Anda di halaman 1dari 9

Makalah

PEMERIKSAAN KEABSAHAN DATA PENELITIAN KUALITATIF

Disusun sebagai salah satu tugas


Mata Kuliah: Metodologi Penelitian Kualitatif
Dosen Pengampu: Dr. M. Ramli, M.A

Nama Anggota Kelompok:


Novin Suryono Nim. 142103806848
Cholida Fauzia Nim. 142103806850
Helisman Nim. 142103806857

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR
Maret 2015
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Salah satu pertanyaan yang diusahakan menjawab dari pihak non-kualitatif atau dari
peneliti umum ialah : Apakah penelitian kualitatif itu benar-benar ilmiah?. Pokok persoalan
yang menjadi latar belakang pertanyaan ini, selain persoalan generalisasi, juga menyangkut
derajat kepercayaan yang tidak mantap dari pihak penyanggah.
Dalam tubuh pengetahuan pene;itian kualitatif itu sendiri sejak awal pada dasarnya
sudah ada usaha meningkatkan derajat kepercayaan data yang di sini dinamakan keabsahan
data. Pemeriksaan terhadap keabsahan data pada dasarnya, selain digunakan untuk
menyanggah balik apa yang dituduhkan kepada penelitian kualitatif yang mengatakan tidak
ilmiah, juga merupakan sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari tubuh pengetahuan
penelitian kualitatif. Dengan kata lain, apabila peneliti melaksanakan pemeriksaan terhadap
keabsahan data secara cermat sesuai dengan teknik yang diuraikan dalam makalah ini, maka
jelas bahwa hasil upaya penelitiannya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dari segala
segi.
Guna memenuhi harapan itu, maka makalah kali ini mengulas teknik pemeriksaan
keabsahan data. Dengan tiga uraian bahasan pokok. Pertama, membahas alasan dan acuan
pemanfaatan. Kedua, membahas kriteria dan teknik pemeriksaan keabsahan data sebagai
upaya meletakkan dasar bagi para pembaca, kemudian membahas kriteria. Ketiga, membahas
teknik pemeriksaan keabsahan data itu sendiri.

2. Rumusan Masalah
a. Apakah alasan dan acuan adanya keabsahan data dalam kualitatif?
b. Bagaimana kriteria dan teknik pemeriksaan keabsahan data?
c. Bagaimana teknik pemeriksaan keabsahan data?

3. Tujuan
a. Alasan dan acuan adanya keabsahan data dalam kualitatif
b. Kriteria dan teknik pemeriksaan keabsahan data
c. Teknik pemeriksaan keabsahan data

B. PEMBAHASAN
1. Alasan & Acuan Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan keadaan yang harus memenuhi:
a. Mendemonstrasikan nilai yang benar;
b. Menyediakan dasar agar suatu tulisan dapat diterapkan;
c. Memperbolehkan keputusan luar yang dapat dibuat sebagai konsistensi dari
prosedurnya dan kenetralan dari temuan dan keputusan-keputusannya.
Bagaimana seorang peneliti membujuk agar pesertanya (termasuk dirinya) bahwa
temuan-temuan penelitiannya dapat dipercaya, atau dapat dipertimbangkan? Di bawah ini
dikemukakan perbandingan antara penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif dilihat
dari segi konstruknya.
KONSTRUK KUANTITATIF KUALITATIF
Nilai benar Validitas internal Kredibilitas
Aplikabilitas Validitas eksternal Transferabilitas
(keteralihan)
Konsistensi Reliabilitas Dependabilitas
(kebergantungan)
Netralitas Objektivitas Konfirmabilitas
(Kepastian)
Tabel 1. Perbedaan konstruk penelitian Kuantitatif & Kualitatif
Kriteria untuk penelitian kualitatif tidak dapat digunakan untuk memutuskan
perspektif penelitian kuantitatif. Keabsahan data merupakan konsep penting yang
diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas), disesuaikan
dengan tuntutan pengetahuan, kriteria dan paradigmanya sendiri.
Dilihat dari sisi penelitian kualitatif dengan paradigma alamiahnya yang berbeda
dengan paradigma nonkualitatif (kuantitatif) jelas tidak dapat menggunakan kriteria validitas
dan reliabilitas. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Lincoln & Guba
(1981:294) yang menyatakan bahwa dasar kepercayaan dari kedua sudut pandang penelitian
berbeda. Dengan perkataan sehari-hari dapatlah dinyatakan bahwa kita tidak dapat mengukur
baju dengan liter.
Berdasarkan hal-hal tersebut, maka paradigma alamiah menggunakan kriteria yang
tentunya disesuaikan dengan tuntutan inkuirinya, sehingga pendefinisian kembali kriteria
tersebut merupakan tuntutan yang tidak dapat dielakkan. Pendefinisian kembali itu jelas
mengarah pada teknik kontrol atau pengawasan terhadap keabsahan data yang perlu pula
direformulasikan. Apa yang dikemukakan pada makalah ini banyak mengikuti hasil
reformulasi yang dilakukan oleh Lincoln dan Guba (1981) dan Patton (1987).

