Anda di halaman 1dari 27

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Infeksi merupakan proses invasif oleh organisme dan berproliferasi di dalam tubuh
sehingga menimbulkan penyakit (Potter & Perry, 2005). Sedangkan infeksi kulit
merupakan suatu penyakit yang ditimbulkan karena suatu bakteri/kuman, virus, jamur.

2.1.1 Infeksi Bakteri (Pioderma)

Infeksi bakteri pada kulit bisa primer atau sekunder. Infeksi kulit primer berawal dari
kulit yang sebelumnya tampak normal dan biasanya infeksi ini disebabkan oleh satu
macam mikroorganisme. Infeksi kulit sekunder terjadi akibat kelainan kulit yang sudah
ada sebelumnya atau akibat disrupsi keutuhan kulit karena cedera atau pembedahan. Pada
kedua keadan ini, beberapa jenis mikroorganisme dapat terlibat, misalnya Staphylococcus
aureus atau streptokus grup A. Infeksi bakteri primer yang paling sering terjadi, antara
lain:

1. Impetigo bulosa. Merupakan infeksi superfisial kulit yang disebabkan oleh


Staphylococcus aureus, ditandai oleh pembentukan bula dari vesikel asalnya. Bula
tersebut mengalami ruptur dan meninggalkan lesi yang merah serta basah.
2. Folikulitis. Merupakan infeksi stafilokokus yang timbul dalam folikel rambut.
Lesi bisa bersifat superfisial atau dalam. Sering terlihat pada daerah dagu
laki0laki yang mencukur janggutnya dan pada tungkai wanita.
3. Pseudofolikulitis barbae (shaving bumps). Merupakan reaksi inflamasi wajah
pada laki-laki berambut keriting yang terjadi akrena pertumbuhan rambut ke
dalam yang menusuk kulit dan memicu reaksi iritatif.
4. Furunkel (bisul). Merupakan inflamasi kulit akut yang timbul dalam satu atau
lebih folikel rambut dan menyebar ke lapisan dermis sekitarnya. Lebih sering
terjadi pada daerah yang mengalami iritasi, seperti: posterior leher, aksila atau
pantat (gluteus).
5. Karbunkel. Merupakan abses pada kulit dan jaringan subkutan yang
menggambarkan perluasaan sebuah furunkel yang telah menginvasi beberapa
buah folikel rambut. Karbunkel paling sering ditemukan pada daerah yang
kulitnya tebal dan tidak elastis.

2.1.2 Infeksi Virus

Infeksi yang paling sering terjadi adalah Herpes zoster. Herpes zoster merupakan
kelainan inflamatorik viral di mana virus penyebabnya menimbulkan erupsi vesikuler
yang nyeri di sepanjang distribusi saraf sensorik dari satu atau lebih ganglion posterior.
2.1.3 Infeksi Mikotik (Fungus)

Fungus (jamur) yang merupakan anggota dunia tanaman yang berukuran kecil dan makan
dari bahan organik, merupakan penyebab berbagai jenis infeksi kulit yang sering
ditemukan, antara lain

1. Tinea pedis (jamur kaki/athletes foot). Merupakan infeksi jamur yang paling
sering ditemukan. Infeksi ini sering menjangkiti para remaja dan dewasa muda
kendati dapat terjadi pada setiap kelompok usia serta kedua jenis kelamin.
2. Tinea korporis (penyakit jamur badan). Menjangkiti bagian muka, leher, batang
tubuh dan ekstremitas. Pada bagian yg terinfeksi akan tampak lesi berbentuk
cincin atau lingkaran yang khas.
3. Tinea kapitis (penyakit jamur kulit kepala). Merupakan infeksi jamur menular
yang menyerang batang rambut dan penyebab kerontokan rambut yangs ering
ditemukan di antara anak-anak.
4. Tinea kruris (penyakit jamur lipat paha). Merupakan infeksi jamur pada lipat paha
yang meluas ke paha bagian dalam dan pantat.paling sering terjadi pada pelari
yang berusia muda, orang-orang yang gemuk dan yang mengenakan pakaian
dalam terlalu ketat.
5. Tinea unguiun (onikomikosis). Merupakan infeksi jamur yang kronis pada kuku
jari kaki atau kuku jari tangan. Biasanya disertai dengan infeksi jamur yang lama
pada kaki.

2.2 Etiologi dan manifestasi

2.2.1 Infeksi Bakteri

Terdapat berbagai macam bakteri yang dapat menyebabkan penyakit pada tubuh
manusia.Infeksi bakteri dapat ditularkan melalui udara, air, tanah, makanan, cairan dan
jaringan tubuh serta benda mati. Bakteri pathogen memiliki kemampuan untuk
menularkan, melekat dan menginvasi ke sel inang, toksikasi, serta mampu mengelabuhi
sistem imun, beberapa memiliki gejala dan beberpa lagi asimptomatik. Beberapa bakteri
yang dapat menyebabkan infeksi antara lain.

1. Infeksi bakteri Streptokokus

Bakteri ini dapat menyebabkan beberapa infeksi antara lain

1) Selulitis

Infeksi bakteri pada jaringan subkutan yang pada orang orang normal biasanya
disebabkan oleh Streptococcus pyrogenes. Erisepelas adalah istilah yang digunakan untuk
selulitis superfisial dimana tepinya berbatas tegas. vPada orang dengan penurunan
imunitas berbagai bakteri mungkin dapat menyebabkan selulitis. Pintu masuk penyebab
selulitis dapat berupa luka lecet ringan, ulkus pada tungkai, atau bahkan retakan pada
tinea pedis.

