Anda di halaman 1dari 28

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanah merupakan media utama dimana manusia bisa mendapatkan kebutuhan

sandang, papan, pangan dan tempat untuk berbagai kegiatan, maka kita harus

menjaga kelestariannya. Tanah bisa terwujud melalui proses sampai dengan berjuta-

juta tahun lamanya, untuk itu mengingatkan pada kita semua jangan sampai

menelantarkan tanah dan merusak keadaan tanah dengan berbagai tindakan yang

tidak tepat seperti penggundulan hutan dan lain sebagainya (Sutedjo dan

Kartasaputra, 1991 ), begitu juga hujan dengan intensitas yang cukup besar dan

ditunjang dengan kemiringan lereng yang cukup bisa berakibat pada peningkatan

jumlah erosi tanah.

Tanah adalah sebagai sumber daya yang banyak digunakan oleh manusia, maka

tanah yang mendapat perlakuan tidak tepat akan mengalami erosi, yang mana erosi

ditimbulkan sebagai akibat dari bekerjanya gaya- gaya yang berasal dari air hujan,

angin, dan sebagainya. Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau

bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Menurut

suripin (2001), erosi merupakan proses alamiah yang sulit untuk dihilangkan sama

sekali atau tingkat erosinya nol, khususnya untuk lahan-lahan yang diusahakan untuk

pertanian. Tindakan yang harus dilakukan adalah mengusahakan supaya erosi yang

terjadi masih dibawah ambang batas maksimum (soil loss tolerance), yaitu dengan

2
cara melakukan pengolahan tanah dengan baik dan penambahan organik supaya erosi

yang terjadi tidak melebihi laju pembentukan tanah.

Faktor faktor yang mempengaruhi erosi tanah meliputi: hujan, angin,

limpasan permukaan, jenis tanah, kemiringan lereng, jenis penutup tanah baik oleh

vegetasi maupun lainnya (Rahim, 2000), faktor faktor tersebut diatas dapat

digolongkan ke dalam tiga kelompok yaitu kelompok energy, kepekaan tanah

(erodibilitas) dan proteksi (Morgan 1985).

Erosi bisa terjadi apabila intensitas hujan yang turun lebih tinggi dibanding

kemampuan tanah untuk menyerap air hujan ( Wudianto 2000 ). Pada daerah tropika

basah seperti Indonesia, hujan merupakan penyebab utama terjadinya erosi, dengan

pukulan air hujan yang langsung jatuh ke permukaan tanah, agrergat yang berukuran

besar akan hancur menjadi partikel yang lebih kecil dan terlempar besama percikan

air, yang akan terangkut bersama aliran permukaan. Pada tanah yang berlereng, air

hujan yang turun akan lebih banyak berupa aliran permukaan, yang seterusnya air

akan mengalir dengan cepat dan menghancurkan serta membawa tanah bagian atas

(top soil) yang umumnya tanah subur (Brady, N, dan Buckman H, 1982).

Energi kinetik hujan merupakan faktor utama dalam erosi akibat air hujan,

karena dapat menyebabkan hancurnya agregat permukaan tanah sehingga

mempermudah pengangkutan apabila terjadi aliran permukaan. Besarnya potensi

suatu erosi dapat diukur dengan cara menghitung besarnya energi kinetik hujan.

Persamaan dari Wischmier dan Smith (1978) dapat digunakan untuk menghitung

3
besarnya energi kinetik hujan dan sebagai pembanding digunakan persamaan dari

Hudson (1985). Namun untuk menghitung energi kinetik dengan menggunakan kedua

persamaan tersebut sangatlah sulit, maka diperlukan pengukuran energi kinetik hujan

dengan menggunakan metode splash cups untuk mengetahui besarnya enetgi kinetik

hujan yang dapat mennyebabkan erosi tanah.

B. Tujuan

Praktikum pengukuran energi kinetik hujan dengan metode splash cups

bertujuan untuk :

1. Mengetahui besarnya energi kinetis hujan melalui pendekatan Splash cups dengan

media pasir.

2. Mengetahui energi kinetis hujan pada berbagai macam vegetasi.

3. Melihat hubungan antara energi kinetis hujan dengan jumlah curah hujan bulanan.

4
II. TINJAUAN PUSTAKA

Erosi adalah terangkatnya lapisan tanah atau sedimen karena tekanan yang

ditimbulkan oleh gerakan angin atau air pada permukaan tanah atau dasar perairan

(Poerbandono et al., 2006). Pada lingkungan DAS, laju erosi dikendalikan oleh

kecepatan aliran air dan sifat sedimen. Faktor eksternal yang menimbulkan erosi

adalah curah hujan dan aliran air pada lereng DAS. Curah hujan yang tinggi dan

lereng DAS yang miring merupakan faktor utama yang membangkitkan erosi.

Erosi merupakan tiga proses yang berurutan, yaitu pelepasan (detachment),

pengangkutan (transportation), dan pengendapan (deposition) bahan-bahan tanah oleh

penyebab erosi (Asdak, 1995). Sedangkan Arsyad (1989) memberikan batasan erosi

sebagai peristiwa berpindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian tanah dari suatu

tempat ke tempat lain oleh suatu media alami (air atau angin). Sejalan dengan itu,

Baver (1972) menyatakan bahwa erosi oleh air adalah akibat dari daya dispersi

(pemecahan) dan daya transporasi (pengangkutan) oleh aliran air di atas permukaan

tanah dalam bentuk aliran permukaan.

