Anda di halaman 1dari 6

Faktor-Faktor Terjadinya Konflik Pada Proyek Konstruksi Di Banda Aceh

Zahratun Nisa1 Anita Rauzana2 Ibnu Abbas Majid3


1,2,3
Jurusan Teknik Sipil, Universitas Syiah Kuala, Jl. Syekh Abdurrauf No. 10 Banda Aceh 23111
Email: dara_mgg@yahoo.co.id

Abstract
Success a project of construction is depend on cooperation among parties involved in it, that was service
user (owner), service provider (executor contractor), and consultant. The parties have the different interests and
purpose, which at last can make conflict at planning and implementation of the project. Problem of the study
was what factors which influence happening of conflict and what the most effect factor for happening of conflict
that makes impact on implementation of construction that resulted in happening of loss of project. This study is
aim to indentified factors influence happening of conflict in construction project and to determine the most effect
factor on happening of conflict to contruction project existed in Banda Aceh. Data collection is done by
distribute questionnaire to 67 respondents at service provider company (contractor) existed in Banda Aceh to
know number of population and number of respondent that will be interviewed by small, middle and large
companies qualification. Data processing is using statistical computation by using validity test, reliability test
and descriptive analyzing. Based on questionnaire and data processing results obtained 5 the most effect factors
in construction project for contractor in Banda Aceh are material and equipments which inappropriate to
quantity and quality, retardation of payment by owner, fault in design and specification, retardation of finishing
time, and material retardation.

Keywords: Factor, Conflict, Contractor, Project, Construction Project, Banda Aceh

Abstrak
Keberhasilan suatu proyek konstruksi tergantung dari kerjasama antara pihak-pihak yang terlibat di
dalamnya, yaitu pengguna jasa (pemilik), penyedia jasa (kontraktor pelaksana), dan konsultan. Pihak-pihak
tersebut mempunyai kepentingan dan tujuan yang berbeda, yang pada akhirnya dapat menimbulkan konflik pada
saat perencanaan dan pelaksanaan proyek. Bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya konflik dan untuk menentukan faktor yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya konflik.
Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner terhadap 67 responden pada perusahaan kontraktor
yang ada di Banda Aceh untuk mengetahui jumlah populasi dan jumlah responden yang diwawancarai kualifikasi
perusahaan kecil, menengah, dan besar. Pengolahan data menggunakan perhitungan statistik dengan memakai uji
validitas, uji reliabilitas dan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil kuesioner dan analisis pengolahan data didapat
5 faktor yang sangat berpengaruh bagi kontraktor di Banda Aceh adalah material dan peralatan yang tidak sesuai
dengan kuantitas dan kualitas, keterlambatan pembayaran oleh owner, kesalahan desain dan spesifikasi,
keterlambatan waktu penyelesaian, dan keterlambatan bahan.

Kata kunci : Faktor, Konflik, kontraktor, proyek, Proyek Konstruksi, Banda Aceh.

ketidaksempurnaan spesifikasi, keterbatasan akses ke


1. Pendahuluan lapangan, peningkatan lingkup pekerjaan, percepatan
atau penundaan oleh pemilik bangunan, interprestasi
Proyek konstruksi sekarang semakin maju terhadap instruksi di lapangan dan perlindungan
sehubungan dengan adanya standar-standar baru, terhadap penyelesaian kerugian. Penyelesaian
teknologi yang semakin canggih, dan pemilik konflik/perselisiahan untuk mendapatkan hak
bangunan menginginkan penambahan atau konfensasi waktu atau uang dapat menggunakan
perubahan pada lingkup pekerjaan. Keberhasilan beberapa alternatif, yaitu: negosiasi, mediasi, litigasi,
proyek konstruksi tergantung pada kerjasama antara dan arbitrasi.
pihak-pihak yang terlibat didalamnya, yaitu owner, Sehubungan dengan latar belakang tersebut, maka
kontraktor pelaksana, dan konsultan. Pihak-pihak penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
tersebut mempunyai tujuan dan kepentingan yang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya konflik
berbeda, yang pada akhirnya dapat menimbulkan pada proyek konstruksi dan untuk menentukan faktor
konflik disaat perencanaan dan pelaksanaan proyek. yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya konflik
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pada proyek konstruksi yang ada di Banda Aceh.
penyelenggaraan proyek konstruksi sangat besar
kemungkinan timbulnya konflik.
Peningkatan konflik dalam sejumlah kasus
dikarenakan perbedaan kondisi lapangan,

