Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lahan merupakan elemen yang terdiri dari faktor fisik tanah dan
termasuk didalamnya aktivitas mahluk hidup baik manusia maupun unsur biotik
dan abiotik lainnya yang saling berpengaruh. Lahan sendiri terdiri dari lingkungan
biofisik seperti geologi, bentuk lahan, topografi, vegetasi, termasuk segala
aktivitas yang berada di permukaan, di dalam, maupun di atas tanah, selain itu
juga berhubungan dengan kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya. Seperti yang
dikemukakan oleh Baja (2012: 62) lahan merupakan areal atau luasan tertentu dari
permukaan bumi yang memiliki ciri tertentu yang mungkin stabil atau terjadi
siklus baik diatas maupun dibawah luasan tersebut meliputi atmosfer, tanah,
geologi, hidrologi, populasi tumbuhan dan hewan, dan dipengaruhi oleh kegiatan
manusia (ekonomi, sosial, dan budaya) di masa lampau dan sekarang, dan
selanjutnya mempengaruhi potensi penggunaannya pada masa yang akan datang.
Seiring dengan perkembangan manusia dan semakin meningkatnya
kebutuhan akan lahan baik untuk aktivitas budidaya non terbangun (pertanian,
perkebunan, perikanan, dll) maupun untuk aktivitas budidaya terbangun
(perumahan, perkantoran, fasilitas umum, dll) menyebabkan kondisi ekosistem
alam berupa keanekaragaman hayati (biodiversitas) mengalami ketidak
seimbangan. Hal itu dikarenakan sumberdaya lahan sendiri bersifat tetap dan tidak
bisa bertambah area atau luasanya. Selain itu juga sumberdaya lahan bukanlah
merupakan sumberdaya yang lestari, namun selalu mengalami perubahan baik
secara alami maupun disebabkan oleh aktivitas manusia. Menurut Arsyad dan
Rustiadi (2012: 19) terdapat dua macam proses degradasi lahan yaitu secara alami
dan degradasi lahan yang dipercepat. Degradasi alami merupakan proses
perubahan alami yang disebabkan oleh perubahan permukaan bumi akibat
berlangsungnya geomorfologis. Sedangkan degradasi lahan yang dipercepat,
merupakan proses degradasi yang disebabkan oleh aktivitas manusia akibat
2

pemanfaatan lingkungan oleh manusia yang tidak memerhatikan keseimbangan


lingkungan (Siregar, 2010).
Selanjutnya proses terjadinya degradasi lahan dapat disebabkan karena
adanya lahan kritis, dimana bentuk degradasi lahan dapat berupa kerusakan
ekosistem laut, lahan kritis, dan kerusakan hutan. Jika mengacu kepada peraturan
Departemen Kehutanan (2001) Lahan kritis merupakan lahan yang keadaan
fisiknya sedemikian rupa sehingga lahan tersebut tidak berfungsi secara baik
sesuai dengan peruntukannya sebagai media produksi maupun sebagai media tata
air. Selanjutnya menurut Karmellia dalam Siregar (2010) menyebutkan bahwa
lahan kritis adalah lahan yang mengalami penurunan produktivitas atau
kehilangan fungsi secara fisik, kimia, hidrologi dan sosial ekonomi sebagai akibat
dari salah penggunaan dan atau salah pengelolaan. Proses terjadinya lahan kritis
karena pola pemanfaatan lahan yang tidak tepat yaitu kurangnya memperhatikan
daya dukung dan kesesuaian lahan, hal itu di disebabkan karena aspek sosial
ekonomi masyarakat yang tidak memperhatikan teknik konservasi lahan.
Kawasan Dataran Tinggi Dieng terdapat di wilayah Propinsi Jawa
Tengah, yang terbagi dalam enam wilayah kabupaten yaitu Kabupaten
Banjarnegara, Temanggung, Wonosobo, Kendal, Batang dan Pekalongan.
Sedangkan yang terdapat di Kabupaten Banjarnegara salah satunya terletak di
Kecamatan Batur. Berdasarkan jenis pemanfaatan lahan di wilayah Dataran
Tinggi Dieng terdiri dari penggunaan lahan sawah, bangunan/ pekarangan, tegal/
kebun, hutan negara, hutan rakyat, perkebunan, dan lain-lain (Batur Dalam
Angka, 2012).
Kemudian berdasarkan kondisi fisik alam Dataran Tinggi Dieng
mempunyai ketinggian tempat kurang lebih 2.095 meter di atas permukaan laut
(mdpl), topografi (kelerengan) lingkungan rata-rata di atas 40%. Berdasarkan
kondisi fisik alam demikian kawasan ini sangat rawan terjadinya proses degradasi
lahan, disisi lain secara alami Kawasan Dieng mempunyai curah hujan rata-rata
tahunan lebih dari 3.000 mm, sehingga apabila dalam pemanfaatan sumberdaya
lahannya tidak mendasarkan pada kaidah-kaidah ekologis, maka akan memicu
lebih cepat lagi proses kekritisan lingkungan hidup.
3

