Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah tentang Polimer Nilon, yang mana makalah ini diajukan untuk memenuhi
salah satu tugas Mata Kuliah Kimia Organik III.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
kekurangannya, hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan, waktu, serta sumber
yang penulis miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun
sangat penulis harapkan untuk perbaikan penyusunan.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah
Kimia Organik III, serta kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam
penyusunan makalah ini, semoga semua amal baik semua pihak mendapat
imbalan yang belipat dari Allah SWT. amiin.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Bengkulu, Oktober 2016

Penulis

1
DAFTAR ISI

Halaman Sampul...............................................................................................
Kata Pengantar................................................................................................1
Daftar Isi.........................................................................................................2
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang..........................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................3
1.3 Tujuan.......................................................................................................4
Bab II Isi
2.1 Sejarah Nilon............................................................................................5
2.2 Deskripsi Nilon.........................................................................................5
2.3 Sifat dan Karakteristik Nilon....................................................................6
2.4 Pembuatan Nilon......................................................................................7
2.5 Pemanfaatan Nilon..................................................................................14
2.6 Nilon dan Lingkungan............................................................................15
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan.............................................................................................17
DaftarPustaka................................................................................................18

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan bahan kimia banyak dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari dan memudahkan pekerjaan . Bahan kimia itu sendiri berupa
polimer alam ataupun sintetik. Seiring perkembangannya polimer sintetik lebih
banyak sering digunakan khususnya dalam bidang industri. Besarnya manfaat bahan
kimia tersebut, membuat manusia sering menyalahgunakannnya untuk industri
pangan, yaitu dalam pengawetan makanan yang akan berpengaruh terhadap
kesehatan.
Salah satu bahan kimia zat aditif yang disalahgunakan penggunaannya ialah
boraks.Meskipun telah dikeluarkan peraturan mengenai dilarangnya penggunaan
bahan tersebut, dan bahkan dilakukkannya inspeksi lapangan, tetapi sampai saat
ini masih banyak masyarakat yang melakukannya.
Pada umumnya boraks digunakan oleh industri rumahan, karena mereka tidak
terdaftar dan tidak terpantau oleh BPOM ataupun Depkes setempat. Tetapi tidak
menutup kemungkinan bagi industri besar melakukannya. Fenomena ini
merupakan salah satu masalah bangsa yang harus diperbaiki. Janganlah sampai
hal seperti ini dibiarkan terus menerus dan akhirnya menumpuk di masa depan.
Oleh karena itu,dalam makalah ini di bahas sedemikian rupa hal-hal yang
mengenai boraks agar kita sadar betapa bahayanya boraks apabila dikonsumsi
dalam jangka panjang.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana sejarah polimer nilon?
Apa pengertian nilon?
Apa sifat dan karakteristik nilon?
Bagaimana pembuatan nilon?
Bagaimana pemanfaaatan nilon dalam kehidupan sehari-hari?
Bagaimana hubungan nilon dengan lingkungan?

3
1.3 Tujuan
Mengetahui sejarah nilon
Mengetahui pengertian nilon
Mengetahui sifat dan karakteristik nilon
Mengetahui pembuatan nilon
Mengetahui pemanfaatan nilon
Mengetahui Hubungan nilon dengan lingkungan

4
BAB II
ISI

2.1 Sejarah Nilon


Nilon pertamakali diproduksipada 28 Februari 1935 oleh Wallace
Carothers di DuPont (fasilitaspenelitiandi StasiunPercobaan DuPont)
Nilonmerupakansalahsatupolimer termoplas (tidak tahan panas) yang paling
umumdigunakan.

Gambar 1. Wallace Carothers


dengan nilon hasil temuannya

Nilon pertama kali digunakan secara komersil pada tahun 1938 sebagai
bulu sikat gigi. Kemudian pada tahun 1940 dengan pengolahan yang lebih
kompleks nilon digunakan sebagai bahan pembuatan stoking untuk wanita. Nilon
pernah dijadikan bahan untuk menggantikan sutra sebagai bahan dasar parasut
setelah Amerika Serikat memasuki Perang Dunia II pada 1941.

