Anda di halaman 1dari 18

OBAT YANG MENGINDUKSI GAGAL GINJAL

AKUT

Kasus :

Martin James adalah seorang pria 73 tahun yang awalnya di periksa oleh rumah sakit
dengan gejala gagal jantung yang memuncak pada aorta dan operasi penggantian katup mitral
.Operasi nya rumit berlangsung selama 1 jam dan akibatnya tekanan darah menurun, dengan BP
serendah 70/50. Tiga hari pasca-operasi, drainase purulen tercatat dari tempat bedah dan ia
kemudian di diagnosis menderita mediastinitis. pada saat itu, pada pasien juga ditemukan
memiliki bakteria Serratia (biakan di darah 4 x positif Serratia marcescens, yang peka terhadap
gentamisin, piperasilin, ceftazidime, dan ciprofloxacin; tercatat resistensi terhadap ampisilin).
Terapi telah dimulai dengan gentamisin dan piperasilin. Sejauh ini, ia telah menyelesaikan 25
hari dari 6 minggu pemakaian antibiotik. Hal ini meningkat secara bertahap dalam BUN dan
kreatinin serum dari konsentrasi awal dan tanda-tanda volume overload telah dicatat selama 7
hari terakhir .

Riwayat Penyakit :

DM Tipe I
CKD
Gout
Osteoarhtritis
HTN
Atrial fibrillation

Operasi yang pernah dilalui :

Operasi penggantian katup aorta danmitral 28 hari yang lalu

Family History :

Ayahnya menderita DM tipe 1

Lingkungan:

Pasien tidak merokok atau pun mengkonsumsi alkohol.


Obat yang Diberikan :

Gentamicin 180 mg IVPB Q 48 h (See Table 48-1 for previous dosages)


Ceftazidime 1 g IVPB Q 12 h 25 days
Enalapril 5 mg po once daily
Colace 100 mg po BID
Furosemide 80 mg po Q 12 h 2 days
Digoxin 0.25 mg po once daily
Allopurinol 100 mg po once daily
Ranitidine 150 mg po Q 12 h
Meperidine 25 mg IM Q 46 h PRN pain (started 3 days ago)
Ibuprofen 400 mg po Q 46 h PRN pain (started today for joint pain)
Sliding scale insulin

Kondisi Umum :

KI dengan Bactrim ( terjadi ruam pada 10 tahun yang lalu, ruam mereda ketika obat
dihentikan )

Pemeriksaan Fisik :

Saat ini pasien mengeluh kesulitan bernapas, kelemahan, malaise umum, dan nyeri pada
sendi di tangan. Tidak ada demam atau menggigil.

Pertanda Vital :

Tekanan darah 152/90


Denyut nadi 80
Laju nafas 26
Suhu 37.7 oC

Kulit :

Turgor kulit normal.


Tabel :

Hasil Lab :

Parameter Hasil Normal Keterangan

Na 138 mEq/L 135-150 mEq/L Normal

K 3.9 mEq/L 3.5-5.2 mEq/L Normal

Cl 104 mEq/L 95 - 110 Normal

CO2 25 mEq/L 22-30 mEq/L Normal

BUN 52 mg/dL 8- 25 Tinggi

SCr 3.2 mg/dL 0.6 1.1 Tinggi

Glu 130 mg/dL 65-109 Tinggi

Ca 8.5 mg/dL 8.6-10.3 Bisa


ditoleransi

Phos 4.7 mg/dL 0.9-1.5 Tinggi

Mg 2.7 mg/dL 1.3-2.2 Normal

Hgb 9.2 g/dL 12.1-15.1 Rendah


Hct 28.5 % 36 - 46% Rendah

Plt 263 103/mm3 150-350 x 103 Normal

WBC 9.9 103/mm3 3.2-9.8x103 Bisa ditoleransi

Drug Related Problems

1. Gentamicin
Indikasi : Septikemia, ISK, infeksi saluran nafas, meningitis, infeksi kulit dan
jaringan lunak.

Alasan pemberian : diberikan gentamicin karena sentitif terhadap serratia marcescens, dan
karena penderita menderita gagal ginjal maka dosis diturunkan.

Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap aminoglikosida, insufisiensi ginjal , terapi jangka


lama

Efek samping :Ototoksisitas, nefrotoksisitas, blokade neuromuskuler, superinfeksi.