Erosi merupakan peristiwa berpindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian

bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami (Arsyad, 1989).

Faktor faktor yang mempengaruhi erosi tanah adalah hujan, tanah, kemiringan,

vegetasi dan manusia (Utomo, 1994). Hujan yang jatuh ke permukaan tanah memiliki

energi yang dapat dibagi menjadi dua, yaitu energi potensial dan energi kinetik.

Energikinetik merupakan energi yang terjadi ketika hujan jatuh ke permukaan tanah

5
dengan kecepatan dan butir hujan tertentu sehingga dapat menghancurkan agregat

agregat tanah.

Peningkatan energi dalam penghancuran agregat tanah ini didukung oleh faktor

kemiringan lereng. Pinczes (1981) menyatakan bahwa parameter kelerengan dapat

dibagi menjadi dua yaitu sudut lereng dan energi lereng. Sudut lereng adalah sudut

yang terbentuk terhadap bidang horizontal. Energi lereng adalah besarnya energi

potensial yang dipengaruhi oleh topografi di wilayah tersebut. Zachar (1982)

menyatakan bahwa apabila tekuk lereng semakin besar maka koefisien aliran dan

daya angkut meningkat, kestabilan tanah dan kestabilan lereng menurun, erosi percik

meningkat dan perpindahan material tanah lebih besar. Kedua faktor tersebut

merupakan pemicu terjadinya erosi.

Menurut suripin (2001), erosi merupakan proses alamiah yang sulit untuk

dihilangkan sama sekali atau tingkat erosinya nol, khususnya untuk lahan-lahan yang

diusahakan untuk pertanian. Tindakan yang harus dilakukan adalah mengusahakan

supaya erosi yang terjadi masih dibawah ambang batas maksimum (soil loss

tolerance), yaitu dengan cara melakukan pengolahan tanah dengan baik dan

penambahan organik serta pembuatan teras sering, supaya erosi yang terjadi tidak

melebihi laju pembentukan tanah.

Dua peristiwa utama erosi, yaitu pelepasan dan pengangkutan merupakan

penyebab erosi tanah yang penting. Dalam proses erosi, pelepasan butir tanah

mendahului peristiwa pengangkutan, tetapi pengangkutan tidak selalu diikuti oleh

pelepasan. Agen pelepasan tanah yang penting adalah tetesan butir hujan yang jatuh

6
di permukaan tanah. Tetesan air hujan akan memukul permukaan tanah,

mengakibatkan gumpalan tanah menjadi butir-butir yang lebih kecil dan terlepas.

Butir-butir tanah yang terlepas tersebut sebagian akan terlempar ke udara (splash) dan

jatuh lagi di atas permukaan tanah, dan sebagian kecil akan mengisi pori-pori kapiler

tanah, sehingga akan menghambat proses infiltrasi.

Factor factor yang mempengaruhi erosi tanah meliputi: hujan, angin, limpasan

permukaan, jenis tanah, kemiringan lereng, jenis penutup tanah baik oleh vegetasi

maupun lainnya (Rahim, 2000), factor factor tersebut diatas dapat digolongkan ke

dalam tiga kelompok yaitu kelompok energy, kepekaan tanah (erodibilitas) dan

proteksi (Morgan 1985).

Erosi bisa terjadi apabila intensitas hujan yang turun lebih tinggi dibanding

kemampuan tanah untuk menyerap air hujan ( Wudianto 2000 ). Pada daerah tropika

basah seperti Indonesia, hujan merupakan penyebab utama terjadinya erosi, dengan

pukulan air hujan yang langsung jatuh ke permukaan tanah, agrergat yang berukuran

besar akan hancur menjadi partikel yang lebih kecil dan terlempar besama percikan

air, yang akan terangkut bersama aliran permukaan. Pada tanah yang berlereng, air

hujan yang turun akan lebih banyak berupa aliran permukaan, yang seterusnya air

akan mengalir dengan cepat dan menghancurkan serta membawa tanah bagian atas

(top soil) yang umumnya tanah subur (Brady, N, dan Buckman H, 1982).

Erosi tanah dapat terjadi secara alamiah dan non - alamiah. Secara alamiah,

erosi dapat terjadi secara alamiah pada tanah dengan melalui tahapan penghancuran,

pengangkutan dan pengendapan. Erosi non alamiah dapat diakibatkan adanya faktor

7
dari manusia. Utomo (1994) menyatakan bahwa erosi terjadi dengan 3 proses yaitu

penghancuran, pengangkutan dan pengendapan. Air hujan yang mengenai permukaan

tanah dengan energi tertentu akan menghancurkan agregat tanah. Agregat tanah yang

hancur akan menutup pori pori tanah yang akan mengurangi kemampuan tanah

dalam menyerap air hujan (infiltrasi). Dengan adanya peningkatan intensitas hujan

maka akan meningkatkan aliran permukaan sehingga daya angkut akan partikel

partikel tanah yang telah terlepas tersebut semakin banyak dan akan menyebabkan

hasil sedimentasi tinggi.