2.2 Deskripsi Nilon


Nilon merupakan sebutan umum untuk jenis polimer sintetik yang
dikenalsebagaipoliamida(PA).Nilon merupakan polimer pertama yang dibuat
seluruhnya dari bahan anorganik: batu bara, air, dan udara. Elemen-elemen ini
tersusun menjadi monomerdengan berat molekular rendah, yang selanjutnya
direaksikan untuk membentuk rantai polimer panjang.
2.3 Sifat dan Karakteristik Nilon

5
Berikut adalah sifat sifat yang dimiliki oleh nilon, antara lain:
a. Sifat fisik
Nilon pada dasarnya bersifat ulet atau lentur
b. Sifat kimia
Nilon termasuk polimer yang memiliki resistansi yang tinggi terhadap
pencampuran dengan bahan kimia lain
c. Sifat mekanik
Nilon cukup tangguh saat ditarik
d. Sifat listrik
Nilon adalah penghantar listrik yang buruk
e. Sifat optik
Nilon dapat ditembus oleh gelombang sinar infra merah
Tabel 1. Karakteristik Nilon
Karakteristik nilon:
Massa jenis: 1,15 gram/cm3
Konduktifitas elektrik ( ) : 10-12 s/m
Konduktifitas termal : 0,25 W/m.K
Titik didih : 190oC 350oC
(sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Nylon)

2.4 Pembuatan Nilon


Nilon merupakan polimer kondensasi yang terjadi dari reaksi antara gugus
fungsi pada monomer yang sama atau monomer yang berbeda. Dalam
polimerisasi kondensasi (dua molekul bergabung menjadi satu molekul yang lebih
besar) kadang-kadang disertai dengan terbentuknya molekul kecil seperti H2O,
NH3, atau HCl.
Di dalam jenis reaksi polimerisasi, monomer-monomer bereaksi secara
adisi untuk membentuk rantai. Namun demikian, setiap ikatan baru yang dibentuk
akan bersamaan dengan dihasilkannya suatu molekul kecil biasanya air dari
atom-atom monomer. Pada reaksi semacam ini, tiap monomer harus mempunyai
dua gugus fungsional sehingga dapat menambahkan pada tiap ujung ke unit
lainnya dari rantai tersebut.
Pada reaksi kondensasi suatu atom hidrogen dari satu ujung monomer
bergabung dengan gugus-OH dari ujung monomer yang lainnya untuk membentuk

6
air. Kondensasi terhadap dua monomer yang berbeda yaitu 1,6 diaminoheksana
dan asam adipat yang umum digunakan untuk membuat jenis nilon. Nilon diberi
nama menurut jumlah atom karbon pada setiap unit monomer. Jika ada enam atom
karbon di setiap monomer, maka jenis nilon ini disebut nilon 6,6.
Berikut adalah reaksi pembentukan nilon:

Asam adipat + 1, n- diaminoheksana Nilon + air

Gambar 2. Mikrostruktur Nilon 6 dan nilon6,6


(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Nylon#
mediaviewer/File:Nylon6_and_Nylon_66.png)

Gambar 3. Hasil SEM dari serat nilon


(Sumber: http://www.intechopen.com/books/advances-in-modern-woven-fabrics-
technology/liquid-transport-in-nylon-6-6-woven-fabrics-used-for-outdoor-
performance-clothing )

7
Produksi Nilon 6,6

Nilon 6,6 dapat dibuat dengan dua cara. Pertama nilon 6,6 dapat dibuat dengan
mereaksikan adipoyl chloride dengan hexamethylene diamine. Kedua dapat dibuat
dengan mereaksikan adipic acid dengan hexametylene diamine. Reaksi yang
terjadi adalah sebagai berikut:
a. Reaksi adipoyl chloride dengan hexametylene diamine

b. Reaksi adipic acid dengan hexametylene diamine

Mekanisme reaksi adipic acid dengan hexametylene diamine


a. Molekul adipic acid memprotonasi karbonil oksigen adipic acid lainnya

8
Pasangan elektron bebas oksigen pada asam adipat menyerang atom hidrogen
pada gugus karboksilat dari molekul asam adipat lain. Molekul asam adipat
yang diserang mengalami kelebihan elektron pada atom oksigen yang terikat
pada gugus karboksilat seperti yang tertera pada gambar diatas. Molekul asam
adipat yang lain mengalami kekurangan elektron pada atom oksigen yang
terikat pada gugus karboksilat seperti yang terlihat pada gambar.

b. Hexamethylene diamine menyerang karbonil karbon pada adipic acid dan


membentuk ammonium intermediet.

Hexamethylene diamine menyerang asam adipat di gugus karboksilat dimana


terdapat atom oksigen yang kekurangan elektron. Hasilnya terbentuk
ammonium intermediet dimana salah satu gugus amine-nya mengalami
kekurangan elektron.

c. Perpindahan elektron pada ammonium intermediet.


