Anda di halaman 1dari 4

Sumber dari : http://nasional.indopos.co.

id/read/2017/05/20/98874/Kasus-First-Travel-
Kian-Meledak-373-Jamaah-Umrah-Batal-Berangkat

Kasus First Travel

ID Perusahaan perjalanan umrah First Travel (FT) kian identik dengan kasus. Saat ini
sedikitnya ada 373 jamaah umrah FT asal Jawa Timur yang batal berangkat sesuai jadwal.
Ironisnya mereka berada di Jakarta sejak 11 Mei lalu tanpa ada kejelasan dari perusahaan.

Yono, salah satu jamaah umrah yang tertunda mengatakan, dirinya berangkat rombongan
dari Juanda ke Cengkareng pada 11 Mei lalu. Total ada 193 jamaah umrah yang menuju
Jakarta, untuk kemudian diberangkatkan ke Arab Saudi. Tetapi yang terjadi malah
sebaliknya. Sampai malam ini saya masih diinapkan di hotel Nunia Inn. Bersama ratusan
jamaah lainnya, katanya kemarin (19/5).

Dia menceritakan perwakilan jamaah umrah ada yang meluruk kantor pusat First Travel di
kawasan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan. Tujuannya adalah meminta kejelasan kapan
akan diberangkatkan. Dari total 193 jamaah, terbagi dalam tiga kelompok. Masing-masing
berisi 45 jamaah, 90 jamaah, dan 58 jamaah. Nah yang rombongan 45 jamaah sudah bisa
berangkat Kamis (18/5), tuturnya.

Menurut jamaah umrah yang mendaftar lewat FT Sidoarjo itu dia mengikuti paket promo
umrah Rp 14 jutaan. Ternyata masih ada penambahan harga lagi. Yakni Rp 2,5 juta yang
digunakan untuk menyewa pesawat khusus untuk terbang ke Saudi. Kemudian ada biaya
tambahan lagi Rp 2,3 juta untuk tiket pesawat Surabaya Jakarta (PP). Dia mengakui
sudah membayar lunas seluruh biaya pokok dan tambahan itu. Dia juga mengungkapkan
sampai saat ini belum memegang visa umrah.

Salah seorang jamaah umrah yang ikut mendatangi kantor FT mengatakan, mereka akan
menduduki kantor FT sampai ada kepastian. Apakah malam ini (tadi malam, red) atau
hari ini kepastiannya, kita Alhamdulillah sekali. Harus ada kepastian, jelas pria yang
tidak bersedia disebut namanya itu.

Warga Surabaya itu menuturkan sangat janggal jika alasan penundaan karena visa umrah
belum keluar. Menurutnya FT cukup menyediakan uang Rp 7,9 miliar, visa umrah sudah
bisa diterbitkan. Dia menduga perusahaan FT memang tidak memiliki uang untuk
membayar biaya penerbitan visa.

Sampai tadi malam dia belum mendapatkan penjelasan resmi dari pimpinan FT.
Menurutnya rombongan jamaah umrah FT asal Jawa Timur yang tertunda
keberangkatannya sampai sekarang bertambah banyak. Sebab selain rombongannya yang
berjumlah 148 orang, juga ada rombongan baru yang mencapai 225 orang. Sama seperti
kami, yang 225 orang juga tidak jelas kapan diberangkatkan, katanya.

Dia menegaskan FT telah melakukan penelantaran jamaah umrah. Meskipun diinapkan di


hotel dan dijamin makannya, dia mengatakan tetap merasa ditelantarkan. Sehingga
Kemenag harus turun ikut menyelesaikan masalah.

Pengamat haji Dadi Darmadi mengatakan sudah melakukan kajian terkait tarif promo yang
dilakukan FT tahun lalu. Prediksi kami, dengan tarif yang seperti itu, setahun dua tahun
akan terjadi ledakan masalah di First Travel, jelasnya. Kajian dari Himpunan
Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) menyebutkan tarif standar umrah adalah USD
1.750 atau sekitar Rp 23 juta.

Direktur Advokasi Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta itu menjelaskan, sistem bisnis FT bisa disebut simpan pinjam. Jamaah yang akan
berangkat, meminjam uang dari jamaah yang belum berangkat. Begitu seterusnya.

Sistem simpan pinjam itu lama-lama berubah menjadi skema Ponzi. Yakni uang yang
disetor jamaah umrah baru, digunakan untuk menalangi jamaah yang mau berangkat.
Ketika ada masalah aliran uang, maka jamaah yang akan berangkat menjadi tertunda.
Sebab tidak ada uang untuk dana talangan.

Dadi mengatakan tidak salah jika ada jamaah umrah yang menganggap First Travel
sekarang kesulitan uang. Bahkan untuk sekedar membayar biaya visa. Belum lagi untuk
tiket pesawat maupun sewa hotel.

Dengan banyak kasus yang muncul, jumlah pendaftar baru FT menurun. Jamaah yang
tertunda keberangkatan saat ini, adalah jamaah yang mendaftar 2015 atau 2016 lalu.
Keberangkatan mereka bermasalah karena tidak ada aliran dana segar yang mencukupi.
Bahkan pihak FT baru-baru ini membuka promo tarif umrah hanya Rp 8 jutaan. Tarif
sangat rendah ini diduga kuat untuk mencari dana segar saja.