Intensitas hujan dan kemiringan lereng dapat meningkatkan aliran permukaan.

Intensitas hujan yang tinggi akan memiliki energi yang besar dalam menghancurkan

agregat tanah. Kecepatan aliran akan meningkat sejalan dengan semakin besarnya

nilai dari kemiringan lereng dan daya angkut partikel partikel tanah yang telah

hancur akan semakin tinggi sehingga proses erosi semakin besar yang dinyatakan

oleh Banuwa (2001, dalam Martono, 2004).

Menurut Hardiyatmo (2006), jenis erosi dengan sumber berupa air hujan dapat

dikelompokkan menjadi 5 macam yaitu :

a. Erosi percikan (splash erosion)

Jenis erosi ini merupakan hasil dari percikan atau benturan air hujan secara

langsung pada partikel tanah dalam keadaan basah. Curah hujan yang jatuh ke

permukaan tanah memiliki diameter yang berbeda beda sehingga memiliki

energi tumbukan yang berbeda. Energi tumbukan ini bergantung dari kecepatan

jatuhnya tetesan air, diameter butiran tetesan hujan dan intensitas hujan.

8
b. Erosi lembar (heet erosion)

Terjadi karTerjadi karena terlepasnya tanah dari lereng dengan tebal lapisan

yang tipis. Erosi ini tidak dapat terlihat oleh mata karena perubahan permukaan

tanah yang terjadi hanya dalam bentuk yang kecil. Jenis erosi dapat terlihat

dengan jelas pada saat laju erosi semakin bertambah dengan tidak ditemukannya

vegetasi di permukaan tanah tersebut.

c. Erosi alur (rill erosion)

Tipe erosi ini terjadi karena adanya pengikisan tanah oleh aliran air yang

membentuk parit atau saluran kecil, parit tersebut mengalami konsentrasi aliran

air hujan yang akan mengikis tanah. Alur alur tersebut akan mengalami

pendangkalan pada permukaan tanah dengan arah yang memanjang dari atas ke

bawah. Suatu erosi dikelompokkan menjadi erosi alur apabila memiliki lebar

kurang dari 50 cm dan memiliki kedalaman kurang dari 30 cm.

d. Erosi parit (gully erosion)

Jenis erosi ini merupakan keberlanjutan dari erosi alur. Erosi parit ini terjadi

apabila alur alur mengalami pendangkalan yang semakin lebar dan dalam

hingga membentuk parit.

e. Erosi sungai / saluran (stream / channel erosion)

Erosi sungai dapat terjadi karena adanya permukaan tanggul sungai yang

terkikis dan gerusan sedimen di sepanjang dasar saluran.

9
Proses erosi yang terjadi di alam tidak hanya terjadi karena adanya faktor dari

hujan dan kepekaan tanah melainkan juga dipengaruhi oleh vegetasi, kemiringan dan

manusia sehingga menurut Utomo (1994), erosi dinyatakan dalam rumus sebagai

berikut:

E = f (i,r,v,t,m)

1. Iklim

Faktor utama yang mempengaruhi terjadinya erosi pada daerah beriklim

tropis seperti Indonesia adalah hujan. Hujan yang jatuh pada permukaan tanah

akan menyebabkan terjadinya penghancuran pada agregat tanah yang disebabkan

karena adanya daya penghancuran dan daya urai dari air hujan tersebut. Agregat

tanah yang telah hancur tesebut akan menutup pori pori tanah sehingga jumlah

air yang terinfiltrasi lebih sedikit. Sehingga akan meningkatkan aliran permukaan

(run off). Aliran ini akan mengikis dan mengangkut partikel partikel tanah yang

telah hancur. Apabila aliran ini sudah tidak memiliki energi untuk mengikis maka

aliran ini akan membawa partikel tanah yang telah hancur ke daerah yang lebih

datar, sehingga menyebabkan daerah tersebut memiliki tingkat sedimentasi yang

lebih tinggi.

2. Topografi

Faktor topografi yang berpengaruh pada erosi adalah kemiringan lereng,

panjang lereng dan bentuk lereng (Utomo, 1994). Semakin curam kemiringan

lereng akan semakin meningkatkan jumlah dan kecepatan aliran permukaan,

sehingga memperbesar energi kinetik dan meningkatkan kemampuan untuk

10
mengangkut butir butir tanah (Morgan, 1996). Arsyad (1989), menjelaskan

bahwa faktor lain dari topografi yang dapat berpengaruh terhadap erosi adalah

konfigurasi lereng, keseragaman lereng dan arah lereng. Konfigurasi lereng

berpengaruh pada kecepatan aliran permukaan dalam mengangkut partikel

partikel tanah. Keseragaman lereng berpengaruh pada tingkat erosi yang terjadi.

3. Vegetasi

Pengaruh vegetasi terhadap erosi adalah:

a. melindungi permukaan tanah dari tumbukan air hujan (menurunkan

kecepatan terminal dan memperkecil diameter air hujan).

b. menurunkan kecepatan dan volume air larian

c. menahan partikel partikel tanah pada tempatnya melalui sistem perakaran

dan seresah yang dihasilkan serta

d. mempertahankan kemantapan kapasaitas tanah dalam menyerap air. Semakin

padat pertanaman maka semakin besar hujan yang terintersepsi sehingga erosi

akan menurun. Selain itu, sistem perakaran dapat mengurangi erosi yaitu

sistem perakaran yang luas dan padat dapat mengurangi erosi (Utomo, 1994).

