Anda di halaman 1dari 10

Standar Akuntansi Keuangan (SAK)

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang diterbitkan oleh Dewan Standar
Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) dan Dewan Standar Syariah Ikatan Akuntan Indonesia
(DSAS IAI) serta peraturan regulator pasar modal untuk entitas yang berada di bawah
pengawasannya.
Efektif 1 Januari 2015 yang berlaku di Indonesia secara garis besar akan konvergen dengan
International Financial Reporting Standards (IFRS) yang berlaku efektif 1 Januari 2014.
DSAK IAI telah berhasil meminimalkan perbedaan antara kedua standar, dari tiga tahun di 1
januari 2012 menjadi satu tahun di 1 Januari 2015. Ini merupakan suatu bentuk komitmen
Indonesia melalui DSAK IAI dalam memainkan perannya selaku satu-satunya anggota G20
di kawasan Asia Tenggara.
Selain SAK yang berbasis IFRS, DSAK IAI telah menerbitkan PSAK dan ISAK yang
merupakan produk non-IFRS antara lain, seperti PSAK 28 dan PSAK 38, PSAK 45, ISAK 25
dan ISAK 31.
(cr: iaiglobal.or.id)
Perusahaan syariah atau yang memiliki unit syariah, sebelum tahun 2015, laporan
Keuangan dilaporkan dengan frasa sesuai dengan Standar Keuangan yang berlaku di
Indonesia. Sedangkan standar akuntansi syariah baru diatur mulai tahun 2015, yang
berarti, sebelum tahun 2015, penyusunan Laporan Keuangan Unit Syariah bekum ada
standarnya, karena SAK yang berlaku saat itu tidak sesuai untuk konteks unit Syariah
(Konteks Bunga Efektif) sehingga bisa dikatakan bahwa laporan keuangan yang
disusun tidak wajar.

PrincipleBased Accounting vs Rule-Based Accounting


Dalam rangka konvergensi IFRS ada perubahan mendasar dalam akuntansi, yaitu perubahan
dari rule-based acounting menjadi principle-based accounting. Konsep principlebased
accounting ini merupakan konsep yang meletakkan tujuan kunci dalam pelaporan keuangan,
kemudian menyedikan landasan untuk menjelaskan tujuan tersebut. Jika timbul keragu
raguan mengenai sebuah aturan, pembaca diarahkan kembali ke landasan prinsip tersebut.
.
Sayangnya, kelemahan dari konsep principle-based accounting ini adalah dalam kondisi tidak
adanya petunjuk dapat menyebabkan ketidakakuratan dan ketidakkonsistenan informasi.
.
Sedangkan konsep rulebased accounting merupakan konsep yang memberikan daftar aturan
yang harus diikuti dalam menyiapkan pelaporan keuangan. Dengan memiiki aturan yang
jelas, dapat meningkatkan akurasi dan mengurangi keragu-raguan yang dapat memicu
pelaporan yang agresif dari manajemen.
.
Kekurangan dari konsep rulebased accounting ini adalah dapat menyebabkan kompleksitas
yang tidak dibutuhkan dalam menyiapkan pelaporan keuangan. Tambahan lagi, persyaratan
atau aturan yang ketat dapat memaksa manajer untuk memanipulasi laporan agar dapat
memenuhi kewajibannya.
Seorang sahabat bertanya kepada saya untuk menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud
dengan principle based dalam IFRS dan bedanya dengan rule based yang dianut oleh US
GAAP. Saya mengernyitkan dahi karena bahasan ini sudah sering sekali dibahas dalam
kegiatan-kegiatan seminar dan kuliah umum tentang IFRS terutama pada tahun 2009-2010.
Ketika saya membongkar koleksi tulisan-tulisan saya terdahulu, ternyata saya belum pernah
menuliskan isu penting ini secara detil.
Banyak orang yang sudah mendengar bahwa salah satu karakter penting dalam IFRS
adalah principle based dan ini yang menjadi pembeda IFRS dengan US GAAP. Namun
bagaimana sebenarnya standar akuntansi yang principle based itu? Apakah US GAAP yg
katanya rule based bisa dikatakan tidak memiliki prinsip?
Sulit untuk menarik garis sejarah kapan istilah principle based digunakan para penggiat
IFRS, namun istilah ini menurut beberapa akuntan senior yang pernah saya ajak diskusi tidak
pernah muncul di era 80 dan 90 an. Sehingga dugaan saya istilah ini muncul baru-baru saja
seiring dengan difusi IFRS ke seluruh dunia. Kata principle based kemudian menjadi nilai
jual IFRS dan seakan-akan menjadi sesuatu yang lebih baik daripada rule based.

