Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN LENGKAP

FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI

PERCOBAAN

ANTIHIPERTENSI DAN DIURETIKA

=i

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK IV

KELAS C

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

SAMATA-GOWA

2016
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular.

Diperkirakan telah menyebabkan 4.5% dari beban penyakit secara global, dan

prevalensinya hampir sama besar di negara berkembang maupun di negara maju.

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama gangguan jantung. Selain

mengakibatkan gagal jantung, hipertensi dapat berakibat terjadinya gagal ginjal

maupun penyakit serebrovaskular (Anonim, 2006: 12).

Pada kebanyakan kasus, hipertensi terdeteksi saat pemeriksaan fisik karena

alasan penyakit tertentu, sehingga sering disebut sebagai silent killer. Tanpa

disadari penderita mengalami komplikasi pada organ-organ vital seperti jantung,

otak ataupun ginjal. Gejala-gejala akibat hipertensi, seperti pusing, gangguan

penglihatan, dan sakit kepala, seringkali terjadi pada saat hipertensi sudah lanjut

di saat tekanan darah sudah mencapai angka tertentu yang bermakna (Anonim,

2006: 12).

Penurunan tekanan darah yang efektif dengan farmakologi telah terbukti

mencegah kerusakan pembuluh darah dan secara substansial menurunkan angka

morbiditas dan mortalitas. Ada sembilan kelas obat antihipertensi. Diuretik,

penyekat beta, penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI), penghambat reseptor

angiotensin (ARB), dan antagonis kalsium dianggap sebagai obat antihipertensi

utama. Penyekat alfa, agonis alfa 2 sentral, penghambat adrenergik, dan vasodilator

digunakan sebagai obat alternatif pada pasien-pasien tertentu di samping obat utama

(Anonim, 2006: 25).


Pengetahuan tentang mekanisme antihipertensi dan diuretik, penggunaan

klinis maupun efek sampingnya melalui percobaan ini diharapkan dapat menjadi

dasar bagi mahasiswa Farmasi, calon apoteker kelak dalam memberikan terapi

farmakologi yang tepat bagi penderita hipertensi.

I.2 Maksud dan Tujuan

I.2.1 Maksud Percobaan

Mengetahui dan memahami mekanisme kerja obat-obat antihipertensi dan

diuretik serta mengamati efek pemberian obat-obat antihipertensi dan diuretik

terhadap hewan coba.

I.2.2 Tujuan Percobaan

a. Mengamati efek pemberian obat-obat antihipertensi (propranolol, klonidin

dan infusa kumis kucing) pada mencit.

b. Mengamati efek pemberian obat-obat diuretik (hidroklortiazid, furosemid

dan spironolakton) pada mencit.

c. Mengamati efek pemberian makanan dan minuman tertentu terhadap

kenaikan tekanan darah probandus.

I.3 Prinsip Percobaan

a. Pengamatan efek pemberian obat-obat antihipertensi pada mencit yang

dibagi menjadi 4 kelompok lalu diinduksi adrenalin secara per oral.

Setelah 30 menit, tiap kelompok diinduksi obat secara per oral: Na-CMC

1% (mencit I), propranolol (mencit II), klonidin (mencit III) dan infusa

kumis kucing (mencit IV) dan diamati perubahan warna pada telinga

mencit pada menit ke 15, 30, 45 dan 60.


b. Pengamatan efek pemberian obat-obat diuretik pada mencit yang dibagi

menjadi 3 kelompok lalu diinduksi diuretik secara per oral: HCT (mencit

I), furosemid (mencit II) dan spironolakton (mencit III) kemudian dihitung

volume urin pada menit ke 15, 30, 45 dan 60.

c. Pengamatan efek pemberian makanan dan minuman tertentu terhadap

kenaikan tekanan darah dimana mula-mula disiapkan 6 orang probandus

dan diukur tekanan darah awalnya dengan tensimeter. Kemudian tiap

probandus mengonsumsi makanan/minuman tertentu: Coffee Mix

(probandus I), Extra Joss (probandus II), kopi hitam (probandus III), susu

Beruang (probandus IV), coto (probandus V) dan konro (probandus VI)

dan diukur kembali tekanan darahnya setelah 60 menit.

1.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II1. Teori Umum

Tekanan darah (TD) ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu curah jantung
dan resistensi vaskular perifer. Curah jantung merupakan hasil kali antara
frekuensi denyut jantung dengan isi sekuncup (stroke volume), sedangkan isi
sekuncup ditentukan oleh aliran balik vena dan kekuatan kontraksi miokard.
Resistensi perifer ditentukan oleh tonus otot polos pembuluh darah,elastisitas
dinding pembuluh darah dan viskositas darah. Semua parameter di atas
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sistem saraf simpatis dan
parasimpatis, sistem rennin-angiotensin-aldosteron (SRAA), dan faktor lokal
berupa bahan-bahan vasoaktif yang diproduksi oleh sel endotel pembuluh darah
(Anonim, 2012: 341).