1
2. Tinjauan kepustakaan 16. Rusak atau hilangnya dokumen penting.
17. Komunikasi yang buruk.
2.1 Proyek konstruksi 18. Beban kerja yang berlebihan.
Menurut Syah[1] mengartikan proyek secara 19. Kerjasama yang kurang baik antar personil.
sederhana sebagai rangkaian kegiatan yang terencana 20. Ketidakpuasan dalam hal gaji.
dan dilaksanakan secara berurutan dengan logika E. Biaya
serta menggunakan banyak jenis sumber daya, yang 21. Estimasi biaya yang tidak akurat
dibatasi oleh dimensi biaya dan waktu. 22. Keterlambatan pembayaran oleh owner.
23. Birokrasi yang panjang dalam proses
2.2 Konflik pembayaran dari pihak owner.
24. Cost overrun (kelebihan biaya).
Menurut Ormando[2] konflik dapat F. Teknis
didefinisikan sebagai segala macam interaksi 25. Penggunaan teknologi baru.
pertentangan atau antagonistic antara dua atau lebih 26. Kurangnya pengendalian performance
pihak, konflik organisasi adalah ketidak sesuaian pekerjaan.
antara dua atau lebih anggota-anggota atau 27. Rework dalam pelaksanaan.
kelompok-kelompok organisasi yang timbul karena 28. Terbatasnya ketersediaan ruang kerja (work
adanya kenyataan, karena mereka harus membagi space) di site.
sumber daya-sumber daya yang terbatas atau 29. Perubahan lingkup pekerjaan.
kegiatan-kegiatan kerja atau karena kenyataan bahwa 30. Perbedaan kondisi lapangan.
mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai, 31. Kurang jelas atau kurang lengkapnya
atau presepsi. gambar rencana dan/atau spesifikasi teknis.
G. Waktu
2.3 faktor-faktor penyebab terjadinya 32. Penyusunan jadwal pekerjaan yang tidak
konflik pada proyek realistis.
33. Keterlambatan bahan.
Ada beberapa faktor-faktor yang mengakibatkan 34. Pengendalian jadwal kurang baik.
terjadinya konflik pada proyek konstruksi, yaitu: 35. Percepatan waktu penyelesaian pekerjaan.
A. Sumber Daya 36. Keterlambatan waktu penyelesaian
1. Penempatan SDM yang tidak sesuai dengan pekerjaan.
kualifikasi.
2. Jumlah pekerja yang tidak sesuai dengan 2.4 Penentuan jumlah sampel
aktivitas pekerjaan yang ada.
3. Material dan peralatan yang tidak sesuai Penentuan jumlah sampel minimum dilakukan
dengan kuantitas dan kualitas. dengan mengunakan rumus Slovin dengan toleransi
4. Mobilisasi sumber daya material, peralatan kesalahan analisis yang diizinkan adalah 10 %.
yang tidak sesuai dengan jadwal. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
5. Penempatan personil tidak sesuai dengan

