu proses belajar mengajar terhadap pengetahuan dan
ketrampilan tertentu agar peserta semakin terampil sehingga mampu melaksanakan
tanggung jawabnya dengan semakin baik dan sesuai standar. (Tanjung, 2003)
Sedangkan menurut Noe, et all dalam Sukiarno (2007) menyebutkan pelatihan

14
merupakan usaha yang terencana untuk memfasilitasi pembelajaran tentang pekerjaan
yang berkaitan dengan pengetahuan, keahlian serta perilaku dari para pegawai.
Me;nurut Strauss dan Syaless dalam Notoatmodjo (2010) mengatakan pelatihan
merupakan mengubah perilaku, karena dengan pelatihan pada akhirnya diharapkan
akan timbul perubahan perilaku dan pelatihan merupakan bagian dari pendidikan yang
menyangkut proses belajar untuk memperoleh ketrampilan dan meningkatkannya diluar
sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relative singkat dengan metode
utamanya adalah praktek dan teori.

Dari beberapa pengertian tentang pelatihan diatas dapat disimpulkan bahwa pelatihan
merupakan suatu proses belajar yang didalamnya terdapat metode teori dan praktek
dalam waktu yang relatif singkat untuk merubah perilaku agar lebih trampil sesuai
bidang yang dijalani/diminati.

b. Tujuan
Tujuan pelatihan menurut Notoatmodjo, (2010) penting untuk meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilan sebagai tolok ukur keberhasilan dari seluruh program,
dan harus dapat memberikan pengalaman belajar yang baik bagi peserta. Pelatihan
harus dapat meyakinkan peserta bahwa:
a) Dalam mempelajari sesuatu yang mereka yakini pasti mengandung manfaat
b) Proses belajardapat meningkatkan ketrampilan, bila ketrampilan itu sering
dipraktikkan akan semakin tinggi tingkat ketrampilannya.
c) Ketrampilan yang dipraktikkan dengan baik akan mendapatkan imbalan sebagai
umpan balik.
d) Imbalan dapat diperoleh dengan cepat bisa dari berbagai sumber.

4. KETRAMPILAN.
a.Pengertian
Ketrampilan merupakan hasil dari latihan yang berulang dapat disebut sebagai perubahan
yang meningkat pada orang yang mempelajari keterampilan tersebut sebagai hasil dari
aktifitas tertentu.(Whiterington dalam Sukiarko, 2007)

15
Keterampilan dari kata dasar terampil yang artinya cakap menyelesaikan tugas, mampu dan
cekatan, sedangkan keterampilan dapat diartikan kecakapan menyelesaikan tugas.
(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Sukiarko, 2007)
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan keterampilan merupakan kemampuan
seseorang menyelesaikan tugas tertentu dengan cekatan yang semakin lama semakin
meningkat sebagai hasil dari latihan yang dikerjakan berulang-ulang.

b.Faktor yang mempengaruhi ketrampilan


Glanz (dalam Sukiarko, 2007) menyebutka ada 5 faktor yang dapat berpengaruh tehadap
perilaku positif atu tindakan seseorang dalam bentuk ketrampilan, yaitu:
1. Faktor intrapersonal atau individu, yaitu karakteristik sesorang meliputi pengetahuan,
sikap, keyakinan dan cirri-ciri kepribadian seseorang.
2. Faktor interpersonal, yaitu hubungan antar manusia dan kelompok-kelompok utama
yang berpengaruh seperti keluarga, teman yang dapat member informasi.
3. Faktor institusional, yaitu peraturan, undang-undang, kebijakan.
4. Faktor kelompok masyarakat, yaitu norma, standar formal dan informal serta organisasi
masyarakat.
5. Faktor kebijakan publik, yaitu kebijakan yang berhubungan dengan kesehatan yang
dikeluarkan pemerintah berupa undang-undang yang mendukung program kesehatan.

Katz (dalam Bahtiar, 2010) membagi keterampilan ke dalam 2.kategori,yaitu:


a. Keterampilan teknis, yaitu keterampilan menerapkan pengetahuan atau keahlian.
Spesialisasi pengembangan keterampilan ini sering ditemui pada pelaksanaan pekerjaan
sehari-hari dalam suatu organisasi.
b. Keterampilan manusiawi, yaitu keterampilan bekerja sama dengan memahami dan
memotivasi orang lain, baik secara individu atau kelompok. Keterampilan ini sangat
diperlukan bagi pegawai yang sudah menduduki jabatan tertentu, karena keterampilan
ini dalam berkomunikasi, memotivasi dan mendelegasikan.

16
B. KERANGKA TEORI

Faktor pembawa

Pengetahuan dan sikap

Lama kerja

Nilai-nilai

Kepercayaan

Tingkat pendidikan

Faktor pendukung Ketrampilan

Fasilitas atau sarana melakukan


tindakan suction
Pelatihan

Faktor pendorong

Standar operasional prosedur

Kebijakan keselamatan pasien

Gambar 1. Kerangka Teori menurut Lawrence Green (Notoatmodjo, 2003)

17
C. KERANGKA KONSEP

Variable bebas Variabel terikat

Pengetahuan perawat Ketrampilan


tentang prosedur suction
perawat dalam
Pengalaman kerja melakukan tindakan
Pelatihan suction

Tingkat pendidikan

Gambar 2. Kerangka Konsep

D. VARIABEL PENELITIAN

Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota
suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain (Notoatmodjo,
2010).Berdasarkan hubungan fungsional antara variabel-variabel satu dengan yang lain,
variabel dapat dibedakan menjadi dua yaitu variabel tergantung atau dependent dan variabel
bebas atau independent. Variabel dependent merupakan variabel yang dipengaruhi atau
menjadi akibat karena variabel bebas. Variabel ini tergantung dari variabel bebas terhadap
perubahan. Sedangkan variabel independen merupakan variabel yang menjadi sebab
perubahan. Variabel ini dikenal dengan variabel bebas karena bebas dalam mempengaruhi
variabel lain (Hidayat, 2009)

Variabel bebas

a. Pengetahuan perawat tentang prosedur suction

Merupakan pemahaman responden tentang pengertian suction, prosedur suction dan efek
yang dapat ditimbulkan/komplikasi dari tindakan suction
18
b. Lama kerja

Lama kerja adalah ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh
seseorang dapat memahami tugas tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan
baik

c. Pelatihan

Pelatihan merupakan suatu proses belajar mengajar terhadap pengetahuan dan


keterampilan tertentu agar peserta semakin terampil sehingga mampu melaksanakan
tanggung jawabnya dengan semakin baik dan sesuai standar

d. Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan yang diperoleh seseorang secara formal maupun informal akan
berpengaruh terhadap seseorang dalam mengetahui, mengerti, memahami sesuatu karena
kemampuan tersebut dipengaruhi oleh kemampuan belajar dan daya ingat.

Variabel terikat

Ketrampilan

Merupakan kemampuan seseorang dalam melakukan suatu tindakan sesuai standar/prosedur


sebagai hasil dari latihan yang dilakukan berulang-ulang.

E. HIPOTESIS

Adakah pengaruh antara tingkat pengetahuan perawat, lama kerja, pelatihan dan tingkat
pendidikan dengan keterampilan perawat dalam melakukan tindakan hisap lendir pada pasien
terpasang ventilator di ruang Intensif RS Dr Kariadi Semarang.

19