Anda di halaman 1dari 2

Cerpen Pendidikan - Mendulang Harta

Hari panas terik. Sang surya bersinar dengan ganasnya. Membuat ubun-ubun

terasa mendidih. Aris mempercepat langkah menuju rumahnya. Akhirnya sampai


juga. Dia duduk melepas lelah sambil membuka sepatunya.

Aris : Huh, lega rasanya,


ia menghela napas dan beranjak masuk ke dalam. Baru saja melangkahkan kaki ke
dalam rumah, ia menemukan uang berserakan di lantai.
Aris : Hah, uang apa pula ini Mak, katanya heran.
Tentu saja dia heran. Di zaman serba sulit ini uang dibiarkan berserakan di lantai begitu
saja. Untung aku bukan seorang panjang tangan yang tiba-tiba masuk ke dalam
rumah,pikirnyanakal.
Bpk Aris : Uang punya Mak. Berikan sama Mak. Bapak mau keluar,
sahut bapak.
Aris : Hmm, Mak sudah punya uang sekarang. Jadi, aku bisa minta uang untuk
membayar uang les dan LKS, pikirnya.
Aris : Maaak, Oo Maaak, panggil Aris.
Mak Aris : Ada apa Ris. Ganggu orang saja kamu ini, kata maknya jengkel.
Lalu Aris menyerahkan uang tersebut pada maknya. Ia menjelaskan bahwa uang les
dan LKS-nya belum dibayar. Sedang pihak sekolah sudah beberapa kali menagihnya. Tapi
bukannya diberi uang, dia malah dimarahi oleh maknya.
Mak Aris : saya heran dengan sekolah kamu itu. banyak sekali tetek bengek yang
harus dibayar. kan ada dana bos. untuk apa dana bos itu? sudahlah, tidak usah kamu sekolah.
buang-buang uang saja. sekarang karet itu tidak berharga, tahu? Katanya dengan muka
merah menyala.
Aris : Aku sudah menjelaskan bahwa dana BOS itu tidak mencukupi, karena
sekolahnya hanya sekolah swasta dan banyak memakai tenaga honor.
Tapi maknya tidak mau tahu dengan semua itu. Dia malah menyuruh Aris cari uang
sendiri. Kemanakah uang kan dicarinya?
Aris : Ah, Emak tak mengertilah dengan pendidikan. Padahal pendidikan itu
sangat penting. Dengan pendidikan kita akan bisa menatap masa depan yang gemilang.
Mak Aris : Buat apa kamu sekolah? Lihat itu hah, banyak yang sekolah tinggi, tapi
akhirnya cuma jadi pengangguran, kan? Jadi buat apa sekolah? tambah maknya lagi.
Aris lebih memilih diam dari pada menjawab omongan maknya. Ia menyayangkan
kenapa maknya mempunyai pola pikir yang terbelakang seperti itu? Sekarang orang
berlomba-lomba mencari ilmu, tapi mak malah melarangnya.
Aris : Mak... mak, mengapa Emak lebih suka mengumpulkan uang, beli emas, dan
membanggakan diri pada orang lain dari pada menyekolahkan kami anak-anak mak. Itu akan
lebih bermanfaat, gumamnya dalam hati.
Aris sudah lelah mendengarkan omelan emaknya itu. Dia keluar dan pergi entah ke
mana.
Sedangkan si Lina, adiknya baru saja pulang dari sekolah SMP yang tidak jauh dari
rumahnya. Setibanya di rumah, mak menyuruhnya mandi dan berpakaian yang bagus.
Tidak biasanya mak seperti ini. Ternyata si Lina akan dilamar oleh Pak Anto duda kaya
yang tinggal di desa sebelah. Tentu saja Lina menolak dengan keras semua itu. Namun, mak
tetap bersikeras dengan kemauannya. Ia sama sekali tidak memikirkan bahwa anaknya itu di
bawah umur untuk menikah. Apalagi akan dinikahkan dengan seorang duda. Ah, benar-benar
tidak masuk akal.
Emak sudah terpengaruh oleh harta. Mak bilang, ia iri pada teman-teman arisannya
yang kaya dan hidup mewah. Sedangkan mak tidak punya apa-apa. Mak ingin menabung
untuk menggapai semua itu. Kalian tidak usah sekolah. Hanya menambah beban saja.
Hari-hari berikutnya, Aris tak lagi bersekolah. Ia berhenti dan bergaul dengan teman-
temannya yang tidak sekolah. Sebenarnya hati kecilnya selalu sedih tiap kali melihat teman-
temannya bersekolah. Tapi apa mau dikata, mak sudah tidak mau lagi menyekolahkannya.
Waktu terus berjalan. Aris semakin terjerumus dalam kehidupan yang tidak memiliki
masa depan. Ia telah berubah. Hingga suatu hari dengan tergopoh-gopoh, Enda temannya
Aris datang dan memberitahukan pada Emak kalau Aris ditangkap polisi tadi malam. Tapi
sekarang ia dirawat di rumah sakit. Overdosis katanya. Habis pesta sabu-sabu.
Bagai guntur di siang bolong, Emak dan bapak kaget bukan kepalang. Tapi apa mau
dikata. Itu salah mereka, mereka yang menginginkan anaknya seperti itu. Mak menangis-
nangis menyesali perbuatan dan siapnya yang tak mau menyekolahkan anaknya itu.
Bpk Aris : Sudahlah Nur, mudah-mudahan Aris lekas sembuh dan kita bisa kumpul lagi
seperti dulu. Akan kita bina keluarga kita. Biarlah kita hidup sederhana, asalkan hati dan
keluarga kita bahagia. kata Bapak dengan mata berkaca-kaca, ia berusaha menenangkan
hati mak.

Mak Aris : Bapak benar, kini mari kita bina dan songsong keluarga sakinah.
kata mak mantap.