Anda di halaman 1dari 19

Manfaat dan Kendala Penerapan IFRS di Indonesia

International Financial Reporting Standard atau IFRS adalah pedoman penyususnan laporan
keuangan yang dapat diterima secara global. IFRS yang ada saat ini mengalami sejarah yang
cukup panjang dalam proses terbentuknya. Jika sebuah negara menggunakan IFRS, berarti
negara tersebut telah mengadopsi sistem pelaporan keuangan yang berlaku secara global
sehingga memungkinkan pasar dunia mengerti tentang laporan keuangan perusahaan di
negara tersebut berasal.

Pengadopsian IFRS juga berlaku di Indonesia. Pengadopsian ini akan berlaku secara penuh
pada tahun 2012 nanti seperti yang dilansir oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada saat
peringatan HUT nya yang ke-51. Dengan mengadopsi IFRS, perusahaan-perusahaan di
Indonesia diharapka dapat meningkatkan daya informasi dari laporan keuangan. Selain itu,
pengadopsian IFRS diharapkan memberikan kemudahan dalam pemahaman laporan
keuangan dengan menggunakan SAK ( Standar Akuntansi Keuangan ) yang dikenal secara
internasional, serta meningkatkan arus investasi global dan menurunkan biaya modal melalui
pasar modal global.

Manfaat penggunaan standar akuntansi internasional dalam pelaporan keuangan memiliki


beberapa manfaat. Penggunaan standar akuntansi keuangan dapat meningkatkan keakuratan
dalam menilai performa perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan. Asbaugh dan
Pincus (2001) menyatakan bahwa keakuratan analisis yang dilakukan oleh analis keuangan
meningkat setelah perusahaan mengadopsi/menggunakan standard akuntansi internasional
(IFRS). Menurut Asbaugh dan Pincus (2001) meningkatnya keakuratan analisis dari para
analis keuangan disebabkan karena standar akuntansi internasional mensyaratkan
pengungkapan kondisi keuangan yang lebih rinci daripada standar akuntansi lokal. Secara
umum manfaat dari penerapan IFRS secara umum diantaranya adalah :

Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan penggunaan Standar Akuntansi


Keuangan yang dikenal secara internasional (enhance comparability).

Meningkatkan arus investasi global melalui transparansi.

Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang fund raising melalui pasar modal secara
global.

Menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan.


Meningkatkan kualitas laporan keuangan, dengan cara, mengurangi kesempatan untuk
melakukan earning management.

Dampak Serta Manfaat Penerapan IFRS

Tidak ada suatu negara yang tidak berdampingan dengan negara yang lain. Antara satu
negara dengan negara yang lain sebaiknya saling menjalin komunikasi dan mempererat
kerjasama. Sifat dasar manusia yang saling membutuhkan satu sama lain menjadi alasan
mengapa pentingnya suatu hubungan. Perasaan terhadap kebutuhan akan sesuatu selalu
mempengaruhi segala aspek yang ada meluas, hingga tidak hanya satu orang membutuhkan
orang lainnya tetapi antara satu negara dengan negara lainnya. Misalnya saja kebutuhan
bahan dasar makanan yang mungkin saja di suatu negara memiliki sumber daya yang
melimpah, namun berbanding terbalik dengan negara yang lainnya. Sebagai contoh, negara
Jepang yang memiliki tanaman khas wasabi, biasa nya kita akan mengenal tanaman tersebut
sebagai teman untuk menyantap hidangan sushi. Sebagai tanaman khas negeri sakura, wajar
saja jika di Indonesia tidak memiliki tanaman tersebut. Untuk mendapatkannya mau tidak
mau Indonesia harus mengimpor dari luar tanaman tersebut agar dapat diolah kembali. Meski
sebenarnya bisa saja untuk coba dibudidayakan di Indonesia, namun belum tentu berhasil
dikarenakan adanya kendala dalam segi struktur tanah atau iklim yang berbeda. Dari contoh
sederhana tersebut secara tidak langsung antara kedua negara sudah menjalin hubungan
internasional antara satu sama lain, tidak hanya saling bertukar sumber daya tetapi
kebudayaan masing-masing negara.

Kemajuan globalisasi memungkinkan komunikasi antar negara semakin blak-blakan, segala


macam informasi dengan mudah didapatkan. Tidak hanya mengenai sumber daya saja,
namun usaha-usaha yang dilakukan oleh perusahaan atau organisasi di masing-masing
negara. Perusahaan-perusahaan di suatu negara akan saling melirik usaha di negara lainnya
yang mungkin dianggap sebagai sesuatu yang baru. Alasan yang akan membuat
suatuperusahaan atau adanya pihak-pihak yang ingin ikut terlibat dalam usaha tersebut.
Sebelumnya, perusahaan yang telah dilirik tidak bisa langsung menyerahkan atau
menyampaikan informasinya secara mentah-mentah. Karena ika hal tersebut dilakukan, pihak
luar perusahaan belum tentu mengerti dengan informasi tersebut. Bisa saja perusahaan akan
dianggap memiliki prospek yang kurang baik atau dianggap kurang meyakinkan karena
dirasa kurang lengkapnya informasi yang disampaikan. Disinilah peran akuntansi
internasional sangat berpengaruh dalam penyesuain informasi tersebut.

