Anda di halaman 1dari 36

REFERAT

TRAUMA KEPALA

Disusun untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Bedah


di RSUD Tugurejo Semarang

Pembimbing :
dr. Irwan Syafril, Sp.B

Disusun Oleh :
Osa Sepdila Wahyudi Ningrum
H2A011034

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2016

0
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Trauma kepala adalah ruda paksa tumpu latau tajam pada


kepala/wajah yang berakibat disfungsi serebral sementara, satu penyebab
kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif, dan sebagian
besar karena kecelakaan lalu lintas. Hal ini diakibatkan karena mobilitas yang
tinggi di kalangan usia produktif sedangkan kesadaran untuk menjaga
keselamatan di jalan masih rendah, disamping penanganan pertama yang
belum benar - benar, serta rujukan yang terlambat. Di Indonesia kejadian
cidera kepala setiap tahunnya diperkirakan mencapai 500.000 kasus. Dari
jumlah diatas, 10% penderita meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Dari
pasien yang sampai di rumah sakit , 80% dikelompokan sebagai cedera
kepala ringan, 10 % termasuk cedera sedang dan 10 % termasuk cedera
kepala berat.
Cedera kepala merupakan keadaan yang serius, sehingga diharapkan
para dokter mempunyai pengetahuan praktis untuk melakukan pertolongan
pertama pada penderita. Tindakan pemberian oksigen yang adekuat dan
mempertahankan tekanan darah yang cukup untuk perfusi otak dan
menghindarkan terjadinya cedera otak sekunder merupakan pokok-pokok
tindakan yang sangat penting untuk keberhasilan kesembuhan penderita.
Sebagai tindakan selanjutnya yang penting setelah primary survey adalah
identifikasi adanya lesi masa yang memerlukan tindakan pembedahan, dan
yang terbaik adalah pemeriksaan dengan CT Scan kepala. Pada penderita
dengan cedera kepala ringan dan sedang hanya 3% -5% yang memerlukan
tindakan operasi kurang lebih 40% dan sisanya dirawat secara konservatif.
Prognosis pasien cedera kepala akan lebih baik bila penatalaksanaan
dilakukan secara tepat dan cepat. Adapun pembagian trauma kapitis adalah :
Simple head injury, Commutio cerebri, Contusioncerebri, Laceratiocerebri,

1
Basiscraniifracture. Simple head injury dan Commutio cerebri sekarang
digolongkan sebagai cedera kepala ringan, sedangkan Contusio cerebri dan
Laceratio cerebri digolongkan sebagai cedera kepalaberat.
Pada penderita korban cedera kepala, yang harus diperhatikan adalah
pernafasan, peredaran darah dan kesadaran, sedangkan tindakan resusitasi,
anamnesa dan pemeriksaan fisik umum dan neurologist harus dilakukan
secara serentak. Tingkat keparahan cedera kepala harus segera ditentukan
pada saat pasien tiba di Rumah Sakit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
A. DEFINISI TRAUMA KEPALA
Trauma kepala adalah trauma mekanik pada kepala yang terjadi baik
secara langsung atau tidak langsung yang kemudian dapat berakibat pada
gangguan fungsi neurologis, fungsi fisik, kognitif, psikososial, yang dapat
bersifat temporer ataupun permanent. Menurut Brain Injury Assosiation of
America, cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat
kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan / benturan
fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran, sehingga
menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik.

B. ANATOMI
1. Kulit Kepala (Scalp)
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut sebagai SCALP yaitu :
a. Skin atau kulit
b. Connective Tissue atau jaringan penyambung
c. Aponeurosis atau galea aponeurotika
d. Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar
e. Perikranium
Jaringan penunjang longgar memisahkan galea aponeurotika dari
perikranium dan merupakan tempat tertimbunnya darah (hematoma
subgaleal). Kulit kepala memiliki banyak pembuluh darah sehingga bila
terjadi perdarahan akibat laserasi kulit kepala akan menyebabkan banyak
kehilangan darah, terutama pada bayi dan anak-anak.

2. Tulang Tengkorak
Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii. Kalvaria
khususnya di bagian temporal adalah tipis, namun disini dilapisi oleh otot
temporal. Basis kranii berbentuk tidak rata sehinga dapat melukai bagian
dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi. Rongga
tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu : fosa anterior, fosa media, dan
fosa posterior. Fosa anterior adalah tempat lobus frontalis, fosa media
adalah tempat lobus temporalis, dan fosa posterior adalah ruang bagian
bawah batang otak dan serebelum.