Sistem saraf simpatis bersifat presif yaitu cenderung meningkatkan


tekanan darah dengan meningkatkan frekuensi denyut jantung, memperkuat
kontraktilitas miokard, dan meningkatkan resistensi pembuluh darah. Sistem
parasimpatis bersifat depresif, yaitu menurunkan tekanan darah karena
menurunkan frekuensi denyut jantung (Anonim, 2012: 342)

Ginjal mengatur tekanan darah jangka panjang dengan mengubah volume


darah. Baroreseptor pada ginjal menyebabkan penurunan tekanan darah (dan
stimulasi reseptor -adrenergik simpatik) dengan cara mengeluarkan enzim renin.
Peptidase ini akan mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I yang
selanjutnya dikonversi menjadi angiotensin II oleh enzim pengkonversi
angiotensin. Selama angiotensin II ada dalam darah, maka angiotensin II
mempunyai dua pengaruh utama yang dapat meningkatkan tekanan arteri.
Pengaruh yang pertama yaitu vasokonstriksi di berbagai daerah di tubuh timbul
dengan cepat dan terutama terjadi di arteriol dan jauh lebih lemah di vena
menyebabkan peningkatan tekanan darah. Cara utama yang kedua yaitu
angiotensin II ini memicu sekresi aldosteron di korteks adrenal, sehingga
reabsorbsi natrium ginjal dan volume darah meningkat yang seterusnya juga akan
meningkatan tekanan darah (Guyton, 2008: 234).

Sel endotel pembuluh darah memproduksi berbagai bahan vasoaktif ynag


sebagiannya bersifat vasokonstriktor seperti endotelin, tromboksan A2 dan
angiotensin II local, dan sebagian lagi bersifat vasodilator seperti endothelium
derived relaxing factor (EDRF) yang dikenal dengan nitrit oxide (NO) dan
prostasiklin (PGI2) (Anonim, 2012: 342).

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah diastolik tetap yang lebih


besar dari 90 mmHg disertai dengan kenaikan tekanan darah sistolik (140
mmHg). Hipertensi disebabkan oleh peningkatan tonus otot polos vaskular perifer,
yang menyebabkan peningkatan resistensi arteriola dan menurunnya kapasitas
sistem pembuluh vena (Mycek, 2001: 18).

Hipertensi dapat dikasifikasikan berdasarkan tingginya TD dan


berdasarkan etiologinya. Berdasarkan tingginya TD, maka seseorang dikatakan
hipertensi bila TD-nya di atas 140/90 mmHg. Untuk pembagian lebih rinci, The
Joint National Committee on prevention, detection, evaluation and treatment ohf
high blood pressure (JNC) mengklasifikasi tekanan darah mencakup 4 kategori,
dengan nilai normal pada tekanan darah sistolik (TDS) < 120 mm Hg dan tekanan
darah diastolik (TDD) < 80 mm Hg. Prehipertensi tidak dianggap sebagai kategori
penyakit tetapi mengidentifikasi pasien-pasien yang tekanan darahnya cenderung
meningkat ke klasifikasi hipertensi di masa yang akan datang. Ada dua tingkat
(stage) hipertensi , dan semua pasien pada kategori ini harus diberi terapi obat.

Klasifikasi tekanan Tekanan darah Tekanan darah diastolik,


darah sistolik, mmHg mmHg
Normal <120 dan <80
Prehipertensi 120-139 atau 80-89
Hipertensi stage 1 140-159 atau 90-99
Hipertensi stage 2 160 atau 100
Klasifikasi tekanan darah untuk dewasa umur 18 tahun (Anonim, 2006: 17).

Berdasarkan etiologinya, hipertensi dibagi menjadi hipertensi esensial dan


hipertensi sekunder.

1. Hipertensi esensial

Hipertensi esensial atau hipertensi primer/idiopatik adalah hipertensi tanpa


kelainan dasar patologi yang jelas. Lebih dari 90% kasus merupakan hipertensi
esensial. Penyebabnya multifaktorial meliputi faktor genetik dan lingkungan.
Faktor genetik mempengaruhi kepekaan terhadap natirum, kepekaan terhadap
stres, reaktivitas pembuluh darah terhadap vasokonstriktor dan lain-lain. Faktor
lingkungan berupa diet, kebiasaan merokok, obesitas dan lain-lain (Anonim,
2012: 342).

2. Hipertensi sekunder

Meliputi 5-10% kasus hipertensi. Hipertensi sekunder berupa hipertensi


ginjal, hipertensi endokrin, kelainan saraf pusat, obat-obatan dan lain-lain.
Hipertensi renal berupa stenosis arteri renalis, hipertensi akibat lesi parenkim
ginjal seperti pada glomerulonefritis, nefropati diabetik. Hipertensi endokrin
akibat kelainan korteks adrenal (sindrom Cushing), tumor medulla adrenal,
hipertiroidisme (Anonim, 2012: 343).

Hipertensi lama dan atau berat dapat menimbulkan komplikasi berupa


kerusakan pada jantung, otak ginjal dan pembuluh darah perifer. Efek letal
hipertensi terutama ditimbulkan melalui tiga cara berikut:

1. Kelebihan beban kerja di jantung, yang menimbulkan penyakit jantung


koroner dan gagal jantung secara dini, seringkali menyebabkan kematian
akibat serangan jantung.
2. Tekanan yang tinggi seringkali menyebabkan kerusakan di pembuluh darah
utama di otak, yang diikuti oleh kematian pada sebagian besar otak, keadaan
ini disebut infark serebral. Secara klinis dikenal dengan nama stroke.
Bergantung pada bagian mana otak yang terkena, stroke dapat menyebabkan
kelumpuhan, demensia, kebutaan atau berbagai gangguan otak serius lainnya.
3. Tekanan darah yang tinggi menyebabkan cedera di ginjal, yang menimbulkan
kerusakan di area ginjal dan akhirnya terjadi gagal ginjal, uremia dan
kematian (Guyton, 2008: 231).

