Anda di halaman 1dari 23

TUGAS

PEMANFAATAN SUMBER DAYA MINERAL DAN


ENERGI

BATUBARA

Oleh:

Group 13
Chaidi Reza Anshari Depari 03021281520141
Muhammad Kresna Akbar 03021181520012
Maudy Handayani 03021181520027
Raudhoh Safitri 03021181520117
Reza Fahlefi Rizaldy 03021181520009
Windy Safitry 03021281520146

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
A. Cara Penambangan Batubara

1. Tambang Bawah Tanah (Underground Mining)


Pada penambangan batubara dengan metode penambangan bawah tanah
(Underground Mining) dalam yang peting adalah bagaimana mempertahankan lubang
bukaan seaman mungkin agar terhindar dari kemungkinan :
Keruntuhan atap batuan
Ambruknya dinding lubang (rib spalling)
Penggelembungan lantai lapisan batubara (floor heave).

Kejadian diatas disebabkan oleh terlepasnya energi yang tersimpan secara


alamiah dalam endapan batubara. Energi yang terpendam tersebut akibat terjadinya
perubahan atau deformasi bentuk endapan batubara selama berlangsungnya
pembentukan deposit tersebut. Pelepasan energi tersebut disebabkan oleh adanya
perubahan keseimbangan tegangan yang terdapat pada massa batuan akibat
dilakukannya kegiatan pembuatan lubang-lubang bukaan tambang. Disamping itu
kegagalan yang disebabkan batuan dan batubara itu tidak mempunyai daya
penyangga di samping faktor-faktor alami dari keadaan geologi endapan batubara
tersebut. Penambangan batubara tambang bawah tanah kenyatannnya sangat
ditentukan oleh cara mengusahakan agar lubang bukaan dapat dipertahankan selama
mungkin pada saat berlangsungnya penambangan batubara dengan biaya rendah atau
se ekonomis mungkin.
Untuk mencapai keinginan tersebut maka pada pembuatan lubang bukaan selalu
diusahankan agar :
Kemampuan penyangga dari atap lapisan
Kekuatan lantai lapisan batubara
Kemampuan daya dukung pilar penyangga.

Namun apabila menggunakan sifat alamiah lapisan tersebut sulit untuk dicapai,
maka beberapa cara penyanggan buatan untuk tambang bawah tanah dapat di
aplikasikan.

Metode Metode yang digunakan untuk Tambang Bawah Tanah

a. Metode Penambangan Batubara Sistem Ruang dan Pilar (Room And Pillar
Method)
Metode ini adalah metode penambangan batubara yang menetapkan suatu panel
atau blok penambangan tertentu, kemudian menggali maju dua sistem (jalur)
terowongan, masing-masing melintang dan memanjang, untuk melakukan
penambangan batubara dengan pembagian pilar batubara. Metode penambangan ini
terdiri dari metode penambangan batubara yang hanya melalui penggalian maju
terowongan, dan metode penambangan secara berurutan terhadap pilar batubara yang
diblok tadi, mulai dari yang terdalam, apabila jaringan terowongan yang digali
tersebut telah mencapai batas maksimum blok penambangan.

Keunggulan metode penambangan batubara sistem Room and Pillar :


Lingkup penyesuaian terhadap kondisi alam penambangan lebih luas dibanding
dengan sistem longwall yang dimekanisasi.
Hingga batas-batas tertentu, dapat menyesuaikan terhadap variasi kemiringan
(kecuali lapisan yang sangat curam), tebal tipisnya lapisan batubara, keberadaan
patahan serta sifat dan kondisi lantai dan atap.
Mampu menambang blok yang tersisa dari sistem longwall, misalnya karena
adanya patahan.

Gambar 1.1
Room and Pillar Method

Dapat melakukan penambangan suatu blok yang berkaitan dengan perlindungan


permukaan (seperti perlindungan bangunan terhadap penurunan permukaan
tanah).
Selain itu, cukup efektif untuk menaikkan recovery, pada blok yang tidak bisa
ditambang semua, misalnya penambangan bagian dangkal di bawah dasar laut.

Kelemahan metode penambangan batubara sistem Room and Pillar :


Mengalami recovery penambangan batubara yang sangat buruk (sekitar enam
puluh sampai tujuh puluh persen).
Bila dibandingkan dengan metode penambangan batubara sistem Longwall,
banyak terjadi kecelakaan, seperti atap ambruk.
Ada batas maksimum penambangan bagian dalam, yang antara lain disebabkan
oleh peningkatan tekanan bumi (batasnya sekitar lima ratus meter di bawah
permukaan bumi).
Karena banyak batubara yang disisakan, akan meninggalkan masalah dari segi
keamanan untuk penerapan di lapisan batubara yang mudah swabakar.

b. Metode Penambangan Batubara Sistem Lorong Panjang (Longwall Stoping)