2. Kriteria Pemeriksaan Keabsahan Data


Untuk menetapkan keabsahan (trustworthiness) data diperlukan teknik pemeriksaan.
Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat
kriteria yang digunakan, yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability),
kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability).
a. Penerapan Kriterium derajat kepercayaan (Kredibilitas) pada dasarnya menggantikan
konsep validitas internal dari nonkualitatif. Kriterium ini berfungsi sebagai berikut:
1) Melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan
penemuannya dapat dicapai;
2) Mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan
pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti.
b. Kriterium Keteralihan (Transferability)
Persoalan empiris yang diterapkan, bergantung pada kesamaan konteks, artinya satu
penelitian kualitatif yang diterapkan pada satu populasi belum tenty bisa diterapkan pada satu
populasi yang lain, jadi untuk mencapai kriterium transferablitiy, seorang peneliti harus bisa
mengumpulkan kejadian/data empiris yang dapat diambil kesamaan konteksnya dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian maka pembaca menjadi jelas atas hasil penelitian tersebut, sehingga
dapat memutuskan untuk mengaplikasikan atau tidak mengaplikasikan hasil penelitian
tersebut di tempat lain. Bila pembaca laporan penelitian memperoleh gambaran yang
sedemikian jelas, semacam apa-apa suatu hasil penelitian dapat diberlakukan (transferability),
maka laporan tersebut memenuhi standar transferability (Sanafiah Faisal.1990).
c. Kriterium Kebergantungan
Kriterium kebergantungan merupakan subtitusi istilah reliabilitas dalam penelitian
yang nonkualitatif. Perbedaan mendasar dalam kualitatif ialah ketidakpercayaan dalam
instrumen penelitian yang benar-benar alamiah dengan mengandalkan orang sebagai
instrumen yang sangat memungkinkan keletihan dan keterbatasan yang menjadi
pertimbangan, kemudian mencapai kesimpulan untuk menggantinya dengan kriterium
kebergantungan. Konsep kebergantungan lebih luas daripada reliabilitas. Hal tersebut
disebabkan oleh peninjauannya dari segi bahwa konsep itu memperhitungkan segala-galanya,
yaitu yang ada pada reliabilitas itu sendiri ditambah faktor-faktor lainnya yang tersangkut.
d. Kriterium Kepastian
Kriterium kepastian berasal dari konsep objektivitas menurut nonkualitatif.
Nonkualitatif menetapkan objektivitas dari segi kesepakatan antar subjek. Disini pemastian
bahwa sesuatu itu onjektif atau tidak bergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap
pandangan, pendapat, dan penemuan seseorang. Dapatlah dikatakan bahwa pengalaman
seseorang itu subjektif, sedangkan jika disepakati oleh beberapa atau banyak orang, barulah
dapat dikatakan objektif. Jadi, objektivitas-subjektivitasnya suatu hal bergantung pada orang
seorang.
Menurut Scriven (1971), selain itu masih ada unsur kualitas yang melekat pada
konsep objektivitas. Hal itu digali dari pengertian bahwa jika sesuatu itu objektif, berarti
dapat dipercaya, faktual, dan dapat dipastikan.Berkaitan dengan persoalan itu, subjektif
berarti tidak dapat dipercaya, atau melenceng. Pengertian terakhir inilah yang dijadikan
tumpuan pengalihan pengertian objektivitas-subjektivitas menjadi Kepastian (confirm-
ability).

3. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data


Sebelum masing-masing teknik pemeriksaan diuraikan, terlebih dahulu ikhtisarnya
dikemukakan. Ikhtisar tersebut terdiri dari kriteria yang diperiksa dengan satu atau beberapa
teknik tertentu.
KRITERIA TEKNIK PEMERIKSAAN

Kredibilitas 1. Perpanjangan keikut-sertaan


(derajat kepercayaan) 2. Ketekunan pengamatan
3. Triangulasi
4. Pengecekan sejawat
5. Kecukupan referensial
6. Kajian kasus negatif
7. Pengecekan anggota
Kepastian 8. Uraian rinci

Kebergantungan 9. Audit kebergantungan

Kepastian 10. Audit kepastian

1. Perpanjangan keikut-sertaan
Peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrumen itu sendiri. Keikutsertaan
peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Perpanjangan keikutsertaan berarti
peneliti tinggal di lapangan penelitian dalam waktu yang cukup panjang sampai
kejenuhan pengumpulan data tercapai. Jika hal itu dilakukan maka akan membatasi:
a. membatasi gangguan dari dampak peneliti pada konteks,
b. membatasi kekeliruan (biases) peneliti
c. mengkompensasikan pengaruh dari kejadian-kejadian yang tidak biasa atau pengaruh
sesaat.
Perpanjangan keikutsertaan peneliti akan memungkinkan peningkatan derajat
kepercayaan data yang dikumpulkan. Selain itu kepercayaan subjek dan kepercayaan diri
peneliti merupakan proses pengembangan dan alat untuk mencegah usaha coba-coba dari
pihak subjek.
2. Ketekunan pengamatan
Ketekunan/keajegan pengamatan berarti mencari secara konsisten interpretasi
dengan berbagai cara dalam kaitan dengan proses analisis yang konstan. Hal ini
dimaksudkan menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan
dengan persoalan atau isu yang sedang dicari kemudian memusatkan diri pada hal-hal
tersebut secara rinci. Dengan kata lain jika perpanjangan keikutsertaan menyediakan
lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman. Hal itu berarti bahwa
peneliti hendaknya mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara
berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang menonjol. Kemudian menelaah secara
rinci sampai pada suatu titik sehingga pemeriksaan pada tahap awal tampak salah satu
atau seluruh faktor yang ditelaah sudaah dipahami dengan cara yang biasa. Persoalan
dalam keajegan pengamatan terletak pada situasi ketika subjek berdusta, menipu, atau
berpura-pura, sedangkan peneliti sudah sejak awal mengarahkan fokusnya padahal
barangkali belum waktunya berbuat demikian.

3. Triangulasi
Triangulasi merupakan pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu
yang lain. Di luar data itu untuk melakukan pengecekan atau sebagai pembanding
terhadap data tersebut. Denzin (1978) membedakan empat macam triangulasi sebagai
teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan
teori. Jadi triangulasi merupakan cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-
perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu
mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan.
Dengan kata lain bahwa dengan triangulasi, peneliti dapat me-recheck temuannya dengan
jalan membandingkannya dengan berbagai sumber, metode, atau teori.

4. Pengecekan sejawat
Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir
yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat. Teknik ini
dimaksudkan untuk: Pertama, membuat agar peneliti tetp mempertahankan sikap
terbuka dan kejujuran. Dalam diskusi tersebut, kemelencengan peneliti diungkap dan
pengertian mendalam ditelaah yang nantinya menjadi dasar bagi klarifikasi penefsiran.
Kedua, diskusi dengan teman sejawat memberikan suatu kesempatan awal yang baik
untuk mulai menjajaki dan menguji hipotesis kerja yang muncul dari pemikiran peneliti.
Dengan demikian pemeriksaan sejawat berarti pemeriksaan yang dilakukan dengan
jalan mengumpulkan rekan-rekan sebaya, yang memiliki pengetahuan umum yang sama
tentang apa yang sedang diteliti, sehingga mereka bersama dapat me-review persepsi,
pandangan, dan analisis yang sedang dilakukan. Jika hal ini dilakukan maka hasilnya
adalah:
a. menyediakan pandangan kritis
b. mengetes hipotesis kerja (temuan teori substantif)
c. membantu mengembangkan langkah berikutnya
d. melayani sebagai pembanding

5. Kajian kasus negatif


Teknik ini dilakukan dengan jalan mengumpulkan contoh dan kasus yang tidak
sesuai dengan pola dan kecenderungan informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan
sebagai bahan bahan pembanding. Misalkan: dalam suatu latihan kepemimpinan
perusahaan, sebagian peserta berhasil dengan baik dan telah menduduki jabatan yang
bagus. Peserta yang tidak menyelesaikan program atau meninggalkan pelatihan sebelum
waktunya diambil sebagai kasus untuk meneliti kekurangan program latihan tersebut.
Kasus negatif tersebut digunakan sebagai kasus untuk menjelaskan hipotesis kerja
alternatif sebagai upaya meningkatkan argumentasi penemuan.

