Anda di halaman 1dari 10

Struktur, Fungsi dan Pengkajian Keperawatan Sistem Urinaria

Addi Mardi Harnanto, B.N. (Hons.), M.Nurs.

A. Struktur dan Fungsi Sistem Urinaria

Saluran urinaria (urinary tract/ organa ropoetica) terdiri dari


empat organ dari atas ke bawah mulai dari dua buah ginjal (ren/
kidneys), dua ureter, kandung kemih (blass/ buli-buli/ vesika
urinaria), dan uretra. Sistem ini berfungsi untuk membuat urin
dan mengeluarkannya.

1. Ginjal (ren/ kidneys)

Ginjal terletak di bagian dorsal abdomen, di kanan kiri


colum vertebralis ditutupi oleh peritoneum dan dikelilingi
oleh jaringan pengikat dan masa corpus odisum. Ginjal
kanan terletak sedikit lebih rendah setengah vertebra
daripada ginjal kiri oleh karena adanya hepar di regio
hipokondria dekstra. Axis panjang ginjal sejajar dengan Photo courtesy NIDDK
columna vertebralis. Setiap ginjal mempunyai panjang rata-
rata 11,25 cm dan lebar lebih kurang 5-7,5 cm dan tebalnya kira-kira 2,5 cm. Ginjal kiri lebih
panjang dan lebih kecil dari ginjal kanan. Berat ginjal dewasa antara 125-170 gr pada laki-
laki, sedangkan pada wanita antara 115-155 gr.
Ginjal mempunyai bentuk seperti kacang buncis mempunyai dua permukaan, dua margines
dan ekstremitas kranialis dan ekstremitas caudalis. 20-25% dari total arteri darah dipompa
oleh jantung. Tiap ginjal memiliki sekitar satu sampai dua juta nephrons.

Diagram showing the parts of the kidney and the nephron

Sumber http://science.howstuffworks.com/kidney10.htm

1
Nephrons
Nephron adalah suatu tube (saluran) yang tertutup pada satu ujung dan terbuka pada ujung lainnya
dan terdiri dari:
- Bowmans capsule, terletak pada ujung yang tertutup, dinding dari nephron tertekan ke dalam
formasi a double-walled chamber.
- Glomerulus, adalah suatu jaringan kapilaris di dalam Bowmans capsule. Darah meninggalkan
glomerulus menuju ke dalam jaringan kapilaris kedua.
- Proximal convoluted tubule yang dilingkarioleh sel-sel dengan mikrofili dan mitokondria.
- Loop of henle
- Distal convulated tubule (dilapisi oleh kapilaris)
- Collecting tubule

Formasi urin
Proses pembentukan urin dilaksanakan oleh nephron dengan jalan:
- menyaring darah dari molekul-molekul kecil dan ion-ion.
- Menyediakan kembali (reclaiming) material-material yang dibutuhkan. Dalam 24 jam ginjal
me reclaiming sekitar 1.300 gr NaCl, 400 gr NaHCO3, 180 gr Glukosa dan hampir semua dari
180 liter air yang masuk ke tubulus.
- Kelebihan atau sampah molekul dan ion-ion dibuang ke luar tubuh melalui urin.

Proses pembentukan urin


- Darah masuk ke dalam glomerulus dengan suatu tekanan.
- Hal ini akan menyebabkan air, molekul-molekul kecil dan ion-ion berpindah melalui dinding-
dinding kapiler menuju Bowmans capsule. Cairan ini disebut nephric filtrate.
- Nephric filtrate mengumpul dalam Bowmans capsule dan berpindah menuju tubulus
proksimal.