Metode penambangan ini adalah metode penambangan batubara yang digunakan
secara luas pada penambangan bawah tanah.
Ciri-ciri metode penambangan batubara sistem Longwall :
Recovery nya tinggi, karena menambang sebagian besar batubara.
Front kerja dapat dipusatkan, karena dapat berproduksi besar di satu front kerja.
Pada umumnya, apabila kemiringan landai, mekanisasi penambangan,
transportasi dan penyanggaan menjadi mudah, sehingga dapat meningkatkan
efisiensi penambangan batubara.
Karena dapat memusatkan front kerja, panjang terowongan yang dirawat terhadap
jumlah produksi batubara menjadi pendek.
Menguntungkan dari segi keamanan, karena ventilasinya mudah dan swabakar
yang timbul juga sedikit.
Karena dapat memanfaatkan tekanan bumi, pemotongan batubara menjadi
mudah.
Apabila terjadi hal-hal seperti keruntuhan front kerja dan kerusakan mesin,
penurunan produksi batubaranya besar.
Gambar 1.2 Underground Coal Mining

Ada empat cara penambangan batubara dengan menggunakan sistem Longwall


yaitu :
1) Metode Penambangan Batubara Sistem Maju
Pada penambangan batubara sistem maju, penambangan dimulai dari mulut
masuk suatu blok penambangan batubara, dan diteruskan penambangan maju
mengarah ke dalam sampai ke ujung panel penambangan, yang dilakukan secara
bersamaan untuk terowongan dan front kerja, sambil mempertahankan terowongan
agar tidak runtuh. Hal ini seperti terdapat pada skema penambangan sistem maju.
Kelebihan dan kekurangan sistem maju :
Setelah front kerja penambangan dibuat, dapat segera memulai penambangan
batubara, sehingga tidak memerlukan waktu yang panjang untuk persiapan
penambangan batubara.
Pada blok yang banyak perubahan patahan atau lapisan batubara, atau pada blok
yang banyak gas, sulit melakukan eksplorasi dan drainase gas.
Karena tail gate dan head gate di gob harus dipertahankan sampai selesai
penambangan, maka semakin maju front kerja, semakin tinggi biaya perawatan
karena terowongan yang dirawat semakin panjang.
Mudah terjadi swabakar akibat kebocoran angin di terowogan gob, dan apabila
perawatan terowongan tidak baik, penampang terowongan menjadi sempit,
sehingga menjadi halangan bagi ventilasi dan transportasi.

Gambar 1.3 Perbedaaan Sistem Penambangan Batubara Maju dan Mundur

2) Metode Penambangan Batubara Sistem Mundur


Pada penambangan batubara sistem mundur, pertama digali seam road dari mulut
masuk blok penambangan, dan pada waktu terowongan tersebut mencapai garis
maksimal, dibuat front kerja sepanjang garis batas tersebut untuk memulai
penambangan batubara menuju mulut masuk tambang.
Kelebihan dan kekurangan sistem mundur :
Waktu yang diperlukan untuk persiapan terowongan penambangan batubara
lama.
Dapat mengetahui kondisi lapisan batubara pada tahap penggalian maju, serta
dapat melakukan drainase gas pada daerah yang banyak emisi gas (semburan
gas), sebelum penambangan batubara.
Pemeliharaan terowongan mudah, dan menguntungkan juga bagi ventilasi dan
transportasi.
Karena tidak ada kebocoran angin ke dalam gob, resiko terhadap swabakar kecil.

Sistem maju dan sistem mundur masing-masing mempunyai keunggulan dan


kekurangan, sistem mana yang akan digunakan, ditentukan antara lain oleh kondisi
lapisan batuan, masalah keamanan dan sulit tidaknya pemeliharaan terowongan.
Penambangan batubara juga lebih mudah dilakukan kalau ketebalan lapisan sekitar
satu koma dua sampai tiga meter.

Penambangan Lapisan Batubara Tebal


Akhir-akhir ini untuk lapisan batubara dengan ketebalan lebih dari tiga meter,
yakni hingga hampir empat meter mampu ditambang karena perkembangan self
advancing support. Namun, sebelumnya yang umum dilakukan adalah membagi
lapisan tersebut menjadi lebih dari dua tingkat, kemudian ditambang satu per satu.
Dalam hal ini, pertama yang ditambang adalah tingkat atas, kemudian dibuat atap
buatan bagi tingkat bawah dengan pasang penyangga seperti steel band, baja profil,
jala logam dan kayu pada gob, dan selanjutnya bagian bawah ditambang mengejar
tingkat atas. Namun bisa juga tingkat bawah yang pertama ditambang, kemudian di
bekas penambangannya dilakukan pengisian, baru dilakukan penambangan bagian
atas.