Terapi farmakologi untuk penyakit hipertensi yang dikenal dengan


antihipertensi ada 9 golongan. Diuretik, penyekat beta, penghambat enzim
konversi angiotensin (ACEI), penghambat reseptor angiotensin (ARB), dan
antagonis kalsium dianggap sebagai obat antihipertensi utama. Obat-obat ini baik
sendiri atau dikombinasi, harus digunakan untuk mengobati mayoritas pasien
dengan hipertensi karena bukti menunjukkan keuntungan dengan kelas obat ini.
Beberapa dari kelas obat ini (misalnya diuretik dan antagonis kalsium)
mempunyai sub kelas dimana perbedaan yang bermakna dari studi terlihat dalam
mekanisme kerja, penggunaan klinis atau efek samping. Penyekat alfa, agonis
alfa2 sentral, penghambat adrenergik, dan vasodilator digunakan sebagai obat
(Anonim, 2006: 26).
1. Diuretik
Bekerja dengan cara meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida
sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler. Akibatnya terjadi
penurunan curah jantung dan tekanan darah. Diuretik dianjurkan untuk sebagian
besar hipertensi ringan dan sedang. Bila menggunakan kombinasi dua atau lebih
antihipertensi, maka salah satunya dianjurkan diuretik. Beberap sub golongan
diuretik yaitu:
a. Tiazid, bekerja menghambat transport bersama NaCl di tubulus distal
ginjal, sehingga eksresi Na+ dan CL- meningkat. Contoh obat:
hidroklortiazid (HCT).
b. Diretik loop, bekerja di ansa Henle asenden bagian epitel tebal dengan
cara menghambat kotransport Na+, K+, Cl- dan menghambat resorpsi air
dan elektrolit. Mula kerjanya lebih cepat dan efek diuretiknya lebih kuat
daripada golongan tiazid, sehingga jarang digunakan sebagai
antihipertensi, kecuali pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau
gagal jantung. Contoh obat: furosemid, torasemid, bumetanid.
c. Diuretik hemat kalium, bekerja dengan menghambat reseptor aldosteron di
tubulus kolingentes ginjal. Contoh obat: spironolakton, amilorid,
tiamteren.
2. Penghambat adrenoreseptor beta ( blocker)
Bekerja dengan menghambat reseptor -1 antara lain: (1) penurunan
frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard sehingga menurunkan curah
jantung, (2) hambatan sekresi renin di sel-sel jukstaglomerular ginjal dengan
akibat penurunan produksi angiotensin II, (3) efek sentral yang mempengaruhi
aktivitas saraf simpatis, perubahan pada sensitivitas baroreseptor, perubahan
aktivitas neuron adrenergic perifer dan peningkatan biosintesis prostasiklin.
Penurunan TD oleh blocker yang diberikan per oral berlangsung lambat.
Efeknya mulai terlihat dalam 24 jam sampai 1 minggu setelah terapi dimulai.
Obat ini tidak menimbulkan hipotensi dan retensi air dan garam. Contoh obat:
propranolol, metoprolol, atenolol, pindolol, nadolol, karvedilol (Anonim, 2012:
348).
3. Penghambat adrenoreseptor alfa ( blocker)
Hambatan secara selektif reseptor 1 menyebabkan vasodilatasi di arteriol
dan venula sehingga menurunkan resistensi perifer. Di samping itu, venodilatasi
menyebabkan aliran balik vena berkurang yang selanjutnya menurunkan curah
jantung. Venodilatasi dapat menyebabkan hipotensi ortostatik dan peningkatan
aktivitas renin plasma. Contoh obat: prazosin, terazosin, doksazosin (Anonim,
2012: 348).
4. Adrenolitik sentral
Obat golongan ini bekerja dengan cara mengaktifkan adrenoreseptor 2.
Reseptor 2 terletak di neuron adrenergic prasinaps dan beberapa tempat
pascasinaps. Obat berikatan erat dengan reseptor 2 sehingga mengurangi impuls
simpatis sentral yang berakibat pada pengurangan pengeluaran norepinefrin dari
ujung saraf adrenergic. Penurunan tonus simpatis menyebabkan penurunan
kontraktilitas miokard dan frekuensi denyut jantung. Contoh obat: klonidin,
metildopa (Katzung, 2012: 208).