Manifestasi yang ditimbulkan berupa kemerahan, terasa panas, dan bengkak, serta terjadi
pelepuhan pelepuhan dan daerah nekrosis. Klien menjadi demam, merasa tidak enak
badan, terjadi kekakuan, bila menyerang orang tua dapat terjadi penurunan kesadaran.

Gambar 1. Selulitis

Sumber : Dermatologi Ed. 8

1. Infeksi Haemophilus Influenzae

Bakteri ini merupakan penyebab penting selulitis superfisial sekunder pada anak yang
sering berhubungan dengan otitis media ipsilateral.

1. Infeksi bakteri Stafilokokus

1) Folikulitis

Infeksi pada bagian superfisial dari folikel rambut oleh Staphylococcus aureus
menimbulkan pustula kecil dengan dasar yang kemerahanpada tengah tengah folikel.

2) Furunkulosis (bisul)

Infeksi dalam folikel rambut yang disebabkan oleh S. Aureus. Manifestasinya berupa
timbul abses yang nyeri pada tempat infeksi dan sesudah beberapa hari terjadi fluktuasi
dan titik-titik yang merupakan pusat pustula. Begitu inti di bagian tengah nekrosis hancur,
lesi akan menghilang secara bertahap.

3) Karbunkel

Infeksi yang dalam oleh S. Aureus pada sekelompok folikel rambut yang berdekatan.

Manifestasi awal yang muncul adalah lesi berbentuk kubah yang lunak serta kemerahan,
setelah beberapa hari terjadi supurasi dan nanah keluar dari muara- muara folikel.

4) Impetigo

Infeksi superfisial yang menular yang mempunyai dua bentuk klinis,yaitu nonbulosa dan
bolusa. Impetigo disebabkan oleh Streptokokus dan S. Aureus.

Manifestasinya berupa lesi yang dapat timbul dimana saja. Pada impetigo nonbulosa lesi
awal berupa pustula kecil, kemudian pecah dengan memperluas daerah eksudasi dan
terbentuk krusta yang akan lepas dan meninggalkan daerah kemerahan. Sedangkan pada
impetigo bulosa timbul lepuhan lepuhan besar dan superfisial. Ketika lepuhan besar
tersebut pecah akan terjadi eksudasi dan terbentuk krusta, dan stratum korneum pada
bagian tepi lesi akan mengelupas kembali.

Gambar 2. Impetigo

Sumber : Dermatologi Ed. 8

2.2.2 Infeksi Virus

Virus memiliki asam nukleat, karena hal ini virus harus hidup dalam inangnya. Virus
dapat menyebabkan penyakit apabila mengadakan kontak dengan sel yang rentan,
bereplikasi, dan menyebabkan kerusakan sel. Beberapa virus yang dapat menyebabkan
penyakit antara lain:

1. Virus Varicella Zoster menyebabkan Varicella Zoster (Cacar Air).

Manifestasi yang muncul antara lain.

1) Gejala Prodromal

Keluhan biasanya diawali dengan gejala prodromal yang dapat berlangsung selama 1-4
hari berupa nyeri pada daerah dermatom yang akan timbul lesi. Nyeri bersifat segmental
dan dapat berlangsung terus-menerus atau sebagai serangan yang hilang timbul. Keluhan
bervariasi dari rasa gatal, kesemutan, panas, pedih, nyeri tekan, hiperestesi sampai rasa
ditusuk-tusuk.

2) Gejala konstitusi juga merupakan gejala prodromal berupa malaise, sefalgia,


rangsang meningeal dan nausea, yang biasanya akan menghilang setelah erupsi kulit
timbul. Kadang-kadang terjadi limfadenopati regional.

3) Erupsi kulit

Erupsi kulit hampir selalu unilateral dan biasanya terbatas pada daerah yang dipersarafi
oleh satu ganglion sensorik. Erupsi dapat terjadi di seluruh bagian tubuh, yang tersering
di daerah ganglion torakalis. Lesi dimulai dengan makula eritroskuamosa, kemudian
terbentuk papul-papul dan dalam waktu 12-24 jam lesi berkembang menjadi vesikel.
Pada hari ketiga berubah menjadi pustul yang akan mengering menjadi krusta dalam 7-
10 hari. Krusta dapat bertahan sampai 2-3 minggu kemudian mengelupas. Pada saat ini
biasanya nyeri segmental juga menghilang.
Lesi baru dapat terus muncul sampai hari keempat dan kadang-kadang sampai hari
ketujuh. Erupsi kulit yang berat dapat meninggalkan makula hiperpigmentasi dan
jaringan parut (pitted scar)

Gambar 3. Erupsi Kulit

Sumber : Dermatologi Ed. 8

1. Human Papylomavirus (HPV)

1) Kutil (Wart)

Merupakan neoplasma jinak epidermis.

2) Kutil biasa (common wart)

Penampakannya seperti tonjolan kembang kol tertama paada telapak tangan. Kutil ini
dapat berkemlompok di sekitar kuku. Kutil ini banyak menyerang anak-anak dan dapat
sembuh secara spontan.

3) Kutil telapak kaki (plantar wart)

4) Kutil datar (plane wart)

Kutil datar

5) Kutil kelamin (kandilomata akuminata)

Gambar 4. Kutil Kelamin

Sumber : Dermatologi Ed. 8

1. Poxvirus

1) Moluskum Kontagiosum

Manifestasi yang ditunjukkan seperti mutiara, papula merah mudah dengan umbilikasi
sentral yang berisi sumbat keratin. Lesi dapat timbul di seluruh bagian tubuh, namun
paling sering ditemukan di kepala,leher, dan badan. Lesi dapa juga disertai dengan reaksi
eksema ringan di sekelilingnya. Moluskum kontagiosum dapat sembuh secara spontan
pada bayi dan anak-anak.

