Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

ANESTESI LOKAL

Asisten :
Ainul Mardliyah

Kelompok A2:
Desty Ari Sandi (G1A012012)
Hana Khairunnisa (G1A012013)
Revi Oktapratiwi (G1A012014)
Mohammad Rifqie NK (G1A012015)
Giga Hasabi Alkarani (G1A012137)
Denny Bimatama Pradita (G1A012138)
Putra Achsanul Huda (G1A012139)
Rosiana Dian Pratiwi (G1A012140)

BLOK DERMATOMUSKULOSKELETAL
JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2013
LEMBAR PENGESAHAN

Oleh :
Kelompok
A2
Desty Ari Sandi (G1A012012)
Hana Khairunnisa (G1A012013)
Revi Oktapratiwi (G1A012014)
Mohammad Rifqie NK (G1A012015)
Giga Hasabi Alkarani (G1A012137)
Denny Bimatama Pradita (G1A012138)
Putra Achsanul Huda (G1A012139)
Rosiana Dian Pratiwi (G1A012140)

Disusun untuk memenuhi persyaratan mengikuti


Ujian Praktikum Farmakologi Blok Dermatomuskuloskeletal
Jurusan Kedokteran
Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto

Diterima dan disahkan,


Purwokerto, 28 November 2013
Asisten,

Ainul Mardliyah
BAB I

PENDAHULUAN

A. Judul Percobaan

Anestesi Lokal.

B. Tanggal Percobaan

Senin, 25 November 2013.

C. Tujuan Percobaan

1. Tujuan Umum

Memahami prinsip kerja dan melatih teknik anestesi lokal sederhana.

2. Tujuan Khusus

a. Melakukan tindakan anestesi permukaan pada manusia.

b. Melakukan tindakan anestesi blok pada n. Ischiadicus katak sebagai dasar

pemahaman dalam melakukan anestesi blok pada saraf tertentu manusia.

c. Melakukan anestesi spinal pada katak dan menjelaskan kegunaan anestesi

spinal pada manusia.

D. Definisi

1. Anestesi lokal

Obat yang mampu menghambat konduksi saraf (terutama nyeri) secara reversibel

pada bagian tubuh yang spesifik.

2. Anestesi blok n. Ischiadicus

Larutan anestesi diberikan dengan cara menyuntikannya pada n. Ischiadicus.

3. Anestesi topikal

Larutan anestesi diberikan melalui membran mukosa baik hidung, mulut,

tenggorokan, trakeobronkial, esofagus, dan traktus genitourinaria.


4. Anestesi spinal

Larutan anestesi diberikan dengan cara memasukannya dalam cerebrospinal fluid

(CSF).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anestesi Lokal

Anestesi local adalah obat yang digunakan untuk mencegah resa nyeri dengan cara

membok konduksi sepanjang serabut saraf secara reversible. Obat anestesi local tersebut

bekerja didalam akson dengan membentuk beberapa molekul terionisasi yang akan

+
memblok kanan Na sehingga potensial aksi tidak mungkin terjadi (Raharjo,2009).

Struktur kimia anestesi local berupa ester atau amida dari derivate benzene

sederhana. Rumus dasarnya berupa gugus amin hidrofil gugus antara, dan gugus residu

aromatic lipofil. Gugus amin hidrofil berupa amin tersier atau sekunder, sedangkan gugus

antara dan gugus aromatil kipofil dihubungkan dengan ikatan amida atau ikatan ester

yang akan menentukan sifat farmakologi obat anestesi local (Raharjo,2009).

Yang termasuk obat anestesi local ester berupa prokain, klorofokain, benzokain,

kokain dan tetrakain. Sedangkan yang berupa goloanestesi local golongan amid adalah

lidokain, bupivakain, mepivakain, prilokain dan dibukain (Raharjo,2009).

Terdapat beberapa sifat anestesi local, berupa: (Raharjo,2009)

a. Tidak iritasi dan merusak jaringan

b. Batas keamanan obat lebar

c. Waktu kerja obat lama

d. Masa pemulihan tidak terlalu lama

e. Larut dalam air

f. Stabil dalam larutan

g. Dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan

Farmakokinetik obat anestesi local golongan amid lebih sering dibahas, berbeda

dengan golongan ester karena obat tipe ester lebih cepat dipecah dalam plasma. Meski
begitu, absorbsi dan distribusi yang paling dipandang untuk menentukan akhir masa kerja

anelgesik local dibanding aspek farmakokinetik lainnya. Fakmakokinetik tersebut berupa:

a. Absorbbsi

Absorbsi anestesi local dari tempat penyuntikan dipengaruhi oleh beberapa

factor, seperti dosis, tempat penyuntikan, ikatan obat dengan jaringan, aliran

darah settempat, penggunaan fasokontriktor dan sifat fisikokimiawi obat. Jika

anestesi dilakukan pada tempat yang vaskularisasinya banyak, makan kadar obat

yang diterima lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian anestes local pada

tempat yang perfusinya buruk seperti tendon, dermis atau lemak subkutan

(Katzung, 2010).

b. Distribusi

Anestesi lokal tipe amid terdistribusi luas setelah pemberian bolum

intravena. Fase distribusi terjadi awal cepat jika melibatkan organ yang

perfusinya tinggi seperti otak, hati, ginjal dan jantung. Sedangkan fase

distribusinya lebih lambat jika melibatkan jaringan yang perfusinya sedang

seperti otot dan saluran cerna (Katzung, 2010).

c. Metabolisme dan ekskresi

Anestesi local tipe amida akan diubah dalam hati sedangkan tipe ester akan

diubah dalam plasma menjadu metabolit yang lebih larut dalam air sehingga

bisa dikskresikan dalam urin (Katzung, 2010).

