Anda di halaman 1dari 4

Gambaran klinis:

Ameloblastoma sering timbul pada daerah gigi yang tidak erupsi. Gejalanya
diawali dengan rasa sakit, disusul dengan deformitas wajah. Rasa sakit terkadang
menyebar sampai ke struktur lain disertai dengan terdapatnya ulkus dan pelebaran
(1)
jaringan periodontal (gum disease). Lesi ini dapat terlihat lebih awal pada
pemeriksaan gigi secara rutin, dan biasanya penderita merasakan adanya asimetri
wajah secara bertahap. Pasien tidak mengalami keluhan rasa sakit, parestesi, fistula,
formation ulcer, atau mobilitas gigi. Apabila lesi membesar, dengan pemeriksaan
palpasi terasa sensasi seperti tulang yang tipis. Jika telah meluas merusak tulang,
maka abses terasa fluktuasi, kadang-kadang erosi dapat terjadi melalui kortikal plate
yang berdekatan dengan daerah invasi, dan berlanjut ke jaringan lunak yang
berdekatan.(3)
Terdapat dugaan bahwa lesi ini lebih sering muncul pada ras kulit hitam. Telah
ditemukan pada individu usia tiga tahun, bahkan dilaporkan pernah terjadi pada usia
80 thn. Namun sebagian besar terjadi pada usia rata-rata 40 thn. Ameloblastoma
berkembang secara perlahan dan beberapa kasus ditemukan 95% keluhan utama, yaitu
berupa abses pipi, gingival dan palatum durum, sedangkan pada ameloblastoma
maksilaris belum sering ditemukan. (3)
Lesi yang timbul di maxilla sekitar 75% terutama didaerah ramus, hal ini
pulalah yang terkadang menyebabkan deformitas antara maxilla dan mandibula.
Apabila terjadi di maxilla, dapat meluas hingga dasar hidung dam sinus. Lesi ini
memiliki tendensi untuk menyerang tulang cortical karena berjalan sangat lambat
merangsang jaringan periosteum membentuk thin shell of bone sejalan dengan
meluasnya lesi. Hal ini merupakan sesuatu hal penting dalam menegakkan diagnosa
selain dengan radiografi. (1)
Lesi yang tidak diobati dapat berkembang menjadi lebih besar, terutama bila
terjadi pada maksila, dapat meluas ke struktur vital seperti mencapai dasar kranial,
bahkan ke sinus paranasal, orbital, nasopharyng sampai dasar tengkorak. (3)
(a) (b)
Gambar 1. Lesi Ameloblastoma di maxilla (a) dan mandibula (b) (1)

Diagnosis banding
1. Central giant cell granuloma
2. Odontogenic keratocyst
3. Odontogenic myxoma
4. Central mucoepidermoid carsinoma

Komplikasi
Berdasarkan penelitian sebelumnya menyebutkan ameloblastoma bisa berujung
kematian karena ektensi ekstensi lokal atau komplikasi seperti infeksi dan malnutrisi.
Selain itu ada juga yang menyebutkan adanya metastasis ke paru dan nodus limfe
sekitar tumor.