Akuntansi internasional secara garis besar adalah mengenal bagaimana metode akuntansi
yang digunakan di masing-masing negara. Dan kemudian adanya penyesuaian yang
dilakukan, sehingga semua negara mampu menyampaikan informasi sesuai dengan prinsip
yang dapat diterima secara internasional. Sedikit mengulik mengenai sejarah, kebutuhan akan
standar akuntansi yang berlaku secara internasional yang mendasari munculnya organisasi
bernama International Standard Committee (IASC). Serangkaian gerakan telah dilakukan
sejak 1973 oleh IASC. IASC yang kemudian berubah menjadiInternational Accounting
Standard Board (IASB) pada tahun 2001 bertujuan untuk mengembangkan suatu standar
akuntansi yang berkualitas tinggi dan dapat diterapkan secara global. IFRS (International
Financial Reporting Standards) menjawab tantangan bagaimana pelaporan keuangan harus
dilakukan. Arus besar dunia sekarang ini sedang menuju ke dalam satu standar pelaporan.
Satu per satu negara di dunia saat ini mulai mengadopsi IFRS. Ikatan Akuntan Indonesia
(IAI) sebagai organisasi yang berwenang dalam membuat standar akuntansi di Indonesia
sejak 1994 telah melaksanakan program adaptasi dan harmonisasi standar akuntansi
internasional IFRS. Pengadopsian IFRS di Indonesia dimulai pada tahun 2008 dimana
dilakukan adopsi seluruh IFRS terakhir ke dalam PSAK sampai tahun 2010. Pada tahun 2011
dilakukan persiapan infrastruktur pendukung utnuk implementasi PSAK yang sudah
mengadopsi IFRS dan tahun 2012 pengadopsian penuh IFRS bagi perusahaan-perusahaan
yang memiliki akuntabilitas publik (Purba, 2009).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ball et al. (2003) menunjukkan bahwa standar
berkualitas tinggi tidak selalu menghasilkan informasi akuntansi berkualitas tinggi.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa hal ini diakibatkan oleh buruknya insentif terhadap
pembuat laporan keuangan dan bahwa kualitas pelaporan pada akhirnya ditentukan oleh
faktor ekonomi dan politik di negara yang bersangkutan yang mempengaruhi insentif manajer
dan auditor, dan bukan semata-mata ditentukan oleh standar akuntansi (Ball et al., 2003;
Jeanjean dan Stolowy, 2008). Hung and Subramanyam (2007) dalam penelitiannya menguji
sampel dari perusahaan Jerman dan menguji dampak pelaporan keuangan terhadap adopsi
IAS antara tahun 1998 dan 2002. Mereka menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan dalam
relevansi nilai (value relevance) dari angka-angka akuntansi dengan adopsi IFRS, tetapi ada
bukti yang lemah bahwa laba berdasarkan IAS menunjukkan konservatisme kondisional yang
lebih besar daripada laba yang dihasilkan dari pelaporan berdasarkan standar akuntansi
Jerman.Dari hasil penelitian diatas, secara garis besar menjelaskan bahwa pembaruan yang
dilakukan semata-mata ingin memperbaiki beberapa kekurangan yang terjadi pada sistem
yang lama dan para pengguna informasi juga dituntut untuk memahami bagaimana kerangka
konseptual infromasi keuangan agar dapat mengaplikasikannya dengan tepat yang akan
berpengaruh pada pengambilan sebuah keputusan.

Menurut Martani (2012) dampak penerapan IFRS bagi perusahaan sangat beragam
tergantung jenis industri, jenis transaksi, elemen laporan keuangan yang dimiliki dan juga
pilihan kebijakan akuntansi. Ada yang perubahannya besar sampai harus melakukan
perubahan sistem operasi dan bisnis perusahaan, namun ada juga perubahan tersebut hanya
terkait dengan prosedur akuntansi. Perusahaan perbankan, termasuk yang memiliki dampak
perubahan cukup banyak. Perubahan tidak hanya dilakukan pada tingkat perusahaan namun
perlu juga ada perubahan peraturan Bank Indonesia contohnya tentang penyisihan atas kredit
yang disalurkan. Perusahaan BUMN sebagai perusahaan yang memiliki akuntabilitas publik
dipersyaratkan oleh regulasi untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan standar. Untuk
dapat mengimplementasikan IFRS perusahaan harus menyiapkan sumber daya manusia dan
dana yang cukup untuk melakukan pemutakhiran sistem dan SOP yang saat ini telah ada.
Komitmen pimpinanperusahaan diperlukan untuk mendukungproses implementasi IFRS
tersebut. Besarnya komitmen pimpinan terkadang dipengaruhi oleh
kepedulian stakeholderpengguna laporan keuangan. Kementerian BUMN
sebagai stakeholder utama BUMN sangat mempengaruhi bagaimana proses implementasi
PSAK baru ini dalam perusahaan. Secara umum manfaat dengan adanya konvergensi IFRS
adalah untuk memudahkan pemahaman (enhance comparability) atas laporan keuangan
dengan standar akuntansi keuangan yang dikenal secara internasional . Dengan demikian
maka perusahaan dapat memberikan informasi dalam bentuk laporan keuangan yang lebih
berkualitas secara internasional. Adanya konvergensi IFRS ini menguntungkan bagi
perusahaan yang bergerak secara internasional karena mengurangi biaya pelaporan keuangan
bagi perusahaan multinasional dan biaya untuk analisis keuangan bagi para analis selain juga
mengurangi perbedaan dalam ketentuan pelaporan keuangan.