Sumber

http://science.howstuffworks.com/kidney10.htm

Mekanisme Regulasi Ginjal


a. Renal regulation of water (mengatur regulasi air)
Pada orang dewasa sehat terdapat air yang jumlahnya sekitar 55-65% dari berat badan. Sekitar
55-75% dari total jumlah air terdapat dalam sel atau disebut cairan intraseluler sedangkan
sisanya adalah cairan ekstraseluler. Cairan ekstraseluler terdapat dalam intravaskuler (plasma)
dan ekstravaskuler (interstisiil). Pada orang sehat, keseimbangan cairan di dua ruangan
(kompartemen) sangat terjaga karena adanya membran. Regulasi air dilaksanakan oleh anti
diuretic hormone (ADH) atau vasopressin yang diproduksi oleh hipotalamus dan terdapat
dalam pituitary posterior. Jika terjadi kekurangan pasokan air ke ginjal diantaranya gangguan
osmolalitas plasma, volume darah, tekanan darah, dan kehilangan cairan atau kekurangan

2
input cairan, akan terjadi pensekresian ADH yang akan berpengaruh terhadap peretensian air
dan natrium.

b. Renal regulation of electrolytes (mengatur regulasi elektrolit)


Elektrolit yang dipertahankan ginjal adalah terutama sodium dan potasium karena keduanya
merupakan kation yang sangat penting. Faktor utama ginjal mempetahankan sodium adalah
untuk mempertahankan curah darah di ginjal, glumerular filtration rate (GFR), konsentrasi
sodium pada tubuler dan kemunculan dan kehilangan beberapa hormon terutama aldosteron.
Sedangkan faktor utama dalam mempertahankan potasium adalah intake potasium,
keseimbangan asam basa dan aldosteron.

c. Renal regulation of acid-base balance (mengatur keseimbangan asam basa)


Keseimbangan asam basa dapat dipertehankan dengan jalan mekanisme buffer di dalam darah
dan intraseluler buffer, kompensasi respiratori dan kompensasi renal. Pada keadaan acidosis,
ion hidrogen akan disekresi oleh tubulus. Sedangkan pada keadaan alkalosis, ion hidrogen
akan sedikit disekresi dan banyak sodium bikarbonat akan diekskresi.

d. Renal excretion of metabolites (ekskresi metabolik)


Ekskresi metabolik yang dilaksanakan oleh ginjal termasuk urea, kreatinin, uric acid, sulfat
dan posfat. Nitrogen adalah elemen utama dari nprotein. Jika terjadi pencernaan protein akan
dihasilkan sampah nitrogen termasuk amonia. Urea ini akan direabsorsi oleh tubulus ginjal.
Kreatinin adalah produk sampah dari metabolisme otot yang berasal dari kreatin dan
pospokreatin. Karena produk kreatinin tidak dipengaruhi oleh faktor lain, maka jika terjadi
kenaikan kadar kreatinin serum menunjukkan tanda yang sangat reliable terjadinya penurunan
fungsi ginjal.
Uric acid atau asam urat adalah sampah dari metabolisme purin (amino acid). Produk uric acid
yang banyak akan difiltrasi, reabsorsi dan sekresi melalui tubuler.

e. Renal-related endocrine functions (fungsi endokrin)


1) Renin
Jika terjadi penurunan tekanan darah ke ginjal akan disekresi enzim yang disebut
renin. Renin akan merangsang terbentuknya angiotensinogen (plasma protein) yang
akan dikonversi menjadi polipeptida yang disebut angiotensin I. Dengan bantuan
coverting enzim di paru-paru, angiotensin I dikonversi menjadi angiotensin II dan
akan menjadi vasokonstriktor yang sangat kuat. Angiotensin II juga akan
menstimulasi adrenal kortex untuk menstimulasi keluarnya hormon aldosteron.
Aldosteron akan menstimulasi peningkatan renal reabsorsi air dan sodium. Tekanan
darah akan naik dengan keadaan peningkatan vasokonstriksi vaskuler dan
penambahan air dana sodium yang diretensi.
RENNIN

Merubah angiotensinogen menjadi angiotensin

Menstimulasi ALDOSTERON untuk Dengan bantuan ENZYME


meretensi NATRIUM AND H2O, COVERTING di paru-paru,
sehingga meningkatkan volume darah stimulasi ANGIOTENSIN II yang akan
menyebabkan
PERIVERAL VASOCONSTRICTION

PENINGKATAN
TEKANAN DARAH
3
2) Erythropoietin
Ginjal akan melepaskan hormon eruthropoietin yang dapat menstimulasi produksi sel
darah merah. Pada keadaan hypoxia, anemia dan penurunan cadangan oksigen di
ginjal, akan terjadi peningkatan produksi erythropoietin.