3. Meningen

3
Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri
dari 3 lapisan yaitu : duramater, arakhnoid dan piamater. Duramater
adalah selaput yang keras, terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang melekat
erat pada permukaan dalam dari kranium. Karena tidak melekat pada
selaput araknoid di bawahnya, maka terdapat suatu ruang potensial (ruang
subdural) yang terletak antara duramater dan araknoid, dimana sering
dijumpai perdarahan subdural.
Pada cedera otak, pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada
permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau
disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan dan menyebabkan
perdarahan subdural. Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke
sinus transversus dan sinus sigmoideus. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat
mengakibatkan perdarahan hebat.
Arteri-arteri meningea terletak antara duramater dan permukaan
dalam dari kranium (ruang epidural). Adanya fraktur dari tulang kepala
dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan dapat menyebabkan
perdarahan epidural. Yang paling sering mengalami cedera adalah arteri
meningea media yang terletak pada fosa temporalis (fosa media).
Dibawah duramater terdapat lapisan kedua dari meningen, yang
tipis dan tembus pandang disebut lapisan araknoid. Lapisan ketiga adalah
piamater yang melekat erat pada permukaan korteks serebri. Cairan
serebrospinal bersirkulasi dalam ruang sub araknoid.

4. Otak
Otak manusia terdiri dari serebrum, serebelum, dan batang otak.
Serebrum terdiri atas hemisfer kanan dan kiri yang dipisahkan oleh falks
serebri yaitu lipatan duramater dari sisi inferior sinus sagitalis superior.
Pada hemisfer serebri kiri terdapat pusat bicara manusia. Hemisfer otak
yang mengandung pusat bicara sering disebut sebagai hemisfer dominan.
Lobus frontal berkaitan dengan fungsi emosi, fiungsi motorik, dan
pada sisi dominan mengandung pusat ekspresi bicara. Lobus parietal
berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang. Lobus temporal
mengatur fungsi memori. Lobus oksipital bertanggung jawab dalam proses

4
penglihatan. Batang otak terdiri dari mesensefalon (mid brain), pons, dan
medula oblongata. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem
aktivasi retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan kewaspadaan. Pada
medula oblongata terdapat pusat kardiorespiratorik, yang terus memanjang
sampai medulla spinalis dibawahnya. Lesi yang kecil saja pada batang
otak sudah dapat menyebabkan defisit neurologis yang berat.
Serebelum bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan
keseimbangan, terletak dalam fosa posterior, berhubungan dengan medula
spinalis, batang otak, dan juga kedua hemisfer serebri.

5. Cairan serebrospinal
Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh pleksus khoroideus
dengan kecepatan produksi sebanyak 20 ml/jam. CSS mengalir dari
ventrikel lateral melalui foramenmonro menuju ventrikel III kemudian
melalui aquaductus sylvii menuju ventrikel IV.
Selanjutnya CSS keluar dari sistem ventrikel dan masuk ke dalam
ruang subaraknoid yang berada di seluruh permukaan otak dan medula
spinalis. CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui vili
araknoid.

6. Tentorium
Tentorium serebelli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supra
tentorial (terdiri atas fossa kranii anterior dan fossa kranii media) dan
ruang infratentorial (berisi fosa kranii posterior).

5
Gb. Anatomi Otak Manusia

C. FISIOLOGI
Mekanisme fisiologis yang berperan antara lain :
1. Tekanan Intra Kranial
Biasanya ruang intrakranial ditempati oleh jaringan otak, darah,
dan cairan serebrospinal. Setiap bagian menempati suatu volume tertentu
yang menghasilkan suatu tekanan intra kranial normal sebesar 50 sampai
200 mmH2O atau 4 sampai 15 mmHg. Dalam keadaan normal, tekanan
intra kranial (TIK) dipengaruhi oleh aktivitas sehari-hari dan dapat
meningkat sementara waktu sampai tingkat yang jauh lebih tinggi dari
normal.
Ruang intra kranial adalah suatu ruangan kaku yang terisi
penuh sesuai kapasitasnya dengan unsur yang tidak dapat ditekan, yaitu :
otak ( 1400 g), cairan serebrospinal (sekitar 75 ml), dan darah (sekitar 75
ml). Peningkatan volume pada salah satu dari ketiga unsur utama ini
mengakibatkan desakan ruang yang ditempati oleh unsur lainnya dan
menaikkan tekanan intra kranial.

2. Hipotesa Monro-Kellie

6
Teori ini menyatakan bahwa tulang tengkorak tidak dapat meluas
sehingga bila salah satu dari ketiga komponennya membesar, dua
komponen lainnya harus mengkompensasi dengan mengurangi
volumenya (bila TIK masih konstan).
Mekanisme kompensasi intra kranial ini terbatas, tetapi
terhentinya fungsi neural dapat menjadi parah bila mekanisme ini gagal.
Kompensasi terdiri dari meningkatnya aliran cairan serebrospinal ke
dalam kanalis spinalis dan adaptasi otak terhadap peningkatan tekanan
tanpa meningkatkan TIK. Mekanisme kompensasi yang berpotensi
mengakibatkan kematian adalah penurunan aliran darah ke otak dan
pergeseran otak ke arah bawah ( herniasi ) bila TIK makin meningkat.
Dua mekanisme terakhir dapat berakibat langsung pada fungsi saraf.
Apabila peningkatan TIK berat dan menetap, mekanisme kompensasi
tidak efektif dan peningkatan tekanan dapat menyebabkan kematian
neuronal (Lombardo, 2003).

