Anda di halaman 1dari 12

PATOFISIOLOGI RETINOPATI DIABETIK

Pengertian Retinopati Diabetik

Retinopati diabetik merupakan komplikasi kronis diabetes melitus berupa mikroangiopati progresif yang
ditandai oleh kerusakan mikro vaskular pada retina dengan gejala penurunan atau perubahan
penglihatan secara perlahan.1

Gejala Retinopati Diabetik

Pandangan kabur

Floaters (benda yang melayang-layang pada penglihatan) 2-4

Vision of normal and diabetic people

Tanda Retinopati Diabetik

Den gan pemeriksaan funduskopi didapatkan

Mikroaneurisma

Edema makula

Perdarahan retina

Neovaskularisasi

Proliferasi jaringan fibrosis retina 2-4


SKEMA PATOFISIOLOGI RETINOPATI DIABETIK

Patofisiologi Retinopati Diabetik

Mekanisme terjadinya RD masih belum jelas, namun beberapa studi menyatakan bahwa hiperglikemi
kronis merupakan penyebab utama kerusakan multipel organ. Komplikasi hiperglikemia kronis pada
retina akan menyebabkan perfusi yang kurang adekuat akibat kerusakan jaringan pembuluh darah
organ, termasuk kerusakan pada retina itu sendiri. Terdapat 4 proses biokimiawi yang terjadi pada
hiperglikemia kronis yang diduga berhubungan dengan timbulnya retinopati diabetik, antara lain:

1) Akumulasi Sorbitol

Produksi berlebihan serta akumulasi dari sorbitol sebagai hasil dari aktivasi jalur poliol terjadi karena
peningkatan aktivitas enzim aldose reduktase yang terdapat pada jaringan saraf, retina, lensa,
glomerulus, dan dinding pembuluh darah akibat hiperglikemi kronis. Sorbitol merupakan suatu senyawa
gula dan alkohol yang tidak dapat melewati membrana basalis sehingga akan tertimbun dalam jumlah
yang banyak dalam sel. Kerusakan sel terjadi akibat akumulasi sorbitol yang bersifat hidrofilik sehingga
sel menjadi bengkak akibat proses osmotik.

Selain itu, sorbitol juga meningkatkan rasio NADH/NAD+ sehingga menurunkan uptake mioinositol.
Mioinositol berfungsi sebagai prekursor sintesis fosfatidilinositol untuk modulasi enzim Na-K-ATPase
yang mengatur konduksi syaraf. Secara singkat, akumulasi sorbitol dapat menyebabkan gangguan
konduksi saraf.

Percobaan pada binatang menunjukkan inhibitor enzim aldose reduktase (sorbinil) yang bekerja
menghambat pembentukan sorbitol, dapat mengurangi atau memperlambat terjadinya retinopatik
diabetik. Namun uji klinik pada manusia belum menunjukkan perlambatan dari progresifisitas
retinopati. 3, 5, 6

2) Pembentukan protein kinase C (PKC)


Dalam kondisi hiperglikemia, aktivitas PKC di retina dan sel endotel vaskular meningkat akibat
peningkatan sintesis de novo dari diasilgliserol, yang merupakan suatu regulator PKC dari glukosa.PKC
diketahui memiliki pengaruh terhadap agregasi trombosit, permeabilitas vaskular, sintesis growth
factor dan vasokonstriksi. Peningkatan PKC secara relevan meningkatkan komplikasi diabetika, dengan
mengganggu permeabilitas dan aliran darah vaskular retina.

