Anda di halaman 1dari 8

PASIVASI

Gejala ini dapat diamati selama proses korosi berlangsung pada logam atau
paduan-paduan logam tertentu, misalnya besi, krom, nikel, titanium dan paduan-
paduannya.
Sedangkan pasivasi dapat didefinisikan sebagai kehilangan reaktivitas kimia
dalam kondisi atau lingkungan tertentu.

Contoh:
Sepotong besi atau baja dicelupkan dalam beaker glass yang berisi 70%
asam nitrat pada temperatur kamar. Tidak ada reaksi yang terjadi atau
teramati .
Kemudian ditambahkan air sampai terjadi pengenceran dari larutan dengan
perbandingan 1:1 tidak ada perubahan yang terjadi. Keadaan ini disebut
pasif, karena adanya lapisan film yang tebalnya lebih kurang 30 angstrom
pada permukaan logam.
Tetapi, apabila beaker digoyangkan atau besi tersebut digores, akan terjadi
reaksi korosi dimana besi akan larut. Hal sama akan terjadi pula apabila besi
langsung dimasukkan dalam asam nitrat encer.
Logam-logam yang mempunyai sifat aktif-pasif dapat digambarkan dalam
gambar 6 berikut ini. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keadaan pasif
suatu logam adalah temperatur dan konsentrasi asam dapat dilihat pada gambar
7.

QIP YOGYAKARTA 3 0KT 2008 1


Gambar 6. Sifat pelarutan anodik dari logam aktif-pasif.

Gambar 7. Pengaruh temperatur dan konsentrasi asam pada sifat pelarutan


anodik dari logam aktif-pasif.

Selain dari gambar 6 dan 7, gejala pasif ini dapat dilihat dari diagram Pourbaix.
(Lihat gambar 8) Diagram ini dibuat atas dasar perhitungan persamaan Nernst.
Kegunaan dari diagram tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Untuk meramalkan arah reaksi yang terjadi secara spontan .


2. Untuk memperkirakan produk korosi yang terbentuk.
3. Untuk mengetahui potensial atau pH berapa besi akan stabil (imun), terkorosi
membentuk Fe2+ dan Fe3+ serta daerah dimana Fe akan terpasivasi
membentuk lapisan Fe2O3 atau Fe3O4 pada permukaan logam.

QIP YOGYAKARTA 3 0KT 2008 2


Gambar 8. Diagram kesetimbangan Eh-pH untuk sistem Fe H2O

Fig. 1 Potential-pH diagram for the iron-water system: A = hydrogen equilibrium [see reaction
(4)]; B = oxygen equilibrium [see reactions (5) and (6)]. (After M. Pourbaix, ed., Atlas of
Electrochemical Equilibria in Aqueous Solutions, NACE, Houston, 1974)

QIP YOGYAKARTA 3 0KT 2008 3


PENGARUH-PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PROSES KOROSI

A. Pengaruh Oksigen dan Oksidiser

Keterangan:
1 : Monel dalam larutan HCl + O2
Cu dalam H2SO4 + O2
Fe dalam H2O + O2
12 : 18Cr 8Ni dalam H2SO4 + Fe3+
Ti dalam HCl + Cu2+
2 : 18Cr - 8Ni dalam larutan HNO3
HastelloyC dalam FeCl3
23 : 18Cr 8Ni dalam HNO3 + Cr2O3
1 2 3 : 18Cr 8Ni dalam campuran H2SO4 + HNO3 pekat pada temperatur
tinggi.

QIP YOGYAKARTA 3 0KT 2008 4


B. Pengaruh Kecepatan

Tergantung kepada logam dan lingkungan.

Keterangan:

Kurva A :
1 : Fe dalam H2O + O2
Cu dalam H2O + O2
12 : 18Cr 8Ni dalam H2SO4 + Fe3+
Ti dalam HCl + Cu2+
Kurva B :
Fe dalam HCl encer
18Cr 8Ni dalam H2SO4
Kurva C :
Pb dalam H2SO4 encer
Fe dalam H2SO4 pekat

C. Pengaruh Temperatur
Pada umumnya penambahan temperatur akan menaikkan kecepatan reaksi
korosi.

QIP YOGYAKARTA 3 0KT 2008 5


Keterangan:
Kurva A : 18Cr 8Ni dalam H2SO4
Ni dalam HCl
Fe dalam HF

Kurva B : 18Cr 8Ni dalam HNO3


Monel dalam HF
Ni dalam NaOH

D. Pengaruh konsentrasi larutan korosif.

Keterangan:
Kurva A :
1 : Ni dalam NaOH

QIP YOGYAKARTA 3 0KT 2008 6


18Cr Ni dalam HNO3
Hastelloy B dalam HCl
Ta dalam HCl
12 : Monel dalam HCl
Pb dalam H2SO4
Kurva B :
Al dalam asam asetat dan HNO3
18Cr 8Ni dalam HNO3
Fe dalam H2SO4

PENGARUH FAKTOR METALURGIS


A. Pengaruh struktur logam.
Adanya perbedaan ukuran butir, dimana butir dengan ukuran yang lebih kecil
akan bersifat lebih anodik.
Terjadinya pengendapan pada batas butir, banyak djumpai pada baja tahan
karat akibat proses pengelasan sehingga baja ini mengalami sensitasi.
Perbedaan komposisi kimia dari logam.
Terjadinya inkusi pada saat proses pembuatan logam.
Untuk lebih jelasnya pengaruh struktur ini dapat dilihat pada gambar 9 berikut ini.

1.Grain density-smaller (2) will corrode


2

3.Boundary-ussually corrodes
4.Inclusions in grain
5.Precipitate in boundary
6.Noble region in grain

7.Breaks in protective oxide film

QIP YOGYAKARTA 3 0KT 2008 7


Gambar 9. Pengaruh struktur logam terhadap proses korosi.

B. Penambahan unsur paduan.


Unsur paduan yang banyak digunakan untuk menambah ketahanan
terhadap proses korosi antara lain adalah krom dan nikel, lebih dikenal dengan
baja tahan karat.

C. Pengaruh perlakuan panas.


Pada umumnya perlakuan panas juga mempunyai pengaruh yang tidak
dapat diabaikan. Sebagai contoh perlakuan panas pada temperatur 500 800 oC
baja tahan karat akan menyebabkan korosi intergranular pada baja tersebut. Hal
ini disebabkan karena terbentuknya endapan krom karbida pada batas butir.
Untuk menghindari hal tersebut diatas, baja ini harus dipanaskan diatas
temperatur 1000o C. Sedangkan baja karbon telah mengalami proses
pengerasan akan lebih tahan terhadap korosi daripada baja karbon hasil temper
dalam lingkungan asam. Hal ini disebabkan karena struktur martensit yang
dihasilkan pada proses pengerasan berupa 1 fase. Hasil proses temper adalah
struktur martensit temper dan karbida, sehingga akan terjadi perbedaan ukuran
butir, lebih mudah terkorosi.

QIP YOGYAKARTA 3 0KT 2008 8