D. PATOFISIOLOGI TRAUMA KEPALA


Pada trauma kepala, kerusakan otak dapat terjadi dalam dua tahap
yaitu cedera primer dan cedera sekunder. Cedera primer merupakan cedera
pada kepala sebagai akibat langsung dari suatu ruda paksa, dapat disebabkan
oleh benturan langsung kepala dengan suatu benda keras maupun oleh proses
akselerasi-deselerasi gerakan kepala (Gennarelli, 1996 dalam Israr dkk,
2009).
Pada trauma kapitis, dapat timbul suatu lesi yang bisa berupa
perdarahan pada permukaan otak yang berbentuk titik-titik besar dan kecil,
tanpa kerusakan pada duramater, dan dinamakan lesi kontusio. Lesi kontusio
di bawah area benturan disebut lesi kontusio coup, di seberang area
benturan tidak terdapat gaya kompresi, sehingga tidak terdapat lesi. Jika
terdapat lesi, maka lesi tersebut dinamakan lesi kontusio countercoup.
Kepala tidak selalu mengalami akselerasi linear, bahkan akselerasi yang
sering dialami oleh kepala akibat trauma kapitis adalah akselerasi rotatorik.
Bagaimana caranya terjadi lesi pada akselerasi rotatorik adalah sukar untuk
dijelaskan secara terinci. Tetapi faktanya ialah, bahwa akibat akselerasi linear
dan rotatorik terdapat lesi kontusio coup, countercoup dan intermediate. Yang

7
disebut lesi kontusio intermediate adalah lesi yang berada di antara lesi
kontusio coup dan countrecoup ( Mardjono dan Sidharta, 2008 ).
Akselerasi-deselerasi terjadi karena kepala bergerak dan berhenti
secara mendadak dan kasar saat terjadi trauma. Perbedaan densitas antara
tulang tengkorak (substansi solid) dan otak (substansi semi solid)
menyebabkan tengkorak bergerak lebih cepat dari muatan intra kranialnya.
Bergeraknya isi dalam tengkorak memaksa otak.

E. KLASIFIKASI TRAUMA KEPALA


Trauma kepala dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Fraktur kalvaria dan
Berdasarkan ATLS (2004) cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagai
aspek. Secara praktis dikenal 3 deskripsi klasifikasi, yaitu berdasarkan;
mekanisme, beratnya cedera, dan morfologi.
1. Mekanisme Cedera Kepala
Cedera otak dibagi atas cedera tumpul dan cedera tembus. Cedera tumpul
biasanya berkaitan dengan kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh, atau
pukulan benda tumpul. Cedera tembus disebabkan oleh luka tembak
ataupun tusukan.

2. Beratnya Cedera Kepala


Glasgow Coma Scale (GCS) digunakan secara umum dalam deskripsi
beratnya penderita cedera otak. Penderita yang mampu membuka kedua
matanya secara spontan, mematuhi perintah, dan berorientasi mempunyai
nilai GCS total sebesar 15, sementara pada penderita yang keseluruhan
otot ekstrimitasnya flaksid dan tidak membuka mata ataupun tidak
bersuara maka nilai GCS-nya minimal atau sama dengan 3. Nilai GCS
sama atau kurang dari 8 didefinisikan sebagai koma atau cedera kepala
berat. Berdasarkan nilai GCS, maka penderita cedera kepala dengan nilai
GCS 9-13 dikategorikan sebagai cedera kepala sedang, dan penderita
dengan nilai GCS 14-15 dikategorikan sebagai cedera kepala ringan.

3. Morfologi
a. Fraktur Kranium
Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak,
dapat berbentuk garis/linear atau bintang/stelata, dan dapat pula
terbuka ataupun tertutup. Fraktur dasar tengkorak biasanya

8
memerlukan pemeriksaan CT scan dengan teknik bone window
untuk memperjelas garis frakturnya. Adanya tanda-tanda klinis
fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan untuk
melakukan pemeriksaan lebih rinci.
Fraktur kranium terbuka dapat mengakibatkan adanya
hubungan antara laserasi kulit kepala dengan permukaan otak karena
robeknya selaput dura. Adanya fraktur tengkorak tidak dapat
diremehkan, karena menunjukkan bahwa benturan yang terjadi
cukup berat.
Menurut Japardi (2004), klasifikasi fraktur tulang tengkorak
sebagai berikut :
1. Gambaran fraktur, dibedakan atas :
a. Linier
b. Diastase
c. Comminuted
d. Depressed
2. Lokasi Anatomis, dibedakan atas :
a. Calvarium / Konveksitas ( kubah / atap tengkorak )
b. Basis cranii ( dasar tengkorak )
3. Keadaan luka, dibedakan atas :
a. Terbuka
b. Tertutup

b. Lesi Intra Kranial


Otak juga dapat mengalami perdarahan dan terdapat perbedaan
posisi yang terkena perdarahan pada kasus trauma kepala tersebut,
diantaranya :
1. Cedera otak difus
Pada konkusi, penderita biasanya kehilangan kesadaran dan
mungkin mengalami amnesia retro/anterograd.
Cedera otak difus yang berat biasanya diakibatkan hipoksia,
iskemi dari otak karena syok yang berkepanjangan atau periode
apnoe yang terjadi segera setelah trauma.
Selama ini dikenal istilah Cedera Aksonal Difus (CAD) untuk
mendefinisikan trauma otak berat dengan prognosis yang buruk.
Penelitian secara mikroskopis menunjukkan adanya kerusakan
pada akson dan terlihat pada manifestasi klinisnya.
2. Perdarahan Epidural
Hematoma epidural terletak di luar dura tetapi di dalam rongga
tengkorak dan gambarannya berbentuk bikonveks atau