Interaksi :

Dengan anti jamur (Amphoterisin B, Imipenem) Keduanya memiliki efek nefrotoksik


sehingga dapat terjadi adisi efek nefrotoksik.
Diuretik (Asam etakrinat, Bumetanid, Furosemid) menyebabkan kerusakan pada telinga
dan gangguan pendengaran.
absorpsi terganggu oleh antasida yang mengandung Aluminium, Kalsium, atau
Magnesium.
Dosis lazim :

Dewasa: 3 mg / kg / d, dalam 3 dosis yang sama setiap 8 jam.


Anak-anak: 2,0-2,5 mg / kg setiap 8 jam.
Bayi, neonatus: 2,5 mg / kg setiap 8 jam.
DRP :

Di gunakan untuk infeksi yang serius, namun efek sampingnya adalah superinfeksi.
Hipersensitif terhadap amino glikosida, semntara gentamisin adalah antibiotik golongan
aminoglikosida.

Usul : diberikan antibiotic gentamicin dengan dosis 54 mg setiap 48 jam.

2. Ceftazidime

Indikasi :

Ceftazidime diindikasikan dalam pengobatan pasien dengan infeksi berikut: saluran


pernapasan bawah (pneumonia), kulit dan struktur kulit, infeksi saluran kemih, infeksi
septicemia, tulang dan sendi bakteri, ginekologi (endometritis, panggul selulitis dan infeksi
saluran kelamin perempuan disebabkan oleh Escherichia coli), intraabdominal (peritonitis
polimikroba), sistem saraf pusat (meningitis yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae dan
Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae dan Pseudomonas aeruginosa).

Alasan pemberian : tidak digunakan ceftazidime karena interaksi obat dengan furosemid
dapat meningkatkan efek toksisitas.

Kontra indikasi : Ceftazidime merupakan kontraindikasi pada pasien yang telah


menunjukkan hipersensitivitas terhadap antibiotik sefalosporin dan ceftazidime. Diperlukan
untuk menentukan apakah pasien memiliki reaksi kepekaan terhadap ceftazidime, sefalosporin,
penisilin, atau obat-obatan lain, karena hipersensitivitas silang antara beta-laktam antibiotik
adalah 10%.

Efek samping : hanya kecil kemungkinan timbul reaksi merugikan. Yang paling umum
adalah reaksi lokal setelah suntikan, gangguan gastrointestinal dan alergi.

Dosis :

Dosis lazim dewasa adalah 1 g diberikan IV atau IM, setiap 8 sampai 12 jam.
Dosis dan rute pemberian harus ditentukan oleh kerentanan organisme penyebab infeksi,
keparahan daripadanya, kondisi pasien dan kondisi fungsi ginjal daripadanya.
Pada pasien dengan disfungsi hati tidak memerlukan penyesuaian dosis.
Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (laju filtrasi glomerulus kurang dari 50 ml /
menit) dianjurkan untuk mengurangi dosis ceftazidime untuk mengimbangi ekskresi
lambat.
Pada pasien yang diduga insufisiensi ginjal, dosis muatan awal 1 g ceftazidime dapat
diberikan.
Usul : sebaiknya tidak digunakan antibiotic ceftazimide untuk mengobati infeksi bakteri pada
pasien, infeksi bakteri lebih efektif diobati dengan gentamicin karena serratia marcescens lebih
sensitive terhadap gentamicin, dan juga untuk mengurangi efek nefrotoxic maka ceftazimide dan
gentamicin tidak efektif dikombinasi.

3. Enalapril 5 mg po once daily

Indikasi : Hipertensi renovaskular, gagal jantung kongestif

Kontra-indikasi : Hipersensitivitas pada ACE inhibitor termasuk angiodema, pasien diduga


mengalami gangguan renovascular, tidak boleh untuk ibu hamil.

Efek Samping : Hipotensi, gagal ginjal, batuk kering.

Class of drug : ACE inhibitor.

Mekanisme : Menghambat ACE, dengan cara demikian mencegah terjadinya perubahan


angiotensin menjadi angiotensin II, sehingga resistensi arteri periperal
menurun.

Rute : Oral, IV

Dosis : Hipertensi ( Dewasa pemberian awal 5 mg peroral sehari)

Congestive Heart Failure (Dewasa pemberian awal PO 2.5 mg/hari or


b.i.d.

