Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan kemajuan jaman dan semakin pesatnya
pertumbuhan industri di era globalisasi ini, maka dibutuhkan para tenaga
ahli yang mampu bersaing dan langsung mampu terjun ke bidangnya.
GBHN 1993 telah memberikan arahan yang jelas bagi
pembangunan Indonesia dalam menghadapi perkembangan di masa yang
akan datang. Sesuai dengan ketentuan GBHN 1993, titik berat
pembangunan jangka panjang tahap II adalah pembangunan jangka
panjang Sumber Daya Manusia. Pendidikan (di sekolah dan luar sekolah)
sebagai penata utama pembangunan sumber daya manusia harus secara
jelas berperan membentuk peserta didik menjadi aset bangsa. Sehingga
nantinya di harapkan menjadi manusia produktif serta siap menghadapi
persaingan global.
Untuk menjawab tantangan di atas, Pendidikan Sistem Ganda
(PSG) yang salah satu bentuknya adalah Praktik Kerja Industri (Prakerin)
yang diwajibkan bagi siswa SMK. PSG merupakan sebuah bentuk
penyelenggaraan pendidikan keahlian professional yang memadukan
secara sistematik dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dan
program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja
langsung di industri / institusi pasangan.

Adapun tujuan dari penyelenggaraan pendidikan sistem ganda


adalah sebagai berikut :
1. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional
(dengan tingkat pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja
yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja).
2. Memperkokoh link and match antara sekolah dan dunia kerja.
3. Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga
kerja yang berkualitas profesional.
4. Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman
kerja sebagian dari proses pendidikan.
SMK Negeri 13 Bandung merupakan salah satu sekolah yang
bertujuan untuk untuk mencetak tenaga kerja menengah yang terampil
dan kompeten di bidang Analisis Kimia. Untuk memenuhi tuntutan tersebut
maka para siswa diwajibkan untuk mengikuti program pendidikan Praktek
Kerja Industri (Prakerin) . Adapun tempat Prakerin adalah lembaga-
lembaga penelitian dan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan
tenaga Analis Kimia.

1.2 Tujuan Praktek Kerja Industri (Prakerin)


Kegiatan praktek kerja industri merupakan pola utama
penyelenggaraan kurikulum SMK dengan tuntutan ketenagakerjaan pada
khususnya sebagai bagian tak terpisahkan dari kebijakan link and match
yang berlaku pada jenjang pendidikan di Indonesia . Prakerin merupakan
proses perpaduan secara sistematis dan sinkronasi. Program penguasaan
keahlian yang diperoleh dari kegiatan kerja langsung didunia industri
secara terarah untuk mencapai suatu keahlian tertentu.
Selain itu tujuan penyelenggaraan praktek kerja industri adalah
sebagai berikut :
1. Menghasilkan tamatan yang memiliki atau berkemampuan sesuai
bidang keahliannya.
2. Memperkokoh link and match antara sekolah dengan dunia
industri.
3. Meningkatkan efisisensi proses pendidikan dan pelatihan ketenaga
kerjaan yang berkualitas internasional.
4. Memberikan pengalaman dan penghargaan terhadap pengalaman
kerja sebagian dari proses pendidikan.
1.3 Tujuan Pembuatan Laporan
Setelah melaksanakan prakerin, siswa-siswi diwajibkan untuk
membuat laporan dengan tujuan sebagai berikut :
1. Mampu memahami, memantapkan, dan mengembangkan
pelajaran selama di sekolah dan menerapkannya di lapangan.
2. Mampu mencari alternatif lain dalam pemecahan masalah
analisis kimia, secara lebih rinci dan mendalam.
3. Dapat membukukan setiap pengalaman yang didapat selama
prakerin.

1.4 Metode Pengumpulan Data


Dalam penyusunan laporan ini penulis menggunakan panduan
ataupun pegangan agar isi dari laporan ini tidak menyimpang,adapun
cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data-data yang
diperlukan dalam mengumpulkan data-data antara lain :
.1.1 Wawancara atau interview yaitu dengan cara menanyakan langsung
kepada pembimbing ataupun karyawan yang memberikan informasi
dan menjelaskan tentang data-data yang diperlukan .
.1.1 Observasi yaitu melakukan pengamatan atau peninjauan secara
langsung kepada objek yang diperlukan dalam penyusunan laporan
ini.
.1.1 Kajian pustaka yaitu melalui buku ataupun sumber dan catatan yang
ada hubungannya dengan penulisan laporan yang terdahulu.
BAB II
PROFIL PERUSAHAAN

2.1. Latar Belakang dan Sejarah Perusahaan


Negara yang hijau dan subur serta kaya akan sumber daya alam,
itulah sebutan untuk negeri kita Indonesia. Tapi kini, semuanya telah
berubah. Keadaan Indonesia menjadi sangat memprihatinkan. Salah
satunya adalah tingkat pencemaran lingkungan yang tinggi dan terjadi
dimana-mana khususnya di kota-kota besar, kawasan industri dan
kawasan padat penduduk. Banyak hal yang dapat menyebabkan
pencemaran, salah satu penyebab terbesarnya adalah limbah.
Pada tanggal 23 Mei 1994 didirikan sebuah perusahaan pengolah
limbah yaitu PT. Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLi). PT. Prasadha
Pamunah Limbah Industri (PPLi) Waste Management Indonesia- adalah
perusahaan pertama di kawasan Asean yang bergerak pada jasa
pengolahan limbah B3. PT. PPLi berlokasi di Jalan Raya Narogong, Desa
Nambo, Kecamatan Klapanunggal Cileungsi Kabupaten Bogor.
Perusahaan ini dirancang dan dibangun untuk mengatasi dampak
lingkungan dan menurunnya kualitas lingkungan hidup akibat pesatnya
industrialisasi namun tidak didukung infrastruktur dan lemahnya
penegakan hukum
Pada awalnya, PT. PPLi dimiliki oleh Bapedal (memiliki 5% saham),
PT. Bimantara Citra (memiliki 25% saham) dan Waste Management
Indonesia (70%). Pada tahun 2000, 95% sahamnya dipegang oleh
Modern Asia Enviromental Holdings (MAEH) dan 5% sisanya oleh BUMN..
Waste Management Indonesia (WMI) adalah perusahaan Indonesia
yang dimiliki oleh Modern Asia Enviromental Holdings (MAEH) dan
beroperasi di bawah kendali para professional yang telah berpengalaman
di kawasan Asia.
Modern Asia Enviromental Holdings adalah perusahaan pengolah
limbah terkemuka di Asia yang didukung oleh The HSBC Private Capital
Ltd and the management.
Pada tahun 2009, MAEH didapatkan oleh Dowa Eco System
Co.LTD., sebuah perusahaan yang berdedikasi untuk management
lingkungan dan recycling dan secara keseluruhan merupakan cabang dari
Dowa Holdings Co.Ltd., perusahaan yang telah berdiri selama lebih dari
120 tahun sebagai perusahaan penambang dan pemurni logam. Bisnis ini
berpusat pada recycling, waste management, remediasi tanah dan
konsultasi lingkungan.
Sejalan dengan akuisisi MAEH oleh Dowa Eco System, WMI dan
MAEH sekarang menjadi bagian keluarga yang lebih besar. Bisnis Dowa
Grup menawarkan operasi daur ulang terpadu yang meliputi
pengumpulan, daur ulang, pengangkutan dan fasilitas penimbunan.
Para ahli yang dimiliki MAEH membuat PPLi mampu memberikan
tingkat pelayanan dan kenyamanan lingkungan yang konsisten dengan
standar internasional dan memastikan peusahaan atau organisasi
konsumen mematuhi peraturan internasional dan ISO 14001 serta
meminimasi kewajiban lingkungan di masa depan.
WMI merencanakan, mambangun dan mengoperasikan depo-
deponya di luar pusat pengelolaan PPLi. Depo pertama yang telah
beroperasi adalah Cibitung Transfer Station (CTS) di kawasan industri
MM2100, dan lima depo berikutnya akan segera menyusul yaityu di
Surabaya, Bandung, lamongan, Sumatera dan Batam.