keahliannya. n= ..... 1)
1+(. 2 )
6. Proses rekrutmen dan asal tenaga kerja.
B. Prioritas Proyek Keterangan :
7. Pengawasan pelaksanaan proyek yang n = Jumlah Sampel
kurang intensif. N = Jumlah Populasi
8. Banyaknya proyek yang ditangani dikelola e = Persentase toleransi ketidaktelitian
bersama. yang masih dapat ditolerir.
C. Prosedur Administrasi
9. Prosedur perijinan untuk pelaksanaan 2.5 Skala likert
pekerjaan yang terlalu rumit.
10. Prosedur laporan yang tidak jelas dalam tim Menurut Riduwan[3] skala Likert digunakan
proyek untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi
seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau
D. Manajemen dan Organisasi gejala sosial. Sewaktu menanggapi pertanyaan dalam
11. Kesalahan desain dan spesifikasi. skala Likert, responden menentukan tingkat
12. Keterlambatan pekerjaan. persetujuan mereka terhadap suatu pernyataan
13. Pengawasan, koordinasi dan manajemen dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia,
yang buruk. yaitu:
14. Penggunaan metode kerja yang kurang 5 = Sangat Berpengaruh (SB)
tepat. 4 = Berpengaruh (B)
15. Rumusan kerja, tanggung jawab, dan yang 3 = Berpengaruh Sedang (BS)
tidak jelas wewenang. 2 = Berpengaruh Rendah (BR)

2
1 = Berpengaruh Sangat Rendah (BSR) Rumus-rumus yang digunakan adalah sebagai
berikut :
2.6 Uji validitas
k b 3)
2
Menurut Sugiyono[4] validitas atau kesahihan r 1 2
merupakan tingkat kesesuaian antar suatu batasan (k 1) 1
konseptual yang diberikan dengan bantuan Dengan r = reliabilitas instrumen,
operasional yang telah dikembangkan. Validitas k = banyaknya butir pertanyaan,
berkaitan dengan kesesuaian antar suatu konstruk
atau indikator yang digunakan untuk mengukurnya. b 2 = varians butir dan
Validitas adalah mengukur apa yang hendak diukur 12 = varians total. Rumus untuk.
(ketepatan).
Menghitung varians butir dan varians total adalah:
Uji validitas dilakukan bertujuan untuk menguji
sejauh mana item kuesioner yang valid dan yang
JKi JKs .. 4)
tidak valid. Hal ini dilakukan dengan mencari b2 2
korelasi setiap item pertanyaan dengan skor total n n
pertanyaan untuk hasil jawaban responden yang
mempunyai skala pengukuran Interval, perhitungan
12
xt 2


( xt 2 )
..... 5)
korelasi antara pertanyaan kesatu dengan skor total n n2
digunakan rumus Pearson Product Moment sebagai
berikut : Dengan xt = jumlah total jawaban responden,
xt2 = kuadrat jumlah total jawaban
n( xy) ( x ) ( y ) 2) responden,
rxy
n x 2
( x )2 n y 2 ( y )2 Jki = jumlah kuadrat seluruh butir dan
Jks = jumlah kuadrat subjek.

Dengan rxy = koefisien korelasi, 2.8 Analisis deskriptif


x = jumlah skor item,
y = jumlah skor total dan Menurut Sugiyono[4] menyebutkan bahwa
n = jumlah responden. analisis deskiptif merupakan suatu statistik yang
digunakan untuk mendeskripsikan atau
Jika rhitung > rtabel, maka instrumen atau item-item menggambarkan data yang telah terkumpul. Cara
pertanyaan berkorelasi signifikan terhadap skor total penyajiannya berupa tabel, grafik, atau diagram.
(dinyatakan valid), dan sebaliknya jika rhitung < rtabel, Analisis deskriptif dapat berupa data, rata-rata,
maka instrumen atau item-item pertanyaan tidak jumlah nilai data, nilai terendah data (minimum) dan
berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan nilai tinggi data (maksimum).
tidak valid). Pada umumnya syarat minimum Menurut Soepomo[6] menyebutkan bahwa
koefisien koreksi adalah 0,3. Jika koreksi antara statistik deskriptif dipergunakan untuk memberikan
butir dengan skor 0,3 maka butir dalam instrument gambaran data yang paling sering muncul (modus)
tersebut dinyatakan tidak valid. Subjek uji coba masing-masing parameter yang dibahas dan disajikan
dapat diambil sejumlah antara 25-40 responden, dalam bentuk tabel-tabel. Statistik deskriptif juga
suatu jumlah yang sudah memungkinkan dipergunakan untuk mengorganisasikan dan
pelaksanaan dan analisisnya. meringkas data yang diperoleh dari hasil
pengumpulan data dilapangan.
2.7 Uji reliabilitas
Rumus modus adalah :
Menurut Morissan[5] reliabilitas merupakan
indikator tingkat keandalan atau kepercayaan. Suatu b1
Mo= b + p ( ) ................................................. 6)
pengukuran disebut reliable atau memiliki keandalan b1 +b2
jika konsisten memberikan jawaban yang sama.
Dalam hal penelitian, jika suatu pengukuran Keterangan :
konsisten dari satu waktu ke waktu lainnya, maka Mo = modus
pengukuran itu dapat diandalkan dan dapat dipercaya b = batas kelas interval dengan
dalam derajat tertentu. frekuensi terbanyak
p = panjang kelas interval
b1 = frekuensi pada kelas modus
(frekuensi pada kelas interval yang
terbanyak) dikurangi frekuensi
kelas interval terdekat sebelumnya.