4. Tanah

Sifat sifat tanah yang berpengaruh pada erosi adalah tekstur, struktur,

bahan organik, kedalaman tanah, sifat lapisan tanah dan tingkat kesuburan tanah

(Arsyad,1989). Sifat tanah yang mempengaruhi erosi adalah erodibilitas. Morgan

(1996) menyatakan bahwa erodibilitas adalah daya tahan terhadap pengurai dan

pengangkutan oleh tenaga erosi. Apabila nilai erodibilitas semakin besar maka

11
tanah tersebut semakin mudah tererosi. Utomo (1994) berpendapat bahwa

kepekaan suatu tanah terhadap erosi atau nilai erodibililtas suatu tanah ditentukan

oleh ketahanan tanah terhadap daya rusak dari luar dan kemampuan tanah untuk

menyerap air.

5. Manusia

Manusia memiliki peran dalam mempercepat dan menekan laju erosi. Laju

erosi dapat dipercepat ketika manusia mengeksploitasi alam dengan cara

penebangan hutan, cara bercocok tanam yang salah. Selain mempercepat laju

erosi, manusia juga dapat menekan laju erosi yaitu dengan mengkonversi lahan

seperti reboisasi.

12
III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum Pengukuran Energi Kinetik Hujan dengan Metode Splash Cups

dilaksanakan pada Senin, 14 November 2016 pukul 14.45 18.00 WIB di

Laboratorium Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman.

B. Bahan dan Alat

Bahan yang diperlukan dalam praktikum ini meliputi pasir lolos saringan 0,5

mm, aquades. Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi splash cups,

timbangan analitis, baki/nampan, panci, kompor, spiritus dan api bunsen.

C. Prosedur Kerja

1. Lokasi pemasangan Splash cups dicari yang mempunyai berbagai vegetasi dan

ditentukan titik-titik pemasangan splash cups. Splash cups juga dipasang di

tempat terbuka sebagai pembanding.

2. Splash cups berdiameter 0,25-0,50 yang telah dicuci diisi dengan pasir sampai

penuh sambil diketuk-ketuk secara pelan-pelan hingga rata.

3. Keringkan splash cups yang berisi pasir ke dalam dapur pengering sehingga

mencapai kering mutlak (pada suhu 110 C selama 20-30 jam).

13
4. Dinginkan splash cups ke dalam ekikator sampai dingin (kurang lebih 15-30

menit)

5. Splash cups yang telah terisi pasir ditimbang untuk mengetahui bobot awalnya.

6. Splash cups diletakan pada tempat terbuka dan di bawah naungan.

7. Splash cups diamati setiap 24 jam, besarnya curah hujan dicatat dan splash cups

berisi pasir disangrai terlebih dahulu sampai kering kemudian ditimbang kembali.

8. Point 1-7 diulang dan dilakukan selama 3 hari.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

14
A. Hasil

Tabel 1.1 Tipe Vegetasi Naungan


N Tanggal Curah Hujan Berat Awal Berat Akhir Energi Kinetik
o (mm) (gr) A (gr) B (Joule/ dm2
)
1 15-11-16 25 235 227.5 28.40
2 15-11-16 25 216.1 196.7 73.48
3 15-11-16 25 233..3 204.5 101.91
4 15-11-16 25 234 237.9 -13.80
5 16-11-16 0 227.6 225.5 7.95
6 16-11-16 0 229.9 221.6 31.43
7 16-11-16 0 242 232.2 34.67
8 16-11-16 0 288.1 244.9 152.86
9 17-11-16 55 243.7 191.5 197.72
10 17-11-16 55 231.2 177.9 201.89
11 17-11-16 55 254.4 193.1 217.26
12 17-11-16 55 272.6 210.9 218.32

Tabel 1.2 Tipe Vegetasi Tanpa Naungan


No Tanggal Curah Hujan Berat Awal Berat Akhir Energi Kinetik
(mm) (gr) A (gr) B (Joule/ dm 2
)
1 15-11-16 22 284 183.1 192.80
2 15-11-16 22 215.4 264 -184.09
3 15-11-16 22 221.1 209.1 45.45
4 15-11-16 22 246.2 219.3 95.18
5 16-11-16 0 184.3 177.4 26.13
6 16-11-16 0 224.3 214.4 37.5
7 16-11-16 0 226.6 219.1 28.40
8 16-11-16 0 299.2 219.1 35.73
9 17-11-16 37 186.6 169.1 66.28
10 17-11-16 37 216.2 196.7 73.86
11 17-11-16 37 220.8 197.5 88.25
12 17-11-16 37 235.1 204.9 106.86

Tabel 1.3 Uji Energi Kinetik


2 2
T N T - T N- N (T T ) ( N N )