Anestesi local tipe ester sangat cepat dihidrolisis dalam darah oleh

butirilkolinesterase menjadi metabolit yang tidak aktif, sehingga obat obat tipe ester

seperti prokain adan kloropokain memiliki waktuparuh yang sangat singkat, kurang dari

1 menit. Sedangkan Anestesi local tipe amida akan dihidrolisis oleh isozim mikrosomal

hati sitokrom P450 (Katzung, 2010).


Mekanisme anestesi local bekerja dalam membokade kanal natrium. ketika

membrane akson syaraf yang mudah tereksitasi mempertahankan potensial

transmembran istirahatnya sekitar -90 sampai -60 mV. Pada waktu eksitasi, kananl

natrium terbuka dan arus natrium yang masuk ke dalam sel membuat depolarisasi

membrane dengan cepat yang mengakibatkan kanal natrium tertutup dank anal kalium

terbuka. Aliran kalium yang keluar akan merepolarisasi membrane kearah keseimbangan

kalium dan mengembalikan kanal natrium dalam keadaan istirahat (Katzung, 2010).

Gangguan pada kanal tersebut dimulai dengan menghambat kanal natrium. Jika

kadaar anestesi local terus ditambah, makan nilai ambang eksitasi akan meningkat,

konduksi impuls melambat, laju munvulnya potensial aksi menurun, ambang antipludo

potensial mengecil sehingga kemampuan menghasilkan potensial aksi akan hilang

(Katzung, 2010).

B. Golongan Obat Anestesi Lokal

Anestetik lokal merupakan gabungan dari garam laut dalam air dan alkaloid larut

dalam lemak dan terdiri dari bagian kepala cincin aromatik tak jenuh bersifat lipofilik,

bagian badan sebagai penghubung terdiri dari cincin hidrokarbon dan bagian ekor yang

terdiri dari amino tersier bersifat hidrofilik. Anestetik lokal menurut Ratno Samodro

dibagi menjadi dua golongan:

1. Golongan ester (-COOC-)

Obat obat ini termetabolisme melalui hidrolisis. Yang termasuk kedalam

golongan ester, yakni :

a. Kokain

b. Benzokain

c. Ametocaine
d. Prokain

e. Piperoain

f. Tetrakain

g. Kloroprokain (Samodro, 2011)

2. Golongan amida (-NHCO-)

Obat obat ini termetabolisme melalui oksidasi dealkilasi di dalam hati. Yang

termasuk kedalam golongan amida, yakni :

a. Lidokain

b. Mepivakain

c. Prilokain

d. Bupivacain

e. Etidokain

f. Dibukain

g. Ropivakain

h. Levobupivacaine

Kecuali kokain, maka semua anestesi lokal bersifat vasodilator (melebarkan

pembuluh darah). Sifat ini membuat zat anestesi lokal cepat diserap, sehingga

toksisitasnya meningkat dan lama kerjanya jadi singkat karena obat cepat masuk ke

dalam sirkulasi. Untuk memperpanjang kerja serta memperkecil toksisitas sering

ditambahkan vasokonstriktor (Samodro, 2011).

C. Teknik Pemberian Anestesi Lokal

Ada dua teknik anestesi lokal yang memberikan hasil yang baik, yaitu blok dan

infiltrasi. Kedua cara ini masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian.

Berikut adalah sedikit penjabaran untuk kedua teknik tersebut (Sjamsuhidajat, 2010).
1. Blok

Dilakukan dengan menyuntikkan obat anestesi di area tertentu dimana saraf

yang mempersarafinya di blok adar rangsang nyeri tidak dilanjutkan. Jadi dengan

teknik blok ini anestesi yang dilakukan adalah di bagian promsimal daerah

operasi. Pada daerah operasinya dapat pula ditambahkan anestesi infiltrasi jika

memang diperlukan (Syarief, 2007).

a. Keuntungan

1. Keberhasilan cukup tinggi.

2. Area yang teranestesi relatif bisa lebih luas dibandingkan dengan

anestesi infiltrasi.

