Anda di halaman 1dari 11

BAB II

PEMBAHASAN

A. Procedure Skrining dan Deteksi dini


A.1 Skrining
1. Pengertian skrining
Usaha untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan yang secara klinis
belum jelas, dengan menggunakan tes, pemeriksaan atau prosedur tertentu
yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang yang terlihat
sehat, atau benar – benar sehat tapi sesungguhnya menderita kelainan.
2. Tujuan skrining
Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas dari penyakit dengan
pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditentukan.
3. Jenis-jenis skrining yang dilakukan
a. Tes Pap Smears
Pap Smear adalah suatu pemeriksaan sitologi untuk mengetahui
adanya keganasan (kanker) dengan mikroskop. Pemeriksaan ini mudah
dikerjakan, cepat dan tidak sakit. Masalahnya, banyak wanita yang tidak
mau menjalani pemeriksaan ini, dan kanker serviks ini biasanya justru
timbul pada wanita-wanita yang tidak pernah memeriksakan diri atau tidak
mau melakukan pemeriksaan ini.
Pemeriksaan Pap Smear dilakukan paling tidak setahun sekali bagi
wanita yang sudah menikah atau yang telah melakukan hubungan seksual.
Para wanita sebaiknya memeriksakan diri sampai usia 70 tahun.
Pap Smear dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada masa haid.
Persiapan pasien untuk melakukan Pap Smear adalah tidak sedang haid,
tidak coitus 1 - 3 hari sebelum pemeriksaan dilakukan dan tidak sedang
menggunakan obat-obatan vaginal.
Jenis-Jenis Tes Pap Smear:
1) Tes Pap Smear konvensional
2) Thin prep Pap. Biasanya dilakukan bila hasil tes Pap Smear
konvensional kurang baik/kabur. Sampel lendir diambil dengan alat
khusus (cervix brush), bukan dengan spatula kayu dan hasilnya tidak
disapukan ke object-glass, melainkan disemprot cairan khusus untuk
memisahkan kontaminan, seperti darah dan lendir sehingga hasil
pemeriksaan lebih akurat.
3) Thin prep plus test HPV DNA. Dilakukan bila hasil tes Pap smear
kurang baik. Sampel diperiksa apakah mengandung DNA virus HPV.
Pemeriksaan pap smear disarankan untuk dilakukan oleh para wanita
secara teratur sekali setahun berturut-turut dalam waktu tiga tahun bila
sudah aktif berhubungan seksual dan berusia minimal 21 tahun. Bila hasil
pemeriksaan tiga tahun berturut-turut normal, pemeriksaan selanjutnya
dapat dilakukan setiap tiga tahun. Serviks adalah organ khusus yang
mudah diketahui melalui pap smear, biopsy, laser dan langsung bisa
dilihat, tidak seperti halnya paru-paru yang berada tersembunyi di dalam
tubuh. Sehingga jika pap smear sudah cukup mendunia, dalam arti semua
wanita di dunia sudah sadar akan pentingnya pemeriksaan ini, berarti tidak
ada alasan lagi untuk kanker serviks di kemudian hari. (pusdat/berbagai
sumber.
b. Iva test
Test IVA menyerupai tes pap smear, namanya yaitu tes IVA
(Inspeksi Visual dengan Asam Asetat).
Tujuanya sama yaitu Pemeriksaan penipisan/skrining terhadap
kelainan prakanker dimulut rahim. perbedaanya terletak pada metode yang
lebih sederhana dan keakuratannya. Pemeriksaan IVA bisa dilakukan
kapan saja, dalam keadaan haid ataupun sedang minum obat-obat tertentu.
Tes IVA dapat dilakukan oleh bidan terlatih. Pemeriksaan
dilakukan dengan memoles mulut rahum menggunakan asam asetat
kemudian dilihat apakah ada kelainan seperti perubahan warna yang
berwarna pink berubah menjadi putih. Perubahan warna seperti ini bisa
dilihat dengan kasat mata.
Umumnya Tes IVA dilakukan dinegara yang sedang berkembang
atau didaerah terpencil yang jauh dari laboratorium.