Principle based vs rule based: analogi resep kue donat


Apakah principle based itu? Sering dibicarakan tapi jarang diilustrasikan dengan terang.
Tidak ada definisi yang jelas di dalam IFRS itu sendiri tentang principle based. Dalam
berbagai kesempatan seminar saya sering mengilustrasikan principle based vs rule
based dengan resep kue donat. Kabetulan donat adalah salah satu kue kesukaan anak-anak
saya yang saya hapal resepnya. Standar akuntansi bisa disamakan dengan resep kue donat,
hanya saja produk akhirnya adalah laporan keuangan, bukan kue bundar dengan lubang
ditengah yang legit.
Suatu resep kue donat yang rule based akan sangat detil menjelaskan bagaimana kue donat
ini dibuat. Ukuran-ukurannya sangat jelas, semisal terigu satu kilogram menggunakan empat
kuning telur, susu 100 ml dan ragi instant 7 gr. Semua ukuran dan cara membuatnya detil,
sampai berapa lama kue tersebut digoreng dengan suhu berapa, misalnya digoreng selama 5
menit bolak balik dengan minyak panas bersuhu 180 derajat.
Dengan resep yang sangat detil tersebut, dalam praktiknya kemudian orang bisa bertanya, nah
kalau saya gak mau pakai telor gimana? Kalau saya mengganti susu dengan santan, apakah
masih bisa kue tersebut dibilang donat? Sehingga mungkin saja kemudian berkembang aneka
kue yang rasa dan bentuknya mirip donat tapi tidak bisa dikatakan donat karena
pembuatannya tidak memenuhi kaidah resep donat tadi. Misalnya saja ada yang berusaha
mengganti bahan penunjangnya (semisal susu diganti santan) kemudian menyebut donat
nya sebagai sebuah kue baru dan tidak mau menyebutnya sebagai donat dengan dalih kan
kalau donat resepnya pakai susu, saya pakai santan lho, jadinya ini bukan donat dong.
Resep kue yang principle based akan berbeda. Resep kue donat principle based akan
membuat definisi cukup luas tentang apa yang dimaksud dengan donat. Mungkin
didefinisikan sebagai kue serupa roti berbasis terigu yang biasanya memiliki lubang
ditengah, biasanya digoreng dan berasa manis. Resepnya pun tidak terlalu detil, misalnya
untuk satu kilo terigu, cairan yg digunakan secukupnya sampai adonan bisa dipulung. Cairan
ini bisa menggunakan susu, air atau santan. Juga untuk proses pematangan tidak detil
melainkan donat digoreng dampai matang keemasan
Dengan resep kue yang principle based ini maka kategori donat lebih menitikberatkan pada
substansinya. Akibatnya mungkin akan banyak variasi donat di pasaran dengan resep yang
sedikit berbeda-beda. Bila anda tiba-tiba menemukan sebuah kue yang mirip donat, sebutlah
kue cincin ala betawi yang juga rasanya manis dan digoreng. Penganut resep principle
based akan lebih mudah memutuskan bahwa ia bukan donat karena ketika dicicipi kue cincin
tidak berstektur seperti roti karena dibuat dari tepung beras, tanpa perlu melihat resep kuenya.
Sebaliknya bila ada kue yang substansinya adalah donat tapi disebut bukan donat karena
tidak berlubang misalnya, penganut principle based tetap memandang kue itu sebagai donat
karena persyaratan lubang ditengah dalam definisi tidak wajib, kan definisinya bilang
biasanya memiliki lubang di tengah, jadi yang tidak memiliki lubangpun masih bias
diketagorikan donat bila substansinya sama. Duh jadi tiba-tiba ingin makan donat dan
secangkir kopi ya? He he he