9
menyerupai lensa cembung. Sering terletak di area temporal atau
temporo parietal yang biasanya disebabkan oleh robeknya arteri
meningea media akibat fraktur tulang tengkorak.
3. Perdarahan Subdural
Perdarahan subdural lebih sering terjadi daripada perdarahan
epidural. Perdarahan ini terjadi akibat robeknya vena-vena kecil
di permukaan korteks serebri. Perdarahan subdural biasanya
menutupi seluruh permukaan hemisfer otak. Biasanya kerusakan
otak lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk
dibandingkan perdarahan epidural.
4. Kontusio dan perdarahan intraserebral
Kontusio serebri sering terjadi dan sebagian besar terjadi
di lobus frontal dan lobus temporal, walaupun dapat juga terjadi
pada setiap bagian dari otak. Kontusio serebri dapat, dalam
waktu beberapa jam atau hari, berubah menjadi perdarahan intra
serebral yang membutuhkan tindakan operasi.

Untuk menyatakan suatu diagnosa pada kasus-kasus diatas, ada


beberapa pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk memastikannya.
Salah satunya adalah dengan pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan radiologi
pada kasus trauma kepala tersebut adalah Foto Polos Kepala, CT-Scan
Kepala dan MRI. Berikut adalah penjelasan mengenai pemeriksaan radiologi
tersebut dan beberapa kasus trauma kepala yang berkaitan dengan hal itu.

FOTO POLOS KEPALA


Foto polos kepala dengan berbagai posisi seperti AP, lateral berguna
untuk melihat adanya fraktur tengkorak, tapi tidak menunjukkan jaringan
lunak di dalam kepala.

Indikasi Foto Polos Kepala


Tidak semua penderita dengan cidera kepaladiindikasikan untuk
pemeriksaan kepala karena masalah biaya dan kegunaanyang sekarang makin
ditinggalkan. Jadi indikasi meliputi jejas lebih dari 5 cm, luka tembus
(tembak/tajam), adanya corpus alineum, deformitas kepala (dariinspeksi dan
palpasi), nyeri kepala yang menetap, Gejala fokal neurologis, gangguan
kesadaran. Sebagai indikasi foto polos kepala meliputi jangan mendiagnose

10
foto kepala normal jika foto tersebut tidak memenuhi syarat, Pada kecurigaan
adanya fraktur depresi maka dillakukan foto polos posisi AP/lateral dan
oblique.

CT SCAN
CT adalah pencitraan darurat metode pilihan untuk cedera kepala. CT lebih
informatif daripada rontgen tengkorak standar dan memberikan sensitivitas
untuk mendeteksi darah intrakranial. Secara umum, semua pasien dengan
cedera kepala harus memiliki CT, kecuali bagi mereka yang diklasifikasikan
sebagai risiko rendah (misalnya, tanpa gegar otak, tanpa kelainan neurologis
pada pemeriksaan, dan tanpa bukti atau kecurigaan dari patah tengkorak,
alkohol atau keracunan obat, atau moderat-risiko kriteria lain). Kemungkinan
mendeteksi intra serebral hemoragik oleh CT pada pasien ini hanya 1
dalam 10.000. MRI lebih baik untuk mendeteksi cedera halus otak, terutama
untuk lesi fokal, tetapi pada umumnya tidak digunakan untuk evaluasi darurat
kecuali dengan cepat dan mudah tersedia gambar CT harus dinilai untuk bukti
adanya hematoma epidural atau subdural, subarachnoid atau intraventricular,
memar parenkim dan perdarahan, edema otak, dan memar berhubungan
dengan diffuse axonal injury.
Pasien dengan trauma kepala memerlukan penegakkan diagnosa
sedini mungkin agar tindakan terapi dapat segera dilakukan untuk
menghasilkan prognosa yang tepat, akurat dan sistematis.
Dalam suatu penelitian menunjukkan bahwa tindakan operasi pada trauma
kepala berat dalam rentang waktu 4 jam pertama setelah kejadian, dapat
menyelamatkan + 60 70 %. Bila lebih 4 jam tingkat kematian melebihi
sekitar 90%. Hal ini dapat dapat dilakukan setelah adanya penegakan
diagnosa trauma kepala dengan pemeriksaan klinis awal yang ditunjang
dengan diagnosa imajing (khususnya CT-Scan Kepala).
Pemeriksaan CT Scan sangat mutlak pada kasus trauma kepala
untuk menentukan adanya kelainan intracranial terutama pada cedera kepala
berat.
Beberapa indikasi perlunya tindakan pemeriksaan CT Scan pada
kasus trauma adalah :

11
a. Menurut New Orland :
* Sakit kepala.
* Muntah.
* Umur > 60 tahun.
* Adanya intoksikasi alkohol.
* Amnesia retrograde.
* Kejang.
* Adanya cedera di area clavicula ke superior.
b. Menurut The Cranadian CT Head :
* GCS ( Glasgow Coma Score ) < 15 setelah 2 jam kejadian.
* Adanya dugaan open / depressed fracture.
* Muntah muntah ( > 2 kali ).
* Umur > 65 tahun.
* Bukti fisik adanya fraktur di basal skull.