2.2 Misi dan Visi WMI


Misi WMI adalah menjadi penyedia jasa utama dalam pengelolaan
limbah B3 dan non B3 di Indonesia, dengan komitmen memberikan biaya
yang efektif serta solusi yang berwawasan lingkungan.
Visi MWI adalah melakukan perluasan jasa WMI dalam bidang
pengolahan limbah, meningkatkan layanan pelanggan dan melakukan
investasi pada teknologi baru yang ramah lingkungan.

2.3. Peraturan Kerja di PT. PPLi


Waktu kerja normal perusahaan diberlakukan pola 5 hari kerja
(Senin-Jumat) atau 40 jam seminggu dengan waktu istirahat sejam sehari
setelah bekerja empat jam berturut-turut.
Jam kantor dan Operasional secara umum :

Jam Jam
Hari Jam istirahat
masuk pulang

06.00 15.00 Coffe Break :

09.30 09.45 dan


Senin 07.30 16.30
14.30 14.45
Kamis
Istirahat siang :
10.00 19.00
12.00 13.00
Penambahan 30 menit Penambahan 30 menit
Jumat
untuk jam pulang waktu istirahat siang

2.1.1. Tata Tertib Umum di PT.PPLi

Semua pekerja harus sudah siap untuk melakukan pekerjaan pada


permulaan jam kerja yang telah dijadwalkan

Pekerja wajib hadir tepat pada waktunya


Semua pekerja diwajibkan memakai tanda pengenal selama jam
kerja berlangsung

Pekerja dilarang tidur selama jam kerja

Apabila pekerja terlambat masuk kerja, maka pekerja tersebut


harus segera memberitahu atasannya atau kepala departemennya

Apabila pekerja sakit, maka pekerja wajib memberitahu perusahaan


secara tertulis dengan bukti surat keterangan dari dokter

Pekerja harus mengenakan pakaian kerja yang pantas dan rapi

Setiap karyawan yang bekerja langsung atau berhubungan


langsung dengan limbah diwajibkan menggunakan alat pengaman
seperti masker, sepatu pengaman, helm pengaman, sarung tangan,
dan juga pakaian pengaman (khusus di bagian laboratorium
diharuskan memakai jas laboratorium lengan panjang).

2.1.2. Fasilitas yang diterima karyawan

Beberapa fasilitas dan tunjangan yang diberikan oleh PT.PPLi


kepada karyawan antara lain :

Tunjangan Transportasi

Fasilitas makan

Tunjangan luar kota

Biaya perjalanan dinas

Tunjangan shift

Tunjangan hari raya

Bonus per 3 bulan

Fasilitas pengobatan
Biaya rawat jalan

Biaya rawat inap

Biaya persalinan

Pemeriksaan kesehatan

Jaminan Sosial dan Tenaga Kerja

Bantuan duka cita dan pernikahan

Penghargaan atas masa kerja


2.4 Struktur Organisasi

LABORATORY
MANAGER

Laboratory Supervisor AprovalChemist QA/QC Inspector

Sampler 1 Sampler 2

Treat-ability
Test

Env. Monitoring Technician Fuel Blending Administration Finger Print


Analyst Analyst test Analyst

Wet Chemistry Metal Laborator Helper


Analyst Analyst

Gambar 1. Struktur Organisasi Laboratorium


2.5 Pelayanan dan Fasilitas
2.5.1 Uji awal penerimaan,analisa dan identifikasi limbah
WMI mengoperasikan laboratorium layanan teknis terpadu di PPLi,
dilengkapi fasilitas modern dan dioperasikan oleh teknisi berpengalaman.
Laborarium ini memungkinkan WMI untuk mengembangkan berbagai
proses pengolahan serta memonitor contoh limbah mulai dari penerimaan
hingga pengolahan dan pembuangan akhir/penimbunan.
Sebelum limbah diterima, contoh limbah terlebih dahulu
dikumpulkan dan diuji di laboratorium WMI guna menentukan metode
penanganan dan proses pengolahan yang tepat. WMI juga harus
menyediakan layanan pengujian khusus sesuai permintaan pelanggan.
Laboratorium pelayanan teknis juga memastikan bahwa baik WMI
maupun pelanggan memiliki informasi yang lengkap tentang hal-hal yang
perlu diperhatikan dan unsur-unsur apa saja yang terkandung dalam
limbah mereka, sehingga dapat memastikan pengelolaan yang
bertanggung jawab demi keselamatan dalam penanganan, transportasi
dan pengolahan serta pemusnahan limbah yang sesuai dengan peraturan
dan perundang - undangan pemerintah Indonesia. Penelitian analitis dan
program uji coba juga dilakukan di laboratorium untuk membantu
pengembangan jasa pengolahan yang baru bagi pelanggan kami.

2.5.2 Dukungan dan Tenaga Teknis


Sales representatif kami dapat menyediakan layanan awal untuk
menguji kebutuhan pengelolaan limbah secara cuma-cuma. Dengan
dukungan tenaga teknis laboratorium, operasional, transport, site service,
ahli kesehatan, keamanan, layanan pelanggan dan staf teknik, perwakilan
dari sales representatif kami akan menyediakan solusi yang sesuai
dengan kebutuhan pelanggan.
2.5.3 Layanan Pengumpulan dan Pengangkutan
Layanan pengumpulan dijadwalkan berdasarkan kebutuhan
pelanggan. Staf grup layanan pelanggan WMI akan berkoordinasi dengan
pelanggan dan sumber daya internal kami untuk mengatur frekuensi
pengambilan limbah.
Kontainer-kontainer untuk limbah disiapkan di lokasi atau pabrik
milik pelanggan dan disewakan oleh WMI kepada pelanggan. Biaya
penyewaan ditentukan berdasarkan frekuensi pengumpulan limbahnya
dan seberapa besar nilai bisnisnya
WMI beroperasi dengan serangkaian peralatan transportasi yang
beragam guna memenuhi kebutuhan pelanggan. Armada kami terdiri dari
berbagaia kendaraan, dengan jenis yang berbeda-beda.
Untuk route jarak jauh, kami mengoperasikan armada yang ramah
lingkungan seperti draw bar trailer dan 40 feet trailer yang dapat
memaksimalkan effisiensi biaya logistik kontainer, meminimalisir biaya
transportasi dari lokkasi kerja pelanggan hingga ke lokasi pengolahan dan
pembuangan akhir.
WMI juga dapat pula menyediakan berbagai jenis kontainer khusus
yang telah memiliki sertifikasi uji angkat dan beban, untuk nmemenuhi
kebutuhan pelanggan, kontainer limbah tersedia dalam berbagai bentuk
dan jenis.

2.5.4 Penawaran, Perjanjian Kerja Sama dan Kontrak


Penetapan biaya pengolahan dan dan pemusnahan akhir limbah
diperhitungkan berdasarkan hasil laboratorium pengujian contoh limbah,
volume, persyaratan layanan dan analisa kompetitif. Berkas penawaran
dan perjanjian kerja sama akan dikirimkan kepada pelanggan bersama
dengan hasil analisis.
Sebelum pengangkutan limbah dari pelanggan dilakukan, terlebh
dahulu dibuat kesepakatan tentang cakupan layanan serta
penandatanganan dokumen perjanjian kerja sama dan kontrak dengan
WMI.

2.5.5Pengemasan, Pemberian Label, dan Keamanan Pengangkutan


Limbah
Staff WMI menyediakan layanan pengemasan, pemberian label dan
keamanan kontainer untuk memastikan bahwa limbah telah siap untuk
dikumpulkan dan pengiriman dapat dilakukan sesuai perundang-
undangan yang berlaku.

2.6 Professional Service


Ada berbagai macam pelayanan yang diberikan oleh PT. PPLi yang
diberikan kepada konsumen dalam kaitannya dengan pengolahan limbah.

2.6.1 Landfill Bahan Beracun dan Berbahaya (landfill kelas 1)


Limbah berbahaya yang stabil ditumpuk langsung di landfill kelas 1.
Metode serta bahan yang digunakan menjamin keutuhan tetesan zat
berbahaya dari limbah-limbah dan akan mengurung dalam lapisan yang
tak tembus kemudian mengumpulkan serta mengolahnya.. Teknik dalam
pengolahan mengacu pada standar international. System batas Landfill
terdiri dari empat lapis batas tak tembus.