Penambangan Pada Kemiringan Curam


Penambangan pada kemiringan curam adalah metode penambangan batubara
yang umumnya digunakan pada lapisan batubara dengan kemiringan lebih dari empat
puluh lima derajat, di mana hingga sekitar tahun 1920 digunakan metode bertingkat
sistem pilar atau sistem ruang dan pilar mengarah ke atas. Akan tetapi, dengan
bertambahnya kedalaman penambangan, timbul banyak masalah seperti turunnya
recovery, sehingga lama kelamaan diganti dengan metode penambangan kemiringan
semu dengan pengisian penuh.
Pada metode penambangan ini, kemiringan front kerja yang tadinya sekitar empat
puluh derajat dijadikan dua puluh lima sampai tiga puluh derajat, dimana batubara
yang ditambang dan bahan pengisi dialirkan turun melalui saluran besi yang digelar.
Pada sistem ini, pola kerja shift yang lazim adalah satu shift yang melakukan
peledakan dan penambangan, kemudian shift berikutnya melakukan pengisian.
Karena pekerjaan di bagian bawah berbahaya, maka belakangan metode ini
diperbaiki menjadi step advance mining, yaitu kemiringan front kerja dibuat empat
puluh tiga sampai empat puluh lima derajat dan di sepanjang front kerja dibuat
beberapa tingkat tangga, dimana pada setiap tingkat dilakukan pemotongan batubara
dan pemasangan tiap penyangga.
Dengan demikian gangguan oleh runtuhan batubara dari bagian atas dapat
ditiadakan dan panjang front kerja juga menjadi lebih dari seratus meter. Metode
penambangan tersebut adalah step advance mining, sedangkan yang disebut di depan
adalah align mining.
Keuntungan dari penambangan pada kemiringan curam adalah pengangkutan di
dalam front kerja hampir tidak memerlukan tenaga penggerak karena dapat berjalan
sendiri. Sedangkan kerugiannya adalah memerlukannya tenaga kerja yang banyak
untuk membawa masuk bahan pengisi, sehingga volume produksi tergantung dari
volume pengisian.

2. Tambang Terbuka (Surface Mining)


a. Contour Mining

Gambar 1.4 Contour Mining

Contour mining cocok


diterapkan untuk endapan batubara yang tersingkap di lereng pegunungan atau bukit.
Cara penambangannya diawali dengan pengupasan tanah penutup (overburden) di
daerah singkapan di sepanjang lereng mengikuti garis ketinggian (kontur), kemudian
diikuti dengan penambangan endapan batubaranya. Penambangan dilanjutkan ke
arah tebing sampai dicapai batas endapan yang masih ekonomis bila ditambang.
Menurut Robert Meyers, Contour Mining dibagi menjadi beberapa metode, antara
lain :

1) Conventional Contour Mining


Pada metode ini, penggalian awal dibuat sepanjang sisi bukit pada daerah
dimana batubara tersingkap. Pemberaian lapisan tanah penutup dilakukan dengan
peledakan dan pemboran atau menggunakan dozer dan ripper serta alat muat front
end leader, kemudian langsung didorong dan ditimbun di daerah lereng yang lebih
rendah. Pengupasan dengan contour stripping akan menghasilkan jalur operasi yang
bergelombang, memanjang dan menerus mengelilingi seluruh sisi bukit.
2) Block-Cut Contour Mining
Pada cara ini daerah penambangan dibagi menjadi blok-blok penambangan yang
bertujuan untuk mengurangi timbunan tanah buangan pada saat pengupasan tanah
penutup di sekitar lereng. Pada tahap awal blok 1 digali sampai batas tebing
(highwall) yang diizinkan. Tanah penutup tersebut ditimbun sementara, batubaranya
kemudian diambil. Setelah itu lapisan blok 2 digali kira-kira setengahnya dan
ditimbun di blok 1. Sementara batubara blok 2 siap digali, maka lapisan tanah
penutup blok 3 digali dan berlanjut ke siklus penggalian blok 2 dan menimbun
tanah buangan pada blok awal.
Pada saat blok 1 sudah ditimbun dan diratakan kembali, maka lapisan tanah
penutup blok 4 dipidahkan ke blok 2 setelah batubara pada blok 3 tersingkap semua.
Lapisan tanah penutup blok 5 dipindahkan ke blok 3, kemudian lapisan tanah
penutup blok 6 dipindahkan ke blok 4 dan seterusnya sampai selesai. Penggalian
beruturan ini akan mengurangi jumlah lapisan tanah penutup yang harus diangkut
untuk menutup final pit.