Standar Principle based dalam Praktik


Dalam kegiatan kuliah umum atau seminar yang saya berikan, saya sering mencontohkan
perbedaan principle based vs rule based dengan standar sewa dan konsolidasi. Dalam standar
sewa ala rule based, yang juga dianut oleh PSAK 30 kita sebelum mengadopsi IFRS,
pemisahan antara sewa operasi dan sewa pembiayaan sangat tegas dan detil. Suatu sewa
masuk kategori sewa pembiayaan bila memenuhi beberapa syarat, misalnya masa sewa
melingkupi minimal 75% dari total umur ekonomis barang sewaan.
Karena batasan yang jelas ini, maka mereka yang ingin mengkategorikan sewa sebagai sewa
operasi untuk menghindari pengakuan liabilitas sewa di neraca bisa mengakali kontrak
sewa menjadi 74% dari umur ekonomis barang sewaan. Dengan demikian mengkategorikan
sewa ini sebagai sewa operasi tidaklah salah karena tidak bertentangan dengan standar
akuntansi.
Dalam standar sewa yang principle based, batas 75% tidak disebutkan tapi yang ditekankan
adalah substansi sewa. Sewa diketagorikan sebagai sewa pembiayaan bila manfaat dan risiko
dari barang sewaan secara substansial berpindah ke penyewa. Masa sewa bisa menjadi salah
satu indikasi, tapi tidak ada garis batas jelas 75% melainkan menggunakan penjelasan masa
sewa adalah untuk sebagaian besar umur ekonomis aset, dengan demikian yang memiliki
umur sewa 74% bisa dipastikan bahwa bisa dikategorikan sebagai sewa pembiayaan.
Perbedaan standar sewa ini menjadi salah satu perbedaan utama IFRS dan US GAAP
sehingga kedua dewan standar ini membuat kerjasama dalam pembuatan standar sewa yang
baru. Saat ini pembahasan tentang leasing masih hangat diperdebatkan karena kedua dewan
standar belum bersepakat dalam beberapa hal.
Salah satu contoh principle based vs rule based adalah standar tentang konsolidasi. IFRS
menekankan pada definisi pengendalian. Bila ada pengendalian (walaupun kepemilikannya
dibawah 50% dari total saham) maka harus dikonsolidasi (de facto control). Sedangkan
standar akuntansi rule based akan menekankan pada voting rights sehingga sulit bila memiliki
kepemilikan dibawah 50% untuk mengkonsolidasi anak perusahaan karena tidak
memiliki voting rights mayoritas.
Standar berbasis prinsip lainnya yang dikembangkan oleh IASB bersama dengan FASB
adalah standar tentang pendapatan. Dalam joint project ini, langkah-langkah pengakuan
pendapatan diatur dalam lima tahapan berurutan. Dihaprapkan dengan prinsip ini maka
pengakuan pendapatan dapat memiliki prinsip yang sama dalam setiap industri, terutama di
US GAAP karena banyak sekali pengaturan tentang pengakuan pendapatan yg berbeda-beda
tiap industry.

Dampak Principle Based kepada akuntan


Banyak yang salah kaprah bahwa US GAAP adalah standar rule basedsehingga tidak
memiliki prinsip. US GAAP juga memiliki kerangka konseptual, bahkan banyak yg
berpendapat kualitas kerangka konseptual US GAAP lebih baik daripada IASB. Banyak
faktor yang membuat perkembangan standar akuntansi US GAAP yang menjadi detil dan
rumit seperti sekarang ini. US GAAP dikembangkan lebih dari 50 tahun dengan
pendekatan bottom-upsesuai dengan kebutuhan dan permintaan pengguna standar. Sehingga
standar US GAAP memang makin lama semakin rumit karena perkembangan transaksi dan
kompleksitas bisnis yang semakin berkembang.
Ada juga yang berpendapat standar IFRS nantinya akan semakin rumit dan detil seiring
dengan banyak permintaan dari pengguna standar untuk klarifikasi dan petunjuk penggunaan.
Sekarang sudah mulai banyak keluhan bahwa IFRIC (IFRS Interpretation
Committee) bekerja terlalu lamban dalam menjawab kebingungan para pengguna standar
IFRS.
Standar yang berbasis prinsip menuntuk pertimbangan professional para pengguna standar.
Menilik contoh resep donat di atas, mereka yang belum pernah membuat donat sebelumnya,
tentunya akan lebih mudah untuk menggunakan resep kue donat yang detil, terperinci dan
jelas langkah-langkahnya. Di lain pihak standar yang bersifat principle based lebih mudah
dipelajari dan dipahami karena lebih ringkas dan tidak rumit. Namun ketika terjadi banyak
variasi praktik dalam bisnis, akuntan harus percaya diri dalam mengiterpretasikan standar
yang principle based tersebut.
Permasalahannya adalah, pertimbangan professional (professional judgement) sangat sulit
dipelajari di bangku kuliah formal. Pendidikan akuntansi keuangan level sarjana, bukan
hanya di Indonesia tapi juga di banyak negara, menekankan pada pengajaran rule based.
Laporan keuangan dihasilkan setelah melalui langkah-langkah tertentu. Akibatnya ketika para
akuntan terjun ke lapangan, mereka gamang dalam membuat pertimbangan profesional.
Mengasah pertimbangan professional akuntan biasanya dicapai melalui praktik kerja atau
melalui studi kasus, namun studi kasus yang baik di rumpun keilmuan akuntansi juga susah
didapatkan karena biasanya studi kasus lebih banyak di rumpun ilmu manajemen seperti
marketing atau manajemen strategi.
Profesi akuntan di Indonesia memasuki babak baru dengan disahkannya PMK No 25/2014
tentang akuntan beregister. Akuntan professional dituntut patuh terhadap etika profesi dan
juga memiliki pertimbangan professional yang kuat. Adalah tantangan besar para penyusun
kurikulum dan materi pendidikan Chartered Accountant Indonesia untuk membangun
kompetensi ini. Studi kasus-studi kasus yang membutuhkan pertimbangan profesional harus
diperbanyak untuk meningkatkan kualitas pendidikan profesi akuntan di Indonesia. Jangan
sampai nanti akuntan mudah galau ketika melihat donat. eehh melihat permasalahan
akuntansi.
Principal Base Dan Rule Base
Juli 30, 2012 ~ mstakimch
Seperti yang kita ketahui saat ini terdapat dua standar akuntansi yang diterima untuk
digunakan secara internasional GAAP A.S dan International Financial Reporting Standards
(IFRS) Namun pada perkembangannya nanti di dunia akan menggunakan satu standar saja
yakni IFRS.

