Anda di halaman 1dari 32

FRAKTUR TIBIA

I. PENDAHULUAN
Fraktur tibia adalah hilangnya kontuinitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total
maupun yang parsial.Fraktur tulang panjang yang paling sering terjadi adalah fraktur pada tibia.Pusat Nasional Kesehatan
di luar negeri melaporkan bahwa fraktur ini berjumlah 77.000 orang, dan ada di 569.000 rumah sakit tiap hari /tahunnya.
Fraktur tibia umumnya dikaitkan dengan fraktur tulang fibula, karena gaya ditransmisikan sepanjang membran interoseus
fibula. Kulit dan jaringan subkutan sangat tipis pada bagian anterior dan medial dari tulang tibia dan sebagai akibat dari hal
ini, sejumlah besar fraktur tulang terbuka sering terjadi.
Tendensi untuk terjadinya fraktur tibia terdapat pada pasien-pasien usia lanjut yang terjatuh, Pada pasien-pasien
usia muda, mekanisme trauma yang paling sering adalah kecelakaan kendaraan bermotor (1,2,3)

II. INSIDENS& EPIDEMIOLOGI


II.1Frekuensi
Fraktur tibia merupakan fraktur tulang panjang yang paling sering terjadi. Insiden yang terjadi pertahun pada
fraktur terbuka tulang panjang diperkirakan 11,5 per 100.000 orang, dengan 40% terjadi pada ekstremitas bawah. Fraktur
ekstremitas bawah yang paling umum terjadi pada diafisis tibia.(2)
II.2Mortalitas/Morbiditas
Kehilangan anggota tubuh dapat terjadi akibat trauma dari jaringan lunak yang parah, keterlibatan neurovaskular,
cedera arteri poplitea, sindroma kompartemen, atau infeksi seperti gangren atau osteomielitis.Cedera arteri poplitea

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


merupakan cedera yang sangat serius sehingga mengancam ekstremitas namun biasanya diabaikan.Delayed union,
nonunion, dan arthritisdapat terjadi pada fraktur tibia.Di antara tulang-tulang panjang, tibia adalah lokasi yang paling
sering dari fraktur nonunion. (2)

III. ETIOLOGI
Etiologi fraktur tibia berupa trauma akibat kecelakaan dengan berkecepatan sangat tinggi. Di daerah di mana orang-
orang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan dengan potensi tinggi untuk
trauma kaki (misalnya :ski, sepak bola), jumlah fraktur tibia pada keadaan gawat darurat tergolong tinggi. Sementara
trauma langsung pada tibia merupakan penyebab paling umum, tidak ada etiologi lain yang dijumpai untuk fraktur tibia
shaft. Dua yang paling umum adalah jatuh atau melompat dari ketinggian yang signifikan dan luka tembak pada kaki
bagian bawah.(4)

IV. ANATOMI
Terdapat dua tulang pada extremitas bawah yaitu tibia dan fibula. Tibia adalah tulang panjang yang mempunyai
corpus, ujung proximal dan ujung distal, berada di sisi medial dan anterior dari crus. Pada posisi berdiri, tibia meneruskan
gaya gerak badan menuju pedis. Ujung proximal lebar, mengadakan persendian dengan os femur membentuk artikulastio
genu, membentuk kondilus medialis dan kondilus lateralis tibia. Facies proximal membentuk facies articularis superior,
bentuk besar, oval dan permukaan licin(5-6)

Corpus tibia mempunyai tiga permukaan yaitu facies lateralis, facies medialis dan facies posterior. Mempunyai tiga
buah tepi yaitu margo anterior , margo medialis , margo interosseus. (5)

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Ujung distal tibia membentuk malleolus medialis. Malleolus medialis mempunyai facies superior, anterior,
posterior, medial, lateral dan inferior. Pada permukaan lateral terdapat incisura fibularis yang membentuk persendian

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


dengan ujung distal fibula. Facies articularis inferior pada ujung distal tibia membentuk persendian dengan facies anterior

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


V. PATOFISIOLOGI
Jika satu tulang sudah patah,jaringan lunak sekitarnya juga rusak, periosteum terpisah dari tulang,dan terjadi
perdarahan yang cukup berat.Bekuan darahterbentuk pada daerah tersebut. Bekuan akan membentuk jaringan granulasi
didalamnya dengan dengan sel-sel pembentuk tulang primitif (osteogenik) berdiferensiasi menjadi khondroblas dan
osteoblas. Khondroblas akan mensekresi fosfat,yang merangsang deposisi kalsium.Terbentuk lapisan tebal (callus) di