Peningkatan permeabilitas vaskular akan menyebabkan terjadinya ekstravasasi plasma, sehingga


viskositas darah intravaskular meningkat disertai dengan peningkatan agregasi trombosit yang saling
berinteraksi menyebabkan terjadinya trombosis. Selain itu, sintesis growth factor akan menyebabkan
peningkatan proliferasi sel otot polos vaskular dan matriks ekstraseluler termasuk jaringan fibrosa,
sebagai akibatnya akan terjadi penebalan dinding vaskular, ditambah dengan aktivasi endotelin-1 yang
merupakan vasokonstriktor sehingga lumen vaskular makin menyempit. Seluruh proses tersebut terjadi
secara bersamaan, hingga akhirnya menyebabkan terjadinya oklusi vaskular retina. 3, 7

3) Pembentukan Advanced Glycation End Product (AGE)

Glukosa mengikat gugus amino membentuk ikatan kovalen secara non enzimatik. Proses tersebut pada
akhirnya akan menghasilkan suatu senyawa AGE. Efek dari AGE ini saling sinergis dengan efek PKC dalam
menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular, sintesis growth factor, aktivasi endotelin 1 sekaligus
menghambat aktivasi nitrit oxide oleh sel endotel. Proses tersebut tentunya akan meningkatkan risiko
terjadinya oklusi vaskular retina. 3, 8

AGE terdapat di dalam dan di luar sel, berkorelasi dengan kadar glukosa. Akumulasi AGE mendahului
terjadinya kerusakan sel. Kadarnya 10-45x lebih tinggi pada DM daripada non DM dalam 5-20 minggu.
Pada pasien DM, sedikit saja kenaikan glukosa maka meningkatkan akumulasi AGE yang cukup banyak,
dan akumulasi ini lebih cepat pada intrasel daripada ekstrasel. 8

4) Pembentukan Reactive Oxygen Speciesi (ROS)

ROS dibentuk dari oksigen dengan katalisator ion metal atau enzim yang menghasilkan hidrogen
peroksida (H2O2), superokside (O2). Pembentukan ROS meningkat melalui autooksidasi glukosa pada
jalur poliol dan degradasi AGE. Akumulasi ROS di jaringan akan menyebabkan terjadinya stres oksidatif
yang menambah kerusakan sel. 3, 8

SKEMA 2 PATOFISIOLOGI RETINOPATI DIABETIK (lanjutan)


Kerusakan sel yang terjadi sebagai hasil proses biokimiawi akibat hiperglikemia kronis terjadi pada
jaringan saraf (saraf optik dan retina), vaskular retina dan lensa. Gangguan konduksi saraf di retina dan
saraf optik akan menyebabkan hambatan fungsi retina dalam menangkap rangsang cahaya dan
menghambat penyampaian impuls listrik ke otak. Proses ini akan dikeluhkan penderita retinopati
diabetik dengan gangguan penglihatan berupa pandangan kabur. Pandangan kabur juga dapat
disebabkan oleh edema makula sebagai akibat ekstravasasi plasma di retina, yang ditandai dengan
hilangnya refleks fovea pada pemeriksaan funduskopi. 2-4

Neovaskularisasi yang tampak pada pemeriksaan funduskopi terjadi karena angiogenesis sebagai akibat
peningkatan sintesis growth factor, lebih tepatnya disebut Vascular Endothelial Growt
Factor (VEGF). Sedangkan kelemahan dinding vaksular terjadi karena kerusakan perisit intramural yang
berfungsi sebagai jaringan penyokong dinding vaskular. Sebagai akibatnya, terbentuklah penonjolan
pada dinding vaskular karena bagian lemah dinding tersebut terus terdesak sehingga tampak sebagai
mikroaneurisma pada pemeriksaan funduskopi. Beberapa mikroaneurisma dan defek dinding vaskular
lemah yang lainnya dapat pecah hingga terjadi bercak perdarahan pada retina yang juga dapat dilihat
pada funduskopi. Bercak perdarahan pada retina biasanya dikeluhkan penderita dengan floaters atau
benda yang melayang-layang pada penglihatan. 2-4, 9
Gambaran retina penderita DM

Kebutaan pada Retinopati Diabetik

Penyebab kebutaan pada retinopati diabetik dapat terjadi karena 4 proses berikut, antara lain:

1) Retinal Detachment (Ablasio Retina)

Peningkatan sintesis growth factor pada retinopati diabetik juga akan menyebabkan peningkatan
jaringan fibrosa pada retina dan corpus vitreus. Suatu saat jaringan fibrosis ini dapat tertarik karena
berkontraksi, sehingga retina juga ikut tertarik dan terlepas dari tempat melekatnya di koroid. Proses
inilah yang menyebabkan terjadinya ablasio retina pada retinopati diabetik.3