Gambar 5. Moluskum Kontagiosum

Sumber : Dermatologi Ed. 8

2) Orf

Penyakit pada domba yang dapat ditularkan pada manusia. Penyakit ini disebabkan oleh
parapoxvirus.

Manifestasinya berupa papula yang meradang dan soliter dan dengan cepat berkembang
menjadi nodul dari jaringan yang bergranulasi yang biasanya timbul pada jari walaupun
kadang juga di wajah.

1. Herpes Virus Hominis (HSH)

HSV tipe 1 menyebabkan herpes simpleks primer

Manifestasinya lesi timbul ringan biasanya tidak diperhatikan. Kadang dapat timbul
gingivostomatitis dengan erosi yang terasa nyeri pada mukosa pipi dan bibir.

2.2.3 Infeksi Jamur

Jamur yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia antara lain:

1. Dermatophyte

Jamur ini menyebabkan kelainan yang disebut dengan infeksi ringworm

1) Tinea pedis (atheles foot)

Manfestasinya berupa rasa gatal pada sela sela jari kaki yang berskuama terutama pada
diantara jari ketiga dengan keempat dan keempat dengan kelima atau telapak kaki.
Gambar 6. Tinea pedis

Sumber : Dermatologi Ed. 8

2) Tinea Kruris

Lebih sering menyerang laki-laki. Manifestasinya tepi eritematosa yang berskuama yang
meluas menjadi plak sirkuler dengan tepi vesikuler atau bersisik yang menonjol.

Gambar 7. Tinea Kruris

Sumber : Dermatologi Ed. 8

3) Tinea korporis (jamur badan)

Manifestainya secara khas memiliki tepi yang meradang dan bagian tengahnya bersih.
Paling sering ditemukan adalah bentuk eritema anulare.

4) Tinea unguium

Lebih sering dijumpai pada kuku jari kaki. Berkaitan dengan infeksi jamurynag lama.
Kuku jari menebal mudah menggumpal. Seluruh kuku dapat dihancurkan.

5) Tinea kapitis

Menular pada tangkai rambut sering dijumpai pada anak-anak. Bercak-bercak bundar
kemerahan dengan pembentukan skuama. Pustule atau pupula kecil pada bagian tepi lesi.
Rambut menjadi rapuh dan mudah patah pada permukaan kulit kepala.

1. Candida albicans

Candida albicans hanya akan menjadi patogenik bila terdapat situasi yang memungkinkan
untuk terjadinya multiplikasi. Termasuk diantaranya adalah pemakaian steroid sistemik
maupun topikal., terjadinya penurunan imunitas karena sebab apapun. Adapun penyakit
yang disebabkan oleh jamur candida albicans antara lain :

1) Kandidiasis mukosa pipi

Berupa plak tebal seperti kepala susu,berwarna putih, dan melekat pada mukosa pipi.

2) Keilitis angular
Peradangan yang terdapat pada sudut mulut.

3) Paranikia kronis

Penebalan dan peradangan kronis pada lipatan kuku proximal disertai dengan hilangnya
kutikula

Gambar 8. Paranikia Kronis

Sumber : Dermatologi Ed. 8

4) Balanitis / vulvovaginitis

Terdapat bercak-bercak kecil berwarna putih atau daerah yang mengalami erosi pada kulit
ujung penis atau glans penis pada orang yang tidak disunat.

5) Intertrigo

Terdapat pustula pustula satelit berbentuk seperti krim pada bagian tepi daerah yang
terkena. Pustula ini mudah pecah meninggalkan suatu kolaret skuama. Penampakan
khasnya yakni bagian tepi intertrigo seperti kerang.

2.3 Patofisiologi

2.3.1 Patofisiologi Infeksi Bakteri

Infeksi bakteri terjadi ketika terdapat inokulum bakteri yang jumlahnya mencapai
100.000 organisme per ml eksudat, atau per gram jaringan, atau per mm2 daerah
permukaan. Itu kemudian ditunjang dengan lingkungan yang rentan terhadap bakteri
seperti air, elektrolit, karbohidrat, hasil pencernaan protein, dan darah. Hilangnya
resistensi pejamu terhadap infeksi (sawar fisik yang terganggu, respon
biokimiawi/humoral yang menurun, respon selular yang menurun).

Bakteri menimbulkan beberapa efek sakitnya dengan melepaskan senyawa berikut:

1. Enzim : Hemolisin, Streptokinase, Hialuronidase


2. Eksotoksin : Tetanus, Difteri yang dilepaskan bakteri intak gram positif
3. Endotoksin : Lipopolisakaridase (LPS) dilepaskan dari dinding sel saat
kematian bakteri

Setelah kulit terpapar bakteri, timbul respon inflamasi seperti rubor (kemerahan), tumor
(pembengkakan), dolor (nyeri), dan kalor (panas). Setelah itu rekasi inflamasinya
menetap, sedangkan infeksinya menghilang. Infeksi kemudian menyebar melalui
beberapa cara: (1) langsung ke jaringan sekitar; (2) sepanjang daerah jaringan; (3)
melalui sistem limfatik; dan (4) melalui aliran darah. Setelah infeksi menyebar, muncul
abses. Abses ini merupakan respon kekebalan tubuh terhadap infeksi yang muncul. Jika
dirawat dengan baik, akan muncul jaringan granulasi, fibrosis, dan jaringan parut. Namun
jika tidak ditangani secara baik, akan menyebabkan infeksi kronis, yakni menetapnya
organisme pada jaringan yang menyebabkan respon inflamasi kronis (Pierce & Borley,
2007)