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


sekitar lokasi fraktur.Lapisan ini terus menebal dan meluas, bertemu dengan lapisan kallus dari fragmen satunya, dan
menyatu. Penyatuan dari kedua fragmen (penyembuhan fraktur) terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula dan
osteoblas yang melekat pada tulang dan meluas menyeberangi lokasi fraktur.Penyatuan tulang provisional ini akan
menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi lebih kuat dan lebih terorganisasi.Callus tulang akan mengalami
remodeling untuk mengambil bentuk tulang yang utuh seperti bentuk osteoblast tulang baru dan osteoklast akan
menyingkirkan bagian yang rusak dan tulang sementara(8)

VI. DIAGNOSIS
Fraktur tibia dapat terjadi pada bagian proksimal (kondiler), diafisis atau persendian pergelangan kaki.
VI.I Fraktur Kondiler Tibia
Mekanisme trauma
Fraktur kondiler tibia lebih sering mengenai kondiler lateralis daripada medialis serta fraktur kedua
kondiler.Banyak fraktur kondiler tibia terjadi akibat kecelakaan antara mobil dan pejalan kaki di mana bemper mobil
menabrak kaki bagial lateral dengan gayakearah medial(valgus). Ini menghasilkan fraktur depresi atau fraktur split dari
kondiler lateralis tibia apabila kondiler femur didorong kearah tersebut. Kondiler medial memiliki kekuatan yang lebih
besar, jadi fraktur pada daerah ini biasanya terjadi akibat gaya dengan tenaga yang lebih besar(varus). Jatuh dari ketinggian
akan menimbulkan kompresi aksial sehingga bisa menyebabkan fraktur pada proksimal tibia.Pada golongan lanjut usia,
pasien dengan osteoporosis lebih mudah terkena fraktur kondiler tibia berbanding robekan ligamen atau meniscus setelah
cedera keseleo di lutut. Eminentia intrakondiler dapat fraktur bersama robekan ligamen krusiatum sebagai akibat
hiperekstensi atau gaya memutar.(1,9)

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Klasifikasi
Klasifikasi yang sering dan meluas dipakai sekarang adalah klasifikasi Schatzker(10-11).
I : Fraktur split kondiler lateral
II: Fraktur split/depresi lateral
III: Depresi kondiler lateral
IV: Fraktur split kondiler medial
V : Fraktur bikondiler
VI: Fraktur kominutif
Tipe IV-VI biasanya terjadi akibat trauma dengan tekanan yang kuat.Fraktur tidak bergeser apabila depresi kurang
dari 4 mm,sedangkan yang bergeser apabila depresi melebihi 4 mm.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 3.Klasifikasi Schatzker.(1)

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


(Dikutip dari kepustakaan 10)

Gambar 4.Fraktur kondiler tibia.(2)

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Pada anamnesis terdapat riwayat trauma pada lutut, pembengkakan dan nyeri serta hemartrosis.Terdapat gangguan
dalam pergerakan sendi lutut.Biasanya pasien tidak dapat menahan beban.Sewaktu pemeriksaan,mereka merasakan nyeri
pada proksimal tibia dan gerakan flesi dan ekstensi yang terbatas.Dokter perlu menentukan adanya penyebab cedera itu
akibat tenaga yang kuat atau lemah karena cedera neovaskular,sindroma kompartmen lebih sering terjadi pada cedera
akibat tenaga kuat.Pulsasi distal dan fungsi saraf peroneal perlu diperiksa.Kulit perlu diperiksa secara seksama untuk
mencari tanda-tanda abrasi atau laserasi yang dapat menjadi tanda fraktur terbuka(9).
Penilaian stabilitas lutut adalah penting dalam mengevaluasi kondiler tibia.Aspirasi dari hemartrosis pada lutut dan
anestasi lokal mungkin diperlukan untuk pemeriksaan yang akurat.Jika dibandingkan dengan bagian yang tidak cedera,
pelebaransudut sendi pada lutut yang stabil mestilah tidak lebih dari 10 o dengan stress varus atau valgus pada mana-mana
titik dalam aksis gerakan dari ekstensi penuh hingga fleksi 90 o. Integritas ligamen krusiatum anterior perlu dinilai melalui
tes Lakhman(9).
Fraktur kondiler sering disertai cedera jaringan lunak disekeliling lutut.Robekan ligamen kollateral medial dan
meniscus medial sering menyertai fraktur kondiler lateral. Fraktur kondiler medial disertai robekan ligamen kollateral
lateral dan meniskus medial.Ligamen krusiatum anterior dapat cedera pada fraktur salah satu kondiler.Fraktur kondiler
tibia,terutama yang ekstensi frakturnya sampai ke diafisis, dapat meyebabkan kepada sindroma kompartemen akut akibat
perdarahan dan edema(9)
Pemeriksaan radiologik
Dengan foto rontgen posisi AP dan lateral dapat diketahui jenis fraktur,tapi kadang-kadang diperlukan pula foto
oblik(1).

