Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH TREND DAN ISSUE KEPERAWATAN MATERNITAS

EFFECTS OF MANUAL LYMPHATIC DRAINAGE ON BREAST


CANCER-RELATED LYPHEDEMA: A SYSTEMATIC REVIEW AND
META-ANALYSIS OF RANDOMIZED CONTROLLED TRIALS

KELOMPOK 7
Anggota :
Ayu Diah Lestari (G1D014007)
Dyah Dwi Lestari (G1D014008)
Puput Tri Wahyuni (G1D014012)
Desi Epita Anggraini (G1D014020)
Princes Thalia Cavita H. (G1D014034)
Eni Wahyu Subagyo (G1D014047)
Dwi Noventi Rianingrum (G1D014050)
Syienthia Rahmatika (G1D014058)
Indah Nurul Widyawati (G1D014071)
Afif Gilang Prasetyanto (G1D014075)
Putri Isnaeni Ulfah (G1D014082)

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut WHO kanker payudara paling sering ditemukan pada wanita
dan insidensinya 18% dari seluruh kanker pada wanita. Kejadiannya di
seluruh dunia sebanyak 1 juta kasus tiap tahun dan menempati urutan pertama
dari semua kanker pada perempuan, yaitu sekitar 38 dari 100.000 kasus.
Penelitian epidemiologi kanker payudara yang diselenggarakan oleh Jepang
dan Indonesia tahun 1988 sampai 1994 menunjukan bahwa penderita kanker
payudara di Indonesia paling banyak berusia 40 sampai 50 tahun. Pada tahun
2008 WHO mendapatkan sebanyak 548.000 mortilitas akibat kanker
payudara dalam satu tahun. Kejadian ini menempati urutan kelima setelah
kanker paru, lambung, kolon dan hati.
Pada tahun 2007, the American Cancer Society (ACS) memperkirakan
hampir 178.000 perempuan akan terdiagnosis kanker payudara, jumlah ini
ditambah dengan 2 juta perempuan yang memiliki riwayat kanker payudara,
di Indonesia jumlah penderita kanker payudara menduduki tingkat kedua
setelah kanker serviks. Pada tahun 2001 di Semarang di temukan kasus
kanker payudara sebanyak 769 kasus. WHO menyatakan bahwa hanya
sepertiga dari penderita kanker payudara yang penyakitnya dapat diobati,
sepertiga lagi tidak dapat disembuhkan dan sepertiga sisanya dapat dicegah
agar tidak terjadi kanker payudara.
Penyebab kanker payudara sangat beragam tetapi ada sejumlah faktor
risiko yang dihubungkan dengan perkembangan penyakit ini seperti asap
rokok, konsumsi alkohol, umur menstruasi pertama, umur saat melahirkan
pertama, lemak pada makanan, riwayat keluarga dan hormon. Estradiol dan
atau progresteron dalam siklus normal menstruasi meningkatkan resiko
kanker payudara. Hal ini terjadi pada kanker payudara yang memiliki reseptor
esterogen dimana diketahui bahwa 50% kasus kanker payudara merupakan
kanker yang tergantung pada esterogen (Gibbs, 2000).
Menurut Kemenkes 2015, kanker payudara merupakan keganasan
pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun
lobulusnya. Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di
Indonesia. Berdasarkan Patological Based Registration di Indonesia kanker
payudara menempati urutan pertama dengan frekuensi relatif besar yaitu
sekitar 18,6% diperkirakan angka kejadian kanker payudara di Indonesia
adalah 12 dari 100.000 wanita sedangkan di Amerika sekitar 92 dari 100.000
wanita dengan mortalitas yang cukup tinggi yaitu 27 dari 100.000 atau 18%
dari kematian yang dijumpai pada wanita. Penyakit ini juga dapat diderita
pada laki-laki namun dengan frekuensi yang lebih kecil yaitu sekitar 1%.
Di Indonesia sendiri terdapat lebih dari 80% kasus ditemukan berada
pada stadium lanjut dimana upaya pengobatan sulit dilakukan oleh karena itu
perlu pemahaman tentang upaya pencegahan diagnosis dini pengobatan
kuratif maupun paliative serta upaya rehabilitasi yang baik agar pelayanan
kesehatan pada penderita dapat dilakukan secara optimal.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Mahasiswa mampu menganalisis trend dan issue pada pasien kanker
payudara dengan limfedema.
2. Mahasiswa mampu mengetahui keefektifan penggunaan terapi manual
limfatik drainase pada limfedema yang dialami pasien kanker payudara
pasca pembedahan.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan implikasi dari hasil jurnal terhadap dunia
keperawatan, khususnya di Indonesia.
BAB II
RESUME JURNAL

ABTRAK
A. Latar belakang
Lymphedema adalah pembengkakan jaringan limfa yang disebabkan
oleh sumbatan atau absen aliran limfa. Lymphadema juga merupakan
komplikasi umum dari pembedahan axillary karena kanker payudara. Insiden
dari lymphadema pada 12 bulan setelah operasi kanker payudara sekitar 12% -
26%. Lymphadema dapat menyebabkan ketidak nyamanan fisik, kehilangan
fungsi limfatik, dan distres psikologis.