3) Prostaglandins
Prostaglandin digunakan untuk renal plasma flow, redistribusi blood flow dalam ginjal
dan menstimulsi eksresi garam dan air.

4) Vitamin D
Vitamin D aktif (1,25-Dehydroxycholecalciferol) adalah hormon yang dihasilkan oleh
ginjal untuk mengatur homeostasis kalsium.

5) Insulin
Proporsi substansial dari katabolisme insulin terjadi di ginjal. Pada keadaan normal
20% dari insulin yang diproduksi oleh pankreas diserap oleh ginjal.

6) Gastrin
Gastrin adalah hormon yang disekresi oleh mukosa lambungyang menyebabkan
sekresi gastric (pepsin dan hydrocloric acid). Ginjal berperan dalam mendegradasi
kelebihan pproduksi gastrin.

2. Ureter
Ureter adalah sepasang saluran mukosa yang elastis yang mengalirkan urin dari ginjal ke
kandung kemih (bladder). Panjangnya 24-30 cm dengan diameter mulai dari 1 mm-1 cm
(ureter kanan lebih pendek 1 cm). Tiap ureter mampu menampung urin sebanyak 2-3 mL.

3. Vesika urinaria (bladder)


Vesika urinaria merupakan bagian dari sistem urinaria yang berbentuk kantong
muskulomembranosa yang berfungsi untuk menampung urin. Ukuran, bentuk dan posisi
vesika urinaria tergantung dari cairan yang dikandung di dalamnya. Posisi dari vesika urinaria
ditentukan pula oleh kedaan rectum. Apabila rectum penuh, maka vesika urinaria akan
terdorong ke atas dan ke depan.

Micturition
Jika kapasitas kandung kemih mencapai 200 mL, akan terasa ingin kencing. Kapasitas normal
vesika urinaria pada orang dewasa adalah 350-450 mL, tetapi dapat menampung sampai 500
mL akan tetapi akan menimbulkan perasaan nyeri. Mikturisi akan dimulai saat kapasitas urin
mencapai 280 mL. Mikturisi terjadi dengan melibatkan koordinasi kontraksi dari otot
destrusor, otot pelvic floor, dan relaksasi dari spincter urinaria eksternal dan internal.

4. Uretra
Uretra adalah saluran dari dasar vesika urinaria menuju keluar tubuh (meatus) untuk
mengalirkan urin.

Uretra laki-laki
Mempunyai panjang 18-20 cm. Selain untuk ekskresi urin, uretra laki-laki juga digunakan
untuk organ atau saluran reproduksi. Glandula prostat terletak mulai dari leher vesika urinaria
sepanjang uretra, maka jika terjadi pembesaran kelenjar prostat akan mengakibatnya
terhambatnya proses pengeluaran urin (obstruksi). Uretra dibagi menjadi tiga connected
sections diantaranya:
- Prostatic section
- Membranous section

4
- Spongi cavernous section

Uretra perempuan
Panjangnya 4 cm dengan diameter 6 mm. Meatus uretra terletak pada vestibula vagina sekitar
2.5 cm di belakang klitoris. Seperti pada uretra laki-laki, uretra perempuan juga terdapat otot-
otot, erectile dan lapisan pada dindingnya.

B. Pengkajian Keperawatan
1. Riwayat Keperawatan
Pada kebanyakan masyarakat, mikturisi merupakan aktivitas yang sangat privat. Hal ini akan
menyebabkan perawat harus sangat hati-hati dalam melaksanankan pengkajian terutama pada
klien perempuan. Perawat harus sangat berhati-hati dalam pengambilan data riwayat
keperawatan, pengambilan sampel urin dan pelaksanaan intervensi-intervensi invasif seperti
pemasangan kateter. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sistem perkemihan
biasanya menimbulkan perasaan nyeri dan tidak nyaman, maka perawat harus sangat hati-hati
jika melaksanakan pemeriksaan maupun dalam pengambilan spesimen.

