Anda di halaman 1dari 7

DT!!

Part 1
Praktikum DT (Destructive Test) yang berlangsung selama dua minggu benar-benar membuat

demam tinggi (haha). Rangkaian praktikum dimulai dengan tes pendahuluan dan pembuatan

laporan awal praktikum serta paper untuk 4 modul. Praktikum dilakukan selama satu hari penuh

untuk 4 modul, biasanya dimulai pukul 8.00 sampai 16.00. Tetapi pada pelaksanaannya suka

molor karena keterbatasan jumlah alat dan makroskop pengukur diameter yang sering mengalami

masalah. Data yang diperoleh dari praktikum ini diolah dan dibuat laporannya dalam waktu satu

minggu. Hasil praktikum juga harus dipresentasikan dihadapan assistant laboratorium (aslab).

Waktu presentasi beragam, paling cepat 2,5 jam dan paling lama sekitar 6-7 jam. Dan rangkaian

praktikum ini akan diakhiri dengan ujian akhir.

Praktikum ini dibuat menjadi 4 gelombang. Kelompok saya kebetulan mendapat gelombang paling

akhir. Waktu praktikumnya memiliki jeda yang cukup panjang antara gelombang 4 dengan

gelombang yang lain. Jika praktikan dari gelombang lain sudah sibuk membuat laporan akhir, saya

masih sibuk dengan laporan awal. Jika praktikan gelombang lain sudah sibuk dengan presentasi

mereka, saya masih sibuk dengan praktikum dan membuat laporan akhir. Jika praktikan

gelombang lain sudah ongkang-ongkang kaki dan belajar untuk persiapan UTS, saya masih sibuk

belajar untuk presentasi hasil praktikum. Ledekan seperti hari gini masih ngerjain laporan

awal/akhir/presentasi jadi makanan utama. Hahaha

Apa itu DT? DT adalah pemberian beban pada material hingga material itu mengalami kerusakan.

Dari pengujian ini akan diperoleh informasi sifat mekanis material. Pengujian tarik yang dilakukan

antara lain, uji tarik, uji kekerasan, uji impak, uji aus, uji puntir, uji tekan, uji fatigue dan uji

creep.

Pengujian tarik dilakukan untuk mengetahui bagaimana respon material terhadap gaya-gaya dari

luar yang menyebakan material mengalami plastis deformasi. Deformasi plastis menyebabkan

adanya perubahan struktur pada material. Pengujian ini dilakukan dengan benda uji yang

berbentuk dan berukuran tertentu (dog bone). Tujuan benda uji dibentuk dog bone adalah untuk

memudahkan perngukuran karena perpatahan diharapkan terjadi pada gauge length. Selanjutnya

benda uji diberikan beban uniaxial yang secara kontinu bertambah besar dan diikuti pertambahan

panjang benda uji hingga benda uji mengalami kegagalan.


Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan mesin Shimadzu. Salah satu ujung benda uji

diletakan di moveable cross-headdan ujung lainnya di stationery cross-head. Selanjutnya mesin

mulai melakukan penarikan dan mengukur ketahanan sampel terhadap gaya tarik pada load cell.

Data gaya (P) dan elongasi (dL) yang dialami benda uji langsung dihasilkan dalam bentuk grafik

beban vs pertambagan panjang (elongation). Dari grafik ini dapat kita peroleh data-data yang

dapat digunakan untuk membuta grafik tegangan-regangan rekayasa dan grafik tegangan-

regangan sesungguhnya. Dari grafik regangan-tegangan ini dapat diketahui informasi-informasi

penting, seperti batas proporsional dan batas elatis, titik yield, kekuatan tarik maksimum (UTS),

titik perpatahan, modulus young, modulus resilience serta ketangguhan material.

Pengertian batas proporsional adalah batas dimana tegangan dan regangan mempunyai hubungan

proporsionalitas satu dengan yang lain. Setiap penambahan tegangan akan diikuti dengan

penambahan regangan secara proporsional dalam hubungan linier. Ditunjukan dengan

persamaan Hookes Law:

=E

Daerah elastis adalah daerah dimana material akan kembali ke ukuran semula bila tegangan luar

dihilangkan. Daerah proporsional merupakan bagian dari daerah elastis. Jika material diberi beban

dari luar sehingga tegangan melampaui batas elastisnya maka material tidak dapat kembali lagi ke

ukuran semula. Jadi batas elastis adalah titik dimana tegangan yang diberikan akan menyebabkan

terjadinya deformasi permanen (plastis) untuk pertama kalinya. Kebanyakan material batas elastis

biasanya berhimpitan dengan batas proporsionalitas.


Titik luluh adalah batas dimana material akan terus mengalami deformasi tanpa adanya

penambahan beban. Tegangan luluh adalah tegangan yang menimbulkan mekanisme luluh pada

suatu material. Gejala luluh material umumnya hanya terjadi pada logam-logam yang ulet dengan

struktur kristal BCC dan FCC yang membentuk interstitial solid solution dari atom karbon, boron,

hidrogen, dan oksigen. Interaksi antar dislokasi dan atom-atom tersebut menyebabkan baja ulet

seperti mild steel menunjukan titik luluh bawah (lower carbon steel) dan titik luluh atas (upper

carbon steel). Pada baja dengan kekuatan tinggi dan besi tuang yang getas, batas luluh tidak jelas

sehingga digunakan metode offset. Metode offset memperlihatkan batas penyimpangan/deviasi

dari keadaan proposionalitas tegangan dan regangan sebagai kekuatan luluh. Garis offset diambil

0,1 0,2% dari tegangan total dimulai pada titik O.