5. Penghambat ujung saraf adrenergik


Menghambat pengangkut amina vesikuler di saraf noradrenergic dan
menguras simpanan transmitter sehingga berefek pada pengurangan semua
efek simpatis, khususnya kardiovaskular dan menurunkan tekanan darah
Contoh obat: reserpin, guanetidin (Katzung, 2012: 209).
6. Vasodilator
Vasodilator melemaskan otot polos arteriol sehingga menurunkan
resistensi vaskular sistemik. Ada beberapa mekanisme kerja vasodilator (1)
mengeluarkan nitrat oksida dari obat atau endotel (nitroprusid, histamine,
asetilkolin), (2) mengurangi influx kalsium (verapamil, nifedipin), (3)
Hiperpolarisasi membrane otot polos melalui pembukaan saluran kalium
(minoksidil), mengaktifkan reseptor dopamine (fenoldopam) (Katzung, 2012:
200).
7. Inhibitor angiotensin converting enzyme (ACEI)
Bekerja dengan menghambat angiotensin converting enzyme sehingga
mengurangi kadar angiotensin II, efek lainnya terjadi pengurangan vasokonstriksi
(vasodilatasi) dan sekresi aldosteron dan meningkatkan bradikidin. Degradasi
bradikidin juga dihambat sehingga kadarnya meningkat dalam darah dan berperan
dalam efek vasodilatasi ACEI. Vasodilatasi secara langsung menurunkan tekanan
darah, sedangkan berkurangnya aldosteron akan menyebabkan ekskresi air dan
natrium dan retensi kalium. Contoh obat: kaptopril, enalapril (Katzung, 2012:
205).
8. Penghambat reseptor angiotensin II (Agiotensin receptor blocker/ARB)
Reseptor AII terdiri dari 2 kelompok besar, AT1 dan AT2. AT1 terdapat di
otot polos pembuluh darah dan jantung, ginjal, otak dan kelenjar adrenal. Reseptor
AT1 memperantarai semua efek fisiologis AII terutama dalam homeostatis
kardiovaskular. Efek dari penghambatan reseptor AT1 sama seperti ACE tetapi
tanpa peningkatan bradikidin. Contoh obat: losartan (Katzung, 2012: 206).
9. Antagonis kalsium
Antagonis kalsium menghambat influx kalsium pada sel otot polos
pembuluh darah dan miokard. Di pembuluh darah, antagonis kalsium
menimbulkan relaksasi arteriol, sedang vena kurang dipengaruhi. Antagonis
kalsium adalah golongan obat lini pertama yang terbukti sangat efektif pada
hipertensi dengan kadar renin rendah. Contoh obat: nifedipin (Anonim, 2012:
358).

II.2 Uraian Bahan

II.2.1 Air suling (Dirjen POM, 1979: 96)

Nama resmi : AQUA DESTILLATA

Nama lain : Air suling, aquadest

Rumus molekul : H2O

Berat molekul : 18,02

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak

mempunyai rasa.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Khasiat : Sebagai pelarut.

II.2.2 Alkohol (Dirjen POM, 1979: 65)

Nama resmi : AETHANOLUM

Nama lain : Alkohol, etanol

Rumus molekul : C2H5O

Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap,

bau khas, rasa panas, mudah terbakar.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P

dan eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari

cahaya, di tempat sejuk, jauh dari nyala api.

Khasiat : Sebagai desinfektan.

II.2.3 Na-CMC (Dirjen POM, 1979: 401)

Nama resmi : NATRII CARBOXYMETHYLCELLULOSUM

Nama lain : Natrium Karboksimetilselulosa

Pemerian : Serbuk atau butiran, putih atau putih kuning

gading, tidak berbau atau hampir tidak berbau,

higroskopik.

Kelarutan : Mudah mendispersi dalam air, membentuk

suspensi koloidal, tidak larut dalam etanol P, eter P

dan pelarut organik lain.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Khasiat : Sebagai kontrol negatif.

II.2.4 Infusa kumis kucing (Apriyanti, 2010: 175)

a. Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Lamiales

Famili : Lamiaceae

Genus : Orthosiphon
Spesies : Ortosiphon stamineus

b. Morfologi

Ortosiphon stamineus dikenal dengan nama kumis kucing termasuk

tanaman dari familia Lamiaceae. Kumis kucing merupakan tanaman obat berupa

tumbuhan berbatang basah yang tegak. Berakar tunggang, batang berbentuk

persegi empat agak beralur, berwarna hijau keunguan dan berdiameter sekitar 1,5

cm, bercabang-cabang. Daun berbentuk bulat telur, lonjong, berwarna hijau,

panjang <10 cm dan lebar 3-5cm. Posisi daun pada batang berhadapan dan selang-

seling. Bunga tunggal dan majemuk, berwarna putih atau putih keunguan, panjang

7-29 cm.

II.3 Uraian Obat

II.3.1 Furosemide (Dirjen POM, 1995: 400)

Nama resmi : FUROSEMIDUM

Nama lain : Furosemide

Nama generik : Furosemide

Nama dagang :Afrosic, Arsiret, Diufar, Edemin, Farsiretic,


Furosix, Gralixa, Husamid, Impugan, Lasix

Rumus molekul : C12H11CIN2O2S

Berat molekul : 330,74

Pemerian : Serbuk hablur, putih sampai hampir kuning, tidak


berbau.;
Indikasi : Edema, oliguria karena gagal ginjal.

Kontraindikasi : Keadaan prakoma akibat sirosis hati, gagal ginjal


dengan anuria.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam


aseton, dalam dimetilformamida dan dalam larutan
alkali hidroksida, larut dalam methanol, agak sukar
larut dalam etanol, sukar larut dalam eter, sangat
sukar larut dalam kloroform.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, tidak tembus cahaya.

II.3.2 Hidroklorotiazida (Dirjen POM, 1995: 433)

Nama resmi : HYDROCHLOROTHIAZIDUM

Nama lain : Hidroklorotiazida

Nama generik : Hidroklorotiazide

Nama dagang :Amitrid mite, Lodoz, Tenazidesic, Co-Aproved,


Caporetic, Capozide, Zestoretic.

