Anda di halaman 1dari 3

SITOMEGALOVIRUS

Sitomegalovirus adalah herpesvirus yang terdapat dimana-mana dan merupakan


penyebab umum penyakit manusia. Nama untuk penyakit inklusi sitomagelik klasik berasal
dari kecenderungan sel-sel yang terinfeksi sitomegalovirus membesar secara masif.

Penyakit inklusi sitomegalik adalah infeksi menyeluruh pada bayi yang disebabkan
oleh infeksi dalam rahim atau setelah kelahiran dini dengan sitomegalovirus. Setiap tahun
penyakit ini menyebabkan anomali kongenital yang berat pada sekitar 3000-6000 bayi di AS.
Sitomegalovirus menimbulkan masalah kesehatan yang penting karena frekuensi infeksi
kongenitalnya tinggi. Infeksi yang tak kentara sering terjadi selama masak kanak kanak dan
remaja. Infeksi sitomegalovirus berat sering ditemukan pada orang dewasa yang imunitasnya
tertekan.

Sifat-sifat Virus

Sitomegalovirus adalah anggota terbesar dari herpesvirus manusia. Genom DNA nya
bermakna lebih besar daripada HSV. Hanya beberapa dari banyak protein tersandi oleh virus
yang telah dikarakterisasikan. Satu, glikoprotein permukaan sel, bekerja sebagai reseptor Fc
yang dapat mengikat secara non spesifik bagian Fc imunoglobulin. Hal ini mungkin
membantu sel-sel terinfeksi menghindari penghancuran imun melalui pangadaan lapisan
pelindung dari imunoglobulin inang yang tidak relevan.

Sebagian besar strain sitomegalovirus yang berbeda secara genetik bersirkulasi dalam
populasi manusia. Strain-strain ini cukup berhubunga secara antigenik, namun, karena itu
perbedaan strain ini mungkin bukan penentu yang penting pada penyakit manusia.

Sitomegalovirus adalah spesies yang sangat spesifik dan sel spesifik-tipe. Semua
usaha untuk menginfeksi hewan dengan sitomegalovirus telah gagal. Terdapat sejumlah
sitomegalovirus hewan,semuanya spesies-spesifik.

Sitomegalovirus manusia berkembang biak innitro hanya dalam fibroblas manusia,


meskipun virus sering diisolasi dari sel epitel inang. Virus dapat mengubah sel manusia dan
sel hamster dalam biakan, tetapi tidak diketahui apakah virus ini onkogenik in vivo.

Sitomegalovirus menghasilkan efek sitopatik yang khas. Bentuk inklusi sitoplasma


perinuklir sebagai tambahan terhadap inklusi khas intranuklir herpesvirus. Terlihat sel berinti
ganda. Kebanyakan sel yang terkena menjadi sangat membesar. Sel sitomegalik terkait-
inklusi dapat ditemukan dalam sampel dari individu yang terinfeksi.

Replikasi sitomegalovirus berjalan sangat lambat dalam biakan sel, dengan cara kerja
pertumbuhan yang lebih lambat daripada virus HSV atau varisela-zoster. Sangat sedikit virus
menjadi bebas-sel; infeksi menyebar dari sel ke sel. Hal ini memerlukan waktu beberapa
minngu agar seluruh lapisan tunggal terkena. Banyak dihasilkan partikel virus yang rusak.
Patogenesis & Patologi

A. Inang normal : Sitomegalovirus dapat ditularkan dari orang ke orang dengan


berbagai cara,semuanya memerlukan kontak erat dengan bahan yang
berhubungan-virus. Terdapat masa inkubasi 4 sampai 8 minggu pada remaja dan
orang dewasa setelah pemaparan virus. Penyakit ini suatu sindroma seperti
mononukleosis yang menular. Sebagian besar infeksi sitomegalovirus bersifat
subklinik. Seperti semua herpesvirus, sitomegalovirus menetap sebagai infeksi
laten sepanjang hidup. Virus dapat dilepaskan secara intermiten dari faring dan
dalam urin selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi primer.
Infeksi sitomegalovirus yang lama pada ginjal tidak bersifat merusak pada pada
orang normal tetapi diduga menyokong gangguan fungsi ginjal pada pasien
transplantasi ginjal. Kelenjar air liur biasanya terkena dan mungkin kronik.

Imunitas berperantara-sel ditekan oleh infeksi sitomegalovirus primer.


Memakan waktu beberapa bulan untuk pemulihan respons selular. Hal ini
menyokong menetapnya infeksi virus.

B. Inang dengan Fungsi Imun Tertekan : Infeksi sitomegalovirus primer pada


inang dengan fungsi imun tertekan terjadi jauh lebih berat dibandingkan pada
inang normal. Orang-orang yang berada pada risiko tertinggi untuk penyakit
sitomegalovirus adalah mereka yang menerima transplantasi organ, mereka degan
tumor ganas yang menerima kemoterapi, dan terutama meraka penderita AIDS.
Ekskresi virus meningkat lebih lama dan infeksi lebih condong menjadi tersebar.
Pneunomia adalah komplikasi yang paling sering.

Respons imun inang diduga mempertahankan sitomegalovirus dalam


keadaan laten pada orang dengan seropositif. Reaktivikasi infeksi sehubunngan
dengan penyakit,terjadi jauh lebih sering pada pasien dengan fungsi umun
terganggu dibandingkan pada orang normal. Walaupun biasanya lebih ringan,
infeksi yang teraktivikasi ulang mungkin terjadi virulen seperti infeksi primer,
bergantung pada lingkungan sekitar dari pasien dengan fungsi imun yang tertekan
tersebut.

Keterlibatan sitomegalovirus dapat dideteksi pada banyak sistem organ


pada penyakit tersebar yang berat, berdasarkan pada penyebaran sel inklusi
sitomegalik yang khas. Namun, sejumlah sel sitomegalik tidak mencerminkan
luasnya gangguan fungsional pada orang yang sakit. Sel epitel duktus biasanya
lebih sering terinfeksi daripada fibroblas walaupun kenyataannya pertumbuhann
sitomegalovirus in vitro terbatss pada fibroblas.

C. Infeksi Kingenital dan Perinatal : Infeksi janin dan bayi baru lahir dengan
sitomegalovirus mungkin berat. Sekitar 1% kelahiran hidup setiap tahun di AS
mengalami infeksi sitomegalovirus kongenital (30.000-35.000). Sekitar 10% dari
mereka akan menderita penyakit inklusi sitomegalik. Presentase tinggi dari bayi-
bayi dengan penyakit ini akan memperlihatkan peningkatan kejadian cacat dan
retardasi mental.

Virus dapat ditularkan dalam rahim baik dari infeksi primer maupun aktivasi
ulangan ibu. Penyakit inklusi sitomegalik yang menyeluruh paling serimg di
akibatkan oleh infeksi primer ibu. Sebaiknya yang terjadi dengan rubela, tidak ada
bukti usia