Anda di halaman 1dari 144

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN DERMATITIS

KONTAK IRITAN PADA TANGAN PEKERJA KONSTRUKSI YANG

TERPAPAR SEMEN DI PT. WIJAYA KUSUMA CONTRACTORS

TAHUN 2014

SKRIPSI

Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar


Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

OLEH :

DWI AMBANG PRASETYO

NIM : 107101003796

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014/1435 H
LEM BAR PERNYATAAN

Dengan im saya menyalakan bahwa:

I. Skripsi ini rnerupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu

persyaratan memperoleh gelar strata I di Fakultas Kedokteran dan llmu

KesehatanUniversitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua somber yang saya gunakan dalarn penulisan ini telah saya cantumkan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Falcultas Kedokteran dan llmu

KesehatanUniversitas Islam Negeri (U!N) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa klll)'8 ini bulcan hasil karya asli saya atau

merupakan jiplakan dari karyn orang lain, maka saya bersedia mcnerima sanksi

yang berlalcu di Fakultas Kedokteran dan llmu KesehatanUniversitas Islam

Negeri (U!N) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Juni 2014

Dwi Ambang Prasetyo

i
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Skripsi, Juli 2014
Dwi Ambang Prasetyo, NIM : 107101003796

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN DERMATITIS


KONTAK IRITAN PADA TANGAN PEKERJA KONSTRUKSI YANG
TERPAPAR SEMEN DI PT. WIJAYA KUSUMA CONTRACTORS
TAHUN 2014
(xvi+ 97 halaman, 12 tabel, 8 gambar, 4 lampiran)

ABSTRAK
Angka kejadian dermatitis kontak iritan pada pekerja di bidang konstruksi
ter bilang cukup tinggi. Di Indonesia, data mengenai insiden dan prevalensi penyakit
kulit seperti dermatitis kontak iritan pada proyek konstruksi sulit didapat, umumnya
pelaporan tidak lengkap sebagai akibat tidak terdiagnosisnya atau tidak terlaporkannya
penyakit tersebut. Dermatitis kontak iritan pada pekerja konstruksi terjadi akibat kontak
dengan bahan atau material yang banyak digunakan di proyek konstruksi seperti semen.
semen mengandung komposisi bahan bahan yang dapat menyebabkan dermatitis kontak
iritan karena komposisi alkali (kapur) didalamnya. Dari hasil studi pendahuluan yang
dilakukan di PT. Wijaya Kusuma Contractors terhadap 10 orang pekerja yang kontak ngan
desemen, melalui wawancara dan observasi gejala klinis yg dilakukan oleh neliti,
peditemukan 3 orang pekerja dengan hasil wawancara dan gejala klinis yang ngarah
mekepada dermatitis kontak iritan kronis akibat terpapar semen pada tangan.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross
sectional, yang dilakukan pada bulan april-juli 2014 di PT. Wijaya Kusuma Contractors.
Sampel penelitian merupakan seluruh total populasi pekerja yang terpapar semen di
PT. Wijaya Kusuma Contractors sebanyak 32 orang pekerja. Variabel independen dalam
penelitian ini meliputi lama kontak, usia, masa kerja, frekuensi mencuci tangan, jenis
keahlian pekerja, riwayat penyaklit kulit sebelumnya dan penggunaan APD . Penentuan
penyakit dermatitis kontak iritan didapatkan dari hasil diagnosa dokter, variabel
penggunaan APD didapatkan dengan observasi langsung dan variabel lainnya
didapatkan dengan menyebarkan kuesioner. Data yang diperoleh kemudian dilakukan
uji statistik dengan uji chi square dan Mann Whitney
Hasil penelitian menunjukan bahwa 34,4% pekerja mengalami dermatitis kontak
iritan ,.Faktor-faktor yang berhubungan dengan dermatitis kontak iritan dalam penelitian
ini yaitu frekuensi mencuci tangan ( P value 0,028) Untuk mereduksi resiko dermatitis
kontak iritan disarankan agar pekerja tidak terlalu sering mencuci tangan dan disiplin
dalam menggunakan APD berupa sarung tangans erta adanya pengawasan yang ketat
dari perusahaan mengenai penggunaan APD

Daftar bacaan : 59 (1980 2012)

ii
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
DEPARTMENT OF PUBLIC HEALTH
MAJOR OF OCCUPATIONAL SAFETY AND HEALTH

Paper, July 2014

Dwi Ambang Prasetyo , NIM : 107101003796

FACTORS ASSOCIATED WITH HAND IRRITANT CONTACT DERMATITIS


AT CONSTRUCTION WORKERS THAT CONTACT WITH CEMENT IN
P . WIJAYA KUSUMA CONTRACTORS YEAR 2014
T
+ 97 pages, 12 tables, 8 pictures, 4 attachments
xvi
STRAK
AB
Hand irritant contact dermatitis prevalence at construction workers are fairly
h. In Indonesia, incidence and prevalence of occupational dermatitis such as irritant
higntact dermatitis on construction is difficult obtained. Generally, there is uncomplete
coort because undiagnosed and unreported these case. Irritant contact dermatitis due to
re nstruction workers occur because contact with materials that usually used in
p ntraction such as cement. Cement consist of materials substance that cause irritant
contact dermatitis because composition of alkali inside them. Based on preeliminary
c dy at PT. Wijaya Kusuma Contractors toward 10 workers that contact with cement using
o erview and observation showed that 3 workers suffered hand irritant contact dermatitis.
c This research is a quantitative study used a cross sectional method, and held in
o ril-Juli 2014 in PT. Wijaya Kusuma Contractors. Thirty two workers was taken as total
stumpling in PT. Wijaya Kusuma Contractors. The independent variables are duration
int

A
p
sa
contact, age,years of employment, frequence of hand washing, kind of job,skin diseases
history, and used of PPE (Personal Protective Equipment). For contact dermatitis and
obtained by diagnose doctor, used of PPE was collected by direct observation, and the other
variables was collected by questionnaire. Afterwards, tests such as chi square and mann
whitney, are used to analyze the data.
Results showed that 34,4% workers suffered irritant contact dermatitis. Factors
associated with contact dermatitis frequence of hand washing (Pvalue: 0.028). To reduce
irritant contact dermatitis risk, workers should not wash his hand too frequent and should
discipline wearing PPE (hand gloves) during work. Company also should improve PPE
monitoring.

References : 59 (1980 2012)


iii
PERNYJ\TAJ\'> Pf.RSfTl,IU.\ '

Skripsi Dengan Judul

F.\h.'TOR-F,\h.'TOR YANG BERFll..:Bl;\C.\.\ OENCAN DER.t\l.\TITLS


KO;\TAK IRl'I .\N PADA TANCA,.\ PEKERJA KONSTRUKSI YAt\C
TERPAP..\R SEIEN DI PT. WlJAYr\ Kl SI \IA CONTRACTORS
TAHU'> 2014

Tclah dtsetujui, drpenksa dan dipcnahankan di hadapan Tim Pcnguji Skripsi Program
Studi Kesehatan Masyaraknt Fnkulras Kedokteran din II 11u Kcsehatan Univcrsuas lslam
Negeri Syanf I lidayatullah Jakarta

Jakarta, 15 Juh 2014

Mcng<.'lahui.

ltin;: Shof" ali ,i\l KKK j\ li11s:1r11" ati, i\l.Kes

Pembirnbmg I Pcmbimbmg II

iv
PA 'IITI.\ SIDA"IC UJIA 'I SKRll'SI
l'ROGH \ \I STUDI KESEIIATAN i\lASYARAKAT
FAKULT \S KEDOKTER,\ DAN ILlli KESEIIAT.\
UNIVF,RSITA ISL.\M EGERI SYARIF 1110/\YATULLAII JAKART.\

Jakarta, IO Juli 2014

Pcnguji l,

De" i UI mi Irani, Pb.D

v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. IDENTITAS DIRI
Nama : Dwi Ambang Prasetyo
TTL : Cilacap, 13 Desember 1989
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Belum Menikah
Agama : Islam
Ponsel : 087887974609
Alamat : Jln. H. Wangsa RT 01 RW 13 Kel. Jatimakmur,
Kec. Pondok Gede, Bekasi
E-mail : Ambankprasetyo@gmail.com

II. PENDIDIKAN FORMAL


2007 Sekarang : Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2004 2007 : SMAN 1 Cilacap (Jurusan IPA)
2001 2004 : SLTPN 1 Patimuan
1995 2001 : SDN 1 Purwodadi

III. PENGALAMAN ORGANISASI


2010 2011 : Anggota Departemen Olah raga dan Kesenian BEM J Kesmas
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

IV. PENGALAMAN BEKERJA


Februari Maret 2011 : Magang Kerja bidang K3 di Project Novotel,
PT. Wijaya Kusuma Contractors
Oktober 2011 : Safety Man Project Turn Around Maintenance Chandra
Asri petrochemical di PT. Kota Minyak Internusa
Demikianlah daftar riwayat hidup ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Atas
perhatian dan kerjasama Bapak/Ibu saya ucapkan terima kasih
Bekasi, Juli 2014
Saya yang bertanda tangan

Dwi Ambang Prasetyo

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Taala yang telah memberikan


limpahan rahmat dan nikmat-Nya yang tak terbatas bagi penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan skripsi ini. Shalawat serta salam teruntuk Nabi Muhammad
SAW semoga kelak kita mendapat syafaat nya.
Skripsi dengan judul Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Dermatitis
Kontak Iritan Pada Tangan Pekerja Konstruksi yang Terpapar Semen di PT. Wijaya
Kusuma Contractors Tahun 2014 ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM). Penulis menyadari dalam
penyusunan laporan ini banyak kesulitan yang dihadapi, tapi dengan bantuan dari
berbagai pihak, penulisan laporan skripsi ini dapat terselesaikan. Maka dari itu pada
kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. (hc). dr. M. K. Tadjudin, Sp. And. ; selaku dekan Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ibu Febrianti ,M.Si ; selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas
2. Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.

3. Ibu Iting Shofwati, ST, MKKK; selaku dosen pembimbing pertama, terima kasih
ibu atas bimbingan, nasihat, ilmu, motivasi, saran-saran, dan doa yang sangat
berarti sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Minsarnawati, S.K.M, M.kes; selaku dosen pembimbing kedua, terima kasih
ibu atas bimbingan, saran-saran, arahan, motivasi, dan doa yang selalu ada selama
penyusunan skripsi.
5. dr. Yuli Prapanca Satar, MARS; selaku penguji sidang skripsi, terima kasih bapak
atas bimbingan, arahan serta kesediaan untuk memberikan waktu konsultasi selama
penyusunan skripsi.
6. Ibu Dewi Utami Iriani, M.Kes; selaku penguji sidang skripsi, terima kasih ibu atas

vii
bimbingan, arahan serta kesediaan untuk memberikan waktu konsultasi selama
penyusunan skripsi.
7. dr. Usep Saepul Imam, terima kasih atas saran, bimbingan, waktu serta bantuannya
selama proses pengumpulan data, semoga kebaikan dokter dibalas Allah SWT,
amin.
8. Bapak Andi Nugroho, S.T; selaku Project Manager, yang telah memberikan izin,
sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian di PT. Wijaya Kusuma
Contractors.
9. Para pekerja PT. Wijaya Kusuma Contractors terimakasih atas kerjasamanya dalam
proses pengumpulan data.
Selain itu dengan segala kerendahan hati penulis juga bermaksud mengucapkan
Special Thanks To :
1. Keluargaku Tercinta; Ayah dan Ibu, Kakak- adik; terimakasih banyak atas segala
dukungan baik moril maupun materil, serta doa yang tulus sehingga saya bisa
menyelesaikan kuliah dan menuju masa depan yang lebih cerah, amiin
2. Pacar tercinta Wiwin Widyastuti, terima kasih atas support yang kamu berikan
hingga akhirnya aku bisa lulus kuliah
3. Sobat karib; Asep Muadibu , Kholil, Asep Dani,Riswanto, Toni
4. Sahabat seperjuangan; Arif, Faiz, Vai, Fadhlie, Azhara, Agista, Yogie, Ricky, Hadi,
Zakiah, Rita,
5. Nur Najmi Laila, terima kasih banyak atas semua dukungan dan bantuan yang kamu
berikan hingga kami ( angkatan veteran ) akhirnya bisa lulus.
6. Sahabat-sahabat Kesmas angkatan 2007 (OPUS) FKIK UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, tetap semangat untuk masa depan yang lebih baik!!
7. Sanak family ; Tegar, Oko, Mput, Bulek, Om terima kasih atas dukungan
semangatnya
8. Dan seluruh pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak
langsung.

viii
Semoga semua bantuan yang telah diberikan mendapat balasan yang setimpal
dari Allah Subhanahu Wataala. Penulis dengan penuh kesadaran menyadari bahwa
la oran ini masih cacat dari kesempurnaan. Kritik dan saran yang membangun sangat
p arapkan oleh penulis. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
di
h Jakarta, Juli 2014
ix
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN .......................................................................... i

ABSTRAK ...................................................................................................... ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN ............................................................... iv

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...................................................................... vi

KATA PENGANTAR .................................................................................... vii

DAFTAR ISI................................................................................................... x

DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xv

DAFTAR BAGAN......................................................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 7
1.3 Pertanyaan Penelitian ........................................................................... 7
1.4 Tujuan Penelitian ................................................................................. 9
1.4.1 Tujuan Umum 9
1.4.2 Tujuan Khusus 9
1.5 Manfaat Penelitian ............................................................................... 11
1.5.2 Manfaat Bagi Perusahaan......................................................... 11
1.5.2 Manfaat Bagi Pekerja............................................................... 11
1.5.3 Manfaat Bagi Peneliti .............................................................. 11
1.6 Ruang Lingkup Penelitian.................................................................... 11

x
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kesehatan Kerja ................................................................................... 13
2.2 Proyek Konstruksi................................................................................ 13
2.3 Tenaga Kerja di Konstruksi ................................................................. 14
2.4 Paparan Semen. 17
2.4.1 Bahan Kimia Berbahaya yang Terkandung dalam Semen....... 19
2.5 Penyakit Akibat Kerja .......................................................................... 21
2.6 Penyakit Kulit Akibat Kerja................................................................. 21
2.7 Dermatitis Kontak Akibat Pekerjaan ................................................... 22
2.8 Dermatitis Kontak Iritan ...................................................................... 24
2.8.1 Definisi Dermatitis Kontak Iritan. 24
2.8.2 Epidemiologi Dermatitis Kontak Iritan 25
2.8.3 Patogenesis Dermatitis Kontak Iritan... 26
2.8.4 Gambaran Klinis Dermatitis Kontak Iritan... 29
2.8.5 Diagnosis Dermatitis Kontak Iritan.. 36
2.9 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis Kontak Iritan............. 39
2.9.1 Faktor Iritan.. 41
2.9.2 Faktor Individu 43
2.9.3 Faktor Lingkungan... 51
2.10 Kerangka Teori .................................................................................... 52

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL


3.1 Kerangka Konsep ................................................................................. 53
3.2 Definisi Operasional ............................................................................ 58
3.3 Hipotesis .............................................................................................. 60

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN


4.1. Jenis Penelitian..................................................................................... 61
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................................. 61
4.3. Populasi dan Sampel ............................................................................ 61
xi
4.4. Pengumpulan Data ............................................................................... 62
4.4.1. Sumber Data............................................................................. 62
4.4.2. Metode dan Instrumen ............................................................. 63
4.5. Pengolahan Data .................................................................................. 65
4.6. Analisis Data ........................................................................................ 66

B
AB V HASIL PENELITIAN
5.1
Gambaran Proses Kerja di Proyek Konstruksi .................................... 68
5.2
Analisis Univariat. 68

5.2.1 Gambaran Kejadian Dermatitis Kontak Iritan. 68

5.2.2 Gambaran Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis Kontak

Iritan.. 69
5.3
Analisis Bivariat. 73

5.3.1 Hubungan antara Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Dermatitis kontak Iritan dengan Kejadian Dermatitis

Kontak Iritan. 72

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian. 78

6.2 Kejadian Dermatitis Kontak Iritan 78

6.3 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis Kontak Iritan 80

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN

7.1 Simpulan 95

7.2 Saran.. 96

xii
DAFTAR TABEL

No.Tabel Halaman

3.1. Definisi Operasional ............................................................................................... 58


5.1. Distribusi Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Tangan Pekerja Konstruksi
yang Terpapar Semen di PT Wijaya Kusuma Contractors Tahun 2014..69
5.2. Distribusi Faktor Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis Kontak Iritan
pada Tangan Pekerja Konstruksi yang Terpapar Semen di PT Wijaya
Kusuma Contractors Tahun 2014.............................................................................70
5.3. Distribusi Faktor Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis Kontak Iritan
pada Tangan Pekerja Konstruksi yang Terpapar Semen
di PT Wijaya Kusuma Contractors Tahun 2014...70
5.4 Distribusi Faktor Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis Kontak Iritan
dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Tangan yang dialami Pekerja
Konstruksi yang Terpapar Semen di PT Wijaya Kusuma Contractors
Tahun 2014...74
5.5 Distribusi Faktor Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis Kontak Iritan
dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Tangan yang Dialami Pekerja
Konstruksi yang Terpapar Semen di PT Wijaya Kusuma Contractors
Tahun 2014 ..74
6.1 Tabulasi Silang Variabel Lama Kontak, Variabel Frenkuensi Mencuci Tangan
dan Variabel Dermatitis Kontak Iritan.83
6.2 Tabulasi Silang Variabel Usia, Variabel Frenkuensi Mencuci Tangan dan
Variabel Dermatitis Kontak Iritan....85
6.3 Tabulasi Silang Variabel Masa Kerja, Variabel Frenkuensi Mencuci Tangan
dan Variabel Dermatitis Kontak Iritan.87
6.4 Tabulasi Silang Variabel Jenis Keahlian Pekerja, Variabel Frenkuensi Mencuci
Tangan dan Variabel Dermatitis Kontak Iritan........89

xiii
6.5 Tabulasi Silang Variabel Jenis Riwayat penyakit Kulit Sebelumnya, Variabel
Frenkuensi Mencuci Tangan dan Variabel Dermatitis Kontak Iritan.91
6.6 Tabulasi Silang Variabel Penggunaan APD, Variabel Frenkuensi Mencuci
Tangan dan Variabel Dermatitis Konta Iritan..94

xiv
DAFTAR GAMBAR

No.Gambar Halaman

2.1. Salah Satu Jenis Semen Portland..........................................................................19


2.2. Anatomi Kulit Manusia.........................................................................................27
2.3. DKI akut akibat penggunaan pelarut industri.......................................................30
2.4. DKI kronis akibat efek korosif dari semen...........................................................31
2.5. DKI Reaksi Iritan..................................................................................................33
2.6. DKI gesekan......................................................................................................... 35
2.7. DKI Akneiform.................................................................................................35
2.8. DKI Asteatotik......................................................................................................36

xv
DAFTAR BAGAN

No.Bagan Halaman

2.1. Kerangka Teori ........................................................................................................52


3.1. Kerangka Konsep......................................................................................................57

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1
Latar Belakang

Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor yang penting dalam

pembangunan nasional. Perkembangan sektor konstruksi, khususnya dalam

pembangunan infrastruktur, mendukung terciptanya sarana dan prasarana sosial

dan ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat. Sektor konstruksi di Indonesia telah

tumbuh sejak awal 1970an. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa

kontribusi sektor konstruksi nasional terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB)

terus meningkat dari 3,9 % di tahun 1973 hingga mencapai lebih dari 8 % di tahun

1997. Meskipun sempat mengalami penurunan akibat krisis ekonomi sejak 1998

menjadi hanya sekitar 6 % di tahun 2002, namun sejak tahun 2003 sektor ini kembali

bangkit ditandai dengan peningkatan kontribusi terhadap PDB sebesar


10,33 % di triwulan kedua tahun 2013 (Suraji, 2007; BPS, 2013).

Seiring dengan berkembangnya industri konstruksi di Indonesia, berdampak

pula pada meningkatnya masalah keselamatan dan kesehatan kerja. Sektor

konstruksi adalah salah satu sektor yang paling berisiko terhadap masalah K3

disamping sektor utama lainnya yaitu pertanian, perikanan, perkayuan, dan

pertambangan. Hal ini dikarenakan kondisi proyek konstruksi yang lokasi kerjanya

berbeda-beda, terbuka, dipengaruhi cuaca, waktu pelaksanaan yang terbatas,

dinamis, menuntut ketahanan fisik yang tinggi, serta banyak menggunakan tenaga

kerja yang tidak terlatih (Wirahadikusumah, 2007).

1
dapat mengganggu pekerjaan. Di Amerika Serikat biaya yang digunakan untuk

menanggulangi kelainan kulit akibat kerja cukup besar,yang mencakup kehilangan

penghasilan, produktifitas dan pemindahan tenaga kerja, ganti rugi, biaya

pengobatan dan asuransi (Djunaedi , Lokomanto,2003). Walaupun penyakit ini

jarang membahayakan jiwa namun dapat menyebabkan morbiditas yang tinggi dan

penderitaan bagi pekerja, sehingga dapat mempengaruhi kebutuhan ekonomi dan

kualitas hidup penderita (Brown, 2004) 2

Salah satu masalah K3 yang muncul di proyek konstruksi adalah dermatitis

kontak (Australian Government,2006). Dermatitis kontak merupakan 50% dari

semua penyakit akibat kerja (PAK) (Kosasih,2004). Jika dibandingkan dengan

jenis pekerjaan lain, angka kejadian dermatitis kontak pada pekerja di bidang

konstruksi terbilang cukup tinggi. Menurut sebuah studi di Jerman (Diepgen,2003)

angka kejadian dermatitis kontak iritan pada pekerja di bidang konstruksi

menduduki peringkat ke 4 (dengan 8,1 kasus per 10.000 pekerja) dari 12 jenis

pekerjaan yang diteliti, setelah pekerja salon di urutan pertama (46,9 kasus/10.000

orang) tukang roti di urutan kedua (23,5 kasus/10.000 orang) dan tukang masak

/koki (16,9 kasus/10.000 orang).

Dermatitis kontak adalah suatu peradangan kulit yang disertai adanya

spongiosis/edema interseluler pada epidermis karena kulit berinteraksi dengan

bahan-bahan kimia yang berkontak atau terpajan pada kulit (Harahap M, 2000).

Dermatitis kontak dapat mengurangi produktifitas pekerja karena gejalanya yang


3

Terdapat dua jenis dermatitis kontak, yaitu dermatitis kontak iritan yang

merupakan respon nonimunologi dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan

oleh mekanisme imunologik spesifik (Djuanda, 2007). Menurut Siregar (2002)

dermatitis kontak alergi adalah suatu dermatitis (peradangan kulit) yang timbul

setelah kontak dengan alergen melalui proses sensitisasi. Sedangkan dermatitis

kontak iritan didefinisikan oleh Krasteva (1993) sebagai reaksi inflamasi pada

kulit yang disebabkan terpaparnya kulit dengan bahan bersifat iritan.