UTS memiliki pengertian yaitu tegangan maksimum yang dapat ditanggung material sebelum

terjadi perpatahan (fracture). Nilai kekuatan maksimum tarik ditentukan dengan persamaan

berikut:

UTS=Fmax/A0
Kekuatan putus ditentukan dengan membagi beban pada saat benda uji putus (F breaking ) dengan

luas penampang awal. Untuk material yang ulet, kekuatan putus lebih kecil dari kekuatan

maksimum ( breaking < UTS ). Sedangkan untuk material yang getas kekuatan putus sama

dengan kekuatan maksimum ( breaking = UTS ).

Keuletan adalah sifat yang menunjukan kemampuan material menahan deformasi plastis sampai

terjadi perpatahan. Secara umum dilakukan dengan tujuan:

Untuk menunjukan perpanjangan dimana logam berdeformasi tanpa terjadinya patah

dalam proses pembentukan logam, misalkan pengerolan dan ekstrusi.

Untuk memberi petunjuk umum mengenai kemampuan logam untuk mengalir secara

plastis sebelum patah.

Sebagai petunjuk adanya perubahan permukaan kemurnian atau kondisi pengolahan

Modulus young adalah ukuran kekakuan suatu material. Semakin besar harga modulus young,

maka semakin kecil regangan elastis yang terjadi atau dapat dikatakan material semakin kaku

(stiff). Makin besar modulus elastisitas maka makin kecil regangan elastik yang dihasilkan akibat

pemberian tegangan. Modulus elastisitas ditentukan oleh gaya ikatan antar atom, karena gaya ini

tidak dapat diubah tanpa terjadinya suatu perubahan sifat yang sangat mendasar pada material

maka modulus elastisitas merupakan suatu sifat dari material yang tidak mudah diubah. Sifat ini

hanya bisa sedikit diubah dengan penambahan paduan, perlakuan panas, dan pengerjaan dingin.
Modulus resilience adalah ukuran kemampuan material untuk menyerap energi dari luar tanpa

terjadinya kerusakan. Nilai modulus resilience adalah luas segitiga pada area elastis kurva

tegangan-regangan.

Modulus of thoughness adalah ukuran kemampuan material untuk menyerap energi dari luar tanpa

terjadinya kerusakan. Nilai modulus resilience adalah luas segitiga pada area elastis kurva

tegangan-regangan.

Kurva tegangan-regangan rekayasa (engineering stress-strain curve) dibuat berdasarkan dimensi

awal yaitu luas area dan panjang dari benda uji. Sementara untuk mendapatkan kurva tegangan-
regangan sesungguhnya (true stress-strain curve) diperlukan luas area dan panjang aktual pada

saat pembebanan yang terukur. Perbedaan kurva tegangan-regangan rekayasa dan sesungguhnya

tidak terlalu besar pada regangan yang kecil, tetapi akan terdapat perbedaan yang signifikan jika

terjadi pengerasan regangan (strain hardening), yaitu setelah titik luluh terlampaui. Secara umum

perbedaan menjadi besar di dalam daerah necking.

Setelah benda uji mengalami kegagalan, pengukuran panjang akhir di daerah gauge length dan

diameter gauge length dilakukan. Dari sini kita dapat mengetahui bagaimana sifat keuletan dan

kegetasan material.

Jenis perpatahan ada dua, yaitu perpatahan ulet dan perpatahan getas. Perpatahan ulet terjadi

karena adanya deformasi elastis dan plastis pada material sampai akhirnya putus, sedangkan

perpatahan getas tidak mengalami deformasi elastis sampai akhirnya mengalami perpatahan.

Kedua jenis perpatahan ini memiliki karakteristik yang berbeda. Dibawah ini adalah gambar

sampel hasil pengujian tarik yang menunjukan beberapa tampilan perpatahan.

Perpatahan ulet

Permukaan hasil patahan gelap karena menyerap cahaya.


Permukaannya berfibrous dan membentuk cup and cone.

Pada perpatahan ulet, terjadi mekanisme necking. Necking terjadi akibat

berkumpulnya void yang membuat void semakin membesar. Void-void tersebut umumnya

muncul pada daerah necking sehingga menjadi tempat terkonsentrasinya stress yang akhirnya

menjadi penyebab patah.

Crack merambat secara intragranular atau memotong pada batas butir

Perpatahan getas

Tidak ada atau sedikit sekali deformasi plastis yang terjadi.

Retak atau perpatahan merambat sepanjang bidang-bidang kristalin membelah atom-atom

material (transgranular).

Pada material lunak dengan butir kasar (coarse-grain) makan dapat dilihat pola-pola yang

dinamakan chevron atau fan-like pattern yang berkembang keluar dari daerah awal kegagalan.

Material keras dengan butir halus (fine-grain) tidak memiliki pola-pola yang mudah

dibedakan.

Material amorphous (seperti gelas) memiliki permukaan patahan yang bercahaya dan

mulus