3
b2 = frekuensi pada kelas modus pertanyaan yang kemudian diolah menggunakan
dikurangi frekuensi kelas interval teknik skoring. Teknik skoring yang digunakan
terdekat berikutnya. dalam penelitian ini adalah skala likert, yaitu
pertanyaan-pertanyaan yang memberikan alternatif 5
Dalam penelitian ini, modus digunakan untuk jawaban dan jawaban-jawaban ini diberi skor 5,4,3,2,
mencari jawaban yang sering muncul atau nilai yang dan 1. Dimana nilai dari 5 menunjukan tingkatan
frekuensinya paling banyak dari responden dalam yang sangat berpengaruh dan skala 1 menunjukan
mengisi kuesioner tentang faktor yang sangat tingkatan yang berpengaruh sangat rendah.
berpengaruh terjadinya konflik pada proyek Kuesioner didesain sesuai dengan tujuan
konstruksi. penelitian yang dibagi dalam dua bagian, yaitu:
1. Bagian A, Profil responden dan perusahaan;
2. Bagian B, Faktor-faktor yang mempengaruhi
3. Metode penelitian
terjadinya konflik pada proyek konstruksi di
3.1 Lokasi, subjek dan objek penelitian Banda Aceh.
Untuk kuesioner bagian B dirancang dengan
Lokasi penelitian ini bertempat pada perusahaan ukuran skala ordinal yang terdiri dari 5 skala dengan
di Banda Aceh. Objek penelitian ini adalah uraian sebagai berikut:
perusahaan-perusahaan penyedia jasa konstruksi 5 = Sangat Berpengaruh (SB), dengan bobot = 5
golongan kecil, menengah dan besar yang 4 = Berpengaruh (B), dengan bobot = 4
berdomisili di wilayah Banda Aceh, dengan 3 = Berpengaruh Sedang (BS), dengan bobot = 3
pertimbangan kota Banda Aceh merupakan ibu kota 2 = Berpengaruh Rendah (BR), dengan bobot = 2
Provinsi Aceh yang memiliki industri konstruksi 1 = Berpengaruh Sangat Rendah (BSR), dengan
yang cukup tinggi. bobot = 1