Disisi lain tujuan konvergensi IFRS adalah agar laporan keuangan berdasarkan PSAK tidak
memerlukan rekonsiliasi dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS dan kalaupun ada
diupayakan hanya relatif sedikit sehingga pada akhirnya laporan auditor menyebut kesesuaian
dengan IFRS, dengan demikian diharapkan meningkatkan kegiatan investasi secara global,
memperkecil biaya modal (cost of capital) serta lebih meningkatkan transparansi perusahaan
dalam penyusunan laporan keuangan. Manfaat konvergensi IFRS lainnya adalah juga dapat
meningkatkan arus investasi global melaui transparasi. Selain itu konvergensi IFRS
diharapkan mampu memicu peningkatan arus investasi global melalui adanya transparasi
sehingga membuka peluang fund risingmelalui pasar modal secara global. Secara umum
dampak konvergensi IFRS terhadap suatu perusahaan, antara lain :

1. Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan keuanganakan


lebih mudah dikomunikasikan keinvestor global.

2. Relevansi laporan keuangan akanmeningkat karena lebih banyak menggunakan nilai


wajar.

3. Disisi lain, kinerja keuangan (laporanlaba rugi) akan lebih fluktuatif apabila harga-
harga fluktuatif.

4. Smoothing income menjadi semakinsulit dengan penggunakan balance sheet approach


dan fair value.

5. Principle-based standards mungkinmenyebabkan keterbandingan laporankeuangan


sedikit menurun yakni bila penggunaan professional judgmentditumpangi dengan
kepentingan untukmengatur laba (earning management).

6. Penggunaan off balance sheet semakinterbatas dampak konvergensi International


Financial Reporting Standards (IFRS) bagiperusahaan di Indonesia secara garis besardapat
dibagi menjadi empat bagian, yaitupertama dampak pada sistem akuntansi,kedua berdampak
pada sistem informasiperusahaan, ketiga dampak pada sumberdaya manusia, dan keempat
dampak padasistem organisasi perusahaan.

Beberapa dampak yang dikemukakan dalam penelitian yang dilakukan oleh Ketut Tanti yaitu
:

1. Dampak Konvergensi International Financial Reporting Standards(IFRS) pada Sistem


Akuntansi.

Adopsi IFRS secara penuh bukan hanya sekadar perpindahan pendekatanakuntansi dari
historikal cost ke fairvalue. Inti masalah yang lebih mendasaradalah perubahan konsep,
paradigma ataupola pikir, karena dengan mengadopsiIFRS secara penuh berarti akan
terjadiperalihan dari rule base ke principles based dalam sistem akuntansi. Dampak
konvergensi InternationalFinancial Reporting Standards (IFRS)pada sistem akuntansi antara
lain; adanyapeningkatan penggunaan nilai wajar (fairvalue) terutama untuk properti
investasi,beberapa aset tidak berwujud, asetkeuangan, dan aset biologis. Dampak padasistem
akuntansi selanjutnya adalah akanadanya penggunaan judgement karenakarakteristik IFRS
yang lebih berbasisprinsip (principle based). Principle basedmengandung makna bahwa
standarakuntansi tidak bersifat ketat atau rigid,melainkan hanya memberikan prinsip-
prinsipumum standar akuntansi yang harus diikuti untuk memastikan pencapaian kualitas
informasi tertentuyang relevan, dapat diperbandingkan danobjektif, sedangkan rule
basedmengandung makna bahwa untukmencapai kualitas informasi tertentu yangrelevan,
dapat diperbandingkan, danobjektif, standar akuntansi harus bersifatketat dan rigid. Dampak
konvergensiInternational Financial ReportingStandards (IFRS) pada sistem akuntansiyang
terakhir adalah penggunaanpersyaratan pengungkapan yang akan lebihbanyak, baik kualitatif
maupun kuantitatif,sejalan dengan data/informasi yangdigunakan untuk pengambilan
keputusanperusahaan.