15
192.80 28.40 141.7708 -75.9408 20098.95 5767.01
-184.09 73.48 -235.119 -30.8608 55280.94 952.38
45.45 101.91 -5.57917 -2.43083 31.12 5.90
95.18 -13.80 44.15083 -118.141 1949.29 13957.29
26.13 7.95 -24.8992 -96.3908 619.97 9291.18
37.5 31.43 -13.5292 -72.9108 183.03 5315.98
28.40 34.67 -22.6292 -69.6708 512.08 4854.02
35.73 152.86 -15.2992 48.5192 234.06 2354.11
66.28 197.72 15.25083 93.3792 232.58 8719.67
73.86 201.89 22.83083 97.5492 521.24 9515.84
88.25 217.26 37.22083 112.919 1385.39 12750.70
106.86 218.32 55.83083 113.979 3117.08 12991.21
612.35 1252.09 0 0 84165.73 86475.29
X 51.02917 104.3408 0 0 7013.81 7206.27
Cat : nT : Jumlah Data Tanpa Naungan
nN : Jumlah Data Naungan

Analisis Regresi Linear Naungan


Tabel 1.4 Regresi Naungan
X Y X2 Y2 XY
25 28.40 625 806.56 710
25 73.48 625 5399.31 1837
25 101.91 625 10385.65 2547.75
25 -13.80 625 190.44 -345
0 7.95 0 63.2025 0
0 31.43 0 987.8449 0
0 34.67 0 1202.009 0
0 152.86 0 23366.18 0
55 197.72 3025 39093.2 108746
55 201.89 3025 40759.57 11103.95
55 217.26 3025 47201.91 11949.3
55 218.32 3025 47663.62 12007.6
320 1252.09 14600 217119.5 50685.2
Cat : x : Curah Hujan
y : Energi Kinetik
Analisis Regresi Linear Tanpa Naungan

Tabel 1.5 Regresi Tanpa Naungan


2 2
X Y X Y XY
22 192.80 484 37171.84 4241.6
22 -184.09 484 33889.3 -4049.98

16
22 45.45 484 2065.703 999.9
22 95.18 484 9059.232 2093.96
0 26.13 0 682.7769 0
0 37.5 0 1406.25 0
0 28.40 0 806.56 0
0 35.73 0 1276.633 0
37 66.28 1369 4393.038 2452.36
37 73.86 1369 5455.3 2732.82
37 88.25 1369 7788.063 3265.25
37 106.86 1369 11419.06 3953.82
236 612.35 7412 115413.6 15689.73
Cat : X : Curah Hujan
Y : Energi Kinetik

B. Pembahasan

Erosi yang terjadi dapat dibedakan berdasarkan produk akhir yang dihasilkan

proses itu sendiri. Erosi juga dapat dibedakan karena kenampakan lahan akibat erosi

itu sendiri. Atas dasar itu erosi dibedakan, yaitu: 1) erosi percikan (splash erosion), 2)

erosi lembar (sheet erosion), 3) erosi alur (rill erosion), 4) erosi parit (gully erosion),

5) erosi tanah longsor (land slide), 6) erosi pinggir sungai (stream bank erosion)

(Rahim, 1995).

Erosi percikan adalah erosi yang disebabkan oleh adanya air hujan yang

memberikan energi tertentu ketika jatuh (energi kinetis), kemudian melepaskan

partikel-partikel tanah, oleh sebab itu erosi percikan terjadi pada awal hujan. Erosi

percikan terjadi secara maksimum kira-kira 2-3 menit setelah hujan turun karena pada

saat itu tanah dalam keadaan basah, sehingga mudah dipercikan. Setelah 2-3 menit

percikan akan menurun mengikuti ketebalan lapisan air. Terlepasnya partikel-partikel

17
tanah dari masa tanah akibat erosi percikan sangat bergantung pada jenis tanah yang

tererosi. Intensitas erosi percikan meningkat dengan adanya air genangan, tetapi

setelah terjadi genangan dengan kedalaman tiga kali ukuran butir hujan, erosi

percikan minimum. Erosi percikan akan berhenti apabila tetesan air hujan sudah tidak

mampu lagi untuk menembus ketebalan lapisan air (Muhammad, 2006). Menurut

Hardiyatmo (2006), jenis erosi dengan sumber berupa air hujan dapat dikelompokkan

menjadi 5 macam yaitu erosi percik (splash erosion), erosi lembar, erosi parit, erosi

alur, dan erosi sungai. Erosi percik adalah jenis erosi yang merupakan hasil dari

percikan atau benturan air hujan secara langsung pada partikel tanah dalam keadaan

basah. Curah hujan yang jatuh ke permukaan tanah memiliki diameter yang berbeda

beda sehingga memiliki energi tumbukan yang berbeda. Energi tumbukan ini

bergantung dari kecepatan jatuhnya tetesan air, diameter butiran tetesan hujan dan

intensitas hujan.

Praktikum ini merupakan kegiatan pengukuran energi kinetik hujan dengan

metode splash cups. Langkah yang dilakukan yaitu pertama mengisi splash cups

sebanyak 2 buah dengan pasir kering mutlak, ditimbang berat awalnya dan diberi

tanda dengan kertas label mana yang untuk naungan dan mana yang tanpa naungan.