Sampai saat ini Kawasan Dieng telah memberikan kontribusi penting


dalam pembangunan daerah dan masyarakat antara lain dalam bentuk peningkatan
pendapatan masyarakat, penyerapan tenaga kerja, pemenuhan bahan baku industri
dan jasa lingkungan. Kemudian jika dilihat berdasarkan aktivitas manusianya,
masyarakat di Dataran Tinggi Dieng khususnya di wilayah Kabupaten
Banjarnegara lebih banyak melakukan pola cocok tanam semusim yaitu berupa
usaha tanam sayuran hortikultura semisal kentang, wortel, kobis, dll.
Namun demikian dalam beberapa dekade terakhir, Kawasan Dieng telah
mengalami banyak kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi secara optimal yang
mengakibatkan terjadinya penurunan produksi pertanian dan proses degradasi
lahan. Disisi lain beberapa permasalahan kerusakan lingkungan di Kawasan Dieng
diantaranya adalah semakin meningkatnya proses erosi dan sedimentasi tanah
yang disebabkan oleh run off air hujan, adanya tanah longsor di beberapa tempat,
dan terjadinya kejenuhan tanah di area budidaya tanaman semusim dikarenakan
pemanfaatan pupuk pestisida yang berlebih (Andriana, 2007).
Daerah lahan kritis di Dataran Tinggi Dieng masih mampu untuk
memproduksi kegiatan pertanian, hal itu dikarenakan tanaman pertanian
hortikultura (tanaman semusim) yang dipacu dengan pupuk kandang maupun
pupuk kimia dalam jumlah besar. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebenarnya
tingkat kesuburan tanah di area budidaya pertanian tersebut sudah sangat rendah.
Keberadaan lahan kritis yang ditunjukkan dengan rendahnya tingkat kesuburan
tanah ini mengindikasikan tingginya proses degradasi lahan di kawasan Dataran
Tinggi Dieng.
Berdasarkan hasil uraian diatas, maka diperlukan suatu kajian
inventarisasi lahan kritis di Dataran Tinggi Dieng melalui pendekatan Sistem
Informasi Geografis (SIG) dan dampaknya terhadap sosial ekonomi masyarakat.
Harapanya melalui kajian ini, diperoleh suatu batasan lahan kritis yang perlu
segera direhabilitasi di sekitar kawasan budidaya pertanian Dataran Tinggi Dieng.
Selain itu melalui hasil studi ini juga diharapkan diperoleh hubungan antara lahan
kritis dan dampaknya terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar Dataran
Tinggi Dieng. Semoga dengan adanya hasil kajian ini dapat digunakan sebagai
bahan pertimbangan dan arahan pembangunan penataan ruang selanjutnya, yang
4