Keluhan utama dan riwayat penyakit


Tanda dan gejala utama pada klien dengan gangguan sistem perkemihan adalah pola
berkemih, nyeri dan perubahan urin. Sangat penting juga untuk mengkaji gejala awal, faktor
presipitasi, seting seputar masalah (aktivitas dan kondisi lingkungan), pola umum dan episode
penyakit (akut, kronis dan intermitten), dan apakah klien pernah mengalami hal yang serupa.
Riwayat pengobatan juga perlu dikaji karena sangat berpengaruh terhadap perawatan
selanjutnya. Dari sini juga kemungkinan diketemukan faktor pencetus pen\yakit yang
diakibatkan karena pengobatan tertentu.

Variasi dan pola berkemih


Beberapa penyakit sistem perkemihan dimanifestasikan dari gangguan variasi dan pola
berkemih. Faktor-faktor di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk mengkaji variasi dan pola
berkemih diantaranya:
a. Frekuensi berkemih per hari
Peningkatan frekuensi dapat diakibatkan karena penurunan kapasitas vesika urinaria
karena inflamasi, infeksi, penyakit neurogenik, adanya masa asing, radiasi dan trauma
kimia.gangguan frekuensi dapat juga terjadi karena distensi vesika urinaria lama dan
adanya obstruksi.
b. Frekuensi nocturia dan approximate volume
Nocturia atau kencing pada malam hari dapat meningkat frekuensinya jika terjadi
masalah-masalah seperti pada poin a juga ditambah adanya gangguan mobilisasi pada
dependent edema. Nocturia dengan frekuensi tinggi bisa menjadi indiksasi pertama kali
terjadinya insufisiensi renal dan ginjal kehilangan fungsinya dalam membentuk
konsentrasi urin. Pada laki-laki hal ini juga mengindikasikan pembesaran kelenjar prostat.
c. Ketidakmampuan atau kesulitan berkemih
Keadaan ini merupakan tanda dari keadaan penyakit-penyakit obstruksi pada traktus
urinaria bawah atau penyakit neurologi.
d. Dysuria dan urgency
Perasaan terbakar atau tidak nyaman saat berkemih (dysuria) berhubungan dengan aching
suprapubic dan spasme. Serta perasaan urgency atau keinginan yang teramat sangat untuk
berkemih yang tiba-tiba walaupun sudah berkemih. Hal ini disebabkan karena infeksi
pada bladder dan urethra, calculi (batu), nonbacterial inflamasi, benda asing, tumor dan
prostatitis.
e. Estimasi output urin
Oliguria (100-500mL/24jam), anury (<100mL/24jam) mengindikasikan insufisiensi renal
yang mungkin disebabkan karena hypovolemia, shock, trauma, incompatibility transfusi
darah, atau keracunan obat. Peningkatan volume urin (polyuria) muncul pada penderita
diabetes mellitus, diabetes insipidus, beberapa type chronic renal failure (CRF) dan
peningkatan diuretik.

5
f. Involuntary voiding (inkontinensia)
Eneuresis adalah inkontinensia yang terjadi saat tidur. Hal ini dapat terjadi karena
penyakit psychogenic, obstruksi, infeksi, dan disfungsi neurogenic.
Stress incontinence terjadi karena strain fisikal seperti batuk atau bersin. Hal ini juga
terjadi pada perempuan post partumkarena adanya relaksasi pelvis.
Dribbling dribbling urine adalah inkontinensia overflow, yaitu kandung kemih tidak
dapat berkonstraksi untuk memproduksi aliran urin akibat overdistensi kandung kemih
atau kelelahan serta obstruksi prostat.
Kebocoran uri yang berlanjut (total incontinence), terjadi karena kerusakan eksternal
spincter urinaria termasuk vesikovaginal fistula, kondisi neurogenik dan struktur anomali.