Rumus molekul : C7H8CIN3O4S2

Berat molekul : 297,73

Pemerian : Serbuk hablur, putih atau praktis putih, praktis


tidak berbau.

Indikasi : Edema, hipertensi.

Kontraindikasi :Gangguan hati berat, gangguan ginjal berat,


hipokalemia refraktori, hiperkalsemia, hamil dan
menyusui.

Kelarutan : Sukar larut dalam air, mudah larut dalam larutan,


agak sukar dalam methanol, 2 natrium hidroksida,
dalam N-butilamina, dan dalam dimetilformamida,
agak sukar dalam methanol, tidak larut dalam eter,
dalam kloroform dan dalam asam mineral encer.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

II.3.3 Klonidin (Dirjen POM, 1995: 244)

Nama resmi : CLONIDINI HYDROCHLORIDUM

Nama lain : Klonidin Hidroklorida

Nama generik : Clonidine

Nama dagang : Catapres, Dixarit

Rumus molekul : C9H9C12N2. HCl

Berat molekul : 266,6

Pemerian : Serbuk hablur, putih atau hampir putih.

Indikasi : Hipertensi, migrain.

Kelarutan : Larut dalam 13 bagian air, dalam etanol mutlak,


sukar larut dalam kloroform.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

II.3.4 Propanolol (Dirjen POM, 1995: 709)

Nama resmi : PROPANOLOLI HYDROCHLORIDUM

Nama lain : Propanolol Hidrokloridum

Nama generik : PROPANOLOLI HYDROCHLORIDUM

Nama dagang : Propanolol Hidrokloridum

Rumus molekul : C16H21NO2.HCl

Berat molekul : 295,81


Indikasi : Hipertensi, feokromositoma, angina, kardiomiopati
obstruktif hipertrofik, takikardi ansietas, profilaksis
setelah infark miokard, profilaksis migren, tremor
esensial.

Kontraindikasi :Asma, gagal jantung, bradikardi yang nyata,


hipotensi, sindrom penyakit sinus, syok
kardiogenik.

Pemerian : Serbuk hablur, putih atau hampir putih, tidak


berbau, rasa pahit.

Kelarutan : Larut dalam air dan dalam etanol, sukar larut


dalam kloroform, praktis tidak larut dalam eter.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, tidak tembus cahaya.

II.3.5 Spironolakton (Dirjen POM, 1995: 757)

Nama resmi : SPIRONOLACTONUM

Nama lain : Spironolakton

Nama generik : Spironolactone

Nama dagang : Carpiaton, Letonal, Spirola, Siprolactone.

Rumus molekul : C24H32O4S

Berat molekul : 416,57

Pemerian : Serbuk hablur, warna krem muda sampai coklat


muda, bau lemah seperti merkaptan, stabil di
udara.

Indikasi :Edema dan asitas pada sirosis hati, asites


malignan, sindroma nefrotik, gagal jantung
kongestif, hiperaldoteronisme.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam
benzena dan dalam kloroform, larut dalam etil
asetat dan dalam etanol, sukar larut dalam
metanol dan dalam minyak lemak.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

II.4 Uraian Hewan

1. Mencit (Malole, 1989)

a. Klasifikasi hewan uji

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mamalia

Ordo : Rodentia

Famili : Muridae

Genus : Mus

Spesies : Mus musculus

b. Morfologi

Mencit (Mus musculus) memiliki bulu yang berwarna putih. Warna mata
merah dan integumen (kulit) tidak berpigmen dan ekor berwarna merah muda.
Adapun morfometri Mus musculus yakni panjang tubuh total = 153 mm. Panjang
ekor 80-130% dari panjang badan dan kepala = 79 mm. Ukuran kaki belakang =
16 mm. Ukuran telinga = 12 mm. Ukuran tengkorak = 19 mm. Rumus puting
susu = 3 + 2. Berat tubuh dewasa = 30 - 40 g.
BAB III

METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan

III.1.1 Alat

Alat yang digunakan yaitu spoit injeksi, spoit oral (kanula), stopwatch,

timbangan dan tensimeter.

III.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan yaitu alkohol, aquades, furosemid, hidroklortiazid,

infusa kumis kucing, kapas, klonidin, makanan (coto dan konro), minuman

(Coffee Mix, Extra Joss, kopi hitam, susu Beruang), Na-CMC 1%, propranolol,

dan spironolakton.

III.2 Cara Kerja

III.2.1 Antihipertensi

a. Disiapkan 4 ekor mencit.

b. Ditimbang setiap mencit di atas timbangan, lalu dicatat beratnya untuk

menghitung dosis dan volume sediaan yang akan diberikan.

c. Dinduksi dengan dengan adrenalin secara per oral.

d. Setelah 30 menit, tiap kelompok diinduksi obat secara per oral: Na-

CMC 1% (mencit I), propranolol (mencit II), klonidin (mencit III) dan

infusa kumis kucing (mencit IV).


e. Diamati perubahan warna pada telinga mencit pada menit ke 15, 30, 45

dan 60.

III.2.2 Diuretik

a. Disiapkan 3 ekor mencit.

b. Ditimbang setiap mencit di atas timbangan, lalu dicatat beratnya untuk

menghitung dosis dan volume sediaan yang akan diberikan.

c. Tiap mencit diinduksi diuretik secara per oral: HCT (mencit I),

furosemid (mencit II) dan spironolakton (mencit III).

d. Dihitung volume urin pada menit ke 15, 30, 45 dan 60.