Setiap perlakuan dilakukan tiga kali ulangan. Kemudian memilih lokasi untuk

meletakkan splash cups tersebut di dua lokasi yang terdapat naungan dan yang tanpa

naungan. Splash cups diletakkan di titik lokasi yang telah dipilih dan dibiarkan

selama 24 jam supaya terkena hujan. Setelah 24 jam, pasir dalam splash cups

kemudian dikeringkan di atas pembakar api bunsen hingga kering mutlak. Setelah itu,

18
splash cups berisi pasir tersebut ditimbang kembali dan dicatat berat akhirnya.

Kemudian dihitung besarnya energi kinetis yang dihasilkan menggunakan rumus

yang telah dianjurkan.

Untuk wilayah di bawah vegetasi atau daerah yang belum ada alat pencatat

hujan tipe otomatis, Ellinson (1944) telah mengembangkan suatu cara dengan Splash

Cup dengan formula empiris sebagai berikut:

S : V 4.33 D 4.07 I 0.65

Keterangan:

S : jumlah percikan tanah (spalash erotion) dan splash cup dalam gram selama

kejadian hujan dan setara dengan besarnya energi kinetis hujan.

V : kecepatan tetesan hujan dalam inci per jam.

K : konstansa yang tergantung dari jenis media yang digunakan.

D : diameter hujan (mm).

I : Rata-rata hujan (inci / jam).

Selanjutnya oleh mihara (1961) dan free (1960) dibuat hubungan antara erosi

percik (splash erotion) dengan energi kinetic hujan dengan konversi :

Untuk media pasir splash erotion (energi kinetic ) 0.9

Untuk media tanah splash erotion (energi kinetic ) 1.46

Pendekatan perhitungan energi kimia hujan dengan menggunakan splash cup

yang diisi media pasir ternyata besarnya energi kinetic hujan yang dihitung

mempunyai korelasi 0.93 dengan besarnya energi kinetic yang dikemukakan oleh

Wicshmeier dan Smith (1960).

19
Untuk mengetahui besarnya energi kinetik hujan pada lapangan atau energi

kinetik pada vegetasi dilakukan praktikum pengukuran energi kinetik dengan metode

splash cup. Metode splash cup ialah metode dengan menggunakan cup yang berisi

tanah berpasir yang diletakkan di tempat lapang atau tempat terbuka dan di bawah

naungan atau berbagai vegetasi. Dengan demikian dapat dilihat perbedaan energi

kinetic pada lahan terbuka dengan lahan yang dinaungi tajuk tanaman, metode ini

dapat dilihat hasilnya setelah terjadi hujan di lahan tersebut. Perhitungan energi

kinetic dilakukan dengan menimbang bobot kering tanah yang berada di splash cup,

kemudian dimasukkan kedalam rumus empiris (Ennie, 2003).

Beberapa penelitian dengan menggunakan splash-cup menunjukan bahwa butir-

butir air yang jatuh di bawah tegakan hutan menghasilkan dampak erosi percikan

(splash erosion) yang lebih besar dibandingkan butir air hujan yang jatuh bebas di

luar hutan. Implikasinya, kegiatan pengambilan serasah hutan sebagai pengganti

bahan bakar kayu atau untuk keperluan lainya, serta pembakaran / kebakaran hutan

berpengaruh sangat besar pada fungsi hutan sebagai pengendali banjir (Edi Suharto.

2007).

Berdasarkan literatur bahwa antara vegetasi, erosi dan energi kinetik sangat

berkaitan. Vegetasi yang ada pada suatu lahan sangat mempengaruhi energi kinetik

yang dihasilkan oleh hujan. Pada praktikum ini vegetasinnya ialah vegetasi pohon, di

mana terdapat perbedaan antara energi kinetik di bawah vegetasi dengan energi

kinetik di lapang. Hal ini membuktikan bahwa energi kinetik vegetasi di bawah

pohon lebih besar dari pada energi tanpa naungan. Adanya tanaman yang selalu

20
tumbuh di atas tanah akan selalu menutupi permukaan tanah dari daya perusak butir

hujan. Di samping itu tanaman yang ada di lapangan dapat meninggalkan residu,

yang merupakan sumber bahan organik. Besarnya proporsi curah hujan yang

diintersepsi oleh tanaman yang telah dilepaskan kembali sebagai tetesan gravitasi

yang besar dimana lebih erosive. Namun tetesan butir hujan yang jatuh pada

ketinggian kurang dari 30 cm di atas permukaan tanah memiliki erosivitas yang dapat

diabaikan, sehingga penutupan serasah dan sisa tanaman dapat

mengubahraindrops menjadi impact droplets yang hampir tidak erosive karena

kecilnya kecepatan jatuh dan ukuran butir hujan. Penutupan ruang diameter antara 1-

3 mm oleh bahan tanaman (misalnya rumput, daun-daun dan serasah) terutama efektif

dalam mengurangi crusting akibat hujan. (Enni Dwi Wahjunie. 2003).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi erosivitas adalah ukuran butir dari

hujan dan kecepatan jatuh hujan. Sehingga dapat di ketahui seberapa besar energi

yang didapat dari energi kinetiknya. Semakin tinggi curah hujan maka ukuran butir

yang jatuh akan semakin besar sehingga kecepatan jatuh akan semakin tinggi.