3.2 Pengumpulan data 4. Hasil dan pembahasan


Metode pengumpulan data dilakukan dengan
4.1 Karakteristik responden
cara penyebaran kuesioner kepada perusahaan
konstruksi di wilayah Banda Aceh pada tahun 2016 Karakteristik respoden yang diperoleh dari
yang diperoleh dari Gabungan Pelaksana Konstruksi penyebaran kuesioner kepada kontraktor di Banda
Nasional Indonesia (GAPENSI) di kota Banda Aceh. Aceh.
Jumlah populasi terdapat 203 perusahaan dengan Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dilihat
sampel yang digunakan adalah 67 responden.. dari 67 kuesioner yang telah disebarkan kepada 67
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan responden, dari tabel diatas diperoleh bahwa umur
instrumen kuesioner. Kuesioner berisikan sejumlah perusahaan 1-5 tahun sebanyak 4 perusahaan
daftar pertanyaan mengenai karakteristik (5,97%), umur perusahaan 5-10 tahun sebanyak 32
responden/perusahaan dan penilaian tentang faktor- perusahaan (47,76%), umur perusahaan 10-15 tahun
faktor yang mempengaruhi terjadinya konflik pada sebanyak 16 perusahaan (23,88%), dan umur
proyek konstruksi di Banda Aceh. perusahaan >15 tahun sebanyak 15 perusahaan
(22,39%). Jumlah proyek yang telah dikerjakan
3.3 Target Responden selama periode 2010-2016 yaitu 1-10 proyek
sebanyak 13 responden (19,40%), 10-20 proyek
Target responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 29 responden (43,28%), 20-30 proyek
pimpinan perusahaan atau manager proyek dari sebanyak 14 responden (20,90%), >30 proyek
perusahaan kontraktor yang berada di Banda Aceh. sebanyak 11 responden (16,42%). Pendapatan rata-
Target responden dibatasi hanya pada kontraktor rata perusahaan pertahun yaitu < Rp 500 juta
yang terdaftar sebagai anggota GAPENSI yang sebanyak 18 responden (26,87%), Rp 500 juta - Rp 1
mempunyai kualifikasi kecil, menengah, dan besar M sebanyak 29 responden (43,28%), Rp 1 M Rp 5
yang telah mengerjakan proyek konstruksi di Banda M sebanyak 12 responden (17,91%), dan > Rp 5 M
Aceh pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2016. sebanyak 8 responden (11,94%).
Responden dalam penelitian ini berjumlah 67
responden sesuai dengan jumlah penentuan
4.2 Hasil uji validitas dan reliabilitas
minimum sampel, jumlah responden didapatkan
dengan menggunakan rumus Slovin. Uji validitas dalam penelitian ini dilakukan
dengan mengambil 35 responden, sehingga nilai r
3.4 Desain kuesioner tabel untuk taraf signifikan 10% diperoleh sebesar
0,334.
Pengujian desain kuesioner yang disusun dalam
bentuk daftar pertanyaan dan tabel sesuai dengan
kebutuhan dan tujuan penelitian kepada 67
perusahaan kontraktor di Kota Banda Aceh.
Dalam kuesioner penelitian ini terdapat 36