3) Haulback Contour Mining


Metode haulback ini merupakan modifikasi dari konsep block-cut, yang
memerlukan suatu jenis angkutan overburden, bukannya langsung menimbunnya.
Jadi metode ini membutuhkan perencanaan dan operasi yang teliti untuk bisa
menangani batubara dan overburden secara efektif.
Ada tiga jenis perlatan yang sering digunakan, yaitu :
Truk atau front-end loader
Scrapers
Kombinasi dari scrapers dan truck

4) Box-Cut Contour Mining


Pada metode box-cut contour mining ini lapisan tanah penutup yang sudah digali,
ditimbun pada daerah yang sudah rata di sepanjang garis singkapan hingga
membentuk suatu tanggul-tanggul yang rendah yang akan membantu menyangga
porsi terbesar dari tanah timbunan.

b. Mountaintop Removal Method


Mountaintop Removal Method ini dikenal dan berkembang cepat, khususnya di
Kentucky Timur (Amerika Serikat). Dengan metode ini lapisan tanah penutup dapat
terkupas seluruhnya, sehingga memungkinkan perolehan batubara 100%.

Gambar 1.5 Mountaintop Removal Method

c. Area Mining Method


Metode ini diterapkan untuk menambang endapan batubara yang dekat
permukaan pada daerah mendatar sampai agak landai. Penambangannya dimulai dari
singkapan batubara yang mempunyai lapisan dan tanah penutup dangkal dilanjutkan
ke yang lebih tebal sampai batas pit.
Terdapat tiga cara penambangan area mining method, yaitu :
1) Conventional Area Mining Method
Pada cara ini, penggalian dimulai pada daerah penambangan awal sehingga
penggalian lapisan tanah penutup dan penimbunannya tidak terlalu mengganggu
lingkungan. Kemudian lapisan tanah penutup ini ditimbun di belakang daerah yang
sudah ditambang.

2) Area Mining With Stripping Shovel


Cara ini digunakan untuk batubara yang terletak 1015 m di bawah permukaan
tanah. Penambangan dimulai dengan membuat bukaan berbentuk segi empat. Lapisan
tanah penutup ditimbun sejajar dengan arah penggalian, pada daerah yang sedang
ditambang. Penggalian sejajar ini dilakukan sampai seluruh endapan tergali.

3) Block Area Mining


Cara ini hampir sama dengan conventional area mining method, tetapi daerah
penambangan dibagi menjadi beberapa blok penambangan. Cara ini terbatas untuk
endapan batubara dengan tebal lapisan tanah penutup maksimum 12 m. Blok
penggalian awal dibuat dengan bulldozer. Tanah hasil penggalian kemudian didorong
pada daerah yang berdekatan dengan daerah penggalian.

d. Open Pit Method


Metode ini digunakan untuk endapan batubara yang memiliki kemiringan (dip)
yang besar dan curam. Endapan batubara harus tebal bila lapisan tanah penutupnya
cukup tebal.

Gambar 1.6 Open Pit Method

Lapisan Miring
Cara ini dapat diterapkan pada lapisan batubara yang terdiri dari satu lapisan
(single seam) atau lebih (multiple seam). Pada cara ini lapisan tanah penutup
yang telah dapat ditimbun di kedua sisi pada masing-masing pengupasan.

Lapisan Tebal
Pada cara ini penambangan dimulai dengan melakukan pengupasan tanah
penutup dan penimbunan dilakukan pada daerah yang sudah ditambang. Sebelum
dimulai, harus tersedia dahulu daerah singkapan yang cukup untuk dijadikan
daerah penimbunan pada operasi berikutnya.
Pada cara ini, baik pada pengupasan tanah penutup maupun penggalian
batubaranya, digunakan sistem jenjang (benching system).

B. Syarat Syarat Penjualan Batubara

Untuk melakukan penjualan batubara harus sesuai dengan peraturan perundang-


undangan yang berlaku di Indonesia. Berikut adalah peraturannya :

1. Prosedur Pemberian IUPK OP Pengangkutan dan Penjualan


Pasal 105 ayat (2) UU 04/09 menyebutkan bahwa IUPK OP Pengangkutan dan
Penjualan diberikan untuk 1 (satu) kali penjualan berdasarkan keputusan dari Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Menteri ESDM), gubernur
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pemberian izin ini diberikan setelah terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan
evaluasi atas mineral dan/atau batubara yang tergali oleh instansi teknis terkait.
Pihak-pihak yang dapat memperoleh IUPK OP Pengangkutan dan Penjualan menurut
Pasal 2 ayat (4) Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik
Indonesia No. 32 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pemberian Izin Khusus Di Bidang
Pertambangan Mineral Dan Batubara (Permen 32/2013) adalah sebagai berikut :
a. Badan Usaha;
b. Koperasi; dan
c. Perseorangan yang terdiri atas :
i. Orang Perseorangan;
ii. Perusahaan Komanditer (CV); dan/atau
iii. Perusahaan Firma
Pasal 15 ayat (1) Permen 32/2013 menyebutkan bahwa untuk dapat memperoleh
IUPK OP Pengangkutan dan Penjualan, pihak pemohon harus mengajukan
permohonan kepada Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai dengan
kewenangannya. Adapun kewenangan untuk memberikan IUPK OP Pengangkutan dan
Penjualan menurut Pasal 37 ayat (1) PP 23/10 adalah sebagai berikut :
a. Menteri apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan dilakukan lintas
provinsi dan negara;
b. Gubernur apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan dilakukan lintas
kabupaten/kota; atau
c. Bupati/Walikota apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan dalam 1 (satu)
kabupaten/kota.