B. Metode
Penelitian ini melakukan tinjauan secara sistematis dan meta analisis
dari RCT untuk mengevaluasi keefektifan MLD pada pencegahan dan
perawatan kanker payudara berhubungan dengan lymphedemma. Tujuan
utamanya adalah mencegah timbulnya lymphedema setelah pembedahan.
Tujuan manajemen lymphedema adalah pengurangan pada volume edema.
C. Hasil
Secara keseluruhan, 10 RCTs dengan 566 pasien teridentifikasi. Dua
evaluasi penelitian tujuan pencegahan dari MLD ditemukan tidak ada
perbedaan yang signifikan pada timbulnya limphedema diantara MLD dan
grup perlakuan biasa, dengan rasio resiko 0.63 dan 95% interval kepercayaan
(CI) dari 0.14 sampai 2.82. Tujuh penelitian menilai pengurangan pada
volume lengan dan ditemukan perbedaan antara MLD dan grup dengan
perlakuan biasa tidak signifikan, dengan perbedaan berat rata rata 75.12
(95%CI 9,34 to 159.58).

D. Kesimpulan
Bukti terbaru dari RCTs tidak mendukung penggunaan MLD
dalam mencegah atau pengobatan limfadema. Bagaimanapun juga
ketidakkonsistenan hasil klinis dan statistik diantara berbagai penelitian
mengacaukan hasil efek dari MLD pada kanker payudara yang disertai
limfadema.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Analisis Jurnal
Kanker payudara adalah gangguan dalam pertumbuhan sel normal
mammae dimana sel abnormal timbul dari sel sel normal, berkembang biak
dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah (Carpenito, 2000).
Penanganan dari kanker payudara menggunakan mastektomi yaitu tindakan
pembedahan kanker payudara dengan pengangkatan tumor atau nodus yang
terkena. Tujuan utama mastektomi adalah menyingkirkan adanya kanker
lokal. Mastektomi memiliki komplikasi potensial yaitu limpadema.
Limpadema didefinisikan sebagai bengkaknya jaringan resisten yang
disebabkan oleh tertahannya atau hilangnya drainage limfa. Teknik
pembedahan terdahulu untuk pengobatan limpadema ditujukan untuk
mengurangi volume otot menggunakan pendekatan debulking. Kebanyakan
pasien dengan limphadema memilih pengobatan non bedah seperti
penggunaan stoking elastic terutama pada fase awal limphadema.
Manual lymphatic drainage (MLD) adalah metode drainage limfatik
yang melibatkan telapak tangan dengan menggunakan semua jari-jari untuk
menstimulasi gerakan seperti gelombang. Hasilnya termasuk menguraangi
edema jenis tertentu. Pada MLD tekhnik pemompaan yang terspesialisasi
digunakan untuk pemijatan area afektif,lembut dan berirama dan peningkatan
aliran getah bening seluruh tubuh. Pada MLD berfokus pada pengeringan
kelebihan kelenjar getah bening. Pemijatan kulit secara perlahan
mengakibatkan kontraksi limfatik supefisial, dengan demikian terjadi
peningkatan drainase limfa. MLD diluaskan sampai leher dan tubuh bagian
didepan dan belakang, dan tangan yang bengkak. Satu penelitian tidak
mendescripsikan secara penuh metode MLD yang digunakan. Tambahan
penggunaan lengan baju atau kompresi sarung tangan. Terapi standar juga
termasuk informasi pendidikan dan rekomendasi pada limfoedema, intruksi
latihan fisik untuk meningkatkan aliran limpa, pendidikan perawatan kulit,
dan tindakan keselamatan.
Pathway Manual Lympathik Drainage
Limphadema pembuluh getah bening berkumpul di jaringan ektravaskuler
manual limphatik drainage vasokontriksi pembuluh darah limphatik
pplasma darah kembali ke intravaskular peningkatan aliran getah bening
limphadema berkurang.
Dalam analisa menunjukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan
antara 2 kelompok perlakuan Menurut Didem et all (2005) pada kelompok
tersebut, limfoedema yang dialami lebih menurun pada kelompok yang diberi
perlakuan MLD dibanding dengan kelompok yang diberi perlakuan
fisioterapi standar. Pada penelitian Badger et all, efek MLD pada pasien
