Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

PENDIDIKAN DAN PROFESI PENDIDIK

MENGANALISIS BERBAGAI TEORI BELAJAR KLASIK DAN KEJURUAN


KONTEMPORER (BEHAVIORISTIK, HUMANISTIK, DAN KONSTRUKTIFISTIK)
UNTUK MENGEMBANGKAN STRATEGI PEMBELAJARAN

Oleh :
LAILY YUNICA ARIYANTI
NIM. 1752929907

PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG) DALAM JABATAN BERSUBSIDI


UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017

A. Pendahuluan
1
Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu
perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar,
dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu. Belajar tidak hanya sekedar
memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan. Namun bagaimana melibatkan
individu secara aktif membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi
suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya.
Teori adalah seperangkat azaz tentang kejadian-kejadian yang didalamnnya memuat
ide, konsep, prosedur dan prinsip yang dapat dipelajari, dianalisis dan diuji
kebenarannya. Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat tata cara
pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode
pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas.

B. Jenis-jenis teori belajar


Teori belajar klasik yang umum digunakan dalam pengembangan pembelajaran adalah :
1. Teori belajar behavioristik
Konsep teori belajar behavioristik adalah respon dari perubahan perilaku yang
teramati, diukur, dan ternilai kongkret karena ada rangsangan luar pada lingkungan
belajar (stimulus) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Respon terhadap kondisi
lingkungan membentuk ikatan yang kuat, asosiasi, perwujudan sikap, pola pikir, dan
tindakan belajar.
Teori behavioristik menyatakan belajar adalah perubahan tingkah laku anak karena
interaksi anak terhadap lingkungan terkondisi.
Teori belajar behavioristik dalam TVET relevan digunakan dalam belajar skill
motorik pada level pemula.
Kekurangan teori belajar behavioristik adalah perlakuan peserta didik sebagai pribadi
yang pasif. Peserta didik menjalani proses belajar hanya jika ada stimulus dari luar.

2. Teori belajar Kognitivistik


Teori belajar kognitik membuka pemahaman akan pikiran sebagai kotak hitam
pemrosesan informasi. Kognitivisme fokus pada aktifitas mental dan pikiran
sebagaimana seorang belajar
Teori Kognitivistik menyatakan bahwa belajar adalah kombinasi antaran faktor
eksternal dan internal. Intelegensia memberi pengaruh terhadap hasil belajar.
Konsep learning by doing diterapkan melalui proses melakukan, pemberian tugas
secara berulang, membuat variasi penugasan, melakukan perbaikan terhadap
kesalahan, mengeleminir tindakan yang tidak perlu dilakukan.
Teori Belajar kognitivistik TVET digunakan dalam pembelajaran skill berpikir
(thinking skills). Pemecahan masalah modern semakin banyak membutuhkan
pemecahan berbasis mental atau pikiran.
Pembelajaran TVET membutuhkan interaksi sosial yang aktif bertindak, membangun
ikon dan menggunakan simbol-simbol atau bahasa dan didisplaikan menjadi rumus,
model, konsep, alogaritma, program dan sebagainya. Belajar memecahkan masalah
bertingkat mulai dari sederhana ke masalah yang lebih rumit

3. Teori belajar konstruktivistik

2
Teori belajar konstruktivistik menekankan bahwa belajar adalah proses aktif
mengkosntruksikan pengetahuan. Peserta didik berperan sebagai konstruktor
pengetahuan.
Belajar merupakan proses aktif mengkosntruksi pengehuan dan ide baru atas
pengalaman sebelumnya.
Teori belajar konstruktivistik merupakan teori klasik penyempurnaan dua teori
belajar sebelumnya yang paling lengkap. Pembelajaran dalam penerolehan
pengetahuan, skill, dan sikap kerja dalam TVET membutuhkan aktivitas
konteksstual, autentik dan bermakna secara sosial budaya, ekonomi , teknologi,
emosional-spriritual, kinestetika, intelektual. Pendekatan sosial budaya berbasis
lingkungan dan pemberian dukungan atau bantuan dalam belajar merupakan tawaran
pokok dalam teori kosntruktivistik.
Belajar membutuhkan perancah, proses dan pengalaman diri sendiri, konkret, belajar
memecahkan masalah, ada jangkar lingkungan belajar yang menarik, situasional,
berbasis proyek, melalui penelitian.

