Anda di halaman 1dari 5

Obesitas dan Stres Oksidatif

Tiwuk Susantiningsih
Bagian Biokimia, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Abstrak
Penderita obesitas meningkat pesat akhir-akhir ini baik di negara maju maupun di negara berkembang. Di Indonesia
prevalensi obesitas cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Obesitas memegang peran penting dalam patogenesis
berbagai kejadian penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, hipertensi, proses penuaan, serta kanker. Obesitas juga
dihubungkan dengan terjadinya penyakit kardiovaskuler seperti penyumbatan pembuluh darah, hiperlipidemik,
aterosklerosis, dan stroke. Pada keadaan obesitas bisa memicu timbulnya keadaan stres oksidatif karena
ketidakseimbangan prooksidan dan antioksidan di dalam tubuh. Obesitas erat kaitannya dengan stres oksidatif,
dikarenakan adanya peranan cAMP (cyclic Adenosin Mono Phosphat) dalam pengaturan keseimbangan energi. Jaringan
adiposa selain berperan sebagai tempat penyimpanan energi juga berfungsi sebagai organ endokrin, yang bertanggung
jawab terhadap patofisiologi stres oksidatif serta sindrom metabolik dan kelainan kardiovaskular. Pada keadaan obesitas
terjadi proses inflamasi, lipogenesis yang berlebihan, penghambatan lipolisis, serta meningkatkan apoptosis adiposit.
Obesitas akhirnya meningkatkan pelepasan Reactive Oxygen Species (ROS) dan akan menyebabkan suatu kondisi yang
disebut dengan stres oksidatif. Stres oksidatif adalah keadaan saat jumlah radikal bebas di dalam tubuh melebihi
kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Pada kondisi stres oksidatif akan menyebabkan kerusakan sel, jaringan atau
organ yang kemudian bisa memicu terjadinya penyakit-penyakit degeneratif. Simpulan, obesitas memicu proses inflamasi
dan kelainan metabolisme yang akan mengakibatkan peningkatan stres oksidatif. Stres oksidatif yang berlangsung lama
akan menyebabkan kerusakan sel dan jaringan serta memicu munculnya penyakit-penyakit degeneratif. [JuKe Unila 2015;
5(9):89-93]

Kata Kunci: obesitas, penyakit degeneratif, stres oksidatif

Obesity and Oxidative Stress


Abstract
Obesity is rapidly becoming one of the most important medical and public health problems in countries worldwide, as well
as in Indonesia. Obesity has become nowadays health problem because it is a risk factor to dysmetabolic syndrome such as
diabetic, hypertention, hyperlipidemia, and coroner heart disease. Obesity is associated with elevated levels of
inflammation and metabolic abnormalities. Obesity increased oxidative stress was a primary role in the pathogenesis of
disease because of the imbalance antioxidant and prooxidant level. Elevated level of oxidatiev stress in obese because of
role of cAMP. Adiposit tissue has two of main fuction such as energy level and endocrine organ, that influence to
mechanisme of oxidative stress and metabolic syndrome. Obesity make a condition of chronic low-level inflammation that
has become one of pathomechanism oxidative stress and degenerative diseases. Conclusion, obesity is assosiated with
elevated levels of inflammation and metabolic abnormalities, increasing oxidative stress and raised degenerative diseases.
[JuKe Unila 2015; 5(9):89-93]

Keywords: degeneratif disease, obesity, oxidative stress

Korespondensi: dr. Tiwuk Susantiningsih, M.Biomed., Alamat Jl. Soemantri Brodjonegoro No. 1, HP 087884011953, e-mail
tiwuksusantiningsih@gmail.com

Pendahuluan Prevalensi obesitas di seluruh dunia


Obesitas adalah kelebihan lemak dalam selalu meningkat dari tahun ke tahun. World
tubuh, yang umumnya ditimbun dalam Health Organization (WHO) pada tahun 2003
jaringan subkutan (bawah kulit), sekitar organ mencatat bahwa sekitar satu milyar penduduk
tubuh dan kadang terjadi perluasan ke dalam dunia mengalami overweight dan sedikitnya
jaringan organnya.1 Obesitas merupakan suatu 300 juta menderita obesitas secara klinis.
kondisi inflamasi kronik tingkat rendah Selain itu, WHO juga memprediksikan bahwa
terutama pada white adipose tissue (WAT). pada tahun 2015, 2,3 milyar orang dewasa
Penemuan bahwa obesitas ditandai dengan akan mengalami overweight dan 700 juta yang
adanya akumulasi makrofag pada jaringan WAT mengalami obesitas.2 Prevalensi obesitas dan
serta adanya fungsi biologi adiposit dan overweight di Indonesia sendiri juga masih
makrofag menambah pengertian terhadap tinggi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar
perkembangan inflamasi di jaringan adiposa (Riskesdas) pada tahun 2007, prevalensi
pada obesitas.2 obesitas pada penduduk berusia 15 tahun
Tiwuk Susantiningsih | Obesitas dan Stres Oksidatif

berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah prevalensi kumulatif overweight