2.6.2 Liquid treatment


Sebagian besar industri menghasilkan limbah cair dalam jumlah
berbeda.. Limbah cair dapat beracun ataupun tidak tergantung pada
proses produksi dan bahan baku yang digunakan. PPLi dapat menangani
semua jenis limbah cair dengan biaya terjangkau.
Baru-baru ini PPLi membangun sebuah proses penanganan limbah
cair yang merupakan tindak lanjut dari kebutuhan pelanggan. Proses
pengolahan terdiri dari proses Fisika dan proses Kimia, serta proses
Biologi.
Limbah B3 maupun non B3 cair, yang berasal dari pelanggan, diolah
di fasilitas P-Chem dan Bioplant. Proses pengolahan yang diterapkan
beragam bergantung keadaan dan karakteristik limbahnya. Proses
pengolahan limbah cair diantaranya:
o presifitasi kimiawi,koagulasi,flokulasi
o dissolved air flotation
o solids removal
o netralisasi asam/basa
o pemisahan minyak/air
o sequencing batch reactor-SBR
o pengolahan lanjutan karbon aktif.
Semua limbah cair yang telah diolah dialirkan ke engineered
wetlands,yang melalui final polishing sebelum dialirkan secara bertahap
melalui saluran pipa pembuangan sesuai perizinan yang dimiliki.
2.6.3 Stabilisasi
PPLi menawarkan serangkaian proses stabilisasi untuk limbah
yang dikirimkan dalam bentuk yang tidak stabil. Setiap limbah B3 belum
dapat ditimbun, sampai dipastikan bahwa limbah tersebut secara fisik dan
kimiawi telah stabil.
Proses stabilisasi melibatkan berbagai jenis pre-treatment kimiawi,
dilanjutkan dengan proses pencampuran dengan semen (Portland
cemen), fly ash, absorbent clay, air dan bahan reaksi lainya dalam
proporsi yang beragam hingga limbah tersebut jadi materi yang stabil
secara fisika maupun kimia.setelah limbah tersebut jadi materi yang stabil,
lalu diangkut dengan dump truck untuk kemudian dibuang ke Landfill.

2.6.4 Bio Remediasi


Bio Remediasi dilakukan dengan proses memanfaatkan bakteri
aktif. Teknologi ini sangat cocok untuk mengolah berbagai tipe limbah
dengan kandungan sepeerti sludge oil, aspal, dan lumpur terkontaminasi.
Bio Remediasi juga berguna untuk mengolah air tanah yang
terkontaminasi dengan Phenol, Polyaromatic Hydrocarbon, volatile
Hydrocarbon serta zat organik lainnya .

2.6.5 Layanan Laboratorium


PPLi dilengkapi dengan Lab. Fisika dan Lab. Kimia yang dilengkapi
dengan fasilitas modern dan dioperasikan oleh tenaga kerja
berpengalaman. Laboratoroum ini menjadi tempat untuk
mempertimbangkan pengembangan berbagai proses pengolahan serta
memonitoring keadaan air di seluruh proses pembuangan.
Laboratorium juga dilengkapi fasilitas lain seperti test komposisi
kimia atau background monitoring.

2.6.6 Thermal Destruction


Bagi pelanggan yang menghasilkan limbah organik, PPLi diizinkan
untuk memakai teknologi Thermal Destruction (destruksi panas)
menggunakan alat pembakar semen modern untuk menyempurnakan
proses pengabuan dan pengolahan limbah. Temperature yang tinggi
(1200 1400C) serta waktu yang lama di dalam pembakar sement,
menjamin kesempurnaan pemusnahan limbah. Taknologi memungkinkan
pemanfaatan kembali nilai kalori dan/atau material limbah berguna
dengan mengubahnya menjadi Alternatif Fuel and Raw Material (AFR)
Limbah organik yang berbahaya (sludge/liquid) dicampur untuk
membentuk bahan bakar sintetic. Hasil produk akhir diuji untuk
meyakinkan bahwa spesifikasi bahan bakar sesuai dengan regulasi
kementrian lingkungan hidup. Limbah organik lainnya (sludge/solid) telah
diolah dengan memasukannya ke dalam pembakar dalam bentuk padat.
Hasil dari pembakaran diawasi dan diperiksa untuk memastikan
bahwa tidak terbentuk gas berbahaya.

2.6.7 Remediasi dan Site Cleanup


Tempat terkontaminasi telah menjadi masalah utama penilaian
pertanggung jawaban kontrol industri selama pengembangan atau
penambahan. Sebelumnya industri tidak dapat mengetahui biaya bagi
pembersihan tempat (site cleanup). PPLi menawarkan taksiran dan
pelayanan perbaikan untuk membantu komunitas industri mengidentifikasi
dan menghilangkan potensial resiko dan pertanggung jawaban.

2.6.8 Pengolahan Endapan Minyak (Oli) dari Eksplorasi, Produksi


dan Kilang Minyak.
System pengolahan endapan minyak PPLi memisahkan dan
menghasilkan kembali minyak dari endapan. Teknologi menggabungkan
berbagai proses termasuk pengadukan, peyaringan, serta stabilisasi.
Setelah penyaringan dan pemisahan, oli yang dihasilkan dapat digunakan
kembali oleh langganan ataupun oleh PPLi sendiri.
Sementara padatan yang dihasilkan dapat ditempatkan di landfill
ataupun dimasukan ke dalam proses Thermal Destruction.

2.6.9 Landfill untuk Limbah non B3


PPLi menyediakan pembuangan bagi limbah yang tidak
menghasilkan zat beracun dan berbahaya yaitu landfill kelas 2.

2.7 Environmental Policy


PPLi telah berkomitment untuk memberikan lebih dari harapan
pelanggan dengan cara menetapkan untuk menopang operasi bisnis,
melakukan perbaikan kebijakan secara terus-menerus, serta mengerjakan
suatu pekerjaan pengolahan lingkungan yang berdasarkan pada kejujuran
dan kerja sama semua pihak, dengan tetap memelihara keefisienan dalam
pengerjaan pengolahan limbah.
Memelihara agar segala bentuk pengerjaan
senantiasa sesuai dengan syarat aturan yang berlaku
Melakukan aktivitas dengan cara yang baik yang
dapat mencegah atau meminimalisir kerusakan bagi lingkungan
Manjaga komunikasi langsung dengan karyawan,
pelanggan, suPPLier, kontraktor, komunitas lokal, serta pihak ke-3
dalam kewajiban untuk meningkatkan kesadaran bagi penjagaan
lingkungan, serta kualitas proses penyaluran.
Pengembangan hubungan kuat dengan penduduk
setempat, serta membantu aktivitas penduduk.
Menjamin keamanan karyawan, pelanggan, suPPLier,
kontraktor, pengunjung dan khalayak umum dengan menerapkan
prosedur keamanan yang tepat serta pelatihan untuk aktivitas serta
situasi darurat.
Dipimpin oleh penasihat berkelas dunia yang
menerapkan pengerjaan terbaik dan inovatif.
Terus meningkatkan keramahan lingkungan dan
standar kualitas.
2.8 Risk Management
.8.1 Perlindungan Terhadap Kerugian
Apabila perusahaan atau pemegang saham membutuhkan layanan
khusus seperti indemnification, Direktur/manajemen kami dapat
bekerjasama dengan pihak tersebut untuk menyediakan dokumentasi
yang dibutuhkan.

.8.2 Audit Lingkungan


Tim Layanan Teknis (Technical Sales) WMI dapat mengunjungi
fasilitas pelanggan dan menyediakan jasa audit atas limbah yang
dihasilkan. WMI juga dapat mengirimkan tenaga tambahan untuk
membuat rekomendasi yang lebih rinci tentang pengolahan limbah
secara keseluruhan. Selain itu, pelanggan dapat pula menggunakan
prosedur internal audit kami untuk mendokumentasikan kepatuhan
perusahaan Anda dengan ISO 14001.

.8.3 Sertifikasi Sistem Manajemen ISO 14001 dan AHSAS 18001


WMI berkomitmen untuk menerapkan standar tertinggi
dalam manajemen. Fasilitas dan proses di WMI diakreditasi oleh SGS
untuk proses perbaikan/peningkatan yang berkesinambungan dan
Sistem Manajemen yang memenuhi standar persyaratan ISO 14001
(Environmental Management) dan OHSAS 18001 (Occupational Health
and Safety Accreditation System).