3. Obat yang dipakai lebih sedikit sehingga menurunkan toksisitas

(Syarief, 2007).

b. Kerugian

1. Teknik lebih rumit

2. Penyuntikan tergantung daerah operasi

3. Tidak semua daerah operasi dapat dilakukan tindakan anestesi ini

4. Cedera saraf permanen

(Syarief, 2007).

c. Teknik atau cara kerja:

1. Identifikasi lokasi operasi

2. Identifikasi jalan persarafan

3. Suntikan beberapa cc obat anestesi disekitarnya

4. Cek hasilnya

Jika pasien masih kesakitan cobalah masase lagi dan lakukan pengujian. Jika
keadaan anestesi belum juga terjadi, evaluasilah beberapa hal berikut(Syarief,

2007).

a. Apakah lokasi penyuntikan sudah sesuai dengan anatomi persarafan?

b. Apakah ada riwayat alkoholik?

c. Apakah benar yang disuntikkan adalah obat anestesi atau obat anestesi yang

sudah kadaluarsa ?

Gambar 1. Anestesi pada jari tangan dan kaki sangat penting untuk memperhatikan

struktur anatomis dan persyarafan jalannya saraf dari lateral dan medial setiap jari.

Gambar 2. Perhatikan pula pola penyuntikan, suntikan di arah lateral dan medial.
Gambar 3. Suntikan di arah maedial

2. Infiltrasi

Dilakukan penyuntikan di sekitar area operasi. Suntikan dilakukan di daerah

subkutis. Teknik yang berkembang saat ini adalah field blok, yaitu menginfiltrasi

suatu area dengan terget operasi ditengahnya. Setelah seluruh pinggir area

diinfiltrasi, area tepat diatas insisi diinfiltrasi lagi. Jarak antara pinggir daerah yang

diinfiltrasi dengan target operasi tidak melebihi 2 cm. Jika lebih maka kemungkinan

masih ada impuls saraf yang tidak terblok. Jika memang masa yang akan operasi

cukup besar, kemungkinan diperlukan infiltrasi beberapa lingkaran, agar area yang

diinfiltrasi menjadi luas. Kedalaman infiltrasi tergantung dari jenis operasi. Jika

masa yang diambil cukup dalam, maka perlu juga dilakukan infiltrasi lebih dalam,

bahkan sampai otot atau periosteum (Sjamsuhidajat, 2010).

a. Teknik atau cara kerja :


1. Masukan jarum di salah satu sudut area operasi.

2. Arahkan ke area kanan, aspirasi, jarum dicabut (tetapi tidak sampai lepas dari

kulit) sambil obat dikeluarkan.

3. Jarum dibelokan ke arah kiri, aspirasi, jarum dicabut sambil obat dikeluarkan.

4. Masukan jarum di sudut yang bersebrangan dengan sudut tadi.

5. Arahkan ke area kanan, aspirasi, jarum dicabut (tetapi tidak sampai lepas dari

kulit) sambil obat dikeluarkan.

6. Jarum dibelokan ke arah kiri, aspirasi, jarumdicabut sambil obat dikeluarkan.

7. Lanjutkan penyuntikan ketiga tepat diatas garis yang akan diinsisi.

8. Masase.

9. Cek dengan menjepitkan pinset

(Sjamsuhidajat, 2010).

D. Komplikasi Tindakan Anestesi

1. Hematom

Terjadi karena pecahnya pembuluh darah ketika anestesi yang kemudian darah

berkumpul di submukosa sehingga menimbulkan benjolan. Hematom ini dapat

terus membesar atau berhenti tergantung dari besarnya pembuluh darah yang

terkena. Pada pembuluh darah kecil biasanya hematom tidak membesar karena
platelet plug sudah cukup untuk menghentikan kebocoran tadi. Jika terjadi

hematom, kita evaluasi beberapa saat apakah hematom itu terus membesar atau

tetap. Jika terus membesar, kita harus berusaha mencari pembuluh darah yang

pecah dan mengikatnya kemudian membuang bekuan darah yang terkumpul

(Syarief, 2007).

2. Oedem

Disebabkan terlalu banyaknya obat anestesi yang diberikan sehingga obat

tersebut berkumpul dalam jaringan ikat longgar mukosa dan sub mukosa. Hal ini

akan mempersulit ketika melakukan penjahitan. Udem akibat anestesi ini

diabsorpsi dalam 24 jam (Sjamsuhidajat, 2010).

3. Syok Anafilaktik

Syok anafilaksis disebabkan oleh reaksi hipersensitifitas type I. Terjadi

vasodilatasi perifer sehingga terjadi pengumpulan darah di perifer. Akibatnya

terjadi penurunan venous return sehingga cardiac output pun menurun.

a. Tanda dan gejalanya:

1. Nadi cepat dan kecil

2. Penurunan tekanan darah

3. Keringat dingin

4. Lemas, mual, dan badan terasa melayang

b. Penatalaksanaan:

1. Letakkan pasien dalam posisi trendelenburg.

2. Berikan oksigen lembab 3 - 5 l/menit.

3. Suntikan segera adrenalin 1:1000 sebanyak 0,3-0,4 ml im , sebaiknyna

otot deltoid, atau subcutan (sc) dan segera dimasase, ulangi pemberian
0,3-0,4 ml adrenalin tiap 5-10 menit sampai tekanan sistolik mencapai 90-

100 mmHg dan denyut jantung/nadi tidak melebihi 120x/menit.