2) Oklusi vaskular retina


Penyempitan lumen vaskular dan trombosis sebagai efek dari proses biokimiawi akibat hiperglikemia
kronis pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya oklusi vaskular retina. Oklusi vena sentralis retina
akan menyebabkan terjadinya vena berkelok-kelok apabila oklusi terjadi parsial, namun apabila terjadi
oklusi total akan didapatkan perdarahan pada retina dan vitreus sehingga mengganggu tajam
penglihatan penderitanya. Apabila terjadi perdarahan luas, maka tajam penglihatan penderitanya dapat
sangat buruk hingga mengalami kebutaan. Perdarahan luas ini biasanya didapatkan pada retinopati
diabetik dengan oklusi vena sentral, karena banyaknya dinding vaskular yang lemah. 3, 4

Selain oklusi vena, dapat juga terjadi oklusi arteri sentralis retina. Arteri yang mengalami penyumbatan
tidak akan dapat memberikan suplai darah yang berisi nutrisi dan oksigen ke retina, sehingga retina
mengalami hipoksia dan terganggu fungsinya. Oklusi arteri retina sentralis akan menyebabkan
penderitanya mengeluh penglihatan yang tiba-tiba gelap tanpa terlihatnya kelainan pada mata bagian
luar. Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat seluruh retina berwarna pucat. 3, 4

3) Glaukoma

Mekanisme terjadinya glaukoma pada retinopati diabetik masih belum jelas. Beberapa literatur
menyebutkan bahwa glaukoma dapat terjadi pada retinopati diabetik sehubungan dengan
neovaskularisasi yang terbentuk sehingga menambah tekanan intraokular. 3, 9

PATOFISIOLOGI KATARAK DIABETIK

Katarak diabetik merupakan salah satu penyebab gangguan penglihatan yang utama pada pasien
diabetes melitus selain retinopati diabetik. Patofisiologi terjadinya katarak diabetik berhubungan
dengan akumulasi sorbitol di lensa dan terjadinya denaturasi protein lensa. 4, 10

Katararak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan
cairan) lensa, atau akibat denaturasi protein lensa. Pada diabetes melitus terjadi akumulasi sorbitol pada
lensa yang akan meningkatkan tekanan osmotik dan menyebabkan cairan bertambah dalam lensa.
Sedangkan denaturasi protein terjadi karena stres oksidatif oleh ROS yang mengoksidasi protein lensa
(kristalin). 4, 10
Retinopati diabetik adalah salah satu bentuk komplikasi diabetes melitus, di mana kadar gula yang tinggi
pada akhirnya mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah retina mata, terutama di jaringan-
jaringan yang sensitif terhadap cahaya. Kondisi ini dapat diderita oleh siapapun yang menderita diabetes
tipe 1 maupun 2, terutama mereka yang gula darahnya tidak terkontrol dan telah menderita diabetes
dalam jangka waktu yang lama.

Pada awalnya, retinopati diabetik seringkali hanya menunjukkan gejala ringan, atau bahkan tidak
menimbulkan gejala sama sekali. Namun apabila tidak ditangani, retinopati diabetik dapat
menyebabkan kebutaan. Maka dari itu, penderita diabetes melitus selalu disarankan untuk melakukan
pemeriksaan mata rutin setidaknya satu kali dalam setahun meskipun tidak merasakan keluhan apapun
pada mata.

Penyebab Retinopati Diabetik

Retina adalah sebuah lapisan di mata bagian belakang yang sensitif terhadap cahaya. Retina berfungsi
mengubah cahaya yang masuk ke mata menjadi sinyal listrik yang akan diteruskan ke otak. Di otak,
sinyal listrik ini akan diubah menjadi bentuk gambar yang kita lihat sehari-hari.