.8.4 Penghargaan dan Pengakuan dari Pihak Lain


Profesionalisme dan standar keunggulan WMI telah diakui oleh
banyak pihak pada tahun 2007/2008, sebagai tindak lanjut dari
komitmen kami untuk terus memperbaiki diri secara berkesinambungan.
Pemerintah Kabupaten Bogor memberikan penghargaan tertinggi pada
Lomba Tahunan Keselamatan Kerja; Pemerintah Kota Batam juga
memberikan penghargaan sebagai The Best Transporter di Batam.
Penghargaan-penghargaan ini mendorong kami untuk terus
meningkatkan layanan dan mengurangi resiko para pelanggan kami.

.8.5 Tanggap Darurat


Didukung dengan peralatan yang lengkap serta staf yang
berpengalaman. WMI siap dalam merespon situasi tanggap darurat.
Kendaraan untuk tanggap darurat dan staf terlatih kami siap mengatasi
situasi seperti tumpahan bahan-bahan kimia, kebakaran bahan kimia
serta dekontaminasi pelatihan rutin dan latihan lapangan dilakukan oleh
kami sebagai bagian tak terpisahkan dari rencana kesiapan dan
kesigapan.

.8.6 Sistem Manifes


WMI menggunakan sistem pemantauan limbah MAEH (Waste
Tracking MAEH system) untuk pencacatan pengangkutan limbah B3 dan
limbah non B3 dari industri sistem manifes ini memungkinkan
pemantauan yang tepat, sesuai peratura, identifikasi limbah yang
diangkut dan ini dapat pula menjadi tolak ukur keselamatan tambahan
sistem ini memenuhi persyaratan standar Indonesia dan internasional,
serta akan bermanfaat untuk program ISO 14001 dan prosedur audit
limbah.
Laboratorium kamiyang berteknologi tinggi akan melakukan
pengecekan limbah yang datang untuk dikonfirmasi dan dilakukan
verifikasi pre-acceptance assessment.

.8.7 OLIMS
WMI telah mengimplementasikan sistem baru, Operation
Laboratory Management System (OLIMS) yang menyediakan label
kepastian tambahan dan kemampuan menelusuri secara lengkap
catatan limbah dengan menggunakan sistem bar code, memantau cara
pengolahan, yang sesuai dengan standar regulasi nasional dan
internasional.

.8.8 Sistem CCTV


WMI telah melakukan investasi yang culup signifikan dalam
meningktakan Sistem CCTV (Closed Circuit Television) dan Access
Controled pada semua fasilitasnya guna memberikan kenyamanan dan
keamanan yang lebih baik kepada pelanggan; hal ini untuk memberikan
kepastian bahwa jika limbahnya ditangani oleh WMI, maka mereka yakin
bahwa limbahnya disimpan, diolah dan ditimbus secara operasional.

.8.9 Layanan Pengangkutan dan GPS


WMI juga telah mengimplementasikan sistem terpadu (Global
Positioning System) yang berguna untuk melacak keberadaan setiap
alat transport/pengangkutan milik WMI pada saat pengangkutan limbah,
hal ini untuk menambah rasa aman dan respon segera pada saat
melayani pelanggan dan menetapkan keputusan-keputusan operasional.

.8.10 Kebijakan Kesehatan dan Keselamatan


WMI berkomitmen untuk melindungi kesehatan masyarakat dan
lingkungan. Pemenuhan dari komitmen ini adalah persyaratan mutlak
dalam keberhasilan jangka panjang WMI. Kami berkomitmen
mengembalikan lingkungan hidup kepada masyarakat Indonesia.

.8.11 Pemantauan Lingkungan


WMI akan memantau dan mengaudit lingkungan sesuai dengan
perencanaan yang rinci dalam Enviromental Management and
Monitoring Plans. Kegiatan pemantauan lingkungan sesuai dengan
standar Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Pemerintah Indonesia
dan standar US-EPA.

.8.12 Pemantauan Penutupan dan Pasca Penutupan


WMI merancang, membangun dan mengoperasikan fasilitas
pengolahan limbah yang terbaik di Asia Tenggara. Setelah semua area
lahan timbus (landfill) telah terpakai, proses penutupan area lahan
timbus dan restorasi segera dilakukan. Perencanaan yang rinci tentang
penutupan dan pasca penutupan telah disetujui oleh pihak yang
berwenang agar area lahan timbus tersebut dapat dikembangkan atau
digunakan kembali. Rencana awal adalah menyiapkan area lahan
tersebut untuk dibangun taman alam berkelanjutan sebagai sarana
rekreasi.
Grup MAE telah memiliki pengalaman melakukan penutupan dan
pasca penutupan lahan timbus dan secara profesional akan menangani
limbah-limbah terseut sehingga dapat meniadakan tanggung jawab
pelanggan dalam jangka panjang. Dengan mempercayakan pengolahan
limbah kepada kami, pelanggan dapat yakin bahwa limbahnya telah
diolah secara profesional sesuai dengan standar internasional yang
terbaik.
BAB III
KEGIATAN DI LINI INDUSTRI

3.1 Kegiatan Penerimaan Limbah


Setiap limbah yang akan diolah di PT. PPLi harus melalui berbagai
tahap. Tahap tersebut ialah :
.1.1 Sebelum persetujuan pengolahan
Setiap limbah yang akan diperiksa di PT. PPLi diperiksa karakteristiknya
terlebih dahulu. Pelanggan diminta mengirimkan sampel, kemudian sampel
dianalisa di laboratorium PT. PPLi untuk menentukan karakteristik dan komposisi
dari limbah tersebut. Sampel yang dikirim dinamakan sampel PA (Pre-
Aceptance). Melalui sampel tersebut, maka perusahaan dapat menentukan
metode pengolahan serta biaya pengolahan limbah yang akan dikirim. Jika
biaya pengolahan sudah diketahui, maka dilakukan negosiasi dengan pelanggan
untuk memperoleh kesepakatan biaya pengolahan.
.1.2 Pengangkutan Limbah
Proses untuk mengangkut limbah dari tempat pelanggan ke PT. PPLI
menggunakan system pengangkutan secara khusus. Dimana system tersebut
dapat menjamin keamanan pengangkutan limbah yang terdiri dari pewadah,
kendaraan pengangkut, perlengkapan tanggap darurat dan sumber daya
manusia.
.1.3 Proses Uji Sidik Jari (Finger Print)
Ketika limbah telah datang, limbah yang tiba di PT. PPLI diperiksa ulang
dengan uji sidik jari. Proses uji sidik jari ini dilakukan untuk memastikan apakah
limbah yang diterima ini sama dengan sample limbah yang telah diperiksa dan
dibuatkan propil limbahnya (sample PA). Sampel limbah yang datang tersebut
dinamakan sampel EA (End-Acceptance). Setelah melaui analisa di laboratorium
uji sidik jari maka dilakukan pengolahan sampel

Sampel Limbah & Deskripsi


ProsesLimbah
Analisa
dari
Sampel
Pengguna
di PT.Jasa
PPLi untuk Menentukan
PPLiMetode
menen

Penjadwalan untuk Pengiriman Limb


Sampel dikirim kemudian di Timbang Dipe

Test Finger Print untuk menjamin Keamanan serta menetapkan Pengolahan


Stabilitation
dan Pembuangan

Direct Landfill S

Fuel Blending Fuels Program &

P-Chem

Bioplant Effluent Discharde

Gambar 3. Bagan proses penerimaan limbah

.2 Proses Pengolahan Limbah


Hampir semua jenis limbah industri dapat diolah di PT. PPLi kecuali
limbah yang mengandung radioaktif. Ada berbagai proses yang dilakukan
dalam pengolahan limbah yang dilakukan di PT. PPLi.

.2.1 Fuel Blending


Limbah yang masuk ke PT PPLi mula-mula di bagi menjadi 2 bagian
yaitu limbah organik dan anorganik. Untuk limbah dengan kandungan
organik lebih dari 10% maka langsung diolah melalui fuel blending/proses
thermal destruction. Hal tersebut dikarenakan limbah organik tidak bisa
ditimbun dikarenakan batas maksimal kandungan organik dalam limbah
yang masuk ke Landfill ialah 10%.