4. Suntikan:

a. Antihistamin difenhidramin 10-20 mg

b. Kortikosteroid-hidrokortison 100-250 mg iv

c. Bila ada spasme bronchial, Aminofilin 200-500 mg i.v

perlahan lahan.(1 ml mengandung 24 mg aminofilin)

5. Bila terjadi henti nafas, berikan nafas buatan, bila disertai henti jantung

lakukan pijatan (penekanan) terhadap jantung (pertengahan sternum)/ RJP.

6. Bersamaan dengan pemberian adrenalin, lakukan pernafasan buatan dan

kompresi jantung, pemasangan infus dengan kristalolid (NaCl, ringer

laktat) dengan tetesan secepat mungkin (diguyur) sampai nadi teraba.

7. Observasi dengan seksama sampai tanda-tanda vital stabil.

(Sjamsuhidajat, 2010).

E. Efek Samping Obat

1. Lidokain

Efek samping lidokain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP,

misalnya mengantuk, pusing, parestesia, kedutan otot, gangguan mental,koma, dan

bangkitan. Lidokain dosis berlebihan dapat menyebabkan kematian akibat fibrilasi

ventrikel, atau oleh henti jantung (Latief, 2007).

2. Bupivakain

Dibandingkan dengan obat anestesi lokal lainnya, bupivakain dapat

mengakibatkan kardiotoksik. Akan tetapi efek samping akan menjadi jarang bila

diberikan dengan benar. Kebanyakan efek samping berhubungan dengan cara


pemberian atau efek farmakologis dari anestesi. Tetapi reaksialergi jarang terjadi.

Bupivakain dapat mengganggu konsentrasi plasma darah yang diakibatkan karena

efeknya yang mempengaruhi CNS dan kardiovaskuler. Bupivakain dapat

mengakibatkan beberapa kematian ketika pasien diberikan anestesi epidural dengan

mendadak (Latief, 2007).

3. Levobupokain

Jarang terjadi reaksi efek samping jika pemberian obat ini benar. Beberapa

efek samping yang terjadi berhubungan dengan teknik pemberian (dihasilkan pada

systemic exposure) atau efek farmakologikal dari anestesi yang diberikan, tetapi reaksi

alergi jarang terjadi.Systemic exposure untuk jumlah yang berlebih dari bupivakain

terutama dihasilkan di sistem saraf pusat dan efek kardiovaskular. Efek sistem

saraf pusat biasanya terjadi pada konsentrasi pembuluh darah yang lebih

rendah,sementara efek kardiovaskuler tambahan terdapat pada konsentrasi yanglebih

tinggi, sebelumnya kolaps kardiovaskular dapat juga terjadi dengan konsentrasi yang

rendah. Efek sistem saraf pusat meliputi eksitasi sistem saraf pusat (gelisah, gatal

disekitar mulut, tinnitus, tremor, pusing, penglihatan kabur, seizure) dan diikuti oleh

depresi (perasaan kantuk, kehilangan kesadaran, penurunanpernafasan dan apnea).

Efek kardiovaskular meliputi hipotensi, bradikardi,aritmia, dan atau henti jantung.

Kadang-kadang dapat terjadi hipoksemia sekunder pada saat penurunan sistem

pernafasan (Muhiman, 2004).

4. Provakain

Efek sampingnya yang serius adalah hipertensi, yang kadang-kadang

padadosis rendah sudah dapat mengakibatkan kolaps dan kematian. Efek samping

yang harus dipertimbangkan pula adalah reaksi alergi terhadap sediaan kombinasi

prokain-penisilin. Berlainan dengan kokain zat ini tidak memberikan adiksi. Reaksi
alergi ini dapat juga terjadi karena pemakaiansecara berulang preparat prokain bagi

tubuh. Dosis : anestesi infiltrasi 0,25-0,5 %, blockade saraf 1-2 % (Latief, 2007).

5. Tetrakain

Tetrakain yang potensiasinya lebih tinggi dibandingkan dengandua jenis obat

anestesi lokal golongan ester lainnya ini memiliki efek samping berupa rasa seperti

tersengat. Namun efek ini tidak membuattetrakain jarang digunakan, hal ini karena

salah satu kelebihannya adalahtidak menyebabkan midriasis. Tetrakain biasanya

digunakan untuk anestesipada pembedahan mata, telinga, hidung, tenggorok, rectum,

dan kulit.Salah satu anestesi lokal yang dapat digunakan secara topikal pada

mataadalah tetrakain hidroklorida. Untuk pemakaian topikal pada matadigunakan

larutan tetrakain hidroklorida 0,5%. Kecepatan anastetik tetrakain hidroklorida 25

detik dengan durasi aksinya selama 15 menit atau lebih (Muhiman, 2004).

Obat Onset (menit) Durasi (menit) Dosis Maksimum

(mg/kg)

Lidokain 5 30-60 4,5

Bupivakain 10-15 200 3

Prokain 15-20 40 7

Tetrakain 15 200 1,5

F. Efek Samping terhadap Sistem Tubuh

1. Sistem kardiovaskular (Latief, 2007).

a. Depresi automatisasi miokard

b. Depresi kontraktilitas miokard.

c. Dilatasi arteriolar.

d. Dosis besar dapat menyebabkan disritmia/kolaps sirkulasi.