Selanjutnya dalam Pasal 15 ayat (2) Permen 32/2013 menyebutkan bahwa


permohonan IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan
sebagaimana dimaksud pada harus memenuhi persyaratan: (i) administratif, (ii) teknis,
(iii) lingkungan; dan (iv) finansial.

Syarat-syarat Administratif (Pasal 16 ayat (1) Permen 32/2013)


1. Surat permohonan;
2. Profil Badan Usaha;
3. Akta pendirian Badan Usaha yang bergerak di bidang usaha Pertambangan
mineral
atau batubara khususnya di bidang pengangkutan dan penjualan mineral atau
batubara termasuk akta perubahannya yang telah disahkan oleh pejabat yang
berwenang;
4. Nomor Pokok Wajib Pajak;
5. Susunan direksi dan daftar pemegang saham;
6. Surat keterangan domisili;
7. Perjanjian kerja sarna Pengangkutan dan Penjualan mineral atau batubara
antara pemohon dengan pemegang :
a. IUP Operasi Produksi;
b. IUPK Operasi Produksi;
c. IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian;
d. IPR; dan/atau
e. IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan lainnya,
yang telah mendapatkan rekomendasi dari Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya;
8. Salinan IUP Operasi Produksi, IUPK Operasi Produksi, IUP Operasi Produksi
khusus untuk pengolahan dan/ atau pemurnian, IPR, dan/ atau IUP Operasi
Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan lainnya yang telah
teregistrasi pada Direktorat Jenderal dan memiliki sertifikat clear and clean; dan
9. Perjanjian kerja sama penjualan mineral atau batubara dengan pembeli dalam
negeri dan/atau luar negeri.

Syarat-syarat Teknis (Pasal 17 Permen 32/2013)


Yakni berupa RKAB dan daftar peralatan termasuk armada pengangkutan. Selain
persyaratan teknis sebagaimana dimaksud untuk komoditas tambang yang berasal
dari pemegang IUP Operasi Produksi dan/atau IUPK Operasi Produksi harus
dilengkapi:
1. Laporan hasil kegiatan eksplorasi terakhir yang memuat data mengenai sumber
daya atau cadangan dari pemegang IUP Operasi Produksi dan/atau IUPK Operasi
Produksi;
2. Rencana produksi per tahun pemegang IUP Operasi Produksi dan/atau IUPK
Operasi Produksi sesuai dengan RKAB yang telah disetujui;
3. Persetujuan RKAB 2 (dua) tahun terakhir termasuk data rencana dan realisasi
produksi dan Penjualan;
4. Fotokopi persetujuan studi kelayakan dan izin lingkungan hidup dengan
dilengkapi informasi mengenai cadangan dan rencana produksi jangka panjang
sesuai dengan umur tambang yang telah dilegalisir oleh instansi yang berwenang;
5. Tanda bukti pelunasan pembayaran iuran tetap selama 5 (lima) tahun terakhir
atau sejak diterbitkannya IUP Operasi Produksi dan/atau IUPK Operasi Produksi;
dan
6. Tanda bukti pelunasan pembayaran iuran produksi untuk mineral logam dan
batubara atau tanda bukti pelunasan pembayaran pajak daerah kabupaten/kota
untuk mineral bukan logam dan batuan selama 5 (lima) tahun terakhir atau sejak
diterbitkannya IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi.
Syarat-Syarat Lingkungan (Pasal 18 Permen 32/2013)
1. Pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; dan
2. Pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang lalu lintas dan angkutan jalan baik di darat, laut, maupun di
sungai untuk Pengangkutan mineral atau batubara.

Syarat-Syarat Finansial (Pasal 19 Permen 32/2013)


1. Laporan keuangan tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan publik kecuali
untuk perusahaan baru menyampaikan laporan keuangan terakhir;
2. Surat pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan harga patokan Penjualan mineral
dan batubara; dan
3. Referensi bank Pemerintah dan/atau bank swasta nasional.