III.2.3 Tekanan darah

a. Disiapkan 6 orang probandus.

b. Diukur tekanan darah awalnya dengan tensimeter.

c. Tiap probandus mengonsumsi makanan/minuman tertentu: Coffee Mix

(probandus I), Extra Joss (probandus II), kopi hitam (probandus III),

susu Beruang (probandus IV), coto (probandus V) dan konro

(probandus VI).

d. Diukur kembali tekanan darahnya setelah 60 menit.

1.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Pengamatan

IV.1.1 Tabel Pengamatan

a. Antihipertensi

Perubahan warna telinga


Pemberian Mencit
No. Mencit
Obat
15 30 45 60

1. I Na-CMC 1% +++ +++ +++ +++

2. II Propranolol +++ ++ ++ +

3. III Klonidin +++ ++ ++ +

Infusa kumis +++ ++ ++ +


4. IV
kucing

Keterangan: (+++) merah, (++) agak kemerahan, (+) pucat, (-) tidak berwarna

b. Diuretik

Volume urine (mL)


Pemberian
No. Mencit
Obat
15 30 45 60

1. I Hidroklortiazid - - 0,3 0,3

2. II Furosemid 0,8 0,9 1,1 1,6

3. III Spironolakton - - 0,4 1


c. Tekanan darah

Tekanan darah (mmHg)


Makanan/
No. Probandus
minuman
Sebelum Sesudah

1. I Coffee Mix 120/80 130/90

2. II Extra Joss 110/80 130/90

3. III Kopi hitam 110/70 120/80

Susu 110/80 110/80


4. IV
Beruang

5. V Coto 110/80 110/80

6. VI Konro 110/80 140/90

IV.2 Pembahasan

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah diastolik tetap yang lebih

besar dari 90 mmHg disertai dengan kenaikan tekanan darah sistolik (140

mmHg). Pada kebanyakan kasus, hipertensi terdeteksi saat pemeriksaan fisik

karena alasan penyakit tertentu, sehingga sering disebut sebagai silent killer.

Tanpa disadari penderita mengalami komplikasi pada organ-organ vital seperti

jantung, otak ataupun ginjal. Penurunan tekanan darah yang efektif dengan

farmakologi telah terbukti mencegah kerusakan pembuluh darah dan secara

substansial menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Ada sembilan kelas obat

antihipertensi. Diuretik, penyekat beta, penghambat enzim konversi angiotensin

(ACEI), penghambat reseptor angiotensin (ARB), dan antagonis kalsium dianggap

sebagai obat antihipertensi utama. Penyekat alfa, agonis alfa 2 sentral, penghambat
adrenergik, dan vasodilator digunakan sebagai obat alternatif pada pasien-pasien

tertentu di samping obat utama (Anonim, 2006: 25).

Adapun alat yang digunakan yaitu spoit injeksi, spoit oral (kanula),
stopwatch, timbangan dan tensimeter. Sementara bahan yang digunakan yaitu
alkohol, aquades, furosemid, hidroklortiazid, infusa kumis kucing, kapas,
klonidin, makanan (coto dan konro), minuman (Coffee Mix, Extra Joss, kopi
hitam, susu Beruang), Na-CMC 1%, propranolol, dan spironolakton.

Mekanisme kerja percobaan yaitu pada percobaan antihipertensi, mencit


dibagi menjadi 4 kelompok lalu diinduksi adrenalin secara per oral. Setelah 30
menit, tiap kelompok diinduksi obat secara per oral: Na-CMC 1% (mencit I),
propranolol (mencit II), klonidin (mencit III) dan infusa kumis kucing (mencit IV)
dan diamati perubahan warna pada telinga mencit pada menit ke 15, 30, 45 dan
60.

Pada percobaan diuretik, mencit dibagi menjadi 3 kelompok lalu diinduksi


diuretik secara per oral: HCT (mencit I), furosemid (mencit II) dan spironolakton
(mencit III) kemudian dihitung volume urin pada menit ke 15, 30, 45 dan 60.

Pada percobaan efek pemberian makanan dan minuman tertentu terhadap


kenaikan tekanan darah, mula-mula disiapkan 6 orang probandus dan diukur
tekanan darah awalnya dengan tensimeter. Kemudian tiap probandus
mengonsumsi makanan/minuman tertentu: Coffee Mix (probandus I), Extra Joss
(probandus II), kopi hitam (probandus III), susu Beruang (probandus IV), coto
(probandus V) dan konro (probandus VI) dan diukur kembali tekanan darahnya
setelah 60 menit.

Alasan perlakuan dan pemilihan bahan pada percobaan antara lain pada
percobaan antihipertensi, penginduksian adrenalin dimaksudkan untuk
memberikan efek hipertensi pada mencit sehingga pembuluh darah mengalami
konstriksi akibat aktivasi reseptor oleh adrenalin. Vasokonstriksi ini paling jelas
dapat diamati pada pembuluh darah telinga mencit yang ditandai oleh warna
kemerahan. Untuk mengobati hipertensi, maka diberikan obat antihipertensi. Obat
yang digunakan adalah propranolol, klonidin dan infusa kumis kucing. Na-CMC
juga diberikan tetapi hanya sebagai kontrol negatif terhadap obat yang lain.