2. Sistem pernapasan

Relaksasi otot polos bronkus. Henti napas akibat paralise saraf frenikus, paralise

interkostal atau depresi langsung pusat pengaturan napas. Sistem Saraf Pusat (SSP)

SSP rentan terhadap toksisitas anestetika lokal, dengan tanda-tanda awal parestesia

lidah, pusing, kepala terasa ringan, tinnitus, pandangan kabur, agitasi, twitching,

depresi pernapasan, tidak sadar, konvulsi, koma. Tambahan adrenalin berisiko

kerusakan saraf(Latief, 2007).

3. Imunologi

Golongan ester menyebabkan reaksi alergi lebih sering, karena merupakan derivate

para-amino-benzoic acid (PABA) yang dikenal sebagai allergen. Pada

sistem musculoskeletal bersifat miotoksik (bupivakain > lidokain > prokain).

Regenerasi dalam waktu 3-4minggu (Muhiman, 2004).


BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Alat dan Bahan

1. Alat

a. Alat penggantung katak

b. Alat perusak otak katak

c. Gunting lurus

d. Pinset bedah

e. Spuit tuberkulin 1cc

f. Beaker glass

g. Pipet tetes

2. Bahan

a. Kapas

b. Alkohol 70%

c. RL

d. HCl 1 N

e. Lidokain HCl

f. Etil klorida 100 gr

B. Cara Kerja

1. Anestesi permukaan:

a. Semprotkan etil klorida pada tangan probandus.

b. Sensitisasi setiap 30 detik.

c. Berikan penilaian terhadap sensitibilitas probandus.

2. Anestesi spinal:
a. Rusak otak katak dengan cara menusuk melalui foramen oksipitalis magnum,

kemudian kepalanya pada batas mandibula dipotong.

b. Gantungkan katak pada standar dengan cara menyangkutkan mandibula.

c. Salah satu kaki katak direndam ke dalam larutan HCl, akan terlihat kaki katak

tertarik ke atas secara refleks. Catat waktu.

d. Segera setelah kaki katak tertarik, cucilah kaki tersebut dengan air agar kaki

katak tidak rusak terbakar. Ulangi hal yang sama pada kaki satunya.

e. Setelah itu suntikkan larutan lidokain HCl sebanyak 0,1 cc dalam salah satu

sisi medulla spinalis.

f. Setelah terjadi keadaan anestesi, celupkan kaki katak yang sebelah lagi ke

larutan HCl dan catat hasilnya.

C. Data Orang Percobaan

Nama : Hana Khairunnisa

NIM : G1A012013

Umur : 17 Tahun

D. Hasil Percobaan

Dalam praktikum anestesi lokal didapatkan:

No. Menit Ke- Efek Anestesi Efek Anestesi


Permukaan Spinal

1 0 - -

2 1 - -

3 2 - -

4 3 + -

5 4 + -

6 5 + -
7 6 + -

8 7 - -

9 8 - -

10 9 - -

11 10 - -

12. 12 - +

13. 14 - +

Tabel 1. Hasil praktikum anestesi lokal

E. Pembahasan

Pada praktikum di atas, ada dua jenis anastesi yang dilakukan. Anestesi
permukaan dan anestesi spinal. Anastesi spinal (blokade subarachnoid atau
intratechal) merupakan anestesi blok yang luas. Anestesi spinal sesudah
penyuntikan intratekal, yang dipengaruhi lebih dulu yaitu saraf simpatis dan
parasimpatis, dan diikuti dengan saraf rasa dingin, panas, raba, dan tekanan
dalam, yang mengalami blokade terakhir yaitu serabut motoris, rasa getar dan
prioreseptif. Setelah anestesi selesai, pemulihan terjadi dengan urutan sebaliknya
(Farmakologi FK UI, 2009).
Anestesi spinal membutuhkan anestetik lokal untuk diinjeksikan pada ruang
subarakhnoid setinggi ruang lumbal tiga atau empat. Jika anestetik lokal
diberikan terllalu tinggi pada kolumna spinalis, maka dapat mempengaruhi otot -
otot pernapasan dan dapat terjadi distres atau gagal pernapasan. Sakit kepala
mungkin timbul setelah pemberian anestesi spinal, mungkin karena penurunan
tekanan cairan serebrospinal akibat bocornya cairan pada tempat jarum
disuntikkan. Berbagai tempat pada kolumna spinalis dapat dipakai untuk
memblok saraf dengan anestetik lokal. Blok spinal adalah penetrasi anestetik ke
dalam membran subarakhnoid, lapisan kedua dari korda spinalis.
Anestesi spinal dapat digunakan pada hampir semua operasi abdomen bagian
bawah, perineum dan kaki. Anestesi ini memberikan relaksasi yang baik, tetapi
lama anestesi yang didapat dengan lidokain hanya sekitar 90 menit.
Kontraindikasi anestesi spinal adalah pada pasien dengan hipovolemia yang tidak
terkoreksi. Jika tidak dianastesi, pasien dengan hipovolemia dapat mempunyai
tekanan darah yang relatif normal karena vasokonstriksi luas, tapi bila terdapat
blokade simpatis pada anestesi spinal, maka vasokonstriksi akan hilang dan
menyebabkan kolaps kardiovaskuler hebat.
Anestesia spinal (intrathecal) disebut juga injeksi punggung. Obat
disuntikkan di tulang punggung yang berisi cairan otak. Dengan demikian injeksi
melintasi selaput luar dari sumsum belakang (duramater), biasanya antara ruas
lumbal ketiga dan keempat (L3-L4), sehingga dapat dicapai dalam beberapa
menit. Pembiusan dari bagian bawah tubuh, dari kaki sampai tulang dada.
Kesadaran penderita tidak dihilangkan dan seusai pembedahan kurang
menimbulkan perasaan mual (Rahardjo, 2009).
Anestesi spinal, dilakukan pada seekor katak yang telah dirusak otaknya.
Kemudian, disuntikkan prokain HCl 1% pada salah satu sisi medulla spinalis
katak. Setelah itu, kaki katak dicelupkan pada larutan HCl, yang bertujuan untuk
mengetahui seberapa cepat obat tersebut memberikan efek anastetik pada kaki
katak yang dalam kondisi normal akan terasa sensasi terbakar apabila dicelupkan
pada larutan HCl. Dari hasil percobaan rasa baal pada kaki katak mulai
didapatkan setelah menit ke dua, kemudian efek anastetik mulai menurun pada
menit ke tujuh, dimana kaki katak kembali berefleks ketika dicelupkan pada
larutan HCl.
Anestesi permukaan, yaitu dengan menyemprotkan etil klorida spray pada
bagian kulit tertentu, dan kemudian kulit yang disemprotkan di beri sensasi nyeri
atau tekanan untuk mengukur waktu awal mula dan lama kerja obat. Dari hasil
praktikum, awal mula obat cukup cepat, namun karena etil klorida adalah bahan
yang mudah menguap, maka efek anastetik nya pun cepat menghilang.
Salah satu upaya untuk melakukan anestesi permukaan pada manusia adalah
pemberian spray etil klorida yang memiliki efek kurang lebih 5 menit. Dari hasil
praktikum yang dilakukan didapatkan lama durasi kerja anestesi permukaan
dengan pemberian Etil klorida (klor etil) yaitu 4 menit, mulai dari menit ke dua
hingga menit ke enam.
Etil klorida (klor etil) akan dengan mudah menguap (highly volatile).
Sehingga dapat digunakan sebagai analgesik sementara untuk cedera kecil karena
olahraga (Soueid and Richard, 2007).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kerja klor etil sebagai anestesi
permukaan diantaranya:
1. Perbedaan ambang rasa nyeri yang khas pada tiap probandus
2. Ukuran serabut saraf, ada tidaknya myelin pada serabut saraf, serta tipe
anatomis saraf. Semakin kecil serabut saraf akan memudahkan efek anestesi
bekerja.
3. Keasaman pada kulit. Apabila pH dibawah normal, hal ini akan mempersulit
kerja anestesi pada organ target.
4. Suhu kulit padasaat inisial. Apabila suhu kulit tinggi, obat anestesi ini perlu
bekerja lebih keras untuk menurunkan temperatur sehingga efek kerja
menjadi tidak terlalu maksimal.
5. Ada tidaknya keringat pada kulit.
6. Jumlah zat klor etil yang disemprotkan pada kulit
7. Pada pasien secara umum, kondisi kehamilan juga mempengaruhi efek kerja
anestesi ini, dimana kehamilan akan meningkatkan kerentanan pada
toksisitas anestesi sehingga diperlukan reduksi dosis median (Katzung et al.,
2006).

Aplikasi Klinis

1. Sirkumsisi

Anestesi pada sirkumsisi dapat dilakukan secara umum dan lokal. Anestesi
secara umum dilakukan apabila pasien masih anak-anak, punya riwayat alergi dengan
anestesi lokal dan pasien sangat cemas. Anestesi secara lokal dilakukan bila penderita
dalam keadaan sadar berupa spinal, epidural, dan modifikasinya; dan kombinasi blok
saraf dorsalis penis dan infiltrasi (Abbas,2010)
Teknik anestesi yang digunakan pada sirkumsisi terdapat 3 jenis yaitu, blok
nervus dorsalis penis, infiltrasi di frenulum prepusium, dan infiltrasi di batang penis.
Dari semua anestesi yang disebutkan, cara kombinasi blok saraf dorsalis penis dan
infiltrasi yang paling banyak disukai karena relatif mudah dilakukan, komplikasi
anestesi umum (mual, muntah, dan sebagainya) tidak dijumpai, secara ekoomis lebih
murah, dan alat yang diperlukan lebih sedikit. Pada cara ini dapat dilakukan
kombinasi antara blok saraf dorsalis penis, infiltrasi frenulum penis, infiltrasi batang
penis atau blok melingkar (ring-block) pada batang penis (Hutcheson, 2004).
2. Ekstirpasi Krista ateroma
Kista ateroma adalah suatu kelenjar sebaseus yang tersumbat muaranya
sehingga tidak bisa mengeluarkan keringat. Krista ateroma ini berbentuk penonjolan
lengket dari dasar dermis dengan titik kebiruan di tengahnya. Titik kebiruan tersebut
adalah muara dari kelenjar sebasea yang tersumbat. Gejala-gejala yang terjadi pada
kista ateroma adalah: (Bisono, 2003)
a. Krista berbentuk kubah
b. Berisi material semi padat, seperti keratin,bahan pembentuk kulit, rambut
dan kuku
c. Permukaan Krista lembut
d. Diameter 1-4
e. Jika terinfeksi, maka akan terlihat merah terang
Kista ateroma sebenarnya adalah dolikel rambut yang membengkak dengan
substansi yang barbau busuk di dalamnya. Biasanya terdapat pada wajah arau tubuh.
Krista ini sebenarnya tidak berbahaya, tetapi bisa menjadi kanker sehingga harus
diangkat dengan cara ekstirpasi Krista ateroma. Ekstirpasi ini adalah suatu tindakan
bedah yang dilakukan dengan cara pengangkatan folikel beserta kapsulnya. Tindakan
ini harus dilakukan secara hati-hati karena kapsul Krista tersebut mudah pecah.
Dengan anestesi local, proses ekstirpasi ini tidak menyebabkan rasa sakit (Bisono,
2003).
BAB IV