Karena fungsinya yang cukup penting tersebut, retina membutuhkan asupan darah yang lancar dari
pembuluh-pembuluh darah kecil di sekitar retina. Pada penderita diabetes melitus, kadar gula darah
yang terlalu banyak dapat menyumbat pembuluh-pembuluh darah kecil ini, sehingga retina pun
kekurangan asupan darah.

Akibatnya, retina akan membentuk pembuluh darah baru guna mencukupi kebutuhan darah.
Sayangnya, pembuluh-pembuluh darah yang baru terbentuk ini tidak mampu berkembang secara
sempurna, sehingga rentan sekali pecah atau bocor.

Secara garis besar, retinopati diabetik dibagi menjadi dua jenis:

Retinopati diabetik non-proliferatif

Ini adalah stadium awal dari retinopati diabetik. Dikatakan non-proliferatif karena pada jenis ini, tidak
terjadi pertumbuhan (proliferasi) pembuluh darah yang baru.

Retinopati diabetik non-proliferatif ditandai dengan adanya tonjolan kecil (mikroaneurisma) yang
muncul dari pembuluh darah. Mikroaneurisma ini akhirnya akan menyumbat pembuluh darah vena,
sehingga pembuluh darah vena menjadi mengembung dan berbentuk tidak rata. Apabila sumbatan
semakin banyak dan luas, maka sistem persarafan dan makula (bagian inti dari retina) juga akan
membengkak. Pembengkakan makula atau yang disebut juga makula edema ini merupakan kondisi yang
membutuhkan penanganan segera.

Retinopati diabetik proliferatif

Retinopati diabetik proliferatif merupakan kondisi parah yang membutuhkan penanganan segera. Pada
kasus ini, sebagian besar pembuluh darah retina telah rusak, sehingga terbentuklah pembuluh-
pembuluh darah baru yang tidak normal. Pembuluh darah baru ini memiliki dinding yang lemah
sehingga akan mudah pecah, dan darah akan merembes masuk ke cairan bola mata atau yang disebut
dengan viterus. Bila semakin banyak, tumpukan cairan dan darah ini akan meningkatkan tekanan bola
mata dan merusak persarafan, sehingga menyebabkan suatu kondisi yang disebut dengan glaukoma.

Selain itu, pertumbuhan pembuluh-pembuluh darah baru ini akan memicu terbentuknya jaringan parut.
Jaringan parut ini pada akhirnya akan menarik retina sehingga terlepas bagian belakang mata. Pada saat
ini terjadi, seseorang bisa mengalami gangguan pengelihatan.

Retinopati diabetik sangat mungkin dialami oleh penderita diabetes yang telah lama memiliki penyakit
tersebut. Semakin lama seseorang memiliki diabetes maka semakin besar pula risiko untuk terkena
retinopati diabetik, terutama apabila kadar gulanya tidak terkontrol. Selain itu, risiko juga akan
meningkat jika didukung oleh faktor-faktor berikut ini:

Kehamilan

Memiliki kadar kolesterol dan tekanan darah yang tinggi

Kebiasaan menghisap tembakau

Beretnis Hispanik, berkulit hitam, atau merupakan penduduk asli Amerika.


Menderita sindrom Down

Gejala Retinopati Diabetik

Awalnya, retinopati diabetik mungkin tidak menunjukkan gejala. Namun seiring kondisi berkembang,
gejala-gejala dapat muncul dan biasanya memengaruhi kedua mata. Beberapa gejalanya adalah:

Penglihatan menurun secara perlahan-lahan.

Pengelihatan hilang mendadak.

Tampak ada benda atau bercak hitam yang melayang-layang di lapangan pandang.

Pengelihatan berbayang.

Pengelihatan warna terganggu.

Nyeri pada mata atau mata merah

Gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti Anda mengalami retinopati diabetik, namun tidak ada
salahnya untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Lakukan juga pemeriksaan mata rutin walau Anda
merasa tidak ada yang salah dengan kondisi mata agar penyakit dapat terdeteksi dan ditangani lebih
awal.