C. Cara Pengolahan Batubara


Berdasarkan penjelasan pasal 94 ayat (1) PP No. 23/2010, pengolahan batubara
untuk meningkatkan nilai tambah antara lain :
1. Penggerusan batubara (Coal Crushing)
2. Pencucian batubara (Coal Washing)
3. Pencampuran batubara (Coal Blending)
4. Peningkatan mutu batubara (Coal Upgrading)
5. Pembuatan briket batubara (Coal Briquetting)
6. Pencairan batubara (Coal Liquefaction)
7. Coal Water Mixture (CWX)

Selain pengolahan di atas, batubara juga dapat diolah untuk keperluan non energi,
yaitu dijadikan kokas dan karbon aktif yang bernilai cukup tinggi.
Upaya untuk meningkatan nilai tambah sangat terkait dengan penggunaan teknologi
yang diharapkan mampu memberikan keuntungan (revenue) lebih besar kepada pelaku
usaha. Ini berarti, keberadaan teknologi dan pemanfaatan terhadap teknologi tersebut
menjadi faktor penentu bagi keberhasilan peningkatan nilai tambah batubara.

Teknologi Pengolahan Sekarang


Umumnya pengolahan batubara yang selama ini dilakukan perusahaan tambang
batubara di Indonesia, terdiri atas :
1. Pencampuran, yaitu mencampur dua atau lebih jenis batubara yang diperoleh
langsung dari tambang (run off mine, ROM) dengan kualitas yang berbeda untuk
memperoleh kualitas batubara yang sesuai dengan permintaan konsumen.
2. Penggerusan/peremukan, yaitu proses pengecilan ukuran dalam suatu crushing plant
untuk mendapatkan ukuran yang sesuai dengan permintaan pasar.
3. Pencucian batubara, yaitu proses pencucian utnuk menghilangkan bahan pengotor
yang terdapat dalam batubara.

Dari ketiga jenis pengolahan tersebut, hampir semua perusahaan melakukan


penggerusan dan pencampuran, tetapi hanya sedikit perusahaan yang melakukan
pencucian dalam rangka menurunkan kadar abu (ash).

Teknologi Pengolahan ke Depan dan Peningkatan Nilai tambah yang diperoleh


Berbagai teknologi muncul menyusul pemanfaatan batubara yang semakin
bervariasi, baik untuk keperluan diversifikasi pemanfaatan batubara maupun sebagai
bagian dari upaya peningkatan nilai tambah. Namun, beberapa teknologi ternyata masih
pada tahap demonstration plant atau bahkan pilot plant.

Berikut ini beberapa teknologi pengelolaan batubara yang dapat diterapkan di


Indonesia yakni :
1. Teknologi Peningkatan Mutu (Upgrading)
Peningkatan mutu pada umumnya dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan
kadar air yang terdapat di dalam batubara, sehingga nilai kalori meningkat. Peningkatan
mutu ditunjukkan agar batubara dapat berharga lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

2. Teknologi Pencairan (liquefaction)


Pencairan batubara adalah proses mengkonversi batubara menjadi minyak dengan
kualitas setara bensin atau solar. Misalnya afrika selatan yakni satu-satunya Negara yang
sudah berhasil mencairkan batubara melalaui teknologi Suid Afrikanse Due Olie
(SASOL). Namun kendala bagi Indonesia yakni investasi yang sagat besar dan
keberadaan cadangan yang besar harus berada pada suatu lokasi.
Gambar 1.7 Bagan Alir Pengolahan Batubara

3. Teknologi Gasifikasi (Gasification)


Gasifikasi merupakan proses konversi batubara menjadi produk gas, dengan atau
tanpa menggunakan pereaksi udara, campuran udara/uap air, atau campuran oksigen/uap
air.

4. Teknologi Coal Water (CWM)


CMW atau coal water fuel (CMF) adalah bahan bakar campuran batubara dan air
yang dengan bantuan zat aditif membentuk suspensi kental yang homogeny dan stabil
selama penyimpanan, pengangkutan dan pembakaran. Pembakaran CMW dilakukan
dengan menyemprotkan CMW menggunakan pompa ke tungku pembakaran yang telah
dipanaskan terlebih dahulu. CMW lebih cocok digunakan pada pembangkit tenaga listrik
dan pembangkit tenaga uap.

5. Teknologi Kokas Pengecoran


Kokas adalah material padatan hasil proses dekomposisi batubara dengan pemanasan
bebas udara yang menghasilkan keluaran berupa padatan, cairan dan produk gas (proses
karbonisasi). Padatan yang dihasilkan dari proses karbonisasi biasanya disebut char atau
semi kokas. Kegunaan kokas antara lain sebagai bahan bakar dalam industri
pengececoran dan industri pembuatan besi atau baja.