2.3.2 Patofisiologi Infeksi Virus

Ada banyak virus yang dapat menyebabkan infeksi, salah satunya adalah Human
Papiloma Virus (HPV). HPV dapat bereplikasi pada sel-sel epidermis dan menular
kepada orang yang tidak memiliki imunitas spesifik terhadap dirinya. Keberadaan virus
ini menyebabkan munculnya Veruka vulgaris atau kutil yang kasar pada badan, tungkai,
tangan, lengan, genitalia, bahkan membran mukosa mulut (Price dkk., 2005).
Kemunculan kutil disebabkan oleh replikasi di dalam sel-sel epidermis dengan
menimbulkan penebalan yang tidak teratur pada stratum korneum di daerah yang
terinfeksi. Individu yang kehilangan imunitas yang spesifik terhadap virus sangat mudah
mengalami infeksi oleh virus tersebut (Kowalak dkk, 2011)

2.3.3 Patofisiologi Infeksi Jamur

Infeksi jamur dapat dialami orang yang terpajan pada keadaan apa pun dalam hidupnya.
Faktor predisposisi infeksi ini dapat terjadi tanpa alasan yang jelas. Tetapi seringkali
orang terpajan akibat lingkungan atau perilakunya. Sebagai contoh, seorang atlet dapat
terinfeksi jamur yang tumbuh di loker dari keringat dan mandi yang sering. Selain itu
juga terjadi pada orang yang mengalami penurunan fungsi imun, misalnya pasien
diabetes, wanita hamil, dan bayi. Mereka yang menderita imunodefisiensi berat, termasuk
pengidap AIDS, berisiko mengalami infeksi jamur yang kronik dan berat. Pada
kenyataannya, infeksi ragzi pada vagina atau mulut seringkali merupakan infeksi
oportunistik yang ditemukan pada para pengidap HIV. Pasien dengan infeksi jamur
kronik harus dievaluasi untuk mencari diabetes melitus dan AIDS.

Pengobatan dengan antibiotik untuk infeksi bakteri dapat membunuh bakteri vagina
normal yang biasanya berada dalam keseimbangan dengan ragi vagina. Hal ini dapat
menimbulkan infeksi ragi pada vagina wanita atau perempuan muda.
2.4 WOC (terlampir)

2.5 Pemeriksaan Diagnostik

Hal-hal pokok dalam pemeriksaan integument yang baik adalah:

1. Lokasi dan/atau dari kelainan yang ada


2. Karekteristik dari setiap lesi
3. Pemeriksaan lokasi-lokasi sekunder
4. Teknik-teknik pemeriksaan khusus

1. Lampu Wood

Merupakan sumber sinar ultraviolet yang difilter dengan nikel oksida, digunakan untuk
memperjelas tiga gambaran penyakit kulit:

1. Organisme tertentu penyebab bercak-bercak jamur (ringworm) pada kulit kepala


memberikan fluoresensi hijau (berguna untuk menentukan diagnosis awal dan
membantu dalam memantau terapi).
2. Organisme yang berperan dalam terjadinya eritrasma memberikan fluoresensi
merah terang.
3. Beberapa kelainan pigmen lebih jelas terlihat, terutama bercak-bercak pucat pada
sklerosis tuberose, dan tanda caf-au-lait pada neurofibromatosa.

1. Kerokan/Guntingan

Bahan-bahan dari kulit, rambut, atau kuku dapat langsung diperiksa dibawah mikroskop
dan/atau dikirim untuk kultur. Hal ini bermanfaat khususnya bila dicurigai adanya infeksi
jamur, atau mencari tungau scabies. Sedikit kerokan pada epidermis akan mengangkat
skuama dari permukaan kulit yang dicurigai.

Skuama tadi ditempatkan pada kaca mikroskop, ditetesi dengan kalium hidroksida (KOH)
10% dan ditutup dengan kaca penutup. Sesudah didiamkan beberapa menit guna
melarutkan membrane sel epidermis, sediaan siap diperiksa. Terhadap guntingan kuku
bisa juga dilakukan dengan hal yang sama, tetapi diperlukan larutan KOH yang lebih
pekat dan waktu yang lebih lama.

Pemeriksaan mikroskopis pada rambut bisa juga memberikan informasi tentang adanya
infeksi jamur, abnormalitas struktur batang rambut pada kelainan genetic tertentu, dan
juga bisa bermanfaat untuk menentukan berbagai penyebab terjadinya kerontokan rambut
yang berlebihan.
Preparat dari kerokan/apusan juga digunakan sebagai alat bantu diagnostic untuk
sitodiagnostik pada lepuhan-lepuhan yang dicurigai disebabkan oleh virus dan pemfigus
dengan menggunakan preparat Tzank yang bisa diperiksa langsung di klinik.

1. Biopsi Kulit

Biopsy kulit merupakan teknik pemeriksaan yang sangat penting untuk menetukan
diagnosis pada banyak kelainan kulit. Kadang-kadang hali ini sangat diperlukan untuk
mendapat kepastian diagnosis klinis sebelum memulai pengobatan. Contoh yang baik
untuk hal ini adalah kanker, kelainan bulosa dan infeksi-infeksi seperti tuberculosis dan
lepra.