2. Dampak Konvergensi IFRS pada Sistem Informasi pada Perusahaan

Konvergensi International FinancialReporting Standards (IFRS) akanberdampak pada sistem


informasi dalamperusahaan, karena dengan konvergensiIFRS akan menyebabkan
perbedaanstandar yang signifikan antara IFRS danstandar yang berlaku sebelumnya.

3. Dampak Konvergensi IFRS pada SDM Perusahaan

Konvergensi International Financial Reporting Standards (IFRS) juga akanberdampak pada


sumber daya manusiakarena dengan adanya konvergensi IFRSyang menganut prinsip
(principal base)dan bukan rule base akan membutuhkansumber daya profesional yang
memilikikemampuan untuk melakukan judgmentdalam menggunakan standar ini.
Peralihanmenuju principle based standarmempunyai arti standar akuntansi yangakan kita
gunakan menjadi lebih bersifat

fleksibel karena aturan-aturan yang detail sudah disederhanakan kedalam beberapaprinsip-


prinsip dasar saja. Fleksibilitas dariIFRS inilah yang menjadikan peranprofessional
judgement lebih dibutuhkanbaik dalam hal mempersiapkan laporankeuangan maupun dalam
hal pengauditan. Pengadopsian IFRS mensyaratkanakuntan maupun auditor untuk
memilikipemahaman mengenai kerangkakonseptual informasi keuangan agar
dapatmengaplikasikan secara tepat dalampembuatan keputusan. Dalam principal base system,
akuntan akan membuatsejumlah estimasi yang harus dipertanggungjawabkan dan
mensyaratkansemakin banyak professional judgement

(Schipper, 2003). Fleksibilitas dalam standar IFRS yang bersifat principle basedakan
berdampak pada tipe dan jumlah skillprofessional yang seharusnya dimiliki olehakuntan dan
auditor. Pengadopsian IFRS mensyaratkanakuntan memuiki pengetahuan yang
cukupmengenai kejadian maupun transaksi bisnis dan ekonomi perusahaan
secarafundamental sebelum membuat judgment.Berbagai estimasi yang dibuat
olehmanajemen perlu dinilai kelayakannya oleh auditor sehingga auditor juga
dituntutmemiliki kemampuan mengitepretasikantujuan dari suatu standar. Selain
keahlianteknis, akuntan juga perlu memahamiimplikasi etis dan legal dalamimplementasi
standar(Carmona&Trombetta,2008). Denganmembandingkan tiga standar, Benneth etal.
(2006) menyimpulkan bahwa principle based standards mensyaratkanprofessional judgement
baik pada leveltransaksi maupun pada level laporankeuangan.

4. Dampak Konvergensi IFRS pada Sistem Informasi Perusahaan

Dalam hal dampak konvergensi IFRS pada sistem organisasi perusahaan yangakan timbul
adalah tidak hanya mengubah cara organisasi membuat laporan keuangan, namun juga
mengubah bagaimana perusahaan menjalankanbisnisnya. Diperlukan pengendalian internal
khususnya yang terkait dengan pelaporan keuangan agar perusahaan dapat memnuhi semua
persyaratan yang ditetapkan.

Dari sekilas penjelasan sebelumnya, bahwa memang dibenarkan adanya perbedaan dalam
penyajian laporan sebelum dan sesudah menerapkan IFRS. Berbagai aspek dijadikan
pertimbangan dari segi laporan, cara, dan pengguna. Tapi itu semua kembali kepada
perusahaan itu sendiri, jika memang ada hal yang harus diperbarui. Jika tidak, hal yang
mungkin dilakukan sebagai langkah pengadopsian ialah melakukan beberapa perubahan tidak
secara menyeluruh, melainkan hanya terkait dengan prosedur akuntansi nya saja.Pada artikel
sebelumnya juga sudah dibahas bagaimana Indonesia sendiri secara sukarela melakukan
adaptasi IFRS. Tidak bisa dipungkiri bahwa mau tidak mau Indonesia harus bisa membuka
diri dengan melakukan hal yang memang berakibat positif dan menguntungkan.
Menurut Irene Natalia (2010), IFRS telah diadopsi di banyak negara sebab IFRS diyakini
sebagai suatukumpulan standar yang baik. Namun, kualitas laba yang baik tidak
dihasilkansecara otomatis dengan standar akuntansi dan pelaporan keuangan yang
baik.Akuntansi menghasilkan informasi laba, dibentuk oleh kekuatan ekonomi danpolitik,
sehingga informasi akuntansi yang dihasilkan akan mengikutiperkembangan kekuatan
ekonomi dan politik yang ada di negara lokal. Faktorfaktor yang mempengaruhi kualitas laba
danlatau kualitas pengadopsianIFRSadalah karakteristik yang dimiliki oleh pengadopsi IFRS,
lingkungan pasar modaldan siklus ekonomi selama peri ode pengadopsian, insentif
perusahaan, institusional, ketidakterlibatan politis dalam proses pengimplementasian
standarakuntansi, budaya yang ada dalam suatu negara, dan komite audit. Komparabilitas
dinilai sebagai kualitas informasi yang sangat penting bagipembuatan keputusan investasi
oleh investor, dan keputusan lain yang dibuat olehpengguna lain, terutama yang
berkaitancengan alokasi sumber daya ekonomi.Kornparabilitas dilakukan dengan cara
mernbandingkan atau menguji laporan keuangan dua perusahaan yang ada dalam sektor yang
sarna di negara yang berbeda, dan pengguna laporan keuangan dapat mempercayai bahwa
hasilnyadapat dibandingkan. Komparabilitas dicapai dengan adanya IFRS danpengadopsian
IFRS oleh perusahaan-perusahaan yang ada di dunia.