Nyeri
Pengkajian nyeri harus dilaksanakan secara teliti, lokasi-lokasi nyeri kemungkinan bisa
menunjukkan penyebab dari penyakit.
a. Nyeri ginjal dapat menunjukkan penyakit pada ginjal. Ditandai dengan dull pain pada
punggung dan pada area costovertebral angle (CVA) dan menyebar ke umbilikus.
b. Colic ureteral dan renal. Kolic digambarkan berat, tajam, stabbing, dan excrutiating.
Nyeri ini menyebar mulai dari ginjal ke bladder dan uretra dan kadang-kadang terasa
sampai flank, testis dan ovarium.
c. Nyeri bladder, digambarkan bersifat dull dan perasaan tidak nyaman pada suprapubic
yang terus-menerus. Nyeri ini disebabkan karena infeksi bladder atau distensi. Nyeri
yang tajam dan intermiten menunjukkan adanya spasme bladder yang juga
berhubungan dengan infeksi.
d. Nyeri uretral, biasanya berhubungan dengan inflamasi atau adanya benda asing.
Sensasi terbakar pada saat berkemihdan diikuti oleh nyeri seperti spasme yang
diakibatkan inflamasi.
e. Nyeri prostat (prostatic pain), berhubungan dengan prostatitis akut dan digambarkan
sebagai perasaan vague discomport atau perasaan penuh pada area perineal dan rektal.
Jika obstruksi akut terjadi, nyeri bladder dan backache (nyeri punggung) dapat
muncul.

Perubahan-perubahan pada urin


Tanyakan pada pasien tentang perubahan bau urin, hematuria baik gross maupun
mikroskopic hematuria. Tanyakan perubahan warna yang terjadi, kapan waktunya dan
kemungkinan penyebabnya kalau memungkinkan. Jika hematuri terjadi, tanyakan pula
kemungkinan penggunaan antikoagulan misalnya coumarin, obat antiplatelet semacam
aspirin, dan obat yang menyebabkan urin berwarna merah semacam pyridium.
Urin kemungkinan menjadi lebih gelap seperti warna kola , yang berhubungan dengan
stres fisik, latihan dan trauma. Hal ini berhubungan dengan hilangnya myoglobulin dari
kerusakan otot-otot yang menyaring menuju urin. Warna gelap kemungkinan hanya terjadi
beberapa jam tetapi hal ini sangat penting untuk menegakkan diagnosa. Tanyakan pula
urin yang keruh, bau, dan tampak cloudy white yang kemungkinan terjadi infeksi saluran
perkemihan.

Tanda-tanda klinis tambahan


Gangguan gastrointestinal juga kemungkinan terjadi karena organ-organ urinaria
berdekatan dan bersharing autonomy dan sensory innervation. Keluhan-keluhan
gastrointestinal biasanya menyertai gangguan perkemihan. Nausea, vomiting, anorexia,
diare, abdominal discomfort, dan gangguan lainnya akan muncul. Itching secara general
dan iritasi kulit mungkin juga terjadi karena adanya penumpukan zat-zat toxic sebagai
akibat menurunnya fungsi ginjal sehingga tidak dapat mengekskresi sampah metabolisme.
Tanyakan pula adanya gangguan pada meatus uretra yaitu tentang sekresi dan drainase.
Tanyakan pula pada klien perempuan tentang drainase pada traktus urinaria seperti infeksi
jamur atau penyakit akibat hubungan seksual. Menstruasi juga perlu dikaji, karena saat
menstruasi erytrosite akan bercampur urin sehingga mengaburkan hasil pemriksaan.
Perawat harus hati-hati dalam mengambil specimen urin saat pasien mengalami
menstruasi.

6
Perhatikan pula tada-tanda klinis seperti malaise, fever, dan penurunan berat badan atau
penambahan berat badan akibat edema. Tanda-tanda umum tersebut kemungkinan
disebabkan karena infeksi, maligna, CRF, atau penyakit perkemihan yang lain.

Riwayat medis yang lalu


Tanyakan tenytang penyakit medikal atau bedah yang dialami pada masa lampau.
Penyakit ginjal juga berhubungan dengan gangguan metabolis, neurologis, GI,
hematologi, dermatologi, skeletal, dan respirasi.

Riwayat keluarga
Kaji tentang keadaan anomalies pada tractus urinaria pada anggota keluarga yang lain
contohnya polycistic ginjal.

Psikososial dan gaya hidup


Kaji gaya hidup dan kebiasaan pasien yang bisa menjadi faktor predisposisi penyakit
sistem urinaria misalnya kebiasaan merokok serta terkontamisanya seseorang dengan zat-
zat yang bisa memperberat tibulnya kanker. Faktor-faktor kekurangan minum serta
pengkonsumsian diit tinggi purin atau kalsium yang akan menyebabkan penyakit calculi
(batu saluran perkemihan). Kaji pula tentang konsep diri pasien dalam menghadapi
penyakitnya saat ini.