Maintenance: 5 mg/hari. Adults: IV 0.6251.25 mg q6h

Pengaturan dosis :

Gagal Ginjal : Creatinine clearance >30mL/min: Tidak diberikan

creatinine clearance <30mL/min: Pemberian awal 2.5 mg/hari, maximum 40


mg/hari.

Liver Disease: None.

Lansia : None.

Anak-anak :Keselamatan dan efikasi belum ditetapkan.

Alasan pemberian obat : Karenda dalam PMH (Past Medical Histroy) paseien, pasien pernah
mengalami hipertensi. Sehingga obat ini diduga untuk mengobat
hipertensi pasien.
DRP :Dari data lab yang didapatkan , creatinin clearance pasien adalah 25
mL/menit. Sedangkan dalam pengturan dosis obat ini, creatinin clearance
yang berada dibawah 30 mL/menit, tidak perlu diberikan obat ini. Efek
samping dari obat ini salah satunya adalah gagal ginjal

Usul : Obat ini tidak dapat diberikan pada pasien yang creatinin clearancenya
dibawah 30 mL/menit, sehingga obat ini tidak cocok diberikan pada
pasien

4. Colace
Indikasi :

Untuk mencegah konstipasi

Mekanisme kerja :

Menurunkan tekanan permukaan tinja, membantu penyampuran bahan cairan dan lemak,
sehingga dapat mekunakkan tinja.

Alasan pemberian :

Biasanya digunakan setelah operasi

Kontra Indikasi :

Alergi, gangguan intestinum

Efek samping :

Sakir perut, kram atau tenggorokan teritasi, ruam kulir, perdarahan (iritasi) rectum,
kurangnya gerakan usus.

Dosis :

100 mg peroral

Interaksi obat :

Obat ini tidak dianjurkan untuk digunakan dengan minyak mineral, atau produk yang
mengandung aspirin

Analisa : pemberian colace sudah cukup tepat dan dosisnya sudah benar.
5. Furosemide
Indikasi :

Pengobatan edema yang menyertai payah jantung kongestif, sirosis hati dan gangguan
ginjal termasuk sindrom nefrotik.
Pengobatan hipertensi, baik diberikan tunggal atau kombinasi dengan obat antihipertensi.
Asites
Hiperkaliemia
Keracunan
Alasan pemberian : Untuk meningkatkan jumlah cairan yang dibuang melalui ginjal.

Untuk mengurangi udem yang di sebabkan gagal jantung.

Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap sulfonamid, anuria, Dan hati koma

Efek samping : Dapat terjadi setelahpemakaian jangka lama dan dosis tinggi berupa
muntah anoreksia, diare, azotemia, hiperglikemia.
Qangguan hematologi berupa trombositopenia, anemia, arganulositosis
Reaksi pada kulit berupa urtikaria, eritema multiformis

Interaksi :

Obat yang meningkatkan efek / toksisitas diuretik loop: obat nefrotoksik atau ototoxic
lainnya, amfoterisin B, steroid.
Obat yang mengurangi efek / toksisitas diuretik loop: probenesid, indometasin, diuretik
hemat kalium.
Dosis lazim :

Dewasa: Dosis awal 1/2 sampai 1 tablet sehari, sebaliknya diminum pada paqi hari.
Pengobatan selanjutnya dengan interval antara 6 - 8 jam tergantunq
pada diuresis yang terjadi.
Anak-anak: 1-2 mg/kg berat badan sekali sehari KEMASAN Dus, isi 10 strip @ 10 tablet.
DRP :
hirsensitif terhadap sulfonamid
Dengan probenesid akan menghambat sekresi tubuli Furosemide.
Usul :

diet dengan makanan yang kaya kalium: pisang, jeruk, peach, tanggal.
Pemberian perlu pengawasan ketat dan dosis harus disesuaikan dengan kebutuhan.

6. Digoxin
Indikasi : Digoksin sebagai glikosida jantung digunakan untuk digitalisasi dan terapi
pemeliharaan. Digoksin juga digunakan secara intravena (IV) untuk digitalisasi cepat pada
kondisi darurat.

Alasan pemberian : karena pasien mengalami gagal jantung makanya diberikan digoxin,
supaya meningkatkan fungsi jantung untuk memompa darah..