Menurut Keefner (2004) jumlah penderita dermatitis kontak alergik lebih

sedikit dibanding jumlah penderita dermatitis kontak iritan karena hanya mengenai

orang yang kulitnya sangat peka (hipersensitif). Dermatitis kontak iritan timbul pada

80 % dari seluruh penderita dermatitis kontak.

Dermatitis kontak pada pekerja konstruksi terjadi akibat kontak dengan

bahan atau material yang banyak digunakan di proyek konstruksi seperti semen

(Winder C, Carmody M, 2002). Meskipun saat ini mekanisme kerja di proyek

konstruksi sudah cukup maju dan banyak mempergunakan beton siap pasang

(precast concrete section ) akan tetapi kontak antara tangan pekerja dengan semen

masih banyak ditemui (Frimat P, 2002). Dari beberapa literatur yang ada,

diketahui semen mengandung komposisi bahan bahan yang dapat menyebabkan

dermatitis kontak iritan karena komposisi alkali (kapur) didalamnya

(Mulyono,2005 ; Fregert, 1981).

Dari hasil sebuah studi di Jerman yang dilakukan oleh M Bock, et all pada

tahun 2003 mengenai insiden penyakit kulit akibat kerja di proyek konstruksi

diperoleh 5,1 kasus per 10.000 pekerja. Insiden tertinggi dialami oleh tile setter
4

and terazzo worker (pekerja pemasang lantai/terrazzo) yaitu 19,9 kasus per 10.000

pekerja, selanjutnya adalah painter (tukang cat) 7,8 kasus per 10.000 pekerja, dan

construction and cement worker ( termasuk, tukang plester, pembantu tukang, dan

pekerja pengaduk semen) 5,2 kasus per 10.000 pekerja. Sebagian besar penyakit

kulit yang diderita adalah dermatitis kontak, hanya sebesar 26,6 % yang menderita

penyakit kulit selain dermatitis kontak. Jika dilihat dari bagian tubuh pekerja yang

menderita dermatitis, tangan merupakan bagian yang paling banyak mengalami

dermatitis kontak yaitu sebanyak 73,7 % dari seluruh kasus penyakit kulit di

proyek konstruksi.

Di Indonesia, data mengenai insiden dan prevalensi penyakit kulit seperti

dermatitis kontak pada proyek konstruksi sulit didapat. Umumnya pelaporan tidak

lengkap sebagai akibat tidak terdiagnosisnya atau tidak terlaporkannya penyakit

tersebut (Kompas, 2007 dalam Florence,2008). Penelitian tentang penyakit kulit

akibat kerja di Indonesia sebenarnya sudah banyak dilakukan,diantanya

dermatitis akibat kerja pada pekerja perkebunan karet, dermatitis akibat kerja pada

pengrajin batik, dermatitis akibat kerja pada pabrik penyamakan kulit,dan

sebagainya, akan tetapi penelitian mengenai dermatitis akibat kerja pada pekerja

konstruksi jarang dilakukan (Widjajahakim, 2001). Hasil penelitian Widjajahakim

(2001) pada pekerja konstruksi di Kodya Semarang menunjukkan sebanyak 25

dari 600 pekerja konstruksi yang dilakukan skrining dermatologi secara klinis

menderita dermatitis kontak.

Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (A2K4)

Indonesia menilai perlindungan keselamatan pekerja konstruksi di Indonesia


5

selama ini masih minim. Sejauh ini, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)

hanya dilakukan perusahaan konstruksi skala besar. Jumlah perusahaan konstruksi di

Indonesia saat ini mencapai lebih dari 100 ribu unit, perusahaan konstruksi yang

berskala besar ada sekitar 150 unit, selebihnya adalah skala menengah ke bawah.

Perusahaan besar umumnya memiliki sertifikasi K3 yang seperti menjadi keharusan,

karena para mitra perusahaan, terutama dari luar negeri memang menjadikannya

sebagai prasyarat. Penerapan program K3 pada perusahaan konstruksi skala

menengah ke bawah masih minim dikarenakan karena masih kurangnya kesadaran

dan tuntutan dari mitra perusahaan konstruksi tersebut untuk menerapkan program

K3 secara maksimal (Antara News, 2011).

PT. Wijaya Kusuma Contractors merupakan salah satu perusahaan

konstruksi skala menengah yang berkantor di Jakarta. Salah satu proyek konstruksi

yang dikerjakan adalah pembangunan rumah tinggal dengan tiga lantai di Jakarta

Pusat. Jenis pekerjaan yang kontak dengan semen yang ditemukan antara lain

pemasangan bata, pemasangan keramik, pemlesteran dan pengacian dinding.

Terdapat kurang lebih 20-30 orang pekerja yang melakukan pekerjaan tersebut.

Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan di proyek tersebut terhadap 10

orang pekerja yang kontak dengan semen, melalui wawancara dan observasi gejala

klinis yg dilakukan oleh peneliti, ditemukan 3 orang pekerja dengan hasil

wawancara dan gejala klinis yang mengarah kepada dermatitis kontak iritan kronis

akibat terpapar semen pada tangan, seperti kulit kemerahan, pelepasan lapisan

kulit yg mati, terdapat retakan (fisura) pada ujung jari. Dari hasil wawancara juga

diketahui bahwa pekerja tersebut terpapar semen dalam waktu


6

yang cukup lama yaitu 3 bulan, tidak memakai sarung tangan, bekerja dalam suhu

dan kelembaban yang tinggi, sering mencuci tangan saat bekerja, dan terus

menerus melakukan pekerjaan yang kontak dengan semen. Tujuh orang pekerja

lainnya merupakan pekerja yang belum lama bekerja di proyek tersebut, sehingga

belum menampakkan adanya gejala yang mengarah pada dermatitis kontak iritan,

meskipun ada kemungkinan pekerja tersebut hanya menderita dermatitis kontak

iritan kategori ringan.

Dari hasil-hasil penelitian sebelumnya (Fregert (1998), Safeguard (2000),

Streit (2001), Djuanda (2003), Beltrani et all (2006) , Erliana (2008), Hogan

(2009), Mausulli (2010), Suryani (2011) dan Adillah (2012), diketahui faktor-

faktor yang mempengaruhi terjadinya dermatitis kontak iritan secara umum dapat

dikelompokkan menjadi 3 faktor utama yaitu dari faktor iritan itu sendiri (ukuran

molekul, konsentrasi / jumlah, daya larut, vehikulum, suhu, lama kontak,

terjadinya gesekan) faktor lingkungan ( suhu dan kelembaban yang tinggi, suhu

dan kelembaban yang rendah) dan faktor individu (ketebalan kulit di berbagai

permukaan kulit, usia, ras, jenis kelamin, masa kerja, riwayat penyakit kulit yang

sedang dialami frekuensi mencuci tangan ketika bekerja, dan penggunaan Alat

Pelindung Diri (APD)).

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin mengetahui faktor-faktor

yang mempengaruhi kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja

konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors. Dengan

adanya penelitian ini diharapkan dapat dilakukan tindakan preventif pada pekerja
7

untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja seperti dermatitis kontak iritan di

PT. Wijaya Kusuma Contractors.

1.2 Rumusan Masalah

Dari hasil studi pendahuluan di salah satu proyek yg di kerjakan PT. Wijaya

Kusuma Contractors terhadap 10 pekerja yg terpapar semen, ditemukan 3 orang

pekerja dengan hasil wawancara dan gejala klinis yang mengarah kepada

dermatitis kontak iritan kronis akibat pada tangan. Berdasarkan teori dari

penelitian penelitian sebelumnya diketahui faktor faktor yang mempengaruhi

dermatitis kontak iritan antara lain faktor iritan itu sendiri ( lama kontak, jenis

keahlian pekerja) dan faktor individu (usia, masa kerja, riwayat penyakit kulit

yang sedang dialami , frekuensi mencuci tangan ketika bekerja dan penggunaan

APD). Dengan demikian diperlukan suatu penelitian yang membuktikan adanya

faktor-faktor yang berhubungan dengan dermatitis kontak iritan pada pekerja

konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors.

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja

konstruksi yang terpapar dengan semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors?

2. Bagaimana gambaran lama kontak tangan pekerja dengan semen di PT.

Wijaya Kusuma Contractors?

3. Bagaimana gambaran jenis keahlian pekerja di PT. Wijaya Kusuma

Contractors?

4. Bagaimana gambaran usia pekerja PT. Wijaya Kusuma Contractors?


8

5. Bagaimana gambaran masa kerja pekerja di PT. Wijaya Kusuma Contractors ?

6. Bagaimana gambaran riwayat penyakit sebelumnya yang sedang diderita oleh

pekerja di PT. Wijaya Kusuma Contractors ?

7. Bagaimana gambaran frekuensi mencuci tangan yang dilakukan pekerja di PT.

Wijaya Kusuma Contractors ?

8. Bagaimana gambaran penggunaan APD di PT. Wijaya Kusuma Contractors?

9. Apakah ada hubungan antara lama kontak tangan pekerja dengan semen

dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi di PT.

Wijaya Kusuma Contractors?

10. Apakah ada hubungan antara jenis keahlian pekerja dengan kejadian dermatitis

kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi di PT. Wijaya Kusuma

Contractors?

11. Apakah ada hubungan antara usia pekerja dengan kejadian dermatitis kontak

iritan pada tangan pekerja konstruksi di PT. Wijaya Kusuma Contractors?

12. Apakah ada hubungan antara masa kerja pekerja dengan kejadian dermatitis

kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi di PT. Wijaya Kusuma

Contractors?

13. Apakah ada hubungan antara riwayat penyakit sebelumnya yang sedang

diderita pekerja dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja

konstruksi di PT. Wijaya Kusuma Contractors?

14. Apakah ada hubungan antara frekuensi mencuci tangan yang dilakukan pekerja

dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi di PT.

Wijaya Kusuma Contractors?


9

15. Apakah ada hubungan antara penggunaan APD dengan kejadian dermatitis

kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi di PT. Wijaya Kusuma

Contractors?

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis

kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar dengan semen di

PT. Wijaya Kusuma Contractors tahun 2014

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Diketahuinya gambaran kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan

pekerja konstruksi yang terpapar dengan semen di PT. Wijaya Kusuma

Contractors .

2. Diketahuinya gambaran lama kontak tangan pekerja dengan semen di

PT. Wijaya Kusuma Contractors .

3. Diketahuinya gambaran jenis keahlian pekerja di PT. Wijaya Kusuma

Contractors .

4. Diketahuinya gambaran usia pekerja di PT. Wijaya Kusuma Contractors.

5. Diketahuinya gambaran masa kerja pekerja di PT. Wijaya Kusuma

Contractors.

6. Diketahuinya gambaran riwayat penyakit sebelumnya yang diderita

pekerja di PT. Wijaya Kusuma Contractors


10

7. Diketahuinya gambaran frekuensi mencuci tangan yang dilakukan

pekerja di PT. Wijaya Kusuma Contractors.

8. Diketahuinya gambaran penggunaan APD pada pekerja yang terpapar

semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors.

9. Diketahuinya hubungan antara lama kontak tangan pekerja dengan semen

dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi

yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors.

10. Diketahuinya hubungan antara jenis keahlian pekerja dengan kejadian

dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar

semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors

11. Diketahuinya hubungan antara usia pekerja dengan kejadian dermatitis

kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT.

Wijaya Kusuma Contractors

12. Diketahuinya hubungan antara masa kerja pekerja dengan kejadian

dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar

semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors

13. Diketahuinya hubungan antara riwayat penyakit sebelumnya yang

diderita pekerja dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan

pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma

Contractors

14. Diketahuinya hubungan antara frekuensi mencuci tangan yang dilakukan

pekerja dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja

konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors


11

15. Diketahuinya hubungan antara penggunaan APD dengan kejadian

dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar

semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors.

1.5
Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Bagi Perusahaan

Dapat melakukan upaya-upaya perlindungan terhadap pekerja agar terhindar

dari penyakit akibat kerja khususnya resiko terjadinya dermatitis kontak

iritan.

1.5.2 Manfaat Bagi Pekerja

Menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai bahaya di tempat kerja

khususnya mengenai dermatitis kontak sehingga pekerja dapat melakukan

upaya-upaya perlindungan agar terhindar dari penyakit tersebut.

1.5.3 Manfaat Bagi Peneliti


1. Dapat mengaplikasikan ilmu tentang keselamatan dan kesehatan kerja

yang diterima selama kuliah dalam lingkungan kerja yang sesungguhnya

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi kalangan akademisi

sebagai informasi bagi penelitian selanjutnya.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan

kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan yang dialami pekerja yang terpapar

semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors tahun 2014. Penelitian akan


12

dilaksanakan pada bulan April Juni 2014 oleh mahasiswa jurusan Kesehatan

Masyarakat, Peminatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta di salah satu proyek yang sedang dikerjakan oleh PT Wijaya

Kusuma Contractors yaitu Proyek Temprint yang berlokasi di Palmerah, Jakarta

Barat. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan metode pendekatan

potong lintang (cross sectional). Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh

pekerja yang kontak dengan semen (total sampling). Hal ini dikarenakan karena

proyek ini tidak terlalu besar, sehingga tidak mempekerjakan banyak pekerja.

Data-data yang diperoleh berasal dari data primer. Data primer didapatkan dari

hasil pemeriksaan klinis, kuesioner dan observasi.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Kesehatan Kerja

Menurut Undang-Undang Pokok Kesehatan RI No. 9 Tahun 1960, BAB I

pasal 2, Kesehatan kerja adalah suatu kondisi kesehatan yang bertujuan agar

masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik

jasmani, rohani, maupun sosial, dengan usaha pencegahan dan pengobatan

terhadap penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh pekerjaan dan

lingkungan kerja maupun penyakit umum

Tujuan dari kesehatan kerja yaitu untuk menciptakan tenaga kerja yang sehat

dan produktif dan dapat dicapai bila didukung oleh lingkungan kerja yang

memenuhi syarat kesehatan. Salah satu tujuan dari pelaksanaan kesehatan kerja

dalam bentuk operasional adalah pencegahan penyakit akibat kerja

(Notoatmodjo,2003)

2.2 Proyek Konstruksi

Menurut Gould (2002) mendefinisikan proyek konstruksi sebagai suatu

kegiatan yang bertujuan untuk mendirikan suatu bangunan yang membutuhkan

sumber daya baik biaya, tenaga kerja, material, dan peralatan. Proyek konstruksi

dilakukan secara detail dan tidak berulang.

Dari pengertian dan batasan di atas, maka dapat dijabarkan beberapa

karakteristik proyek sebagai berikut :

13
14

1. Waktu proyek terbatas, artinya jangka waktu, waktu mulai (awal proyek dan

waktu finish (akhir proyek) sudah tertentu.

2. Hasilnya tidak berulang, artinya produk suatu proyek hanya sekali, bukan

produk rutin/berulang (Pabrikasi).

3. Mempunyai tahapan kegiatan-kegiatan berbeda-beda, dengan pola di awal sedikit,

berkembang makin banyak, menurun dan berhenti.

4. Intensitas kegiatan-kegiatan (tahapan, perencanaan, tahapan perancangan dan

pelaksanaan).

5. Banyak ragam kegiatan dan memerlukan klasifikasi tenaga beragam pula.

6. Lahan/lokasi proyek tertentu, artinya luasan dan tempat proyek sudah

ditetapkan, tidak dapat sembarang tempat.

7. Spesifikasi proyek tertentu, artinya persyaratan yang berkaitan dengan bahan,

alat, tenaga dan metoda pelaksanaannya yang sudah ditetapkan dan harus

memenuhi prosedur persyaratan tersebut.

Proses pembangunan proyek konstruksi pada umumnya merupakan kegiatan

yang banyak mengandung unsur bahaya. Hal tersebut menyebabkan proyek

konstruksi memiliki catatan yang buruk dalam hal keselamatan dan kesehatan

kerja (Ervianto, 2005)

2.3 Tenaga Kerja di Konstruksi

Tenaga kerja adalah salah satu komponen penting dalam industri jasa

pelaksanaan konstruksi (Alfian,2010). Hampir semua bagian dan detail pekerjaan

konstruksi masih memerlukan tenaga kerja manusia. Secara umum terdapat lima
15

macam tenaga kerja dalam bidang konstruksi yaitu konsultan, arsitektur,

pengawas, mandor dan tukang (Wibowo dan Pasulu, 2009)

Tenaga kerja yang paling beresiko terpapar bahaya di proyek konstruksi

adalah tukang, karena tukang adalah tenaga kerja yang kontak langsung dengan

hazard di tempat kerja . Tukang di kepalai oleh kepala tukang atau disebut

mandor, setiap mandor biasanya membawahi belasan hingga ratusan tukang.

Dalam melakukan pekerjaannya, tukang juga dibantu oleh kenek (Wibowo dan

Pasulu, 2009)

Tukang yang dibutuhkan dalam suatu proyek konstruksi untuk berbagai jenis

pekerjaan yang ada dilapangan akan berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Menurut Ikatan Arsitek Indonesia perbedaan ini disebabkan karena setiap jenis

pekerjaan konstruksi yang dilakukan membutuhkan keahlian yang berbeda beda

(Wibowo dan Pasulu, 2009)

Menurut Alfian (2010), pembagian spesifikasi tukang berdasarkan keahliannya

adalah sebagai berikut :

a. Tukang Rangka Baja

b. Tukang Kayu

c. Tukang Listrik / Instrumen

d. Tukang Besi

e. Tukang Keramik

f. Tukang Batu

g. Tukang Cat

h. Tukang Batu
16

i. Tukang Pemasang Pipa

j. Dan lain sebagainya

Biasanya seorang tukang hanya dapat mendalami satu keahlian saja, namun

ada juga tukang yang dapat menguasai lebih dari satu keahlian. Contohnya tukang

keramik dapat mengerjakan tugas dari tukang batu namun tidak semua tukang batu

dapat mengerjakan tugas seorang tukang keramik.

Bock, et all (2003) dalam sebuah penelitian di Jerman tentang penyakit kulit

akibat kerja di konstruksi, mengklasifikasikan tenaga kerja menjadi 4 kelompok

yaitu :

1. Construction and cement workers ( tukang yg berhubungan langsung dengan

bangunan dan semen ) termasuk di dalamnya yaitu bricklayers ( tukang

batu/tembok), cement workers ( tukang pengaduk semen), unskilled construction

workers (kenek) dan plasterers ( tukang plester dan aci )

2. Tile setter and terrazzo workers ( tukang keramik dan terazo)

3. Wood processor (tukang yang berhubungan dengan perkayuan) termasuk

didalamnya yaitu carpenter (tukang kayu), dan tillers (tukang pasak)

4. Painters (tukang cat).

Berdasarkan penelitian tersebut, tukang keramik dan terazo diketahui memiliki

angka kejadian penyakit kulit akibat kerja tertinggi dengan 19,9 kasus per 10.000

pekerja, selanjutnya adalah tukang cat dengan 7,8 kasus , tukang yang berhubungan

dengan bangunan dan semen 5,2 kasus dan yang terakhir tukang yang

berhubungan dengan perkayuan dengan 2,6 kasus.


17

Kaitannya dengan paparan semen, tukang yang beresiko antara lain

bricklayer ( tukang batu/tembok), cement worker ( tukang pengaduk semen),

unskilled construction worker (kenek), plasterers ( tukang plester dan aci ) serta

setter and terrazzo workers ( tukang keramik dan terazo) karena pekerjaan tersebut

menggunakan semen dalam pengaplikasiannya.

2.4
Paparan Semen

Semen merupakan bahan yang banyak digunakan di proyek konstruksi. Salah

satu komposisi dari beton adalah semen. Semen berasal dari kata caementum yang

berarti perekat yang mampu mempersatukan atau mengikat bahan-bahan padat

menjadi satu kesatuan yang kokoh atau suatu produk yang berfungsi sebagai bahan

perekat antara dua bahan atau lebih bahan sehingga menjadi suatu bagian yang

kompak atau dalam pengertian yang luas adalah material plastis yang memberikan

sifat rekat antara batuan-batuan konstruksi bangunan (Walter, 1976)

Semen dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu semen non - hidrolik
dan semen hidrolik. Semen non-hidrolik tidak dapat mengikat dan mengeras di

dalam air, akan tetapi dapat mengeras di udara. Contoh utama dari semen non-

hidrolik adalah kapur. Sedangkan semen hidrolik memiliki kemampuan untuk

mengikat dan mengeras didalam air. Contoh semen hidrolik antara lain kapur

hidrolik, semen pozzolan, semen terak, semen alam, semen portland, semen-

portland-pozzolan, semen portlan terak tanur tinggi, semen alumina, semen

expansif, semen putih, semen warna, dan semen-semen untuk keperluan khusus

(Mulyono, 2005).
18

Pada umumnya, semen untuk bahan bangunan adalah tipe semen portland.

Semen ini dibuat dengan cara menghaluskan silikat-silikat kalsium yang bersifat

hidrolis dan dicampur bahan gips. Semen portland merupakan perekat hidrolis

yang dihasilkan dari penggilingan klinker yang kandungan utamanya adalah kalsium

silikat dan satu atau dua buah bentuk kalsium sulfat sebagai bahan tambahan

(Puslitbang Pemukiman, 1982) Penemu semen (semen portland) adalah Joseph

Aspadin di tahun 1824, seorang tukang batu berkebangsaan Inggris dinamakannya

portland cement karena semen yang dihasilkannya mempunyai warna serupa dengan

tanah liat alam pulau portland. Komposisi yang sebenarnya dari berbagai senyawa

yang ada berbeda-beda dari jenis semen yang satu dengan yang lain, untuk berbagai

jenis semen ditambahkan berbagai jenis material mentah lainnya.

Bahan pembentuk semen portland antara lain :

a. Kapur (CaO) , dari batu kapur

b. Silika (SiO2), dari tanah lempung

c. Alumunium (Al2O3)

Sedangkan bahan utama campuran semen portland antara lain :

a. Trikalsium Silikat (3CaO.SiO2) atau C3S

b. Dikalsium Silikat (2CaO.SiO2) atau C2S

c. Trikalsium Aluminat (3CaO.Al 2O3) atau C3A

d. Tetrakalsium Alumino Ferrid (4 CaO.Al 2O3.Fe2O3) atau C4AF

e. Gypsum (CaSO4.2H2O)
19

Gambar 2.1 Salah Satu Jenis Semen Portland

2.4.1 Bahan Kimia Berbahaya Yang Terkandung Dalam Semen

Semen yang paling banyak digunakan saat ini terutama mengandung

kalsium, silikat, alumunium, dan senyawa besi. Selain itu, semen juga

mengandung kromium (VI) atau disebut juga dengan kromat dalam jumlah

yang sedikit. Kromat dikenal sebagai penyebab utama terjadinya dermatitis

kontak pada pekerja yang sering terpapar (kontak) dengan semen

(Mulyono,2005).