Besarnya curah hujan, intensitas dan distribusi hujan menentukan kekuatan

dispersi tanah, serta jumlah kecepatan aliran permukaan yang nantinya akan menjadi

kerusakan erosi (Arsyad, 1989). Kemampuan air hujan sebagi penyebab terjadinya

erosi berasal dari laju dan tetesan air hujan, kedua faktor tersebut sangat

mempengaruhi besarnya energi kinetik air hujan (Asdak, 1995). Erosi permukaan

dapat mudah terjadi jika pengolalaan tanah tidak mimikirkan baik atau buruknya

21
dampak dari pemanfaatan lahan. Selain itu penebangan pohon semakin banyak,

sehingga tempat peresapana air semakin berkurang dan menyebabkan erosi.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka didapatkan hasil energi

kinetis untuk naungan ulangan 1 dengan curah hujan 25 mm sebesar -13.80

joule/dm2; energi kinetis untuk naungan ulangan 2 dengan curah hujan 0 mm sebesar

152.86 joule/dm2, dan energi kinetik pada ulangan ke 3 dengan curah hujan 55 mm

yaitu 218.32 joule/dm2. Sedangkan hasil energi kinetis untuk tanpa naungan ulangan

1 dengan curah hujan 22 mm sebesar 95.18 joule/dm2; energi kinetis untuk tanpa

naungan ulangan 2 dengan curah hujan o mm sebesar 35.73; dan besarnya energi

kinetik untuk ulangan ke 3 dengan curah hujan 37 mm sebesar 106.86 joule/dm2.

Kemudian dari masing-masing perlakuan dilakukan sharing data antar kelompok

sehingga diperoleh 9 data. Setelah dilakukan sharing data kemudian dilakukan uji t

untuk membandingkan vegetasi mana yang memiliki kemampuan menahan energi

kinetik air hujan terbaik. Berdasarkan hasil uji t yang didapatkan meunjukan t hitung

(0,75) < t tabel (2,074) yang menunjukan tidak ada perbedaan antara energi kinetik

pada naungan dengan energi kinetik tanpa naungan.

Hal tersebut berbeda dengan Styczen dan Morgan (1995) yang menyatakan

bahwa vegetasi mempengaruhi siklus hidrologi melaui pengaruhnya terhadap air

hujan yang jatuh dari atmosfer ke permukaan bumi, ke tanah dan batuan di bawahnya.

Oleh karena itu, vegetasi mempengaruhi volume air yang mauk ke sungai dan danau,

ke dalam tanah dan cadangan air bawah tanah. Bagian vegetasi yang ada di atas

permukaan tanah seperti daun dan batang menyerap energi perusak hujan sehingga

22
mengurangi dampaknya terhadap tanah, sedangkan bagian vegetasi yang ada di dalam

tanah terdiri dari sistem perakaran akan meningkatkan kekuatan mekanik tanah.

Sehingga energi kinetik air hujan yang dapat menyebabkan erosi di bawah vegetasi

lebih kecil dibandingkan energi kinetik air hujan di lapangan terbuka.

Sedangkan Purwanto (1999) menyatakan bahwa penutupan pohon yang tanpa

diimbangi oleh terbentuknya serasah dan tumbuhan bawah justru malah

meningkatkan laju erosi permukaan. Mengingat energi kinetik tetesan hujan dari

pohon setinggi lebih dari 7 meter justru lebih besar dibandingkan tetesan hujan yang

jatuh bebas di luar hutan. Dalam kondisi ini, tetesan air tajuk (crown-drip)

memperoleh kembali energi kinetiknya sebesar 90% dari enerji kinetik semula,

disamping itu butir-butir air yang tertahan di daun akan saling terkumpul membentuk

butiran air (leaf-drip) yang lebih besar, sebingga secara total justru

meningkatkan erosivitas hujan. Berbagai penelitian dengan menggunakan splash-

cupmenunjukkan bahwa butir-butir air yang jatuh di bawah tegakan hutan (yang

tidak tertutup serasah dan tumbuhan bawah) menghasilkan dampak erosi percikan

(splash erosion) yang lebih besar dibandingkan butir air hujan yang jatuh bebas di

luar hutan.

Kegunaan mengetahui energi kinetik hujan dan erosivitas hujan pada kehidupan

nyata yaitu dapat mengetahui besarnya potensi terjadinya bahaya erosi. Dengan

mengetahui besarnya energi kinetik hujan maka dapat diketahui potensi terjadinya

erosi sehingga dapat dilakukan tindakan yang harus dilakukan adalah

mengusahakan supaya erosi yang terjadi masih dibawah ambang batas maksimum

23
(soil loss tolerance), yaitu dengan cara melakukan pengolahan tanah dengan baik

dan penambahan organik serta pembuatan teras sering, supaya erosi yang terjadi tidak

melebihi laju pembentukan tanah.