Indonesia sebelum berkomitmen untuk menggunakan IFRS menggunakan standar akuntansi


keuangan (PSAK) yang berkiblat pada US GAAP yang mengacu pada rule base. Sementara
dalam standar yang digunakan dalam IFRS ini, tidak lagi mengacu pada rule base, melainkan
principal base. Implikasi dari principal base ini, akuntan akan dituntut untuk lebih
menggunakan professional judgement nya.
Perbedaan antara principal base dan rule base
Laporan keuangan yang selama ini dibuat menggunakan PSAK yang berkiblat pada US
GAAP sudah tidak lagi digunakan oleh Indonesia. Saat ini standar yang digunakan telah
Konvergen dengan IFRS, dimana standar akuntansi menjadi berbasis prinsip (principle
based) bukan lagi berbasis aturan (rule based). Pengaturan berbasis prinsip bertujuan untuk
memenuhi tujuan dari IFRS yaitu meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan
keterbandingan laporan keuangan antar entitas secara global.
Perbedaan rules-based system dan principal base adalah pada rules-based system akuntan
dapat memperoleh petunjuk implementasi secara detail sehingga mengurangi ketidakpastian
dan menghasilkan aplikasi aturan-aturan spesifik dalam standar secara mekanis.
Sementara principles-based system, akuntan akan membuat sejumlah estimasi yang harus dia
pertanggungjawabkan dan mensyaratkan semakin banyak judgment professional (Schipper,
2003).
Untuk lebih mudah memahami, berikut penjelasannya sederhananya. Kita menganalogikan
seorang pembuat donat kentang. Pada saat pembuat donat menggunakan principal base,
pembuat donat membuat donat tanpa melihat buku resep tentang pembuatan donat, dia telah
memahami bahwa bahan-bahan yang diperlukan adalah terigu, kentang, ragi, telur, dan gula.
Untuk takarannya, pembuat donat akan menakarnya sesuai seleranya. cara menggoreng pun
juga sesuai selera, boleh sangat garing atau sedikit basah. Namun, ketika pembuat
menggunakan rule base, pembuat donat membuatnya dengan melihat resep yang telah ada,
berikut detail proses pembuatan donat tersebut. Dengan kata lain, mulai dari bahan hingga
proses pembuatannya sudah ditentukan. Begitu pula dalam akuntansi. dengan rule base,
akuntan akan menjalankan keputusan sesuai dengan aturan, sedangkan dengan principal
base, akuntan akan diberi kewenangan untuk menentukan suatu proses akuntansi dan
disinilah letak profesional judgement dibutuhkan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Benneth
et al. (2006) bahwa principles-based standardsmensyaratkan judgment professional baik pada
level transaksi maupun pada level laporan keuangan. Fleksibilitas dalam standar IFRS yang
bersifat principles-based akan berdampak pada tipe dan jumlah skill professional yang
seharusnya dimiliki oleh akuntan dan auditor. Pengadopsian IFRS mensyaratkan akuntan
maupun auditor untuk memiliki pemahaman mengenai kerangka konseptual informasi
keuangan agar dapat mengaplikasikan secara tepat dalam pembuatan keputusan.
Pengadopsian IFRS mensyaratkan akuntan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai
kejadian maupun transaksi bisnis dan ekonomi perusahaan secara fundamental sebelum
membuat judgment.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengidentifikasi beberapa keunggulan dan