Kromium adalah baja berwarna abu-abu, logam yang mengkilat, yang

digunakan digunakan pada industri baja krom atau bijih nikel krom

(stainless steel) dan untuk pelapis krom logam lain (Marks & Deleo, 1992).

Menurut Cronin (1980), Pajanan kromium terhadap kulit dapat

menimbulkan dermatitis kontak alergi dan dermatitis kontak iritan,

Dermatitis kontak iritan primer dihubungkan dengan kandungan kromium

yang bersifat sitotoksik (merusak sel), sementara itu dermatitis kontak alergi

diakibatkan adanya respon inflamasi yang diperantarai oleh sistem imun.

Menurut Mulyono (2005) yang mengutip pendapat Cronin(1980)

mengemukakan bahwa kandungan kromat dalam semen tidak dapat


20

diturunkan meskipun dengan melakukan penggantian bahan mentah atau

merubah proses pembuatan. Namun, telah ditemukan suatu cara yaitu

dengan cara penambahan fero sulfat dapat menurunkan bentuk kromium

(VI) menjadi kromium (III) yang tidak bersifat iritan dan allergen terhadap

kulit. Fero sulfat merupakan senyawa kimia yang tidak mahal, jumlah yang

dibutuhkan untuk menurunkan kromat sangat sedikit dan keberadaannya tidak

mempengaruhi senyawa lain dalam semen.

Semen dapat menyebabkan dermatitis dengan mekanisme adanya

iritasi dan atau sensititasi dengan kromat. Semen yang pada kenyataannya

adalah agen yang bersifat alkali, abrasif, dan hidroskopis diduga menjadi

alasan mengapa lebih banyak pria yang alergi terhadap kromat dalam semen

daripada lewat kontak dengan sumber lain yang mempunyai konsentrasi

kromat yang sama (Mulyono, 2005). Semen portland mempunyai pH lebih

dari 12 sehingga bersifat alkalis yang kuat yang dapat menyebabkan

dermatitis kontak iritan primer. Bahan alkalis pada konsentrasi yang kecil

apabila kontak berulang-ulang dengan kulit juga dapat menimbulkan

dermatitis kontak iritan kumulatif, dengan gejala gatal-gatal, fisura, dan

nyeri pada daerah kulit yang terpapar ( Fregert, 1981)

Menurut Cronin (1980), semen yang kering relatif tidak berbahaya

dan sangat sedikit kasus dermatitis akibat semen yang terjadi di pabrik- pabrik

pembuatan semen. Semen yang basah lebih bersifat alkali dibanding semen

kering karena air membebaskan kalsium hidroksida menyebabkan


21

peningkatan pH dan adanya campuran dengan pasir yang bersifat abrasif

yang secara mekanis dapat mengiritasi kulit dan menyebabkan dermatitis.

2.5 Penyakit Akibat Kerja

Penyakit akibat kerja (PAK) adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh

pekerjaan atau lingkungan kerja. Penyakit ini timbul disebabkan oleh adanya

pekerjaan. Berat ringannya penyakit dan cacat tergantung dari jenis dan tingkat sakit

sehingga sering kali terjadi cacat yang berat sehingga pencegahannya lebih baik

daripada pengobatan (Anies, 2005).

Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang

berhubungan dengan pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa status kesehatan kerja dari masyarakat

pekerja bukan hanya dipengaruhi oleh bahaya-bahaya kesehatan ditempat kerja dan

lingkungan kerja, tetapi juga faktor-faktor pelayanan kesehatan kerja, perilaku kerja

serta faktor-faktor lainnya (Depkes RI, 1992)

2.6 Penyakit Kulit Akibat Kerja

Menurut Wahyudi (2005), penyakit kulit akibat kerja atau Occupational

Dermatitis adalah penyakit kulit yang disebabkan atau diperburuk oleh pekerjaan

seseorang. Nama lain Occupational Dermatitis adalah dermatitis industrial,

dermatitis kontak, dermatitis kontak eksematosa , dermatitis iritan primer dan

dermatitis eksematosa alergika.


22

Menurut Sumamur (2009) Penyebab dari penyakit ini dapat digolongkan atas:

a. Faktor Mekanik

Gesekan, tekanan trauma, menyebabkan hilangnya barrier sehingga memudahkan

terjadinya sekunder infeksi. Penekanan kronis menimbulkan penebalan kulit

seperti pada kuli bangunan dan pelabuhan.

b. Faktor Fisik

1. Suhu tinggi di tempat kerja dapat menyebabkan miliara, combustion.

2. Suhu rendah menyebabkan chillblains, trenchfoot, frostbite.

3.Kelembaban yang menyebabkan kulit menjadi basah, hal ini dapat

menyebabkan malerasi, paronychia dan penyakit jamur.

c. Faktor Biologi

Bakteri, virus, jamur, serangga, kutu, cacing menyebabkan penyakit pada

karyawan pelabuhan, rumah potong, pertambangan, peternakan, tukang cuci

dan lain-lain.

d. Faktor Kimia

Apabila kulit terpapar dengan bahan kimia dapat terjadi kelainan kulit berupa

dermatitis kontak iritasi atau dermatitis kontak alergi

2.7 Dermatitis Kontak Akibat Pekerjaan

Dermatitis kontak akibat pekerjaan (occupational contact dermatitis) secara

medis dapat diartikan sebagai dermatitis kontak dimana pekerjaan merupakan

penyebab utama atau salah satu diantara faktor-faktor yang menyebabkan

dermatitis kontak tersebut. Menurut Fregert (1981), beberapa keadaan yang harus
23

mendapatkan perhatian dalam suatu penelitian akan kecurigaan akibat pekerjaan

adalah :

1. Adanya kontak dengan bahan-bahan yang diketahui menimbulkan dermatitis,

baik produk yang sudah ada selama bertahun-tahun maupun produk yang baru

saja diperkenalkan dapat menjadi penyebabnya.

2. Adanya dermatitis dengan tipe serupa pada orang lain yang bekerja pada

pekerjaan yang sama. Jika banyak orang yang terkena pada suatu tempat kerja

dalam saat yang bersamaan, maka keadaan tersebut lebih mungkin merupakan

reaksi iritan dari pada reaksi alergi.

3. Adanya waktu antara kontak dan timbulnya kelainan. Adakalanya dermatitis

alergik timbul tidak lebih cepat dari 4 5 hari setelah kontak

4. Gambaran dan lokalisasinya mempunyai persamaan dengan kasus-kasus yang

sudah pasti lainnya. Namun demikian, apabila ada beberapa faktor yang turut

mempengaruhi terjadinya kelainan tersebut, maka gambarannya bisa berubah.

Lokasinya biasanya pada kedua belah tangan tanpa gambaran yang spesifik

5. Serangan terjadi ketika melakukan pekerjaan tertentu, sementara kesembuhan

dapat dilihat ketika melakukan pekerjaan lainnya atau ketika cuti sakit, liburan,

ataupun setelah berakhir pekan

6. Kalau ada hubungan antara riwayat pemyakit dan reaksi test yang positif, maka

hal ini merupakan bukti yang kuat.

7. Adakalanya 10 - 20% dari karyawan sendiri mengeluhkan penyakit kulit akibat

pekerjaan. Dalam hal ini sebaiknya dilakukan kunjungan ketempat kerja dan

menyelidiki semua hal yang dikeluhkan. Hasilnya sering menunjukkan bahwa


24

satu atau dua orang karyawan menderita penyakit kulit akibat kerja sedangkan

yang lainnya penyakit kulit biasa. Dasar keluhan tersebut kerapkali berupa

pengaruh psikologis pada tempat kerja tersebut.

8. Kita mungkin beranggapan bahwa proses otomatisasi dalam industri berarti

adanya pengaman terhadap kemungkinan kontak antara zat-zat kimia dan kulit,

tetapi sebetulnya masih banyak kontak dengan yang lain, misalnya dalam

pengangkutan bahan mentah, penyimpanan dalam karung atau drum yang

sudah terkontaminasi, penimbangan bahan kimia, pengisian bahan-bahan

pewarna, pengawet dan lain-lain, pengambilan sampel bahan yang sedang

kontrol, pemeriksaan laboratorium, kebocoran pada lantai, bejana, kran, dan lain-

lain, pembersihan bejana, perbaikan hasil akhir serta pembuangan sampah.

2.8 Dermatitis Kontak Iritan

2.8.1 Definisi Dermatitis Kontak Iritan

Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan

nonimunologik pada kulit yang disebabkan oleh kontak dengan faktor

eksogen maupun endogen. Faktor eksogen berupa bahan-bahan iritan

(kimiawi, fisik,maupun biologik) dan faktor endogen memegang peranan

penting pada penyakit ini (Wolff et all, 2008).

Pada tahun 1898, dermatitis kontak pertama kali dipahami memiliki

lebih dari satu mekanisme, dan saat ini secara general dibagi menjadi

dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi. Dermatitis kontak

iritan berbeda dengan dermatitis kontak alergi, dimana dermatitis kontak


25

iritan merupakan suatu respon biologis pada kulit berdasarkan variasi dari

stimulasi eksternal atau bahan pajanan yang menginduksi terjadinya

inflamasi pada kulit tanpa memproduksi antibodi spesifik (Chew and

Howard, 2006).

Dermatitis kontak iritan lebih banyak tidak terdeteksi secara klinis

disebabkan karena penyebabnya yang bermacam-macam dan interval

waktu antara kontak dengan bahan iritan serta munculnya ruam tidak dapat

diperkirakannya. Dermatitis muncul segera setelah pajanan dan tingkat

keparahannya ditentukan berdasarkan kuantitas, konsentrasi, dan lamanya

terpajan oleh bahan iritan tersebut ( Buxton , 2003).

Penanganan dermatitis kontak tidak selamanya mudah karena

banyak dan seringnya faktor-faktor tumpang tindih yang memicu setiap

kasus dermatitis (Grawkrodjer, 2002). Pencegahan bahan-bahan iritasi

kulit adalah strategi terapi yang utama pada dermatitis kontak iritan (Levin

et all, 2006)

2.8.2 Epidemiologi Dermatitis Kontak Iritan

Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari berbagai

golongan umur, ras, dan jenis kelamin. Data epidemiologi penderita

dermatitis kontak iritan sulit didapat. Jumlah penderita dermatitis kontak

iritan diperkirakan cukup banyak, namun sulit untuk diketahui jumlahnya.

Hal ini disebabkan antara lain oleh banyak penderita yang tidak datang

berobat karena kelainan ringan (Sularsito dan Djuanda, 2008).


26

Dari data yang didapatkan dari U.S. Bureau of Labour Statistic

menunjukkan bahwa 249.000 kasus penyakit okupasional nonfatal pada

tahun 2004 untuk kedua jenis kelamin , 15,6 % (38.900 kasus) adalah

penyakit kulit yang merupakan penyebab kedua terbesar untuk semua

penyakit okupasional. Juga berdasarkan survey tahunan dari institusi yang

sama, bahwa incident rate untuk penyakit okupasional pada populasi

pekerja di Amerika , menunjukkan 90-95 % dari penyakit okupasional

adalah dermatitis kontak, dan 80% dari penyakit di dalamnya adalah

dermatitis kontak iritan (Wolff et all, 2008; Wolff C et all, 2005).

Sebuah kusioner penelitian diantara 20.000 orang yang dipilih secara

acak di Sweden melaporkan bahwa 25% memiliki perkembangan gejala

selama tahun sebelumnya. Orang yang bekerja pada industri berat, mereka

yang bekerja bersentuhan dengan bahan kimia keras yang memiliki

potensial merusak kulit dan mereka yang diterima untuk mengerjakan

pekerjaan basah secara rutin memiliki faktor resiko, dan mereka yang

tergolong muda, kuat, laki-laki yang dipekerjakan sebagai pekerja metal,

pekerja karet, terapist kecantikan, dan tukang roti (Dinah,2003).

2.8.3 Patogenesis Dermatitis Kontak Iritan

Kulit adalah organ yang terletak paling luar dan membatasinya dari

lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1,5 -1,75 m2 dengan

berat kira-kira 15% berat badan, rata-rata tebal kulit 1-2 mm, paling tebal (
27

16 mm) terdapat di telapak tangan dan kaki, dan paling tipis (0,5 mm)

terdapat di penis ( Harahap, 2000)

Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama

yaitu lapisan epidermis atau kutikel, lapisan dermis, dan lapisan subkutis.

Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis, subkutis

ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel dan jaringan

lemak (Tortora, Derrickson, 2009).

Gambar 2.2 Anatomi Kulit Manusia

Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan

iritan melalui kerja kimiawi atau fisis. Bahan iritan merusak lapisan tanduk

(lapisan epidermis), denaturasi keratin, menyingkirkan lemak lapisan

tanduk dan mengubah daya ikat air kulit. Kebanyak bahan iritan (toksin)

merusak membran lemak keratinosit tetapi sebagian dapat menembus

membran sel dan merusak lisosom, mitokondria atau komplemen inti

(Strait, 2001).
28

Kerusakan membran mengaktifkan fosfolipase dan melepaskan asam

arakidonat (AA), diasilgliserida (DAG), faktor aktivasi platelet, dan inositida

(IP3). AA dirubah menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrien (LT). PG

dan LT menginduksi vasodilatasi, dan meningkatkan permeabilitas

vaskuler sehingga mempermudah transudasi komplemen dan kinin. PG dan

LT juga bertindak sebagai kemotraktan kuat untuk limfosit dan neutrofil,

serta mengaktifasi sel mast melepaskan histamin, LT dan PG lain, dan PAF,

sehingga memperkuat perubahan vaskuler (Beltrani et all.,

2006; Djuanda, 2003).

DAG dan second messenger lain menstimulasi ekspresi gen dan

sintesis protein, misalnya interleukin-1 (IL-1) dan granulocyte

macrophage-colony stimulating factor (GM-CSF). IL-1 mengaktifkan sel

T-helper mengeluarkan IL-2 dan mengekspresi reseptor IL-2 yang

menimbulkan stimulasi autokrin dan proliferasi sel tersebut. Keratinosit

juga mengakibatkan molekul permukaan HLA-DR dan adesi intrasel

(ICAM-1). Pada kontak dengan iritan, keratinosit juga melepaskan TNF-,

suatu sitokin proinflamasi yang dapat mengaktifasi sel T, makrofag dan

granulosit, menginduksi ekspresi molekul adesi sel dan pelepasan sitokin

(Beltrani et all., 2006).

Rentetan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan klasik di

tempat terjadinya kontak di kulit tergantung pada bahan iritannya. Ada dua

jenis bahan iritan, yaitu: iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan

menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua


29
kontak iritan dibagi menjadi sepuluh macam, yaitu :

orang dan menimbulkan


1. Dermatitis gejala
Kontak Iritan Akutberupa eritema, edema, panas, dan nyeri.

Sedangkan
Pada iritan lemahKontak
Dermatitis hanyaIritan
pada(DKI
mereka yang
) akut, paling
kulit terasarawan
pedih atau
atau

mengalami kontak
panas,eritema, berulang-ulang,
vesikel dimulai
atau bulla. Luas dengan sebatas
kelainannya kerusakan stratum
daerah yang

korneum olehberbatas
terkena dan karenategas
delipidasi
(Wolff yang
et all, menyebabkan
2008; Wolff C desikasi dan
et all, 2005).

kehilangan fungsi
Pada beberapa sawar,
individu sehingga
, gejala mempermudah
subyektif (rasa terbakar,kerusakan sel
rasa tersengat)

dibawahnya oleh iritan.


mungkin hanya Faktormanifestasi.
satu-satunya kontribusi, Rasa
misalnya
sakit kelembaban
dapat terjadi udara,
dalam

tekanan, gesekan,
beberapa dan oklusi,
detik dari pajanan.mempunyai andil pada kulit
Spektrum perubahan terjadinya kerusakan
berupa eritema

tersebut (Djuanda, 2003).

2.8.4 Gambaran Klinis Dermatitis Kontak Iritan

Gambaran klinis dermatitis kontak iritan dibagi tergantung sifat

iritan. Iritan kuat memberikan gejala yang bersifat akut, sedangkan iritan

lemah memberikan gejala yang bersifat kronis. (Sularsito dan Djuanda,

2008).

Berdasarkan penyebab dan pengaruh faktor tersebut, dermatitis


30

hingga vesikel dan bahan yang dapat membakar kulit dapat

menyebabkan nekrosis (Wolff et all, 2008; Sularsito dan Djuanda,

2008).

Secara klasik, pembentukan dermatitis akut biasanya sembuh

segera setelah pajanan, dengan asumsi tidak ada pajanan ulang, hal ini

dikenal sebagai decrescendo phenomenon. Pada beberapa kasus tidak

biasa, dermatitis kontak iritan dapat timbul beberapa bulan setelah

pajanan, diikuti dengan resolusi lengkap (Chew and Howard , 2006).

Bentuk DKI akut seringkali menyerupai luka bakar akibat bahan

kimia, bulla besar atau lepuhan. DKI ini jarang timbul dengan gambaran

eksematousa yang sering timbul pada dermatitis kontak ( Grand, 2008)

Gambar 2.3 DKI akut akibat penggunaan pelarut industri.

2. Dermatitis Kontak Iritan Lambat

Pada dermatitis kontak iritan lambat, gejala obyektif tidak muncul

hingga 8-24 jam atau lebih setelah pajanan (Wolff et all, 2008;

Sularsito dan Djuanda, 2008; Wolff C et all, 2005 ). Sebaliknya,

gambaran kliniknya mirip dengan dermatitis kontak iritan akut (Wolff

et all, 2008). Contohnya adalah dermatitis yang disebabkan oleh


31
2008; Sularsito dan Djuanda, 2008).

serangga yang terbang pada malam hari, dimana gejalanya muncul

keesokan harinya berupa eritema yang kemudian dapat menjadi vesikel

atau bahkan nekrosis (Sularsito dan Djuanda, 2008) .

3. Dermatitis Kontak Iritan Kronis (DKI Kumulatif)

Dermatitis Kontak Iritan Kronis (DKI Kumulatif) disebabkan

oleh iritanGambar 2.4 DKI kronis akibat efek korosif dari semen
lemah (seperti air, sabun, deterjen, dll) dengan pajanan yang

berulang-ulang, biasanya lebih sering terkena pada tangan (Wolff et all,

2008; Sularsito dan Djuanda, 2008; Wolff C et all, 2005 ) . Kelainan

kulit baru muncul setelah beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun,

sehingga waktu dan rentetan pajanan merupakan faktor yang paling

penting. Dermatitis kontak iritan kronis ini merupakan dermatitis

kontak iritan yang paling sering ditemukan. Gejalanya berupa kulit

kering, eritema, skuama, dan lambat laun akan menjadi hiperkertosis

dan dapat terbentuk fisura jika kontak terus berlangsung (Wolff et all,
32
sembuh, menimbulkan penebalan kulit atau dapat menjadi DKI

kumumaltif (Wolff
Distribusi et all, 2008;
penyakit Sularsitopada
ini biasanya dan tangan.
Djuanda,Pada
2008;dermatitis
Wolff C

et all, 2005
kontak ). kumulatif, biasanya dimulai dari sela jari tangan dan
iritan

kemudian menyebar ke bagian dorsal dan telapak tangan. Pada ibu rumah

tangga, biasanya dimulai dari ujung jari (pulpitis) (Wolff C et all,

2005). DKI kumulatif sering berhubungan dengan pekerjaan. Oleh

karena itu lebih banyak ditemukan pada tangan dibandingkan dengan

bagian lain dari tubuh (contohnya : tukang cuci, kuli bangunan, montir

bengkel, juru masak, tukang kebun, penata rambut) (Sularsito dan

Djuanda, 2008).

4. Reaksi Iritan

Secara klinis menunjukkan reaksi akut monomorfik yang dapat

berupa skuama, eritema, vesikel, pustule, serta erosi, dan biasanya

terlokalisasi di dorsum dari tangan dan jari. Biasanya hal ini terjadi

pada orang yang terpajan dengan pekerjaan basah, Reaksi iritasi dapat
33

Gambar 2.5 DKI Reaksi Iritan

5. Reaksi Traumatik (DKI Traumatik)

Reaksi traumatik dapat terbentuk setelah trauma akut pada kulit

seperti panas atau laserasi. Biasanya terjadi pada tangan dan

penyembuhan sekitar 6 minggu atau lebih lama (Wolff et all, 2008;

Sularsito dan Djuanda, 2008) Pada proses penyembuhan, akan terjadi

eritema, skuama, papul, dan vesikel.

6. Dermatitis Kontak Iritan Noneritematous

Disebut juga reaksi suberitematous. Pada tingkat awal dari iritasi

kulit, kerusakan kulit terjadi tanpa adanya inflamasi, namun perubahan

kulit terlihat secara histology (Wolff ett all, 2008; Chew and Howard,

2006 ). Gejala umum yang dirasakan penderita adalah rasa terbakar,

gatal, atau rasa tersengat. Iritasi suberitematous ini dihubungkan

dengan penggunaan produk dengan jumlah surfaktan yang tinggi

(Wolff et all, 2008). Penyakit ini ditandai dengan perubahan sawar


34

stratum korneum tanpa tanda klinis (DKI subklinis) (Sularsito dan

Djuanda, 2008) .

7. Dermatitis Kontak Iritan Subyektif

Kelainan kulit tidak terlihat, namun penderita mengeluh gatal,

rasa tersengat, rasa terbakar, beberapa menit setelah terpajan dengan

iritan. Biasanya terjadi di daerah wajah , kepala , leher. Asam Laktat

biasanya menjadi iritan yang paling sering menyebabkan penyakit ini

(Wolff ett all, 2008; Chew and Howard, 2006; Sularsito dan Djuanda,

2008)

8. Dermatitis Kontak Iritan Gesekan

Terjadi iritasi mekanis yang merupakan hasil dari mikrotrauma

atau gesekan yang berulang (Wolff ett all, 2008; Chew and Howard,

2006) . DKI gesekan berkembang dari respon pada gesekan yang

lemah, dimana secara klinis dapat berupa eritema, skuama, fisura, dan

gatal pada daerah yang terkena gesekan (Chew and Howard, 2006 ). DKI

gesekan dapat hanya mengenai telapak tangan dan seringkali terlihat

menyerupai psoriasis dengan plakat merah menebal dan bersisik,

tetapi tidak gatal. Secara klinis, DKI gesekan dapat hanya mengenai

pinggiran-pinggiran dan ujung jemari tergantung oleh tekanan

mekanik yang terjadi (Grand, 2008).


35

Gambar 2.6 DKI gesekan

9. Dermatitis Kontak Iritan Akneiform

Disebut juga reaksi pustular atau reaksi akneiform. Biasanya dilihat

setelah pajanan okupasional seperti oli, metal, halogen, serta setelah

penggunaan beberapa kosmetik. Reaksi ini memiliki lesi pustular

yang steril dan transien, dan dapat berkembang beberapa hari setelah

pajanan. Tipe ini dapat terlihat pada pasien dermatitis atopy maupun

pasien dermatitis seboroik (Wolff ett all, 2008; Chew and

Howard, 2006).