KESIMPULAN

1. Prinsip kerja pada anestesi lokal sederhana ada beberapa macam, pada anestesi spinal
dengan anestesi lokal disuntikkan ke ruang subarachnoid, pada anestesi epidural
dengan anestesi lokal disuntikan ke ruang epidural, pada anestesi kaudal dengan
anestesi lokal disuntikan ke dalam kanalis sakralis melalui hiatus sakralis, dan pada
anestesi permukaan dengan disemprotkan pada permukaan kulit.
2. Anestesi spinal (blockade intratechal) adalah teknik anestesi blok, dimana obat
anestesi diinjeksikan kedalam cairan serebrospinal dalam ruang subarachnoid.
3. Anestesi permukaan dilakukan dengan cara memberikan larutan anestesi pada mukosa
tubuh.
BAB V

EVALUASI

1. Jelaskan mengapa otak katak harus dirusak?


Karena ketika otak katak dirusak dengan cara ditusuk, posisi tubuh katak
menelungkup dengan posisi kepala menunduk kebawah dan lemas. Hal ini
mempermudah dalam pengerjaan langkah praktikum selanjutnya. Hal ini terjadi,
karena telah terputusnya hubungan antara labirin (sebagai alat keseimbangan),
sehingga reflek koreksi sikap sudah hilang (Central Nervous System) hanya tinggal
medulla spinalis nya saja. Setelah otak katak dirusak dengan cara ditusuk, reaksi
katak saat kaki katak dicelupkan ke HCL 1 N yaitu terjadi gerak refleks
(mengangkat kaki). Hal ini dikarenakan pusat gerak reflex adalah medulla spinalis
bukan otak, jadi katak masih bias melakukan gerak reflex. Sehingga ini dapat
untuk melihat reflek motoric dari katak saja, tanpa pengaruh dari pusat control dari
otak katak (Sheerwood, 2001).
2. Buatlah skema aplikasi/cara pemberian obat-obat anestesi tersebut!
Teknik Pemberian Anestesi Lokal

Anestesi permukaan Anestesi infiltrasi Anestesi blok

sediaan terpilih untuk untuk menimbulkan pengaruhi konduksi


menghilangkan nyeri di anestesi ujung saraf saraf otonom maupun
selaput lendir mulut, melalui kontak langsung somatis. digunakan
faring, esophagus, pada dengan obat. Digunakan pada tindak
luka, ulkus, dan luka padatindakan operasi pembedahan
bakar tanpa
mengganggu proses
penyembuhan luka