Ada dua cara yang biasa digunakan untuk memperoleh sampel kulit untuk pemeriksaan
laboratorium:

1. Biopsy insisi/eksisi

Tindakan ini membutuhkan sample pemeriksaan yang cukup besar ukurannya dan dapat
juga dipakai untuk mengangkat lesi yang sangat besar.

1. Punch biopsy

Cara ini jauh lebih cepat, namun hanya memperoleh sampel yang kecil dan hanya cocok
untuk biopsy diagnostic atau mengangkat lesi yang kecil.

1. Tes temple

Bila dicurigai terjadi dermatitis kontak alergi, lakukan tes tempel. Pada pemeriksaan ini
alergen yang kemungkinan menjadi penyebab dilarutkan dalam media yang sesuai.

2.6 Penatalaksanaan

2.6.1 Infeksi Bakteri

Jenis Infeksi Penatalaksanaan


Topikal : membersihkan lesi dengan antiseptic. Bila lesi basah, lesi
Impetigo dikompres dengan larutan permanganas kalikus 1/10.000. Bila lesi
kering, olesi dengan salep yang mengandung mupirosin 2%.
Antibiotik topikal lain yang dapat dipakai adalah asam fusidat dan
gentamisin

Sistemik : obat pilihan ialah penisilin V per oral. Dapat juga


diberikan irtromisin, amoksisilin, atau sefalosporin.
Topikal : sama dengan penatalaksanaan pada impetigo.
Impetigo bulosa
Sistemik : oral

Kloksasilin 50-100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-4 dosis.

Dikloksasilin 25-50 mg/kgBB/hari

Floksasilin.
Topikal : jika lesi kering, digunakan salep antibiotik. Jika basah,
Ektima kompres dengan larutan permanganas kalikus 1/10.000.

Sistemik : eritromisin atau sefalosporin atau klindamisin.


Topikal : membersihkan lesi dengan air dan desinfektan.
Folikulitis Memberikan salep atau krim antiniotika.

Sistemik : antibiotik per oral misal ertromisin, klindamisin atau


sefaloseforin.
Lesi permulaan yang belum berfluktuasi dan belum bermata
Furunkel dan dikompres panas dan diberi antibiotik oral (penisilin).
Karbunkel
Jika lesi telah matang dan bermata dilakukan insisi dan drainase.
Antibiotik topikal yang dapat digunakan adalah basitrasin,
neomisin, asam fusidat atau muipirosin.
Topikal : jika lesi basah, kompres dengan permanganas kalikus.
Selulitis Jika kering, olesi krim antibiotik.

Sistemik : berikan antibiotik per oral

2.6.2 Infeksi Virus

Nama infeksi Penatalaksanaan

Herpes simpleks Analgesic dalam dosis yang kuat dalam masa serangan primer.
Kotrimoksazol oral dalam dosis 2x2 tab./hari. Zat pengering
antiseptic seperti Povidoniodine, larutan garam faali, sebagai obat
kompres.
Antibiotik diberikan bila ada infeksi sekunder.
Herpes Zoster
IDU 5-40% dalam 100% DMSO (dimetilsulfoksid) dipakai secara
topikal.

Lokal : diberi bedak (lasio kalamin)

Varisela Untuk panasnya dapat diberikan asetosal atau antipiretik lain.


Antihistamin oral diberikan bila ada gatal. Secara topikal diberikan
bedak (losio kalamin). Istirahat dan tirah baring.

Veruka Bedah listrik dengan anestesi local, memakai bahan kaustik seperti
larutan perak nitrat 25%, TCA (trichlor acetic acid) jenuh dan fenol
likuefaktum. Bedak scalpel (ekstirpasi) atau bedah beku (CO2, N2,
N2O)

Kandiloma Penutupan lesi dengan tingtura podofilin 25%, daerah sekitarnya


Akuminata sebelumnya dilindungi dulu dengan Vaseline untuk menghindari
iritasi. Pilihan lain adalah memakai krem 5-fluorourasil, bedah
listrik, bedah eksisi, atau bedah beku.

2.6.3 Infeksi Jamur

Nama infeksi Penatalaksanaan

Tinea Pedis Fase akut (vesikuler) dilakukan perendaman bagian yang sakit
(penyakit jamur dengan larutan salin Burowi atau kalium permanganate.
kaki; Athletes Preparat antifungus topikal (mikonazol, klotrimazol) dioleskan
foot;kutu air) pada daerah yang terinfeksi.

Tinea Korporis Preparat griseofulvin oral diberikan pada kasus infeksi jamur
(penyakit jamur yang luas. Ketokonazol dapat diberikan pada kondisi kronis,
badan) termasuk pasien yag resisten terhadap griseofulvin.

Tinea Kapitis Diberikan griseofulvin dan keramas 2-3 kali/minggu (sampo


(penyakit jamur Excel, selsun)
kulit kepala)
Infeksi ringan : preparat topikal seperti klotrimazol, mikonazol
Tinea Kruris atau haloprogin selama 3-4 minggu.
(penyakit jamur
lipat paha) Infeksi berat : preparat griseofulvin oral.