Dengan mempertimbangkan semua manfaat dan keuntungan daripengadopsianIFRS, IFRS


seharusnya diterapkan oleh semua negara di dunia,rneskipunIFRS mungkin menghasilkan
kualitas laba yang kurang. Kurangnya kualitas laba tersebut disebabkan masih ada
kemungkinan terjadinya manajemenlaba oleh manajemen perusahaan. Ari Dewi (2011)
menambahkan, jika dilihat dari sisi ekonomi, dengan adanya standar yang seragam maka
akan mengurangi hambatan investasi lintas negara dan dari sisi akuntansi diharapkan
mampu meningkatkan kualitas laporan keuangan. Hal sejalan dengan tujuankonvergensi
IFRS adalah menjadikan laporan keuangan menghasilkan informasi yang valid untuk aset,
hutang, ekuitas, pendapatan dan beban perusahaan, meningkatkan komparabilitas laporan
keuangan,menyajikan informasi yang relevan dan reliable serta dapat dimengerti, dan laporan
keuangan dapatditerima secara global.
Faktor-faktor Pendorong Manajemen Laba
Dalam Positif Accounting Theory terdapat tiga hipotesis yang melatarbelakangi
terjadinya manajemen laba (Watt dan Zimmerman, 1986), yaitu:
1. Bonus Plan Hypothesis
Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus
yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan laba lebih
banyak menggunakan metode akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan.
2. Debt Covenant Hypothesis
Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit cenderung memilih
metode akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan laba (Sweeney, 1994 dalam
Rahmawati dkk, (2006). Hal ini untuk menjaga reputasi mereka dalam pandangan pihak
eksternal.
3. Political Cost Hypothesis
Semakin besar perusahaan, semakin besar pula kemungkinan perusahaan tersebut memilih
metode akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut dikarenakan dengan laba yang tinggi
pemerintah akan segera mengambil tindakan, misalnya: mengenakan
peraturan antitrust, menaikkan pajak pendapatan perusahaan, dan lain-lain.

2.1. Pengertian Manajemen Laba

Manajemen laba sebagai suatu proses mengambil langkah yang disengaja dalam batas prinsip
akuntansi yang berterima umum baik didalam maupun diluar batas General Accepted
Accounting Principle (GAAP). Menurut Schipper (1989) Manajemen laba adalah campur
tangan dalam proses penyusunan pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk
mendapatkan keuntungan-keuntungan pribadi. Selain itu dikemukakan juga oleh Healy &
Wahlen (1999) bahwa Manajemen laba terjadi apabila manajer menggunakan penilaian
dalam pelaporan keuangan dan dalam struktur transaksi untuk mengubah laporan keuangan
guna menyesatkan pemegang saham mengenai prestasi ekonomi perusahaan atau
mempengaruhi akibat-akibat perjanjian yang mempunyai kaitan dengan angka-angka yang
dilaporkan dalam laporan keuangan.

2.2. Teori Keagenan (Agency Theory)

Timbulnya manajemen laba dapat dijelaskan dengan teori agensi. Sebagai agen, manajer
secara moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik (principal)
dan sebagai imbalannya akan memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak. Dengan
demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda didalam perusahaan dimana masing-masing
pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang
dikehendaki Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi
internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang
saham). Manajer berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada
pemilik. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan informasi akuntansi
seperti laporan keuangan.