Pada saat ini CT -Scan telah menjadi modalitas utama dalam


menunjang diagnosa trauma kepala terutama pada kasus cyto yang
sebelumnya sulit terdeteksi pada foto Foto Town atau Occipitomental ( plain
foto skull ). Pada kasus trauma kepala pada umumnya pasiennya merupakan
pasien yang tidak sadar atau tidak kooperatif, dengan kondisi yang
demikian sulit untuk mendapatkan posisi scanning ideal yang kita inginkan,
sedangkan bila dilakukan tindakan anestesi sering dihadapkan pada resiko
yang harus dihadapi.
Dengan demikian Radiografer dipaksa untuk melakukan berbagai cara
untuk mengatasinya dalam melakukan pemeriksaan CT-Scan mulai dari
persiapan pasien, prosedur, posisi, protokol, post prosessing dan pencetakan
film.

12
Gambaran CT Scan Kepala
Tanda-tanda vital yang diperhatikan oleh radiografer dalam post prosessing
adalah :
- Focal hyper / hypodens.
Ukurlah area tersebut dengan automatic volume dapat dihitung secara
kasar dengan mengukur Panjang x Lebar x tebal ( slice awal akhir
tampaknya lesi ) dibagi 2
- Mid line shift, tanda adanya mass effect. ( Bila dijumpai ukurlah dengan
membuat garis membagi 2 hemispher cerebrum dan garis shift pada
ujung anterior septum pellucidum). Atur WW dan WL (Bone : W = +
1500 , L = + 200 , Brain : W = + 80, L = + 35, Subdural / intermediate :
W = + 200, L = + 50 ).
- Udara di calvarium ( menunjukkan kemungkinan adanya fraktur ).
- Oedem ( batas sulci / gyri cortical tidak jelas ). Pergerakan pada pasien
( bila diperlukan sebaiknya harus di scan ulang pada slice tertentu ).
Print dengan scout / refrensi image ( 15 20 ) dalam 1 lembar, sebaiknya
disertakan dengan kondisi tulang terutama bila jelas jelas ada fraktur.

Cara membaca CT-Scan :


1. Midline shift (ada/tidak ada? Membaca pada potongan axial yang berisi
ventrikellateral dan ventrikel III. Bila ada berapa mm? bila lebih dari
5 mm indikasi operasi)
2. Sulcus gyrus (mengabur/tidak?)
3. Sisterna Ambiens (mengabur/tidak?)
4. Sistem ventrikel (apakah ada penyempitan / pergeseran)
5. Massa hiperdens / hipodens (bila ada pada region mana? Berapa cc? cari
potonganaxial yang massa hiperdens paling besar, panjang x lebar bagi 2
kalikan dengan jumlah slice yang ada massa)
6. Bone defect (ada/tidak ada? Fraktur linear/depressed, diastase,
kommunitif)
7. Soft Tissue edema/subgaleal hematom (ada/tidak? Pada regio mana?)

13
Gb. CT scan kepala normal

14
15
16
17
18
MRI
Magnetic Resonancy Imaging ( MRI ) suatu alat kedokteran di bidang
pemeriksaan diagnostik radiologi. Teknik penggambaran MRI relatif komplek
karena gambaran yang dihasilkan tergantung pada banyak parameter. Bila
pemilihan parameter tersebut tepat, kualitas gambar MRI dapat memberikan
gambaran detail tubuh manusia dengan perbedaan yang kontras, sehingga
anatomi dan patologi jaringan tubuh dapat dievaluasi secara teliti. Untuk
menghasilkan gambaran MRI dengan kualitas yang optimal sebagai alat