Diagnosis Retinopati Diabetik

Untuk menegakkan diagnosis retinopati diabetik, dokter perlu melihat kondisi di dalam bola mata Anda
dengan suatu pemeriksaan yang disebut funduskopi. Kondisi di dalam bola mata seseorang akan paling
jelas terlihat dalam keadaan pupil terbuka lebar. Maka dari itu, dokter mungkin akan memberikan obat
tetes mata yang bertujuan untuk melebarkan pupil Anda. Obat tetes mata tersebut dapat membuat
pengelihatan jangka pendek Anda menjadi kabur, namun hal ini hanya akan berangsur-angsur
menghilang saat efek obat sudah habis.

Pada saat melakukan funduskopi, dokter akan mencari beberapa hal berikut:

Pembuluh darah yang tidak normal

Pembengkakan serta tumpukan darah dan lemak di retina

Pertumbuhan pembuluh darah baru dan jaringan parut

Perdarahan di cairan bola mata (vitreus)

Terlepasnya lapisan retina

Kelainan di saraf mata


Untuk melihat ada tidaknya kelainan di pembuluh darah mata, terutama pembuluh darah yang baru
terbentuk, dokter biasanya akan melakukan suatu pemeriksaan yang disebut dengan angiografi
fluoresensi. Pada pemeriksaan ini, Anda akan diberikan obat tetes untuk melebarkan pupil, kemudian
dokter akan menyuntikkan sebuah pewarna khusus di lengan Anda. Cairan pewarna ini pada akhirnya
akan mengisi pembuluh darah di bola mata Anda, dan dokter akan mengambil gambar keadaan
pembuluh darah di dalam bola mata dengan menggunakan alat khusus. Dari situ akan tampak jelas ada
tidaknya penyempitan atau pecahnya pembuluh darah, serta ada tidaknya kebocoran cairan.

Prosedur lain yang mungkin dilakukan adalah melakukan pemeriksaan optical coherence
tomography (OCT) yang akan memberikan gambaran ketebalan retina mata. Dari pemeriksaan ini, akan
tampak secara jelas jika terjadi kebocoran cairan ke dalam jaringan retina. Pemeriksaan OCT juga dapat
digunakan untuk menentukan keberhasilan terapi.

Pengobatan Retinopati Diabetik

Pilihan pengobatan retinopati diabetik bergantung dari jenis dan derajat keparahan penyakit, yakni:

Retinopati diabetik non-proliferatif. Pada tahap ini, penderita mungkin belum memerlukan
perawatan melainkan akan dimonitor terlebih dahulu oleh dokter. Penderita akan dianjurkan
untuk kontrol rutin ke dokter mata dan dokter ahli diabetes (endokrinologi), serta belajar
mengendalikan kadar gula dalam darah karena langkah ini biasanya dapat memperlambat
perkembangan penyakit.

Retinopati diabetik proliferatif. Pada tahap ini terdapat beberapa prosedur operasi yang
mungkin direkomendasikan kepada penderita, antara lain:

Suntikan anti-VEGF ke dalam mata Suntikan ini diberikan langsung ke dalam mata dan berguna untuk
mencegah pembentukan pembuluh darah baru di bagian belakang mata. Suntikan diberikan sebanyak
satu kali sebulan, dan perlahan-lahan dikurangi atau dihentikan saat kondisi telah stabil. Beberapa efek
samping yang mungkin muncul, adalah iritasi mata, merasa ada sesuatu di dalam mata, mata berair atau
gatal, perdarahan, hingga pembekuan darah.

Vitrektomi Operasi ini bertujuan untuk mengeluarkan darah dan jaringan parut dari bagian tengah
mata dengan cara membuat irisan kecil pada mata dengan bantuan anestesi umum maupun lokal.
Beberapa risiko dan efek samping yang mungkin dirasakan setelah melalui prosedur ini, adalah infeksi,
katarak, penumpukan cairan di kornea mata, perdarahan, hingga terlepasnya retina.

Perawatan dengan sinar laser fokal atau fotokoagulasi Perawatan dengan sinar laser ini bertujuan
untuk memperlambat atau menghentikan titik-titik kebocoran cairan atau darah di dalam mata.