c. SADARI
Terbukti 95% wanita yang terdiagnosis pada tahap awal kanker
payudara dapat bertahan hidup lebih dari lima tahun setelah terdiagnosis
sehingga banyak dokter yang merekomendasikan agar para wanita
menjalani ‘sadari’ (periksa payudara sendiri – saat menstruasi – pada hari
ke 7 sampai dengan hari ke 10 setelah hari pertama haid) di rumah secara
rutin dan menyarankan dilakukannya pemeriksaan rutin tahunan untuk
mendeteksi benjolan pada payudara. Pemeriksaan payudara sendiri dapat
dilakukan pada usia 20 tahun atau lebih. Bagi wanita usia lebih dari 30
tahun dapat melakukan pemeriksaan payudara sendiri maupun ke bidan
atau dokter untuk setiap tahunnya.
Pemeriksaan payudara dapat dilakukan dengan melihat perubahan
di hadapan cermin dan melihat perubahan bentuk payudara dengan cara
berbaring.
1) Melihat Perubahan Di Hadapan Cermin.
Lihat pada cermin bentuk dan keseimbangan bentuk payudara
(simetris atau tidak). Cara melakukan :
a) Tahap 1
Melihat perubahan bentuk dan besarnya payudara, perubahan
puting susu, serta kulit payudara di depan kaca. Sambil berdiri
tegak depan cermin, posisi kedua lengan lurus ke bawah disamping
badan.
b) Tahap 2
Periksa payudara dengan tangan diangkat di atas kepala. Dengan
maksud untuk melihat retraksi kulit atau perlekatan tumor terhadap
otot atau fascia dibawahnya.
c) Tahap 3
Berdiri tegak di depan cermin dengan tangan disamping kanan dan
kiri. Miringkan badan ke kanan dan kiri untuk melihat perubahan
pada payudara.
d) Tahap 4
Menegangkan otot-otot bagian dada dengan berkacak pinggang/
tangan menekan pinggul dimaksudkan untuk menegangkan otot di
daerah axilla.
2) Melihat Perubahan Bentuk Payudara Dengan Berbaring.
a) Tahap 1
Dimulai dari payudara kanan. Baring menghadap ke kiri dengan
membengkokkan kedua lutut Anda. Letakkan bantal atau handuk
mandi yang telah dilipat di bawah bahu sebelah kanan untuk
menaikan bagian yang akan diperiksa. Kemudian letakkan tangan
kanan Anda di bawah kepala. Gunakan tangan kiri Anda untuk
memeriksa payudara kanan .Gunakan telapak jari-jari Anda untuk
memeriksa sembarang benjolan atau penebalan. Periksa payudara
Anda dengan menggunakan Vertical Strip dan Circular.
b) Tahap 2
Memeriksa seluruh bagian payudara dengan cara vertical, dari
tulang selangka di bagian atas ke bra-line di bagian bawah, dan
garis tengah antara kedua payudara ke garis tengah bagian ketiak
Anda. Gunakan tangan kiri untuk mengawali pijatan pada ketiak.
Kemudian putar dan tekan kuat untuk merasakan benjolan.
Gerakkan tangan Anda perlahan-lahan ke bawah bra line dengan
putaran ringan dan tekan kuat di setiap tempat. Di bagian bawah
bra line, bergerak kurang lebih 2 cm kekiri dan terus ke arah atas
menuju tulang selangka dengan memutar dan menekan.
Bergeraklah ke atas dan ke bawah mengikuti pijatan dan meliputi
seluruh bagian yang ditunjuk.
c) Tahap 3
Berawal dari bagian atas payudara Anda, buat putaran yang besar.
Bergeraklah sekeliling payudara dengan memperhatikan benjolan
yang luar biasa. Buatlah sekurang-kurangnya tiga putaran kecil
sampai ke puting payudara. Lakukan sebanyak 2 kali. Sekali
dengan tekanan ringan dan sekali dengan tekanan kuat. Jangan
lupa periksa bagian bawah areola mammae.
d) Tahap 4
Menggunakan kedua tangan, kemudian tekan payudara Anda untuk
melihat adanya cairan abnormal dari puting payudara.
e) Tahap 5
Letakkan tangan kanan Anda ke samping dan rasakan ketiak Anda
dengan teliti, apakah teraba benjolan abnormal atau tidak.