Gambar 2.7 DKI Akneiform


36

10. Dermatitis Asteatotik

Biasanya terjadi pada pasien-pasien usia lanjut yang sering mandi

tanpa menggunakan pelembab kulit. Gatal yang hebat, kulit kering, dan

skuama ikhtiosiform merupakan gambaran klinik dari reaksi ini (Wolff

ett all, 2008; Chew and Howard, 2006) .

Gambar 2.8 DKI Asteatotik

2.8.5 Diagnosis Dermatitis Kontak Iritan

Diagnosis dermatitis kontak iritan didasarkan atas anamnesis yang

cermat dan pengamatan gambaran klinis yang akurat. Dermatitis kontak

iritan (DKI) akut lebih mudah diketahui karena munculnya lebih cepat

sehingga penderita lebih mudah mengingat penyebab terjadinya. DKI

kronis timbul lambat serta mempunyai gambaran klinis yang luas, sehingga

kadang sulit dibedakan dengan dermatitis kontak alergik (DKA) . Selain

anamnesis, juga perlu dilakukan beberapa pemeriksaan untuk lebih

memastikan diagnosis DKI (Sularsito dan Djuanda, 2008).


37
adalah DKI kumulatif (DKI Kronis). DKI kumulatif terjadi akibat

pajanan berulang dari suatu bahan iritan yang merusak kulit.

d. Penderita merasakan sakit, rasa terbakar, rasa tersengat, dan rasa


1. Anamnesis
tidak nyaman akibat pruritus yang terjadi.
Anamnesis yang detail sangat dibutuhkan karena diagnosis dari DKI

2. Pemeriksaan Fisikanamnesis mengenai pajanan yang diterima pasien.


tergantung pada

Menurut
AnamnesisRietsel dan Flowler,
yang dapat kriteria
mendukung diagnosis
penegakan primerDKI
diagnosis untuk DKI
( gejala

adalah sebagai
subyektif berikut:
) adalah (Wolff ett all, 2008; Buxton,3003) :

a. Pasien mengklaim adanya pajanan yang menyebabkan iritasi

kutaneus

b. Onset dari gejala terjadi dalam beberapa menit sampai jam untuk

DKI akut. DKI lambat dikarakteristikkan oleh causa pajanannya,

seperti benzalkonium klorida (biasanya terdapat pada cairan

desinfektan ), dimana reaksi inflamasinya terjadi 8-24 jam setelah

pajanan.

c. Onset dari gejala dan tanda dapat tertunda hingga berminggu-minggu


38

a. Makula eritema, hyperkeratosis, atau fisura predominan setelah

terbentuk vesikel

b. Tampakan kulit berlapis, kering atau melepuh

c. Bentuk sirkumskrip tajam pada kulit

d. Rasa tebal di kulit yang terkena pajanan

3. Pemeriksaan Penunjang

Tidak ada pemeriksaan spesifik untuk mendiagnosis dermatitis kontak

iritan. Ruam kulit biasanya sembuh setelah bahan iritan dihilangkan.

Terdapat beberapa tes yang dapat memberikan indikasi dari substansi

yang berpotensi menyebabkan DKI. Tidak ada spesifik tes yang dapat

memperlihatkan efek yang didapatkan dari setiap pasien jika terkena

dengan bahan iritan.

a. Patch Tes

Patch Tes digunakan untuk menentukan substansi yang menyebabkan

kontak dermatitis dan digunakan untuk mendiagnosis DKA.

Konsentrasi yang digunakan harus tepat. Jika terlalu sedikit, dapat

memberikan hasil negatif palsu oleh karena tidak adanya reaksi. Dan

jika terlalu tinggi dapat terinterpretasi sebagai alergi (positif palsu).

Patch tes dilepas setelah 48 jam, hasilnya dilihat dan reaksi positif

dicatat. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, dan kembali dilakukan

pemeriksaan pada 48 jam berikutnya. Jika hasilnya didapatkan ruam

kulit yang membaik, maka dapat didiagnosis sebagai DKI (Wolff ett

all, 2008; Wolff C et all, 2005 )


39

b. Kultur Bakteri

Kultur Bakteri dapat dilakukan pada kasus-kasus komplikasi infeksi

sekunder bakteri.

c. Pemeriksaan KOH

Dapat dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya mikologi

pada infeksi jamur superficial candida, Pemeriksaan ini tergantung

tempat dan morfologi dari lesi.

d. Pemeriksaan IgE

Peningkatan immunoglobulin E dapat menyokong adanya diathesis

atopic atau riwayat atopi.


2.9
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Dermatitis Kontak Iritan

Dermatitis kontak iritan disebabkan oleh banyak faktor, Menurut Straits (2001)

dan Djuanda (2003) dermatitis kontak iritan di sebabkan oleh tiga faktor besar yaitu

faktor iritan itu sendiri, itu sendiri, faktor individu penderita dan faktor
lingkungan.

Faktor iritan itu sendiri meliputi ukuran molekul, daya larut, konsentrasi

bahan, vehikulum dan suhu bahan iritan tersebut. Faktor individu penderita

meliputi usia (usia tua lebih rentan terkena dermatitis kontak), ras (kulit hitam

lebih tahan daripada kulit putih), jenis kelamin (insidensi dermatitis kontak iritan

lebih banyak pada wanita), penyakit kulit yang sedang atau dialami (ambang

rangsang terhadap bahan iritan menurun) misalnya dermatitis atopik (Beltrani et

al., 2006). Kebiasaan individu yang sering mencuci tangan ketika bekerja juga
40

berkaitan erat dengan kejadian dermatitis kontak iritan. Menurut hasil peneli tian

Hogan (2009) di Amerika Serikat menunjukkan frekuensi mencuci tangan >35 kali

setiap pergantian pada pekerja yang sering terpapar ( sering mencuci tangan )

memiliki hubungan kuat dengan dermatitis tangan karena pekerjaan dengan odds

ratio 4,13. Menurut Suryani (2011) masa kerja juga memiliki hubungan yang

signifikan dengan kejadian dermatitis kontak pada pekerja di PT Cosmar

Indonesia. Demikian halnya dengan penggunaan APD saat bekerja, hasil

penelitian Mausulli (2010) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara

penggunaan APD dengan dermatitis kontak iritan pada pekerja pengelolaan sampah.

Faktor lingkungan juga berpengaruh terhadap dermatitis kontak iritan yaitu faktor

suhu dan kelembaban udara.

Suhu dan kelembaban udara yang tinggi juga dapat meningkatkan resiko

terjadinya dermatitis kontak, begitu juga dengan suhu dan kelembaban udara yang

rendah. Ketika suhu dan kelembaban udara tinggi, seseorang akan lebih banyak

mengeluarkan keringat yang itu berarti terjadi peningkatan hidrasi pada stratum

corneum kulit. Fungsi Pertahanan kulit akan rusak baik oleh peningkatan hidrasi

maupun penurunan hidrasi stratum corneum (Safeguards, 2000).

Menurut Fregert (1998) Kelainan kulit yang terjadi pada dermatitis kontak

iritan ditentukan oleh faktor- faktor diantaranya ukuran molekul, daya larut,

konsentrasi, vehikulum, suhu bahan iritan tersebut lama kontak, kekerapan kontak

(terus-menerus atau berselang), adanya oklusi menyebabkan kulit lebih permeabel,

gesekan dan trauma fisis, serta suhu dan kelembaban lingkungan.


41

Dari beberapa sumber referensi diatas tentang faktor-faktor penyebab

dermatitis kontak iritan, dapat disimpulkan secara garis besar faktor faktor

penyebab dermatitis kontak iritan sebagai berikut :

2.9.1 Faktor Iritan

a. Ukuran Molekul,Konsentrasi / Jumlah Iritan,Daya Larut, Vehikulum

Pada orang dewasa, dermatitis kontak iritan sering terjadi akibat

paparan terhadap bahan yang bersifat iritan, misalnya bahan pelarut, detergen,

minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu. Kelainan kulit yang terjadi

ditentukan oleh ukuran molekul, daya larut, konsentrasi, vehikulum, serta

suhu bahan iritan itu sendiri selain juga di tentukan oleh faktor lain seperti

lama kontak, kekerapan (terus-menerus atau berselang), adanya oklusi

menyebabkan kulit lebih permeabel, gesekan , trauma fisis serta Suhu dan

kelembaban lingkungan ( Fregert ,1998)

b. Frekuensi Kontak

Frekuensi kontak memiliki hubungan dengan terjadinya

dermatitis kontak. Frekuensi yang lebih sering membuat semakin

banyak bahan yang mampu masuk ke kulit dan menimbulkan reaksi.

Hal ini dapat dilihat di beberapa penelitian sebelumnya seperti

penelitian yang dilakukan oleh Wisnu Nuraga,dkk (2008) pada

karyawan yang terpajan bahan kimia diperusahaan industri otomotif,

dan juga penelitian yang dilakukan Adilah (2012) pada karyawan


42

binatu. Dari kedua penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa frekuensi

kontak memiliki hubungan terhadap timbulnya dermatitis kontak.

c. Lama Kontak

Lama kontak adalah lamanya waktu pekerja kontak dengan bahan

iritan dengan satuan jam/ hari. Menurut Fregert (1998) , disamping sifat

fisik dari bahan iritan itu sendiri (ukuran molekul, daya larut, konsentrasi,

vehikulum, serta suhu bahan iritan), ada faktor lain yang mempengaruhi

dermatitis kontak iritan yaitu variabel lama kontak, kekerapan, adanya

oklusi, gesekan, trauma fisis, serta suhu dan kelembaban lingkungan.

Penelitian Khadijah dan Miko (2011) pada petani rumput laut di

Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan menyebutkan bahwa kelompok

petani dengan waktu kerja lebih dari 8 jam sehari, penderita dermatitis

kontak iritan lebih banyak (64,5 %) dibandingkan dengan kelompok petani

dengan waktu kerja kurang dari 8 jam sehari (52,7 %) , dan kelompok

petani rumput laut dengan jumlah hari kerja lebih dari 20 hari dalam

sebulan, berpeluang menderita dermatitis kontak iritan 2,6 kali disbanding

kelompok petani dengan jumlah hari kerja lebih sedikit dengan nilai p =

0,001 dan OR = 2,6 (1,48 4,48) 95% CI)

d. Jenis Keahlian pekerja

Menurut Sjamsoe (2005), jenis pekerjaan seperti tukang tembok

dan tukang semen mempunyai resiko tinggi terkena dermatitis kontak


43

akibat terpapar hexavalent chromate yang larut dalam air pada semen

basah.

Berdasarkan penelitian Adillah (2012) pada karyawan binatu,

spesifikasi pekerjaan yang dilakukan pekerja terbukti memiliki

hubungan dengan kejadian dermatitis kontak. Karyawan yang

mengerjakan semua jenis pekerjaan di binatu akan lebih rentan

mengalami dermatitis kontak, karena mereka kontak dengan lebih dari 1

jenis bahan kimia sehingga potensi untuk menimbulkan dermatitis

kontak meningkat.

2.9.2 Faktor Individu

a. Ketebalan Kulit

Kulit bervariasi mengenai lembut, tipis dan tebalnya. Kulit yang

elastis dan longgar terdapat pada palpebra, bibir dan preputium, kulit yang

tebal dan tegang terdapat di telapak kaki dan tangan dewasa. Kulit yang

tipis terdapat pada muka, yang berambut kasar terdapat pada kepala (Djuanda,

2003). Menurut Harahap M (2000) rata-rata tebal kulit 1-2 mm, paling tebal

16 mm terdapat di telapak tangan dan kaki dan paling tipis 0,5 mm terdapat

di penis. Beltrani (2006) menyebutkan perbedaan ketebalan kulit di

berbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas. Semakin

permeabel maka bahan kimia semakin mudah untuk masuk ke kulit (

Taylor et all, 2008)


44

Menurut Hans Schaefer (1996) dalam Suryani (2008), kulit

mengandung sejumlah tumpukan lapisan spesifik yang dapat mencegah

masuknya bahan-bahan kimia yang terutama disebabkan karena adanya

lapisan tipis lipida pada permukaan, lapisan tanduk dan lapisan epidermis

malfigi. Deretan sel-sel pada lapisan tanduk saling berikatan dengan sangat

kuat dan merupakan pelindung kulit yang paling efisien. Lapisan tanduk

(stratum corneum) menebal di telapak tangan dan kaki dan menipis di

kelopak mata (Djuanda A, 1987 dalam Suryani , 2008)

b. Usia

Kulit manusia mengalami degenerasi seiring bertambahnya usia

sehingga kulit kehilangan lapisan lemak diatasnya dan menjadi lebih

kering. Kekeringan pada kulit memudahkan bahan kimia untuk masuk

ke kulit (Cohen, 1999). Menurut HSE (2000), kondisi kulit mengalami

proses penuaan mulai dari usia 40 tahun. Pada usia lanjut sering kali

terjadi kegagalan dalam pengobatan dermatitis kontak, sehingga timbul

dermatitis kronik. Dapat dikatakan, Dermatitis kontak lebih rentan

menyerang pekerja dengan usia yang lebih tua (Cronin,1980)

Akan tetapi dari beberapa hasil penelitian menunjukkan hasil

yang sebaliknya. Pada penelitian yang dilakukan Lestari, Fatma (2008)

pada karyawan di PT Inti Pantja Press Industri menunjukkan pekerja

muda lebih mudah terkena dermatitis kontak. Hasil uji statistik

menunjukan nilai p value sebesar 0,042 hal ini berarti bahwa terdapat
45

perbedaan proporsi penyakit dermatitis yang bermakna antara pekerja

muda (30 t ahun) dengan pekerja t ua (>30 t ahun). Sel ai n it u pada

tingkat kepercayaan 95% nilai odds ratio yang dihasilkan sebesar 2,824,

artinya pekerja muda mempunyai peluang 2,824 (2,8) kali terkena

dermatitis kontak dibandingkan dengan dengan pekerja tua. Demikian

halnya dengan penelitian yang dilakukan Suryani, Febria (2011) yang

dilakukan pada karyawan di pabrik kosmetik PT. Cosmar Indonesia

menunjukkan hasil menunjukan bahwa rata-rata usia pekerja yang

mengalami dermatitis kontak yaitu 23 tahun yang mana masih tergolong

dalam usia muda.

Menurut NIOSH (2006) dalam Febria Suryani (2011) dari sisi

usia umur 15-24 tahun merupakan usia dengan insiden penyakit kulit

akibat kerja tertinggi. Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebab

adalah bahwa pekerja dengan usia yang lebih muda memiliki

pengalaman yang lebih sedikit dibandingkan dengan pekerja yang lebih

tua. Sehingga kontak bahan kimia dengan pekerja masih sering terjadi

pada pekerja muda. Pada pekerja tua yang berpengalaman dalam

menangani bahan kimia, kontak bahan kimia dengan kulit semakin lebih

sedikit. Selain itu kebanyakan pekerja tua lebih menghargai akan

keselamatan dan kesehatannya, sehingga dalam penggunaan APD

pekerja tua lebih memberi perhatian dibandingkan pekerja muda

(Cohen, 1999)
46

Penelitian lain yang dilakukan Wolff, et all (2008) dan

Grawkrodjer (2002) menyebutkan, Iritasi kulit yang kelihatan (eritema)

menurun pada orang tua sementara iritasi kulit yang tidak kelihatan

(kerusakan pertahanan) meningkat pada orang muda.

c. Masa Kerja

Menurut Handoko (1992) lama bekerja adalah suatu kurun waktu

atau lamanya tenaga kerja itu bekerja di suatu tempat. Masa kerja

mempengaruhi kejadian dermatitis kontak akibat kerja. Semakin lama

masa kerja seseorang, semakin sering pekerja terpajan dan berkontak

dengan bahan kimia. Lamanya pajanan dan kontak dengan bahan kimia

akan meningkatkan terjadinya dermatitis kontak akibat kerja Pekerja

yang lebih lama terpajan dan berkontak dengan bahan kimia

menyebabkan kerusakan sel kulit bagian luar, semakin lama terpajan

maka semakin merusak sel kulit hingga bagian dalam dan memudahkan

untuk terjadinya penyakit dermatitis (Fatma, 2007).

Penelitian Suryani (2011) pada pekerja di PT. Cosmar Indonesia (

pabrik pembuat kosmetik) menunjukkan adanya hubungan yang

signifikan antara masa kerja dengan kejadian dermatitis kontak pada

karyawan dibagian processing dan filling

d. Ras

Menurut Djuanda (2007), ras manusia adalah karakteristik luar yang

diturunkan secara genetik dan membedakan satu kelompok dari


47

kelompok lainnya. Bila dikaitkan dengan penyakit dermatitis, ras

merupakan salah satu faktor yang ikut berperan untuk terjadinya

dermatitis karena adanya perbedaan karakteristik luar berupa perbedaan

warna kulit. Orang berkulit gelap/ hitam kulitnya kaya akan melanin

yang merupakan pigmen kulit yang berfungsi sebagai perlindungan kulit

baik dari pengaruh sinar matahari, gangguan fisis, mekanis maupun

kimiawi seperti zat kimia, sehingga orang berkulit gelap lebih tahan

terhadap dermatitis dibanding orang yang berkulit cerah/ putih.

Melanin/ pigmen kulit dibentuk oleh melanosit. Jumlah melanosit dan

besarnya butiran pigmen (melanosomes) menentukan warna kulit ras

maupun individu.

e. Jenis Kelamin

Secara anatomis, terdapat perbedaan antara kulit pria dan wanita.

Berdasarkan Aesthetic Surgery Journal terdapat perbedaan antara kulit

pria dengan wanita, perbedaan tersebut terlihat dari jumlah folikel rambut,

kelenjar sebaceous atau kelenjar keringat dan hormon. Kulit pria

mempunyai hormon yang dominan yaitu androgen yang dapat

menyebabkan kulit pria lebih banyak berkeringat dan ditumbuhi lebih

banyak bulu, sedangkan kulit wanita lebih tipis daripada kulit pria

sehingga lebih rentan terhadap kerusakan kulit. Kulit pria juga memiliki

kelenjar aprokin yang tugasnya meminyaki bulu tubuh dan rambut,


48

kelenjar ini bekerja aktif saat remaja, sedangkan pada wanita seiring

bertambahnya usia, kulit akan semakin kering.

Diepgen (2003) dalam Partogi (2008) mengatakan kerentanan

kulit terhadap iritasi tidak berbeda antar jenis kelamin akan tetapi,

penelitian menunjukkan bahwa kulit wanita cenderung lebih mudah

terkena iritasi selama periode menstruasi. Taylor , ett all (2008)

menyebutkan, secara eksperimental belum jelas adanya hubungan antara

perbedaan jenis kelamin dengan kejadian dermatitis kontak, Adapun

hasil penelitian yang menunjukan dermatitis kontak lebih sering ditemui

pada jenis kelamin perempuan, hal ini kemungkinan karena perempuan

lebih sering mengalami kontak dengan agen penyebab dibandingkan

dengan laki-laki

Beberapa penelitian yang menunjukkan hasil tersebut antara lain :

1. Mulyaningsih (2005) pada karyawan salon dimana didapatkan hasil

79,1% dermatitis kontak dialami oleh jenis kelamin perempuan dan

20,9% dialami oleh jenis kelamin laki-laki.

2. Trihapsoro, Iwan (2003) pada pasien rawat jalan RSUP Haji Adam

Malik Medan, penderita dermatitis kontak terbanyak adalah

perempuan yaitu 72,5% sedangkan laki-laki hanya 27,5%.

f. Riwayat Penyakit Kulit Sebelumnya

Menurut Djuanda (2007), pekerja yang sebelumnya atau sedang

menderita non dermatitis akibat kerja lebih mudah mendapat dermatitis


49

akibat kerja, karena fungsi perlindungan dari kulit sudah berkurang

akibat dari penyakit kulit yang diderita sebelumnya. Fungsi

perlindungan yang berkurang tersebut antara lain hilangnya lapisan-

lapisan kulit, rusaknya saluran kelenjar keringat dan kelenjar minyak serta

perubahan pH kulit.

Umumnya pekerja di Indonesia telah bekerja pada lebih dari satu

tempat kerja. Hal ini memungkinkan ada pekerja yang telah menderita

penyakit dermatitis pada pekerjaan sebelumnya dan terbawa ke tempat

kerja yang baru. Para pekerja yang pernah menderita dermatitis

merupakan kandidat utama terkena dermatitis. Hal ini karena kulit pekerja

tersebut sensitif terhadap bahan kimia. Jika terjadi inflamasi terhadap

bahan kimia, maka kulit akan lebih mudah teriritasi sehingga akan lebih

mudah terkena dermatitis (Cohen, 1999).

g. Frekuensi Mencuci Tangan

Berdasarkan penelitian Hogan (2009) di Amerika Serikat

terhadap pekerjaan yang melibatkan kegiatan mencuci tangan atau

paparan berulang pada kulit terhadap air seperti pembatu rumah tangga,

pelayan rumah sakit, tukang masak, dan penata rambut didapatkan hasil

55,6% pelayan rumah sakit di bagian intensif care unit mengalami

dermatitis pada tangan, dan 69,7% pada pekerja yang sering terpapar

dengan air, mencuci tangannya dengan frekuensi >35 kali setiap

pergantian). Frekuensi mencuci tangan >35 kali setiap pergantian


50

memiliki hubungan kuat dengan dermatitis tangan karena pekerjaan

dengan odds ratio = 4,13

Menurut Elston,dkk (2002) air ternyata merupakan faktor iritan

tersendiri sehingga mempermudah terjadinya dermatitis kontak iritan.

Bahkan air dalam keadaan oklusif mampu menimbulkan kelainan pada

lapisan lipid dan merusak stratum corneum. (Zhai, Miabcah,2002)

h. Penggunaan Alat Pelindung Diri

Menurut Suma mur ( 1992) Alat Pelindung Diri ( APD) adal ah suat u

alat yang dipakai untuk melindungi diri atau tubuh terhadap bahaya-bahaya

kecelakaan kerja. Peralatan pelindung tidak menghilangkan ataupun

mengurangi bahaya yang ada, peralatan ini hanya mengurangi jumlah

kontak dengan bahaya dengan cara penempatan penghalang antara pekerja

dan bahaya.

Jenis APD yang relevan dengan pekerjaan yang kontak dengan

semen di proyek konstruksi seperti pemlesteran, pengacian, pemasangan

keramik, pemasangan dinding, dan sebagainya yaitu sarung tangan.

Tangan merupakan bagian tubuh yang paling sering terkena dermatitis

kontak akibat kerja di proyek konstruksi ( Bock et all, 2003)

Sebuah studi yang dilakukan Erliana (2008) pada pekerja pembuat

paving block menunjukkan bahwa variabel penggunaan APD mempunyai

hubungan yang signifikan dengan kejadian dermatitis kontak dengan nilai p

= 0,001, artinya jika responden tidak menggunakan APD dengan benar dan
51

sesuai, maka semakin sering terpapar semen, sehingga menyebabkan

dermatitis kontak.