pada akhirnya dapat menghindari konflik kepentingan antara usaha


pengembangan wilayah (permukiman, pertanian, dll) dengan usaha konservasi
lahan (daerah hutan lindung dan cagar alam).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan hasil pembahasan diatas, maka dapat dijelaskan bahwa
beberapa masalah utama penyebab lahan kritis di Kawasan Dataran Tinggi Dieng
dapat diklasifikasikan kedalam dua faktor utama, yaitu pertama faktor fisik alam
dan kedua adalah faktor aktivitas manusia yaitu berupa aktivitas sosial ekonomi
masyarakat.
Pertama, permasalahan faktor fisik alam yang berpotensi menyebabkan
lahan kritis adalah berdasarkan faktor kelerengan lahan, jenis tanah, dan curah
hujan yang cukup tinggi di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Hal itu cukup besar
pengaruhnya terhadap laju erosi lahan, apalagi jika dilihat secara fisik kawasan
Dataran Tinggi Dieng merupakan kawasan yang berbukit-bukit dan sebagian
wilayahnya memiliki tingkat kelerengan yang cukup terjal. Selain itu jenis tanah
di kawasan Dataran Tinggi Dieng adalah berupa tanah andosol dan aluvial
(Bappeda, 2011), sifat dari kedua jenis tanah ini mudah larut dalam air sehingga
jika terjadi run off air hujan tanah ini mudah untuk terjadi erosi. Berdasarkan
kondisi fisik alam tersebut, maka kawasan Dataran Tinggi Dieng dilihat secara
alami pada dasarnya perlu penanganan khusus untuk konservasi disekitar kawasan
tersebut.
Kedua, permasalahan faktor sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di
sekitar Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Berupa adanya aktivitas penggunaan
lahan yang berlebihan sehingga tidak sesuai dengan daya dukung dan kemampuan
lahan yang menyebabkan kawasan disekitat dataran tinggi tersebut mengalami
proses degradasi lahan. Berdasarkan data statistik masyarakat di kawasan ini
sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani yang menggarap pertanian
semusim (hortikultura). Beberapa dekade terakhir terjadi aktivitas perubahan
penggunaan lahan/ konversi lahan dari lahan bervegetasi menjadi lahan pertanian
produktif, sehingga memunculkan beberapa spot kawasan lahan kritis di kawasan
Dataran Tinggi Dieng. Selanjutnya aktivitas pola cocok tanam yang tidak ramah
5

lingkungan berupa penggunaan pupuk pestisida yang berlebih dan sistem


pengolahan lahan yang tidak memperhatikan pola konservasi tanah, menyebabkan
lahan di sekitar kawasan Dataran Tingga Dieng mengalami kejenuhan. Dilihat
berdasarkan agresifitas masyarakat Dataran Tinggi Dieng tersebut, masyarakat
disekitar kawasan ini cenderung lebih berorientasi hanya pada nilai provit
(pendapatan ekonomis) dibandingkan dengan usaha pelestarian lingkungan.
Permasalahan terakhir, adanya lahan kritis baik yang disebabkan oleh kondisi
fisik alam maupun adanya dorongan aktivitas manusia maka menyebabkan
terjadinya penurunan nilai produktivitas pertanian dan pendapatan keluarga petani
hal itu dapat berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat khususnya
pada taraf tingkat kesejahteraan keluarga.
Dari uraian di atas, maka perlu dilakukan kajian mengenai analisis lahan
kritis di kawasan Dataran Tinggi Dieng baik dengan pendekatan SIG (Sistem
Informassi Geografis) maupun dengan pendekatan Sosial ekonomi masyarakat.
Diharapkan melalui kajian analisis spasial (SIG), akan diketahui area luasan lahan
kritis yang perlu segera ditangani. Selanjutnya, dapat diketahui pula dampaknya
terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat sebagai akibat terjadinya lahan kritis
di Kawasan Dataran Tinggi Dieng.
Penelitian ini akan menjadi menarik karena mengkolaborasikan antara
pendekatan spasial keruangan (SIG) yang cenderung lebih sintesis kuantitatif dan
pendekatan sosial ekonomi masyarakat yang cenderung lebih kuantitatif
deskriptif.