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 5.Fraktur kondiler tibia pada proximal diametaphysis.

Gambar 6.(A) Fraktur kondiler tibia dengan split dan terpisah di lateral. (B)
Fraktur kondiler tibia direduksi dengan menggunakan buttress plate dan screwuntuk mengembalikankongruensi sendi.(3)

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 7. Fraktur bikondiler

Pengobatan
1. Konservatif
Pada fraktur yang tidak bergeser dimana depresi kurang dari 4 mm dapat dilakukan beberapa pilihan
pengobatan,antara lain verban elastik, traksi,atau gips sirkuler.Prinsip pengobatan adalah mencegah bertambahnya
depresi,tidak menahan beban dan segera mobilisasi pada sendi lutut agar tidak segera terjadi kekakuan sendi(1).
2. Operatif

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Depresi yang lebih dari 4 mm dilakukan operasi dengan mengangkat bagian depresi dan ditopang dengan bone
graft.Pada fraktur split dapat dilakukan pemasangan screw atau kombinasi screw dan plate untuk menahan bagian
fragmen terhadap tibia(1).
Komplikasi(1)
1. Genu valgum : terjadi oleh karena depresiyang tidak direduksi dengan baik
2. Kekakuan lutut : terjadi karena tidak dilakukan latihan yang lebih awal
3. Osteoartritis : terjadi karena adanya kerusakan pada permukaan sendi sehingga bersifat irrreguler yang menyebabkan
inkonkruensi sendi lutut.

VI.II Fraktur Diafisis Tibia


Mekanisme trauma
Fraktur diafisis tibia terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan menimbulkan fraktur tipe transversal atau
oblik pendek, sedangkan trauma rotasi akan menimbulkan fraktur tipe spiral.Fraktur tibia biasanya terjadi pada batas antara
1/3 bagian tengah dan 1/3 bagian distal.Tungkai bawah bagian depan sangat sedikit ditutupi otot sehingga fraktur pada
daerah tibia sering bersifat terbuka.Penyebab utama terjadinya fraktur adalah kecelakaan lalu lintas. (1)

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 8.Fraktur diafisis tibia.
Klasifikasi fraktur
Klasifikasi dari fraktur diafisis tibia bermanfaat untuk kepentingan para dokter yang menggunakannya untuk
memperkirakan kemungkinan penyembuhan dari fraktur dalam menjalankan penatalaksanaannya.(3)
Orthopaedic Trauma Association (OTA) membagi fraktur diafisis tibia berdasarkan pemeriksaan radiografi, terbagi
3 grup, yaitu: simple, wedge dan kompleks. Masingmasing grup terbagi lagi menjadi 3 yaitu(3)
A. Tipe simple, terbagi 3: spiral, oblik, tranversal.
B. Tipe wedge, terbagi 3: spiral, bending, dan fragmen.
C. Tipe kompleks, terbagi 3: spiral, segmen, dan iregular.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 9.Klasifikasi fraktur diafisis tibia mengikut Orthopaedic Trauma Association (OTA)
Gambar diatas menunjukkan klasifikasi fraktur berdasarkan radiografi, dari sebelah kiri ke arah bawah
menunjukkan fraktur tipe simpel, yang terdiri dari spiral, oblik dan transversal. Gambar yang di tengah memperlihatkan