.2.2 Stabilisasi
Proses pengolahan limbah sebelum limbah ditimbun pada lahan
penimbunan. Proses ini dilakukan dengan menambahkjan bahan kimia
sehingga bentuk kimiawi limbah tersebut menjadi lebih stabil. Proses
stabilisasi juga dilakukan dengan penambahan semen, sehingga bentuk
fisik dari limbah tersebut menjadi lebih kompak. Limbah yang telah diolah
secara kimiawi dan fisik kemudian di uji lagi dengan cara test TCLP
(Toxicity Characteristic Leaching Procedure). Uji TCLP ini untuk
memastikan bahwa limbah yang akan ditimbun dipembuangan
akhir benarbenar telah stabil. Proses stabilisasi akan diulang bila hasi uji
TCLP ini tidak memuaskan. Proses stabilisasi sebagian besar digunakan
untuk limbah non cair.

.2.3 Phy-chem
Proses ini digunakan untuk limbah cair yang berbahaya. Secara
umum proses Phy-chem dilakukan melalui proses netralisasi, flokulasi,
dan koagulasi. Setelah melalui proses tersebut maka sebagian besar zat-
zat berbahaya akan terendapkan. Melalui proses filterisasi maka endapan
akan terpisah dan dimasukan ke dalam proses stabilisasi. Sementara
untuk bagian cair akan diolah melalui proses Bioplant.

.2.4 Bioplant
Pengolahan limbah melalui Bioplant dilakukan dengan
pemanfaatan mikroorganisme. Limbah cair yang telah melalui proses ini
akan dibuang ke lingkungan, hal tersebut dilakukan apabila kandungan
limbah telah memenuhi syarat untuk tidak mencemari lingkungan.

.2.5 Proses Penimbunan


Proses pengolahan limbah dengan cara menimbun limbah dilahan
penimbunan yang dimana limbah-limbah dalam keadaan padat. Lahan
penimbunan ini dirancang dengan teknologi yang meliputi :

a. System Linier
Merupakan system pelapis yang terdiri dari pelapis dasar dan
pelapis penutup.

b. Manajemen Lindi
Proses yang bertujuan untuk mengumpulkan lindi yang terjadi
serta memprosesnya sehingga kualitasnya memenuhi nilai ambang batas
untuk dibuang. Lindi yaitu cairan yang bersentuhan dengan limbah yang
telah distabilkan dan ditimbun pada lahan penimbunan. Cairan ini
terutama berasal dari air hujan dan juga dari air pencuci kendaraan
pengangkut limbah.

c. Manajemen Air Permukaan.


Manajemen air permukaan bertujuan untuk kontak antara air
dengan limbah, mempersiapkan titik pembuangan air yang terkontrol, dan
memperkecil terjadinya erosi.
Manajemen air permukaan dipersiapkan dengan memperhatikan
keadaan iklim setempat, serta harus mampu menghadapi keadaan cuaca
buruk ditempat tersebut.

d. Manajemen Air Tanah


Manajemen air tanah dilakukan dengan melapisi dasar tempat
pembuangan akhir sedemikian rupa sehingga mampu mencegah lindi
memasukiair tanah. Pemantauan terhadap air tanah dilakukan secara
terus-menerus dengan memeriksa kualitas air tanah yang diperoleh dari
sumur-sumur pemantauan.

.2.6 Proses Pasca Operasi


Proses ini dilakukan setelah masa operasi pengolahan limbah
industri. Proses ini dilakukan untuk menata lahan penimbunan menjadi
sebuah taman yang indah.
LIMBAH

Anorganik Organik

Liquid Non Liquid Liquid Solid

Fuel Blending
Phy-Chem

Liquid Solid

Stabilisasi
BioPlant

Bahan Bakar
Effluent Landfill Syntetic

Gambar 4. Bagan proses pengolahan limbah


.1 Kegiatan di Laboratorium
Di dalam proses analisa sampel, PT. PPLi memiliki empat ruang
laboratorium.
.3.1 Laboratorium Finger Print
Laboratorium Finger Print melakukan analisa terhadap limbah
untuk mengetahui karakteristik limbah. Hampir semua limbah yang masuk
ke PT PPLi akan terlebih dahulu dianalisa di Laboratorium Finger Print
baik itu sampel limbah PA(Pre-Aceptance), Limbah EA(End-Aceptance),
sampel EA QC (sampel untuk penerimaan 20 kali dengan sampel yang
sama), sampel proyek, serta sampel komersil). Analisa yang dilakukan di
Laboratorium Finger Print secara umum ialah analisa kualitatif anorganik
dan organik.
Parameter yang dianalisa di fingerprint ialah:
Limbah organik: : Physical Appereance, pH, Organo.Chlorin,
Compatible test, Polymerisation Potential,
Radioactivity, flammability dan viscosity.
Limbah Anorganik : Physical Appereance, pH, Sulfida,
Sianida, Oksidator, Ammonia, Phenol, water
solubility, water reactivity, radioactivity, Bulk
density, Specifik grafity.

.3.2 Laboratorium Instrument


Di Laboratorium instrument ada berbagai analisa yang dilakukan,
dimana analisa yang dilakukan menggunakan alat-alat instrument. Analisa
yang dilakukan ialah:

a. Analisis Kandungan Metal


Analisa kandungan logam dilakukan dengan menggunakan alat
yaitu ICAP.
Hampir berbagai jenis sampel dapat dianalisa dalam analisis metal.
Sampel yang dianalisa ialah sampel PA, EA, EA QC, sampel proyek,
sampel komersil, ataupun sampel TCLP.
Parameter logam yang diukur ialah: Ag, As, B, Ba, Ca, Cd, Co, Cr,
Cu, Fe, Hg, Mn, Mo, Na, Ni, Pb, Se, Sn, Tl, Zn.

b. Analisa Fuel Blending


Analisa ini dilakukan berkaitan dengan keperluan proses
Fuelblending. Analisa yang dilakukan ialah mengukur banyaknya
tambahan kalor yang bisa diberikan oleh suatu sampel pada saat proses
pembakaran 9heat content). Alat yang digunakan pada analisa ini ialah
Bomb Calorimeter.
Selain itu di analisa fuel blwnding juga dilakukan analisa sulfur, pH
ekstrak 10%, viskositas, flash point, TOX, ash konten, Specifik grafity, dan
blending test.
c. Analisa Kandungan Organik
Analisa ini menggunakan alat GC (Gas Chromatografi). Parameter
yang digunakan pada alat ini ialah PPH, POC, PCB, BTEX dll.
Selain itu di laboratorium instrument untuk analisa zat organik juga
terdapat alat TOC (Total Organic Carbon) dan TOX (Total Organik
Halogen) keduanya merupakan parameter Water Threatment.

.3.3 Laboratorium Water Treathment


Analisis yang dilakukan ialah berkaitan dengan kimia air. Parameter
yang dianalisa di laboratorium Water Treathment ialah BOD, Cl, COD,
Cr6+, DO, Fl-, MLSS(Mili Liquor Suspensi Solid), MLVSS (Mili Liquor
Volatyle) Suspensi Solid), N, NH 4, NO2-, NO3-, P2 O5, Ph. S-, TDS, TOC,
Phenol, TSS, dan MBAS (Methylene Blue Active Substance) selain
parameter tadi. Adapun sampel yang dianalisa di laboratorium Water
Treathment ialah sampel PA, EA QC, sampel komersil, sampel proyek
serta proses monitoring terhadap sampel dari proses Bioplant, dimana
parameter yang dianalisa ialah key parameter yaitu Ph, TDS, COD, dan
Ammonia terlarut.

.3.4 Laboratorium Treatibility


Pada laboratorium ini dilakukan proses TCLP, dimana sampel
diekstraksi selama 18 jam. Melalui ekstraksi ini dapat diperkirakan apakah
ketika sampel ditimbun akan menghasilkan zat yang berbahaya yang larut
dalam air dan mencemari tanah. Setelah proses ekstraksi, sampel
disaring kemudian larutannya akan dianalisa kandungannya.
Selain dilakukan test TCLP, di laboratorium ini juga dilakukan Trial
berkaitan dengan proses Phi-Chem, Bioplant, terdapat pula alat pengukur
viskositas dan flash point.
BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

4.1. Logam

Logam didefinisikan sebagai elemen yang memiliki karakteristik


sebagai berikut (Watts, 1998) :
Menghantarkan listrik.