Dia berharap Kemenag melakukan upaya tegas dan kongkrit. Selama ini Kemenag sebatas
himbauan-himbauan. Itu kalah sama promosinya First Travel, jelasnya. Menurut Dadi,
First Travel menggunakan promosi dari mulut ke mulut. Kemudian juga menggunakan
tokoh publik seperti artis atau ulama untuk menggaet jamaah. Bahkan pimpinan bank juga
ditarik untuk ikut promosi.

Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Nursyam mengatakan memang
benar tarif promo umrah FT mempu membuat banyak orang tertarik. Tapi juga masyarakat
tidak boleh menutup mata bahwa saat ini FT sedang banyak masalah.

Pria yang menjabat sebagai Sekjen Kemenag itu mengatakan, tetap menghimbau
masyarakat supaya selektif memilih travel umrah. Supaya menghindari potensi masalah
seperti tertunda keberangkatan atau sejenisnya.

Dia mengatakan Kemenag paling banter hanya bisa menjatuhkan sanksi administrasi
kepada FT. sanksi administrasi paling berat adalah pembekuan atau pencabutan izin
operasional. Atas kasus ini kami melakukan investigasi atau apalah namanya untuk
mencari akar masalahnya, tutur mantan rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya itu. Dia
berharap hasil investigasi cepat keluar.

Nursyam mengatakan Kemenag tidak bisa menangani masalah pidana atau perdata.
Khususnya terkait dengan pengembangan uang jamaah. Bagi jamaah yang merasa
dirugikan, diharapkan untuk melapor ke polisi atau penegah hukum lainnya. Supaya bisa
diproses untuk pidana atau perdata.

Dia menegaskan tidak ada jajaran Kemenag yang mem-back up FT. Dia menegaskan
Kemenag menjunjung tinggi integritas dan professional dalam menegakkan aturan.
Komitmen kami untuk melindungi jamaah, jelasnya.

Hingga tadi malam Jawa Pos berusaha meminta komentar dari petinggai FT. Termasuk ke
pemilih Anniesa Hasibuan, pemilih FT. Tetapi belum ada jawaban. Perwakilan FT untuk
wilayah Surabaya Heri Suryo mengatakan, yang jadi masalah saat ini adalah keberangkatan
jamaah FT dari perwakilan Sidoarjo. Jamaah saya dari Surabaya Alhamdulillah sudah
berangkat, katanya.

Menurut Heri kasus ini merupakan domain dari manajemen kantor pusat FT. Termasuk
terkait visa umrah, yang mengurus juga manajemen kantor pusat FT. Perwakilan hanya
menyampaikan data-data atau dokumen jamaah umrah. (wan)

Analisis Kasus

Menurut saya, didalam kasus ke dua ini Kasus First Travel sangat membuat para
masyarakat sangat dirugikan, sungguh keterlaluan. Dan sebagai para konsumen/
masyarakat seharusnya lebih jeli/teliti dalam memilih Total Quality Service yang
ditawarkan oleh perusahaan dalam memberikan harga yang begitu murah dan tidak masuk
akal.

Jenis krisis nya First Travel

1. Krisis karena pelayanan jasa yang kurang sempurna

2. Pelayanan yang tidak optimal

3. Pelayanan yang buruk

Faktor penyebab krisisnya First Travel

1. First Travel tidak adanya transaparansi dalam menyampaikan informasi

2. Pelayanan yang kurang optimal

3. Tidak adanya kepastian dalam keberangkatan

4. Direktur First Travel tidak dapat dikonfirmasi melalui telepon perihal Jemaah yang
ditunda secara tiba-tiba, setelah jemaah sudah sampai di Jakarta.

Tahapan krisis yang dihadapi First Travel

1. Tahap pre Crisis :


First Travel meningkatkan jasa travel umroh/haji, dimana mempunyai resiko yang
tidak mulus dalam pembuatan visa ataupun bekerja sama dengan maskpai ataupu
hotel.
2. Tahap Warning :
Lamanya proses check in hotel menyebabkan banyak para jamaah terantar di lobby
hotel. Ini akan berdampak negatif dari jamaah lainnya.
3. Tahap Acute Crisis :
Berita mengenai ketundaannya dalam memberangkatkan umrah jemaahnya
menjadi viral di sosial media hingga saat ini. Dan membuat Kemenag harus turun
tangan.
4. Smoldering Crisis (Krisis yang begitu membara) Level 4 : Warning Time!!
Situasi yang sangat serius yang akhirnya diketahui publik. Maka dari itu hal ini
menimbulkan akibat langsung dan serius terhadap bisnis.
Konsultasi Komunikasi First Travel :

Membuat pertemuan konferensi pers


Pastikan para calon jamaah menerima informasi yang jelas
Mengundang media untuk mengklarifikasi kasus yang terjadi
Memenuhi panggilan ke dalam Pengadilan Negri
Mengaktifkan kolom pada komentar di Instagram

Kesimpulan yang di peroleh pada kasus First Travel ini adalah :

Sampai saat ini belum adanya transparansi mengenai informasi ke calon jamaah umrah,
dan Fisrt Travell selalu aktif dalam mempromosikan di sosial media terutama instagram.
Namun komentar di nonaktifkan hal ini yang membuat publik semakin curiga dengan kasus
First Travel.

Menurut saya, Saran yang dapat kita ambil dari Kasus First Travel ini adalah :

Lebih baik merapikan sistem internal First Travel, agar terjalinnya keraj sama yang baik
untuk keluar dari krisis tersebut, dan nama baik First Travel tidak di cap buruk dimata
publik. Tidak melakukan promosi terlebih dahulu ketika masih dalam krisis akut, lebih baik
diselesaikan. Dan tidak menerima jemaah baru terlebih dahulu.