Anestesi spinal Anestesi epidural Anestesi kaudal


3. Jelaskan mekanisme kerja seluler obat-obat anestesi lokal!
Mekanisme kerja obat anestesi lokal adalah dengan cara mencegah transmisi
impuls saraf, yaitu dengan menghambat jalan ion natrium pada saluran natrium di
membrane saraf. Saluran natrium memiliki reseptor spesifik dari molekul anestetik
lokal, yang menghasilka ninhibisi pada permeabilitas saluran natrium. Inhibisi ini
bias bersifat ringan sampai total. Kegagalan permeabilitas saluran natrium
meningkat perlahan dari depolarisasi rata-rata, oleh karena itu potensial aksi tidak
meluas dan tidak menyebar. Anestetik lokal tidak merubah membrane potensial
istirahat dan ambang potensialnya (Latief, 2001).
Dalam keadaan istirahat, konsentrasi ion kalium di dalam sel dipertahankan
melalui potensi elektrik. Ini berperan untuk menjaga agar kondisi intrasel bersifat
negative terhadap bagian ekstraselnya. Konsentrasi ion kalium di dalam sel
biasanya tiga puluh kali lebih besar daripada di luar sel. Ion natrium akan keluar
dari dalam sel melalui mekanisme pompa natrium, sehingga natrium intraseluler
tetap rendah. Konsentrasi ion natrium di luar sel biasanya sepuluh kali lebih besar
daripada konsentrasi di dalam sel. Membran sel saraf umumnya permeable
terhadap ion kalium namun relative tidak permeable terhadap ion natrium. Pada
saraf sensoris dan motoris, stimulasi saraf dapat dianggap sebagai gelombang
aktivita selektrik yang berjalan sepanjang serabut saraf sebagai akibat dari
pertukaran kation (natrium dan kalium) melalui membrane permukaan sel saraf
(Latief, 2001).
Saluran natrium yang terdiri dari lima subunit (dua subunit alfa, satu subunit
beta, satu subunit gama, dan satu subunit teta). Terdapat H sebagai subunit alfa
yang berhubungan dan mengikat agen anestesi lokal, dengan jenis ikatan yang
stereotipik dan bergantung pada tingkat adaptasi dari saluran natrium sendiri,
walaupun demikian subunit beta memodulasi ikatan antara subunit alfa dan agen
anestesi lokal (Ririe, 2000).
Molekul anestetik lokal dan reseptor spesifik dengan ikatan selektif pada
subunit alfa (internal gate/H gate) akan menstabilkan saluran natrium dan
mencegah terjadinya depolarisasi. Keadaan ini yang menyebabkan konduksi saraf
tidak menyebar dan mempertahankan saluran natrium pada keadaan inaktif atau
saluran natrium menutup (Ririe, 2000).
4. Apa perbedaan antara anestesi spinal dan anestesi epidural?
Perbedaan antara anestesi spinal dan anestesi epidural adalah sebagai berikut
(Syarif, 2007).
Anestesi spinal Anestesi epidural
Teknik anestesi dengan cara Teknik anestesi dengan cara
menyuntikan obat anestesi ke menyuntikan obat anestesi ke
dalam ruang subaraknoid diantara ruang epidural
konus mandibularis dan bagian
akhir dari ruang subaraknoid
Lokasi antara L2 dan L3 dan Lokasi dibawah L2
biasanya L3 dan L4
Timbul sakit kepala dan gejala Sakit kepala dan gejala neurologic
neurologik dapat terhindarkan

5. Buatlah penggolongan obat anastesi lokal!


Secara umum anastetik lokal mempunyai rumus dasar yang terdiri dari 3
bagian: gugus amin hidrofil yang berhubungan dengan gugus residu aromatic
lipofil melalui suatu gugus antara. Gugus antara dan gugus aromatic dihubungkan
dengan ikatan amid atau ikatan ester. Maka secara kimia anestetik lokal
digolongkan atas senyawa ester dan senyawa amid (Syarif, 2007).

No Pembeda Golongan Ester Golongan Amid


Jenis
1 Ikatan Ester Ikatan Amid
Ikatan
Dibukain,
prilokain,
Contoh Tetrakain, prokain, benzokain,
2 lidokain,
obat kokain
bupivakain,
mepivakain
Kurang stabil dan mudah
3 Sifat Lebih stabil
mengalami metabolisme
DAFTAR PUSTAKA

Abbas M, Mohamed H, Rabea N, Abrar E, Al-Hindi S, and Hasan AA. Complications of

Circumcision in Male Children: Report of Sixty-one Cases. Bahrain Medical Bulletin.

2010: 32; 1-5.

Bisono.2003. Petunjuk PRaktis Operasi Kecil. Jakarta:EGC

Hutcheson JC. Male Neonatal Circumcision: Indications, Controversies, and Complications.

Urologic Clinics of North America. 2004: 31; 461-467.

Karakata S dan Bachsinar B. Sirkumsisi edisi 1. Jakarta: Hipokrates, 2004.

Karakata S dan Bachsinar B. Bedah Minor edisi 2. Jakarta: Hipokrates, 2005. hal 148-54.

Katzung, B.G.; E.T. Akporiaye; M.J. Aminoff; et al. 2006. Basic and Clinical Pharmacology.

10th Edition. New York : McGraw - Hill.

Latief, Said A. dkk. 2007. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Jakarta: FKUI.

Muhiman, Muhardi dkk. 2004. Anestesiologi. Jakarta: CV. Infomedika.

Rahardjo, Rio. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi, Ed. 2. Jakarta : EGC.

Rodriguez, N.A.; F.J. Ascaso. 2012. Ocular surface frostbite secondary to ethyl chloride

spray. Cutan Ocul Toxicol. 2012 Mar;31(1):77-80.

Samodro, Ratno.; Doso Sutiyono.; Hari Hendriarto Satoto. 2011. Mekanisme Kerja Obat

Anestesi Lokal. Jurnal Anestesiologi Indonesia Volume III, Nomor 1, Tahun 2011.

Soueid, A.; B. Richard. 2007. Ethyl chloride as a cryoanalgesic in pediatrics for venipuncture.

Pediatr Emerg Care. 2007 Jun;23(6):380-3.

Syarif, A., Sunaryo. 2009. Farmakologi dan terapi. Bagian Farmakologi FK UI. Jakarta :

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.