4. Teori Humanistik
Menurut teori humanistik tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses
belajar dianggap berhasil jika siswa telah memahami lingkungannya dan dirinya
sendiri. Dengan kata lain, siswa telah mampu mencapai aktualisasi diri secara
optimal. Teori humanistik cenderung bersifat eklektik, maksudnya teori ini dapat
memanfaatkan teori apa saja asal tujuannya tercapai. Aplikasi teori humanistik dalam
kegiatan pembelajaran cenderung mendorong siswa untuk berfikir induktif. Teori ini
juga amat mementingan faktor pengalaman dan keterlibatan siswa secara aktif dalam
belajar.
Teori disiplin mental humanistic, bersumber pada psikologi humanisme klasik dari
Plato dan Aristoteles. Humanistic terbagi menjadi dua yaitu pschycidelic (dengan
melakukan sendiri), dan scientistic (dengan memecahkan masalah). Teori ini hampir
sama dengan teori pertama bahwa anak memiliki potensi-potensi. Potensi perlu
dilatih agar berkembang. Perbedaannya dengan teori disiplin mental theistic , teori
tersebut menekankan, keseluruhan, keutuhan. Pendidikanya menekankan bagian-
bagian, latihan bagian atau aspek tertentu. Teori disiplin mental humanistic lebih
menekankan pendidikan umum (general education) kalau orang menguasi hal-hal
yang bersifat umum akan mudah ditransfer atau diaplikasikan pada hal-hal yang
bersifat yg khusus.

Kelebihan dan kekurangan teori belajar klasik :


No Teori Belajar Kelebihan Kekurangan
1 Behavioristik a. Sangat cocok untuk memperoleh a. Pembelajaran peserta didik
kemampuan yang membutuhkan hanya perpusat pada guru.
praktek dan pembiasaan. Peserta didik cenderung pasif
b. Materi yang diberikan sangat dan bosan.
detail. b. Peserta didik hanya
c. Membangun konsentrasi pikiran. mendengarkan dengan tertib
penjelasan guru.
c. Peserta didik tidak bebas
3
berkreasi dan berimajinasi.
2 Kognivistik a. Menjadikan siswa lebih kreatif a. Teori tidak menyeluruh untuk
dan mandiri. semua tingkat pendidikan.
b. Membantu siswa memahami b. Sulit di praktikkan khususnya
bahan belajar secara lebih di tingkat lanjut.
mudah c. Beberapa prinsip seperti
intelegensi sulit dipahami
dan pemahamannya masih
belum tuntas
3 Konstruktivistik a. Berfikir alami proses membina a. Dalam proses belajarnya,
pengetahuan baru, peserta didik peran guru sebagai pendidik
berfikir untuk menyelesaikan itu sepertinya kurang begitu
masalah, mencari ide dan mendukung.
membuat keputusan. b. Lebih luas, cakupan makna
b. Paham, karena peserta didik dan sulit dipahami
terlibat secara langsung dalam
membina pengetahuan baru,
mereka akan lebih paham dan
dapat mengaplikasikannya
dalam semua situasi.
c. Ingat, karena peserta didik
terlibat secara langsung dengan
aktif, mereka akan ingat lebih
lama semua konsep
d. Kemahiran social, diperoleh
apabila berinteraksi dengan
rekan dan guru dalam membina
pengetahuan baru.
e. Menyenangkan, karena mereka
terlibat secara terus, mereka
paham, ingat, yakin dan
berinteraksi dengan sehat, maka
mereka akan merasa senang
dalam belajar dalam membina
pengetahuan baru
4 Humanistik a. Teori ini cocok untuk diterapkan a. Peserta didik yang tidak
dalam materi pembelajaran yang mau memahami potensi
bersifat pembentukan dirinya akan ketinggalan
kepribadian, hati nurani, dalam proses belajar.
perubahan sikap, dan analisis b. Peserta didik yang tidak
terhadap fenomena sosial. aktif dan malas belajar akan
b. Indikator dari keberhasilan merugikan diri sendiri dalam
aplikasi ini adalah peserta didik proses belajar.
merasa senang bergairah,
berinisiatif dalam belajar dan