Tinea Unguium Griseofulvin oral selama 6 bulan-1 tahun kalau kuku jari ikut
(Onikomikosis) terkena. Losion amfoterisin B, mikonizol, klotrimazol, nistatin
(jika disebabkan oleh Candida albicans)

2.7 Komplikasi

2.7.1 Infeksi Bakteri

Pada kasus folikulitis, furunkel dan karbunkel dapat menyebabkan terjadinya


pembentukan jaringan parut, bakteremia atau selulitis, dan penyebaran kuman yang
meluas dapat menyebabkan cacat pada katup jantung atau arthritis pada persendian.
Selulitis sendiri juga bisa mengarah pada terjadinya sepsis (selulitis yang tidak diobati)
dan juga penyebaran meluas ke lebih banyak jaringan tubuh. Selulitis pada ekstremitas
bawah lebih besar kemungkinan menjadi tromboflebitis pada pasien lansia.

2.7.2 Infeksi Virus

Herpes zoster tidak menimbulkan komplikasi pada kebanyakan orang. Bila timbul
komplikasi, hal-hal berikut dapat terjadi adalah sebagai berikut :

1. Neuralgia Pasca Herpes

Merupakan komplikasi yang paling umum. Merupakan nyeri di daerah kulit yang
dipersarafi oleh saraf yang terkena herpes zoster. Nyeri ini bisa menetap selama beberapa
bulan atau beberapa tahun setelah terjadinya herpes zoster. Nyeri bisa dirasakan terus
menerus atau hilang-timbul dan bisa semakin memburuk pada malam hari atau jika
terkena panas maupun dingin.

1. Herpes zoster pada mata dapat menyebabkan peradangan sebagian atau seluruh
bagian mata yang mengancam penglihatan.
2. Kelemahan otot

2.7.3 Infeksi Jamur

1. Infeksi jamur yang dalam (internal) dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas
yang bermakna.
2. Muncul jaringan parut kulit atau alopesia (rambut rontok) akibat tinea kapitis.
3. Kadang-kadang, saraf yang terkena dampak adalah saraf motorik dan saraf
sensorik yang sensitif. Hal ini dapat menimbulkan kelemahan (palsy) pada otot-
otot yang dikontrol oleh saraf yang terkena.
4. Komplikasi lain seperti infeksi otak oleh virus varisela-zoster atau penyebaran
virus ke seluruh tubuh. Ini adalah komplikasi yang sangat serius tapi jarang
terjadi.
2.8 Prognosis

Apabila ditangani dengan cara yang tepat, prognosis infeksi ini biasanya cukup baik.
Pasien dengan faktor kesehatan lain yang turut mempengaruhi, seperti diabetes,
imunodefisiensi, kerusakan sirkulasi, dan neuropati, mempunyai risiko yang lebih besar
untuk terkena infeksi yang berkembang dan meluas. Kesembuhan dari infeksi juga sangat
dipengaruhi oleh hygiene dari pasien.

Prognosis untuk infeksi jamur biasanya baik, infeksi jamur bereaksi baik dengan terapi
obat yang tepat dan segera menghilang.
BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

3.1.1 Anamnesa

1. Identitas/ data demografi

Identitas yang dikaji meliputi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan yang sering terpapar
sinar matahari secara langsung, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan
keluarga, dan keterangan lain mengenai identitas pasien. Keluhan Utama

Nyeri pada kulit dan perubahan bentuk pada kulit

1. Riwayat Penyakit Sekarang

Berisi tentang kapan terjadinya penyakit kulit yang diderita, apakah ada keluhan yang
paling dominan seperti sering gatal/ menggaruk pada area mana, ada lesi pada kulit
penyebab terjadinya penyakit, apa yang dirasakan klien dan apa yang sudah dilakukan
untuk mengatasi sakitnya sampai pasien bertemu perawat yang mengkaji.

1. Riwayat penyakit keluarga

Adanya riwayat penyakit kulit akibat infeksi jamur, virus, atau bakteri

1. Riwayat psikososial
perasaan dan emosi yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta
tanggapan keluarga terhadap penyakit penderita.

3.1.2 Pemeriksaan Fisik Integumen

1. Warna

Pemeriksaan fisik pada infeksi virus biasanya bersifat lokal, lesi menyebar di seluruh
tubuh dimulai suatu vesikula dan akan berkembang lebih banyak di seluruh tubuh.
Setelah 5 hari kebanyakan lesi mengalami krustasi dan lepas. Ciri khas infeksi virus pada
vesikula adalah terdapat bentukan umbilikasi yaitu vesikula di mana bagian tengahnya
cekung didalam.

Pemeriksaan fisik pada infeksi bakteri, ditemukan karakteristik lesi adalah vesikel yang
berkembang menjadi sebuah bula kurang dari 1 cm pada kulit normal, dengan sedikit atau
tidak ada kemerahan disekitarnya. Awalnya vesikel berisi cairan bening yang menjadi
keruh. bula akan pecah, pabila bula pecah akan meninggalkan jaringan parut di pinggiran.

Infeksi jamur : lesi pada bagian muka, leher, ekstremitas, lesi berbentuk cincin atau
lingkaran yang khas dan berbatas tegas terdiri atas eritema, skuama.

1. Kelembapan

Kelembapan kulit yang dikaji adalah tingkat hidrasi kulit terhadap basah dan minyak.
Kelembapan biasa dipengaruhi oleh usia. Semakin tua usia seseorang, kelembapan akan
semakin menurun. Apabila ada infeksi bakteri, virus, dan jamur maka kelembapan akan
cenderung mengering atau basah disekitar lesi.

1. Suhu

Suhu dikaji menggunakan dorsal tangan secara keseluruhan. Dalam keadaan normal
permukaan kulit akan terasa hangat secara keseluruhan. Apabila ada infeksi biasanya
akan memyebabkan hipertermi.