10,3% (laki-laki 13,9%, perempuan 23,8%). (menggunakan batasan IMT 23-24,9 kg/m2)
Sedangkan prevalensi overweight pada anak- dan obesitas (IMT 25 kg/m2) pada rerata
anak usia 6-14 tahun adalah 9,5% pada laki-laki 46,45%.7
dan 6,4% pada perempuan.3 Pada keadaan obesitas yang kronik akan
Obesitas merupakan keadaan patologis meningkatkan berbagai penyulit yang mungkin
karena penimbunan lemak berlebihan daripada timbul seperti diabetes mellitus, dislipidemia,
yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Obesitas sindrom metabolik, low back pain,
dari segi kesehatan merupakan salah satu osteoartritis, gout/hiperurisemia, sleep apnoe,
bentuk malnutrisi, sebagai akibat konsumsi penyakit kandung empedu, hipertensi,
makanan yang jauh melebihi kebutuhanya. penyakit kardiovaskular maupun sindroma
Obesitas merupakan salah satu faktor risiko ovarium polikistik pada wanita. Kajian
penyebab terjadinya penyakit degeneratif epidemiologis telah memperlihatkan terjadinya
seperti diabetes mellitus, penyakit jantung peningkatan insiden beberapa penyakit kronis
koroner, dan hipertensi.4 dimaksud yang dihubungkan dengan kenaikan
Para ahli menetapkan obesitas dengan IMT. Lebih lanjut diketahui bahwa distribusi
mengklasifikasikan status gizi berdasarkan IMT, lemak sentral tubuh dibandingkan dengan
IMT merupakan rumus matematis yang perifer, berhubungan dengan peningkatan
berkaitan dengan lemak tubuh orang dewasa, risiko morbiditas dan mortalitas dari obesitas.7
dan dinyatakan sebagai berat badan dalam
kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan Isi
dalam ukuran meter.5 Secara objektif Stres oksidatif adalah
sederhana maka obesitas dapat dinilai ketidakseimbangan antara radikal bebas atau
berdasarkan perbandingan berat badan (BB) prooksidan dan antioksidan yang dipicu oleh
dan tinggi badan (TB), pengukuran lingkar adanya dua kondisi umum yaitu kurangnya
perut, lingkar panggul, lingkar lengan atas, antioksidan serta kelebihan produksi radikal
selain tebal lipatan kulit daerah triseps, bebas. Stres oksidatif dapat menyebabkan
subskapula, suprailiaka, biseps, maupun kerusakan oksidatif mulai dari tingkat sel,
evaluasi lemak tubuh total dengan Bio- jaringan hingga ke organ tubuh, dan
electrical Impedance Analysis (BIA). Untuk mengakibatkan terjadinya percepatan proses
diagnosis kerja biasanya digunakan status gizi penuaan dan munculnya berbagai patogenesis
antropometrik melalui perhitungan IMT/Body penyakit, termasuk kanker.8
Mass Index (BMI).6 Radikal bebas oksigen atau sering juga
Interpretasi dari perhitungan dimaksud disebut Reactive Oxygen Species (ROS)
digolongkan berdasarkan kriteria dari WHO dibentuk sebagai hasil samping metabolisme
yang disesuaikan untuk regional Asia Pasifik seluler aerobik dan produksinya diamplifikasi
sebagai berikut, jika IMT 18,5-22,9 kg/m2 oleh beberapa kondisi stres. Kadar ROS yang
disebut normal, IMT 23,0 kg/m2 disebut berat tinggi dapat merusak sel. Reactive Oxygen
badan berlebih (overweight), dan IMT 25,0 Species meliputi radikal superoksida, hidroksil,
kg/m2 disebut obesitas/kegemukan.5,6 peroksil, dan molekul hidrogen peroksida atau
Keberadaan obesitas di tengah-tengah H2O2. Reactive Oxygen Species dapat
masyarakat usia dewasa khususnya, tidak memodifikasi protein seluler, lipid dan Deoxy
dapat lagi dianggap sebagai salah satu masalah Nucleic Acid (DNA) sehingga mengubah fungsi
kesehatan belaka, mengingat kondisi ini telah sel. Beberapa penelitian melaporkan bahwa
digolongkan pada diagnosis suatu penyakit, ROS dalam kadar tinggi adalah kunci utama
bahkan WHO telah menyatakan bahwa dalam mekanisme inisiasi dan progresi
obesitas adalah suatu penyakit kronis. Pada penyakit degeneratif serta proses terjadinya
obesitas akan muncul gangguan kesehatan kanker/karsinogenesis.9
seperti peningkatan kadar kolesterol total >200 Hasil oksidasi di dalam tubuh berupa
mg%. Studi epidemiologis oleh Indonesian komponen radikal bebas dan ROS. Radikal
Society for the Study of Obesity (ISSO) pada bebas dapat terbentuk di dalam sel maupun di
tujuh kota besar di Indonesia yang melibatkan luar sel, yang memicu terjadinya gangguan
6.318 subjek pria dan wanita usia 20 tahun ke fisiologis dan biokimia. Beberapa penyakit
atas dari berbagai suku memperlihatkan degeneratif dapat disebabkan karena aktivitas

