Anda di halaman 1dari 5

TEORI DOW

Phase-Phase Pergerakan Trend

Tren pasar ada 3 fase, yaitu:


Akumulasi (accumulation) adalah tahapan dimana investor yang cerdik atau sudah mempunyai
informasi terlebih dahulu, mengadakan pembelian atau penjualan saham secara perlahan lahan.
Pada tahap ini, harga saham cenderung tidak berubah (sideways trend) karena investor tersebut
adalah minoritas sehingga kurang bisa menggerakkan pasar.

Fase ke dua adalah dimana investor yang lain mulai menangkap dan mengetahui tindakan
investor pada fase pertama tadi. Akhirnya pasar mengikuti tindakan investor pertama untuk
membeli atau melepas saham. Pada tahapan ini, terjadi perubahan harga yang sangat drastis
karena hampir semua investor sudah melakukan tindakan yang sama. Fase ini berlanjut hingga
para pengikut tren (trend follower) dan spekulan sudah mengontrol pergerakan harga saham.

Fase ke tiga yaitu dimana investor yang pertama mulai mendistribusikan kepemilikannya ke
pasar. Investor mulai menjual atau membeli saham yang dibeli di awal, sebelum pasar melakukan
adjustment atau koreksi pada harga. Trend follower yang terlambat melepas sahamnya, biasanya
akan menderita loss.

a. Dalam pelajaran sebelumnya, kita membahas pengenalan Teori Dow dan tiga prinsip pertamanya, yaitu
pasar punya tiga tren, tiap tren punya tiga tahap, pasar selalu memperhitungkan (discount) semua berita.
Sekarang, kita akan membahas 3 prinsip kedua yang menyelesaikan pembahasan mengenai Teori Dow
dan memberikan kita dasar dalam menganalisa tren serta melakukan transaksi.
Prinsip keempat Teori Dow adalah Indeks Harus Saling Mengkonfirmasi. Dalam hal ini, Dow mengacu
pada Dow Jones Transportation Index dan the Dow Jones Industrial Average.
Untuk memahaminya, penting untuk mengingat bahwa di era Dow, pertumbuhan AS digerakan oleh
sektor industri. Kedua indeks ini terdiri dari perusahaan manufaktur, dan perusahaan kereta yang
merupakan metode utama pengiriman barang jadi ke pasar. Apa yang dimaksud Dow di sini adalah anda
tidak akan mendapat rally sesungguhnya di salah satu indeks tanpa konfirmasi dari keduanya karena bila
laba perusahaan manufaktur meningkat mereka akan mengirim lebih banyak produk. Ini berarti laba
perusahaan transportasi dan indeks transportasi juga akan naik. Dow menyatakan bahwa ketika kedua
indeks bergerak dalam arah yang berbeda, itu merupakan tanda pasar akan berubah arah.
b.
Prinsip kelima adalah Tren Dikonfirmasi Dengan Volume. Apa yang dimaksud Dow adalah ada banyak
alasan mengapa harga bergerak dalam volume rendah. Namun ketika harga bergerak dalam volume
tinggi, ada kemungkinan pergerakan menjadi cerminan pandangan pasar keseluruhan. Dow memandang
bahwa bila banyak trader berpartisipasi dalam suatu pergerakan harga dan harga bergerak dalam satu
arah signifikan, ini merupakan indikasi tren sedang terbentuk karena inilah arah yang diantisipasi pasar
akan terus bergerak.

c.

Prinsip keenam adalah Tren Selesai Ketika Ada Sinyal Pasti Membuktikan Itu Telah Berakhir. Apa yang
dimaksud Dow ialah ada pergerakan pasar yang bertolak belakang dengan tren utama, namun belum
tentu tren berakhir dan pasar akan melanjutkan tren sebelumnya. Masih banyak perdebatan mengenai
cara jitu untuk menentukan kapan sinyal definitif mengindikasikan tren berakhir, dan inilah yang menjadi
pelajaran analisa teknikal selanjutnya.