Studi lain yang dilakukan Mausulli (2010) pada pekerja pengelolaan

sampah juga mununjukkan hasil yang sama, dimana pekerja yang tidak

menggunakan APD, mengalami dermatitis kontak iritan sebanyak 59,5 % (

22 dari 37 pekerja) sedangkan pekerja yang menggunakan APD,tidak ada

yang mengalami dermatitis kontak iritan ( 0 dari 3 pekerja).

2.9.2 Faktor Lingkungan

a. Suhu dan Kelembaban Udara

Fungsi pertahanan dari kulit akan rusak baik dengan peningkatan

hidrasi dari stratum corneum (suhu dan kelembaban tinggi, bilasan air yang

sering dan lama) dan penurunan hidrasi (suhu dan kelembaban rendah)

(Safeguard, 2000). Suhu dan kelembaban tinggi akan mengakibatkan kulit

berkeringat, sehingga terjadi peningkatan hidrasi stratum corneum, (kondisi

kulit basah). Peningkatan temperatur dari 20 oC sampai 43 oC dapat

meningkatkan efek iritasi pada kulit. (Kartono dan Maibach, 2006)

Menurut Hogan (2009) sebagian besar kasus gatal-gatal di musim

dingin adalah karena kekeringan kulit, sebagai akibat dari temperatur

dan kelembaban udara yang rendah di musim dingin. Suhu dan

kelembaban udara yang rendah mengakibatkan penurunan hidrasi

stratum corneum, sehingga kondisi kulit menjadi kering. Kekeringan

pada kulit membuat kulit lebih permeabel sehingga memudahkan bahan

kimia untuk masuk ke kulit (Cohen, 1999)


52

2. 0 Kerangka Teori

Kerangka teori ini merupakan gabungan dari beberapa teori yang telah

dikemukakan oleh penelitian sebelumnya tentang faktor-faktor yang

berhubungan dengan penyakit dermatitis kontak iritan. Secara umum dapat

dikategorkan menjadi tiga, yakni faktor iritan itu sendiri, faktor lingkungan dan

faktor individu penderita.

Bagan 2.1 Kerangka Teori

FAKTOR IRITAN
Konsentrasi/jumlah
Ukuran molekul
Daya larut
Suhu
Vehikulum (zat pembawa)
Lama kontak
Gesekan

FAKTOR INDIVIDU
Ketebalan
Usia kulit diberbagai tempat
Dermatitis Kontak Iritan
Masa Kerja
Ras
Jenis Kelamin
Riwayat penyakit kulit
Frekuensi mencuci tangan
Penggunaan APD

FAKTOR LINGKUNGAN
Suhu dan kelembaban udara

Sumber : Streit (2001), Djuanda (2003), Beltrani et all (2006), Fregert (1998), Safeguard (2000),
Hogan (2009), Mausulli (2010) Suryani (2011), Adillah (2012)
BAB III

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1
Kerangka Konsep

Penelitian ini meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi dermatitis

kontak iritan pada tangan yang dialami oleh pekerja konstruksi. Kerangka konsep

penelitian berdasarkan gabungan teori dari penelitian-penelitian sebelumnya

tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dermatitis kontak iritan

diantaranya yang dikemukaan oleh Strait (2001), Djuanda (2003), Beltrani et all,

(2006), Fregert (1998), Safeguard (2000), Hogan (2009) , Mausulli (2010) dan

Suryani (2011). Yang merupakan variabel dependen adalah dermatitis kontak

iritan, sedangkan variabel independennya adalah lama kontak, jenis keahlian

pekerja, usia, masa kerja, frekuensi mencuci tangan, riwayat penyakit kulit

sebelumnya, dan penggunaan APD

Tidak semua faktor yang ada di dalam kerangka teori dijadikan sebagai
variabel penelitian ini, karena beberapa alasan sebagai berikut :

a. Konsentrasi / Jumlah Paparan

Konsentrasi /Jumlah paparan semen yang menempel pada tangan pekerja sulit

untuk diukur, peneliti memiliki keterbatasan dalam hal metode dan alat untuk

mengukurnya sehingga faktor ini tidak dimasukkan kedalam variabel penelitian.

b. Ukuran molekul, daya larut, suhu dan vehikulum

Ukuran molekul , daya larut, suhu dan vehikulum iritan tidak dimasukkan

dalam variabel penelitian , karena jenis iritan yang akan diteliti hanya satu jenis

53
54

yaitu semen dan semua pekerja yang dijadikan sampel penelitian, telah terpapar

dengan jenis semen yang sama, sehingga ukuran molekul,daya larut, suhu dan

vehikulum semen dapat dipastikan sama.

c. Suhu dan kelembaban udara

Suhu dan kelembaban udara rendah akan mengakibatkan penurunan hidrasi

stratum corneum sedangkan suhu dan kelembaban tinggi akan mengakibatkan

peningkatan hidrasi stratum corneum. Peningkatan maupun penurunan hidrasi

stratum corneum dapat merusak pertahanan kulit. Dalam penelitian ini, suhu

dan kelembaban udara tidak dimasukkan dalam variabel penelitian karena

secara umum suhu dan kelembaban di tempat kerja dianggap sama (homogen)

d. Ketebalan kulit

Ketebalan kulit pada tangan pekerja tidak dimasukkan dalam variabel

penelitian karena keterbatasan kemampuan peneliti untuk mengukur ketebalan

kulit pada masing- masing tangan pekerja. Pengukuran ketebalan kulit

memerlukan alat dan metode tertentu, yang mana peneliti memiliki keterbatasan

untuk melakukannya.

e. Ras

Ras tidak dimasukkan dalam variabel penelitian karena semua pekerja berasal

dari ras yang sama. Menurut teori, ras kulit hitam lebih tahan dari dermatitis

dibanding ras kulit putih.

f. Jenis Kelamin

Jenis kelamin tidak dimasukkan dalam variabel penelitian karena homogen,

yaitu semua pekerja adalah laki-laki.


55

Adapun lama kontak, jenis keahlian pekerja, usia, masa kerja, frekuensi

mencuci tangan, riwayat penyakit kulit sebelumnya, dan penggunaan APD dijadikan

variabel penelitian karena faktor-faktor tersebut memiliki mekanisme hubungan

dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada pekerja konstruksi. Untuk lebih

jelasnya, akan dijelaskan sebagai berikut :

a. Lama Kontak

Kontak dengan bahan iritan dalam waktu yang cukup akan menginduksi

dermatitis. Semakin lama kontak dengan bahan iritan maka peradangan atau

iritasi kulit dapat terjadi.

b. Jenis Keahlian Pekerja

Jenis keahlian pekerja di proyek konstruksi memiliki resiko yang bervariasi

terhadap dermatitis kontak iritan. Jenis pekerjaan di proyek konstruksi yang

kontak langsung dengan semen seperti pengacian, pemlesteran, pemasangan bata,

pengadukan beton, pemasangan keramik, dan sebagainya memiliki waktu

paparan yang berbeda beda. Semakin lama paparan yang terjadi akan semakin

meningkatkan resiko terjadinya dermatitis kontak.

c. Usia

Pada beberapa literatur menyatakan bahwa kulit manusia mengalami degenerasi

seiring bertambahnya usia sehingga kulit kehilangan lapisan lemak diatasnya

dan menjadi lebih lebih kering. Kekeringan pada kulit ini memudahkan bahan

kimia untuk menginfeksi kulit, sehingga kulit menjadi lebih mudah terkena

dermatitis
56

d. Masa Kerja

Semakin lama masa kerja seseorang, semakin sering mereka terpajan dan

berkontak dengan bahan kimia. Lamanya pajanan dan kontak dengan bahan

akan meningkatkan terjadinya dermatitis kontak akibat kerja.

e. Riwayat penyakit kulit sebelumnya

Hal ini berhubungan dengan fungsi perlindungan dari kulit sudah berkurang

akibat dari penyakit kulit akibat kerja yang diderita sebelumnya. Fungsi

perlindungan yang dapat menurun antara lain hilangnya lapisan-lapisan kulit,

rusaknya saluran kelenjar keringat dan kelenjar minyak serta perubahan pH

kulit . Ketika fungsi perlindungan kulit sudah berkurang, maka kulit akan lebih

mudah terkena dermatitis kontak

f. Frekuensi mencuci tangan

Frekuensi mencuci tangan berhubungan dengan peningkatan hidrasi stratum

corneum yang mana kondisi ini dapat merusak pertahanan kulit, semakin sering

mencuci tangan makan pertahanan kulit semakin berkurang dan semakin beresiko

terkena dermatitis kontak

g. Penggunaan APD

Penggunaan APD seperti sarung tangan akan mengurangi jumlah paparan iritan

(semen) pada tangan pekerja karena adanya penghalang antara kulit dan zat

iritan (semen).
57

Melalui bagan, kerangka konsep penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Bagan 3.1 Kerangka konsep

Variabel Independen Variabel dependen

Lama kontak
Jenis keahlian pekerja
Usia
Masa kerja Dermatitis Kontak Iritan
Riwayat penyakit kulit
sebelumnya
Frekuensi mencuci tangan
Penggunaan APD
58

3.2 Definisi Operasional

Tabel 3.1

Definisi operasional

No Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala


1. Dermatitis Peradangan pada tangan pekerja Pemeriksaan Diagnosa dokter 0. Dermatitis Kontak Ordinal
Kontak Iritan yang ditentukan melalui dokter Iritan
pemeriksaan dokter
1. Tidak Dermatitis
Kontak Iritan
2. Lama kontak Jangka waktu pekerja berkontak Kuisioner Menyebarkan Jam/hari Rasio
dengan semen dalam hitungan kuisioner pada
jam/hari. pekerja
lian kerja di proyek Kuisioner Menyebarkan 0. Beresiko tinggi,
3. Jenis keahlian Jenis i berdasarkan potensi dan observasi kuisioner kepada Jika bekerja sebaga Ordinal
pekerja keah i
konstruks pekerja disertai pemasang tembok,
bahaya dermatitis kontak yang dengan pengaduk semen,
dimiliki kaitannya dengan durasi
paparan yang diterima pekerja pengamatan tukang plester &aci,
langsung saat dan pemasang
pekerja keramik
melakukan
pekerjaannya 1. Beresiko rendah, jika
bekerja sebagai kenek

(Pengkategorian menurut
Bock(2003) dan Sjamsoe
(2005)
59

No Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala

4. Usia Lama waktu hidup pekerja Kuisioner Menyebarkan Tahun Rasio


(dalam tahun) dari sejak lahir kuisioner pada
sampai penelitian berlangsung. pekerja
5. Masa Kerja Jangka waktu pekerja mulai Kuisioner Menyebarkan Bulan Rasio
bekerja sampai waktu penelitian kuisioner pada
pekerja
kulit pada tangan yang Kuisioner Menyebarkan 0. Memiliki riway
6. Riwayat Penyakit derita pekerja sebelum kuisioner pada 1. Tidak memilikiat Ordinal
penyakit sedang diproyek konstruksi pekerja
sebelumnya bekerja dinelitian berlangsung Riwayat
tempat pe
li dalam sehari pekerja Kuisioner Menyebarkan Kali
7. Frekuensi Berapa ka
mencuci tangannya saat kuisioner pada Rasio
Mencuci tersebut lokasi kerja pekerja
Tangan berada di
esponden dalam Lembar Pengamatan 0. Tidak menggunaka
8. Penggunaan Perilaku r n, Ordinal
APD melindungi dirinya dengan observasi langsung jika berdasarkan hasil
menggunakan APD (sarung pengamatan tidak
tangan) saat bekerja di proyek memakai sarung
konstruksi. tangan
1. Menggunakan, jika
berdasarkan hasil
pengamatan memakai
sarung tangan
60

3.3
Hipotesis

1. Ada hubungan antara lama kontak dengan kejadian dermatitis kontak iritan

pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma

Contractors tahun 2014

2. Ada hubungan antara jenis keahlian pekerja dengan kejadian dermatitis kontak

iritan pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya

Kusuma Contractors tahun 2014

3. Ada hubungan antara usia dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada

tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma

Contractors tahun 2014

4. Ada hubungan antara masa kerja dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada

tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma

Contractors tahun 2014

5. Ada hubungan antara riwayat penyakit kulit sebelumnya dengan kejadian


dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen

di PT. Wijaya Kusuma Contractors tahun 2014

6. Ada hubungan antara frekuensi mencuci tangan dengan kejadian dermatitis

kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT.

Wijaya Kusuma Contractors tahun 2014

7. Ada hubungan antara penggunaan APD dengan kejadian dermatitis kontak

iritan pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya

Kusuma Contractors tahun 2014.


BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain studi

cross sectional (potong lintang), dimana variabel independen dan dependen

diamati pada waktu (periode) yang sama.

4.2 Lokasi dan Waktu

Penelitian dilaksanakan bulan Mei - Juni 2014 di proyek pembangunan

yang sedang dikerjakan oleh PT. Wijaya Kusuma Contractors yaitu proyek

Temprint yang berlokasi di Palmerah, Jakarta Barat.

4.3 Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja pada proyek

Temprint PT. Wijaya Kusuma Contractors yang terpapar dengan semen yaitu

sebanyak 32 pekerja . Jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini

adalah 48 pekerja, namun karena pekerja yang terpapar semen di proyek ini

hanya sebanyak 32 pekerja, maka peneliti mengambil semua pekerja untuk

dijadikan sampel (total sampling ). Adapun perhitungan jumlah sampel ini

dilakukan dengan menggunakan uji hipotesisi dua proporsi dengan rumus

sebagai berikut :

61
62

{z1- 2 (1- ) + z1- P1 (1- P1)+ P2(1- P2) }2


n =
(P1- P2)2

Keterangan :

n : Besar sampel

P1 : Proporsi pekerja dengan riwayat dermatitis sebelumnya dengan

kejadian dermatitis kontak sebanyak 81,8 % = 0,82 (Lestari,

2007)

P2 :Proporsi pekerja dengan tidak riwayat dermatitis sebelumnya

dengan kejadian dermatitis kontak sebanyak 43,5 % = 0,44

(Lestari, 2007)

P : Rata-rata proporsi (P1 + P2 /2) 0,82 + 0,44 = 0,63


2
Z1- : Derajat kemaknaan pada uji 1sisi = 5% = 1,96

Z1- : Kekuatan uji 80 % = 0,84

2
n = { 1,96 2 x 0,63 (1-0,63) + 0,84 0,82 (1-0,82) + 0,44 (1-0,44) }
(0,82-0,44)2

n = 24 x 2 = 48 orang.

4.4 Pengumpulan Data

4.4.1 Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan

data sekunder.

1. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari pekerja

mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian

dermatitis kontak iritan pada tangan meliputi kejadian dermatitis


63

kontak iritan pada tangan, variabel lama kontak, jenis keahlian

pekerja, usia, masa kerja, riwayat penyakit kulit sebelumnya,

frekuensi mencuci tangan, dan penggunaan APD

2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari penelusuran dokumen,

catatan, dan laporan dari perusahaan, meliputi profil perusahaan,

serta potensi bahaya dari bahan kimia yang terkandung didalam semen

yang digunakan di proyek tersebut.

4.4.2 Metode dan Instrumen

Metode yang digunakan dalam penelitian ini antara lain

pembagian kuisioner, pemeriksaan dokter serta pengamatan langsung

oleh peneliti. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kuisioner yang berisikan pertanyaan yang harus dijawab oleh responden

, dokter umum, serta lembar ceklist pengamatan. Instrumen dokter

digunakan untuk mengukur variabel dependen yaitu kejadian dermatitis

kontak ,kuisioner digunakan untuk mengukur variabel lama kontak,

jenis keahlian pekerja, usia, riwayat penyakit sebelumnya, frekuensi

mencuci tangan, dan penggunaan APD, dan lembar checklist

pengamatan digunakan untuk mengukur variabel jenis kehlian pekerja dan

variabel penggunaan APD.

Penjelasan lebih lanjut mengenai metode dan instrumen yang

digunakan dalam penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Kejadian Dermatitis Kontak Iritan


64

Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendiagnosa secara klinis

gejala gejala dermatitis yang terdapat pada tangan responden oleh

dokter.

2. Lama kontak

Pengumpulan data dilakukan dengan cara menanyakan jangka waktu

responden terpapar dengan semen dalam hitungan jam/hari melalui

kuisioner.

3. Jenis keahlian pekerja

Pengumpulan data dilakukan dengan menanyakan melalui kuisioner

jenis pekerjaan apa yang dilakukan di proyek tersebut. Selain

menggunakan kuisioner, peneliti juga melakukan observasi langsung

pada responden ketika sedang melakukan pekerjaannya untuk

menguatkan kebenaran data hasil kuisioner pada variabel jenis

pekerjaan.

4. Frekuensi mencuci tangan

Pengumpulan data dilakukan dengan cara menanyakan melalui

kuisioner seberapa sering responden mencuci tangannya dalam sehari

ketika sedang bekerja

5. Usia

Pengumpulan data dilakukan dengan cara menanyakan melalui

kuisioner tanggal, bulan dan tahun kelahiran responden. Untuk

mendukung kebenaran jawaban responden, peneliti meminta responden

untuk menunjukkan kartu identitasnya.


65

6. Riwayat penyakit kulit sebelumnya

Pengumpulan data dilakukan dilakukan dengan cara menanyakan

riwayat penyakit kulit pekerja melalui kuesioner dan diperkuat

dengan anamnesis dokter.

7. Penggunaan APD

Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati responden

dalam hal penggunaan sarung tangan selama responden melakukan

pekerjaannya.

.5 Pengolahan Data

Seluruh data yang terkumpul baik data primer maupun data sekunder akan

diolah melalui tahap-tahap sebagai berikut:

1. Mengkode data (data coding)

Sebelum dimasukkan ke komputer, setiap variabel yang telah diteliti diberi

kode untuk memudahkan dalam pengolahan selanjutnya.


4 2. Menyunting data (data editing)

Data yang telah dikumpulkan diperiksa kelengkapannya terlebih dahulu,

yaitu kelengkapan jawaban kuesioner, konsistensi atas jawaban dan

kesalahan jawaban pada kuesioner. Data ini merupakan data input utama

untuk penelitian ini.

3. Memasukkan data (data entry)

Setelah dilakukan penyuntingan data, kemudian memasukkan data dari

hasil kuesioner yang sudah di berikan kode pada masing-masing variabel.

Setelah itu dilakukan analisis data dengan memasukan data-data tersebut

dengan software statistik untuk dilakukan analisis univariat (untuk


66

mengetahui gambaran secara umum) dan bivariat (untuk mengetahui

variabel yang berhubungan).

4. Membersihkan data (data cleaning)


Tahap terakhir yaitu pengecekkan kembali data yang telah dimasukkan

untuk memastikan data tersebut tidak ada yang salah, sehingga dengan

demikian data tersebut telah siap untuk dianalis.

6 Analisa Data

1. Analisis Univariat

Analisis yang dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dan

persentase dari setiap variabel dependen, independen. Variabel tersebut

adalah kejadian dermatitis kontak, lama kontak, jenis keahlian pekerja, usia,

masa kerja, riwayat penyakit kulit sebelumnya, frekuensi mencuci tangan

4. dan penggunaan APD.

2. Analisa Bivariat

Analisa yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian atau

mengetahui hubungan variabel bebas (independen) dan variabel terikat

(dependen) dengan uji statistik yang disesuaikan sesuai dengan skala data

yang ada. Untuk menghubungkan variabel kategorik dengan kategorik uji

statistik yang digunakan adalah Chi Square, untuk menghubungkan variabel

numerik dengan kategorik uji statistik yang digunakan adalah uji T-

independent (apabila variabel numerik berdistribusi normal), dan uji Mann

Whitney (apabila variabel numerik tidak berdistribusi normal).


67

Uji chi-Square ,uji T-independent / uji mann whitney menggunakan

derajat kepercayaan 95% dan 5 %. Jika P Value 0,05, maka perhitungan

secara statistik menunjukkan bahwa adanya hubungan antara variabel

independen dengan dependen. Jika P Value > 0,05, maka perhitungan secara

statistik menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara variabel

independen dengan dependen.


BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Proses Kerja di Proyek Konstruksi

Lokasi tempat dilakukannya penelitian ini adalah proyek konstruksi

berupa pembangunan gedung perkantoran berlantai 8 yang sedang di kerjakan

oleh PT. Wijaya Kusuma Contractors. Pada saat penelitian dilaksanakan,

proyek tersebut sudah masuk dalam tahap finishing. Jenis pekerjaan yang banyak

ditemui kaitannya dengan paparan semen adalah pekerjaan pemlesteran dinding

bangunan dan sebagian kecil pekerja melakukan pemasangan lantai keramik

pada bagian tangga gedung.

Bahan iritan yang banyak digunakan dalam pekerjaan tersebut adalah

semen jenis portland. Semen portland digunakan dalam berbagai keperluan

seperti pembuatan adukan untuk pekerjaan pemlesteran dan pemasangan

tembok, adukan encer (grout) untuk pengisian nat keramik, dan penggunaan

semen untuk pekerjaan pengacian.

5.2 Analisis Univariat

5.2.1 Gambaran Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

Hasil penelitian mengenai kejadian dermatitis kontak iritan

diperoleh dari diagnosa dokter. Variabel kejadian dermatitis kontak

iritan dikategorikan menjadi dua yaitu dermatitis kontak iritan dan tidak

dermatitis kontak iritan. Adapun hasil yang diperoleh mengenai

kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan yang dialami pekerja

68
69

konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors

dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut.

Tabel 5.1
Distribusi Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Tangan Pekerja Konstruksi
yang Terpapar Semen di PT Wijaya Kusuma Contractors
Tahun 2014

Kejadian Dermatitis Frekuensi Persentase (%)


Dermatitis Kontak iritan 11 34,4
Tidak Dermatitis kontak iritan 21 65,6
Jumlah 32 100

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa (34,4%) mengalami

dermatitis kontak iritan .