19
diagnostik, maka harus memperhitungkan hal-hal yang berkaitan dengan
teknik penggambaran MRI, antara lain : a. Persiapan pasien serta teknik
pemeriksaan pasien yang baik, ; b. Kontras yang sesuai dengan tujuan
pemeriksaannya ; c. Artefak pada gambar, dan cara mengatasinya ; d.
Tindakan penyelamatan terhadap keadaan darurat.
Pemeriksaan MRI bertujuan mengetahui karakteristik morfologik
(lokasi, ukuran, bentuk, perluasan dan lainnya dari keadaan patologis.
Tujuan tersebut dapat diperoleh dengan menilai salah satu atau kombinasi
gambar penampang tubuh aksial, sagital, koronal atau oblik tergantung pada
letak organ dan kemungkinan patologinya. Adapun jenis pemeriksaan MRI
sesuai dengan organ yang akan dilihat, misalnya :
1. Pemeriksaan kepala untuk melihat kelainan pada : kelenjar pituitary,
lubang telinga dalam , rongga mata , sinus ;
2. Pemeriksaan otak untuk mendeteksi : stroke / infark, gambaran fungsi
otak, pendarahan, infeksi; tumor, kelainan bawaan, kelainan pembuluh
darah seperti aneurisma, angioma, proses degenerasi, atrofi;
3. Pemeriksaan tulang belakang untuk melihat proses Degenerasi (HNP),
tumor, infeksi, trauma, kelainan bawaan.
4. Pemeriksaan Musculoskeletal untuk organ : lutut, bahu , siku,
pergelangan tangan, pergelangan kaki , kaki , untuk mendeteksi
robekan tulang rawan, tendon, ligamen, tumor, infeksi/abses dan lain
lain;
5. Pemeriksaan Abdomen untuk melihat hati,ginjal,kantong dan saluran
empedu, pakreas, limpa, organ ginekologis, prostat, buli-buli
6. Pemeriksaan Thorax untuk melihat : paru paru, jantung

Kelebihan MRI Dibandingkan dengan CT - Scan


Ada beberapa kelebihan MRI dibandingkan dengan pemeriksaan CT Scan
yaitu :
1. MRI lebih unggul untuk mendeteksi beberapa kelainan pada jaringan
lunak seperti otak, sumsum tulang serta muskuloskeletal.
2. Mampu memberi gambaran detail anatomi dengan lebih jelas.

20
3. Mampu melakukan pemeriksaan fungsional seperti pemeriksaan difusi,
perfusi dan spektroskopi yang tidak dapat dilakukan dengan CT Scan.
4. Mampu membuat gambaran potongan melintang, tegak, dan miring tanpa
merubah posisi pasien.
5. MRI tidak menggunakan radiasi pengion.

Gb MRI Otak Normal

Gambaran Foto Polos Kepala, CT Scan kepala normal, dan MRI sudah dijelaskan
di atas beserta dengan cara pembacaannya.

Berikut akan dijelaskan gambaran radiologis dari beberapa kasus Trauma Kepala
dan keterangannya.

1. Lesi Intrakranial
Lesi intrakranial dapat diklasifikasikan sebagai fokal atau difusa, walau
kedua bentuk cedera ini sering terjadi bersamaan. Lesi fokal termasuk
hematoma epidural, hematoma subdural, dan kontusi (atau hematoma
intraserebral). Pasien pada kelompok cedera otak difusa, secara umum,
menunjukkan CT scan normal namun menunjukkan perubahan sensorium
atau bahkan koma dalam keadaan klinis.
a. Hematoma Epidural

21
Hematoma Epidural adalah akumulasi darah di ruang antara duramater
dan tulang tengkorak.
Gejala klinis : penurunan kesadaran, penglihatan kabur, susah bicara,
nyeri kepala hebat, keluar cairan dari hidung atau telinga, Nampak
luka yang dalam atau goresan pada kulit kepala, mual, pupil anisokor.

Pada foto polos kepala, kita tidak dapat mendiagnosa pasti sebagai
epidural hematoma. Dengan proyeksi Antero-Posterior (A-P), lateral
dengan sisi yang mengalami trauma pada film untuk mencari adanya
fraktur tulang yang memotong sulcus arteriameningea media.

Pemeriksaan CT-Scan dapat menunjukkan lokasi, volume, efek, dan


potensi cedera intracranial lainnya. Pada epidural biasanya pada satu
bagian saja (single) tetapi dapat pula terjadi pada kedua sisi (bilateral),
berbentuk bikonfeks, paling sering di daerah temporoparietal.
Densitas darah yang homogen (hiperdens), berbatas tegas, midline
terdorong ke sisi kontralateral. Terdapat pula garis fraktur pada area
epidural hematoma.

22
Gb Gambaran CT-Scan Epidural Hematoma

Pemeriksaan MRI akan menggambarkan massa hiperintens bikonveks yang


menggeser posisi duramater, berada diantara tulang tengkorak dan duramater.
MRI juga dapat menggambarkan batas fraktur yang terjadi. MRI merupakan
salah satu jenis pemeriksaan yang dipilih untuk menegakkan diagnosis.

23
Gb MRI Hematoma Epidural

b. Hematom Subdural
Hematoma subdural (SDH) adalah perdarahan yang terjadi di antara
duramater dan arakhnoid. SDH lebih sering terjadi dibandingkan
EDH, ditemukan sekitar 30% penderita dengan cedera kepala berat.
Terjadi paling sering akibat robeknya vena bridging antara korteks
serebral dan sinus draining. Namun ia juga dapat berkaitan dengan
laserasi permukaan atau substansi otak. Fraktura tengkorak mungkin
ada atau tidak. Selain itu, kerusakan otak yang mendasari hematoma
subdural akuta biasanya sangat lebih berat dan prognosisnya lebih
buruk dari hematoma epidural. Mortalitas umumnya 60%, namun
mungkin diperkecil oleh tindakan operasi yang sangat segera dan
pengelolaan medis agresif. Subdural hematom terbagi menjadi akut
dan kronis.