Kontra indikasi : Intermittent complete heart block ; Blok AV derajat II ; supraventricular


arrhytmias yang disebabkan oleh Wolff-Parkinson-White Syndrome ; takikardia ventricular atau
fibrilasi ; hypertropic obstructive cardiomyopathy

Efek samping : Biasanya berhubungan dengan dosis yang berlebih, termasuk : anoreksia, mual ,
muntah, diare, nyeri abdomen, gangguan penglihatan, sakit kepala, rasa capek, mengantuk , bingung,
delirium, halusinasi, depresi ; aritmia, heart block ; jarang terjadi rash, isckemia intestinal ; gynecomastia
pada penggunaan jangka panjang , trombositopenia.

Dosis :

1. Biasanya dosis inisiasi oral sebesar 500-750 mcg (0,5-0,75 mg) digoksin tablet, atau
400-600 mcg (0,4-0,6 mg) digoksin kapsul cair menghasilkan efek terdeteksi setelah
0,5-2 jam dan terjadi efek maksimal pada waktu 2-6 jam. Dosis tambahan sekitar
125-375 mcg tablet digoksin atau 100-300 mcg digoksin kapsul cair bila perlu dapat
diberikan secara hati-hati pada 6-8 jam setelah pemberian dosis inisiasi hingga
diperoleh respon klinis yang memadai. Pasien dengan berat badan 70 Kg umumnya
mendapatkan respon klinis yang memadai pada dosis 750-1250 mcg digoksin tablet
atau setara dengan 600-1000 mcg digoksin kapsul cair.
2. Dosis inisiasi IV umumnya adalah 400-600 mcg (0,4-0,6 mg) yang segera akan
menghasilkan efek terdeteksi setelah 5-30 menit pemberian dan mencapai efek
maksimum setelah 1-4 jam setelah pemberian pada pasien dewasa. Dosis tambahan
100-300 mcg digoksin dapat diberikan secara hati-hati setelah 6-8 jam setelah
pemberian dosis inisiasi hingga diperoleh respon klinis yang memadai. Dosis IV
digoksin pada pasien dewasa dengan berat badan 70 Kg adalah sekitar 600-1000 mcg.
3. Dosis pemeliharaan pada anak usia 2-5 tahun dengan fungsi ginjal normal adalah 10-
15 mcg/Kg BB, anak usia 5-10 tahun dengan fungsi ginjal normal adalah 7-10
mcg/Kg BB, sedangkan anak usia lebih dari 10 tahun dengan fungsi ginjal normal
adalah 3-5 mcg/Kg BB. Dosis digitalisasi IV umumnya adalah 80% dari dosis tablet
atau eliksir.
4. Dosis pemeliharaan pada pasien dengan usia lebih dari 70 tahun umumnya dimulai
dengan dosis 125 mcg sekali sehari peroral (daam bnetuk tablet).
5. Dosis digoksin pada pasien dengan insufisiensi ginjal (bersihan kreatinin kurang dari
10 ml/menit, maka penyesuaian dosis ditentukan berdasarkan konsentrasi puncak
penyimpanan digoksin dalam tubuh (6-10 mcg/Kg BB) karena penurunan fungsi
ginjal ini akan mempengaruhi pola distribusi dan eliminasi digoksin.

Dosis pemeliharaan digoksin pada pasien dewasa dengan gangguan fungsi ginjal
dapat dimulai dengan 125 mcg sekali sehari (tablet) atau 62,5 mcg pada pasien yang
ditandai mengalami kerusakan ginjal, dosis dapat ditingkatkan setiap 2 minggu sesuai
dengan respon klinis .
Usul : karena pasien juga mengalami gangguan fungsi ginjal maka digunakan
digoxin dengan dosis 125 mcg sekali sehari.