kelemahan dari rules-based dan principles-based standard. Untuk rule based yang detail
memiliki beberapa manfaat. Schipper (2003) mengidentifikasi manfaatnya sebagai berikut,
(1) meningkatkan komparabilitas, (2) meningkatkan verifiabilitas (konsensus antar
pengukur), (3) mengurangi kemungkinan perselisihan mengenai suatu perlakuan akuntansi,
dan (4) mengurangi risiko litigasi. Namun, rule base juga bukan tanpa kelemahan. Standar
yang detail tidak dapat memenuhi tantangan perubahan kondisi keuangan yang kompleks dan
cepat dan sering menyediakan benchmark untuk menentukan kesesuaian dengan aturan tapi
tidak merefleksi kejadian ekonomi yang mendasarinya secara substansial (Finnerty 1988,
dalam AAA Financial Accounting Standard Committee, 2003).
Standar berbasis prinsip memiliki keunggulan dalam hal memungkinkan manajer memilih
perlakuan akuntansi yang merefleksikan transaksi atau kejadian ekonomi yang mendasarinya,
meskipun hal sebaliknya dapat terjadi. Standar berbasis prinsip memungkinkan manajer,
anggota komite audit, dan auditor menerapkan judgment profesionalnya untuk lebih fokus
pada merefleksi kejadian atau transaksi ekonomi secara substansial, tidak sekedar
melaporkan transaksi atau kejadian ekonomi sesuai dengan standar.

Implikasinya, IFRS memang lebih fleksibel dan memberikan keleluasaan yang lebih besar
terhadap akuntan untuk menggunakan pertimbangan profesional (professional judgment).
Implikasi inilah yang dijadikan alasan, IFRS justru akan mempersulit komparabilitas laporan
keuangan dan menyuburkan manipulasi laporan keuangan. Bandingkan misalnya dengan US
GAAP yang sangat ketat. Pertimbangan profesional telah tereduksi menjadi pohon keputusan
(decision tree), dalam kondisi apa harus melakukan apa.
Jadi kesimpulan baik atau buruknya penerapan IFRS yang berbasis prinsip silahkan anda
simpulkan sendiri, tapi yang perlu menjadi perhatian anda sekarang bukan lagi mengenai baik
buruknya atau suka tidak sukanya terhadap IFRS karena tahun 2012 ini Indonesia telah resmi
menerapkan IFRS dan sudah seharusnyalah anda mempersiapkan diri anda sebagai calon
akuntan untuk memahami IFRS yang berbasis pirnsip. Baik kalangan mahasiswa, praktisi
maupun akademisi di bidang akuntansi untuk sungguh-sungguh menguasai prinsip-prinsip
akuntansi untuk dapat bersaing apabila masih ingin bersaing. (Qiem)

Principal Based dan Rules Based


Perdebatan mengenai principal based dan rules based telah berlangsung selama lebih dari
satu decade. Proses konvergensi IASB dengan FASB terus berjalan untuk menghilangkan
perbedaan mendasar dari dua standar akuntansi dunia tersebut. Saat ini masih ada perbedaan
antara standar keluaran IASB dan FASB. Namun, pengaruh FASB yang bersifat Rule
Based di dalam standar-standar keluaran IASB mulai terasa. Pengaruh US GAAP sangat
terasa pada standar-standar mengenai instrument keuangan (IAS 32, IAS 39) dimana US
GAAP memang memiliki standar mengenai instrument keuangan lebih dahulu sehingga
standarnya dalam hal ini lebih matang. Garis Besar Haluan Standar Akuntansi (GBHSA)
terbesar antara lain adalah penyusunan standar akan standar berbasis aturan (Rule based) atau
standar berbasis prinsip (Principle based). IFRS Boardmemilih untuk mengacu pada standar
berbasis prinsip.