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


fraktur tipe wedge, dari atas ke bawah memperlihatkan tipe spiral, bending, dan fragmen. Gambar sebelah kanan
menunjukkan fraktur tipe kompleks, dari atas ke bawah menunjukkan fraktur tipe spiral, segmen dan ireguler(3).
Sistem klasifikasi yang sering digunakan pada fraktur terbuka adalah sistem Gustilo sebagai berikut:(3)
Tipe I: lukanya bersih dan panjangnya kurang dari 1 cm.
Tipe II: panjang luka lebih dari 1 cm dan tanpa kerusakan jaringan lunak yang luas.
Tipe IIIa: luka dengan kerusakan jaringan yang luas, biasanya lebih dari 10 cm dan mengenai periosteum. Fraktur tipe
ini dapat disertai kemungkinan komplikasi, contohnya: luka tembak.
Tipe IIIb: luka dengan tulang yang periosteumnya terangkat.
Tipe IIIc: fraktur dengan gangguan vaskular dan memerlukan penanganan terhadap vaskularnya agar vaskularisasi
tungkai dapat normal kembali.

Gambaran klinis
Ditemukan gejala fraktur berupa pembengkakan, nyeri dan sering ditemukan deformitas misalnya penonjolan
tulang keluar kulit.(1)

Pemeriksaan radiologis
Evaluasi radiologi dari fraktur diafisis tibia adalah dengan sinar rontgen pada posisi anteroposterior dan
lateral.Selain itu pada foto rontgen harus mencakup bagian distal dari femur dan ankle.Dengan pemeriksaan radiologis,
dapat ditentukan lokalisasi fraktur, jenis fraktur, apakah fraktur pada tibia dan fibula atau tibia saja atau fibula saja.Juga
dapat ditentukan apakah fraktur bersifat segmental(1,3).

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 10.Fraktur diafisis tibia
Pengobatan
1. Konservatif
Pengobatan standar dengan cara konservatif berupa reduksi fraktur dengan manipulasi tertutup dengan pembiusan
umum.Pemasangan gips sirkuler untuk immobilisasi, dipasang sampai diatas lutut(1).

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Prinsip reposisi adalah fraktur tertutup,ada kontak 70% atau lebih,tidak ada angulasi dan tidak ada rotasi.Apabila
ada angulasi, dapat dilakukan koreksi setelah 3 minggu (union secara fibrosa). Pada fraktur oblik atau spiral,
imobilisasi dengan gips biasanya sulit dipertahankan, sehingga mungkin diperlukan tindakan operasi(1).
Cast bracing adalah teknik pemasangan gips sirkuler dengan tumpuan pada tendo patella (gips Sarmiento) yang
biasanya dipergunakan setelah pembengkakan mereda atau terjadi union secara fibrosa(1).

2. Operatif
Terapi operatif dilakukan pada fraktur terbuka, kegagalan dalam terapi konservatif, fraktur tidak stabil dan adanya
nonunion.Metode pengobatan operatif adalah sama ada pemasangan plate dan screw, atau nail intrameduler, atau
pemasangan screw semata-mata atau pemasangan fiksasi eksterna. Indikasi pemasangan fiksasi eksterna pada fraktur
tibia: (1)
Fraktur tibia terbuka grade II dan III terutama apabila terdapat kerusakan jaringan yang hebat atau hilangnya
fragmen tulang
Pseudoartrosis yang mengalami infeksi (infected pseudoarthrosis)
Penatalaksanaan Fraktur dengan operasi, memiliki 2 indikasi, yaitu(3):
a. Absolut
- Fraktur terbuka yang merusak jaringan lunak, sehingga memerlukanOperasidalam penyembuhan dan perawatan lukanya.
- Cidera vaskuler sehingga memerlukan operasi untuk memperbaikijalannya darah di tungkai
- Fraktur dengan sindroma kompartemen
- Cidera multipel, yang diindikasikan untuk memperbaiki mobilitas pasien, juga mengurangi nyeri.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


b. Relatif , jika adanya:
- Pemendekan
- Fraktur tibia dengan fibula intak
- Fraktur tibia dan fibula dengan level yang sama