1) Subdural Hematoma Akut


Dikatakan akut bila kurang dari beberapa hari atau dalam 24
sampai 48 jam setelah trauma. Gejala klinis dari subdural
hematoma akut tergantung dari ukuran hematoma dan derajat
kerusakan otak. Gejala neurologis yang sering muncul adalah
penurunan kesadaran, dilatasi pupil ipsilateral hematom,
hemiparesis kontralateral, dan papil edema.

24
Pada foto polos kepala, tidak dapat didiagnosa pasti sebagai
subdural hematom. Dengan proyeksi AP lateral dengan sisi yang
mengalami trauma pada film, bertujuan untuk mencari adanya
fraktur tulang pada daerah frontoparietotemporal.
Pada CT Scan tampak gambaran hyperdens sickle ( seperti bulan
sabit ) dekat tabula interna, terkadang sulit dibedakan dengan
epidural hematom. Batas medial hematom seperti bergerigi.
Adanya hematom di daerah fissure interhemisfer dan tentorium
juga menunjukan adanya hematom subdural. Menekan dan
mengkompresi otak (Bernath, 2009).
Pada MRI, konfigurasi SDH berbentuk kresentris ( bulan sabit ).

Gb . MRI Otak pada SDH akut Gb. CT Scan pada SDH akut

25
2) Subdural Hematoma Kronis
Pada CT Scan terlihat adanya komplek perlekatan, transudasi,
kalsifikasi yang disebabkan oleh bermacam- macam perubahan,
oleh karenanya tidak ada pola tertentu. Pada CT Scan akan
tampak area hipodens, isodens, atau sedikit hiperdens, berbentuk
bikonveks, berbatas tegas melekat pada tabula. Jadi pada
prinsipnya, gambaran hematom subdural akut adalah hiperdens,
yang semakin lama densitas ini semakin menurun, sehingga
terjadi isodens, bahkan akhirnya menjadi hipodens

Gb CT - Scan pada SDH kronis Gb MRI pada SDH kronis

c. Perdarahan Subarakhnoid
Pada CT-Scan,perdarahan subarachnoid (SAH) terlihat mengisi
ruangan subarachnoid yang biasanya terlihat gelap dan terisi CSS di
sekitar otak. Rongga subarachnoid yang biasanya hitam mungkin
26
tampak putih di perdarahan akut. Temuan ini paling jelas terlihat
dalam rongga subarachnoid yang besar.
Ketika CT-Scan dilakukan beberapa hari atau minggu setelah
perdarahan awal, temuan akan tampak lebih halus. Gambaran putih
darah dan bekuan cenderung menurun dan tampak sebagai abu-abu.
Sebagai tambahan dalam mendeteksi SAH, CT-Scan berguna
untuk melokalisir sumber perdarahan. Hal ini sangat penting dalam
kasus- kasus aneurisma intracranial ganda, yang terjadi pada 20%
pasien. Lokalisasi SAH pada CT-Scan berkorelasi dengan lokasi dari
pecahnya aneurisma. Kehadiran darah dalam celah interhemisfer
anterior atau lobus frontal yang berdekatan menunjukkan pecahnya
aneurisma arteri anterior. Bekuan fisura Sylvian berkorelasi dengan
aneurisma arteri serebral tengah ipsilateral. Jika darah terdapat di
fossa posterior, hal ini menunjukkan perdarahan dari aneurisma
sirkulasi posterior.

27
Gb. MRI dan CT-Scan Perdarahan Subarakhnoid

d. Kontusi dan hematoma intraserebral


Kontusi serebral murni bisanya jarang terjadi. Selanjutnya,
kontusi otak hampir selalu berkaitan dengan hematoma subdural akut.
Mayoritas terbesar kontusi terjadi dilobus frontal dan temporal, walau
dapat terjadi pada setiap tempat termasuk serebelum dan batang otak.
Perbedaan antara kontusi dan hematoma intraserebral traumatika tidak
jelas batasannya. Bagaimanapun, terdapat zona peralihan, dan kontusi

28
dapat secara lambat laun menjadi hematoma intraserebral dalam
beberapa hari.
Hematoma intraserebri adalah perdarahan yang terjadi dalam
jaringan (parenkim) otak. Perdarahan terjadi akibat adanya laserasi
atau kontusio jaringan otak yang menyebabkan pecahnya pula
pembuluh darah yang ada di dalam jaringan otak tersebut. Lokasi
yang paling sering adalah lobus frontalis dan temporalis. Lesi
perdarahan dapat terjadi pada sisi benturan (coup) atau pada sisi
lainnya (countrecoup).
Defisit neurologi yang didapatkan sangat bervariasi dan
tergantung pada lokasi dan luas perdarahan.