7. Allopurinol 100 mg po once daily

Indikasi : Artritis encok, tofi kulit dan atau pelibatan ginjal melalui penimbunan
kristal atau pembentukan batu

Kontra Indikasi : Tidak diberikan untuk penderita gout akut tapi dapat dilanjutkan jika terjadi
serangan tiba-tiba ketika meminum Allupurinol

Mekanisme : Menghambat enzim xanthine oxidase, enzim yang dapat merubah


hipoxanthin menjadi xanthin. Xanthine adalah prekursor untuk produksi asam
urat. Sehingga produksi asam urat menurun

Class of drug : Pengobatan untuk gout, profilaksis untuk chemotherapy yang menginduksi
hiperurisemia

Efek Samping : rash, gastro intestinal disorders, sakit kepala

Rute : Oral

Dosis :Gout Ringan (Dewasa: 200300 mg/hari)

Moderate or severe gout (Dewasa: 400600 mg/hari)

Prophylaxis against acute attack (100 mg/hari. Maximum: 800 mg/hari)

Prevention of hyperuricemia during cancer chemotherapy (Adults, children


>10 years: 600800 mg/hari, 23 divided doses, 12 days before
chemotherapy for 23 days. IV 200400 mg/m2/d. Children <10 years: 200
300 mg/m2/d, 24 divided doses.IV 200300 mg/m2/d.

Pengaturan Dosis
Gagal ginjal :Perhitungan dosis bergantung pada creatinin clearance. Dosis awal diberikan
(300 mg/hari) mulai dari 50 mg pada creatinin clearance 20 mL/min. decrease in
creatinine clearance below 100 mL/min. (Example: Creatinine clearance = 60;
give 200 mg allopurinol/d). Creatinine clearance <20 mL/min: diberikan q2d or
q3d.

Alasan pemberian obat : Obat ini diberikan pada pasien yang mengalami asam urat,
berdasarkan PMH pasien, pasien pernah mengalami gout. Mempunyai
efek positif pada pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis (GGK)
dengan memperlambat progresifitas kerusakan ginjal.

DRP : Obat ini dapat juga diberikan pada pasien yang mengalami gagal ginjal, dilihat dari
indikasi obat tersebut. Dosis yang diberikan harus diperhatikan karena, pasien sudah lanjut usia.

8. Ranitidine
Indikasi :

Pengobatan jangka pendek tukak duodenum aktif, tukak lambung aktif, mengurangi
gejala refluks esofangitis. Terapi pemeliharaan setelah penyembuhan tukak duodenum
dan lambung, sindroma Zollinger-Ellison.

Kontra indikasi :

Penderita yang hipersensitif terhadap ranitidine, hipersensitif blocker H2

Efek samping :

Sakit kepala, pusing, mengantuk, insomnia, gastrointestinal (konstipasi, diare , mual


muntah), hipersensitivitas, sedikit peningkatan kadar dalam kreatinin serum

Interaksi obat :

Ranitidine tidak menghambat kerja dari sitokrom p450 dalam hati


Pemberian bersama warfarin dapat meningkatkan atau menurunkan waktu
protombin

Dosis: Ranitine oral

150 mg 2 kali sehari (pagi dan malam) atau 300 mg sekali sehari sesudah makan
malam atau sebelum tidur, selama 4-8 minggu
Tukak lambung aktif 150 mg 2 kali sehari (pagi dan malam) selama 2 minggu
Dosis pada penderita gangguan fungsi ginjal. Bila bersihan kreatinin <50
mL/menit : 150 mg/24 jam.
DRP :

Pasien mengalami meningkatan konsentrasi kreatinin serum, sedangkan efek


samping dari ranitidine dapat meningkatkan kadar dalam kreatinin serum
Dosis harus disesuaikan, karena pasien gagal ginjal, sebaiknya berhati-hati dalam
pemberian, karena bia menimbulkan resiko pertambahan keparahan gagal
ginjalnya.

Usul : Tidak usah diberikan, karena pasien mengalami peningkatan konsentrasi kreatinin
serum.

9. Meperidine
Indikasi : Analgetik sebelum operasi, Obstetri, dan anestesi

Alasan pemberian : untuk menghilangkan rasa sakit ketika operasi berlangsung

Kontra Indikasi : Hipersensitivitas terhadap narkotika dari jenis yang sama, inhibitor MAO
dalam waktu 14 hari.

Efek samping : hipotensi, bradikardia, apnea, depresi peredaran darah, pertahanan


saluran pernapasan, kejang (dosis tinggi, IV), shock, depresi peningkatan
intrakranial, ileus paralitik, ketergantungan fisik dan psikologis dan
kecanduan.

Interaksi : Obat yang meningkatkan efek / Toksisitas pada analgesik narkotika


seperti alkohol, benzodiazepin, antihistamin, fenotiazin, butyrophenones,
triyclic antidepresan, inhibitor MAO.