4
terjadi perubahan pola pikir,
perilaku dan sikap atas kemauan
sendiri.
c. Peserta didik diharapkan
menjadi manusia yang bebas,
tidak terikat oleh pendapat
orang lain dan mengatur
pribadinya sendiri secara
bertanggung jawab tanpa
mengurangi hak-hak orang lain
atau melanggar aturan, norma,
disiplin atau etika yang berlaku.

C. Teori Belajar kontemporer dalam TVET


Konsep belajar kontemporer dalam TVET adalah belajar yang terkonstruksi secara
sosial, situasional, kondisional, berpartisipasi langsung dalam masyarakat, belajar sepanjang
hayat, belajar berbasis kehidupan. Pembelajaran TVET selalu konkteksual sesuai kebutuhan
kompetensi melakukan berbagai jenis pekerjaan atau tugas keseharian. Perubahan tuntutan
kompetensi kerja menjadi dasar pengembangan pembelajaran.
Teori belajar kontemporer dalam TVET antara lain :
1. Life-based learning
Life-based learning adalah proses pemerolehan pengetahuan dan skill memahami
hakikat kehidupan, terampil memecahkan masalah-masalah kehidupan, menjalani
kehidupan secara seimbang dan harmonis. Life-based learning mengetengahkan konsep
bahwa belajar dari kehidupan adalah belajar yang sesungguhnya.
Visi life based learning dalam TVET adalah terbangunnya keyakinan dan budaya
belajar untuk saling membantu diantara peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan
dalam pengembangan potensi diri mereka masing-masing agar berkembang
kapabilitasnya secara terus menerus dalam bidang atau bisnis kejuruannya.
Life-based learning dalam perspektif pendidikan indonesia adalah pembelajaran
dalam proses pembentukan manusia seutuhnya dan seluruhnya. Life-based learning
dalam TVET merupakan pendekatan pembelajaran kontekstual-holistik-integratif
pengembangan kapabilitas diri seseorang secara berkelanjutan.

2. Teori belajar Transformatif (Transformative Learning Theory)


Teori belajar transformatif mencakup perubahan yang mendalam terhadap
keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, sikap hidup dalam bertindak baik sebagai individu
maupun sebagai bagian anggota masyarakat. Pembelajaran transformatif mendorong
pembelajaran sebagai proses transformasi pemberdayaan peserta didik aktif mengambil
bagian memecahkan permasalah kehidupan dimasyarakat baik lokal, nasional, regional
dan internasional. Pembelajaran merupakan proses transformasi perubahan pada diri
peserta didik bersama-sama lingkungan hidupnya.
Penerapan teori transformatif dalam TVET terletak pada pembelajaran
partisipatif, berpikir kreatif dan berpikir divergen melalui berbagai dialog dan diskusi
pada kegiatan praktikum, pekerjaan proyek, magang industri. Pengetahuan diperoleh
dari pengalaman belajar yang secara riil dilakukan sesuai konteks bidang pekerjaannya.

5
Pendidik bersama peserta didik sama-sama melakukan konfirmasi, kritik, refleksi,
memodifikasi, mengganti, menambahkan terhadap hal-hal yang perlu dikembangkan.

3. Self-directed Learning
Self-directed Learning merupakan pembelajaran dimana desain, rencana,
pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran didesain oleh pembelajar itu sendiri. Dalamself-
directed learning seluruh keputusan tentang apa, dimana, kapan, berapa lama, dengan
siapa belajar semua ditetapkan oleh pembelajar.Pekerja yang membutuhkan peningkatan
posisi karir dalam kerja sangat perlu melakukan self- directed learning untuk
peningkatan kompetensi kerja.