Laporan keuangan tersebut penting bagi para pengguna eksternal terutama sekali karena
kelompok ini berada dalam kondisi yang paling besar ketidakpastiannya. Ketidakseimbangan
penguasaan informasi akan memicu munculnya suatu kondisi yang disebut sebagai asimetri
informasi (information asymmetry). Asimetri antara manajemen (agent) dengan pemilik
(principal) dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba
(earnings management) dalam rangka menyesatkan pemilik (pemegang saham) mengenai
kinerja ekonomi perusahaan menunjukkan adanya hubungan positif antara asimetri informasi
dengan manajemen laba

2.3. Sasaran Manajemen Laba

Menurut Ayres (1994:27-29) terdapat unsur-unsur laporan keuangan yang dapat dijadikan
sasaran untuk dilakukan manajemen laba yaitu :

1. Kebijakan Akuntansi.
Keputusan manajer untuk menerapkan suatu kebijakan akuntansi yang wajib diterapkan oleh
suatu perusahaan, yaitu antara menerapkan akuntansi lebih awal dari waktu yang ditetapkan
atau menundanya sampai saat berlakunya kebijakan tersebut.

1. Pendapatan.
Dengan mempercepat atau menunda pengakuan akan pendapatan.

1. Biaya.
Menganggap sebagai beban/ biaya atau menganggap sebagai suatu tambahan investasi atas
suatu biaya (amortize or capitalize of investment).

2.4. Alasan Dilakukan Manajemen Laba

Alasan dilakukan manajemen laba karena:

1. Manajemen laba dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap


manajer. Manajemen laba berhubungan erat dengan tingkat perolehan laba atau
prestasi usaha suatu organisasi, hal ini karena tingkat keuntungan atau laba
dikaitkan dengan prestasi manajemen dan juga besar kecilnya bonus yang akan
diterima oleh manajer.
2. Manajemen laba dapat memperbaiki hubungan dengan pihak kreditor. Perusahaan
yang terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran utang
pada waktunya, perusahaan berusaha menghindarinyadengan membuat kebijakan
yang dapat meningkatkan pendapatan maupun laba. Dengan demikian akan
memberi posisi bargaining yang relatif baik dalam negoisasi atau penjadwalan
ulang utang antara pihak kreditor dengan perusahaan.
3. Manajemen laba dapat menarik investor untuk menanamkan modalnya.

1.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Laba

Berdasarkan yang dilakukan olehWatts dan Zimmerman (1986) secara empiris membuktikan
bahwa hubungan principal dan agent sering ditentukan oleh angka akuntansi. Hal ini memacu
agent untuk memikirkan bagaimana angka akuntansi tersebut dapat digunakan sebagai sarana
untuk memaksimalkan kepentingannya. Salah satu bentuk tindakan agent tersebut adalah
manajemen laba. Faktor-faktor yang diajukan oleh Watt dan Zimmerman adalah:

1. Hipotesis Bonus Plan.


Perusahaan dengan bonus plan cenderung untuk menggunakan metode akuntansi yang akan
meningkatkan income saat ini.

1. Debt To Equity Hypothesis.


Bahwa pada perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity besar maka manajer
perusahaan tersebut cenderung menggunakan metode akuntansi yang akan meningkatakan
pendapatan atau laba.

1. Political Cost Hypothesis


Bahwa pada perusahaan yang besar, yang kegiatan operasinya menyentuh sebagian besar
masyarakat akan cenderung untuk mengurangi laba yang dilaporkan.

2.5. Terjadinya Manajemen Laba

Menurut Ayres (1994:27-29) manajemen laba dapat dilakukan oleh manajer dengan cara-cara
sebagai berikut:

1. Manajer dapat menentukan kapan waktu akan melakukan manajemen laba melalui
kebijakannya. Hal ini biasanya dikaitkan dengan segala aktivitas yang dapat
mempengaruhi aliran kas dan juga keuntungan yang secara pribadi merupakan
wewenang dari para manajer.
2. Keputusan manajer untuk menerapkan suatu kebijakan akuntansi yang wajib
diterapkan oleh suatu perusahaan. Yaitu antara menerapkan lebih awal atau
menunda sampai saat berlakunya kebijakan tersebut.
3. Upaya manajer untuk mengganti atau merubah suatu metode akuntansi tertentu dari
sekian banyak metode yang dapat dipilih yang tersedia dan diakui oleh badan
akuntansi yang ada (GAAP).

1.6. Motivasi Manajemen Laba


Beberapa motivasi terjadinya manajemen laba yaitu:

1. Motivasi Program Bonus (Bonus Plan Motivations).


Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak
secara opportunistic untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini.

1. Motivasi politik (Political Motivations)


Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan pada perusahaan publik.
Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena adanya tekanan publik yang
mengakibatkan pemerintah menetapkan yang lebih ketat.

1. Motivasi Perpajakan (Taxation Motivations)


Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata. Berbagai
metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak pendapatan.

1. Motivasi perubahan CEO (Changes of CEO Motivations)


CEO (Chief Executive Officer) yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan
pendapatan untuk menaikkan bonus mereka, dan jika kinerja perusahaan buruk, mereka akan
memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan.

5.Initial Public Offering (IPO)

Perusahaan yang akan go public belum memiliki nilai pasar, dan menyebabkan manajer
perusahaan yang akan go public melakukan manajemen laba dalam prospektus mereka
dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.