Adapun jenis-jenis operasi yang dilakukan pada fraktur tibia diantaranya


adalah sebagai berikut:
1. Fiksasi eksternal
a. Standar
Fiksasi eksternal standar dilakukan pada pasien dengan cidera multiple yang hemodinamiknya tidak stabil, dan
dapat juga digunakan pada frakturterbuka dengan luka terkontaminasi. Dengan cara ini, luka operasi yangdibuat bisa lebih
kecil, sehingga menghindari kemungkinan traumatambahan yang dapat memperlambat kemungkinan penyembuhan.
Dibawah ini merupakan gambar dari fiksasi eksternal tipe standar: (3)

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 11. Fiksasi Interna Standar
b. Ring Fixators
Ring fixators dilengkapi dengan fiksator ilizarov yang menggunakansejenis cincin dan kawat yang dipasang pada
tulang. Keuntungannya adalah dapat digunakan untuk fraktur ke arah proksimal atau distal.Caraini baik digunakan pada
fraktur tertutup tipe kompleks. Di bawah inimerupakan gambar pemasangan ring fixators pada fraktur diafisis tibia(3):

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 12.Ring Fixators
(Dikutip dari kepustakaan 3)

c. Open reduction with internal fixation (ORIF)


Cara ini biasanya digunakan pada fraktur diafisis tibia yang mencapai ke metafisis. Keuntungan penatalaksanaan
fraktur dengan cara ini yaitu gerakan sendinya menjadi lebih stabil. Kerugian cara ini adalah mudahnya terjadi komplikasi
pada penyembuhan luka operasi. Berikut ini merupakan gambar penatalaksanaan fraktur dengan ORIF(3):

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 13. ORIF
d. Intramedullary nailing
Cara ini baik digunakan pada fraktur displased, baik pada fraktur terbuka atau tertutup. Keuntungan cara ini adalah
mudah untuk meluruskan tulang yang cidera dan menghindarkan trauma pada jaringan lunak. Di bawah ini adalah gambar
dari penggunaan intramedullary nailing(3):

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 14.Intramedullary nailing

1. Amputasi
Amputasi dilakukan pada fraktur yang mengalami iskemia, putusnya nervus tibia dan pada crush injury dari tibia. (3)

Komplikasi

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Di antara komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur diafisis tibia adalah infeksi, delayed union atau nonunion,
malunion, kerusakan pembuluh darah (sindroma kompartmen anterior), trauma saraf terutama pada vervus peroneal
komunis dan gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki.Gangguan pergerakan sendi ini biasanya disebabkan adanya
adhesi pada otot-otot tungkai bawah. (1)

VI.III Fraktur Distal Tibia


Pergelangan kaki merupakan sendi yang kompleks dan penopang badan dimana talus duduk dan dilindungi oleh
maleolus lateralis dan medialis yang diikat dengan ligament. Dahulu,fraktur disekitar pergelangan kaki disebut fraktur Pott.
(1)

Mekanisme trauma
Fraktur maleolus dengan atau tanpa subluksasi dari talus, dapat terjadi dalam beberapa macam trauma(1).
1. Trauma abduksi
Trauma abduksi akan menimbulkan fraktur pada maleolus lateralis yang bersifat oblik, fraktur pada maleolus medialis
bersifat avulsi atau robekan pada ligamen bagian medial.
2. Trauma adduksi
Trauma adduksi akan menimbulkan fraktur maleolus medialis yang bersifat oblik atau avulsi maleolus lateralis atau
keduanya.Trauma adduksi juga bisa hanya menyebabkan strain atau robekan pada ligamen lateral,tergantung dari
beratnya trauma.
3. Trauma rotasi eksterna

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Trauma rotasi eksterna biasanya disertai dengan trauma abduksi dan terjadi fraktur pada fibula di atas sindesmosis yang
disertai dengan robekan ligamen medial atau fraktur avulsi pada maleolus medialis.Apabila trauma lebih hebat dapat
disertai dengan dislokasi talus.
4. Trauma kompresi vertikal
Pada kompresi vertikal dapat terjadi fraktur tibia distal bagian depan disertai dengan dislokasi talus ke depan atau
terjadi fraktur kominutif disertai dengan robekan diastesis.

Klasifikasi
Lauge-Hansen(1950) mengklasifikasikan menurut patogenesis terjadinya pergeseran dari fraktur, yang merupakan
pedoman penting untuk tindakan pengobatan atau manipulasi yang dilakukan. Klasifikasi lain yang lebih sederhana,
menurut Danis & Weber (1991), dimana fibula merupakan tulang yang penting dalam stabilitas dari kedudukan sendi
berdasarkan atas lokalisasi fraktur terhadap sindesmosis tibiofibular(1).