5.2.2 Gambaran Faktor yang mempengaruhi Dermatitis Kontak Iritan .

Faktor- faktor yang mempengaruhi dermatitis kontak Iritan dalam

penelitian ini meliputi faktor lama kontak, usia, masa kerja, frekuensi

mencuci tangan, jenis keahlian, riwayat penyakit sebelumnya dan

penggunaan APD. Distribusi frekuensi faktor-faktor tersebut terlihat

pada tabel 5.2 dan tabel 5.3 berikut ini


70

Tabel 5.2
Distribusi Faktor Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis Kontak Iritan
pada Tangan Pekerja Konstruksi yang Terpapar Semen
di PT Wijaya Kusuma Contractors Tahun 2014

No Variabel N Mean Median SD Min Max


1 Lama kontak 32 7,06 8 4,219 1-11
2 Usia 32 29,34 24 13,535 16-64
3 Masa Kerja 32 2,38 1,5 1,897 1-7
4 Frekuensi
32 5,22 4 3,077 2-12
mencuci tangan

Tabel 5.3
Distribusi Faktor Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis Kontak Iritan
pada Tangan Pekerja Konstruksi yang Terpapar Semen
di PT Wijaya Kusuma Contractors Tahun 2014

No Variabel Kategori Frekuensi Persentase (%)


1 Jenis Keahlian Resiko tinggi 19 59,4
Resiko rendah 13 40,6
2 Riwayat Penyakit Ada Riwayat 3 9,4
kulit sebelumnya
Tidak ada riwayat 29 90,6

3 Penggunaan APD Tidak menggunakan 28 87,5


Menggunakan 4 12,5

a. Lama Kontak

Variabel lama kontak dilihat dari lamanya responden berkontak

dengan bahan iritan (semen) selama bekerja dalam hitungan jam/hari.

Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa nilai median lama

kontak pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya

Kusuma Contractors adalah 8 jam/hari dengan standar deviasi 4.219.


71

Lama kontak terendah adalah 1 jam/hari sedangkan lama kontak

tertinggi adalah 11 jam/hari

b. Usia

Variabel usia dinyatakan dalam tahun, yaitu lama hidup responden

dari mulai lahir hingga waktu penelitian. Berdasarkan tabel 5.2

didapatkan distribusi nilai median usia pekerja konstruksi yang

terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors adalah 24 tahun

dengan standar deviasi 13.535. Usia termuda adalah 16 tahun

sedangkan usia tertua adalah 64 tahun.

c. Masa Kerja

Variabel masa kerja dalam penelitian ini dilihat dari lamanya responden

bekerja di proyek konstruksi tersebut. Berdasarkan tabel 5.2

didapatkan distribusi nilai median masa kerja pekerja adalah 1,5

bulan dengan standar deviasi 1,897. Masa kerja terendah adalah 1

bulan sedangkan masa kerja tertinggi adalah 7 bulan.

d. Frekuensi Mencuci Tangan

Variabel frekuensi mencuci tangan dilihat dari berapa kali dalam

sehari responden mencuci tangannya ketika sedang bekerja.

Berdasarkan tabel 5.2 didapatkan distribusi nilai median frekuensi

mencuci tangan sebanyak 4 kali sehari dengan standar deviasi 3,077.


72

Frekuensi mencuci tangan paling sedikit adalah 2 kali sehari dan

frekuensi mencuci tangan terbanyak adalah 12 kali sehari

e. Jenis Keahlian Pekerja

Variabel jenis keahlian pekerja merupakan spesifikasi kemampuan

pekerja di proyek konstruksi yang di kategorikan menjadi jenis

keahlian beresiko tinggi dan keahlian beresiko rendah berdasarkan

lamanya kontak dengan bahan iritan (semen). Jenis Keahlian pekerja

seperti tukang tembok, pengaduk semen, tukang plester dan aci serta

tukang pemasang keramik di kategorikan kedalam jenis keahlian

beresiko tinggi karena pada umumnya pekerja tersebut kontak

dengan bahan iritan (semen) dalam waktu yang lama, sedangkan jenis

keahlian kenek dikategorikan kedalam jenis keahlian beresiko rendah

karena lama kontak yang relatif singkat dengan bahan iritan (semen).

Berdasarkan tabel 5.3, dapat diketahui, 19 pekerja (59,4 %) termasuk

kedalam jenis keahlian yang beresiko tinggi terhadap dermatitis

kontak iritan dan 13 pekerja (40,6%) termasuk kedalam jenis keahlian

beresiko rendah.

f. Riwayat Penyakit Kulit Sebelumnya

Variabel riwayat penyakit kulit merupakan pekerja yang sedang

menderita penyakit kulit pada bagian tangan. Berdasarkan tabel 5.3

dapat diketahui bahwa 3 pekerja (9,4%) memiliki riwayat penyakit

kulit sebelumnya.
73

g. Gambaran Penggunaan APD

Variabel penggunaan APD dalam penelitian ini merupakan

kelengkapan pekerja untuk menggunakan alat pelindung diri berupa

sarung tangan guna melindungi bagian tangan dari kontak langsung

dengan bahan iritan (semen) selama melakukan pekerjaan. Berdasarkan

tabel 5.3 dapat diketahui bahwa, 28 pekerja (87,5 %) tidak

menggunakan APD saat bekerja

5.3 Analisis Bivariat

5.3.1 Hubungan antara Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis


kontak Iritan dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

Analisis bivariat merupakan analisis lanjutan dari analisis univariat

yang bertujuan untuk menguji hipotesis penelitian atau melihat

hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Uji

yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara faktor-faktor yang

mempengaruhi dermatitis kontak iritan dengan kejadian dermatitis

kontak iritan menggunakan mann whitney test untuk variabel lama

kontak, usia, masa kerja dan frekuensi mencuci tangan, sedangkan untuk

variabel jenis keahlian pekerja, riwayat penyakit kulit sebelumnya dan

penggunaan APD menggunaakan chi square test . Hasil analisis data

mengenai hubungan antara faktor- faktor yang mempengaruhi dermatitis

kontak iritan dengan kejadian dermatitis kontak iritan di PT. Wijaya

Kusuma Contractors dapat dilihat pada tabel 5.4 dan tabel 5.5 berikut ini
74

Tabel 5.4
Distribusi Faktor Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis Kontak Iritan dengan
Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Tangan yang dialami Pekerja
Konstruksi yang Terpapar Semen di PT Wijaya Kusuma Contractors
Tahun 2014

P
No Variabel Kategori N
Value
1 Lama Kontak Dermatitis Kontak Iritan 11
0,165
Tidak Dermatitis Kontak Iritan 21
2 Usia Dermatitis Kontak Iritan 11
0,874
Tidak Dermatitis Kontak Iritan 21
3 Masa Kerja Dermatitis Kontak Iritan 11
0,083
Tidak Dermatitis Kontak Iritan 21
4 Frekuensi mencuci Tangan Dermatitis Kontak Iritan 11
0,028
Tidak Dermatitis Kontak Iritan 21

Tabel 5.5
Distribusi Faktor Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis Kontak Iritan dengan
Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Tangan yang Dialami Pekerja
Konstruksi yang Terpapar Semen di PT Wijaya Kusuma Contractors
Tahun 2014

Kejadian Dermatitis
Dermatitis Tidak
Kontak Dermatitis Total P
No Variabel Kategori
Iritan Kontak Value
Iritan
n % n % n %

Jenis Keahlian
Jenis
1 Resiko tinggi 8 42,1 11 57,9 19 100
Keahlian
0,450
Jenis keahlian
3 23,1 10 76,9 13 100
resiko rendah
Riwayat
2 Penyakit Ada Riwayat 2 66,7 1 33,3 3 100
sebelumnya 0,266
Tidak Ada
9 31,0 20 69,0 29 100
Riwayat
Penggunaan Tidak
3 10 35,7 18 64,3 28 100
APD menggunakan 1,000
Menggunakan 1 25 3 75 4 100
75

a. Lama Kontak dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

Hasil uji statistik terhadap hubungan antara variabel lama

kontak dengan kejadian dermatitis kontak iritan berdasarkan tabel 5.4

diatas, didapatkan nilai P value 0,165, yang artinya pada 5% tidak

ada hubungan antara lama kontak dengan kejadian dermatitis kontak

iritan pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT.

Wijaya Kusuma Contractors.

b. Usia dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

Hasil uji statistik terhadap hubungan antara variabel lama

kontak dengan kejadian dermatitis kontak iritan berdasarkan tabel 5.4,

diketahui nilai P value 0,874, yang artinya pada 5% tidak ada

hubungan antara usia dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada

tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya

Kusuma Contractors.

c. Masa Kerja dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

Hasil uji statistik terhadap hubungan antara variabel masa

kerja dengan kejadian dermatitis kontak iritan berdasarkan tabel 5.4,

diketahui nilai P value 0,083 yang artinya pada 5% tidak ada

hubungan antara masa kerja dengan kejadian dermatitis kontak iritan

pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya

Kusuma Contractors.
76

d. Frekuensi Mencuci Tangan dengan Kejadian Dermatitis Kontak


Iritan

Hasil uji statistik terhadap hubungan antara variabel masa

kerja dengan kejadian dermatitis kontak iritan berdasarkan tabel 5.4,

diketahui nilai P value 0,028 yang artinya pada 5% ada hubungan

antara masa kerja dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada

tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya

Kusuma Contractors.

e. Jenis Keahlian Pekerja dengan Kejadian Dermatitis Kontak


Iritan

Hasil uji statistik terhadap hubungan antara variabel jenis

keahlian pekerja dengan kejadian dermatitis kontak iritan

berdasarkan tabel 5.5, menunjukkan nilai P value 0,45 yang artinya

pada 5% tidak ada hubungan antara jenis keahlian pekerja dengan

kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja konstruksi

yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors.

f. Riwayat Penyakit Sebelumnya dengan Kejadian Dermatitis


Kontak Iritan

Hasil uji statistik terhadap hubungan antara variabel riwayat

penyakit sebelumnya dengan kejadian dermatitis kontak iritan

berdasarkan tabel 5.5 menunjukkan nilai P value sebesar 0,266 yang

artinya pada 5% tidak ada hubungan antara riwayat penyakit kulit

sebelumnya dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada pada


77

tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma

Contractors. Uji statistik yang digunakan pada variabel ini adalah uji

Fischer Exact karena terdapat lebih dari 20 % dari keseluruhan

sel memiliki nilai harapan kurang dari 5.

g. Penggunaan APD dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

Hasil uji statistik terhadap hubungan antara variabel

penggunaan APD dengan kejadian dermatitis kontak iritan

berdasarkan tabel 5.5 menunjukkan nilai P value sebesar 1 yang

artinya pada 5% tidak ada hubungan yang signifikan antara

penggunaan APD dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada

pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya

Kusuma Contractors. Uji statistik yang digunakan pada variabel ini

adalah uji Fischer Exact karena terdapat lebih dari 20 % dari

keseluruhan sel memiliki nilai harapan kurang dari 5.


BAB VI

PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan penelitian

yaitu:

1. Tidak ada data sekunder mengenai riwayat kesehatan pekerja sehingga

peneliti tidak memiliki data pendukung untuk mengetahui riwayat penyakit yang

kulit yang pernah atau sedang dialami pekerja

2. Jumlah sampel yang digunakan adalah total populasi yang hanya berjumlah 32

responden (total sampling).

3. Tidak dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap kuisioner penelitian yang

digunakan.

6.2 Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

Menurut Wolff et all (2008) Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan

reaksi peradangan nonimunologik pada kulit yang disebabkan oleh kontak

dengan faktor eksogen maupun endogen, faktor eksogen berupa bahan-bahan

iritan (kimiawi, fisik,maupun biologik) dan faktor endogen memegang

peranan penting pada penyakit ini seperti faktor genetik, jenis kelamin, suku/ras,

usia, dan lokasi kulit .

Hasil penelitian melalui menunjukan bahwa 34,4 % atau 11 dari 32 orang

pekerja yang terpapar dengan semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors

78
79

menderita dermatitis kontak iritan pada tangan. Menurut Cohen (1999), kontak

dengan bahan kimia merupakan penyebab terbesar dermatitis kontak akibat

kerja.

Semen merupakan bahan kimia yang banyak digunakan di proyek

konstruksi. Pada umumnya, semen untuk bahan bangunan adalah tipe semen

portland. Penggunaan semen portland di proyek konstruksi yang sedang di

kerjakan PT. Wijaya Kusuma Contractors antara lain digunakan dalam

pembuatan beton, adukan, plesteran,bahan penambal, adukan encer (grout) dan

sebagainya.

Semen portland memiliki pH lebih dari 12 ( bersifat alkalis kuat) sehingga

apabila kontak berulang-ulang dengan kulit dapat menimbulkan dermatitis

kontak iritan (fregert, 1981). Semen yang basah lebih bersifat alkali dibanding

semen kering karena air membebaskan kalsium hidroksida menyebabkan

peningkatan pH dan adanya campuran dengan pasir yang bersifat abrasif yang

secara mekanis dapat mengiritasi kulit dan menyebabkan dermatitis (Cronin,

1980).

Pekerja di PT. Wijaya Kusuma Contractors ini lebih banyak terpapar

dengan semen yang basah, karena dalam penggunaan semen di proyek

konstruksi seperti beton, adukan, plesteran, adukan encer (grout) memerlukan

pencampuran air ataupun bahan lain seperti pasir dalam pembuatannya.

Dari hasil penelitian diketahui, variabel frekuensi mencuci tangan saat

bekerja memiliki hubungan dengan kejadian dermatitis kontak iritan. Dalam

sehari, rata-rata pekerja di PT. Wijaya Kusuma Contractors mencuci tangannya


80

sebanyak 6 kali. Kebiasaan mencuci tangan secara berlebihan saat melakukan

pekerjaan yang kontak dengan bahan iritan seperti semen mengakibatkan

peningkatan hidrasi pada bagian stratum corneum kulit yang dapat menurunkan

fungsi pertahanan kulit ( safeguard, 2000). Dari penjelasan tersebut, dapat

simpulkan bahwa faktor penyebab utama terjadinya dermatitis kontak iritan pada

tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors

yaitu frekuensi mencuci tangan yang berlebihan.

6.3
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis Kontak Iritan

a. Frekuensi Mencuci Tangan dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

Frekuensi mencuci tangan yang tinggi berakibat terjadinya peningkatan

hidrasi pada lapisan stratum corneum kulit yang menyebabkan penurunan

fungsi pertahanan kulit ( safeguard, 2000). Air ternyata merupakan faktor

iritan tersendiri sehingga mempermudah terjadinya dermatitis kontak iritan.

(Elston dkk, 2002). Bahkan air dalam keadaan oklusif mampu menimbulkan
kelainan pada lapisan lipid dan merusak stratum corneum. (Zhai,

Miabcah,2002)

Frekuensi mencuci tangan merupakan banyaknya aktivitas

mencuci tangan yang dilakukan pekerja selama melakukan pekerjaannya

dalam sehari. Berdasarkan data tabel 5.2 diketahui rata-rata pekerja mencuci

tangannya sebanyak 6 kali selama bekerja, dan nilai median 4 kali selama

bekerja. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi


81

mencuci tangan dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan pekerja

konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors dengan .

Kondisi tangan yang basah setelah cuci tangan, kemudian terkontaminasi

kembali dengan semen akan semakin meningkatkan resiko terjadinya

dermatitis kontak iritan. Hal ini dikarenakan air akan membebaskan

kalsium hidroksida pada semen sehingga pH semen meningkat (semen

semakin bersifat alkalis). Bahan alkalis dapat menyebabkan terjadinya

dermatitis (Cronin, 1980)

Penelitian Hogan (2009) di Amerika Serikat terhadap pekerjaan yang

melibatkan kegiatan mencuci tangan atau paparan berulang pada kulit terhadap

air seperti pembantu rumah tangga, pelayan rumah sakit, tukang masak, dan

penata rambut didapatkan hasil 55,6% pelayan rumah sakit di bagian intensif

care unit mengalami dermatitis pada tangan, dan 69,7% pada pekerja yang

sering terpapar dengan air, mencuci tangannya dengan

frekuensi >35 kali setiap pergantian). Frekuensi mencuci tangan >35 kali setiap

pergantian memiliki hubungan kuat dengan dermatitis tangan karena pekerjaan

dengan odds ratio = 4,13 .

Berdasarkan penjelasan diatas, pekerja di proyek konstruksi, khususnya

yang terpapar semen, seharusnya mengurangi frekuensi mencuci tangan

selama bekerja karena secara statistik terbukti berhubungan dengan kejadian

dermatitis kontak iritan.


82

b. Lama Kontak dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

Lama waktu terpajan bahan kimia dalam setiap harinya merupakan

salah satu faktor risiko untuk terjadinya dermatitis kontak. Semakin lama

kontak dengan bahan kimia, maka peradangan atau iritasi kulit dapat terjadi

sehingga menimbulkan kelainan kulit (Agius, 2004)

Pada kejadian DKI kategori akut,kelainan akan muncul beberapa detik

setelah kontak dengan bahan iritan yang bersifat kuat,sedangkan pada DKI

kronik (kumulatif), kelainan kulit baru muncul setelah beberapa hari,

minggu, bulan, bahkan tahun setelah kontak dengan bahan iritan yang

bersifat lemah dan berulang-ulang (Wolff et all, 2008; Sularsito dan

Djuanda, 2008).

Lama kontak merupakan jangka waktu pekerja terpajan bahan iritan

dalam hitungan jam/hari. Berdasarkan data pada tabel 5.2 diketahui nilai

median lama kontak pekerja dengan semen adalah 8 jam /hari. Pekerja

memulai pekerjaaanya pada pukul 08.00 pagi hingga pukul 5 sore dengan

waktu istirahat 1 jam antara pukul 12.00 hingga pukul 13.00. Hampir setiap

hari diberlakukan lembur kerja mulai pukul 19.00 hingga pukul 22.00,

sehingga total jam kerja adalah 11 jam dalam sehari. Hasil uji statistik

menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara lama kontak dengan kejadian

dermatitis kontak iritan , dengan p value 0,165

Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya seperti

penelitian Erliana (2008) dan Lestari (2007), dimana lama kontak memiliki

hubungan dengan kejadian dermatitis kontak. Bila dikaitkan dengan variabel


83

yang berhubungan dalam penelitian ini yaitu frekuensi mencuci tangan,

ternyata diketahui variabel frekuensi cuci tangan yang tinggi lah yang berperan

menyebabkan DKI pada pekerja, sebagaimana terlihat pada hasil tabulasi

silang antara variabel lama kontak , frekuensi mencuci tangan dan variabel

dermatitis kontak iritan pada tabel 6.1 berikut ini :

Tabel 6.1
Tabulasi Silang Variabel Lama Kontak, Variabel Frenkuensi Mencuci
Tangan dan Variabel Dermatitis Kontak Iritan

DKI Tidak DKI Total


Frekuensi Lama kont ak 8 6 5 11

mencuci tangan Lama kontak <8 2 4 6

4 Total
8 9 17
Frekuensi Lama kont ak 8 2 5 7

mencuci tangan Lama kontak <8 1 7 8

<4 Total
3 12 15

Sebanyak 8 pekerja dengan durasi kerja melebihi nilai median lama

kontak ( 8 jam per hari ) dan menderita dermatitis kontak iritan,

6 diantaranya mencuci tangannya melebihi nilai median frekuensi mencuci

tangan ( 4 kali selama bekerja). Dengan kata lain, sebanyak 6/8 atau 75 %

pekerja yang menderita DKI dan memiliki lama kontak yang tinggi dengan

semen, ternyata melakukan aktifitas mencuci tangan yang sering pula.


84

c. Usia dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

Kulit manusia mengalami degenerasi seiring bertambahnya usia

sehingga kulit kehilangan lapisan lemak diatasnya dan menjadi lebih kering.

Kekeringan pada kulit memudahkan bahan kimia untuk masuk ke kulit

sehingga mengakibatkan dermatitis kontak iritan(Cohen, 1999)

Hasil penelitian menunjukkan variabel usia tidak memiliki hubungan

dengan kejadian dermatitis kontak iritan (P value 0,874) yang artinya usia

bukan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi dermatitis kontak iritan

pada tangan yang dialami pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT.

Wijaya Kusuma Contractors.

Walaupun tidak memiliki hubungan, akan tetapi penelitian ini sejalan

dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryani (2011) yang dilakukan pada

karyawan di pabrik kosmetik PT. Cosmar Indonesia menunjukkan hasil

menunjukan bahwa rata-rata usia pekerja yang mengalami dermatitis kontak

yaitu 23 tahun yang mana masih tergolong dalam usia muda.

Menurut peneliti, dalam konteks faktor-faktor yang mempengaruhi

dermatitis kontak iritan berdasarkan umur, dapat menyerang semua

kelompok umur baik golongan tua maupun muda. Hasil penelitian yang

menunjukkan hasil golongan usia muda lebih banyak menderita dermatitis

kontak lebih di disebabkan oleh karena mayoritas pekerja di proyek tersebut

adalah golongan usia muda.


85

Bila dikaitkan dengan frekuensi mencuci tangan yang dilakukan

pekerja , hasil tabulasi silang antara variabel usia , frekuensi mencuci tangan

dan variabel dermatitis kontak iritan menunjukkan bahwa kejadian dermatitis

kontak yang terjadi lebih diakibatkan karena frekuensi mencuci tangan yang

dilakukan pekerja, sebagaimana terlihat pada tabel 6.2 berikut ini :

Tabel 6.2
Tabulasi Silang Variabel Usia, Variabel Frenkuensi Mencuci
Tangan dan Variabel Dermatitis Kontak Iritan

DKI Tidak DKI Total


Frekuensi Usia 24 4 3 7

mencuci tangan Usia <24 4 6 10

4 Total 8 9 17

Frekuensi Usia 24 2 7 9

mencuci tangan Usia <24 1 5 6

<4 Total 3 12 15

Sebanyak 6 pekerja dengan usia melebihi nilai median lama usia ( 24

tahun ) dan menderita dermatitis kontak iritan , 4 diantaranya mencuci

tangannya melebihi nilai median frekuensi mencuci tangan ( 4 kali selama

bekerja). Dengan kata lain, sebanyak 4/6 atau 66,7% pekerja yang menderita

DKI dan berusia tua (lebih atau sama dengan nilai median usia), ternyata

melakukan aktifitas mencuci tangan yang sering pula.


86

d. Masa Kerja dengan Kejadian Dermatitis Kontak

Menurut Sumamur (1996) semaki n l ama seseorang dal am bekerja

maka semakin banyak dia telah terpapar bahaya yang ditimbulkan oleh

lingkungan kerja tersebut. Pekerja yang lebih lama terpajan dan berkontak

dengan bahan kimia menyebabkan kerusakan sel kulit bagian luar, semakin

lama terpajan maka semakin merusak sel kulit hingga bagian dalam dan

memudahkan untuk terjadinya penyakit dermatitis.

Masa kerja dalam penelitian ini merupakan jangka waktu pekerja mulai

bekerja di proyek yang sedang di kerjakan PT. Wijaya Kusuma Contractors

sampai dengan waktu penelitian dilaksanakan. Masa kerja penting diketahui

untuk melihat lamanya seseorang telah terpajan dengan bahan iritan. Hasil

uji statistik menunjukkan tidak adanya hubungan antara variabel masa kerja

dengan kejadian dermatitis kontak iritan (P value 0,083).

Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian sebelumnya

yang dilakukan oleh Erliana (2008) dan Suryani (2009) yang menyatakan

bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan

kejadian dermatitis kontak iritan.