6.Motivasi perjanjian utang (Debt Covenants Motivations)

Perjanjian utang timbul karena adanya kontrak jangka panjang yang dilakukan oleh
manajemen laba. pelanggaran terhadap hal tersebut akan mengakibatkan biaya yang tinggi
terhadap perusahaan, oleh karena itu manajer berusaha untuk menghindari terjadinya
pelanggaran terhadap covenant.
Healy dan Wahlen (1999) membagi motivasi earnings management menjadi tiga, yaitu:

a. Capital Market

Penggunaan secara luas informasi akuntansi oleh investor dan analis keuangan untuk
membantu menilai saham dapat menciptakan insentif bagi manajemen untuk memanipulasi
laba dalam usaha mempengaruhi harga saham.

b. Constructing Motivations

Healy dan Wahlen (1999) dalam Qomariyah (2006) membaginya menjadi dua, yaitu: lending
constract dan management compensation constract. Esensi penjelasan Healy dan Wahlen
(1999) sama dengan uraian Scott (2000) di atas, dimana penjelasan lending constract
motivatons sama dengan other constractual motivations dan management
compensations, constract motivationssama dengan bonus scheme motivations.

c. Regulatory Motivations

Terdapat tiga bentuk dalam motivasi ini, yaitu:

1) Industry Regulations Motivations

Industri-industri diatur dengan derajat pengaturan berbeda di masing-masing industri,


beberapa diantaranya seperti industri perbankan dan asuransi menghadapi pemantauan yang
lebih ketat oleh pihak regulator termasuk data-data akuntansi. Peraturan perbankan
mengharuskan bank mencapai Cumulative Abnormal Return (CAR) tertentu, sedangkan
peraturan asuransi menghasilkan perusahaan asuransi memenuhi syarat-syarat kesehatan
keuangan minimum. Peraturan seperti ini menciptakan insentif bagi manajemen untuk
mengatur laporan keuangan dan neraca sesuai dengan kepentingan pihak regulator.

2) Anti-trust and Other Regulations

Perusahaan yang berbeda di dalam penyelidikan pelanggaran anti-trust atau menghadapi


konsekuensi politik yang tidak menguntungkan memiliki insentif untuk mengatur labanya
agar tampak kurang menguntungkan. Manajemen yang memiliki subsidi dan proteksi
pemerintah juga memilki insentif yang sama.

3) Tax Planning Purposes

Healy dan Wahlen (1999) tidak menjelaskan bagian ini, karena menurutnya earnings
management untuk tujuan perencanaan pajak merupakan bagian tugas (dominant) otorisasi
pajak yang memiliki insentif yang sama.

1.7. Teknik Manajemen Laba

Ada tiga cara yang dapat digunakan untuk melakukan manajemen laba pada laporan
keuangan yaitu:

1. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi


Cara ini merupakan cara manajer untuk mempengaruhi laba melalui judgement
terhadap estimasi akuntansi antara lain: estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun
waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi, dan
lain-lain.

1. Mengubah metode akuntansi


Perubahan metoda akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh:
mengubah metoda depresiasi aktiva tetap, dari metoda depresiasi angka tahun ke metoda
depresiasi garis lurus.

1. Menggeser perioda biaya atau pendapatan


Beberapa orang menyebutkan rekayasa jenis ini sebagai manipulasi keputusan
operasional. Contoh: rekayasa perioda biaya atau pendapatan antara lain: mempercepat atau
menundapengeluaran untuk penelitian sampai perioda akuntansi berikutnya, mempercepat
atau menunda pengeluaran promosi sampai perioda akuntansi berikutnya, mengatur saat
penjualan aktiva tetap yang sudah tidak dipakai, dan lain-lain.
1.8. Model-model Manajemen Laba

Ada beberapa bentuk manajemen laba yaitu:

1. Taking a bath
Dalam bentuk jika manajemen harus melaporkan kerugian, maka manajemen akan
melaporkan dalam jumlah besar. Dengan tindakan ini manajemen berharap dapat
meningkatkan laba yang akan datang dan kesalahan kerugian piutang perusahaan dapat
dilimpahkan ke manajemen lama, jika terjadi pergantian manajer.

1. Income Minimization (menurunkan laba)


Dalam bentuk ini manajer akan menurunkan laba untuk tujuan tertentu, misalnya:
untuk tujuan penghematan kewajiban pajak yang harus dibayar perusahaan kepada
pemerintah. Karena semakin rendah laba yang dilaporkan perusahaan semakin rendah pula
pajak yang harus dibayarkan.

1. Income Maximization (meningkatkan laba)


Dalam bentuk ini manajer akan berusaha menaikkan laba untuk tujuan tertentu,
misalnya: menjelang IPO manajer akan meningkatkan laba dengan harapan mendapatkan
reaksi yang positif dari pasar.