2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Selama melakukan interview, kaji tanda-tanda insufisiensi renal pada pasien misalnya:
- edema terutama di wajah dan mata, ekstremitas bawah, dan jika pasien dalam
keadaan bedfast kaji edema pada permukaan sakral.
- Kaji turgor kulit dan status hydrasi.
- Observasi warna kulit, pallor menandakan anemia.
- Fullness pada flank, kemungkinan adanya tumor, kista, abses atau akumulasi cairan
pada pelvis renal (hydronephrosis). Hal ini akan menjadi bertambah terasa jika
pasien duduk dan lean forward.
- Suprapubic bulge, jika terjadi distensi bladder (500mL atau lebih.
- Inspeksi meatus uretra jika ada edema, kemerahan, dan sekresi.

b. Palpasi
Letak ginjal di bagian dalam pada abdominal cavity sehingga sangat sulit melaksanakan
palpasi ginjal. Sudut bawah ginjal kanan sangat memungkinkan untuk bisa dipalpasi
karena areanya sangat luas dan ditempati liver. Palpasi ginjal dilaksanakan oleh perawat
yang sudah senior (advanced nurses) Langkah-langkah melaksanakn palpasi ginjal adalah:
- Posisikan pasien pada posisi supine dan berdirilah di sisi kanan pasien (jika perawat
tidak kidal)
- Letakkan tangan kiri anda secara tegas pada flank (panggul), diantara rib cage dan
iliac crest serta naikkan panggul pasien.
- Palpasi abdomen kuadran atas dengan ujung-ujung jari tangan kanan, tekan pada
bagian bawah costal margin.
- Ujung-ujung jari anda harus menunjuk secara lateral dan sedikit menurun.
- Ulangi prosedur ini pada sisi yang lain.
Setelah melaksanakan palpasi, dokumentasikan tentang ukuran ginjal, general countour,
tenderness.

Bladder dapat dipalpasi jika terdapat urin di dalamnya minimal 150 mL. Tonjolan lembut
dapat dirasakan pada area suprapubic pada posisi supine.

c. Perkusi
Perkusi dapat digunakan untuk mendeteksi distensi bladder, dengan cara:
- dilakukan pada posisi setinggi umbilikus

7
- pelaksanaan perkusi yang tegas pada area costovertebral hanya dilakukan oleh dokter
dan perawat yang berpengalaman untuk menemukan tenderness renal. Tendernes
renal menunjukkan adanya infeksi.
- Perkusi tidak boleh dilakukan jika kasusnya polikistik ginjal atau transplantasi ginjal.

d. Auskultasi
Digunakan untuk mendeteksi bruits pada arteri renal posterior pada area sudut
costovertebral dan anterior pada area abdomen kuadran atas.

3. Pemeriksaan Diagnostik
Pengambilan specimen urin
a. first voided morning specimen
- menunjukkan keakuratan karakteristik urin pada bladder
- specimen urin yang ideal karena pH urin cenderung rendah
b. urin midstream
c. urin dari indweling kateter
d. urin 24 jam
e. residual urin

Pemeriksaan urin
a. urinalisis, untuk melihat:
- pH urin
- spesific gravity
- substansi-substansi abnormal (glukosa, protein, aceton)
b. Osmolalitas urin
Digunakan untuk melihat konsentrasi urin. Peningkatan osmolalitas urin menunjukkan
adanya dehidrasi.