JuKe Unila | Volume 5 | Nomor 9 | Maret 2015 | 90


Tiwuk Susantiningsih | Obesitas dan Stres Oksidatif

oksidasi, seperti kardiovaskuler, diabetes meningkatkan glukosa dan lebih sensitif


mellitus tipe II, penuaan dini sampai penyakit terhadap stimulasi adrenergik.13
tumor dan kanker.8-10 Insulin mungkin merupakan faktor
Pada keadaan obesitas bisa memicu hormonal terpenting yang mempengaruhi
timbulnya keadaan stres oksidatif karena lipogenesis. Insulin menstimulasi lipogenesis
ketidakseimbangan prooksidan dan dengan cara meningkatkan pengambilan
antioksidan di dalam tubuh. Pada obesitas glukosa di jaringan adiposa melalui transporter
terjadi lipogenesis yang berlebihan dan glukosa menuju membran plasma. Insulin juga
penghambatan lipolisis. Lipogenesis mengaktivasi enzim lipogenik dan glikolitik
dirangsang oleh diet tinggi karbohidrat. Sterol melalui modifikasi kovalen. Efek tersebut
Regulatoty Element Binding Protein-1 dicapai dengan mengikat insulin pada reseptor
(SREBP-1) adalah mediator penting pada kerja insulin di permukaan sel sehingga mengaktivasi
pro-lipogenik atau anti-lipogenik beberapa kerja tirosin kinasenya dan meningkatkan efek
hormon dan nutrisi. Faktor transkripsi lain yang downstream melalui fosforilasi tirosin. Insulin
berhubungan dengan lipogenesis adalah juga mempunyai efek jangka panjang pada gen
peroxisome proliferator activated receptor-.11 lipogenik, mungkin melalui faktor transkripsi
Lipogenesis harus dibedakan dengan SREBP-1. Selain itu, insulin menyebabkan
adipogenesis yang merupakan proses SREBP-1 meningkatkan ekspresi dan kerja
diferensiasi pra-adiposit menjadi sel lemak enzim glitkokinase, dan sebagai akibatnya,
dewasa. Lipogenesis adalah proses deposisi meningkatkan konsentrasi metabolit glukosa
lemak dan meliputi proses sintesis asam lemak yang dianggap menjadi perantara dari efek
dan kemudian sintesis trigliserida yang terjadi glukosa pada ekspresi gen lipogenik.14
di hati pada daerah sitoplasma dan Resistensi insulin pada obesitas sentral
mitokondria dan jaringan adiposa. Energi yang diduga merupakan penyebab sindrom
berasal dari lemak dan melebihi kebutuhan metabolik. Insulin mempunyai peran penting
tubuh akan disimpan dalam jaringan lemak. karena berpengaruh baik pada penyimpanan
Demikian pula dengan energi yang berasal dari lemak maupun sintesis lemak dalam jaringan
karbohidrat dan protein yang berasal dari adiposa. Resistensi insulin dapat menyebabkan
makanan dapat disimpan dalam jaringan terganggunya proses penyimpanan lemak
lemak.11,12 maupun sintesis lemak. Hubungan sebab-
Asam lemak, dalam bentuk trigliserida akibat (kausatif) antara resistensi insulin dan
dan asam lemak yang terikat pada albumin penyakit jantung koroner dan stroke dapat
didapat dari asupan makanan atau hasil diterangkan dengan adanya efek anabolik
sintesis lemak di hati. Trigliserida yang insulin. Insulin merangsang lipogenesis pada
dibentuk dari kilomikron atau lipoprotein akan jaringan arterial dan jaringan adiposa melalui
dihidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak peningkatan produksi acetyl-CoA,
bebas oleh enzim lipoprotein lipase (LPL) yang meningkatkan asupan trigliserida dan
dibentuk oleh adiposit dan disekresi ke dalam glukosa.14
sel endotelial yang berdekatan dengannya Dislipidemia yang ditandai dengan
(adjacent). Aktivasi LPL dilakukan oleh peningkatan konsentrasi trigliserida dan
apoprotein C-II yang dikandung oleh kilomikron penurunan kolesterol HDL merupakan akibat
dan lipoprotein (VLDL). Kemudian asam lemak dari pengaruh insulin terhadap Cholesterol
bebas akan diambil oleh sel adiposit sesuai Ester Transfer Protein (CETP) yang
dengan derajat konsentrasinya oleh suatu memperlancar transfer Cholesteryl Ester (CE)
protein transpor transmembran. Bila asam dari HDL ke VLDL (trigliserida) dan
lemak bebas sudah masuk ke dalam adiposit mengakibatkan terjadinya katabolisme dan
maka akan membentuk pool asam lemak.12 apoA, komponen protein HDL.15
Lemak viseral memiliki reseptor Obesitas dapat meningkatkan
glukokortikoid dan androgen lebih banyak, lipogenesis, peningkatan jumlah insulin,
metabolisme yang lebih aktif, lebih sensitif menurunkan sensitivitas insulin sehingga
terhadap lipolisis dan lebih resisten insulin. terjadi resistensi insulin, akumulasi trigliserida,
Viseral Adipose Tissue (VAT) memiliki kapasitas serta meningkatkan apoptosis adiposit.
lebih besar menghasilkan Free Fatty Acid (FFA), Obesitas akhirnya meningkatkan pelepasan