1.3 Tujuan dan Sasaran


Berdasarkan hasil rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian
ini adalah untuk menentukan tingkat kekritisan lahan di Kawasan Dataran Tinggi
Dieng dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan pendekatan
sosial ekonomi masyarakat untuk memperoleh dampak yang ditimbulkan oleh
lahan kritis tersebut.
Untuk mencapai tujuan di atas, maka sasaran-sasaran yang harus
dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut:
6

1. Mengidentifikasi penggunaan lahan eksisting Kawasan Dataran Tinggi


Dieng,
2. Menganalisis kesesuaian lahan Kawasan Dataran Tinggi Dieng,
3. Menganalisis tingkat kekritisan lahan Kawasan Dataran Tinggi Dieng,
4. Menganalisis dampak lahan kritis terhadap sosial ekonomi masyarakat
Kawasan Dataran Tinggi Dieng.

1.4 Ruang Lingkup


Ruang lingkup penelitian dilakukan untuk membatasi kedalaman
penelitian, di dalam penelitian ini ruang lingkup dibedakan menjadi dua yaitu
ruang lingkup wilayah yang menjelaskan mengenai batasan wilayah studi yang
menjadi obyek penelitian dan ruang lingkup materi yang membahas mengenai
materi-materi yang akan dibahas dalam penelitian ini.

1.4.1 Ruang Lingkup Wilayah


Ruang lingkup wilayah studi penelitian ini adalah Kawasan Dataran
Tinggi Dieng yang terdapat di Kecamatan Batur, secara geografis Kecamatan
Batur terletak dibagian ujung utara Kabupaten Banjarnegara dengan koordinat
7,280 7,310 Lintang Selatan, dan 2,400 3,470 Bujur Timur. Wilayah ini
memiliki kondisi geografis yang berbukit-bukit dan terletak pada ketinggian 1.663
mdpl dengan beriklim tropis serta suhu rata-rata mencapai 150 Celcius.
Kecamatan Batur memiliki luas wilayah 47,17 Km2 yang terdiri dari 8 (delapan)
desa yaitu Desa Batur, Sumberejo, Pekasiran, Pasurenan, Kepakisan,
Karangtengah, Bakal, dan Desa Dieng Kulon. Batas administrasi wilayah studi
adalah sebagai berikut:
Sebelah utara : Kabupaten Batang,
Sebelah selatan : Kecamatan Pejawaran,
Sebelah timur : Kabupaten Wonosobo, dan
Sebelah barat : Kecamatan Wanayasa.
Untuk lebih jelasnya terkait dengan batasan administrasi Kecamatan
Batur dapat disajikan dalam peta administasi di bawah ini:
7

Sumber : Penulis, 2013

GAMBAR
GAMBAR1.1
1. 1
PETA ADMINISTRASI KECAMATAN BATUR

1.4.2 Ruang Lingkup Materi/ Substansi


Ruang lingkup materi studi ini, terkait dengan Kajian lahan kritis yang
ada di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Batasan materi studi ini adalah untuk
menentukan zonasi tingkat kekritisan lahan baik dalam bentuk tabulasi maupun
dalam bentuk pemetaan yang telah disesuaikan dengan Peraturan Menteri
Kehutanan tahun 2003 tentang kriteria penentuan lahan kritis. Selanjutnya terkait
dengan batasan kelayakan fisik/ kesesuaian lahan untuk pertanian di Kawasan
Dataran Tinggi Dieng disesuaikan dengan peraturan menteri pertanian SK
Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No.: 683/Kpts/Um/8/1981.
Sedangkan untuk skala pemetaan dibatasi dengan (peta skala 1: 50.000). Selain
itu, terkait dengan kajian karakteristik dampak sosial ekonomi masyarakat
Dataran Tinggi Dieng akan dibatasi oleh data statistik terkait kondisi ekonomi dan
sosial kependudukan masyarakat setempat dan didukung pula oleh data hasil
kuesioner di lapangan. Sesuai dengan sasaran yang akan dilakukan maka lingkup
materi pembahasannya dibatasi pada variabel-variabel sebagai berikut:
8