Berdasarkan hasil penilitian ini, variabel masa kerja bukan merupakan

faktor resiko utama terhadap paparan semen penyebab dermatitis kontak

iritan . Hal ini kemungkinan disebabkan karena secara rata-rata masa kerja

pekerja tersebut tergolong singkat yakni hanya 2, 38 bulan dan nilai median

masa kerja 1,5 bulan.


87

Bila dikaitkan dengan frekuensi mencuci tangan yang dilakukan

pekerja , hasil tabulasi silang antara variabel masa kerja , frekuensi mencuci

tangan dan variabel dermatitis kontak iritan menunjukkan bahwa kejadian

dermatitis kontak yang terjadi lebih diakibatkan karena frekuensi mencuci

tangan yang dilakukan pekerja, sebagaimana terlihat pada tabel 6.3 berikut

ini :

Tabel 6.3
Tabulasi Silang Variabel Masa Kerja, Variabel Frenkuensi Mencuci
Tangan dan Variabel Dermatitis Kontak Iritan

DKI Tidak DKI Total


Frekuensi Masa Kerja 1,5 2 5 7

mencuci tangan Masa Kerja <1,5 6 4 10

4 Total 8 9 17

Frekuensi Masa Kerja 1,5 1 8 9

mencuci tangan Masa Kerja <1,5 2 4 6

<4 Total 3 12 15

Sebanyak 8 pekerja dengan masa kerja kurang dari nilai median masa

kerja ( <1,5 bulan ) dan menderita dermatitis kontak iritan , 6 diantaranya

mencuci tangannya melebihi nilai median frekuensi mencuci tangan ( 4 kali

selama bekerja). Dengan kata lain, sebanyak 6/8 atau 75 % pekerja yang

menderita DKI dan memiliki masa kerja yang sebentar ( kurang dari median
88

masa kerja), ternyata melakukan aktifitas mencuci tangan yang tidak banyak

( dibawah nilai median frekuensi mencuci tangan)

e. Jenis Keahlian Pekerja dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

Penelitian Adillah (2012) pada karyawan binatu di Semarang

menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel jenis

pekerjaan dengan kejadian dermatitis kontak dengan P value 0,009

Jenis jenis keahlian pekerja yang berkaitan dengan paparan semen

terhadap pekerja konstruksi yang ditemui di proyek yang sedang di kerjakan

PT. Wijaya Kusuma Contractors ini antara lain pekerja pemasang

dinding/tembok, pengaduk semen, kenek, tukang plester dan aci serta

pemasang lantai keramik.

Menurut Sjamsoe (2005), jenis pekerjaan seperti tukang tembok dan

tukang semen mempunyai resiko tinggi terkena dermatitis kontak akibat

terpapar hexavalent chromate yang larut dalam air pada semen basah, selain

itu pekerja tersebut juga memiliki lama paparan yang tinggi dengan semen

setiap harinya.

Dalam penelitian ini, kelima jenis keahlian pekerja tersebut kemudian

di kategorikan menjadi dua kategori yaitu jenis keahlian beresiko tinggi dan

jenis keahlian beresiko rendah. Pengkategorian tersebut berdasarkan pada

pendapat dari Sjamsoe (2005) sebagaimana dijelaskan diatas. Pemasang

tembok, pengaduk semen, tukang plester dan aci serta pemasang keramik
89

dikategorikan kedalam jenis keahlian beresiko tinggi, sedangkan jenis

keahlian kenek dikategorikan jenis keahlian beresiko rendah.

Hasil uji statistik menunjukkan tidak adanya hubungan antara variabel

jenis keahlian pekerja dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan

pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors

(p value 0,450)

Bila dikaitkan dengan frekuensi mencuci tangan yang dilakukan

pekerja , hasil tabulasi silang antara variabel jenis keahlian pekerja, frekuensi

mencuci tangan dan variabel dermatitis kontak iritan menunjukkan bahwa

kejadian dermatitis kontak yang terjadi lebih diakibatkan karena frekuensi

mencuci tangan yang dilakukan pekerja, sebagaimana terlihat pada tabel 6.4

berikut ini :

Tabel 6.4
Tabulasi Silang Variabel Jenis Keahlian Pekerja, Variabel Frekuensi
MencuciTangan dan Variabel Dermatitis Kontak Iritan

DKI Tidak DKI Total


Keahlian
Frekuensi 6 5 11
resiko tinggi
mencuci tangan Keahlian
2 4 6
4 resiko rendah
Total 8 9 17
Keahlian
Frekuensi 2 6 8
resiko tinggi
mencuci tangan Keahlian
1 6 7
resiko rendah
<4
Total 3 12 15
90

Sebanyak 8 pekerja dengan jenis keahlian beresiko tinggi dan

menderita dermatitis kontak iritan , 6 diantaranya mencuci tangannya

melebihi nilai median frekuensi mencuci t angan ( 4 kali sel ama bekerja).

Dengan kata lain, sebanyak 6/8 atau 75 % pekerja yang menderita DKI dan

dengan jenis keahlian beresiko tinggi ( lebih atau sama dengan median masa

kerja), ternyata melakukan aktifitas mencuci tangan yang sering pula.

f. Riwayat Penyakit Sebelumnya dengan Kejadian Dermatitis Kontak


Iritan

Menurut Djuanda (2007), pekerja yang sebelumnya atau sedang

menderita non dermatitis akibat kerja lebih mudah mendapat dermatitis

akibat kerja, karena fungsi perlindungan dari kulit sudah berkurang akibat

dari penyakit kulit yang diderita sebelumnya. Fungsi perlindungan yang

berkurang tersebut antara lain hilangnya lapisan-lapisan kulit, rusaknya

saluran kelenjar keringat dan kelenjar minyak serta perubahan pH kulit.

Riwayat penyakit sebelumnya merupakan penyakit kulit akibat kerja

pada tangan yang sedang diderita pekerja sebelum bekerja di proyek

konstruksi saat ini. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada

hubungan antara riwayat penyakit kulit dengan kejadian dermatitis kontak

iritan pada tangan pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya

Kusuma Contractors ( P value 0,266) .

Tidak ditemukannya hubungan antara riwayat penyakit kulit

sebelumnya dengan dermatitis kontak iritan kemungkinan disebabkan karena


91

jumlah sampel yang sedikit, dimana hanya ditemukan 3 dari 32 pekerja yang

memiliki riwayat penyakit kulit sebelumnya.

Bila dikaitkan dengan frekuensi mencuci tangan yang dilakukan

pekerja , hasil tabulasi silang antara variabel riwayat penyakit sebelumnya,

frekuensi mencuci tangan dan variabel dermatitis kontak iritan menunjukkan

bahwa kejadian dermatitis kontak yang terjadi lebih diakibatkan karena

frekuensi mencuci tangan yang dilakukan pekerja, sebagaimana terlihat pada

tabel 6.5 berikut ini :

Tabel 6.5
Tabulasi Silang Variabel Riwayat Penyakit Kulit Sebelumnya, Variabel
Frekuensi MencuciTangan dan Variabel Dermatitis Kontak Iritan

DKI Tidak DKI Total


Frekuensi Ada Riwayat 1 1 2
Tidak ada
mencuci tangan 7 8 15
Riwayat
4 Total 8 9 17
Frekuensi Ada Riwayat 1 0 1
Tidak ada
mencuci tangan 2 12 14
Riwayat
<4 Total 3 12 15

Sebanyak 9 pekerja yang tidak memiliki riwayat penyakit kulit

sebelumnya, dan menderita dermatitis kontak iritan , 7 diantaranya mencuci

tangannya melebihi nilai median frekuensi mencuci tangan ( 4 kali selama

bekerja. Dengan kata lain, 7/9 atau 77,7 % pekerja yang menderita DKI dan
92

tidak memiliki riwayat penyakit kulit , ternyata melakukan aktifitas mencuci

tangan yang sering pula.

g. Penggunaan APD dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

Menurut Sumamur (1992) Al at Peli ndung Di ri ( APD) adal ah suat u

alat yang dipakai untuk melindungi diri atau tubuh terhadap bahaya-bahaya

kecelakaan kerja. Peralatan pelindung tidak menghilangkan ataupun

mengurangi bahaya yang ada, peralatan ini hanya mengurangi jumlah kontak

dengan bahaya dengan cara penempatan penghalang antara pekerja dan

bahaya.

Sebuah studi yang dilakukan Erliana (2008) pada pekerja pembuat

paving block menunjukkan bahwa variabel penggunaan APD mempunyai

hubungan yang signifikan dengan kejadian dermatitis kontak dengan nilai

p value = 0,001, artinya jika responden tidak menggunakan APD dengan

benar dan sesuai, maka semakin sering terpapar semen, sehingga

menyebabkan dermatitis kontak

Alat pelindung diri yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sarung

tangan. Hasil uji statistik yang telah dilakukan menunjukkan tidak terdapat

hubungan antara variabel penggunaan alat pelindung diri (sarung tangan)

terhadap terjadinya dermatitis kontak iritan.

Tidak adanya hubungan antara penggunaan alat pelindung diri berupa

sarung tangan dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada tangan yang

dialami pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT. Wijaya Kusuma


93

Contractors kemungkinan terkait dengan kedisiplinan pekerja yang rendah

dalam menggunakan sarung tangan.

Dari total 32 pekerja yang diteliti, hanya 4 pekerja yang menggunakan

sarung tangan ketika penelitian berlangsung. Kondisi sarung tangan yang

digunakan pun tidak sesuai dengan standar karena sarung tangan berlubang

di beberapa tempat.

PT. Wijaya Kusuma Contractors selaku perusahaan yang menaungi

pekerja tersebut, seharusnya dapat meningkatkan pengawasan terhadap

pekerja terkait penggunaan APD khususnya sarung tangan selama melakukan

pekerjaan yang kontak dengan semen. Ketersedian sarung tangan pun harus

dijamin agar ketika sarung tangan yang diberikan sudah rusak, pekerja dapat

dengan mudah menggantinya dengan yang baru.

Bila dikaitkan dengan frekuensi mencuci tangan yang dilakukan

pekerja , hasil tabulasi silang antara penggunaan APD, frekuensi mencuci

tangan dan variabel dermatitis kontak iritan menunjukkan bahwa kejadian

dermatitis kontak yang terjadi lebih diakibatkan karena frekuensi mencuci

tangan yang dilakukan pekerja, sebagaimana terlihat pada tabel 6.6 berikut

ini :
94

Tabel 6.6
Tabulasi Silang Variabel Penggunaan APD, Variabel Frekuensi
MencuciTangan dan Variabel Dermatitis Kontak Iritan

DKI Tidak DKI Total


Frekuensi Tidak
7 9 16
menggunakan
mencuci tangan
Menggunakan 1 0 1
4
Total 8 9 17
Frekuensi Tidak
3 9 12
menggunakan
mencuci tangan
Menggunakan 0 3 3
<4
Total 3 12 15

Sebanyak 10 pekerja yang tidak menggunakan APD dan menderita

dermatitis kontak iritan , 7 diantaranya mencuci tangannya melebihi nilai

median frekuensi mencuci t angan ( 4 kali sel ama bekerja). Dengan kata

lain, 7/10 atau 70 % pekerja yang menderita DKI dan tidak menggunakan

APD (sarung tangan), ternyata melakukan aktifitas mencuci tangan yang

sering pula.
BAB VII SIMPULAN

DAN SARAN

7.1
Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di proyek konstruksi yang

sedang dikerjakan PT. Wijaya Kusuma Contractors pada pekerja yang terpapar

semen, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Pekerja yang mengalami dermatitis kontak iritan sebesar 34,4 %

2. Median Lama kontak pekerja adalah 8 jam per hari.

3. Median masa kerja pekerja adalah 1,5 bulan

4. Median frekuensi mencuci tangan yang dilakukan pekerja adalah 4 kali

selama bekerja

5. Jumlah pekerja dengan jenis keahlian beresiko tinggi sebesar 59,4 %

6. Jumlah pekerja dengan riwayat penyakit kulit sebelumnya adalah 9,4 %


7. Jumlah pekerja yang tidak menggunakan APD saat bekerja adalah 87,5 %

8. variabel yang berhubungan dengan kejadian dermatitis kontak iritan adalah

frekuensi mencuci tangan dengan nilai p value 0,028

9. Variabel yang tidak berhubungan dengan kejadian dermatitis kontak iritan

adalah lama kontak (P value 0,165), usia (P value 0,874), masa kerja (P value

0,083), jenis keahlian pekerja (P value 0,450), riwayat penyakit kulit (P value

0,266) dan penggunaan APD (P value 1,000)

95
96

7.2
Saran

Untuk mereduksi resiko dermatitis kontak iritan pada tangan yang dialami

pekerja konstruksi yang terpapar semen di PT.Wijaya Kusuma Contractors ,

disarankan :

1. Saran Bagi Pekerja

a. Pekerja seharusnya mengurangi frekuensi mencuci tangan selama bekerja,

karena frekuensi mencuci tangan yang tinggi terbukti berhubungan dengan

kejadian dermatitis kontak iritan.

b. Pekerja seharusnya selalu menggunakan alat pelindung diri berupa sarung

tangan selama melaksanankan proses kerja sehingga dapat meminimalisir

terjadinya kontak langsung dengan bahan iritan (semen)

2. Saran Bagi PT. Wijaya Kusuma Contractors

a. Menyediakan alat pelindung diri berupa sarung tangan dengan jumlah yang

mencukupi agar pekerja dapat mengganti secara rutin sarung tangan apabila
konsidinya sudah rusak.

b. Meningkatkan pengawasan dan penegakkan aturan terhadap pekerja terkait

penggunaan APD khususnya sarung tangan selama melakukan pekerjaan

yang kontak dengan semen

3. Saran Bagi Peneliti Selanjutnya

a. Perlu dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas terhadap kuisioner yang

digunakan
97

b. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang mempengaruhi

terjadinya dermatitis kontak iritan akibat kerja dengan teknik pengumpulan

data yang lebih baik sehingga dapat meneliti ukuran molekul, daya larut ,

konsentrasi dari bahan kimia yang kontak dengan kulit, ketebalan kulit

responden, serta suhu dan kelembaban udara, jika dilakukan pada kondisi

lingkungan kerja yang berbeda- beda.


DAFTAR PUSTAKA

Afi ah, Adillah.2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis Kontak

Akibat Kerja Karyawan Binatu. Semarang : Fakultas Kedokteran Universitas

Diponegoro.

Agius R. 2004. Practical Occupational Medicine dalam www.agius.com.

Anies.2005. Penyakit Akibat Kerja, Jakarta : PT. Elex Media Komputindo Kelompok

gramedia.

Australian Government. 2006. Occupational contact dermatitis in Australia. Australia:

Commonwealth of Australia.p.1-12.

Beltrani, V. S., et al., 2006. Contact Dermatitis: A Practice Parameter. Ann Alergi

Asthma Immunol 97 (1): 1-38.

Bock M, Schmidt A, et all. 2003, Contact dermatitis and allergy occupational skin disease in

the construction industry. British Journal of Dermatology, Vol 149.

Brown T. 2004. Strategies For Prevention: Occupational Contact Dermatitis.

Occupational Medicine;54:450-7.

Buxton, Paul K.2003. ABC of Dermatology 4th ed. London : BMJ Books.

Chew AL dan Howard IM, editors.2006. Ten Genotypes of Iritant Contact Dermatitis,

Dalam : Chew AL and Howard IM, editors. Irritant Dermatitis. Germany :

Springer-Verlag Berlin Heidelberg.

Cohen. 1999. DE. Occupational Dermatosis, Handbook of Occupational Safety and

Health, second edition.


Cronin E. 1980. Contact Dermatitis. Ediburgh, London dan New York: Churchill

Livingstone.

Da iel J Hogan, MD. 2009. Contact Dermatitis: Irritant. Available from:

emedicine.medscape.com/article/1049353-overview.

De kes RI.1992. Undang-Undang Kesehatan (UU RI No. 23 Tahun 1992 Tentang

Kesehatan). Jakarta : Indonesian Legal Center Publishing

Diepgen T.L, ett. All.2003. Contact Dermatitis and Allergy : Occupational Skin Dosease

in Construction Industry, British Journal of Dermatology ,Vol 149.

Djuanda Adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 5 Bagian Ilmu Penyakit

Kulit dan Kelamin. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dj naedi H, Lokananta MD. 2003. Dermatitis Kontak Akibat Kerja, Majalah Kesehatan

Masyarakat Indonesia Nomor 3 volume 31.

Elston CDM, Ahmed DDF, WatskyKL, Schwarzeberger K. 2002.Hand dermatitis J. Am

Acad dermatol; 47 : 291-9.

Erliana. 2008. Hubungan Karakteristik Individu dan Penggunaan Alat Pelindung Diri

dengan Kejadian Dermatitis Kontak pada Pekerja Paving Block CV. F. Lhoksumawe.

Skripsi Universitas Sumatera Utara.

Ervianto, W.I., 2005, Manajemen Proyek Konstruksi, Andi, Yogyakarta.

Florence SM. 2008 Analisa Dermatitis Kontak pada Karyawan Pencuci Botol di PT X

Medan Tahun 2008. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Fregret, S., 1998. Kontak Dermatitis. Jakarta: Yayasan Essentia Medica.


Fregert, Sigfrid.1981. Kontak Dermatitis ( Manual of Contact Dermatitis ). Yogyakarta :

Yayasan Essentia Medica.

Frimat P. 2002. Occupational dermatitis in construction and public workers. Rev

Prat.;52:14338.

Gawkrodger DJ. 2003. Dermatology An Illustrated Colour Text. Churchill

Livingstone:pp. 39117.

Gould , Dinah.2003. Occupational Irritant Dermatitis in Healthcare Workers-Meeting

thr Challenge of Prevention. Available from : URL://ssl-international.com.

Diakses tanggal 13 Februari 2014.

Grand SS.2008. Allergic Contact Dermatitis Versus Irritant Contact Dermatitis.

[Online].2008.Available from: URL :http://wsiat.on.ca/English/mlo/allergic.htm.

Diakses tanggal 13 Februari 2014.

Ha ahap M.2000. Ilmu penyakit kulit. Jakarta: Hipokrates.

HSE. 2000. The Prevalence of Occupational Dermatitis among Work in The Printing

Industry and Your Skin dalam www.hsebooks.co.uk. Diakses tanggal 04 Februari

2014.

Health and Safety Executive, 2000. Contact Dermatitis in Workers. Diperoleh dari:

http://www.hse-Skin_at_work_Work-related_skin_diseaseContactdermatitis.

mht.hsebooks.co.uk. Diakses tanggal 04 Februari 2014.

http://www.antaranews.com/262528. Diakses tanggal 13 Desember 2013

Keefner, D.M dan Curry, C.E. 2004. Contact Dermatitis Dalam Handbook of

Nonprescription Drugs,12th edition. Washington D.C : APHA.

Kosasih A. 2004. Dermatitis Akibat Kerja. Jakarta :Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan

Kelamin, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.


Krasteva M.D, Maya. 1993.Contact Dermatitis. International Journal of Dermatology,

Volume 32.
Lest
ari, Fatma, . 2007 Faktor-faktor yang berhubungan dengan dermatitis kontak pada

pekerja di PT Inti Pantja Press industri. Skripsi Universitas Indonesia.

Mal
ik, Alfian.2010. Pengantar Bisnis Jasa Pelaksana Konstruksi. Yogyakarta : CV Andi

Offset.
Ma
ks JG dan Deleo VA.1992. Contact and Occupational Dermatology. New York.

Ma
sulli, Anissa. 2010. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Dermatitis Kontak

Iritan Pada Pekerja Pengolahan Sampah di TPA Cipayung Kota Depok Tahun

2010. Skripsi Universitas Islam Negeri Jakarta.


Mul
yaningsih R. 2005. Faktor risiko terjadinya dermatitis kontak pada karyawan salon.

Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.


Mul
yono,T . 2005. Teknologi Beton.Yogyakarta : CV Andi Offset.
NIO
SH. 2006. Occupational and Environment Exposure of Skin to Chemic, dala,
http://www.mines.edu/outreach/oeesc. Diakses tanggal 04 Februari 2014.

Notoatmodjo, Soekidjo.2003. Pengantar Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta :

PT. Rineka Cipta.

Nuraga, W. 2006. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Kontak Pada

Pekerja yang Terpajan dengan Bahan Kimia di PT X Indonesia Tahun 2006. Tesis

pada Program Magister Keselamatan dan Kesehatan kerja. Fakultas Kesehatan

Masyarakat. Universitas Indonesia.

Partogi D. 2008. Dermatitis kontak iritan. Medan: Departemen Ilmu Kesehatan

Kulit dan Kelamin FK USU.


Puslitbang pemukiman. 1982. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-

1982) Bandung : Pusat penelitian dan pengembangan pemukiman Bandung.

Safeguards. 2000. Contact Dermatitis. Government of South Australia, Departemen for

Administrative and Information Services.

Sjamsoe Daili ES, Melandi SL, Wisnu IM. 2005.Dermatitis kontak,Penyakit kulit yang

umum di Indonesia. Jakarta: PT Medical Multimedia Indonesia;.p.11-2.

Suryani, Febria.2011. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis Kontak pada

Pekerja Bagian Processing dan Filling pt. Cosmar Indonesia Tangerang Selatan Tahun

2011.Skripsi Universitas Islam Negeri Jakarta.

Streit,M. dan Lasse R. B.2001. Contact Dermatitis: Clinics and Pathology. Acta Odontol

Scand 59: 309-314.

Sularsito, S.A dan Suria Djuanda,editors. 2008.. Dermatitis. Dalam : Djuanda

A,Mochtar H, Aisah S, editors,. Ilmu Penyakit Kulit dan kelamin. Jakarta : Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia.

Sumamur.1995. Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta : PT. Toko Gunung Agung.

Suraji A (editor) (2007). Kontruksi Indonesia 2030 : untuk Kenyamanan Lingkungan

Terbangun dengan Menciptakan Nilai Tambah Secara Berkelanjutan Berdasarkan

Prosionalisme, Sinergi dan Daya Saing. LPJKN.

Taylor JS, Sood A, Amado A.2003. Occupational skin diseases due to irritans and

allergens. Dalam : Fitzpatricks et al, editors. Dermatology in general medicine

vol.2 7th ed. New York: Mc Graw Hill Medical.

Teguh Wibowo, Petriandy Ponganton Pasulu. 2009. Penggunaan Program Flexi-Man Pada

Proyek Konstruksi Jalan. Petra Christian University Library.


Tri apsoro, Iwan. 2003. Dermatitis Kontak Alergik pada Pasien Rawat Jalan di RSUP

Haji Adam Malik,Medan. Skripsi Universitas Sumatera Utara.

Wahyudi N, Hutomo M. 2005.Penyakit Kulit Akibat Kerja. Berkala Ilmu Penyakit Kulit

dan Kelamin.; Vol. 18, No. 3.

Wi jajahakim, Raymond (2001) Insiden Dan Pola Penyebab Dermatitis Kontak Alergik

Akibat Kerja Pada Pekerja Konstruksi Bangunan Di Kodya Semarang. Masters

thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

Wi der C, Carmody M .2002. The dermal toxicity of cement. Toxicol Ind Health 18.