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 15

Klasifikasi terdiri atas (1):


Tipe A; fraktur maleolus di bawah sindesmosis
Tipe B; fraktur maleolus lateralis yang bersifat oblik disertai avulsi maleolus medialis dimana sering disertai dengan
robekan dari ligamen tibiofibular bagian depan
Tipe C; fraktur fibula di atas sindesmosis dan atau disertai avulsi dari tibia disertai fraktur atau robekan pada maleolus
medialis. Pada tipe C terjadi robekan pada sindesmosis. Jenis tipe C ini juga dikenal sebagai fraktur Duyuptren.

Klasifikasi ini penting artinya dalam tindakan pengobatan oleh karena selain fraktur juga perlu dilakukan tindakan
pada ligamen(1).

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 16.
(Dikutip dari kepustakaan 1)
Gambaran klinis
Ditemukan adanya pembengkakan pada pergelangan kaki, kebiruaan atau deformitas. Yang penting diperhatikan
adalah lokalisasi dari nyeri tekan apakah pada daerah tulang atau pada ligamen(1).

Pemeriksaan radiologis
Dengan pemeriksaan radiologis dapat ditentukan jenis-jenis fraktur dan mekanisme terjadinya trauma.Foto rontgen
perlu dibuat sekurang-kurangnya tiga proyeksi, yaitu antero-posterior, lateral dan setengah oblik dari gambaran posisi
pergelangan kaki. Sering fraktur terjadi pada fibula proksimal, sehingga secara klinis harus diperhatikan. (1)

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 17
Pengobatan
Fraktur dislokasi pada sendi pergelangan kaki merupakan fraktur intra-artikuler sehingga diperlukan reduksi secara
anatomis dan akurat serta mobilisasi sendi yang sesegera mungkin(1).
Tindakan pengobatan terdiri atas:
1. Konservatif
Dilakukan pada fraktur yang tidak bergeser, berupa pemasangan gips sirkuler di bawah lutut.
2. Operatif

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Terapi operatif dilakukan berdasarkan kelainan-kelainan yang ditemukan apakah hanya fraktur semata-mata,
apakah ada robekan pada ligamen atau diastasis pada tibio fibula serta adanya dislokasi talus.
Beberapa hal yang penting diperhatikan pada reduksi,yaitu(1):
Panjang fibula harus direstorasi sesuai panjang anatomis
Talus harus duduk sesuai sendi dimana talus dan permukaan tibia duduk paralel
Ruang sendi bagian medial harus terkoreksi sampai normal(4 mm)k
Pada foto oblik tidak nampak adanya diastasis tibiofibula
Tindakanoperasi terdiri atas:
Pemasangan screw( maleolar)
Pemasangan tension band wiring
Pemasangan plate dan screw

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


Gambar 18
Komplikasi(1)
1. Vaskuler
Apabila terjadi fraktur subluksasi yang hebat maka dapat terjadi gangguan pembuluh darah yang segera, sehingga harus
dilakukan reposisi secepatnya.
2. Malunion
Reduksi yang tidak komplit akan menyebabkan posisi persendian yang tidak akurat yang akan menimbulkan
osteoartritis.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


3. Osteoartritis
4. Algodistrofi
Algodistrofi adalah komplikasi dimana penderita mengeluh nyeri, terdapat pembengkakan dan nyeri tekan di sekitar
pergelangan kaki.Dapat terjadi perubahan trofik dan osteoporosis yang hebat.
5. Kekakuan yang hebat pada sendi.

VII. KESIMPULAN
Fraktur tulang panjang yang paling sering terjadi adalah fraktur pada tibia.Pada fraktur tibia, dapat terjadi fraktur
pada bagian kondiler,diafisis dan pergelangan kaki.Fraktur pada tibia termasuk luka kompleks, sehingga tentunya
penanganannya juga tidak sederhana.Sebagai dokter umum,anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap diperlukan jika
terjadi fraktur.Selain itu, pemeriksaan radiologis juga penting.Penatalaksanaan dari fraktur tergantung dari kondisi
frakturnya, bisa dengan operatif maupun non operatif.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA |


1
2
3