Pada percobaan diuretik, parameter yang digunakan untuk mengamati efek


antihipertensi golongan obat diuretik adalah volume urin yang dikeluarkan mencit
setelah penginduksian diuretik HCT, furosemid dan spironolakton karena diuretik
bekerja dengan cara meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida untuk
menurunkan tekanan darah. Prinsipnya ialah volume urin akan semakin
bertambah di menit tertentu setelah penginduksian diuretik.

Pada percobaan tekanan darah, parameter yang diamati adalah peningkatan


tekanan darah awal setelah pengonsumsian makanan dan minuman yang diduga
dapat memicu terjadinya kenaikan tekanan darah. Dipilih minuman yang
mengandung kafein seperti kopi hitam, Coffee Mix, Extra Joss untuk
membuktikan bahwa benar kafein dapat meningkatkan curah jantung, sementara
coto dan konro adalah makanan dengan kadar protein dan lemak yang tinggi yang
jika dikonsumsi dapat meningkatkan tekanan darah.

Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa penginduksian


klonidin, propranolol dan infusa kumis kucing mampu menurunkan tekanan darah
yang ditandai dengan perubahan warna telinga mencit dari yang awalnya
memerah setelah penginduksian adrenalin menjadi pucat. Efek ini timbul karena
klonidin adalah adrenolitik sentral yakni bekerja dengan cara mengaktifkan
adrenoreseptor 2. Klonidin berikatan erat dengan reseptor 2 sehingga
mengurangi impuls simpatis sentral yang berakibat pada pengurangan
pengeluaran norepinefrin dari ujung saraf adrenergik. Penurunan tonus simpatis
menyebabkan penurunan kontraktilitas miokard dan frekuensi denyut jantung
yang akhirnya menurunkan tekanan darah. Propranolol adalah golongan beta
blocker yang bekerja dengan menghambat reseptor -1 di jantung sehingga terjadi
penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard sehingga
menurunkan curah jantung. Infusa kumis kucing mengandung senyawa turunan
kromen, yaitu metilripariokromen yang mampu menurunkan tekanan darah
sistolik dan curah jantung karena mampu menghambat penyempitan aorta yang
dirangsang oleh ion K+ (Achmad, 2009:270). Penginduksian Na-CMC tidak
menyebabkan perubahan warna pada telinga mencit karena fungsinya hanya
sebagai kontrol negatif. Percobaan dapat dikatakan telah sesuai dengan teori.

Pada percobaan diuretik, baik penginduksian furosemid, HCT dan


spironolakton pada mencit mampu meningkatkan volume urin mencit. Efek
furosemid telah muncul di menit ke 15 sementara HCT dan spironolakton baru
muncul di menit ke 45. Volume urin terbanyak dihasilkan pada mencit yang
diinduksi furosemid, yakni 1,6 mL, spironolakton sebanyak 1 mL, HCT sebanyak
0,3 mL. Hal ini sesuai dengan teori bahwa furosemid adalah golongan diuretik
loop (diuretik kuat) yang mula kerjanya lebih cepat dan efek diuretiknya lebih
kuat daripada golongan tiazid lain. Furosemid bekerja di ansa Henle asenden
bagian epitel tebal dengan cara menghambat kotransport Na+, K+, Cl- dan
menghambat reabsorpsi air dan elektrolit sehingga meningkatkan ekskresi
natrium, air dan klorida sehingga menurunkan volume darah dan cairan
ekstraseluler, akibatnya terjadi penurunan curah jantung dan tekanan darah. HCT
adalah golongan tiazid yang bekerja menghambat transport bersama NaCl di
tubulus distal ginjal, sehingga eksresi Na+ dan CL- meningkat sementara
spironolakton adalah golongan diuretik hemat kalium, bekerja dengan
menghambat reseptor aldosteron di tubulus kolingentes ginjal. Percobaan dapat
dikatakan telah sesuai dengan teori.