Struktur ammonium intermediet yang tidak stabil dikarenakan salah satu atom
nitrogen pada gugus amine kekurangan electron mengakibatkan terjadinya
perpindahan elektron. Awalnya pasangan elektron bebas dari oksigen pada

9
gugus karboksilat yang berikatan dengan amine menyerang atom oksigen
yang terikat pada nitogen yang kekurangan elektron. Hal ini membuat atom
nitrogen tidak kekurangan elektron lagi tetapi hal ini membuat oksigen
tersebut menjadi kekurangan elektron. Atom oksigen yang kekurangan
elektron menarik elektron atom karbon sehingga terjadi pelepasan molekul
H2O. Oleh karena atom karbon mengalami kekurangan elektron maka atom
oksigen yang terikat padanya memberikan elektronnya dan menarik elektron
dari atom hidrogen sehingga terjadi pelepasan ion H +. Pada akhirnya
perpindahan elektron ini akan menghasilkan amida dimer disertai pelepasan
H2O dan ion H+.

d. Amida dimer bereaksi dengan molekul adipic acid atau hexamethylene


diamine lainnya
Selanjutnya amida dimer yang telah terbentuk akan bereaksi dengan asam
adipat atau dengan hexamethylene diamine yang lain untuk membentuk amida
trimer. Reaksinya sebagai berikut:

10
atau

e. Pembentukan polimer nilon 6,6


Reaksi-reaksi seperti diatas terjadi terus-menerus dan pada akhirnya akan
membentuk polimer 6,6

11
Skema Proses Pembuatan Nilon 6,6 di Industri

Source: www.pall.jp/pdf/PPG3a.pdf

Umpan yang digunakan pada industri pembuatan polimer nilon 6,6 adalah adipic
acid, hexamethylene diamnine, dan air. Adipic acid, hexamethylene diamine, dan
air kemudian dimasukkan ke reaktor untuk direaksikan menjadi hexamethylene
diammonium adipate yang biasa disebut nylon salt solution.TiO2 Slurry kemudian
ditambahkan ke nylon salt solution untuk mendeluster fiber. Pendelusteran fiber
ini bertujuan untuk memberi warna pada nilon yang akan dibentuk. Larutan garam
yang telah dicampur dengan TiO2 slurry dimasukkan ke dalam evaporator dan
dievaporasi untuk menghilangkan kandungan air berlebih. Larutan garam yang
sudah jenuh dimasukkan ke reaktor dimana terjadi reaksi polimerisasi dan
terbentuk polyhexamethylene adipamide atau yang biasa dikenal dengan nylon
6,6. Polimer nilon 6,6 kemudian dipisahkan ke dalam dua jalur dimana jalur yang
satu polime nilon 6,6 dimasukkan ke unit cutter dan dibentuk menjadi nilon 6,6
chip. Pada jalur yang lain nilon cair 6,6 diekstrusi melalui spinneret dan
mengalami proses pemintalan.Nilon tersebut kemudian didinginkan untuk
dibentuk menjadi filamen.

12
2.5 Pemanfaatan Nilon
Nilon sangat banyak dimanfaatkan dalam kehidupan. Berikut adalah
berbagai pemanfaatan polimer nilon dalam berbagai bidang:
a. Industri Benang dan Tekstil
Nilon dimanfaatkan sebagai bahan dasar pemintalan benang nilon yang
seterusnya dapat dijadikan produk tekstil berupa kemeja, jaket, jas hujan, gaun
pengantin, kaus kaki dan lain lain.
b. Manufaktur dan Peralatan Industri
Nilon merupakan bahan sintetik serbaguna yang dapat dibentuk menjadi
serat, lembaran, filamen atau bulu yang lebih lanjut dapat dibuat sebagai tenda,
terpal, parasut, safety belt, tali ban, tali pipa, dan pelengkap alat alat industri
lainnya.
c. Teknologi Bahan
Dalam rekayasa pengembangan papan komposit, nilon dapat dijadikan
sebagai matriks, dengan bahan campuran lain sebagai serat, dapat berupa serat
kaca maupun serat karbon. Penelitian tentang komposit nilon sudah banyak
dilakukan dan terbukti meningkatkan kekuatan nilon (komposit) dibandingkan
dengan nilon murni.
d. Bidang Medis
Di bidang kesehatan nilon dapat diolah menjadi film plastik nilon 6 yang
bersifat menyerap UV, film plastik nilon 6 ini digunakan sebagai properti yang
signifikan dalam mengendalikan penyakit virus menular.
Pemanfaatan Produk Nilon 6,6 dan Nilon 6
Nilon 6,6 dan nilon 6 sebagian besar digunakan untuk pembuatan fiber dan
sebagian kecil untuk pembuatan plastik.
Aplikasi untuk pembuatan fiber
Hampir 50% nilon fiber diproduksi menjadi tire cord.
Penggunaan lainnya untuk pembuatan rope, thread, dan cord karena nilon
mempunyai tenasitas tinggi dan elastisitas yang baik.
Pembuatan belt dan filter cloth karena nilon resistan terhadap abrasi dan
bahan kimia