Terapi
Beberapa prosedur operasi yang mungkin digunakan untuk mengobati ameloblastoma
antara lain:
1. Enukleasi
Enukleasi merupakan prosedur yang kurang aman untuk dilakukan.
Weder (1950) pada suatu diskusi menyatakan walaupun popular, kuretase
merupakan prosedur yang paling tidak efisien untuk dilakukan. Enukleasi
menyebabkan kasus rekurensi hampir tidak dapat dielakkan, walaupun sebuah
periode laten dari pengobatan yang berbeda mungkin memberikan hasil yang
salah. Kuretase tumor dapat meninggalkan tulang yang sudah diinvasi oleh sel
tumor. Teknik enukleasi diawali dengan insisi, flap mukoperiostal dibuka.
Kadangkadang tulang yang mengelilingi lesi tipis. Jika dinding lesi melekat
pada periosteum, maka harus dipisahkan. Dengan pembukaan yang cukup, lesi
biasanya dapat diangkat dari tulang. Gunakan sisi yang konveks dari kuret
dengan tarikan yang lembut. Saraf dan pembuluh darah biasanya digeser ke
samping dan tidak berada pada daerah operasi. Ujung tulang yang tajam
dihaluskan dan daerah ini harus diirigasi dan diperiksa. Gigi-gigi yang berada
di daerah tumor jinak biasanya tidak diperlukan Universitas Sumatera Utara
perawatan khusus. Jika devitalisasi diperlukan, perawatan endodontik sebelum
operasi dapat dilakukan.
2. Eksisi Blok
Kebanyakan ameloblastoma harus dieksisi daripada dienukleasi. Eksisi
sebuah bagian tulang dengan adanya kontinuitas tulang mungkin
direkomendasikan apabila ameloblastomanya kecil. Insisi dibuat pada mukosa
dengan ukuran yang meliputi semua bagian yang terlibat tumor. Insisi dibuat
menjadi flap supaya tulang dapat direseksi di bawah tepi yang terlibat tumor.
Lubang bur ditempatkan pada outline osteotomi, dengan bur leher panjang
Henahan. Osteotom digunakan untuk melengkapi pemotongan. Sesudah itu,
segmen tulang yang terlibat tumor dibuang dengan tepi yang aman dari tulang
yang normal dan tanpa merusak border tulang. Setelah meletakkan flap untuk
menutup tulang, dilakukan penjahitan untuk mempertahankan posisinya.
Dengan demikian eksisi tidak hanya mengikutkan tumor saja tetapi juga
sebagian tulang normal yang mengelilinginya. Gigi yang terlibat tumor
dibuang bersamaan dengan tumor. Gigi yang terlibat tidak diekstraksi secara
terpisah.
3. Hemimandibulektomi
Merupakan pola yang sama dengan eksisi blok yang diperluas yang
mungkin saja melibatkan pembuangan angulus, ramus atau bahkan pada
beberapa kasus dilakukan pembuangan kondilus. Pembuangan bagian anterior
mandibula sampai ke regio simfisis tanpa menyisakan border bawah
mandibula akan mengakibatkan perubahan bentuk wajah yang dinamakan
Andy Gump Deformity. Reseksi mandibula dilakukan setelah trakeostomi
dan diseksi leher radikal (bila diperlukan) telah dilakukan. Akses biasanya
diperoleh dengan insisi splitting bibir bawah. Bibir bawah dipisahkan dan
sebuah insisi vertikal dibuat sampai ke dagu. Insisi itu kemudian dibelokkan
secara horizontal sekitar inchi dibawah border bawah mandibula. Kemudian
insisi diperluas mengikuti angulus mandibula sampai mastoid. Setelah akses
diperoleh, di dekat foramen mentale mungkin saja dapat terjadi pendarahan
karena adanya neurovascular. Permukaan dalam mandibula secara perlahan-
lahan dibuka dengan mendiseksi mukosa oral. Dengan menggunakan gigli saw
pemotongan dilakukan secara vertikal di daerah mentum. Hal ini akan
memisahkan mandibula secara vertikal. Mandibula terbebas dari otot yang
melekat antara lain muskulus depressor labii inferior, depressor anguli oris dan
platysma. Bagian mandibula yang akan direseksi dibebaskan dari
perlekatannya dari mukosa oral dengan hati-hati. Setelah itu, komponen
rahang yang mengandung massa tumor dieksisi dengan margin yang cukup.18
Bagian margin dari defek bedah harus dibiopsi untuk pemeriksaan untuk
menentukan apakah reseksi yang dilakukan cukup atau tidak. Jika bagian itu
bebas dari tumor, bagian ramus dan kondilus mandibula harus dipertahankan
untuk digunakan pada rekonstruksi yang akan datang. Ramus paling baik
dipotong secara vertikal. Ketika mandibula disartikulasi, maka ada resiko
pendarahan karena insersi temporalis dan otot pterygoid lateral dipisahkan.
Hal ini dapat dihindari dengan membiarkan kondilus dan prosessus koronoid
berada tetap in situ. Setelah hemimandibulektomi, penutupan luka intraoral
biasanya dilakukan dengan penjahitan langsung.
4. Hemimaksilektomi
Akses ke maksila biasnya diperoleh dengan insisi Weber Fergusson.
Pemisahan bibir melalui philtrum rim dan pengangkatan pipi dengan insisi
paranasal dan infraorbital menyediakan eksposure yang luas dari wajah dan
aspek lateral dari maksila dan dari ethmoid. Setelah diperoleh eksposure yang
cukup, dilakukan pemotongan jaringan lunak dan ekstraksi gigi yang
diperlukan. Kemudian dilakukan pemotongan dengan oscillating saw dari
lateral dinding maksila ke infraorbital rim kemudian menuju kavitas nasal
melalui fossa lakrimalis. Dari kavitas nasal dipotong menuju alveolar ridge.
Setelah itu, dilakukan pemotongan pada palatum keras. Kemudian
pemotongan lateral dinding nasal yang menghubungkan lakrimal dipotong ke
nasofaring dengan mengunakan chisel dan gunting Mayo dan kemudian
dilakukan pemotongan posterior. Pembuangan spesimen dan packing kavitas
maksilektomi yang tepat diperlukan untuk mengkontrol pendarahan. Setelah
hemostasis terjadi, manajemen maksilektomi yang tepat dapat membantu ahli
prostodonsia untuk merehabilitasi pasien. Semua bagian tulang yang tajam
dihaluskan. Prosesus koronoid harus diangkat, karena dekat dengan margin
lateral defek yang akan menyebabkan penutup protesa lepas ketika mulut
dibuka. Flap yang ada pada mukosa dikembalikan menutupi margin medial
tulang. Skin graft kemudian dijahit ke tepi luka, lebih baik hanya lembaran
tunggal. Permukaan dibawah flap pipi, tulang, otot periorbita dan bahkan dura
semuanya ditutup. Graft dipertahankan dengan packing iodoform gauze yang
diisi benzoin tincture. Packing yang cukup digunakan untuk mengisi kembali
kontur pipi. Obturator bedah yang sudah dibuat oleh ahli prostodonsi direline
dengan soft denture reliner sehingga dapat mendukung packing dan menutup
defek. Obturator dapat dipasangkan ke gigi-gigi secara fixed atau tidak,
tergantung kondisi individual pasien. Flap pipi kemudian dikembalikan dan
menutup lapisan.
5. Rekontruksi pasca bedah
Pemakaian protesa obturator
Pengunaan plat

1. WWW.wekipedia.org/wiki/Ameloblastoma, diakses Juni 2008


2. Hooker,S.P.: Ameloblastic Odontoma: An Analisys of twenty six
case,Oral Surgery, 2002
3. Horisson, Leider,A.S, Ameloblastic fibrosarcoma of the jaws,
Oral Surgery,Oral Med, Oral Path, 1999.
4. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/124853-R19-BM-
153%20Distribusi%20dan%20frekuensi-Literatur.pdf
5. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16776/4/
Chapter%20II.pdf