4
Tabel 1 Hasil Uji Validitas dikerjakan oleh pihak pelaksana. Dalam hal ini
memang diperlukan komitmen dari pihak
Faktor Nilai r Ket Faktor Nilai r Ket
pelaksana terhadap apa yang telah disepakati
1 0.340 Valid 19 0.550 Valid dalam kontrak supaya pelaksanaan proyek
2 0.408 Valid 20 0.768 Valid berjalan tanpa ada hambatan dan selesai tepat
waktu (Messah, 2013). Faktor ini menyebabkan
3 0.394 Valid 21 0.593 Valid konflik antara owner dan kontraktor.
4 0.473 Valid 22 0.328 Valid b. Faktor keterlambatan pembayaran oleh owner
5 0.462 Valid 23 0.554 Valid Faktor keterlambatan pembayaran oleh owner
merupakan faktor penyebab terjadinya konflik,
6 0.538 Valid 24 0.533 Valid hasil penelitian ini sesuai dengan Susila (2012),
7 0.473 Valid 25 0.643 Valid proses pembayaran dari owner kepada pihak
pelaksana konstruksi sering mengakibatkan
8 0.519 Valid 26 0.539 Valid
terjadinya konflik dikarenakan owner tidak
9 0.398 Valid 27 0.346 Valid melaksanakan kewajibanya dalam hal
10 0.437 Valid 28 0.622 Valid pembayaran sesuai dengan kontrak yang
disepakati yang tentunya sangat berhubungan
11 0.680 Valid 29 0.475 Valid dengan faktor keterlambatan waktu
12 0.320 Valid 30 0.492 Valid pelaksanaan proyek. Untuk menghindari hal
tersebut maka pihak owner sebaiknya lebih
13 0.344 Valid 31 0.446 Valid
memperhatikan kewajibannya dalam proses
14 0.443 Valid 32 0.486 Valid administrasi pembayaran atas pekerjaan yang
15 0.334 Valid 33 0.322 Valid telah dikerjakan oleh pihak pelaksana (James,
2015). Faktor ini menyebabkan konflik antara
16 0.350 Valid 34 0.501 Valid owner dan kontraktor.
17 0.504 Valid 35 0.321 Valid c. Faktor kesalahan desain dan spesifikasi
18 0.529 Valid 36 0.329 Valid Faktor kesalahan desain dan spesifikasi
merupakan faktor penyebab terjadinya konflik,
Uji reliabilitas dilakukan secara bersama-sama hasil penelitian ini sesuai dengan Susila (2012),
terhadap seluruh pertanyaan untuk setiap faktor kesalahan dalam hal penyajian desain dan
konflik dan hasilnya dibandingkan dengan nilai 0,6. spesifikasi perencanaan oleh pihak owner dan
Berdasarkan hasil analisis reliabilitas untuk konsultan perencana dapat menyebabkan
keseluruhan faktor diperoleh koefisien reliabilitas terjadinya konflik pada tahap pelaksanaan.
sebesar 0,899. Kuesioner dapat dikatakan layak Dalam hal ini jika desain dan spesifikasi yang
karena telah memenuhi koefisien minimum salah atau kurang jelas diberikan kepada pihak
Cronbach Alpha yang disyaratkan yaitu minimum pelaksana, maka akan menimbulkan terjadinya
sebesar 0,6. kesalahan dalam pelaksanaan yang tentunya
dapat berujung kepada konflik/perselisihan dari
hasil pekerjaan. Oleh karena itu, pihak owner
4.3 Hasil analisis deskriptif
dan konsultan perencana sebaiknya
Analisis deskriptif digunakan untuk melihat memberikan desain dan spesifikasi
faktor yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya perencanaan yang cukup jelas dan dapat
konflik pada proyek konstruksi. Analisis deskriptif dipahami oleh pihak pelaksana sehingga dapat
menggunakan nilai modus untuk melihat data yang menghindari terjadinya kesalahan dalam proses
paling sering muncul sehingga di dapat jawaban yang pelaksanaan proyek (James, 2015). Faktor ini
paling banyak dipilih oleh responden. Berdasarkan menyebabkan konflik antara owner, konsultan,
hasil kuesioner dan opini responden terdapat 5 faktor dan kontraktor.
yang sangat berpengaruh terjadinya konflik pada d. Faktor keterlambatan waktu penyelesaian
proyek konstruksi di Banda Aceh yaitu: Faktor keterlambatan waktu penyelesaian
a. Faktor material dan peralatan yang tidak sesuai merupakan faktor penyebab terjadinya konflik,
dengan kuantitas dan kualitas hasil penelitian ini sesuai dengan Purnomo
Material dan peralatan yang tidak sesuai (2006), keterlambatan waktu penyelesaian
dengan kuantitas dan kualitas merupakan faktor merupakan faktor penyebab terjadinya konflik
penyebab terjadinya konflik, hasil penelitian ini karena pihak pelaksana/kontraktor
sesuai dengan Purnomo (2006) dan Ormando menyelesaikan pelaksanaan konstruksi
(2013), faktor ini sering menimbulkan melebihi waktu yang telah disepakati dalam
terjadinya konflik antara owner dengan schedule yang mengakibat kerugian dalam hal
pelaksana proyek, baik akibat ketidaksesuaian biaya ataupun waktu. Untuk menggindari
dengan perencanaan, kualitas material dan terjadinya keterlambatan waktu penyelesaian
peralatan yang tidak sesuai dari hasil yang telah pekerjaan maka pihak pelaksana proyek harus