6. Pengecekan anggota
Pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam proses pengumpulan data sangat
penting dalam pemeriksaan derajat kepercayaan. Yang di cek meliputi data, kategori
analisis, penafsiran, dan kesimpulan. Pengecekan anggota dapat dilakukan secara formal
maupun tidak formal. Banyak kesempatan yang tersedia untuk melakukan pengecekan
anggota. Pengecekan anggota berarti peneliti mengumpulkan para peserta yang telah
ikut menjadi sumber data dan mengecek kebenaran data serta interpretasinya. Hal ini
dilakukan dengan jalan:
a. penilaian dilakukan oleh responden,
b. mengoreksi kekeliruan,
c. menyediakan tambahan informasi secara sukarela
d. memasukkan responden dalam kancah penelitian, menciptakan kesempatan untuk
mengikhtisarkan sebagai langkah awal analisis data,
e. menilai kecukupan menyeluruh data yang dikumpulkan.

7. Uraian rinci
Teknik ini menuntut peneliti agar melaporkan hasil penelitiannya sehingga
uraiannya itu dilakukan seteliti dan secermat mungkin yang menggambarkan konteks
tempat penelitian diselenggarakan. Uraiannya harus mengungkapkan secara khusus
segala sesuatu yang dibutuhkan oleh pembaca agar ia dapat memahami temuan-temuan
yang diperoleh. Temuan itu sendiri tentunya bukan bagian dari uraian rinci, melainkan
penafsirannya yang dilakukan dalam bentuk uraian rinci dengan segala macam
pertanggungjawaban berdasarkan kejadian-kejadian nyata. Dengan kata lain, peneliti
tidak dapat membahas keteralihan jika dia hanya mempunyai sekeping data dari
penelitiannya saja

8. Auditing
Penelusuran audit tidak dapat dilaksanakan apabila tidak dilengkapi dengan
catatan-catatan pelaksanaan keseluruhan proses dan hasil studi. Proses auditing dapat
mengikuti langkah-langkah seperti yang disarankan oleh halpern, yaitu: pra-entri,
penetapan hal-hal yang dapat diaudit, kesepakatan formal, dan penentuan keabsahan
data. Penelusuran audit meliputi pemeriksaan terhadap kepastian maupun
kebergantungan.
Pemeriksaan terhadap kriteria kepastian terdiri dari beberapa langkah kecil.
Pertama auditor perlu memastikan apakah hasil temuan itu benar-benar berasal dari
data. Kemudian auditor berusaha membuat keputusan apakah secara logis kesimpulan
itu ditarik dan berasal dari data. Auditor juga perlu melakukan penilaian terhadap
derajat ketelitian peneliti dan apakah ada kekeliruan.
Sama halnya dengan pemeriksaan kriteria kepastian, pemeriksaan terhadap
kriteria kebergantungan juga terdapat beberapa langkah kecil. Pertama auditor
berurusan dengan kecukupan keputusan inkuiri dan pemanfaatan metodologinya.
Auditor juga perlu menelaah sejauh mana sluruh data telah dimanfaatkan dalam
analisis dan sejauh mana setiap bidang tercakup secara beralasan sudah ditelaah oleh
peneliti.
C. PENUTUP
Tiga pokok pembahasan pada makalah ini yaitu alasan dan acuan, kriteria, dan
teknik pemeriksaan keabsahan data. Bgaian alasan dan acuan mempersoalkan
mengapa diperlukan pemriksaan keabsahan data dengan menyajikan kelemahan
validitas dan reliabilitas data secara konvensional. Uraian tentang teknik
pemeriksaan keabsahan data mengacu pada konsep baru untuk memperbarui dan
mengacu pada teknik yang disodorkan oleh ahli inkuiri alamiah.
Pemeriksaan keabsahan data didasarkan atas kriteri tertentu. Kriteria terdiri
atas derajat kepercayaan (kredibilitas), keteralihan, kebergantungan, dan kepastian.
Masing-masing kriteria tersebut menggunakan teknik pemeriksaan sendiri-sendiri.
1. Kriteria derajat kepercayaan pemeriksaan data, dilakukan dengan cara:
Teknik perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi,
pengecekan anggota.
2. Kriteria kebergantungan dan kepastian pemeriksaan dilakukan dengan teknik
auditing.

DAFTAR PUSTAKA

Moleong, Lexy.J. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Soendari, Tjutju. 2012. Pengujian Keabsahan Data Penelitian Kualitatif. Jurusan PLB FIP
UPI