dengan post mastektomi dibandingkan dengan terapi kompresi perban
menunjukan bahwa lebih efektif dalam perawatan limfoedema. Badger et al
juga melakukan RCTs untuk membandingkan kompresi perban selama 18
hari diikuti oleh kompresi kain (kelompok perlakuan) dibandingkan dengan
yang hanya dengan kompresi kain (kelompok pembanding). Hal ini
menunjukan penurunan yang signifikan pada 24 minggu pada kelompok
perlakuan.
Szolnoky et al (2009) menyelidiki kombinasi pengobatan IPC dan
MLD meningkatkan hasil pengobatan dan penurunan volume limfadema pada
wanita post operasi ca mammae. Dua penelitian membandingkan MLD
dengan SLD dalam pngobatan kanker payudara yang berhubungan dengan
lifadema. MLD dan SLD melibatkan memiliki prinsip yang sama. Hasil
kedua penelitian menunjukan bahwa MLD secara signifikan mengurangi
kelebihan volume limb dibandingan dengan SLD. Dari 10 penelitian RCT
hanya 2 yang diselidiki efek MLD mencegah limfadema pada post operasi ca
mammae.
Devoogdt et all (2011), mengevaluasi penggunaan MLD dalam
kombinasi dengan terapi olahraga selama 6bulan untuk mencegah limfadema
pada 160 sample dengan ca mammae dan pemotongan nodus limfa pada satu
aksilari hasilnya menunjukan tidak ada perbedaan signifikan pada
pencegahan limfadema diantara dua kelompok. Sebaliknya Torrest Lacomba
et all (2010), menggunakan MLD pijat jaringan scar dan latihan bahu pada
pasien post operasi ca mammae, sedangkan kelompok kontrol hanya
menerima instruksi petunjuk untuk pencegahan limfadema, Torrest et all
(2010), menemukan perbedaan yang signifikan pada limfadema sekunder
diantara kelompok post operasi ca mammae.
Jadi hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan MLD untuk
kompresi dan terapi latihan untuk pengobatan lymphedema setelah diseksi
nodus aksila untuk kanker payudara tidak menghasilkan penurunan yang
signifikan dari volume lengan yang terkena kanker. Hal tersebut disebabkan
karena adanya variabel penelitian yang tidak sama yaitu, teknik, durasi dan
frekuensi MLD berbeda diseluruh penelitian. Kemudian pengalaman
psikoterapi dan karakteristik dari individu mempengaruhi hasil klinis,
contohnya pada penelitian yang dilakukan oleh Sitzia et all (2002), lebih tua
dibandingkan percobaan yang kami tinjau. Selanjutnya, strategi kompresi dan
latihan juga berbeda diantara penelitian contohnya kelompok kontrol pada
penelitian yang dilakukan oleh Torrest Lacomba et all (2010), hanya
menerima petunjuk pendidikan. Serta metode yang digunakan untuk
mengevaluasi pengurangan volume lengan juga berbeda diantara penelitian.
Sedangkan menurut jurnal Efficacy manual lymphatic drainage in
preventing secondary lymphadema after breast cancer surgery . MLD
diberikan 10 kali pada 2 minggu pertama, 2 kali seminggu dari hari ke 14
sampai dengan 6 bulan stelah operasi. Caranya dengan melakukan massage
seluuh sisi ektremitas atas yang mengalami edema dimulai dari dasar leher
sampai ke bagian yang edema. Urutan massage dari lengan atas ke aksila dan
seluruh ektremitas atas dari distal ke proksimal. setelah 6 bulan diberikan
perawatan pada wanita yang tidak diberi perawatan MLD terjadi peningkatan
volume lengan yang signifikan setlah pembedahan. Setelah 3 bulan post
pembedahan kelompok yang tidak dieri perawatan MLD mengalami
peningkatan pembesaran lengan sekitar 6 % dan meningkat hingga 10%
setelah 6 bulan, hal ini tidak terjadi pada kelompok yang diberi perawatan
MLD. Hasil uji coba ANNOVA menunjukan adanya hubungan yang sangat
signifikan antara MLD dengan liphadema pada lengan selama 3 dan 6 bulan
post operasi (p= 0,0024) dan p= 0,0001). Hasil ini tidak dipengaruhi jenis
pembedahan maupun radioterapi yang juga diberikan pada sample.