Perbedaan Standar Berbasis Prinsip dan Standar Berbasis Aturan


Keterangan Principle Based Standard Rule Based Standard
Sifat Umum Spesifik dan Rinci
Menguraikan apa yang harus Menjelaskan bagaimana yang harus
Isi dilakukan dilakukan
Cenderung ringkas dan bernomor Cenderung lebih elaborative dan
Karakteristik sedikit bernomor lebih banyak
Diukur dengan ukuran patuh atau
Kepatuhan Diukur dengan tingkat kepatuhan melanggar peraturan

Keunggulan standar berbasis prinsip (Principle Based Standart)


Principle Based Standard memiliki beberapa keunggulan dibanding Rule Based standard,
antara lain :
1. Kosakata yang digunakan standar berarti kata yang digunakan dalam Principle
Based Standard adalah prinsip-prinsip yang terpilih.
2. Standar berbasis prinsip lebih mudah dipahami.
3. Hubungan antara satu prinsip dengan prinsip lain menjadi lebih jelas.
4. Konsistensi antar prinsip dan antar standar individual dapat lebih dijamin
5. Kontradiksi prinsip lebih mudah ditengarai dan disempurnakan oleh para penyusun
standar.

Kelemahan Standar Berbasis Peratutan (Rule Based standart)


Beberapa kelemahan dari standar yang berbasis aturan antara lain :
1. Standar berbasis aturan selalu dirasa kurang lengkap.
2. Karena eksplesit, standar akuntasi berbasis aturan beresiko berumur pendek karena
turbulensi perubahan lingkungan akuntansi.
3. Terasa over-regulated atau berlebihan oleh pengguna standar.

Garis Besar Haluan Standar Akuntansi (GBHSA) terbesar antara lain adalah penyusunan
standar akan standar berbasis aturan (Rule based) atau standar berbasis prinsip (Principle
based). Perdebatan mengenai principal based dan rules based telah berlangsung selama lebih
dari satu decade. Proses konvergensi IASB dengan FASB terus berjalan untuk
menghilangkan perbedaan mendasar dari dua standar akuntansi dunia tersebut.

Hasil penelitiannya Lev (1988) yang menjelaskan bahwa pengukuran yang dapat diamati dari
likuiditas pasar digunakan untuk mengidentifikasi level asimetri dalam menghadapi
partisipan di pasar modal. Lev menyatakan bahwa pengungkapan yang penuh (full
disclosure) seharusnya mengurangi ketidakadilan diantara para investor karena adanya
penurunan asimetri informasi melaiui akses yang sama terhadap informasi. Disini dapat
dilihat bahwa masih banyak perdebatan dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap
disclosure laporan keuangan.

Disclore sangat penting dalam laporan keuangan, apalagi sekarang dengan mulai
diterapkannya IFRS, disclosure merupakan hal yang begitu banyak dibahas didalamnya.
Dalam peraturan International Accounting Standar (IAS) disebutkan bahwa pengungkapan
(disclosure), merupakan syarat mutlak bagi panyajian informasi yang diperlukan untuk
berlangsungnya pasar modal yang efisien secara optimal. Penelitian Bank Dunia baru-baru ini
menunjukkan bahwa salah satu faktor terjadinya krisis di kawasan Asia belakangan ini adalah
karena kurangnya keterbukaan dan transparansi atas Laporan Keuangan Emiten.

TEORI-TEORI REGULASI DAN PASAR BEBAS

Haruskah Kita Meregulasi Akuntansi?

Pihak yang tidak menginginkan regulasi menggunakan teori agensi untuk mempertanyakan
mengapa harus ada insentif untuk pembuatan laporan yang andal dan sukarela bagi pemilik.
Untuk menyelesaikan konflik antara pemilik dan manajemen, laporan keuangan digunakan
untuk memonitor hubungan kerja, untuk menilai dan menentukan kompensasi manajer.
Perusahaan dituntut untuk menyajikan laporan secara sukarela dan pengguna informasi dapat
memaksa pihak-pihak terkait untuk menyajikan informasi tersebut.
Pihak yang menginginkan regulasi menggunakan argumentasi kepentingan umum. Pada
dasarnya kegagalan pasar maupun kebutuhan untuk mencapai tujuan sosial memaksa adanya
regulasi akuntansi.
Kegagalan pasar sebagai isu alokasi yang belum optimal dapat disebabkan oleh:

Keengganan perusahaan mengungkapkan informasi.


Adanya penyelewengan.
Penyajian informasi akuntansi secara tidak semestinya.