Wi ahadikusumah, Reini D. 2007. Tantangan Masalah Keselamatan dan Kesehatan

Kerja pada Proyek Konstruksi di Indonesia.: Bandung : Fakultas Teknik Sipil

dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung.

Wolff K, Lowel AG, Stephen IK, Barbara AG, Amy SP, David JL,editors. Fitzpatricks

Dermatology in General Medicine 7th ed. New York : McGraw Hill.

Zhai Hingbo,Miabcah HI. 2002 .Occulsion vs skin barrier Function. Skin Research and

Technology,8 :1-6.
wijaya kusuma contractors
I
- -
.. _ --i..
- -
see, AIM OXOT
No. 073/WICCll

Nama : A11 A. Nugraha, SH

Jabatan : Deputy Dif'edDr Human Resources

: PT Wljaya Kusuma C.O. ,badDf's


l. R.P. Soeroso No. 32 Jakarta 10330
Dengan inl me11eia11gkan bahwa:
Nama Dwl Ambang Prasetyo
NIM 107101003796

Adalah mahasiswa UIN Syartf Hidayatullah Jakarta, Prodi Kesehatan Masyarakat,


yang telah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di proyek Hotel Novotel -
Hayam Wuruk sejak tanggal 01 Februari - 19 Maret 2011 dengan hasil balk.

Demiklanlah Surat Keterangan Kerja ini diberikan sebagalmana mestlnya.

Jakarta, 28 September 2011


PT Wijaya Kusuma C.0.lbactu,s

Ad A. Nuaraha. SH
Deputy Dir. HR

SUiU.MHG : AukoMtSwillc* AMo,1. A.ltil)en St!Nr.. ,01,1 IHOONCSIA Tt4,(412A) 7'02)00.


ra11,tt.1t) ,1020 [..ult:UOtll
SUM.IAYA : Jl,Hlilet(,.,.. SIM\#11(14 602IJ IClCIHDlA T.C.(62)1) 502-ll.lO. 502)291. ru.(6211) 502,C?t) ffflllll: .COM
PAI..IMlrAHG: A. sllllla,mpwSIGll.'114 ,._I J01)1 IHCICltc:SIA TfC.(62711) JSS-", )72tl1. ,.P.('2.711) )6+0)) f,melt: wtlc:(Mt.COffl
LAMPIRAN II

KUISIONER PENELITIAN

Assalamualaikum Wr Wb,
Bersama ini saya Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Peminatan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ingin
memberitahukan kepada bapak-bapak sekalian bahwa saya sedang melakukan penelitian
dengan judul Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Dermatitis Kontak Iritan Pada
Tangan Akibat Paparan Semen di PT. Wijaya Kusuma Contractors Tahun 2014

Sebagaimana yang kita ketahui pekerja di bidang konstruksi sangat sering kontak gan
densemen. Bahan Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor faktor yang
berhubungan dengan kejadian dermatitis kontak iritan seperti lama kontak, jenis
pekerjaan, frekuensi mencuci tangan dsb. Manfaat dari penelitian ini adalah agar
perusahan maupun pekerja dapat melakukan upaya-upaya agar terhindar dari dermatitis
kontak iritan.

Dalam melakukan penelitian ini, saya dibantu oleh seorang dokter untuk melakukan
diagnosis. Oleh karena itu ,Saya meminta kesediaan bapak untuk mempersilahkan dokter
memeriksa tangan bapak. Apabila dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bapak
menderita dermatitis kontak iritan pada tangan bapak, maka perkenankan saya untuk
mengambil gambarnya. Selanjutnya saya akan mencatat identitas bapak (nama, umur,
alamat), setelah itu saya akan memberikan beberapa pertanyaan mengenai pekerjaan yang
bapak lakukan ataupun mengenai hal lain yang ada kaitannya dengan dermatitis kontak
iritan.

Demikian penjelasan dari saya. Atas partisipasi dan kesediaan waktu bapak-bapak ,
saya ucapkan terima kasih.

Peneliti,

(Dwi Ambang Prasetyo)

1
Petunjuk Pengisian Kuesioner
1. Isilah kuesioner penelitian ini sesuai dengan kondisi anda.
2. Pada pilihan ganda, beri tanda silang (X) pada jawaban yang paling sesuai dengan
k ondisi anda.
3. Kode diisi oleh peneliti.
4. Kejujuran anda dalam menjawab kuesioner ini, sangat saya harapkan.

Identitas Responden:
1. Nama :
2. Tanggal lahir : Umur:th (D1)
3. Jenis kelamin : Laki-laki / Perempuan
4. Alamat tempat tinggal :
6. Pekerjaan yg sedang dilakukan :
7. No.telp yang bisa dihubungi :

Diisi oleh Peneliti


Hasil diagnosis dokter A1 ( )
0. Dermatitis Kontak Iritan
1. Tidak Dermatitis Kontak Iritan

Diisi oleh responden


No Pertanyaan Kode

Lama Kontak
1. Berapa lama bapak bersentuhan dengan semen/adukan beton dalam B1 ( )
sehari?
.jam / hari
Keahlian Pekerja
2. Jenis pekerjaan apa yang bapak lakukan di proyek ini ? C1 ( )
a. Tukang batu /tembok
b. Tukang pengaduk semen

2
c. Kenek
d. Tukang plester dan aci
e. Tukang pasang keramik/lantai
Masa Kerja
3. Kapan bapak mulai bekerja di proyek ini ? E1 ( )
bulan.. tahun..
4. Apakah sebelumnya bapak pernah bekerja yang berkontak dengan E2 ( )
semen atau zat kimia lain di tempat lain ?
a. Ya
b. Tidak
Jika ya lanjut ke pertanyaan no.5, jika tidak langsung ke no.6

5. Sejak kapan bapak bekerja di tempat sebelumnya? E3 ( )


bulantahun............
6. Jika tidak, bapak dulu bekerja sebagai apa? E4 ( )
-
-
-

Riwayat Penyakit Sebelumnya


7. Sebelum bekerja di proyek ini, apakah bapak sedang menderita F1( )
penyakit/ kelainan kulit khususnya pada tangan?

0. Ya
1. Tidak
Jikayalanjut ke pertanyaan no.8, jikatidak lanjut ke pertanyaan no.10
8. Bagaimana bentuk kelainan kulit yang bapak derita? (jawaban boleh F2( )
lebih dari 1)
a. Gatal
b. Kemerahan
c. Bengkak
d. Seperti terbakar
e. Mengelupas
f. Kulit kering

3
g. Penebalan kulit
h. Kulit bersisik
i. Lainnya (sebutkan)..
9. Apakah anda telah melakukan pengobatan terhadap kelainan kulit F3( )
yang pernah anda derita?
a. Ya, hingga sembuh
b. Ya, tidak sembuh
c. Tidak melakukan pengobatan
Frekuensi Mencuci Tangan
10. Ketika sedang bekerja dan tangan bapak kotor oleh semen, apa G1( )
yang bapak lakukan ?
a. Langsung mencucinya dengan air
b. Membersihkan dengan lap kering
c. Membiarkan
11. Secara rata-rata berapa kali dalam sehari bapak mencuci tangan di G2( )
tempat kerja?
. kali/sehari
Penggunaan APD
12. Ketika bekerja, apakah bapak selalu menggunakan alat pelindung H1( )
diri berupa sarung tangan?
a. Selalu
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah

4
LEMBAR OBSERVASI

Penggunaan APD (sarung tangan)

No Kriteria Checklist
1. Selalu mengenakan sarung tangan ketika bekerja

2. Sarung tangan yang digunakan tidak dalam kondisi basah

3. Sarung tangan dalam kondisi baik, tidak robek

5
LAMPIRAN III

UNIVARIAT

1. Kejadian Dermatitis Kontak Iritan

dermatitis

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Dermatitis Kontak Iritan 11 34.4 34.4 34.4

Tidak Dermatitis Kontak


21 65.6 65.6 100.0
Iritan

Total 32 100.0 100.0

2. Uji Kenormalan
Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.


L ama_Kontak_Jam .293 32 .000 .771 32 .000
Us ia .229 32 .000 .821 32 .000
Ma sa_Kerja_Bulan .297 32 .000 .735 32 .000
Frekuensi_Cuci_tangan .252 32 .000 .790 32 .000

a. Lilliefors Significance Correction


3. Lama kontak, Usia, Masa Kerja, Frekuensi Mencuci Tangan

Descriptives

Statistic Std. Error

L ama_Kontak_Jam Mean 7.06 .746

95% Confidence Interval for Lower Bound 5.54


Mean
Upper Bound 8.58

5% Trimmed Mean 7.18

Median 8.00

Variance 17.802

Std. Deviation 4.219

Minimum 1

Maximum 11

Range 10

Interquartile Range 9

Skewness -.354 .414

Kurtosis -1.723 .809

Us ia Mean 29.34 2.393

95% Confidence Interval for Lower Bound 24.46


Mean Upper Bound 34.22

5% Trimmed Mean 28.26

Median 24.00

Variance 183.201
Std. Deviation 13.535
Minimum 16
Maximum 64
Range 48
Interquartile Range 18
Skewness 1.282 .414
Kurtosis .572 .809
Ma sa_Kerja_Bulan Mean 2.38 .335

95% Confidence Interval for Lower Bound 1.69


Mean Upper Bound 3.06

5% Trimmed Mean 2.19

Median 1.50

Variance 3.597

Std. Deviation 1.897

Minimum 1

Maximum 7

Range 6

Interquartile Range 3

Skewness 1.265 .414

Kurtosis .370 .809

Descriptives

Statistic Std. Error

ekuensi_Cuci_Tangan_Ba Mean 5.22 .544


Fr
ru 95% Confidence Interval for Lower Bound 4.11
Mean
Upper Bound 6.33

5% Trimmed Mean 5.06

Median 4.00

Variance 9.467

Std. Deviation 3.077

Minimum 2

Maximum 12

Range 10

Interquartile Range 5

Skewness .872 .414

Kurtosis -.683 .809


4. Jenis Keahlian

Jenis_Keahlian_baru

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Jenis Keahlian resiko tinggi 19 59.4 59.4 59.4

jenis keahlian resiko rendah 13 40.6 40.6 100.0

Total 32 100.0 100.0

5. Riwayat Penyakit Sebelumnya

Riwayat_Penyakit

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Ada Riwayat 3 9.4 9.4 9.4

Tidak Ada Riwayat 29 90.6 90.6 100.0

Total 32 100.0 100.0

6. Penggunaan APD

Penggunaan_APD_baru

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid tidak menggunakan 28 87.5 87.5 87.5

menggunakan 4 12.5 12.5 100.0

Total 32 100.0 100.0


LAMPIRAN IV
BIVARIAT
7. Lama Kontak,
Ranks

dermatitis N Mean Rank Sum of Ranks

Lama_Kontak_Jam Dermatitis Kontak Iritan 11 19.50 214.50

Tidak Dermatitis Kontak


21 14.93 313.50
Iritan

Total 32

b
Test Statistics

Lama_Kontak_J
am
Ma
nn-Whitney U 82.500
Wi
lcoxon W 313.500
Z
-1.387
Asymp. Sig. (2-tailed) .165
Ex a
act Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .194
a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: dermatitis

8. Usia dan Masa Kerja


Ranks

dermatitis N Mean Rank Sum of Ranks

Usia Dermatitis Kontak Iritan 11 16.14 177.50

Tidak Dermatitis Kontak


21 16.69 350.50
Iritan

Total 32

Masa_Kerja_Bulan Dermatitis Kontak Iritan 11 12.82 141.00

Tidak Dermatitis Kontak


21 18.43 387.00
Iritan
Total 32

Masa_Kerja_Bul
Usia an

Mann-Whitney U 111.500 75.000


Wilcoxon W 177.500 141.000
Z -.159 -1.731
Asymp. Sig. (2-tailed) .874 .083

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a a


.876 .113
a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: dermatitis

9. Frekuensi Mencuci Tangan


Ranks

dermatitis N Mean Rank Sum of Ranks


Frekuensi_Cuci_Tangan_Ba Dermatitis Kontak Iritan 11 21.41 235.50
ru
Tidak Dermatitis Kontak
21 13.93 292.50
Iritan

Total 32

Test Statisticsb

Frekuensi_Cuci_
Tangan_Baru

Mann-Whitney U 61.500

Wilcoxon W 292.500

Z -2.201

Asymp. Sig. (2-tailed) .028


a
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .031

a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: dermatitis


10. Riwayat penyakit Kulit Sebelumnya

Crosstab

dermatitis

Tidak
Dermatitis Dermatitis
Kontak Iritan Kontak Iritan Total

Riwayat_Peny Ada Riwayat Count 2 1 3


akit
% within Riwayat_Penyakit 66.7% 33.3% 100.0%

Tidak Ada Count 9 20 29


Riwayat
% within Riwayat_Penyakit 31.0% 69.0% 100.0%

Total Count 11 21 32

% within Riwayat_Penyakit 34.4% 65.6% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 1.530
a
1 .216
b
Continuity Correction .358 1 .549

Likelihood Ratio 1.441 1 .230

Fisher's Exact Test .266 .266

Linear-by-Linear Association 1.482 1 .223


b
N of Valid Cases 32

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.03.

b. Computed only for a 2x2 table


11. Jenis Keahlian Pekerja

Jenis_Keahlian_baru * dermatitis Crosstabulation

dermatitis

Dermatitis Tidak Dermatitis


Kontak Iritan Kontak Iritan Total

Jenis_Keahlian_ Jenis Keahlian Count 8 11 19


baru resiko tinggi
% within
42.1% 57.9% 100.0%
Jenis_Keahlian_baru

jenis keahlian Count 3 10 13


resiko rendah
% within
23.1% 76.9% 100.0%
Jenis_Keahlian_baru

Total Count 11 21 32

% within
34.4% 65.6% 100.0%
Jenis_Keahlian_baru

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 1.239 1 .266
b
Continuity Correction .539 1 .463

Likelihood Ratio 1.274 1 .259

Fisher's Exact Test .450 .233

Linear-by-Linear Association 1.200 1 .273


b
N of Valid Cases 32

a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.47.

b. Computed only for a 2x2 table


12.
Penggunaan APD

Penggunaan_APD_baru * dermatitis Crosstabulation

dermatitis

Dermatitis Tidak Dermatitis


Kontak Iritan Kontak Iritan Total
P
_ enggunaan_APD tidak Count 10 18 28
baru menggunakan
% within
Penggunaan_APD_ 35.7% 64.3% 100.0%
baru

menggunakan Count 1 3 4

% within
Penggunaan_APD_ 25.0% 75.0% 100.0%
baru
Tot
al Count 11 21 32

% within
Penggunaan_APD_ 34.4% 65.6% 100.0%
baru

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square .178 1 .673
b
Continuity Correction .000 1 1.000

Likelihood Ratio .186 1 .666

Fisher's Exact Test 1.000 .573

Linear-by-Linear Association .173 1 .678


b
N of Valid Cases 32

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.38.

b. Computed only for a 2x2 table


TABULASI SILANG
13. Lama Kontak * Frekuensi Mencuci tangan * Dermatitis Kontak Iritan

lama_kontak_kategori * dermatitis * frekuensi_cucitangan_kategori Crosstabulation

dermatitis

Dermatitis Tidak
Kontak Dermatitis
frekuensi_cucitangan_kategori Iritan Kontak Iritan Total

frekuensi cuci lama_kontak_ lama kontak Count 6 5 11


tangan >=4 kategori >=8
% within
lama_kontak_k 54.5% 45.5% 100.0%
ategori

lama kontak<8 Count 2 4 6

% within
lama_kontak_k 33.3% 66.7% 100.0%
ategori

Total Count 8 9 17

% within
lama_kontak_k 47.1% 52.9% 100.0%
ategori

frekuensi cuci lama_kontak_ lama kontak Count 2 5 7


tangan <4 kategori >=8 % within
lama_kontak_k 28.6% 71.4% 100.0%
ategori

lama kontak<8 Count 1 7 8

% within
lama_kontak_k 12.5% 87.5% 100.0%
ategori

Total Count 3 12 15

% within
lama_kontak_k 20.0% 80.0% 100.0%
ategori
14. Usia * Frekuensi Mencuci tangan * Dermatitis Kontak Iritan

usia_kategori * dermatitis * frekuensi_cucitangan_kategori Crosstabulation

dermatitis

Tidak
Dermatitis Dermatitis
frekuensi_cucitangan_kategori Kontak Iritan Kontak Iritan Total

frekuensi cuci usia_kategori usia>=24 Count 4 3 7


tangan >=4
% within
57.1% 42.9% 100.0%
usia_kategori

usia <24 Count 4 6 10

% within
40.0% 60.0% 100.0%
usia_kategori

Total Count 8 9 17

% within
47.1% 52.9% 100.0%
usia_kategori

frekuensi cuci usia_kategori usia>=24 Count 2 7 9


tangan <4 % within
22.2% 77.8% 100.0%
usia_kategori

usia <24 Count 1 5 6

% within
16.7% 83.3% 100.0%
usia_kategori

Total Count 3 12 15

% within
20.0% 80.0% 100.0%
usia_kategori
15. Masa Kerja * Frekuensi Mencuci tangan * Dermatitis Kontak Iritan

masa_kerja_kategori * dermatitis * frekuensi_cucitangan_kategori Crosstabulation

dermatitis

Tidak
Dermatitis
Dermatitis Kontak
frekuensi_cucitangan_kategori Kontak Iritan Iritan Total

frekuensi cuci masa_kerja masa kerja >= 1,5 Count 2 5 7


tangan >=4 _kategori
% within
masa_kerja 28.6% 71.4% 100.0%
_kategori

masa kerja<1,5 Count 6 4 10

% within
masa_kerja 60.0% 40.0% 100.0%
_kategori

Total Count 8 9 17

% within

masa_kerja 47.1% 52.9% 100.0%


_kategori

frekuensi cuci masa_kerja masa kerja >= 1,5 Count 1 8 9


tangan <4 _kategori
% within
masa_kerja 11.1% 88.9% 100.0%
_kategori

masa kerja<1,5 Count 2 4 6

% within
masa_kerja 33.3% 66.7% 100.0%
_kategori

Total Count 3 12 15
masa_kerja_kategori * dermatitis * frekuensi_cucitangan_kategori Crosstabulation

dermatitis

Tidak
Dermatitis
Dermatitis Kontak
frekuensi_cucitangan_kategori Kontak Iritan Iritan Total

frekuensi cuci masa_kerja masa kerja >= 1,5 Count 2 5 7


tangan >=4 _kategori
% within
masa_kerja 28.6% 71.4% 100.0%
_kategori

masa kerja<1,5 Count 6 4 10

% within
masa_kerja 60.0% 40.0% 100.0%
_kategori

Total Count 8 9 17

% within
masa_kerja 47.1% 52.9% 100.0%
_kategori

frekuensi cuci masa_kerja masa kerja >= 1,5 Count 1 8 9

tangan <4 _kategori % within


masa_kerja 11.1% 88.9% 100.0%

_kategori

masa kerja<1,5 Count 2 4 6

% within
masa_kerja 33.3% 66.7% 100.0%
_kategori

Total Count 3 12 15

% within
masa_kerja 20.0% 80.0% 100.0%
_kategori

16. Riwayat penyakit * Frekuensi Mencuci tangan * Dermatitis Kontak Iritan

Riwayat_Penyakit * dermatitis * frekuensi_cucitangan_kategori Crosstabulation


dermatitis

Tidak
Dermatitis Dermatitis
frekuensi_cucitangan_kategori Kontak Iritan Kontak Iritan Total

frekuensi cuci Riwayat_Pe Ada Riwayat Count 1 1 2


tangan >=4 nyakit
% within
Riwayat_Peny 50.0% 50.0% 100.0%
akit

Tidak Ada Count 7 8 15


Riwayat
% within
Riwayat_Peny 46.7% 53.3% 100.0%
akit

Total Count 8 9 17

% within
Riwayat_Peny 47.1% 52.9% 100.0%
akit

frekuensi cuci Riwayat_Pe Ada Riwayat Count 1 0 1

tangan <4 nyakit % within


Riwayat_Peny 100.0% .0% 100.0%
akit

Tidak Ada Count 2 12 14

Riwayat % within
Riwayat_Peny 14.3% 85.7% 100.0%
akit

Total Count 3 12 15

% within
Riwayat_Peny 20.0% 80.0% 100.0%
akit

17. Jenis Keahlian * Frekuensi Mencuci tangan * Dermatitis Kontak Iritan

Jenis_Keahlian_baru * dermatitis * frekuensi_cucitangan_kategori Crosstabulation


dermatitis

Tidak
Dermatitis Dermatitis
Kontak Kontak
frekuensi_cucitangan_kategori Iritan Iritan Total

frekuensi cuci Jenis_Keahlian Jenis Keahlian Count 6 5 11


tangan >=4 _baru resiko tinggi
% within
Jenis_Keahlian_ 54.5% 45.5% 100.0%
baru

Jenis Keahlian Count 2 4 6


resiko rendah
% within
Jenis_Keahlian_ 33.3% 66.7% 100.0%
baru

Total Count 8 9 17

% within
Jenis_Keahlian_ 47.1% 52.9% 100.0%
baru

ekuensi cuci Jenis_Keahlian Jenis Keahlian Count 2 6 8


fr
ngan <4 _baru resiko tinggi % within
ta
Jenis_Keahlian_ 25.0% 75.0% 100.0%
baru

Jenis Keahlian Count 1 6 7


resiko rendah % within
Jenis_Keahlian_ 14.3% 85.7% 100.0%
baru

Total Count 3 12 15

% within
Jenis_Keahlian_ 20.0% 80.0% 100.0%
baru

18. Penggunaan APD * Frekuensi Mencuci tangan * Dermatitis Kontak Iritan


Penggunaan_APD_baru * dermatitis * frekuensi_cucitangan_kategori Crosstabulation

dermatitis

Tidak
Dermatitis Dermatitis
Kontak Kontak
frekuensi_cucitangan_kategori Iritan Iritan Total

frekuensi cuci Penggunaan_AP tidak Count 7 9 16


tangan >=4 D_baru menggunakan
% within
Penggunaan_ 43.8% 56.2% 100.0%
APD_baru

menggunakan Count 1 0 1

% within
Penggunaan_ 100.0% .0% 100.0%
APD_baru

Total Count 8 9 17

% within
Penggunaan_ 47.1% 52.9% 100.0%
APD_baru

frekuensi cuci Penggunaan_AP tidak Count 3 9 12

tangan <4 D_baru menggunakan % within

Penggunaan_ 25.0% 75.0% 100.0%


APD_baru

menggunakan Count 0 3 3

% within
Penggunaan_ .0% 100.0% 100.0%
APD_baru

Total Count 3 12 15

% within
Penggunaan_ 20.0% 80.0% 100.0%
APD_baru