Mempunyai konduktivitas terhadap panas (termal) yang tinggi.

Mempunyai densitas yang tinggi.

Mempunyai karakteristik malleability dan kelenturan.

Adanya logam, terutama logam berat dalam tanah dan air tanah perlu
mendapatkan perhatian yang serius, hal ini disebabkan karena :
Sifat racun logam dan potensi karsinogeniknya.

Logam mempunyai sifat konservatif dan cenderung kumulatif dalam


tubuh manusia.

Mobilitas logam dalam tanah bisa dengan cepat berubah, dari yang
awalnya immobile atau dalam bentuk logamnya menjadi bentuk
terlarut dalam spesies yang dengan mudah bisa berubah..

Dilihat dari sifat-sifat logam diatas, keberadaan logam terutama logam


berat mempunyai potensi yang sangat tinggi sebagai sumber polutan yang
berbahaya. Sumber polutan tersebut dapat berasal dari suatu zat kimia
(cair, padat, maupun gas), baik yang berasal dari alam yang
keberadaanya bisa dipicu oleh manusia (tidak langsung) ataupun dari
kegiatan manusia yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi
kehidupan manusia dan lingkungannya. Akan tetapi, kandungan alamiah
logam itu akan berubah-ubah tergantung pada kadar pencemaran oleh
ulah manusia atau oleh perubahan alam, seperti erosi. Walaupun begitu,
ternyata kandungan logam dalam lingkungan oleh pengaruh
pertambangan masih lebih besar daripada akibat erosi alamiah.

4.2. Logam Berat


Dalam menentukan kualitas air limbah, konsentrasi logam-logam
yang terlarut dalam air perlu dianalisa. Kadar logam-logam berat tersebut
harus berada dibawah Baku Mutu Lingkungan (BML) yang telah
ditetapkan.
Logam berat merupakan suatu elemen yang bila terdapat dalam
konsentrasi yang cukup, bisa memiliki potensi yang dapat mengganggu
dan memiliki sifat beracun pada makhluk hidup atau tanaman (Adriano,
1986). Logam berat secara alamiah akan terus berada di alam, karena
tidak mengalami transformasi (persistent), sehingga menyimpan potensi
peracunan yang laten, yang sering disebut sebagai bom waktu kimia.
(Salomon dan Stigliani, 1995). Logam berat masih termasuk golongan
logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan logam lain.
Perbedaanya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini
berikatan dan atau masuk kedalam tubuh organisme hidup.
Logam berat seringkali didefinisikan sebagai logam dalam deret
berkala unsur-unsur yang terletak antara Sc (Scandium, nomor aton 21)
dengan Po (Polonium, nomor atom 84). Walaupun demikian, Alumunium
(nomor atom 13) dan metalloid seperti Arsen dan Selenium juga
dimasukan dalam kategori logam berat (Schnoor, 1996).
Menurut Wattz (1997), logam berat didefinisikan sebagai logam yang
mempunyai nomor atom lebih besar dari besi (Fe) dan mempunyai
densitas lebih dari 5 g/cm3. Sedangkan menurut Murphy (!981)
karakteristik dari logam berat berdasarkan :
Gaya berat spesifik logam (lebih besar dari 4 atau 5).

Unsur-unsur dengan jumlah atom 22-34 dan 40-52, serta unsur-


unsur Lantanida dan Aktinida.
Tanggapan spesifik biokimiawi didalam hewan dan tumbuhan.

Salah satu sumber utama keberadaan logam yaitu berasal dari


kegiatan manusia. Selain itu, keberadaan logam tersebut diakibatkan dari
adanya kegiatan pertambangan, cairan limbah rumah tangga, limbah dan
buangan industri, serta aliran pertanian.

4.3. Inductively Coupled Plasma Atomic Emisson Spektroscopy (ICP-


AES)
Inductively Coupled Plasma Atomic Emisson Spektroscopy (ICP-
AES). Dengan ICP, plasma dibentuk dari gas Argon yang sudah
diatomisasi oleh energi yang disupply dari kumparan induksi. Umumnya
jumlah tingkat energi akan disupply oleh plasma dengan frekuensi tinggi
(27.12 dan 48.68 MHZ).
ICP-AES mengukur konsentrasi setiap elemen sampel dengan
memasukan sampel cairan nebulasi (nebulized liquid sample) kedalam
plasma dan mengamati cahaya emisi (reaksi nyala) yang terjadi dalam
plasma dengan menggunakan spectrometer.
Tekhnik penggunaan reaksi nyala untuk mengidentifikasi elemen
oleh warna nyala sudah ditemukan Kirchoff dan Bunsen dalam 1860-an.
Namun secara teori tidak mungkin diterangkan sampai mekanika kwntum
masuk dalam ilmu pengetahuan dalam tahun 1920-an. Tekhnik ini tidak
hanya sebatas mengidentifikasi elemen.
Sesudah itu ditemukan kemungkinan analisa kuantitatif, dimana
tekhnik ini dikembangkan dengan perubahan sumber panas dari nyala
kimia kebunga api listrik. Dengan cara demikian memberikan suhu yang
lebih tinggi. Method deteksi emisi juga berubah dari pengamatan langsung
melalui prisma ke photographic plate, kemudian ke diffraction grating
spectrometer, dan akhirnya ke photoelectric photometry systems. Sampel
pertama dari atomic absorption phenomenon (diamati oleh Fraunhover)
sudah menggunakan analisa kuantitatif yang dilaporkan oleh Walsh, tahun
1955. Karena sensitivitas yang tinggi, ketepatan dan hasil matriks yang
rendah disamakan dengan emisi sebaik dengan larutan analisa yang
mudah, maka proses ini menjadi terkenal. Akhirnya sampai 1974, ketika
pernyataan yang dibuat oleh V.A. Fassel soal ICP dalam Analytical
Chemistry, menggambarkan perhatian yang menyebar luas.
Electric discharge dalam sistim inductively coupled dapat
ditemukan dalam pernyataan Babat, 1947, yang dalam pengakuanya,
plasma sangat mirip, yang dilaporkan oleh Reed, 1962. Scientists pertama
yang menggunakan plasma untuk tujuan analisa adalah Greenfield, 1964,
dan Fassel, 1965. Walaupun pada waktu itu atomic absorption mempunyai
popularitas yang tinggi, tapi para ilmuan ini meyakini bahwa analisa emisi
adalah metoda yang terbaik dalam analisa anorganik, yang membuat
pengembangan ICP lebih lanjut. Segera disadari bahwa kenaikan
frekuensi (MHz) plasma akan menimbulkan pola donut. Karena pola
donut, dan kenaikan efisiensi sample introductions kedalam plasma,
Fassel, 1974 mendeklarisasikan bahwa sensivitas dari analisa ICP sudah
melampaui atomic absorption.
System analisa emisi yang pertama kali diperdagangkan, lahir di
Amerika kemudian dikembangkan di Jepang pada tahun 1974-1975.
Sistem analisis emisi ICP pertamakali adalah modifikasi dari system
analisis emisi pancaran spark yang sudah ada. Sumber cahaya dari
pancaran spark diubah oleh ICP dengan menghasilkan system multi-
channel yang disebut quantometer. Untuk tujuan penelitian, digunakan
system single-channel yang dilengkapi sebuah monokromator. Pada 1980,
monokromator sudah dikontrol secara system computer. Ini menandakan
dimulainya persaingan analisa yang focus pada kecepatan analisa.
4.3.1. Prinsip ICP-AES
Gas argon yang mengalir dalam tabung kuarsa, membentuk
plasma dalam frekuensi yang tinggi. Jika arus listrik 10.000 volt masuk ke
tabung kuarsa tersebut, maka atom Ar akan terionisasi.
Igniter discharge
Ar Ar+ + e-

Electron ini akan berinteraksi dalam frekuensi yang tinggi dan kemudian
membentuk kekuatan magnetic dimana menurut kekuatan Lorentz akan
membuat electron bergerak perlahan dalam satu arah. Namun dengan
frekuensi yang tinggi membuat gerakan electron tersebut berubah dalam
waktu yang singkat, sehingga electron itu bergerak sebelum kekuatan
Lorentz membentuk electron dalam posisi berlawanan. Hal ini terjadi
berulang ulang sehingga electron bervibrasi dalam kecepatan yang sangat
ekstrim.

e- + Ar Ar+ + 2e-

Vibrasi electron yang cepat akan menyebabkan electron bertabrakan


dengan aton Ar dan melepaskan electron lain. Dua electron yang terpisah
akan bervibrasi karena energi frekuensii yang tinggi.
Dua electron akan bertabrakan dengan atom Ar, yang selanjutnya
menambah jumlah electron dan ion Ar.