JuKe Unila | Volume 5 | Nomor 9 | Maret 2015 | 91


Tiwuk Susantiningsih | Obesitas dan Stres Oksidatif

ROS dan akan menyebabkan suatu kondisi yang signifikan antara keadaan obesitas dengan
disebut dengan stres oksidatif.15,16 proses terjadinya stres oksidatif yang dapat
Sindrom metabolik merupakan satu dilihat dari beberapa marker yang
kelompok kelainan metabolik yang, selain menggambarkan kecenderungan adanya
obesitas, meliputi, resistensi insulin, gangguan ketidakseimbangan antara prooksidan dan
toleransi glukosa, abnormalitas trigliserida, antioksidan di dalam tubuh akibat adanya
disfungsi endotel dan hipertensi yang proses inflamasi pada kondisi obesitas. Diduga
kesemuanya secara sendiri-sendiri atau salah satu marker awal terjadinya kondisi stres
bersama-sama merupakan faktor risiko utama oksidatif pada obesitas adalah kadar hsCRP
untuk terjadinya aterosklerosis dengan karena proses inflamasi yang berisiko terhadap
manifestasi penyakit jantung koroner dan/atau timbulnya berbagai kelainan degeneratif.
stroke.17
Obesitas erat kaitannya dengan stres Simpulan
oksidatif, dikarenakan adanya peranan cAMP Obesitas memicu proses inflamasi dan
dalam pengaturan keseimbangan energi pada kelainan metabolisme yang akan
obesitas. Jaringan adiposa selain berperan mengakibatkan peningkatan stres oksidatif.
sebagai tempat penyimpanan energi juga Stres oksidatif yang berlangsung lama akan
berfungsi sebagai organ endokrin. Hal ini menyebabkan kerusakan sel dan jaringan serta
terbukti dengan ditemukannya struktur protein memicu munculnya penyakit-penyakit
spesifik yang disekresikan oleh adiposit ke degeneratif.
sirkulasi darah. Beberapa substansi seperti
leptin, adipsin, tumor necrosis factor-alfa Daftar Pustaka
(TNF), transforming growth factor-beta 1. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi
(TGF), interleukin-6 (IL-6), angiotensinogen, kedokteran. Jakarta: EGC; 2012.
apolipoprotein-E, plasminogen activator 2. World Health Organisation. Obesity and
inhibitor type-1 (PAI-1), tissue factor (TF), overweight [internet]. Geneva: WHO; 2012
adiponectin, peroxisome proliferators activated [diakses tanggal 20 Februari 2015].
receptor gamma (PPAR-), resistin, Tersedia dari: http://www.who.int.
metallothionein; prostaglandin F-2 alpha 3. Kementerian Kesehatan Republik
(PGF2), insulin like factor- 1 (IGF-1), Indonesia. Riset kesehatan dasar riskesdas
macrophage inhibitory factor (MIF), nitric oxide 2013 [internet]. Jakarta: Badan Penelitian
(NO) serta beberapa senyawa bioaktif lain dan Pengembangan Kesehatan
diketahui berasal dari jaringan adiposa, Kementerian Kesehatan Republik
khususnya pada visera abdomen. Masing- Indonesia; 2013 [diakses tanggal 20
masing senyawa bertanggung jawab terhadap Februari 2015]. Tersedia dari:
patofisiologi stres oksidatif serta sindrom http://www.depkes.go.id
metabolik dan kelainan kardiovaskular.7,9,11 4. Lebowitz J. The effect of obesity and
Pada keadaan obesitas juga terjadi overweight on health. California:
proses inflamasi. Penanda inflamasi yang Parmacist; 2012.
dianggap terbaik saat ini adalah high sensitivity 5. Soegondo S. Obesity, a global problem
C-Reaktive Protein (hsCRP) karena disintetis di (background, epidemiology, definition and
hati di bawah kontrol IL-6 (sitokin adiposa) redefinition). International conference on
sebagai respon terhadap berbagai rangsangan National Obesity Workshop; 2003 Juli 18;
inflamasi baik inflamasi akut (infeksi) maupun Surabaya. Indonesia: NOW; 2003.
inflamasi kronik (pembentukan plak 6. Alrasyid H. Peranan isoflavon tempe
ateroklerosis). Pengukuran hsCRP merupakan kedelai, fokus pada obesitas dan komorbid.
prediktor terbaik untuk mengetahui risiko Majalah Kedokteran Nusantara. 2007;
penyakit kardiovaskuler karena dapat 40(3):203-7.
memprediksi kejadian thromboembolic akibat 7. Alrasyid H. Potensi tempe kedelai dalam
aterosklerosis.17 terapi nutrisi medik pada obesitas dewasa
dengan komorbid. Medan: Fakultas
Ringkasan Kedokteran Universitas Sumatera Utara;
Dari berbagai keterangan di atas, jelas 2009.
bahwa terdapat hubungan yang sangat