A.2 Deteksi Dini

1. Pemeriksaan kehamilan dini (early anc detection)


Ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan / dokter sedini
mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan /
asuhan antenatal.
2. Kontak dini kehamilan trimester 1
Kebijakan program untuk kunjungan antenatal minimal 4 kali selama
kehamilan, terdiri dari :
a. 1 kali pada trimester pertama
b. 1 kali pada trimester kedua
c. 2 kali pada trimester ketiga
Pelayanan standar minimal yang diperoleh harus mencakup “ 7 T ”
a. Timbang berat badan
b. Ukur Tekanan darah
c. Ukur Tinggi Fundus Uteri
d. Pemberian imunisasi Tetanus Toxoid (TT) lengkap
e. Pemberian Tablet zat besi, minimal 90 tablet selama kehamilan (fe 60 mg,
asam folat 500 ug).
f. Tes terhadap penyakit menular seksual
g. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.
h. Test/pemeriksaan Hb
i. Test/pemeriksaan urin protein
j. Test reduksi urin
k. Tekan pijat payudara
l. Tingkat kebugaran (senam hamil)
m. Terapi yodium kapsul
n. Terapi obat malaria
Dengan adanya kontak dini khususnya pada trimester I, maka akan
memudahkan kita dalam mendeteksi adanya kelainan atau komplikasi yang
mungkin dialami oleh ibu hamil dalam kehamilannya.
Skrining untuk deteksi dini, yaitu:
a. Kunjungan I (16 minggu) dilakukan untuk :
1) Penapisan dan pengobatan anemia
2) Perencanaan persalinan
3) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya.
b. Kunjungan II (24 – 28 minggu), dilakukan untuk :
1) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya.
2) Penapisan preeklampsi, gemeli, infeksi alat reproduksi dan saluran
perkemihan
3) Mengulang perencanaan persalinan
c. Kunjungan III (32 minggu), dilakukan untuk :
1) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya.
2) Penapisan preeklampsi, gemeli, infeksi alat reproduksi dan saluran
perkemihan
3) Mengulang perencanaan persalinan
d. Kunjungan IV (36 minggu), dilakukan untuk :
1) Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III
2) Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi
3) Memantapkan rencana persalinan
4) Mengenali tanda-tanda persalinan.
B. Sistem Dalam Metode One-Way Text Messaging Programme, Mobile Obstetrik
Monitoring Dan Anc Class

B.1 Metode one-way text messaging programme

Pesan teks dengan metode one-way text-messaging program adalah pesan


teks yang dikirimkan setiap dua kali dalam satu minggu oleh server, sms yang
dikirimkan berupa pesan pesan terkait kondisi adaptasi fisiologis dan psikologis
dari ibu hamil (Jarreehtum, Titapant, Tienthai, Viboonchart, Chuenwattana, &
Chatchainoppakhun, 2008).

B.2 Metode mobile obstetrik monitoring

Mobile obstetrical monitoring (MoM) adalah sebuah platform prototipe


telehealth yang bisa diadaptasi sesuai dengan kebutuhan spesifik daerah pedesaan
maupun perkotaan dengan memanfaatkan aplikasi ponsel.