Kebutuhan untuk mencapai tujuan sosial yang memuaskan juga mendukung perlunya
regulasi akuntansi. Tujuan ini mencakup kewajaran laporan, informasi yang disajikan
secara seimbang (information symmetry) dan perlindungan investor.

Pendekatan Pasar Bebas

Pendekatan pasar bebas dalam menghasilkan standar akuntansi dimulai dari asumsi dasar
bahwa informasi akuntansi merupakan sebuah produk yang bersifat ekonomis, sama seperti
barang atau jasa lainnya. Atas dasar tersebut informasi akuntansi merupakan subjek kekuatan
permintaan dari para pengguna dan disediakan oleh para penyaji. Hasilnya adalah sejumlah
pengungkapan informasi yang optimal pada tingkat harga yang optimal pula. Kapan suatu
informasi diperlukan dan sejumlah harga tertentu ditawarkan untuk itu, pasar akan
menyediakan informasi asalkan harga yang ditawarkan melebihi biaya informasi tersebut.
Pendukung pendekatan regulator (baik swasta maupun publik) menyatakan bahwa ada
kegagalan pasar baik secara eksplisit maupun implisit dalam pasar informasi swasta.

Kegagalan pasar eksplisit terjadi pada informasi akuntansi saat kuantitas dan kualitas
dari barang yang disajikan berbeda dengan biaya dan manfaat yang diperoleh dari
barang tersebut. Kegagalan pasar terjadi dalam pasar khusus informasi akuntansi,
dengan asumsi kuantitas dan kualitas informasi akuntansi berbeda dari manfaat sosial
maksimum yang dapat diperoleh.
Informasi akuntansi dipandang sebagai barang umum dan terkait dengan
ketidakmampuan untuk mengeluarkan pihak yang terlibat dalam penjualan (non-
purchaser/ free rider).
Teori kegagalan pasar implisit menekankan pada satu atau lebih kondisi berikut
sehingga terdapat gangguan dalam pasar informasi akuntansi.

Pengendalian atas informasi yang bersifat monopoli oleh manajemen.


Investor yang naif.
Naif dihipotesiskan bahwa para investor tidak memahami dengan baik
kompleksitas teknik-teknik transformasi akuntansi.
Ketakutan akan kegagalan fungsional (functional fixation).
Dalam kondisi tertentu investor mungkin tidak mampu mengubah proses
pembuatan keputusannya untuk merespon data yang dihasilkan oleh
perubahan yang terjadi dalam proses akuntansi.
Penyimpangan perhitungan.
Keanekaragaman prosedur.
Kurangnya objektivitas.
Berdasarkan dugaan tersebut, pendukung regulasi atas akuntansi mengkritik bahwa
pendekatan pasar tidak efektif dan menyarankan regulasi untuk meningkatkan produk
akuntansi.
Tantangan terhadap teori kegagalan pasar

Teori kegagalan pasar mengandung kesalahan yang fatal. Keluaran yang diperoleh teori
tersebut diidentifikasi sebagai optimal hanya sekedar istilah dan istilah ini dapat
diidentifikasikan sendiri-sendiri oleh ketentuan setiap lembaga yang menghasilkan keluaran
tersebut.
Kripke mengajukan dua kemungkinan yang akan terjadi dengan tidak adanya regulasi yang
diinginkan:

Akan ada pengungkapan informasi akuntansi yang cukup dan berkesinambungan.


Keseragaman akuntansi semakin berkurang karena perbedaan pandangan dalam
menginterprestasikan dan menggambarkan suatu kejadian akan disembunyikan oleh
sistem yang diberi kewenangan untuk melalukan hal tersebut. Namun tekanan dan
pengungkapan akan semakin memadai sehingga memungkinkan para pembacanya
untuk membuat kebijakan sendiri.

Regulasi Standar Akuntansi oleh Sektor Swasta


Penyusunan standar secara swasta di Amerika Serikat meliputi Committee on Accounting
Procedures (1939-1959), Accounting Priciples Board (1959-1973) dan Financial Accounting
Standar Board (1973-sekarang).

Argumen yang digunakan pendukungnya antara lain;


FASB terlihat lebih responsif terhadap berbagai konstituen.
FASB tampak mampu menarik, sebagai anggota atau staf, orang-orang yang memiliki
pengetahuan teknis yang diperlukan untuk mengembangkan, mengimplementasikan
sistem pengukuran dan pengungkapan alternatif
FASB terlihat sukses dalam memperoleh tanggapan dari berbagai konstituensinya dan
dalam menanggapi sejumlah masukan.