29
Gb. CT-Scan dan MRI- Perdarahan intraserebral

e. Cedera difus
Cedera otak difus merupakan kelanjutan kerusakan otak akibat cedera
akselerasi dan deselerasi, dan ini merupakan bentuk yang sering
terjadi pada cedera kepala. Komosio cerebri ringan adalah keadaan
cedera dimana kesadaran tetap tidak terganggu namun terjadi
disfungsi neurologis yang bersifat sementara dalam berbagai derajat.
Cedera ini sering terjadi, namun karena ringan kerap kali tidak
diperhatikan. Bentuk yang paling ringan dari komosio ini adalah
keadaan bingung dan disorientasi tanpa amnesia. Sindroma ini pulih

30
kembali tanpa gejala sisa sama sekali.cedera komosio yang lebih berat
menyebabkan keadaan bingung disertai amnesia retrograde dan
amnesia antegrad.
Cedera aksonal difus (Diffuse Axonal Injury, DAI) adalah
keadaan dimana penderita mengalami koma pasca cedera yang
berlangsung lama dan tidak diakibatkan oleh suatu lesi masa atau
serangan iskemik. Biasanya penderita dalam keadaan koma yang
dalam dan tetap koma selama beberapa waktu. Penderita sering
menuunjukan gejala dekortikasi atau deserebrasi dan bila pulih sering
tetap dalam keadaan cacat berat, itupun bila bertahan hidup. Penderita
sering menunjukan gejala disfungsi otonom seperti hipotensi,
hiperhidrosis dan hiperpireksia dan dulu diduga akibat cedeera
aksonal difus dan cedera otak kerena hipoksia secara klinis tidak
mudah, dan memang dua keadaan tersebut sering terjadi bersamaan .

31
Gb. MRI & CT-Scan pada Cedera Aksonal Difus

Angiografi

Selain daripada Foto Polos Kepala, CT-Scan dan MRI, trauma kapitis pada
angiografi dapat diperlihatkan terutama pada kasus hematoma subdural dan
hematoma epidural.

Angiografi adalah tindakan / prosedur diagnostik invasif menggunakan sinar-


X untuk menggambarkan pembuluh darah di berbagai organ tubuh termasuk
jantung, otak dan ginjal untuk melihat apakah ada penyempitan, pelebaran
atau penyumbatan pada pembuluh darah.
Hematoma Subdural
Trauma ini menunjukkan pendesakan arteri dan vena berbentuk konveks
sesuai dengan lengkung hemisfer serebri. Sesuai dengan lokalisasi
perdarahan, akan tampak pendesakan arteri serebri anterior, arteri serebeli
media maupun deep vein. Kadang-kadang ditemukan lesi yang luas, tetapi
pendesakan arteri serebri anterior, arteri serebri media dan vena serebri
interna sangat sedikit (tidak seimbang), maka harus dilakukan angiografi sisi
kontralateral karena kemungkinan adanya hematom subdural di sisi
kontralateral tersebut.
Hematoma Epidural

32
Membedakan hematom epidural dan hematom subdural pada angiogram
sering sulit. Jika arteri meningea media terdesak kea rah median ( ke dalam ),
maka diagnosis hematom epidural bias ditegakkan. Jika hematom epidural
masuk ke dalam sinus venosus, maka sinus venosus ini akan terpisah dari
tabula interna.

Gb Hematoma Subdural di daerah parietal kiri (atas) dan Hematoma


Epidural di daerah temporal kiri

33
BAB III
KESIMPULAN

Trauma kepala adalah trauma mekanik pada kepala yang terjadi baik
secara langsung atau tidak langsung yang kemudian dapat berakibat pada
gangguan fungsi neurologis, fungsi fisik, kognitif, psikososial, yang dapat bersifat
temporer ataupun permanent.
Berdasarkan ATLS cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagai aspek.
Secara praktis dikenal 3 deskripsi klasifikasi, yaitu berdasarkan; mekanisme,
beratnya cedera, dan morfologi. Fraktur kranium dan lesi intrakranial merupakan
beberapa contoh dari kasus trauma kepala. Yang merupakan contoh dari kasus lesi
intrakranial adalah epidural hematoma, subdural hematoma, perdarahan
subarachnoid, kontusio dan hematoma intraserebral, serta cedera difus pada otak.
Untuk menyatakan diagnosis kasus-kasus diatas, pemeriksaan penunjang
berupa pemeriksaan radiologi sangat dibutuhkan. Pemeriksaan radiologi tersebut
adalah foto polos kepala, CT-Scan Kepala, MRI, ataupun angiografi.
Gambaran radiologi dari masing-masing kasus tersebut mempunyai ciri
khas yang dapat membantu seorang dokter membuat suatu diagnosis pada
penderita trauma kepala. Salah satu ciri yang jelas adalah pada kasus hematoma
epidural yang pada pemeriksaan CT-Scan kepala memberikan gambaran densitas
darah yang homogen (hiperdens) berbentuk bikonfeks dan sering pada daerah
temporoparietal. Sedangkan pada kasus hematoma subdural memberikan
gambaran hiperdens berbentuk seperti bulan sabit.

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Rasad S. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta; Balai Penerbit FK UI;


2008. 382-391
2. Zee CS. Neuroradiology: A Study Guide. Los Angeles; Mcgraw; 1996. 235-
241
3. Misra R, Holmes E. A-Z of Emergency Radiology. New York; Cambridge
University Press; 2004. 1-20

35