5
melaksanakan pekerjaan sesuai schedule yang yang mempengaruhi terjadinya konflik untuk
telah direncanakan (James, 2015). Faktor ini mendapatkan hasil yang lebih akurat.
menyebabkan konflik antara owner dan 2. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut
kontraktor. untuk tiap daerah yang berbeda, sehingga dapat
e. Faktor keterlambatan bahan dilihat nilai perbedaan dari tiap daerah tersebut.
Faktor keterlambatan bahan merupakan faktor 3. Sebaiknya data diambil di kantor LPJK.
penyebab terjadinya konflik, hasil penelitian ini
sesuai dengan Aderiani (2005) dan Purnomo 6. Daftar pustaka
(2006), keterlambatan bahan yang terjadi pada
[1] Syah, M. S, 2004, Manajemen Proyek (Dari
proyek adalah akibat dari kesalahan dalam
Konseptual sampai Operasional), PT.
perencanaan dan penjadwalan pengadaan
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
bahan konstruksi. Pengadaan bahan konstruksi
[2] Ormando, Bill, 2013, Studi Faktor-faktor
mencakup kegiatan perencanaan jumlah dan
Penyebab Terjadinya Konflik Di Dalam Proyek
jenis bahan yang digunakan. Pembelian,
Konstruksi, Skipsi Fakultas Teknik Sipil
pengangkutan dan pengiriman, penentuan rute
Universitas Atma Jaya Yogyakarta,
untuk pengangkutan dan pengiriman, mengatur
Yogyakarta.
persediaan bahan serta penyimpanan bahan
[3] Riduwan, 2003, Skala Pengukuran Variabel-
konstruksi yang tepat. Untuk menggindari
Variabel Penelitian, Alfabeta, Bandung.
terjadinya konflik, sebelum melaksanakan
[4] Sugiyono, 2012,Metode Penelitian Kuantitatif
proyek disarankan untuk mengadakan survei di
Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung.
lokasi proyek dan daerah sekitar proyek,
[5] Morissan, 2012, Metode Penelitian Survei,
sehingga perencana mengetahui keadaan lokasi
Prenada Media Group, Jakarta.
untuk selanjutnya menjadi bahan pertimbangan
dalam merencanakan bahan material yang akan [6] Soepomo, 1997, Metode Penelitian,
digunakan pada proyek. Dengan mengadakan Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta.
survei di lokasi, maka perencana dapat
mengetahui kebijakan-kebijakan yang dapat
menghindari keterlambatan proyek akibat
bahan (Wirabakti, 2014). Faktor ini
menyebabkan konflik antara kontraktor dan
supplier.

5. Kesimpulan dan saran


Berdasarkan tujuan penelitian yang ditetapkan
dan setelah dilakukan penelitian maka telah dicapai
kesimpulan dari hasil penelitian yaitu:
1. Dari hasil analisis data didapatkan 5 faktor
dengan kategori sangat berpengaruh, 24 faktor
dengan kategori berpengaruh, 7 faktor dengan
kategori berpengaruh sedang, dan tidak ada
faktor dengan kategori berpengaruh rendah dan
kategori berpengaruh sangat rendah.
2. Berdasarkan hasil survei kuesioner dan analisis
pengolahan data didapat 5 faktor terjadinya
konflik yang sangat berpengaruh pada proyek
konstruksi bagi kontraktor di Banda Aceh yaitu
material dan peralatan yang tidak sesuai dengan
kuantitas dan kualitas, keterlambatan
pembayaran oleh owner, kesalahan desain dan
spesifikasi, keterlambatan waktu penyelesaian,
dan keterlambatan bahan.

Berdasarkan pengalaman penulis dalam


melaksanakan penelitian ini, ada beberapa hal yang
penulis ingin sarankan guna pengembangan
penelitian ke depan kearah yang lebih baik lagi yaitu:
1. Penelitian yang lebih mendalam dapat
dilakukan dengan memperbanyak faktor-faktor