1) Identifikasi penggunaan lahan Kawasan Dataran Tinggi Dieng yang dibatasi


oleh batas administrasi Kecamatan Batur
Melalui peta guna lahan eksisting yang diperoleh dari dokumen RTRW
Kabupaten Banjarnegara Tahun 2011.
2) Analisis kesesuaian lahan pertanian
Kesesuaian lahan pertanian diperoleh dari penetapan kriteria dan tata cara
penetapan kawasan lindung dan budidaya dengan total nilai skor dari tiga
faktor yang dinilai meliputi kelas kelerengan, kelas jenis tanah menurut
kepekaan, dan kelas intensitas hujan harian rata-rata. Sesuai dengan SK
Mentan No.837/KPTS/UM/11/1980 dan No. 683/KPTS/UM/1982 aspek
daya dukung lahan pertanian akan diperoleh berdasarkan nilai skor untuk
tiap-tiap fungsi kawasan, yaitu kawasan lindung, kawasan penyangga, dan
kawasan budidaya.
3) Analisis penentuan lahan kritis
Batasan kriteria penetapan lahan kritis untuk kawasan budidaya pertanian
didasarkan pada klasifikasi tingkat kekritisan lahan yang diperoleh dari
parameter lahan kritis kawasan pertanian terdiri dari penutupan lahan,
kelerengan, tingkatan erosi, produktivitas, manajemen, dan singkapan
batuan. Ditinjau dari aspek tingkat kerusakan fisik, lahan kritis dapat
digolongkan kedalam lima kelompok, yaitu sangat kritis, kritis, agak kritis,
potensial kritis dan tidak kritis.
4) Analisis dampak sosial ekonomi masyarakat Dataran Tinggi Dieng
Batasan materi untuk analisis ini didasarkan pada dua parameter, yaitu
tingkat produktivitas pertanian dan pedapatan petani yang berasosiasi
dengan tingkat kesejahetraan masyarakat. Untuk melihat hubungan antara
luasan lahan kritis dengan tingkat produktivitas dan pendapatan keluarga
dapat dilakukan dengan alat analisis crosstab. Selanjutnya untuk
memperoleh data produktivitas lahan pertanian dan tingkat pendapatan
keluarga dapat berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh
melalui wawancara langsung dengan petani dan menyebarkan angket
kuesioner ke masing-masing kepala keluarga secara acak. Data yang
dikumpulkan berupa data produksi, luas panen lahan pertanian untuk
9

beberapa jenis tanaman pertanian dan data tingkat pendapatan petani.


Sedangkan data sekunder yang digunakan adalah data produktivitas lahan
pertanian dan pendapatan petani yang diperoleh dari Kantor Penyuluhan
Pertanian Kabupaten Banjarnegara.

1.5 Keaslian Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian yang masuk dalam rumpun penelitian
evaluasi pemanfaatan lahan khususnya terkait dengan lahan pertanian yang
mengalami kekritisan lahan di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Untuk
mengidentifikasi lahan kritis dan kesesuaian lahan pertanian dilakukan dengan
alat analisis Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian ini juga menggunakan
penelitian-penelitian sebelumnya yang memiliki tema atau materi yang hampir
sama sebagai bahan referensi dan perbandingan. Namum penelitian ini memiliki
perbedaan karakteristik wilayah dan kondisi sosial ekonomi masyarakat, untuk
lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

TABEL I. 1
KEASLIAN PENELITIAN

Judul
Tujuan Metodologi /
Peneliti Penelitian Tahun Hasil Studi
Penelitian Alat Analisis
dan Lokasi