JuKe Unila | Volume 5 | Nomor 9 | Maret 2015 | 92


Tiwuk Susantiningsih | Obesitas dan Stres Oksidatif

8. Benhar M, Engelberg D, Levitski A. Reactive dewasa [tesis]. Medan: Fakultas


oxygen species (ros), stress-activated Kedokteran Universitas Sumatera Utara;
konases and stress signaling in cancer. 2007.
EMBO reports. 2002; 3(5):420-5. 14. Meigs JH, Mittleman MA, Nathan DM,
9. Cooper GM, Hausman RE. The cell a Tofler GH, Singer DE, Murphy-Sheehy PM,
molecular approuch. Washington: ASM et al. Hyperinsulinemia, hyperglycemia and
Press; 2003. impaired hemostasis. JAMA. 2000;
10. Dalle-Donne I, Rossi R, Roberto C, Daniela 283(2):221-8.
G, Milzani A. Biomarkers of oxidative 15. Susantiningsih T. Biokimia stres oksidatif
damage in human disease. Clinical dan prosedur laboratorium. Bandar
Chemistry. 2006; 52(4):601-23. Lampung: Aura Publishing Bandar
11. Spiegelman BM, Flier JS. Obesity and the Lampung; 2012.
regulation of energy balance [internet]; 16. Abe J, Berk BC. Reactive oxygen species as
Philadelphia: Elsevier; 2006 [diakses mediators of signal transduction in
tanggal 20 Februari 2015]. Tersedia dari: cardiovascular disease. Trends Cardiovasc
http://www.cell.com/content/article Med. 2004; 8:59-64.
12. Rismawati I, Usmar, Pakki E, Haryono K. Uji 17. Isnaini, Sartono A, Winaryati E. Hubungan
efek antiobesitas dari susu kedelai (glicine pengetahuan obesitas dengan rasio lingkar
max mirril) pada tikus (rattus norvegicus). pinggang panggul pada ibu rumah tangga
Majalah Farmasi dan Farmakologi. 2012; di desa Pepe Krajan Kecamatan Tegowanu
16(2):107-10. Kabupaten Grobogan. Jurnal gizi
13. Alrasyid H. Efek diet indeks glikemik Universitas Muhammadiyah Semarang.
rendah dengan campuran tempe kedelai 2012; 1(1):1-8.
terhadap konsentrasi t-PA antigen, PAI-1
antigen dan lipid plasma wanita obesitas

JuKe Unila | Volume 5 | Nomor 9 | Maret 2015 | 93