1. Turgor

Turgor adalah elastisitas kulit. Pengkajian fisik bisa dilihat dengan cara mencubit kulit,
berapa lama kulit dan jaringan dibawahnya kembali ke bentuk semula. Angka normal
turgor < 3 detik.

1. Texture

Texture bisa dilihat dengan menekankan ibu jari secara lembut ke daerah kulit. Normal
terasa halus, lembut dan kenyal. Abnormal terasa bengkak atau atrofi.

1. Lesi
Lesi dilihat dimana lokasinya, distribusi, ukuran, warna, adanya drainase.

1. Edema

Edema adalah penumpukan cairan yang berlebih pada jaringan. Pemeriksaan pitting
edema dilakukan pada tibia dan kaki. Yang perlu dikaji dari edema adalah konsistensi,
temperature, bentuk, mobilisasi.

1. Odor

Odor atau bau ditemui apabila ada bakteri pada kulit, infeksi, hygine tidak adekuat.

1. Kuku

Inpeksi : ketebalan, waran, bentuk, tekstur

Palpasi : CRT 3-5 detik.

3.2 Diagnosa keperawatan

1. Nyeri (akut) berhubungan dengan kerusakan saraf perifer


2. Hipertermia berhubungan dengan proses inflamasi.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan struktur lapisan dermis
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan lesi dan perubahan struktur kulit
5. Ansietas berhubungan dengan proses penyakit.

3.3 Intervensi dan Rasional

3.3.1 Nyeri (akut) berhubungan dengan gangguan kenyamanan

Ditandai dengan :

1. Keluhan nyeri pada pasien


2. Perilaku melindungi/distraksi, gelisah, merintih, focus pada diri sendiri, nyeri
wajah, tegangan otot.
3. Respon otonomik.

Tujuan : dalam waktu 1x24 jam nyeri dapat berkurang/hilang atau teradaptasi

Kriteria Hasil :
1. Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi. Skala nyeri
skala 0-5
2. Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri
3. Pasien melaporkan nyeri hilang dengan spasme terkontrol, Pasien tampak rileks,
mampu tidur/istirahat dengan tepat.

Intervensi Rasional
Mandiri

Catat lokasi, lamanya Membantu mengevaluasi


intensitas (skala 0-10) dan tempat obstruksi dan
penyebaran. Perhatikan kemajuan gerakan kalkulus.
tanda non-verbal, contoh Nyeri panggul sering
peningkatan TD dan nadi, menyebar ke punggung,
gelisah, merintih, lipatan paha, genitalia
menggelepar. sehubungan dengan
proksimitas saraf pleksus
dan pembuluh darah yang
menyuplai area lain. Nyeri
tiba-tiba dan hebat dapat
mencetuskan ketakutan,
gelisah, ansietas berat.
Nafas dalam dapat
meningkatkan asupan O2
sehingga menurunkan
sensasi nyeri, sedangkan
pengalihan perhatian dapat
menurunkan stimulus nyeri

Ajarkan teknik relaksasi


nafas dalam dan distraksi
Perawatan kulit dengan baik
akan membuat px nyaman
sehingga mempercepat
penyembuhan dan
mengurangi resiko infeksi

Pengetahuan pasien
terhadap nyeri dapat
membuat pasien lebih patuh
Lakukan perawatan kulit pada pengobatan.
dengan tepat dan baik

Membantu mengurangi
nyeri, Analgesik memblok
stimulus rasa nyeri

Jelaskan penyebab nyeri

Kolaborasi

Berikan obat analgesik

3.3.2 Hipertermia berhubungan dengan proses inflamasi.

Ditandai dengan:

1. Suhu lebih tinggi dari 37,80C per oral atau 38,80C per rectal.
2. Kulit hangat.
3. Takikardia.

Tujuan : dalam waktu 1x24 jam suhu tubuh dapat normal kembali

Kriteria Hasil :

Suhu tubuh normal (36-37 C)


Individu mempertahankan suhu tubuh.dalam rentan normal

Intervensi Rasional
Monitor suhu tubuh pasien

Ajarkan klien pentingnya


mempertahankan asupan cairan
yang adekuat (> 2000 ml/hari
kecuali terdapat kontraindikasi
penyakit jantung atau ginjal)

Pantau asupan dan haluaran pasien.

Kolaborasi pemberian analgesik-


antipiretik
Peningkatan suhu tubuh yang
berkelanjutan pada pasien akan
memberikan komplikasi pada
kondisi penyakit yang lebih parah
dimana efek dari peningkatan
tingakat metabolisme umum dan
dehidrasi akibat hipertermi.
Selain sebagai pemenuhan hidrasi
tubuh, juga akan meningkatkan
pengeluaran panas tubuh melalui
sistem perkemihan, maka panas
tubuh juga dapat dikeluarkan
melalui urine.
Untuk menjaga asupan cairan
tubuh supaya tidak terjadi
dehidrasi. Dehidrasi salah satu
pencetus hipertermi

Analgesik diperlukan untuk


penurunan rasa nyeri dan
antipiretik digunakan untuk
menurunkan panas tubuh dan
memberi rasa nyaman pada pasien.

3.3.3 Ansietas berhubungan dengan proses penyakit.

Ditandai dengan:

1. Peningkatan frekuensi jantung


2. Insomnia
3. Gelisah
4. Ketakutan

Tujuan : dalam waktu 1x24 jam ansietas dapat berkurang/hilang atau teradaptasi
Kriteria Hasil :

Pasien menyatakan peningkatan kenyamanan psikologis dan fisiologis.