2e- + 2Ar 2Ar + 4e-

Inilah awl dari reaksi rantai yang membuat plasma. Ketika plasma
mencapai puncak dari kumparan induksi, maka ada kemunduran yang
tajam dalam kekuatan medan listrik dan konsentrasi magnetic yang terus
berubah.
Kemunduran ini menyebabkan ion argon dibentuk oleh electron
untuk bergabung kembali, pada tahap ini rekombinasi melewati ionisasi.

Ar + e- Ar+ + 2e-
Plasma menuju kembali ke atom Ar dan lenyap.proses rekombinasi
menghasilkan suatu cahaya putih, tetapi gas itu sendiri bergerak naik
pada 12~8 L/menit dan membentuk tetesan. Karena hubungan diantara
aliran induksi dan konduksi gas Ar sedemikian dekat, maka kerapatan
arus listrik naik ketika bergerak kearah kumparan induksi. Sebaliknya
kerapatan plasma akan turun atau lebih rendah pada pusat tebung
kuarsa, karena itu terbentuk donut dari ICP.

4.3.2. Suhu ICP


Bermacam-macam karakter analisa seperti sensivitas tinggi,
pengaruh matrik rendah dan batas dinamik yang lebar tergantung pada
struktur suhu ICP. Karena pada suhu diatas 7000 K, kebanyakan molekul-
molekul direduksi menjadi atom-atom atau ion-ion, karena itu
sensivitasnya tinggi disebabkan jumlah atom-atom dan ion-ion yang
memberikan kontribusi besar untuk keluarnya cahaya. Selanjutnya karena
sampel melalui pusat plasma, pada bagian tepi akan lebih panas, cahaya
teremisi dari pusat tidak dengan mudah diabsorbed oleh atom yang lebih
dingin yang mengelilinginya. Akibatnya batas kurva kalibrasi naik.
Pengukuran suhu ICP sangat sulit. Namun thermocouple ataupun
heat gauge dapat digunakan. Umumnya menggunakan metode optik
untuk mengukur bermacam-macam metode kimia (atom, molekul, ion dll)
dengan ICP dan hasil suhunya dihitung. Pada tahap ini beragam suhu
dapat didefinisikan dengan menggunakan jenis spesifik tertentu yang
tergantung pada jenis target. Bahkan jenis kesetaraan yang hanya betul
dalam teori. Dengan alas an ini, maka terjadi perbedaan dalam mengukur
suhu.
Pada umumnya keempat suhu dibawah ini digunakan untuk
menerangkan karakteristik plasma:
Suhu elektron

Suhu gas
Energi eksitasi

Suhu ionisasi

Sebagaimana lazimnya, suhu gas yang tinggi diperlukan untuk


ionisasi molekul dan suhu elektron yang tinggi untuk eksitasi ion-
ion.

4.3.3. Mekanisme Eksitasi


Sample yang dimasukkan ke ICP akan menguap dan berubah
menjadi atom-atom dan ion-ion. Namun selama proses ini masih belum
jelas bagaimana secara kimia eksitasi atom-atom dan eksitasi ion-ion.
Atom Argon eksitasi Ar*, atom Argon matasable Ar m, ion Argon Ar+,
atau elektron berkecepatan tinggi, e- akan menjadi media untuk aksitasi.
Mekanisme eksitasi dijelaskan seperti dibawah ini:

Ar* + X Ar + X +* + e-
Penning ionisasi
Arm + X Ar + X+* + e-
Ar+ + X Ar + X+* Pergerakan
muatan listrik
X+ + 2e- X* + e

X+* memancarkan deretan ionic dan X* memancarkan deretan atomic dan


masing-masing akan kembali ke bentuk ionic atau bentuk stabil. Penelitian
tentang mekanisme eksitasi ICP mempunyai arti yang besar. Dengan
argon ICP, cahaya emisi fluorine dan klorin tidak dapat diamati dalam
daerah visibel dan ultraviolet. Namun demikian dengan He MIP (Helium
microwave inductive plasma) cahaya emisi tersebut dapat diamati dan
ditentukan.
Gambar 1. menunjukkan tingkat eksitasi dari fluorine, argon, dan
helium. Jika atom argon dalam kondisi metastable dianggap sebagai
unsur utama dari eksitasi, maka sejumlah besar energi diperlukan untuk
membawa fluorine ketingkat eksitasi pertama yang dapat dipantau dalam
daerah vakum ultraviolet 95,5 nm.
Sebaliknya, cukup energi yang tersedia dengan He MIP untuk
mengangkat fluorine ketingkat eksitasi 2 dan 3, maka 685,6 nm dapat
diamati. Hal inilah yang mendukung percobaan yang actual. Adakalanya
argon ICP dapat memeriksa fluorine dalam daerah visibel, namun hanya
pada batas deteksi 3000 ppm.

Hem
19.81 eV

Arm
11.72 eV
Vakum ultraviolet
95.5 nm
ground state
F quantum Ar-ICP He-MIP

Gambar x . Tingkat eksitasi Fluorine, Argon, Helium

4.3.4. Interferensi
Terdapat 4 jenis interferensi :
1. Interferensi fisik

Perubahan pada karakteristik fisik sample, seperti viskositas,


tegangan permukaan, berat jenis.
2. Interferensi kimia

Perubahan pada karakteristik kimia terjadi pada pembentukan


senyawa dalam sample yang menghambat penguraian.
3. Interferensi ion

Perubahan pada proses ionisasi setimbang dengan plasma ketika


beberapa elemen yang mudah terionisasi seperti logam-logam
alkali yang terdapat dalam sample.
4. Interferensi spectrum

Pengaruh spectrum pada analisa disebabkan oleh sample yang


mengandung gas plasma, dan dari spectrum cahaya molekul-
molekul atau atom-atom dalam plasma yang mengoverlap target
spectrum.

Pengaruh interferensi 1 sampai 3 dapat dicegah dengan matrix


matching. Pengaruh interferensi spectrum dapat dicegah dengan
menggunakan spectrometer resolusi tinggi dan pemilihan panjang
gelombang yang tepat. Jika background (BG) besar dan perbandingan SB
kecil, koreksi BG dapat dilakukan.