Kegunaan dari mengetahui besarnya energi kinetik air hujan dalam kehidupan

nyata yaitu untuk memprediksi besarnya erosi. Prediksi erosi pada sebidang tanah

adalah metode untuk memperkirakan laju erosi yang akan terjadi dari tanah yang

digunakan dalam suatu penggunaan lahan dan pengelolaan tertentu. Jika laju erosi

yang akan terjadi telah dapat diperkirakan dan laju erosi yang masih dapat dibiarkan

atau ditoleransikan (permissible atau tolerable erosion) sudah bisa ditetapkan, maka

dapat ditentukan kebijakasanaan penggunaan tanah dan tindakan konservasi tanah

yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah sehingga tanah dapat digunakan

secara produktif dan lestari. Tindakan konservasi tanah daan penggunaan lahan yang

diterapkan harus bisaa menekan laju erosi agar sama atau lebih kecil dari laju erosi

yang masih dapat dibiarkan. Metode prediksi merupakan alat untuk menilai apakah

suatu program atau tindakaan konservasi tanah telah berhasil mengurangi erosi dari

suatu bidang tanaah atau DAS. Prediksi erosi adalah alat bantu untuk mengetahui

besarnya erosi yang akaan terjadi pada suatu penggunaan lahan dengan pengelolaan

tertentu dan untuk mengambil keputusan dalam perencanaan konservasi tanah padaa

suatu areal.

24
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Energi kinetis hujan melalui pendekatan splash cups dengan media pasir pada

tempat ternaungi yaitu -13.80; 152.86; dan 218.32 joule/dm2. Sedangkan energi

kinetis pada tempat terbuka yaitu 95.18; 35.73 dan 106.86 joule/dm2.

2. Energi kinetis air hujan di bawah naungan lebih kecil dibandingkan energi kinetik

air hujan di lingkungan terbuka. Tetapi setelah dilakukan uji t terhadap energi

kinetik air hujan menunjukan tidak ada perbedaan antara energi kinetik air hujaan

di bawah naungan dengan energi kinetik air hujan di tempat terbuka. Hal tersebut

menunjukan bahwa besarnya perbedaan energi kinetik yang terkumpul pada data

tidak memberikan pengaruh yang nyata sehingga menunjukan tidak adaa

perbedaan.

3. Semakin besar jumlah curah hujan maka energi kinetis air hujan akan semakin

besar.

B. Saran

1. Sebaiknya praktikan lebih hati-hati dalam melakukan proses pengeringan/sangrai

pasir pada splash cups untuk mendapatkan bobot kering mutlak.

25
2. Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam membaca hasil dari curah hujan yang

tertampung dalam splash cups karena akan mempengaruhi hasil akhir.

3. Semua praktikan harus saling bekerjasama agar praktikum dapat berlangsung

lancar dan hasil yang diperoleh sesuai dengan harapan.

26
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Cetakan kedua. IPB Press, Darmaga
Bogor.

Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran air Sungai. Cetakan
Pertama. UGM Press, Bulaksumur, Yogyakarta.

Baver LD. 1972. Soil Physics. John Willey & Sons, Inc. New York. Pp 472.

Brady, N, dan Buckman H, 1982. Ilmu Tanah. Jakarta: Bhatara Karya Aksara.

Edi Suharto. 2007. Model empiris intersepsi tajuk dan curah hujan Efektif pada
tegakan sawit (elaeis guineensis jacq). Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu.Bengkulu 3: 365-370.

Ellinson, W.D. 1994. Studies of Rain drop Erosion, Agriculture Enginering, 25:131
139, 181-182

Enni Dwi Wahjunie. 2003. Surface sealing-crusting, pembentukan dan


pengendaliannya. Pengantar Ke Falsafah Sains (PPS702) Program Pasca
Sarjana / S3 Institut Pertanian Bogor.

Hudson, N. 1985. Soil Conservation. Cornell University Press. Ithaca, New York.

Morgan, R. P. c. 1980. Soil Erosion. Longman. London.

Morgan R,P,C. 1985. Soil Erosion and Consevation, Longman Scientific &
Teknical, London.

Nursaban Muhammad. 2006. Pengendalian Erosi Tanah Sebagai Upaya Melestarikan


Kemampuan Fungsi Lingkungan. Geomedia. Vol (4) : 95-116.

Poerbandono, A. Basar, A.B. Harto, dan P. Rallyanti. 2006. Evaluasi Perubahan


Perilaku Erosi Daerah Aliran Sungai Citarum Hulu dengan Pemodelan
Spasial. Jurnal Infrastruktur dan Lingkungan Binaan II(2).

27
Purwanto, E., 1999. Erosion, Sediment Delivery and Soil Conservation in an Upland
Agricultural Catchment in West Java, Indonesia. A hydrological approach in a
socio-economic context. PhD Thesis, Vnje UnIversiteit, Amsterdam.

Rahim, S.E. 1995. Pelestarian Lingkungan Hidup Melalui Pengendalian Erosi


Tanah. Palembang: UNSRI.

Rahim, S, 2000. Pengendalian Erosi Tanah dalam rangka Pelestarian Lingkungan


Hidup. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Sutedjo, M dan Kartasapoetra, A,G, 1991, Teknologi Konsevasi Tanah dan Air,
PT, Bina Aksara, Jakarta.

Suripin, 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Yogyakarta: Andi.

Utomo. 1994. Mencegah Erosi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Wischmeier, W. H .,and D.D. Smith. 1978. Predicting Rainfall Erosion Losses-A


Guide to Conservation Planning. Agriculture Handbook No. 537. U. S.
Departement of Agriculture, Washington DC. 58p.

Wudianto, R, 2000. Mencegah Erosi. Jakarta: Penebar swadaya.

28
LAMPIRAN

29