B.3 Metode anc class

1) Pengertian
Kelas ibu hamil merupakan sarana untuk belajar bersama tentang
kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang
bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu
mengenai kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas,
perawatan bayi baru lahir, mitos, penyakit menular dan akte kelahiran.
2) Tujuan
Tujuan Umumnya adalah meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan
perilaku ibu agar memahami tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan
selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, KB
pasca persalinan, perawatan bayi baru lahir, mitos/kepercayaan/adat istiadat
setempat, penyakit menular dan akte kelahiran.
Sedangkan, Tujuan Khusus yaitu terjadinya interaksi dan berbagi
pengalaman antara peserta (ibu hamil dengan ibu hamil) dan antara ibu hamil
dengan petugas kesehatan/bidan. Meningkatnya pemahaman, sikap dan
perilaku ibu hamil tentang : Kehamilan, perubahan tubuh, keluhan (apakah
kehamilan itu? perubahan tubuh selama kehamilan, keluhan umum saat hamil
dan cara mengatasinya, apa saja yang perlu dilakukan ibu hamil dan
pengaturan gizi termasuk pemberian tablet tambah darah untuk
penanggulangan Anemia).
Perawatan kehamilan (kesiapan psikologis menghadapi kehamilan,
hubungan suami isteri selama kehamilan, obat yang boleh dikonsumsi ibu
hamil, tanda bahaya kehamilan dan P4K). Persalinan (tanda-tanda persalinan,
tanda bahaya persalinan dan proses persalinan). Perawatan nifas (apa saja
yang dilakukan ibu nifas agar dapat menyusui eksklusif, bagaimana menjaga
kesehatan ibu nifas, tanda-tanda bahaya dan penyakit ibu nifas).
KB pasca persalinan. Perawatan bayi baru lahir (perawatan bayi baru lahir,
pemberian vit.K1 injeksi, tanda bahaya bayi baru lahir, pengamatan
perkembangan bayi/anak dan pemberian imunisasi pada bayi baru lahir).
Penyakit menular (IMS, informasi dasar HIV-AIDS dan pencegahan serta
penanggulangan malaria pada ibu hamil).
3) Sasaran
Peserta kelas ibu hamil sebaiknya ibu hamil pada umur kehmilan 4 - 36
minggu untuk mendapatkan materi kelas ibu hamil. Untuk pelaksanaan senam
ibu hamil sebaiknya peserta umur kehamilan > 20 minggu, karena pada umur
kehamilan ini kondisi ibu sudah kuat, tidak takut keguguran, efektif untuk
melakukan senam hamil. Jumlah peserta kelas ibu hamil maksimal 10 orang
setiap kelas. Suami/keluarga ikut serta minimal 1 kali pertemuan sehingga
dapat mengikuti berbagai informasi penting, misalnay materi tentang
persiapan persalinan atau materi yang lainnya.
4) Tahapan pelaksanaan kelas ibu hamil
Bebarapa tahapan yang dilakukan untuk melaksanakan kelas ibu hamil :
a) Pelatihan bagi pelatih
b) Pelatihan bagi fasilitator
c) Sosialisasi kelas ibu hamil pada tokoh agama, tokoh masyarakat dan stake
holder
d) Persiapan pelaksanaan kelas ibu hamil
e) Pelaksanaan kelas ibu hamil
f) Monitoring, evaluasi dan pelaporan kegiatan pelaksanaan
5) Pertemuan kelas ibu hamil
Dilakukan 3 kali pertemuan selama hamil atau sesuai dengan hasil
kesepakatan fasilitator dengan peserta. Pada setiap pertemuan, materi kelas
ibu hamil disampaikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi ibu hamiltetapi
tetap mengutamakan materi pokok. Setiap akhir pertemuan dilakukan senam
ibu hamil, bagi ibu hamil yang mempunyai usia kehamilan > 20 minggu.
Senam ibu hamil merupakan kegiatan/materi ekstra di kelas ibu hamil, jika
dilaksanakan, setelah sampai di rumah diharapkan dapat dipraktekan. Waktu
pertemuan disesuaikan dengan kesiapan ibu-ibu, bisa dilakukan pada pagi atau
sore hari dengan lama waktu pertemuan 120 menit termasuk senam hamil 15 -
20 menit
Daftar Pustaka

Dr. Mochtar Rustam, MPH. (1998). Sinobsis obstetri, cetakan ke satu, Ed 2, Jakarta: EGC Buku
Kedokteran.

Siti, Bandiah. (2009). kehamilan,persalinan, dan gangguan kehamilan. Yogyakarta : nuha medika

Varney, Hellen. 1997. Varney’s Midwifery Textbook. Third Edition. NewYork : Jones and
Bartlett.

JNPK.2002. Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal. Jakarta.

Saefuddin, A.B. 2000. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta