Anda di halaman 1dari 2

Patogenesis HFMD (Flu Singapura)

Hand Foot and Mouth Diseases (HFMD) atau dalam bahasa indonesia disebut sebagai
Penyakit Kaki Tangan Mulut (KTM) dikenal juga sebagai flu singapura biasanya disebabkan
oleh anggota dari virus RNA yaitu Coxscakievirus A5, A6, A7, A9, A10, A16, B1, B2, B3,
B5, echovirus dan enterovirus lainnya (Belazarian, 2008). Penyebab tersering adalah
Coxscakievirus A16 dan Enterovirus 71 (Chan, 2003). Penyakit ini sangat menular dan sering
terjadi pada musim panas. Penyakit Kaki Tangan dan Mulut biasa terjadi pada kelompok
masyarakat yang sangat padat dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun.
Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus (Cherry, 2007).
Enterovirus dapat menginfeksi manusia melalui gastrointestinal dan traktus
respiratorius (Chang, 2008). Virus dapat menular melalui kontak langsung dengan sekresi
hidung dan mulut, tinja, maupun virus yang terhisap dari udara (Tierney, 2004). Patogenesis
tentang HFMD sendiri belum sepenuhnya dapat dijelaskan. Virus akan masuk melalui jalur
oral atau pernafasan sehingga terjadi replikasi awal pada sel mukosa faring dan usus. Masing-
masing serotipe memiliki reseptor yang merupakan makromolekul permukaan sel yang
digunakan untuk masuk menuju sel inang. Replikasi awal pada faring dan usus diikuti dengan
multiplikasi pada jaringan limfoid seperti tonsil, Peyer patches dan kelenjar limfe regional
(Abzug, 2004). Penyebaran ke kelenjar limfe regional ini berjalan dalam waktu 24 jam yang
diikuti dengan viremia (Belazarian, 2008).
Viremia primer (viremia minor) menyebabkan penyebaran ke sistem
retikuloendotelial yang lebih jauh termasuk hati, limpa, sumsum tulang dan kelenjar limfe
yang jauh. Respon imun dapat membatasi replikasi dan perkembangannya di luar sistem
retikuloendotelial yang menyebabkan terjadinya infeksi subklinis. Infeksi klinis terjadi jika
replikasi terus berlangsung di sistem retikuloendotelial dan virus menyebar melalui viremia
sekunder (viremia mayor) ke organ target seperti susunan saraf pusat (SSP), jantung dan
kulit. Reaksi pada kulit berupa bintik merah yang kemudian membentuk lepuhan kecil mirip
dengan cacar air di bagian mulut, telapak tangan, dan telapak kaki. Penyebaran ke organ
target tertentu ditentukan oleh serotipe yang menginfeksi (Abzug, 2004). Coxsackievirus,
Echovirus dan EV 71 merupakan penyebab tersering penyakit virus dengan manifestasi pada
kulit. HFMD yang disebabkan oleh Coxscakievirus A16 biasanya berupa lesi mukokutan
ringan yang menyembuh dalam 710 hari dan jarang mengalami komplikasi. Namun
Enterovirus juga dapat merusak berbagai macam organ dan sistem. Kerusakan ini
diperantarai oleh nekrosis lokal dan respon inflamasi inang. Masa inkubasi HFMD sekitar 3-
6 hari. Virus dapat menyebar dengan sangat cepat dari satu anak ke anak yang lain atau dari
ibu kepada janin yang dikandungnya selama masa endemik (Nervi, 2008).

1. Tierney, L.M., Jr., Mc Phee, J.A. In : Current Medical Diagnosis & Treatment. Lange
Medical Book. New York ; 2004. p.1327-28.
2. Cherry JD. Enteroviruses: polioviruses, coxsackieviruses, echoviruses and
enteroviruses. In: Textbook of Pediatric Infectious Diseases. 5th ed. 2005:2007.
3. Belazarian L, Lorenzo ME, Pace NC, Sweeney SM, Wiss KM. Exanthematous viral
diseases. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Glicherst BA, Paller AS, Leffel DJ,
editors. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. 7th ed. New York: McGraw-
Hill; 2008. p. 185172.
4. Nervi JS. Hand-foot-and-mouth diseasse. 2008. Available from URL:
http://www.emedicine.com
5. Abzug MJ. Nonpolio enteroviruses. In: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB,
editors. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed. Philadelphia: Saunders; 2004. p.
10428.