Argumen yang digunakan penentangnya antara lain;


FASB tidak memiliki statutori dan kekuatan untuk memaksakan aturan yang
dibuatnya, serta menghadapi penolakan oleh Kongres maupun oleh lembaga
pemerintah lainnya.
FASB sering dituduh tidak independen dari dari konstituennya yang besar, kantor
akuntan publik dan korporasi.
FASB sering dituduh lamban dalam menanggapi isu-isu utama yang krusial bagi
sejumlah konstituennya.

Para pendukung dewan tetap mempertahankan bahwa pertimbangan yang mendalam akan
memungkinkan FASB memperbaiki akibat yang tidak diinginkan dari suatu pernyataan. Hal
ini menimbulkan persoalan tambahan, karena standar yang ditawarkan akan memiliki
kesempatan yang kecil untuk diterapkan apabila secara umum tidak memperoleh dukungan.
IASB vs FASB: Apa Perbedaannya?
Kategori: standar akuntansi global
SEC diharapkan dapat menerbitkan rekomendasi sebelum akhir tahun yang kemungkinan
memerlukan perusahaan publik untuk mengadopsi standar akuntansi internasional yang
diterbitkan oleh International Accounting Standards Board (IASB). Jika hal ini terjadi, hal
tersebut menjadi tidak jelas bagaimana IASB dan Financial Accounting Standards Board
(FASB) akan bekerja sama untuk mendukung dan menerbitkan standar akuntansi
internasional di masa mendatang. Dalam pidatonya baru-baru, FASB chair Leslie F. Seidman
menyatakan bahwa FASB harus terus memiliki peran yang kuat dalam mempengaruhi apa
yang terjadi di dalam agenda internasional, proses dimana masalah ini dianalisis, tingkat
pembinaan pelaksanaan tersedia, dan penjangkauan yang dilakukan di Amerika Serikat. ,
Meskipun IASB dan FASB mirip, baik dalam hal membangun dan meningkatkan standar
akuntansi keuangan dan pelaporan masih terdapat beberapa perbedaan.
FASB merupakan bagian dari Financial Accounting Foundation (FAF), yang diawasi oleh
dewan pengawas, dan independen dari semua bisnis dan organisasi profesional. Hal ini
didanai oleh biaya yang dibayarkan oleh emiten. IASB diawasi oleh pengawas juga, tetapi
bertanggung jawab kepada Dewan Pengawasan dari otoritas pasar modal. Hal ini juga didanai
oleh pelaku pasar, tetapi didanai oleh pihak regulator yang berwenang juga.
FASB saat ini memiliki tujuh anggota dewan yang ditunjuk oleh dewan pengawas FAF, dan
masing-masing dapat melayani dari dua sampai dengan lima tahun. IASB saat ini memiliki
15 anggota yang ditunjuk oleh pengawas melalui proses yang terbuka dan ketat yang
mencakup lowongan iklan dan konsultasi organisasi terkait.
Perbedaan Terbesar: Pasca-pelaksanaan
Mungkin perbedaan yang paling jelas antara kedua organisasi terletak di area pasca-
penerapan standar. FASB tidak memiliki proses formal untuk meninjau efek dari standar
akuntansi yang baru diterbitkan. Isu pasca-pelaksanaan dapat ditangani melalui tindakan SEC
(Staf Accounting Bulletin) atau American Institute of Certified Public Accountants action
(EITF), yang dapat mengakibatkan update ke Code. IASB, di sisi lain, memiliki formal, dua
tahun kajian pasca implementasi pada semua standar yang diterbitkan.
Terakhir, anggaran operasional pada tahun 2011 untuk dua organisasi ini sangat berbeda.
Untuk FASB, anggaran sebesar $ 53.300.000 USD. Untuk IASB, anggarannya sebesar 20,1
juta (sekitar $ 31.400.000). Jumlah ini kongruen mengingat ukuran relatif dari masing-masing
dewan organisasi.
Apa artinya semua ini?
Kami tidak benar-benar tahu bagaimana pergerakan standar internasional, dengan
pengawasan petugas IASB, akan mempengaruhi perusahaan publik AS. IASB memang
memiliki tujuan yang sama dengan FASB, tapi saya akan perhatikan IASB memiliki struktur
yang lebih ketika mengevaluasi pernyataan akuntansi baru. Saya pikir struktur tambahan ini
adalah sesuatu yang akan disambut oleh perusahaan publik. Hal ini juga menunjukkan bahwa
IASB mampu beroperasi secara efisien.