Intervensi Rasional
Kaji tingkat ansietas: ringan, Untuk menentukan tingkat
sedang, berat. keparahan ansietas supaya dapat
ditentukan penanganan yang
tepat

Supaya pasien lebih tenang


karena pendampingan perawat
dan ketika pasien mengetahui
tentang proses penyakitnya,
Beri kenyamanan dan ketentraman pasien akan bisa lebih tenang
hati

1. Dampingi pasien
2. Jelaskan tentang penyakitnya.
3. Berbicara dengan perlahan dan
tenang.
4. Jangan membuat tuntutan.

5. Beri kesempatan klien untuk


mengungkapkan rasa cemasnya.

3.3.4 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan struktur lapisan


dermis

Ditandai dengan:

1. Gangguan jaringan epidermis dan dermis.


2. Adanya lesi (primer, skunder)
3. Eritema
4. Pruritus.

Tujuan : dalam waktu 3x24 jam, kulit pasien dapat mengalami penyembuhan

Kriteria Hasil :

1. Individu menunjukkan penyembuhan jaringan progresif


2. Berkurangnya gangguan jaringan epidermis, lesi, eritema, dan pruritis
Intervensi Rasional
Kaji kondisi luka klien (area,
warna, bau, kelembaban, turgor).
Untuk memperlancar sirkulasi

Penanganan dan pemberian obat


Tingkatkan asupan protein dan yang sesuai dengan kondisi kulit
karbohidrat untuk mempertahankan pasien dapat mempercepat
keseimbangan nitrogen positif. penyembuhan jaringan
Masase dengan lembut kulit sehat
disekitar area yang sakit.
Lakukan perawatan intensif
terhadap kulit dengan perawatan
dan obat yang sesuai dengan
lesi/luka yang dialami klien.
Menjadi informasi dasar untuk
memberikan informasi intervensi
perawatan luka selanjutnya.

Dengan asupan nutrisi yang cukup


membuat proses penyembuhan
semakin cepat

3.3.5 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan struktur kulit

Ditandai dengan:

1. Respon negatif verbal atau nonverbal


2. Tidak melihat bagian tubuh tertentu.
3. Perubahan dalam keterlibatan sosial

Tujuan : dalam waktu 1x24 pasien dapat menerima keadaan tubuhnya

Kriteria Hasil :

Pasien mengungkapkan dan mendemonstrasikan penerimaan penampilan (kerapian,


pakaian, postur, pola makan, kehadiran diri).

Pasien mengimplementasikan pola penanganan baru


Intervensi Rasional
Dorong individu untuk
mengekspresikan perasaan,
khususnya mengenai pikiran,
perasaan, pandangan dirinya.
Dorong individu untuk bertanya Membuat pasien dan percaya diri
mengenai masalah, penanganan,
perkembangan, prognosis
kesehatan.
Beri informasi yang dapat
dipercaya dan perkuat informasi
yang telah diberikan.
Anjurkan orang terdekat untuk
memberikan support system Informasi dapat membuat pasien
terhadap perubahan fisik dan lebih lebih tahu tentang
emosional. permasalahannya

Orang terdekat mempunyai


pengaruh lebih dominan ntuk
Dorong kunjungan teman sebaya membantu pasien menerima
dan orang terdekat. keaadaannya sekarang ketika
sudah di masyarakat.
Mengungkapkan perasaannya
membuat pasien merasa lebih Untuk membuat pasien bisa
nyaman setelah. menerima keaadaannya sekarang
BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Infeksi kulit tidak hanya dapat menimbulkan masalah kesehatan fisik namun juga
masalah psikis dan ekonomi sosial seseorang. Infeksi kulit berdasarkan penyebabnya
dibagi menjadi infeksi bakteri, infesi virus, dan infeksi jamur. Infeksi bakteri terdiri
dariimpetigo, folikulitis, furunkel, dan karbunakel. Infeksi virus contoh yang paling
banyak adalah herpes zoster. Infeksi jamur terdiri dari yinea kapitis, tinea korporis, tinea
kruris, tinea pedis, dan tinea ungiumngum. Penatalaksanaan infeksi kulit tergantung pada
penyebabnya itu sendiri. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan integument
adalah Lokasi dan/atau dari kelainan yang ada, karekteristik dari setiap lesi, pemeriksaan
lokasi-lokasi sekunder dan teknik-teknik pemeriksaan khusus. Adapaun masalah
keperawatan yang dapat muncul dari infesi kulit adalah Nyeri, hipertermi, ansietas,
kerusakan integritas kulit, gangguan citra tubuh.

4.2 Saran

Diharapkan dengan adanya makalah ini kita menjadi lebih mngerti tanda dan
gejala dari infeksi kulit. Makalah ini jauh dari kata sempurna, maka kami mengharapkan
masukan agar akan lebih baik lagi kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA

Brown, Robin Graham & Tony Burns. 2002. Lecture Notes on Dermatology Ed. 8.
English : Blackwell Science Ltd.

Harahap, Marwali. 2001. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates.

Jennifer P. Kowalak, William Welsh, Brenna Mayer. 2003. Buku Ajar


Patofisiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Lynda Juall Carpenito dan Moyet. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta:
EGC

Pierce, Grace, dan Neil Borley. 2007. Surgery at a Glance (Terj.). Jakarta: Erlangga

Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses
penyakit. Jakarta: EGC

Smeltzer, S.C., & Bare, B. 2003. Brunner and Suddarth's Textbook of Medical-Surgical
Nursing (10th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Anda mungkin juga menyukai