Pada percobaan pengukuran tekanan darah diperoleh hasil bahwa


pengonsumsian minuman yang mengandung kafein seperti kopi hitam, Coffee
Mix dan Extra Joss meningkatkan tekanan darah probandus. Peningkatan tekanan
darah ini terjadi melalui mekanisme berikut: kafein berperan sebagai kompetitif
inhibitor yang bersifat antagonis terhadap reseptor adenosin. Karena strukturnya
mirip dengan adenosin, kafein akan berikatan dengan reseptor adenosin sehingga
mengakibatkan penurunan aktivitas adenosin. Efeknya, terjadi peningkatan
aktivitas neurotransmitter dopamin. Kafein mengurangi uptake atau metabolisme
katekolamin pada jaringan non saraf. dan mengganggu penyimpanan ion Calcium
(Ca2+) sehingga dapat berdifusi bebas ke dalam sel dan menyebabkan pelepasan
kalsium intraseluler dari sarcoplasmic reticulum sehingga terjadi peningkatan
kekuatan dan lama kontraksi otot jantung. Resultan dari mekanisme kerja kafein
di atas dapat menyebabkan peningkatan kuat kontraksi jantung. Adapun
pengonsumsian susu tidak menyebabkan peningkatan tekanan darah probandus
karena tidak mengandung kafein.
Coto dan konro adalah makanan yang diketahui mengandung kadar
protein yang tinggi. Pengonsumsiannya oleh probandus meningkatkan tekanan
darah probandus. Peningkatan tekanan darah ini terjadi melalui mekanisme
berikut: protein yang tinggi diketahui dapat meningkatkan aliran darah ginjal dan
GFR (Glomerulus Filtrate Rate). GFR dan aliran darah ginjal meningkat 20-30%
setelah seseorang makan daging dengan protein tinggi. Makanan dengan protein
tinggi akan meningkatkan pelepasan asam amino ke dalam darah, yang kemudian
direabsorbsi di tubulus proksimal. Karena asam amino dan natrium di reabsorbsi
bersama oleh tubulus proksimal maka kenaikan reabsorbsi asam amino juga
merangsang reabsorbsi natrium dalam tubulus proksimal yang menyebabkan
volume darah meningkat yang seterusnya juga akan meningkatan tekanan darah.
Namun, pada hasil pengamatan, coto tidak meningkatkan tekanan darah
probandus. Hal ini disebabkan karena adanya faktor kesalahan.
Faktor kesalahan dalam percobaan ini yaitu kondisi fisiologis yang
berbeda tiap individu sehingga berdampak pada hasil pengamatan.
Hubungan percobaan dalam bidang farmasi yakni pengetahuan tentang
mekanisme antihipertensi dan diuretik, penggunaan klinis maupun efek
sampingnya melalui percobaan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi
mahasiswa Farmasi, calon apoteker kelak dalam memberikan terapi farmakologi
yang tepat bagi penderita hipertensi serta mengedukasi pasien hipertensi mengenai
faktor-faktor yang dapat memicu kenaikan tekanan darah yakni makanan
berprotein tinggi dan minuman berkafein.
Dalam suatu hadist Rasulullah saw yang diriwayatkan Bukhari dan
Muslim, yang berbunyi:

Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika


segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika
segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah
bahwa segumpal daging itu adalah qalbu (HR. Bukhari dan Muslim)

Qalbu yang dimaksud dalam hadist ini adalah jantung, dimana jantung
adalah sebuah organ yang terdiri atas otot-otot yang berkontraksi secara terus-
menerus memompakan darah yang mengandung komponen-komponen penting
bagi metabolisme tubuh ke seluruh tubuh. Bila jantung rusak, maka fungsi organ-
organ yang lain juga akan ikut terpengaruh. Oleh karena itu dengan menjalankan
gaya hidup yang dikehendaki oleh Allah SWT, membuat kemungkinan terkena
penyakit jantung menjadi lebih kecil, seperti melakukan aktivitas spiritual, makan
secukupnya, bekerja secara fisik, tidak marah dan iri hati, menjauhi keserakahan,
serta menjauhkan diri dari makanan dan minuman yang dilarang seperti alkohol
atau khamar yang dapat berpengaruh pada seluruh organ tubuh, seperti liver,
lambung, usus, pankreas, jantung dan otak dan dapat menyebabkan sejumlah
penyakit, seperti sirosis hati, kanker, hipertensi.
BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

a. Propranolol, klonidin dan infusa kumis kucing mampu menurunkan

tekanan darah tinggi yang ditandai dengan perubahan warna telinga mencit

dari yang awalnya memerah setelah penginduksian adrenalin menjadi

pucat.

b. HCT, furosemid dan spironolakton meningkatkan volume urin mencit

dengan efek diuretik tercepat dan volume urin terbanyak pada

penginduksian furosemid.

c. Minuman berkafein: Coffee Mix, Extra Joss, kopi hitam dan makanan

berprotein tinggi: konro, meningkatkan tekanan darah probandus.

V.2 Saran

V.2.1 Untuk laboratorium

Agar kiranya alat dan bahan yang kurang di laboratorium dilengkapi.

V.2.2 Untuk asisten

Tetap dampingi dan bimbing praktikan agar mereka memahami praktikum

yang dilakukannya.
LAMPIRAN

A. Skema Kerja

1. Antihipertensi

D i ts i m b a n g d a n
di a i ph i t u n g d o s i s &
vk oa l u m e
pn e 4m b e r ia n o b a t
e k
o r
m e
n c i
t
2. Diuretik

D i ts i m b a n g d a n
di a i ph i t u n g d o s i s &
vk oa l u m e
pn e 3m b e r ia n o b a t
e k
o r
m e
n c i
t
D i us i k u r
ta ep k k a a n a n
dn a 6r a h a w a l
3. Tekanan Darah

do er a n n g a n
tg e n s i m e t e r
p r o b
a n d
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Sjamsul Arifin. dkk. 2009. Ilmu Kimia dan Kegunaan Tumbuh-

Tumbuhan Obat Indonesia. Bandung: ITB

Anonim, 2006. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi. Jakarta:

Departemen Kesehatan RI

Anonim, 2012. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Universitas Indonesia

Apriyanti, Maya. 2010. 10 Tanaman Obat Paling Berkhasiat dan Paling Dicari.

Yogyakarta: Pustaka Baru

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen

Kesehatan RI

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen


Kesehatan RI

Guyton, Arthur C. dan John E. Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi
11. Jakarta: EGC

Katzung, Bertram G. dkk. 2012. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 12. Jakarta:
EGC

Mycek, Mary J. dkk. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar. Jakarta: Widya


Medika

Malole, Sri Utami Pramono C. 1989. Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan di


Laboratorium. Bogor: Institut Pertanian Bogor