Perawatan dengan sinar laser yang menyebar atau fotokoagulasi panretinal Sedikit berbeda dengan
sinar laser fokal, pada perawatan ini fokus sinar yang diberikan lebih luas, sehingga dapat mengenai
suatu area tertentu di bagian retina secara langsung. Terapi sinar laser ini akan membakar pembuluh-
pembuluh darah baru yang tidak normal sehingga menyusut dan akhirnya menjadi jaringan parut.
Penderita mungkin mengalami beberapa efek samping dari perawatan laser di atas, seperti pandangan
mengabur, sakit, menjadi sensitif terhadap cahaya, berkurangnya penglihatan di malam hari, hingga
perdarahan. Selain obat pereda rasa sakit, dokter akan menyarankan pasien untuk tidak
mengoperasikan kendaraan atau mesin berat serta menggunakan kacamata hitam.

Komplikasi Retinopati Diabetik

Jika tidak segera diobati, pembuluh darah baru yang tumbuh secara tidak normal di retina dapat
menyebabkan gangguan penglihatan yang serius hingga kebutaan. Beberapa komplikasi retinopati
diabetik yang mungkin terjadi, antara lain:

Perdarahan vitreus Pembuluh-pembuluh darah yang baru terbentuk akan rentan pecah,
sehingga darah akan masuk ke bagian tengah mata. Jika darah yang bocor hanya sedikit, Anda
mungkin hanya akan melihat bayangan gelap yang melayang-layang di lapangan pandang Anda.
Semakin banyak darah yang bocor maka semakin terhalang pula penglihatan. Walau darah
dapat berangsur-angsur menghilang dalam hitungan minggu atau bulan, penderita tetap
berisiko kehilangan penglihatannya secara permanen jika retina telah rusak.

Terlepasnya retina Pembuluh darah baru yang muncul akibat retinopati diabetik akan
merangsang pembentukan suatu jaringan parut di lapisan retina. Jaringan parut inilah yang
kelak berisiko untuk menarik retina lepas dari dasarnya, sehingga dapat memunculkan gejala-
gejala seperti pengelihatan kabur, muncul gambaran tirai di lapangan pengelihatan, tampak
kilatan cahaya, atau bahkan kebutaan.

Glaukoma Ketika pembuluh darah tumbuh di bagian depan mata, saluran air mata dapat
tersumbat, sehingga cairan akan menumpuk di bola mata dan tekanan bola mata akan
meningkat. Kondisi peningkatan tekanan di dalam bola mata ini disebut dengan glaukoma.
Glaukoma dapat merusak saraf-saraf pengelihatan, sehingga dapat menyebabkan gangguan
pengelihatan.

Kebutaan Pada akhirnya retinopati diabetik, glaukoma, atau keduanya dapat menyebabkan
kebutaan.

Pencegahan Retinopati Diabetik

Mengatur kadar gula darah dengan baik adalah salah satu cara menghindari hilangnya penglihatan.
Berikut adalah langkah-langkah lain yang bisa dilakukan:

Lakukan kegiatan aerobik, seperti jalan kaki setidaknya selama dua setengah jam setiap minggu.

Memulai diet makan yang sehat dan berimbang yang sesuai dengan kondisi Anda. Kurangi juga
asupan gula, garam, dan lemak.

Mengurangi berat badan, bagi pemilik kondisi obesitas.

Berhenti mengonsumsi minuman beralkohol.


Berhenti merokok atau menghisap tembakau.

Minum obat diabetes atau insulin sesuai anjuran dokter

Pantau kadar kolesterol Anda.

Pantau kadar gula darah Anda melalui tes gula darah sesuai dengan instruksi dokter.

Diskusikan bersama dokter mengenai tes hemoglobin A1C yang mungkin bisa Anda lakukan
selain tes gula darah.

Selalu waspada jika merasakan perubahan pada penglihatan Anda.

Pemeriksaan mata dan tekanan darah yang rutin juga merupakan langkah pencegahan awal agar
penyakit tidak berkembang menjadi lebih buruk.