Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH PADAT PADA

RUMAH SEWA WISMA KARTIKA DAN RUMAH WARGA DI


DRAMAGA, BOGOR

ANALYSIS OF SOLID WASTE MANAGEMENT SYSTEM AT


THE RENT HOUSE WISMA KARTIKA AND HOUSE IN
DRAMAGA, BOGOR
Lussiany Bahunta
Selasa Kelompok 8
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Dramaga, Jalan
Raya Dramaga, Bogor, Jawa Barat, 16003
bahuntalussiany@gmail.com

METODOLOGI

Sistem Pewadahan Sampah


Penelitian mengenai sistem pewadahan sampah dilakukan dengan cara
pengamatan langsung ke rumah warga di daerah Dramaga, yaitu rumah pemilik
kosan serta di kamar sewa mahasiswa di daerah Dramaga, lebih tepatnya kosan
Wisma Kartika sebrang BNI IPB Dramaga. Observasi dilakukan dengan
mengidentifikasi bentuk wadah, kapasitas wadah, jumlah wadah, dan intensitas
pembuangan dari sumber ke tempat pembuangan sementara (TPS) atau tempat
pembuangan akhir (TPA). Hasil observasi dari masing-masing lokasi kemudian
dibandingkan dengan sistem pewadahan sampah menurut SNI 19-2454-2002
tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolan Sampah Perkotan dan SNI 3242-
2008 tentang Tata Cara Pengelolan Sampah di Pemukiman. Penelitian tersebut
dilakukan dalam rentang waktu pada tanggal 15 Februari sampai tanggal 22
Februari 2017. Pengamatan terkait sistem pewadahan sampah dilakukan bersamaan
dengan proses pengumpulan sampah di rumah tangga serta di kamar sewa
mahasiswa. Proses pengamatan yang dilakukan seperti terlihat pada bagan alir
dalam Gambar 1.

Rumah warga
Diamati fasilitas pewadahan di lokasi
Lokasi yang akan yang akan
penelitian (bentuk. kapasitas, dan
diteliti ditentukan diteliti
jumlah wadah, intensitas dan sifat
(rumah warga dan ditentukan
pembuangan sampah, volume serta pola
kamar sewa)
pengangkutan sampah)

Dibuat konsep Ditentukan level Hasil pengamatan


manajemen reduksi perwadahan sampah di dibandingkan dengan
sampah masing-masing lokasi SNI 19-2454-2002
pengamatan

Gambar 1 Bagan alir dari proses pewadahan sampah


Pengukuran Timbulan dan Komposisi Sampah
Penelitian terkait proses pengukuran timbulan dan komposisi sampah dilakukan
pada tanggal 15 Februari sampai tanggal 22 Februari 2017. Penelitian dilakukan
delapan hari, setiap hari pada sore hari. Sampah yang diukur diambil dari sampah
rumah warga di daerah Dramaga serta di kamar sewa mahasiswa di daerah
Dramaga. Alat yang digunakan yaitu trashbag, penggaris, wadah untuk mengukur
volume, timbangan digital, serta sarung tangan. Sampah diambil setiap pukul 16.00
WIB, kemudian sampah tersebut diukur berat dan volumenya. Pengukuran
dilakukan di belakang kosan Wisma Kartika. Proses pengukuran sampah seperti
terlihat dalam Gambar 2.

Trashbag dibagikan ke Kantong plastik Sampah dipilah


rumah warga dan yang berisi sampah berdasakan jenis
kamar sewa dilokasi
dikumpulkan sampah
penelitian

Komposisi sampah Volume dan massa


Grafik batang dibuat (densitas sampah) dihitung setiap jenis sampah
dari hasil komposisi ditimbang dan
menggunakan Persamaan
data sampah 1 dicatat

Gambar 2 Bagan alir proses pengukuran komposisi sampah

Berdasarkan berat dan volume masing-masing sampah yang telah diukur, dapat
diketahui besarnya nilai densitas sampah tersebut. Densitas dapat dihitung dengan
Persamaan (1).
massa bersih jenis sampah (kg)
( ) = ......................................... (1)
volume sampah (lt)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sistem Pewadahan Sampah


Sampah menurut SNI 19-2454-2002 merupakan limbah yang bersifat padat
terdiri dari bahan organik dan bahan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi
dan harus dikelola agar tidak mambahayakan lingkungan dan melindungi investasi
pembangunan. Menurut Prihandarini (2004), berdasarkan sumbernya sampah
digolongkan kepada dua kelompok besar yaitu sampah domestik dan sampah non
domestik. Sampah domestik yaitu sampah yang sehari-harinya dihasilkan akibat
kegiatan manusia secara langsung, seperti sampah rumah tangga. Sampah non
domestik yaitu sampah yang sehari-hari dihasilkan oleh kegiatan manusia secara
tidak langsung, seperti dari industri.
Pewadahan sampah adalah aktivitas menampung sampah sementara dalam suatu
wadah individual atau komunal di tempat sumber sampah. Pewadahan sampah
terdiri dari pewadahan individu dan pewadahan komunal. Pewadahan individual
adalah aktivitas penanganan penampungan sampah sementara dalam suatu wadah
khusus untuk dan dari sampah individu. Pewadahan komunal adalah aktivitas
penanganan penampungan sampah sementara dalam suatu wadah bersama baik dari
berbagai sumber maupun sumber umum.
Sampah yang dihasilkan suatu rumah tangga biasanya sebelum dibuang ke
tempat pembuangan, sampah tersebut ditampung terlebih dahulu dalam rumah di
sebuah tempat pengumpulan sampah berupa bak sampah. Pewadahan sampah di
setiap rumah berbeda-beda, ada yang menggunakan plastik, trashbag, ataupun
tempat sampah berbahan plastic box.
Menurut Damanhuri dan Padmi 2010, Pewadahan sampah merupakan cara
penampungan sampah sementara di sumbernya baik individual maupun komunal.
Wadah sampah individual umumnya ditempatkan di muka rumah atau bangunan
lainnya. Sedangkan wadah sampah komunal ditempatkan di tempat terbuka yang
mudah diakses. Sampah diwadahi sehingga memudahkan dalam pengangkutannya.
Idealnya jenis wadah disesuaikan dengan jenis sampah yang akan dikelola agar
memudahkan dalam penanganan berikutnya, khususnya dalam upaya daur-ulang.
Berdasarkan letak dan kebutuhan dalam sistem penanganan sampah, maka
pewadahan sampah dapat dibagi menjadi beberapa tingkat (level), yaitu:
a. Level-1: wadah sampah yang menampung sampah langsung dari sumbernya.
Pada umumnya wadah sampah pertama ini diletakkan di tempat-tempat yang
terlihat dan mudah dicapai oleh pemakai, misalnya diletakkan di dapur, di ruang
kerja. Biasanya wadah sampah jenis ini adalah tidak statis, tetapi mudah diangkat
dan dibawa ke wadah sampah level-2.
b. Level-2: bersifat sebagai pengumpul sementara, merupakan wadah yang
menampung sampah dari wadah level-1 maupun langsung dari sumbernya. Wadah
sampah level-2 ini diletakkan di luar kantor, sekolah, rumah, atau tepi jalan atau
dalam ruang yang disediakan, seperti dalam apartemen bertingkat . Melihat
perannya yang berfungsi sebagai titik temu antara sumber sampah dan sistem
pengumpul, maka guna kemudahan dalam pemindahannya, wadah sampah ini
seharusnya tidak bersifat permanen, seperti yang diarahkan dalam SNI tentang
pengelolan sampah di Indonesia. Namun pada kenyatannya di permukiman
permanen, akan dijumpai wadah sampah dalam bentuk bak sampah permanen di
depan rumah, yang menambah waktu operasi untuk pengosongannya.
c. Level-3: merupakan wadah sentral, biasanya bervolume besar yang akan
menampung sampah dari wadah level-2, bila sistem memang membutuhkan.
Wadah sampah ini sebaiknya terbuat dari konstruksi khusus dan ditempatkan sesuai
dengan sistem pengangkutan sampahnya. Mengingat bahaya-bahaya yang dapat
ditimbulkan oleh sampah tersebut, maka wadah sampah yang digunakan sebaiknya
memenuhi persyaratan sebagai berikut : kuat dan tahan terhadap korosi, kedap air,
tidak mengeluarkan bau, tidak dapat dimasuki serangga binatang dan air hujan serta
kapasitasnya sesuai dengan sampah yang akan ditampung.
Berdasarkan pengamatan langsung di rumah sewa mahasiswi dan rumah pemilik
kosan, diketahui bahwa bentuk wadah sampah adalah tabung dengan bagian atas
terbuka, dengan kapasitas sebesar 5 sampai 10 liter. Jumlah wadah sampah untuk
rumah pemilik kosan masing-masing memiliki 1 buah, sedangkan untuk di rumah
sewa mahasiswi adalah 1 buah untuk masing masing kamar. Pewadahan sampah
pada rumah kosan menggunakan wadah plastik termasuk level 1. Rumah kosan
terdiri dari 25 kamar. Wadah sampah diletakkan di depan masing-masing kamar.
Pewadahan sampah ini termasuk ke dalam level 1, dimana wadah sampah
menampung sampah langsung dari penghuni kamar yang merupakan sumber
sampah. Wadah sampah di rumah kosan ini tidak dilakukan pemilahan sesuai
dengan jenis sampah. Pemindahan sampah dari level 1 ke tempat wadah
pengumpulan sampah yang komunal dilakukan setiap hari. Pengumpulan ini
menggunakan wadah sampah yang lebih besar yang termasuk pewadahan sampah
level 2. Bentuk wadah sampah level 1 dan level 2 dapat dilihat pada gambar berikut:

(a) (b) (c)


Gambar 3 (a) wadah level-1 (b) wadah level-1 (c) wadah level-2

(a) (b) (c)


Gambar 4 (a) wadah level-1 (b) wadah level-1 (c) wadah level-2

Wadah sampah di rumah kosan ini tidak dilakukan pemilahan sesuai dengan
jenis sampah. Pemindahan sampah dari level 1 ke tempat wadah pengumpulan
sampah yang komunal dilakukan setiap hari. Pengumpulan ini menggunakan wadah
sampah yang lebih besar. Sampah yang dibuang ke wadah sampah tidak dipisahkan
atau tercampur antara organik dan anorganik. Sampah yang ditemukan dalam
pewadahan level 2 yaitu botol plastik, kantong plastik, kertas, sisa makanan,
sayuran dan lain-lain. Sampah di pewadahan level 2 setiap hari dikumpulkan oleh
sarana pengumpul seperti gerobak tangan sebelum diangkut ke TPS. Intensitas
pembuangan sampah dari Lokasi penelitian ini adalah setiap hari, Karena terdapat
petugas sampah yang setiap hari mengambil, dengan sistem komposit atau
dicampur.
Berdasarkan SNI 19-2454-2002 tentang tata cara teknik operasional pengelolaan
sampah perkotaan, pola perwadahan sampah level 1 di rumah kosan belum
memenuhi SNI dimana rumah kosan belum melakukan pewadahan sesuai dengan
jenis sampah yang terpilah yaitu sampah organik, anorganik dan bahan berbahaya
beracun rumah tangga. Lokasi dan penempatan wadah sudah memenuhi SNI yaitu
wadah individu ditempatkan di halaman muka kamar. Bahan wadah juga sudah
sesuai SNI yang tidak mudah rusak dan kedap air dengan menggunakan kantong
plastik, ekonomis, mudah dikosongkan. Penggunaan kantong plastik sesuai SNI
dengan kapasitas 10-40 L dengan umur wadah 2-3 hari.
Sistem pewadahan sampah yang kurang baik dapat menimbulkan dampak,
seperti dapat menimbulkan bau, mencemari lingkungan terutama akibat cemaran
air lindi, serta menyebabkan munculnya timbulan sampah. Mekanisme yang dapat
dilakukan untuk mereduksi timbulan sampah dari sistem pewadahan salah satunya
adalah dengan proses pemilahan sampah di sumber awal sampah. Selain itu, reduksi
sampah dapat juga dilakukan dengan adanya prose daur ulang sampah. Mekanisme
sistem pewadahan juga perlu diperbaiki, seperti dengan memperbaiki sarana serta
prasarana terkait pewadahan sampah guna mengefisienkan pemakaian pewadahan
sampah di suatu daerah sesuai dengan kapasitas tampungan sampah.

Pengukuran Timbulan dan Komposisi Sampah


Timbulan sampah adalah jumlah atau banyaknya sampah yang dihasilkan oleh
manusia pada suatu daerah. Data mengenai timbulan sampah ini sangat diperlukan
untuk desain sistem pengelolaan persampahan, seleksi jenis atau tipe peralatan
untuk transportasi sampah dan desain TPA. Penentuan untuk timbulan sampah
dapat digunakan satuan volume dan satuan berat (Azkha 2006).
Data mengenai timbulan sampah didapat dari hasil penelitian yang dilakukan di
rumah pemilik kosan Wisma Kartika Dramaga serta rumah sewa mahasiswa yang
terdiri dari 25 kamar sewa. Sampah diukur selama 8 hari untuk diperoleh nilai berat
serta volume dari masing-masing sampah. Proses pemilahan sampah dilakukan
untuk mendapatkan komposisi dari sampah organik serta anorganik di masing-
masing tempat penelitian. Komposisi sampah yang dihasilkan dari kedua tempat
pengujian tersebut memiliki perbedaan. Komposisi sampah yang diperoleh selama
8 hari untuk timbulan sampah di rumah pemilik kosan dan rumah kos, seperti
terlihat dalam Gambar 5.
Massa Sampah (Kg)

6
5
4
3
2
1
0
1 2 3 4 5 6 7 8
Rumah (Organik) 0,8 1,34 1,46 1,12 1,84 2,1 1,64 1,67
Rumah (Anorganik) 0,19 0,33 0,45 0,28 0,36 0,4 0,64 0,87
Kosan (Organik) 0,23 0,81 0,76 0,6 0,58 0,35 0,5 0,67
Kosan (Anorganik) 0,37 4,235 3,3 3,6 4,45 4,07 3,75 4,92

Hari ke -

Gambar 5 Grafik komposisi serta massa bersih sampah rumah pemilik kos wisma
kartika dan rumah kos wisma kartika Dramaga
Berdasarkan Gambar 5 terlihat komposisi sampah yang dihasilkan oleh satu
rumah dan satu kos-kosan dengan 25 kamar dalam kisaran waktu delapan hari.
Sampah rumah pemilik kosan terdiri dari sampah organik dan sampah anorganik.
Sampah anorganik terdiri dari plastik dan kertas. Komposisi sampah terbanyak
dalam rumah pemilik kosan adalah sampah organik. Pengukuran di hari pertama
yaitu pada hari Rabu tanggal 15 Februari 2017, menghasilkan berat sampah
organik terendah yaitu 0.8 kg, karena pada saat pagi hari sampah sudah dibuang
oleh petugas sampah. Sedangkan sampah organik terbanyak pada tanggal 20
Februari yaitu mencapai 2.1 kg. Pada rumah pemilik kosan, sampah anorganik
memiliki jumlah yang lebih sedikit dibandingkan jumlah sampah organik. Massa
bersih sampah anorganik terbesar adalah 0.87 kg pada hari terakhir pengukuran..
Sedangkan sampah rumah sewa kos-kosan yang terdiri dari 25 kamar pada hari
Rabu tanggal 15 Februari 2017, menghasilkan berat sampah organik dan
anorganik terendah yaitu 0.23 kg dan 0.37 kg, karena pada saat pagi hari sampah
sudah dibuang oleh petugas sampah. Sedangkan sampah organik terbanyak pada
tanggal 16 Februari yaitu mencapai 0.81 kg pada pengukuran hari kedua. Pada
rumah sewa kos-kosan, sampah anorganik memiliki jumlah yang jauh lebih besar
dibandingkan jumlah sampah organik karena kebanyakan mahasiswa membeli
makanan dari luar kosan. Massa bersih sampah anorganik terbesar adalah 4.92 kg
pada hari terakhir pengukuran..
Timbulan sampah yang dihasilkan setiap hari berbeda-beda beratnya.
Timbulan sampah mengalami penurunan dan kenaikan dalam 8 hari. Hal ini dapat
disebabkan oleh aktivitas penghuni rumah yang berbeda-beda terutama dalam
pola konsumtif setiap harinya. Banyaknya kegiatan di luar rumah dapat
mengurangi jumlah sampah dalam rumah.
Hasil terkait massa bersih sampah yang didapatkan dapat digunakan sebagai
bahan perhitungan densitas masing-masing sampah. Densitas diperoleh dengan
memperhitungkan data berat sampah dengan volume sampah. Menurut Wardiha
dkk (2014), densitas atau massa jenis sampah yaitu membandingkan antara berat
sampah dengan volume sampah tersebut. Densitas sampah dihitung dan disusun
berdasarkan jenis-jenis atau komposisi sampah. Pembagian jenis atau komposisi
sampah didasarkan pada jenis sampah apa saja yang dapat didaur ulang dan yang
tidak dapat didaur ulang. Besarnya nilai densitas dari masing-masing jenis sampah
untuk kedua tempat penelitian, seperti terlihat dalam Tabel 1.

Tabel 1 Nilai densitas masing-masing jenis sampah

Lokasi Rata-Rata Densitas (kg/l)


Organik Anorganik
Rumah sewa mahasiswa 0.97 0.80
Rumah pemilik kosan 8.79 0.86
Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai densitas masing-masing jenis sampah
berbeda-beda. Nilai densitas akan sebanding dengan berat dari masing-masing
sampah yang dihasilkan. Densitas sampah terbesar yang dihasilkan dari rumah
pemilik kosan maupun rumah sewa mahasiswa adalah sampah organik. Densitas
sampah organik untuk rumah pemilik kosan rata-rata adalah 8.79 kg/lt. Besarnya
densitas sampah organik di rumah sewa mahasiswa yaitu sebesar 0.97 kg/lt.
Berdasarkan hasil yang diperoleh, jumlah mengenai timbunan dan komposisi
sampah serta densitas jenis sampah yang dihasilkan di kedua tempat penelitian
mengalami perbedaan. Perbedaan tersebut sangat dipengaruhi oleh aktivitas dari
masing-masing penghuni rumah serta jumlah penghuni dalam rumah tersebut.
Aktivitas mahasiswa yang lebih banyak dilakukan di kampus dengan aktivitas
warga yang bekerja di luar rumah maupun warga yang tinggal di dalam rumah
dalam satu hari tersebut menghasilkan timbulan sampah yang berbeda. Aktivitas
mahasiswa lebih sering menghasilkan sampah anorganik dibandingkan dengan
aktivitas warga yang lebih sering menghasilkan sampah organik.
Berdasarkan hal tersebut pengelolaan sampah di kedua lokasi tersebut perlu
diberikan penanganan sistem pengelolaan yang berbeda. Menurut Azkha (2006),
karakteristik sampah yang dihasilkan di kedua lokasi tersebut sangat
mempengaruhi sistem pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah di rumah warga
akan lebih baik jika dengan proses pengomposan bahan-bahan organik. Berbeda
dengan pengelolaan rumah warga, pengelolaan sampah di rumah sewa mahasiswa
perlu dilakukan dengan proses daur ulang sampah.

DAFTAR PUSTAKA
Azka N. 2006. Analisis Timbulan, Komposisi dan Karakteristik Sampah di Kota
Padang. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 1(1): 14-18.
Damanhuri, Erni dan Tri Padmi. 2010. Pengelolaan Sampah. Diktat Kuliah
Pengelolaan Sampah. Bandung (ID): ITB Pr.
Prihandarini. 2004. Manajemen Sampah: Daur Ulang Sampah Menjadi Pupuk
Organik. Jakarta (ID): Perpod.
SNI 19-2454-2002 tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah
Perkotaan.
Wardiha, Putri, Muhajirin. 2014. Timbulan dan Komposisi Sampah di Kawasan
Perkotaan dan Wisma (Studi Kasus: Werdhapura Village Center, Kota
Denpasar, Provinsi Bali). Jurnal Bumi Lestari. 14(1): 27-38.