B. Implikasi keperawatan
Adapun implikasi keperawatan yang dapat diterapkan yaitu:
a. Bagi keperawatan
MLD dapat digunakan untuk mengurangi limfadema jika dikombinasikan
dengan IPC (Intermitten Pneumatic Compression). Menurut penelitian
Szolnolky et al (2009), membuktikan bahwa MLD yang dikombinasikan
dengan IPC secara signifikan mengurangi kelebihan volume limfadema.
Selain itu menurut penelitian Basuki dan Sadono (2009), MLD juga dapat
mengurangi edema akibat fraktur tulang paha yang dipasang fiksasi
internal
b. Bagi pendidikan
MLD (Manual Lymphatic Drainage) dapat dijadikan bahan untuk
penelitian selanjutnya.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penanganan dari kanker payudara menggunakan mastektomi yaitu
tindakan pembedahan kanker payudara dengan pengangkatan tumor atau
nodus yang terkena. Teknik pembedahan terdahulu untuk pengobatan
limpadema ditujukan untuk mengurangi volume otot menggunakan
pendekatan debulking. Kebanyakan pasien dengan limphadema memilih
pengobatan non bedah seperti penggunaan stoking elastic terutama pada fase
awal limphadema. Secara keseluruhan, 10 RCTs dengan 566 pasien
teridentifikasi. Dua evaluasi penelitian tujuan pencegahan dari MLD
ditemukan tidak ada perbedaan yang signifikan pada timbulnya limphedema
diantara MLD dan grup perlakuan biasa, dengan rasio resiko 0.63 dan 95%
interval kepercayaan (CI) dari 0.14 sampai 2.82. Tujuh penelitian menilai
pengurangan pada volume lengan dan ditemukan perbedaan antara MLD dan
grup dengan perlakuan biasa tidak signifikan, dengan perbedaan berat rata
rata 75.12 (95%CI 9,34 to 159.58). Adapun implikasi keperawatan yang
dapat diterapkan, yaitu MLD (Manual Lymphatic Drainage), SLD (Simple
Lymphatic Drainage), IPC (intermiten pneumatic compression), dan MLLB
(Multi-layer Lymphoedema Bandaging).

B. Saran
Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai perawatan
manual limfatik drainase untuk mengatasi limfedema pada pasien post operasi
kanker payudara agar dapat diterapkan di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Badger CM, Peacock JL, Mortimer PS: A randomized, controlled, parallel group
clinical trial comparing multilayer bandaging followed by hosiery versus
hosiery alone in the treatment of patients with lymphedema of the limb.
Cancer 2000, 88:2832-2837.
Basuki dan Sadono.2009. Manfaat Manual lymph drainage vodder untuk
mengurangi udem pada fraktur tulang paha dengan fiksasi internal. Jurnal
fisioterapi volume 9 nomor 1. Surakarta : Poltekes Surakarta.
Capernito, L. J. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC.
Devoogdt N, Christiaens MR, Geraerts l, Truijen S, Smeets A, Leunen K,
Neven P, Van Kampen M: Effect of manual lymph drainage in addition to
guidelines and exercise therapy on arm lymphoedema related to breast
cancer: randomised controlled trial. BMJ 2011,343:d5326
Didem K, Ufuk YS, Serdar S, Zumre A: The comparison of two different
physyotherapy methods in treatment of lymphedema after breast surgery.
Breast Cancer Res Treat 2005, 93:49-54.
Gibbs, C. R., Jackson, G. & Lip, G.Y.H. (2000). ABC of Heart Failure: Non Drug
Management. BMJ, 320, 366-369.
Hawari, Dadang. (2004). Kanker Payudara Dalam: Kanker Payudara Dimensi
Psikologi. Jakarta: FKUI.
Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. (2015). Stop Kanker. Jakarta:
Departemen Kesehatan.
Sitzia J, Sobrido L, Harow W: Manual lymphatic drainage compared with simple
lympatic drainage in the treatment of post-mastectomy
lymphoedema.Physioterapy 2002, 88-99-107.
Smeltzer, Suzanne C. & Bare, B. G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta: EGC.
Szolnoky G, Lakatos B, Keskeny T, Varga E, Varga M, Dobozy A, Kemeny L:
Intermittent pneumatic compression acts synergistycally with manual
lymphatic drainage in complex decongestiv physiotherapy for breast cancer
treatment-related lymphedema.Lymphology 2009,42:188-194.
Torres Lacomba M, Yuste Sanchez MJ, Zapico Goni A, Prieto Merino D, Mayoral
del Moral O, Cerezo Tellez E, Minayo Mogollon E: Effectiveness of early
physiotherapy to prevent lymphoedema after surgery for breast cancer:
randomised, single blinded, clinical trial. BMJ 2010. 340:b5396