Dosis lazim :

Untuk analgetik : Dewasa: IV, IM, PO 50-150 mg q3-4h sesuai kebutuhan


Anak-anak: 1,0-1,5 mg / kg q3-4h sesuai kebutuhan.
Untuk anastesi : IV infus 1-10 mg / mL yang diperlukan
DRP :

Bila di konsumsi bersamaan dengan alkohol akan menyebabkan kematiaan


Usul :

Hindari alkohol dan obat-obat depresan seperti sedatif (misalnya, diazepam) saat
mengkonsumsi obat ini.
Jangan meningkatkan dosis tanpa persetujuan dari dokter
.
10.Ibuprofen

Indikasi : Karena efek analgesik dan antiinflamasinya maka dapat digunakan untuk
meringankan gejala-gejala penyakit rematik tulang, sendi dan non-sendi. Juga dapat digunakan
untuk meringankan gejala-gejala akibat trauma otot dan tulang/ sendi (trauma muskuloskeletal).

Karena efek analgesiknya maka dapat digunakan untuk meringankan nyeri ringan sampai sedang
antara lain nyeri pada dismenore primer (nyeri haid), nyeri pada penyakit gigi atau pencabutan
gigi, nyeri setelah operasi, sakit kepala.

Alasan pemberian : digunakan ibuprofen untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien, jika
pasien mengalami rasa nyeri akibat operasi.

Kontra indikasi :

Penderita dengan ulkus peptikum (tukak lambung dan duodenum) yang berat dan aktif.
Penderita dengan riwayat hipersensitif terhadap Ibuprofen dan obat antiinflamasi non-
steroid lain.
Penderita sindroma polip hidung, angioedema dan penderita dimana bila menggunakan
asetosal atau obat antiinflamasi non-steroid lainnya akan timbul gejala asma,rinitis atau
urtikaria.
Kehamilan tiga bulan terakhir.

Efek samping :

Walaupun jarang terjadi, tapi timbul efek samping sebagai berikut : gangguan saluran
pencernaan termasuk mual, muntah, gangguan pencernaan, diare, konstipasi dan nyeri
lambung
Juga pernah dilaporkan terjadi ruam pada kulit, bronchospasme (penyempitan bronkus),
trombositopenia (penurunan sel pembeku darah).

Dosis :

Dewas:
Untuk analgesik dan antiinflamasi (rematik tulang, sendi dan non-sendi, trauma otot dan tulang /
sendi) .Dosis yang dianjurkan : sehari 3 4 x 400 mg.

Pada permulaan pemakaian sebaiknya menggunakan dosis minimum yang efektif yaitu 400 mg 3
kali sehari.
Untuk analgesik :
Dosis yang dianjurkan : 200 mg sampai 400 mg 3 4 kali sehari.

Peringatan dan Perhatian

Pada uji klinis, dosis lebih besar dari 400 mg tidak lebih efektif dibanding dosis 400 mg.
Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.
Penggunaan Ibuprofen harus hati-hati pada penderita : Lupus eritematosus sistematik
dan Gangguan fungsi hati dan ginjal.
Karena Ibuprofen dapat menyebabkan penyempitan bronkhus (bronchospasme) maka
hati-hati pada penderita asma.
Karena pernah dilaporkan terjadi retensi cairan dan edema, maka hati-hati pada penderita
yang pernah menderita penyakit gagal jantung.
Pada umumnya pendarahan pada lambung dan/ atau ulcer atau perforasi pada pasien usia
lanjut akan lebih berat.
Tidak dianjurkan untuk wanita hamil dan menyusui.
Selama menggunakan obat ini jangan minum asetosal, juga obat antikoagulan (anti
pembekuan darah) golongan warfarin.
Penurunan ketajaman penglihatan dan kesulitan membedakan warna dapat terjadi, tetapi
sangat jarang dan akan sembuh bila obat dihentikan. Apabila terjadi gangguan
penglihatan maka obat harus segera dihentikan dan memeriksakan mata ke dokter.

Usul : sebaiknya dikonsumsi jika pasien merasa nyeri.