Dian Herdiana Identifikasi 2008 Mengidentifikasi Pendekatan Sebagai masukan


Lahan Kritis dan melakukan penelitian dan informasi
Dalam pemetaan kuantitatif dengan rekomendasi
Kaitannya perkembangan penanganan lahan
menggunakan
Dengan lahan kritis di kritis melalui
Penataan Kabupaten metode analisis kegiatan rehabilitasi
Ruang Dan Sumedang dari 2 spasial kualitatif lahan serta arahan
Kegiatan (dua) titik tahun deskriptif pola tata ruang
Rehabilitasi yaitu tahun 2000 wilayah di
Lahan Di dan 2005. Kabupaten
Kabupaten Sumedang
Sumedang
10

Judul
Tujuan Metodologi /
Peneliti Penelitian Tahun Hasil Studi
Penelitian Alat Analisis
dan Lokasi

Sutopo Purwo Penerapan 2008 Melakukan Metode penelitian Melakukan


Nugroho dan SIG Untuk penyusunan data yang digunakan pemetaan lahan
Teguh Penyusunan spasial lahan kritis adalah deskriptif kritis dengan
Prayogo Dan Analisis di SWP DAS
kualitatif dan menggunakan SIG
Lahan Kritis Agam Kuantan
Pada Satuan sintesis kuantitatif untuk mengetahui
Wilayah luasan dan sebaran
Pengelolaan lahan kritis sesuai
Das Agam dengan ketentuan
Kuantan, yang telah
Provinsi ditetapkan
Sumatera
Barat

Imam Model SIG 2012 Mengevaluasi Analisis Evaluasi kesesuaian


Noermansyah Evaluasi kesesuaian lahan permodelan SIG lahan permukiman
Kesesuaian permukiman di evaluasi dan masukan
Lahan Kota Semarang kesesuaian mengenai
Permukiman dengan lahanpermukiman pemanfaatan lahan
di Kota menggunakan dengan teknik permukiman di Kota
Semarang model SIG analisis overlay Semarang
berdasarkan daya dan teknik berdasarkan pada
dukung lahan dan skoring. daya dukung lahan
pola pemanfaatan dan pola
ruang pemanfaatan
ruangnya

Muhamad Kajian Lahan 2013 Menentukan Metode penelitian Evaluasi pemetaan


Anwar Kritis di tingkat kekritisan terdiri dari kesesuaian lahan
Hidayat Dataran lahan di Kawasan metode sintesa pertanian dan
Tinggi Dieng Dataran Tinggi kuantitatif melalui tingkat kekritisan
Melalui Dieng dengan teknik analisis lahan dan dampak
Pendekatan pendekatan spasial overlay lahan kritis terhadap
SIG dan Sistem Informasi peta dan metode sosial ekonomi
Dampak Geografis (SIG) deskriptif masyarakat
Sosial dan sosial kuantitatif
Ekonomi ekonomi
Masyarakat masyarakat

Sumber : Penulis, 2013

1.6 Posisi Penelitian Terhadap Ilmu PWK


Kajian lahan kritis merupakan usaha identifikasi pemanfaatan lahan
dalam hal ini terkIait dengan pemanfaatan lahan pertanian di wilayah Dataran
Tinggi Dieng. Penelitian ini masuk ke dalam bidang ilmu Geospatial
11

(pemanfaatan ruang) dan pengembangan wilayah, konteks ilmu yang diambil oleh
peneliti adalah terkait dengan analisis kesesuaian lahan pertanian, analisis tingkat
kekritisan lahan, dan analisis karakteristik sosial ekonomi masyarakat. Terkait
dengan analisis kesesuaian lahan dan tingkat kekritisan lahan maka alat analisis
yang digunakan adalah dengan teknik overlay peta melalui software Arc GIS 10
dan teknik skoring kelas lahan. Selanjutnya terkait dengan analisis karakteristik
sosial ekonomi masyarakat, maka alat analisis yang digunakan adalah dengan
menggunakan analisis LQ, Shif Share dan analisis deskripsi terhadap data primer
(data identifikasi lapangan) dan data sekunder (data literatur instansional). Berikut
ini gambar posisi penelitian ini dalam lingkup perencanaan pembangunan wilayah
dan kota:

Sumber : Penulis, 2013

GAMBAR 1. 2
POSISI PENELITIAN
12

1.7 Kerangka Pemikiran Penelitian


Kerangka pemikiran studi digunakan sebagai acuan guna memahami
garis besar dalam proses berpikir dan menganalisis serta pemahaman terhadap
permasalahan yang ada, sehingga hasil studi diharapkan dapat menjawab
permasalahan yang diangkat. Adapun kerangka pikir penelitian dituangkan pada
gambar 1.3.
13

Sumber : Penulis, 2013

GAMBAR 1. 3
KERANGKA PIKIR
14

1.8 Sistematika Pembahasan


Pembahasan proposal tesis dengan judul Kajian Lahan Kritis di
Kawasan Dataran Tinggi Dieng dengan Pendekatan SIG dan Sosial Ekonomi
Masyarakat terbagi dalam lima bagian yang berkaitan satu dengan lainnya,
dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan dan Sasaran,
Ruang Lingkup, Keaslian Penelitian, Posisi Penelitian dalam Ilmu PWK,
Kerangka Pikir, dan Sistematika Pembahasan.
BAB II KAJIAN LITERATUR LAHAN KRITIS DALAM PERSPEKTIF
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DAN SOSIAL-EKONOMI
Pada bab ini berisi tentang kajian literatur mengenai definisi lahan termasuk
didalamnya pengertian dan variabel mengenai penggunaan lahan, konservasi
lahan, degradasi lahan, dan lahan kritis. Selanjutnya dijelaskan pula mengenai
konsep dasar evaluasi sumberdaya lahan yang terdiri dari konsep kemampuan
lahan, kesesuaian lahan, dan daya dukung lahan. Kemudian dijelaskan mengenai
komponen Sistem Informasi Geografis (SIG) dan penjelasan mengenai model
representasi data geospasial. Dan terakhir dijelaskan pula mengenai hubungan
sosial ekonomi masyarakat dengan perubahan penggunaan lahan.
BAB III GAMBARAN UMUM KAWASAN DATARAN TINGGI DIENG
Bab III berisi mengenai penjelasan kondisi fisik alam Kecamatan Batur dan
penjelasan mengenai data statistik Kecamatan Batur dalam angka yang meliputi
aspek kondisi geografis, kependudukan dan perekonomian.
BAB IV METODE PENELITIAN
Pada bab ini membahas mengenai Definisi Operasional, Pendekatan Penelitian,
Proses Penelitian, Data dan Teknik Pengumpulan, Populasi dan Teknik Sampel
serta Prosedur Analisis Data.
BAB V RANCANGAN PELAKSANAAN PENELITIAN
Pada bab terakhir membahas mengenai tahapan pelaksanaan, rencana outline,
laporan penelitian dan jadwal pelaksanaan tesis.
15

Contents
1.1 Latar Belakang..................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 4
1.3 Tujuan dan Sasaran ............................................................................................. 5
1.4 Ruang Lingkup ..................................................................................................... 6
1.4.1 Ruang Lingkup Wilayah ............................................................................... 6
1.4.2 Ruang Lingkup Materi/ Substansi ............................................................... 7
1.5 Keaslian Penelitian .............................................................................................. 9
1.6 Posisi Penelitian Terhadap Ilmu PWK ............................................................... 10
1.7 Kerangka Pemikiran Penelitian ......................................................................... 12
1.8 Sistematika Pembahasan .................................................................................. 14

TABEL I. 1 KEASLIAN PENELITIAN ........................................................................................ 9

GAMBAR 1. 1 PETA ADMINISTRASI KECAMATAN BATUR................................................ 7


GAMBAR 1. 2 POSISI PENELITIAN..................................................................................... 11
GAMBAR 1. 3 KERANGKA PIKIR ......................................................................................... 13