Pemeriksaan diagnostik untuk fungsi ginjal melalui pemeriksaan serum


a. Blood urea nitrogen (BUN) (normal 5-20 mg/dL.)
Peningkatan kadar BUN adalah salah satu indikator terjadinya penurunan fungsi ginjal.
Tetapi peningkatan BUN juga disebabkan oleh faktor-faktor lain misalnya tingginya
pemecahan protein dalam tubuh sebagai akibat sepsis, fever, dehidrasi, shock, congestif
heart failure dan perdarahan gastrointestinal. Peningkatan BUN yang diakibatkan
penurunan ffungsi ginjal sendiri diakibatkan karena glumerulonefritis, pyogenic infeksi,
dan trauma. Peningkatan BUN tidak terjadi pada penyakit parenkim ginjal kecuali terjadi
kerusakan sampai 2/3 dari nefron. Penurunan kadar BUN bisa disebabkan karena
overhydrasi, malnutrisi, penyakit liver berat. Level BUN juga dapat dijadikan acuan untuk
memonitor fungsi renal saat penderita menggunakan obat yang dapat meraacuni ginjal
misalnya aminoglycosides.
b. Kreatinin (normal: 0,5-1,5 mg/dL.)
Kreatinin adalah prosuk sampah di dalam darah yang berasal dari kreatin sebagai
partisipasi dalam fisiologi konstraksi otot. Kadar kreatinin adalah konstan dan tidak
dipengaruhi oleh beberapa variabel lain sehingga jika ada peningkatan kadar kreatinin
serum di dalam darah, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi gangguan ekskresi. Berarti
dapat pula disimpulkan telah terjadi insufisiensi fungsi renal. Jadi peningkatan kadar
kreatin merupakan indikator pasti kerusakan ginjal.
c. Creatinin clearance (normal 72-140 mL/mnt)
Adalah tes untuk membandingkan level kreatinin serum dengan ekskresi kreatinin dalam
volume urin selama periode tertentu. Penurunan hasil tes creatinin clearance menunjukkan
penurunan fungsi glumerulo. Rumusnya:

Urin creatin x urin volume = creatinin clearance rate


Serum kreatinin
d. Uric acid (asam urat) (normal 2-7 mg/dL)
Peningkatan kadar asam uran diakibatkan karena beberapa penyakit metabolisme seperti
gout. Hal ini perlu dikaji karena peningkatannya bisa menyebabkan terbentuknya calculi.

8
e. Serum osmolalitas (normal 280-300 mOs/L
Rumusnya:

Serum osmolalitas (mOsm/L) = 2Na + glukosa (mg/dL) + BUN (mg/dL)


18 2.8

f. Plain abdominal X-Ray


Digunakan untuk pemeriksaan calculi
g. Excretory urogram (intravenous pyelogram/ IVP)
Digunakan untuk mendeteksi lesi pada traktus urinaria
h. Cystography dan urethrography
Untuk melihat struktur dan fungsi traktus urinaria bawah
i. Cystoscopy dan uretroscopy
Memvisualisasikan struktur traktus urinaria
j. Uroflowmetry
k. Cystometrogram (mengukur tekanan bladder saat berkemih)
l. Elektromyography (memeriksa kelistrikan otot pada area perineal seperti spincter selama
berkemih).
m. Urethral pressure profile (untuk mengevaluasi aktivitas otot pada uretra)
n. Biopsi jaringan renal
Pengambilan sebagian contoh jaringan ginjal untuk menegakkan diagnosa.

C. Student working paper


1. Urinalysis is used to detect disease involving the urinary tract as well as other parts
of the body. TRUE or FALSE

2. A random urine specimen is a good indicator of renal function. TRUE or FALSE

3. The characteristic ammonia smell of standing urine is caused by the splitting of urea
by bacteria. TRUE or FALSE

4. Most bacterial urinary tract infections cause the urine to become more lkaline. TRUE
or FALSE

5. The expected response immediately after surgery is fluid retention. TRUE or FALSE

6. When proteinuria occurs, the primary protein detected is albumin.TRUE or FALSE

7. Some renal diseases do not cause proteinuria. .TRUE or FALSE

8. Diabetic patients switching from insulin to oral hypoglycemic agents should have
urinary ketones checked to assess the effectiveness of therapy.TRUE or FALSE

Referensi

Burrel, L.O., Gerlach, M.J.M., & Pless, B.S. (1996). Adult Nursing: acute and community
care. New Jersey: Prentice Hall.

Carpenito, L.J. (1999). Handbook of Nursing Diagnosis. Philadelphia: Lippincott.

Icnatavicius, D.D., & Bayne, M.V. (1991). Medical-surgical nursing: A nursing process
approach. Philadelphia: W.B. Saunders.

9
Tucker, S.M., Conobio, M.M., Eleanor, V.P., & Majorie T.W. (1995). Patients Standard Care.
Toronto: Mosby.

10