D. Penggunaan (Pemanfaatan) Batubara


1. Batubara Untuk Bahan Bakar

Sebagai bahan bakar, batubara dapat dimanfaatkan untuk mengubah air menjadi
uap di dalam suatu ketel uap atau boiler PLTU, untuk membakar bahan pembuat
klinker dipabrik semen, dan sebagai bahan bakar di industri-industri kecil. Pada
hakikatnya, semua batubara dapat dibakar, tetapi pemanfaatannya sebagai bahan
bakar tertentu perlu dipenuhi berbagai persyaratan tertentu pula. Misalnya, sebagai
bahan bakar di PLTU diperlukan batubara yang mempunyai kandungan ash <30%.
Ketel yang memanfaatkan batubara harus dapat didesain agar bisa membakar
batubara dengan kandungan ash lebih tinggi lagi, katakanlah 50%. Akan tetapi,
dengan kandungan ash yang demikian besar dapat menimbulkan banyak masalah
dalam pengoperasiannya. Bahkan pada pembakaran batubara yang mengandung ash
<30% pun masih banyak menimbulkan masalah pada boiler karena dapat
menyebabkan erosi dan kerak pada tabung uap.
Umumnya, pembuatan sebuah ketel suatu PLTU dirancang untuk membakar
batubara dengan spesifikasi yang telah ditentukan, sesuai dengan sifat batubara yang
akan menjadi makanannya. Spesifikasi ini kadang-kadang mempunyai nilai rentang
yang agak panjang sehingga dapat menampung batubara lebih dari satu sumber.
Itulah sebabnya mengapa sewaktu masih dalam tahapan eksplorasi dan studi
kelayakan tambang, berbagai parameter penting sebagai penentu tersebut dalam
sampel inti bor sudah mulai ditentukan. Jadi, suatu PLTU dibangun menurut
spesifikasi batubara yang akan membakarnya, bukan sebaliknya (kecuali jika PLTU
sudah ada dan perlu tambahan pasokan, harus dicari batubara yang mempunyai
spesifikasi sama dengan spesifikasi batubara yang digunakan dalam perancangan
boiler tersebut). Umumnya, batubara harus cukup untuk memasok PLTU selama 30
tahun, karena umur PLTU sekitar tiga puluh tahunan. Bila batubara pasokan tersebut
masih kurang, maka harus dicari batubara yang sifatnya sama dengan spesifikasi
boiler PLTU tersebut. Semua PLTU yang direncanakan dibangun di Indonesia, satu
unitnya berkapasitas 50 400 MW. Untuk yang berkapasitas >200 MW, umumnya
dipakai cara pulverised fuel, sedangkan untuk yang kapasitasnya lebih kecil
digunakan cara fluidised bed combustion ataupun pembakaran pada panggangan
(grate firing).
Gambar 1.8 Skema PLTU Batubara

Demikian pula dengan pabrik semen dewasa ini. Semuanya harus menggunakan
bahan bakar batubara dan yang telah dibangun sebelum Peraturan Presiden
ditetapkan, harus mengganti bahan bakar minyaknya dengan batubara. Untuk
keperluan tersebut harus dibangun kiln untuk membakar batubara yang didesain
dengan spesifikasi tertentu, seperti halnya PLTU. Hanya untuk pabrik semen,
persyaratan yang diminta lebih ringan bila dibandingkan dengan yang diminta untuk
PLTU.
Pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar telah mulai dirintis dalam industri
kecil, seperti pabrik kertas, pabrik gula, pabrik bata, pabrik genteng, dan pabrik
kapur. Hal ini terutama untuk memanfaatkan batubara dengan cadangan kecil.
Pada saat ini, Indonesia telah mencoba memanfaatkan batubara untuk
menggantikan minyak tanah sebagai bahan bakar tidak berasap (smokeless fuel) di
rumah tangga. Untuk keperluan tersebut, batubara dikarbonisasikan pada suhu
rendah, digerus dan diberi bahan perekat, kemudian dicetak dan dibentuk menjadi
briket batubara. Di Victoria-Australia, bahan untuk briket batubara berasal dari
batubara peringkat (rank) rendah yang mengandung moisture tinggi, misalnya lignit
yang mengandung mositure >60%.