4. Belajar berpartner sosial (Sosial Partnerships)


Belajar berpartner sosial adalah jaringan belajar yang menghubungkan kelompok
lokal dengan organisasi atau lembaga eksternal yang bergerak lintas global, regional,
nasional, lokal, kota, tempat kerja, dan keluarga. Belajar berpartner secara sosial dalam
TVET merupakan proses belajar membangun interaksi dan kreativitas kerja sebagai
persejutuan bersama.
Tujuan belajar berpartner sosial adalah untuk peningkatan kesempatan pewarisan
kerjasama. Pembelajaran TVET membutuhkan partisipasi pasangan dalam meningkatkan
pembelajaran melalui interaksi dan aktivitas dalam setiap kerja berpasangan.
Pembelajaran berpartner secara sosial akan mengembangkan percaya diri dan
komunikasi yang semakin cari diantara peserta didik dengan lembaga-lembaga terkait
dengan sistem TVET.

5. Pembelajaran orang dewasa (mature Adult learning)


Pembelajaran orang dewasa lebih bersifat terbuka dan kontekstual sesuai dengan
problematika autentik yang terjadi dan di alami. Konsep penbelajaran orang dewasa
diarahkan untuk pembentukan konsep diri terhadap sesuatu yang dipelajari.
Terbentuknya konsep diri, penemuan makna dari pengetahuan yang dipelajari merupakan
bagian terpenting dari pembelajaran orang dewasa. Pembelajaran orang dewasa
membutuhkan perubahan strategi belajar yang semakin peduli pada kebutuhan diri
peserta didik, butuh berkembang dan berubah secara terus menerus, pemberdayaaan
individu, pemahaman potensi diri.

6. Pengembangan kompetensi sebagai proses kolektif (competensi as collective Process)


Kompetensi adalah kapasitas diri seseorang yang dapat didemonstrasikan atau
ditampilkan berupa pengetahuan, skill, dan karakteritik diri pribadi yang dibutuhkn
untuk memenuhi permintaan-permintaan atau situasi khusus. Kompetensi menandakan
skill atau sejumlah skill, level pengetahuan, dan praktek perilaku yang diperoleh melalui
pembelajaran formal, non formal, atau informal. Pembelajaran TVET membutuhkan
interaksi den setting sosial yang autentik. Hanya melalui pembelajaran dengan setting
lingkungan belajar yang nyata, pengembangan kompetensi berjalan utuh. Pengembangan
kompetensi kerja membutuhkan proses kolektif bagaimana pengetahuan itu diterapkan
dan di kelola ditempat kerja.

7. Belajar berbasis kerja (work-Based Learning)

6
Work based learning diterapkan dalam TVET untuk memenuhi kebutuhan
ketuntasan belajar sesuai standar industri. Belajar berbasis kerja dapat dilakukan di
sekolah atau di industri. Perubahah kebutuhan tenaga kerja dalam suatu organisasi
mendorong TVET menerapkan Work Based Learning. Pembelajaran berbasis kerja
dikembangkan untuk mengembangkan kompentesi kerja sesuai dengan pasar tenaga
kerja.
Perubahan orientasi kerja pada peningkatan kualitas layanan, pengembangan
kelompok kerja yang tanggap semakin luas, dan penerapan lingkungan kerja yang
semakin berkualitas berimplikasi besar pada perubahan work based learning tradisional
yang menerapkan pola akuisi kompetensi yang intensif hanya pada stu skill, ruang
lingkup yang sempit.

8. Belajar di tempat kerja (Workplace Learning) dan belajar langsung dalam kehidupan
kerja (learning in working life)
Setiap pemecahan masalah membutuhkan proses analisis sintesis masalah sampai
pada pengambilan keputusan yang efektif dan efisien. Belajar memecahkan masalah
dalam kehidupan kerja dan berlangsungdi tempat kerja merupakan pembelajaran TVET
abad 21. Ditempat kerja dalam seting alami pekerja belajar langsung dai kehiduppan
kerja secara autentik. Penguatan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi dalam
kehidupan kerja membuat para pekerja memiliki pengalaman dan skill yang memadai.