TEORI RANDOM WALK

Teori Random Walk (Random Walk Theory) menyatakan bahwa perubahan harga terjadi secara
bebas/acak (serially independent) dan bahwa data masa lalu (price history) bukanlah hal yang
dapat diandalkan untuk memprediksi arah gerakan selanjutnya.
Teori ini berasal dari lingkungan akademik, didasarkan pada hipotesis bahwa pasar/market itu
efisien (efficient market hypothesis) dan harga berfluktuasi secara acak (random). Dari hipotesa ini
juga kemudian disimpulkan bahwa strategi terbaik adalah strategi buy and hold. Tidak perlu ada
upaya untuk mengalahkan pasar.
Tentu saja dalam setiap market memang ada perilaku yang bersifat acak atau noise, namun tidak
realistis jika dipukul rata bahwa harga selalubergerak secara acak. Pengamatan empiris dan
pengalaman praktis terbukti lebih baik daripada teknik-teknik statistik yang canggih.
Perilaku acak yang disimpulkan para akademisi menunjukkan ketidak-mampuan dalam
mengungkap pola sistematis yang terjadi dalam perilaku harga (price action). Ketidakmampuan
kaum akademisi untuk mengungkapkan keberadaan pola-pola tersebut tidak berarti bahwa pola tersebut
tidak ada.
Apapun yang diperdebatkan dalam dunia akademik tidak menarik dan tidak menguntungkan bagi
kebanyakan trader dan analis pasar yang dipaksa berhadapan dengan dunia nyata. Sekilas pandang
terhadap grafik harga apapun akan menunjukkan dengan jelas bahwa pola trend memang ada.
Bagaimana mungkin para random walker bisa menjelaskan trend jika menganggap bahwa harga
bergerak secara bebas. Artinya apa yang terjadi kemarin, atau minggu lalu tidak memiliki pengaruh
terhadap apa yang akan terjadi hari ini atau besok?
Tidak mungkin strategi buy and hold sederhana bisa menguntungkan dalam pasar komoditas, di
mana timing adalah hal yang penting. Tidak mungkin posisi long (beli) dapat dipertahankan apabila
pasar berada pada trend bearish. Tidak mungkin seorang trader bisa membedakan bull danbear, jika
harga memang tidak bisa diprediksi dan tidak ada yang namanya trend.
Random walker akan sulit untuk mengatakan bahwa tidak ada trend pada gambar berikut:

Teknik-teknik statistik sampai saat ini belum bisa membuktikan atau mematahkan Random Walk Theory ini.
Persepsi bahwa market bersifat acak, ditolak sepenuhnya oleh kalangan teknikal. Jika pasar memang
bergerak acak, maka tidak ada satupun teknik prediksi yang bisa dipakai.

Teori Elliot Wave

Pola Gelombang 5-3

Pola Gelombang 5 disebut gelombang Impulse ( Impulse Wave), Gelombang ini dibagi menjadi 5 model
gelombang dan disebutkan masing-masing dengan angka dan berurutan.
Gelombang 1,3,5 disebut dengan motif yang biasanya mewakili arah trend secara keseluruhan, dan
gelombang 2,4 adalahkoreksi.

Makna yang terkandung dari masing-masing gelombang:

Gelombang 1:
Harga membuat gerakan awal ke atas. Hal ini biasanya disebabkan oleh sejumlah kecil orang (karena
berbagai alasan, baik nyata atau membayangkan) merasa bahwa harga sedang murah sehingga ini adalah
waktu yang tepat untuk membeli. Hal ini menyebabkan harga naik.

Gelombang 2 :
Pada titik ini, cukup banyak orang yang yg semula sudah berada di gelombang asal(naik)
mempertimbangkan harga sudah terlalu tinggi dan mengambil keuntungan. Mengakibatkan harga bergerak
turun.

Gelombang 3 :
Gelombang ini biasanya yang terpanjang dan terkuat. Dalam fase ini saham telah menarik banyak perhatian
publik. Berakibat harga semakin melambung, biasanya harga akan melambung lebih tinggi dibanding pada
saat gelombang 1.
Gelombang 4:
Pada fase ini sebagian orang melakukan aksi ambil untung, dan merasa harga telah mahal. Namun
ada sebagian orang yg masih merasa bahwa harga masih dalam tren naik(bullish), jadi gelombang ini
cenderung masih lemah.

Gelombang 5:
Ini adalah fase dimana harga sudah terlalu tinggi untuk dikoleksi/dibeli, dan daya yg mampu membuat
harga terus naik adalah karena histeria semata.

Perlu diketahui bahwa panjang dari masing2 gelombang tidak selalu sama persis sesuai dengan
perbandingan yang ada pada gambar, bisa lebih panjang atau lebih pendek, itu wajar.

Koreksi ABC

Selanjutnya Elliot menjabarkan bahwa pola gelombang 5 diatas akan diikuti dengan gelombang 3, pola
koreksi ABC. Lihat pada gambar dibawah

Tren harga naik/Bullish Tren harga turun/Bearish

Saat ini saham akan mengkoreksi dengan melakukan gerakan turun, naik dan turun. Volatilitas pada
periode ini biasanya berkurang dibandingkan dengan kelima gelombang sebelumnya, karena pasar
sedang mengevaluasi ulang dan sedang dalam tahap istirahat.
Gelombang Elliott memberikan gambaran bahwa volatilitas harga saham dapat berbeda-beda antara
gelombang yang satu dengan yang lain. Selain itu teori ini juga memberikan kemungkinan bahwa ada
trend volatilitas return harga saham yang muncul dari pola-pola tersebut.
Trend sendiri merupakan arah umum yang sedang terjadi pada pasar. Arah ini dapat bergerak secara
mendatar, naik atau turun. Trend mendatar terjadi ketika rangkaian peak dan through gelombang-
gelombang secara beruntun membentuk garis horisontal. Trend naik terjadi ketika serangkaian peak dan
through yang ada selalu melampaui peak dan through sebelumnya, sedangkan pada trend turun terjadi
sebaliknya, yaitu peak dan through yang ada selalu berada di bawah peak dan through sebelumnya