2. Batubara Untuk Kokas


Kokas ialah residu padat yang tertinggal bila batubara dipanaskan tanpa udara
sampai sebagian zat yang mudah menguapnya hilang. Batubara kokas adalah
batubara yang bila dipanaskan tanpa udara sampai suhu tinggi akan menjadi lunak,
terdevolatilasasi, mengembang, dan memadat kembali membentuk material yang
porous. Material ini merupakan padatan kaya karbon yang disebut kokas.
Kebanyakan kokas digunakan dalam pembuatan besi dan baja karena
memberikan energi panas dan sekaligus bertindak sebagai zat pereduksi (reduktor)
terhadap bijih besi yang dikerjakan didalam tanur suhu tinggi atau tungku
pembakaran (blast furnace). Kokas untuk keperluan tersebut, umumnya padat dan
relatif kuat, dihasilkan dari batubara tertentu., baik tunggal maupun campuran, dalam
oven kokas (coke oven). Residu hasil karbonisasi yang merupakan material serbuk
yang tidak berlubang atau massanya menggumpal disebut char. Bahan ini dapat
dibuat briket dan digunakan sama seperti kokas (kokas jenis ini disebut sebagai
formed coke) atau langsung dipakai sebagai elektroda karbon.
Umumnya, ada dua istilah yang dapat membingungkan kita, yaitu istilah
caking dan coking. Caking ialah kemampuan batubara untuk meleleh ketika
dipanaskan dan kembali membentuk residu yang koheren ketika didinginkan. Tidak
semua caking coal adalah cooking coal. Coking digunakan untuk menerangkan
bahwa batubara tersebut cocok untuk dibuat kokas. Walaupun begitu, keterangan ini
berlawanan dengan definisi klasifikasi batubara hard coal menurut ISO yang
mendefinisikan caking kebalikan dari coking. Caking menunjukkan penggumpalan
(agglomeration) dan pengembangan (swelling). Selama dipanaskan (index crucible
swelling number dan Roga), sedangkan coking menunjukkan penggumpalan dan
pengembangan selama pemanasan lambat (dilatation atau Gray-King coke type). Hal
ini menimbulkan kerancuan dalam pemakaian kedua istilah tersebut.

Gambar 1.9 Batubara


Batubara yang dapat dibuat kokas harus mempunyai peringkat dan tipe tertentu.
Sebagian zat organik dalam batubara mempunyai peranan dalam sifat-sifat pelelehan
tadi. Dalam batubara kokas yang prima, yaitu yang membentuk kokas metalurgi
yang sangat baik, harus dicapai suatu perbandingan yang optimal antara zat yang
reaktif dan zat yang inert (tidak meleleh).
Berbagai parameter yang menentukan batubara kokas (peringkat dan jenisnya
telah memenuhi syarat), termasuk kokas metalurgi, ialah kandungan ash tidak terlalu
tinggi, hampir tidak mengandung sulfur dan fosfor, serta zat yang mudah
menguapnya dalam kokas harus kecil. Untuk menentukan sifat-sifat batubara kokas
digunakan crucible swelling number, Gray King coke type, plastisitas dan fluiditas.

3. Batubara Konversi
Batubara konversi ialah batubara yang dimanfaatkan tidak sebagai bahan bakar
padat, tetapi energi yang dikandungnya, disimpan dalam bentuk lain, yakni gas dan
cairan. Pengubahan batubara dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu melalui
pembuatan gas atau gasifikasi (gasification) dan pencairan batubara atau likuifaksi
(coal liquefaction).
Dalam proses gasifikasi, semua zat organik dalam batubara diubah kedalam
bentuk gas, terutama karbon monoksida, karbon dioksida, dan hidrogen. Gas-gas ini
kemudian dapat pula diubah menjadi bahan-bahan kimia, seperti pupuk dan metanol.
Proses likuifaksi bertujuan mengubah batubara menjadi minyak. Penelitian yang
dilakukan SASOL di Afrika Selatan yang telah berhasil mengubah batubara menjadi
minyak (gasolin, diesel, jet fuel), gas maupun bahan kimia lain melalui pembuatan
gas. Cara langsung ialah dengan menghidrogenasikan batubara (rasio atom
hidrogen/karbon = 0,7) sehingga menjadi minyak (rasio atom hidrogen
hidrogen/karbon >1.2).
Gambar 1.10 Coal Gasification Process
E. Tempat Terdapat Batubara
Dari peta dibawah ini bisa dilihat potensi batubara di Indonesia sangatlah melimpah,
ada sekitar 18 provinsi yang menyimpan potensi batubara, yaitu Nanggroe Aceh
Darusalam, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung,
Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua dan semua
provinsi di Kalimantan.
Daerah tambang batu bara di Indonesia adalah sebagai berikut :
Ombilin dekat Sawahlunto (Sumatera Barat) menghasilkan batu bara muda
yang sifatnya mudah hancur.

Bukit Asam dekat Tanjung Enim menghasilkan batu bara muda yang sudah
menjadi antrasit karena pengaruh magma.

Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan


Selatan (Pulau laut/Sebuku)

Jambi, Riau, Aceh, Papua (Irian Jaya)

Gambar 1.11 Persebaran Batubara di Indonesia


Gambar 1.12 Wilayah Penghasil Batubara di Indonesia
DAFTAR PUSTAKA

Permana, D., 2011. Peluang dan Tantangan Peningkatan Nilai Tambah Batubara. Jurnal

Teknologi Mineral dan Batubara vol. 7. Hal 1-13. Puslitbang Teknologi Mineral

dan Batubara: Bandung.

http://www.jcoal.or.jp/coaldb/shiryo/material/indonesiacoal_indutry_outlook_english.pdf

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt528d6ff8084f7/perizinan-jual-beli-batubara

http://www.majalahbatu.com/2017/02/persebaran-batubara-di-indonesia.html