11.Sliding scale insulin


Pemberian insulin secara sliding scale dimaksudkan agar pemberiannya lebih efisien dan
tepat karena didasarkan pada kadar gula darah pasien pada waktu itu. Gula darah
diperiksa setiap 6 jam sekali.
Alasan Pemberian Obat : Pasien mengalami penyakit DM tipe 1, penyakit yang sangat
bergantung pada insulin, sehingga wajib diberikan pada pasien. Penggunaannya pun lebih
mudah.

Kesimpulan :

Gentamicin diberikan
Ceftazidime tidak Diberikan
Enalapril diberikan
Colace tidak Diberikan
Furosemide diberikan
Digoxin Diberikan, tetapi dosis diturunkan menjadi 125 mcg
Allopurinol Diberikan
Ranitidine Tidak diberikan
Meperidine Tidak diberikan
Ibuprofen tidak Diberikan
Sliding scale insulin Diberikan

GAGAL GINJAL AKUT

G a g a l g i n j a l a k u t m e r u p a k a n s u a t u k e a d a a n k l i n i s ya n g d i t a n d a i d e n
g a n penurunan fungsi ginjal secara mendadak dengan akibat terjadinya peningkatan
hasilmetabolit seperti ureum dan kreatinin. Kebanyakan GGA reversible, ginjal termasuk organ
yang relatif unik diantara organ yang lain dalam kemampuannya untuk sembuh dari fungsi yang
menurun.Namun, GGA tetap juga merupakan morbiditas dan mortalitas utama dalam rumah
sakit akibat beratnya penyakit penyebab GGA tersebut .

Penyebab Gagal Ginjal Akut


Bila diuraikan,penyebab gagal ginjal akut dapat dibagi menjadi 3 mekanisme,yaitu gagal
ginjal prerenal,gagal ginjal intrinsik,dan gagal ginjal postrenal.
1. Gagal ginjal Prerenal
Yang dimaksud pre adalah sebelum,dan renal adalah ginjal. Ini berarti penyebab berasal dari
luar ginjal,akibat berkurangnya volume darah yang masuk ke dalam ginjal. gagal ginjal prerenal
merupakan penyebab gagal ginjal akut yang paling sering,dan dapat berkembang dan dapat
berkembang menjadi gagal ginjal Intrinsik jika tidak segera di perbaiki.Volume darah ke ginjal
dapat berkurang akibat berbagai sebab,misalnya : Diare dan muntah-muntah berat yang
menyebabkan cairan tubuh berkurang cepat. Inilah sebabnya penderita diare harus selalu
diberikan oralit,dan jika masih terjadi dehidrasi ia harus segera di infus.
Ada juga beberapa obat yang dapat mencetuskan terjadinya gagal ginjal akut prarenal pada
saat volume darah sedang dalam kondisi kurang baik. Diantaranya adalah obat antihipertensi
golongan angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACEI) dan angiotensin reseptor blocker
(ARB),obat anti peradangan,dll.
2. Gagal ginjal intrinsik
Merupakan penyakit gagal ginjal yang di akibatkan karena adanya penyakit di dalam ginjal
itu sendiri.Ini dapat disebabkan oleh Gangguan pada pembuluh darah ginjal, misalnya akibat
sumbatan,atau kerusakan pembuluh darah ginjal. Kerusakan juga dapat terjadi akibat
diabetes,hipertensi,dll.
3. Gagal ginjal Postrenal
Adalah gagal ginjal akut yang terjadi akibat gangguan pada saluran kemih setelah ginjal,yaitu
piala ginjal,ureter,kandung kemih,atau uretra (saluran keluar kencing). Gagal ginjal akut dapat
terjadi jika terjadi penyumbatan pada sluran-saluran ini.Jika sumbatan hanya pada satu sisi,maka
mungkin kadar kreatinin darah tidak banyak berubah,Meski demikian darah yang disaring oleh
ginjal tetap berkurang.
Penyebab sumbatan antara lain batu,penyempitan atau striktur saluran kencing (biasanya
akibat infeksi sebelumnya),tumor,dan pembesaran prostat.Dan jika sumbatan bersifat total,maka
tidak ada urin yang dapat keluar
Tanda dan gejala yang muncul mungkin didominasi oleh penyakit
pencetus.Temuan-temuan klinis yang terkait dengan gagal ginjal meliputi pucat,
penurunan volume urin, hipertensi muntah dan letargi. Komplikasi gagal ginjal akut
meliputi kelebihan cairan, dengan gagal jantung kongestif dan edema paru.