D. Pengertian Strategi Belajar


Definisi / pengertian strategi pembelajaran. Secara umum strategi dapat diartikan
sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang
telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi juga bisa diartikn sebagai
pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar
untuk mencapai tujuan yang telah digariskan
Strategi pembelajaran merupakan suatu rencana tindakan (rangkaian kegiatan) yang
termasuk juga penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam
pembelajaran. Ini berarti bahwa di dalam penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses
penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Strategi disusun untuk mencapai
tujuan tertentu, artinya disini bahwa arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah
pencapaian tujuan, sehingga penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan
berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan.
Namun sebelumnya perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang dapat diukur
keberhasilannya.
Pembelajaran TVET adalah proses aktif melakukan akuisi atau perolehan skill,
pengetahuan atau pemahaman dan pendalaman tata nilai untuk menumbuhkan kapabilitas
(kemampuan dan kemauan) memasuki dan mengembangkan karir didunia kerja untuk
pemenuhan kebutuhan hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pembelajaran TVET membutuhkan rekontekstualisasi. Kontekstualisasi pembelajaran TVET
merupakan suatu kebutuhan yang terus menerus perlu dikembangkan. Kemaknaan
pembelajaran dalam TVET diukur dari seberapa tinggi tingkat relevansinya dengan
kebutuhan riil. Skill berpikir kreatif, bekerja secara kratif dengan orang lain, dan menerapkan
inovasi memerlukan lima sikap dasar yaitu self-dicipline, openness to experience, risk-
taking, tolerance for ambiguity, group trust.
7
Tiga kerangka pokok model pengembangan learning to solve problems creatively sebagai
berikut :
a. Belajar Berpikir Kreatif Memecahkan Masalah
Kerangka pertama dari Model LIS-5C dalam learning to solve problems creatively
adalah berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kritis kreatif dalam memecahkan masalah
membutuhkan strategi kognitif microskills dan strategi afektif.
b. Belajar Bekerja Kreatif dengan Orang Lain dalam Pemecahan Masalah
Kerangka kedua dalam LIS-5C adalah belajar bekerja kreatif dengan orang lain dalam
memecahkan masalah. Work creatively with others membutuhkan latihan
pengembangan strategi kognitif makroabilities. Bekerja secara kreatif untuk
menghasilkan sesuatu yang baru dan bernilai memerlukan imajinasi tinggi, terampil
membuat perumpamaan (imagery), dan berimprovisasi dalam memecahkan masalah
bersama orang lain.
c. Belajar Menerapkan Inovasi dalam Pemecahan Masalah
Belajar menerapkan inovasi dalam pemecahan masalah merupakan sebuah tindakan
nyata dalam menerapkan ide-ide kreatif. Menerapkan ide-ide kreatif membutuhkan
lingkungan belajar dan lingkungan sosial budaya yang mendukung kreativitas. Proses
penerapan kreativitas membutuhkan proses menemukan inspirasi, intuisi, dan inkubasi
dari berbagai hal yang menginspirasi. Model ketrampilan belajar dan berinovasi bagi
peserta didik pendidikan vokasional sangat dibutuhkan dalam rangka membangun
kualitas dan dampak lulusan. Model LIS-5C dapat membangun skill kreativitas,
kekritisan berpikir, kemampuan berkomunikasi peserta didik dalam memecahkan
masalah baik secara individu maupun secara berkelompok dengan selalu membangun
kemampuan berkolaborasi.

E. KESIMPULAN
Ketrampilan belajar di abad 21 ini adalah ketrampilan belajar yang berciri pokok kritis
dalam berpikir, kreatif memecahkan masalah, mampu berkomunikasi dan berkolaborasi
dengan orang lain, serta cerdas merayakan setiap keberhasilan hidupnya. Pembelajaran
TVET adalah pembelajaran berbasis kompetensi plus kemampuan membangun jejaring.
Penerapan teori pembelajaran diantara teori klasik dan teori kontemporer digunakan secara
eklektik yaitu dengan mengambil dan memilih yang baik-baik dan relevan dengan
kebutuhan pembelajaran saat ini. Konsep belajar baru yang bermuara pada pengembangan
kemampuan pemecahan masalah kreatif perlu dijadikan titik perhatian pengembangan
strategi pembelajaran TVET agar ke depan dampak pembelajaran jelas dan relevan dengan
perkembangan teknologi, sains, sosial dan budaya.