1. Income Smoothing (perataan laba)


Income smoothing dilakukan dengan meratakan laba yang dilaporkan, dengan tujuan
pelaporan eksternal, terutama bagi investor, karena umumnya investor menyukai laba yang
relatif stabil.

Manajemen laba mempunyai dampak pada kebermanfaatan informasi laba dalam


pengambilan keputusan. Perusahaan yang menggunakan kebijakan akuntansi agresif (positive
discretionary accruals) mempunyai biaya modal lebih tinggi dibandingkan dengan
perusahaan yang menerapkan kebijakan akuntansi konservatif (negative discretionary
accruals).
Manajemen laba dapat sinkron dengan kebermanfaatan informasi laba dalam pengambilan
keputusan tetapi dapat juga tidak. Oleh sebab itu, diperlukan berbagai alternatif solusi atas
masalah yang timbul akibat manajemen laba yang dapat tidak sesuai dengan kebermanfaatan
laba dalam pengambilan keputusan, dan solusi tersebut tidak menimbulkan masalah baru.

Salah satu alternatif adalah pemberlakuan standar akuntansi yang lebih ketat tetapi masih
memberi peluang bagi manajemen dalam melakukan pemilihan kebijakan akuntansi dalam
batas wajar untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, misalnya untuk mengkomunikasikan
informasi privat yang dapat meningkatkan keinformasian laba, atau untuk tujuan efficient
contracting berbasis laba. Standar akuntansi yang lebih ketat dapat meningkatkan kualitas
laba, tetapi perlu diperhatikan bahwa standar akuntansi yang lebih atau terlalu ketat dapat
meningkatkan manajemen laba total (manajemen laba akuntansi dan manajemen laba real)
serta meningkatkan biaya manajemen laba.

Beberapa alasan manajer melakukan praktik manajemen laba, diantaranya: (1) Manajemen laba
dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap manajer. Manajemen laba
berhubungan erat dengan tingkat perolehan laba atau prestasi usaha suatu organisasi, hal ini karena
tingkat keuntungan atau laba dikaitkan dengan prestasi manajemen dan juga besar kecilnya bonus
yang akan diterima oleh manajer; (2) Manajemen laba dapat memperbaiki hubungan dengan pihak
kreditor. Perusahaan yang terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran
utang pada waktu yang telah ditentukan, perusahaan tersebut berusaha menghindarinya dengan
membuat kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan maupun laba. Dengan demikian akan
memberikan posisi bargaining yang relatif baik dalam negosiasi atau penjadwalan ulang utang
antara pihak kreditor dengan perusahaan; (3) Manajemen laba dapat menarik investor untuk
menanamkan modalnya, terutama pada perusahaan go public.

Pihak-pihak berelasi: definisi


menurut PSAK 7
Pihak-pihak berelasi adalah orang atau entitas
yang terkait dengan entitas yangmenyiapkan
laporan keuangannya (dalam Pernyataan ini
dirujuk sebagai "entitas pelapor").

Transaksi pihak berelasi adalah suatu pengalihan sumber daya, jasa atau kewajiban antara
entitas pelapor dengan pihak-pihak berelasi, terlepas apakah ada harga yang dibebankan.

Berikut ini adalah contoh transaksi yang diungkapkan jika dilakukan dengan pihak
berelasi:

1. pembelian atau penjualan barang (barang jadi atau setengah jadi);


2. pembelian atau penjualan properti dan aset lain;
3. penyediaan atau penerimaan jasa;
4. sewa;
5. pengalihan riset dan pengembangan;
6. pengalihan di bawah perjanjian lisensi;
7. pengalihan di bawah perjanjian pembiayaan (termasuk pinjaman dan kontribusi ekuitas dalam
bentuk tunai atau natura);
8. provisi atas jaminan atau agunan;
9. komitmen untuk berbuat sesuatu jika peristiwa khusus terjadi atau tidak terjadi di masa depan,
termasuk kontrak eksekutori (diakui atau tidak diakui); dan
10. penyelesaian liabilitas atas nama entitas atau pihak berelasi.

Related-party - Dalam mendeflnisikan istilah ini, ISA 550.10 mengembalikannya kepada kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku. Namun, jika kerangka pelaporan keuangan yang berlaku tidak
mengaturnya (atau menyebutnya secara singkat, dan sangat minim), maka ISA memaknakan related-
party sebagai:

1. Seseorang atau suatu entitas yang mengendalikan atau sangat berpengaruh, secara langsung atau
tidak langsung melalui satu atau lebih perantara, terhadap entitas pelapor;
2. Suatu entitas yang dikendalikan atau dipengaruh, secara langsung atau tidak langsung melalui
satu atau lebih perantara, oleh entitas pelapor; atau
3. Entitas lain yang bersama entitas pelapor berada di bawah pengendalian bersama melalui:

Pemilikan di bawah kendali bersama;


Pemilik terdiri atas keluarga dan kerabat; atau
Anggota manajemen kunci yang sama.