Terjadinya gagal ginjal disebabkan oleh beberapa penyakit serius yang di dederita oleh tubuh
yang mana secara perlahan-lahan berdampak pada kerusakan organ ginjal. Adapun beberapa
penyakit yang sering kali berdampak kerusakan ginjal diantaranya :

Penyakit tekanan darah tinggi (Hypertension)


Penyakit Diabetes Mellitus (Diabetes Mellitus)
Adanya sumbatan pada saluran kemih (batu, tumor, penyempitan/striktur)
Kelainan autoimun, misalnya lupus eritematosus sistemik
Menderita penyakit kanker (cancer)
Kelainan ginjal, dimana terjadi perkembangan banyak kista pada organ ginjal itu sendiri
(polycystic kidney disease)
Rusaknya sel penyaring pada ginjal baik akibat peradangan oleh infeksi atau dampak dari
penyakit darah tinggi. Istilah kedokterannya disebut sebagai glomerulonephritis.

Gejala gagal ginjal akut


Gejala-gejala yang ditemukan pada gagal ginjal akut:

- Berkurangnya produksi air kemih (oliguria=volume air kemih berkurang atau anuria=sama
sekali tidak terbentuk air kemih)
- Nokturia (berkemih di malam hari)
- Tanda-tanda kekurangan cairan (mukosa bibir kering, turgor kulit menurun)
- Pembengkakan tungkai, kaki atau pergelangan kaki
- Pembengkakan yang menyeluruh (karena terjadi penimbunan cairan)
- Berkurangnya rasa, terutama di tangan atau kaki
- Perubahan mental atau suasana hati
- Tanda-tanda sumbatan pada saluran kemih
- Kejang
- Tremor tangan
- Mual, muntah

Sasaran Terapi
Memperbaiki aliran darah ke ginjal
Mengurangi gejala
Menyokong kerja ginjal
Mencegah komplikasi yang dapat terjadi akibat GGA
Meningkatkan kualitas hidup

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin dalam darah dapat menjadi acuan untuk mengetahui
adanya GGA.

Pemeriksaa urin (urinalisis) juga sangat penting untuk menentukan penyebab dan beratnya GGA.
Jika penyebabnya adalah gangguan penyaringan maka dapat terlihat adanya protein dalam urin.
Penumpukan dari zat-zat yang ada dalam ginjal juga dapat terlihat. Bila penyebabnya adalah
sumbatan dapat terlihat peningkatan sel darah merah dan sel darah putih dalam urin.

Terapi

1. Terapi non farmakologis


Diet kaya karbohidrat serta rendah protein, natrium, dan kalium.
Penderita dengan kemampuan makan yang rendah, bila diperlukan, berikan tambahan
suplemen vitamin seperti asam folat, vitamin B6, vitamin C, Vitamin D dan vitamin K.
Untuk sumber bahan makanan yang mengandung lemak hindari lemak jenuh dan lemak tinggi
garam. Tambahkan asupan lemak tidak jenuh ganda yang baik untuk kesehatan ginjal anda
(misalnya asam lemak omega 3)
Asupan cairan dibatasi disesuaikan dengan volume air kemih yang dikeluarkan
Asupan garam dan zat-zat yang dikeluarkan dalm keadaan dibuang oleh ginjal juga dibatasi
2. Terapi Farmakologis
Bila sudah dinyatakan gagal ginjal tahap akhir, maka pasien harus menjalankan terapi pengganti
ginjal seumur hidupnya.

Ada 3 jenis terapi pengganti ginjal , yaitu :

a. Transplantasi atau cangkok ginjal


b. Hemodialisis (cuci darah)
c. Peritonial Diseases (CAPD= Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis)

Yang semuanya membutuhkan dana yang cukup besar.

Rekomendasi obat :

Ceftazidime 1g IV setiap 12 jam selama 25 hari

Colace 100 mg po 2 kali sehari

Furosemid 80 mg po setiap 12 jam selama 2 hari

Digoxin 0.125mg po 1 kali sehari

Allopurinol 100 mg po 1 kali sehari

Meperidine 25 mg IM setiap 4 jam (jika dirasakan nyeri)

Ibuprofen 400 mg po setiap 4-6jam (jika dirasakan nyeri)

Insulin