13
Pemanfaatan nilon dalam apparel seperti ladies hose, undergarments, dan
dresses karena modulus rendan dan elastisitas tinggi yang digabungkan
dengan streangth dan toughness dibutuhkan untuk aplikasi ini.

Aplikasi untuk pembuatan plastik


Pemanfaatan nilon terbesar dalam pembuatan plastik berada pada bidang
mekanik sebagai pengganti logam dalam pembuatan gears, cams, bushes,
bearings, dan valve seats.
Nilon 6,6 dapat dibuat menjadi peralatan masak seperti spatula dan sendok
karena memiliki ketahanan panas (heat resistance) yang tinggi.
Nilon 6 dapat dibuat menjadi nilon hair combs dan nilon film untuk
kemasan makanan, contohnya sebagai barrier layer kemasan susu yang
terbuat dari campuran LDPE/LLDP/nylon-6
Selain dibuat menjadi film, nilon juga dapat dibuat menjadi monofilaments
seperti yang ditemukan pada peralatan surgical sutures, brush tufting,
wigs, sport equipment, braiding, outdoor upholstery, dan angling.

2.6 Nilon dan Lingkungan


Untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan dari dampak penggunaan
dan limbah nilon, maka perlu diadakan upaya daur ulang terhadap limbah nilon.
Perusahaan kimia raksasa dari Amerika Serikat, Du Pont, berhasil
mengembangkan teknologi baru daur ulang untuk Nilon, yakni dengan
menggunakan teknologi ammonolysis. Pilot plant untuk melakukan riset daur
ulang Nilon, ternyata jauh sebelumnya telah dibangun di wilayah Ontario,
tepatnya di kota Kingston, Kanada, demikian Du Pont menjelaskan. Pihak Du
Pont sendiri bahkan telah mengadakan riset dan pengembangan proses
ammonolysis pada fasilitas riset tersebut selama bertahun-tahun.
Dan terakhir, sebelum mengaplikasikannya secara luas, Du Pont merasa
perlu untuk mengadakan test kelayakan terutama dari sudut pandang ekonomis
metoda baru tersebut. Untuk itulah, pada tahun 2000 ini, Du Pont juga telah
menyelesaikan pembangunan sarana yang lebih besar di kota Maitland yang juga
terletak di wilayah Ontario. Sarana demonstrasi daur ulang Nilon dalam skala

14
besar ini, sebenarnya juga dimaksudkan untuk memberikan sarana penilaian bagi
khalayak industri secara luas terhadap metoda baru tadi. Dan tentu saja sekaligus
sebagai sarana promosi Du Pont yang jitu.Namun yang jauh lebih penting lagi,
proses daur ulang ini sangat besar artinya bagi pelestarian lingkungan hidup,
karena tidak perlu lagi penimbunan berbagai jenis limbah nilon.

15
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Nilon merupakan polimer sintetik yang dikenal sebagai poliamida (PA).
Nilon merupakan polimer pertama yang dibuat seluruhnya dari
bahan anorganik: batu bara, air, dan udara. Pembentukan nilon melalui reaksi
polimer kondensasi dimana asam adipat direaksikan dengan 1,n- diaminoheksana
yang akan menghasilkan nilon dan air. Umumnya, nilon banyak dimanfaatkan
dalam kehidupana misalnya pada bidang industri benang,tekstil, ataupun
teknologi bahan. Jenis nilon yang lebih dikenal ialah nilon 6,6 yang di aplikasikan
dalam pembuatan fiber dan plastik.

16
DAFTAR PUSTAKA

Hassanuddin.2015.Polimer Kondensasi.http://repository.usu.ac.id/bitstream/1234
56789/40028/4/Chapter%20II.pdf (diakses pada 20 oktober 2016)

Manul,Hakim.2015.Termoplastik Nilon.http://e-journal.usu.ac.id/site/chapter.pdf
(diakses pada 21 oktober 2016)

Sundari,Heni.2013.Polimer Alam dan Polimer Sintetik.http://staff.uny.ac.id/sites/


default/files/SMA-Polimer.pdf (diakses pada 21 oktober 2016)

17