4.3.5. Konfigurasi ICP


ICP-AES terdiri dari sebuah generator RF, unit pemasukan sampel,
spectrometer, dan pemroses data. Generator RF menghasilkan arus
frekwensi radio (27.12 MHz, 0.5-2.0 kW) yang melewati sebuah pipa
vakum atau sebuah transistor. Satu generator RF menggunakan arus
40.68 MHz, yang juga telah dikomersialisasikan, dan meskipun tidak
secara luas digunakan, efisiensi pemasukkan sampelnya cukup tinggi
karena pusat lingkaran (donut) relative lebar.
Arus RF diberikan untuk plasma yang ditransmisikan pada koil
yang melewati suatu kabel. Ketika plasma menyala, terjadi perubahan
pada impedance, sirkuit yang cocok antara kabel dan coil mengatur arus.
Impedance dapat berubah ketika terjadi perbedaan pelarut (perubahan
pada pelarut-pelarut organik dari air, dll) yang dimasukan dalam system.
Terdapat dua jenis metode osilasi: jenis kristal terkontrol, biasa
digunakan di Jepang, dan jenis program-bebas (free-running) digunakan
di Eropa. Dengan jenis program-bebas, impedance yang berubah
dihindari dengan menggunakan formula otomatis oleh perubahan
frekwensi osilasi, dengan demikian eliminasi diperlukan untuk sirkuit-
sirkuit yang cocok.
Perubahan impedance dapat digambarkan sebagai perubahan
jarak antara dua dinding dimana gelombang ditransmisikan. Bila interval
berubah yang menyebabkan gelombang hilang dan kelebihan energi
gelombang kembali. Hal ini disebut reflect power. Jumlah reflect power
yang lebih besar, jumlah transmisi energi gelombang progresif yang lebih
kecil. Sebagai hasilnya, energi listrik yang sepadan tidak akan ditransmisi
ke dalam plasma, dan tabung vakum dan sirkuit transistor dirusak atau
dimusnahkan oleh energi yang kembali.
Jenis Kristal terkontrol mengoreksi dinding interval dengan
pencocokan sirkuit, sementara jenis free-running merubah frekuensi
gelombang menjadi sempurna antara dinding interval. Energi
ditransmisikan melalui gas argon yang mengalir dalam tiga lapisan tabung
quartz dalam unit introduction, membentuk plasma. Hingga pemakaian
gas argon menjadi awet dan tidak merusak minitorch, gas argon yang
dipakai sebesar 12~18 L/min.
Spektrometer membentuk spektrum dari image plasma pada slit
masuk dan mengarahkan panjang gelombang cahaya yang esensial ke
detektor. Dengan menggunakan analisa spektrum, jumlah setiap elemen
yang ada dalam sampel dapat ditentukan dari kekuatan spesifik sinar
cahaya dalam plasma. Ada berbagai spektrometer/detektor yang dapat
memilih cahaya spesifik. Ada dua jenis spektrometer, yaitu prisma dan
grating difraksi. Juga ada berbagai macam detektor seperti mata
telanajang, fotografi, phototube, dan photomultiplier.
Spektrometer ICP-AES dilengkapi dengan sebuah fotomultiplier
yang tertempel pada sebuah grating difraksi. Sinyal cahaya yang
dihasilkan oleh fotomultiplier dirubah menjadi arus listrik, yang kemudian
dikuatkan oleh amplifier, rekorder, dan digital.

Sample Introduction Unit


Spectrometer
Detector
O

Data Control

Radio Frequency
Power Supply
Gambar x. Diagram Blok ICP

4.4. Langkah Kerja

Kalibrasi untuk ICP-AES dilakukan secara otomatis sebelum


pembacaan sampel. Kalibrasi ICP-AES pertama membaca HNO 3 2% dan
kemudian pembacaan deret standar. Deret standar yang digunakan
adalah M1 dan M2 (0.01 ppm, 0.1 ppm, 1 ppm dan 10 ppm). M1 adalah
deret standar yang mengandung Ag, Al, As, Au, B, Ba, Be, Ca, Cd, Co, Cr,
Cu, Fe, Hg, K, Mg, Mn, Na, Ni, Pb, Se, Tl, V, Zn. Sedangkan deret standar
M2 hanya mengandung Mo, S, Sb, Si, Sn, Sr, Ti.
Sebelum pembacaan sampel maka ICP-AES akan membaca
terlebih dahulu blanko, LCS (Laboratory Control Standar) M1-0.5 mg/L,
LCS M2-0.5 mg/L, CRM1 (Certificate Reference Material Trace Metal),
CRM3 (Certificate Reference Material Hg), dan CRM Mineral (K, Ca, Na,
Mg). Setelah semua terbaca maka ICP-AES akan secara otomatis
membaca sample. Dan setiap 20 kali pembacaan maka dilakukan
pembacaan duplikasi, spike (adisi standar), blanko, LCS-M1 dan LCS M2.
Alat dan bahan :
a. Alat :

ICP-AES 6000 series

Cup

Conicle glass

Tutup cawan

Spatula

labu takar

b. Bahan :

HCl (P)

HNO3 (P)

H2O2

HCl4

HNO3 2%

Kertas saring
Preparasi

Digest of sluge Digest of water Digest of organik

1-2 gram sampel 50 mL sampel 0.5 gram sampel


+HNO3 1:1 10 mL + 2 mL HNO3 (P) + 5 mL Ashing Acid
+5 mL HCl (P) (HNO3:HClO4 4:1)
diamkan selama 30 menit

Digest dengan suhu 90o- Digest dengan suhu 90o- Digest dengan suhu 90o-
95oC 95oC 95oC
Selama 10-15 menit Sampai volume Sampai volume 0.5 mL dan
Dinginkan berkurangb15-20 mL. larutan bening
+ HNO3 (P) 5 mL
digest selama 30 menit

Jika masih ada asap coklat tunggu 5 Jika larutan belum bening
menit, jika masih ada juga tambah + 2 mL Ashing acid
HNO3 5 mL

+ Asam peroksida

Turunkan, dinginkan, saring,


dan tanda bataskan
4.5. Flowchart ICP-AES

FLOW CHART
ICP

Mulai

Nyalakan UPS

Hidupkan main switch iCAP


instrument

Nyalakan computer

Jalankan program iTEVA

Biarkan sampai ICP selesai inisialisasi

Buka valve gas nitrogen dan argon pada tekanan 6 bar


Biarkan gas nitrogen selama 30 menit untuk purging

Klik method--new, pilih element


Klik ikon analyst dan pilih wavelength

Klik tab methode di bawah

methode n

Klik analysis preferences


Isi kolom #repeats : 3
y Sample flush time : 30 second
Isi max integration time : 10 s
Pilih metoda yang akan digunakan

Setelah 30 menit, hidupkan cooling water thermo


flex 900 dan fumehood Klik automated output, pastikan
tick save result to database

Klik plasma, pastikan indicator berwarna hijau

Klik source settings

Letakan sipper probe kedalam larutan blanko Set RF power : 1150 watt
Aux gas flow : 0.5 L/min
Neb gas flow : 0.15 Mpa

Klik plasma on, biarkan di bilas selama 15 menit

Klik standards, add standar


yang akan di kalibrasi,
sesuaikan konsentrasi standar di
dalam kotak, klik save metode
Setelah 15 menit, klik tab analysis dan klik ikon
calibration, klik run

Selanjutnya letakan sipper probe dalam larutan


standar sesuai urutan yang dibuat dalam setup
method

Setelah kalibrasi selesai kurva dapat dilihat di tab methode--element--fit. Setelah itu
dapat dilanjutkan untuk analisa contoh

Klik ikon unknown sample, isi box run unknown seperlunya, tempatkan sipper probe
dalam unknown sample, klik run

Setelah selesai akan muncul hasil sample dengan menunjukan elemen yang diplih pada
setup methode

Jika perlu save methode yang telah di pakai. Klik methode--save as, isi nama filenya

Setelah selesai analisa letakan sipper probe dalam air deionisasi dan biarkan selama 35
menit
Klik ikon plasma, klik plasma off, lepaskan tubing dari peristaltik pump

Matikan switch untuk cooling water thermo flex 900 dan fumehood, tunggu sampai suhu
CID Camera 30OC dilihat di instrument status

Tutup valve gas nitrogen dan gas argon

Matikan ICP, computer, monitor, printer. Matikan pula UPS

Selesai
BAB V
DATA DAN PERHITUNGAN

Data yang diperoleh bukan hasil sesungguhnya, karena hasil yang


dibaca oleh ICP-AES belum termasuk perhitungan dari penimbangan,
pengenceran dan koreksi faktor.
5.1. Perhitungan

F FV = Final Volume
CF NW A
x V x AF = Adjustment Faktor
= F
SW IV

(NW - SW) FV
CF = x x
NW IV

(NW - SW)
CF = x AF
SW

CF = Correction Factor
NW = Nominal Weight
SW = Sample Weight
IV = Initial Volume

SAMPLE FINAL
WEIGHT
ID VOLUME
1 0.61 50 mL
2 1.11 50 ml
3 1.05 50 ml
4 0.58 50 ml
5 5 mL 50 ml
6 0.57 50 ml
7 0.52 50 ml
8 1.03 50 ml
9 1.03 50 ml
10 1.04 50 ml
11 10 mL 50 ml
12 10 mL 50 ml
13 10 mL 50 ml