Anda di halaman 1dari 35

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep disminorea

2.1.1 Definisi Disminorea

Beberapa definisi disminorea yaitu :

1. Disminorea adalah menstruasi yang sangat menyakitkan,

terutama terjadi pada perut bagian bawah dan punggung serta

biasanya terasa seperti kram (Varney. Jan M. Kriebs, 2007).

2. Disminorea adalah nyeri haid menjelang atau selma haid,

sampai membuat wanita tersebut tidak dapat bekerja dan harus

tidur. Nyeri sering bersamaan dengan rasa mual, sakit kepala,

perasaan mau pingsan, lekas marah (Kapita Selekta Kedokteran,

2008).

3. Disminorea adalah nyeri haid mungkin merupakan gejala yang

paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter

untuk konsultasi dan pengobatan (Sarwono, 2009).

2.1.2 Etiologi Disminorea

Penyebab nyeri haid dapat digolongkan berdasarkan jenis

nyeri dan ada tidaknya kelainan yang diamati.

2.1.2.1 Berdasarkan Jenis Nyeri

Berdasarkan jenis nyeri, nyeri haid di bagi menjadi :

1. Disminorea spasmodic

Merupakan nyeri haid yang terjadi sebelum masa

haid atau segera setelah masa haid mulai. Banyak


wanita terpaksa harus terbaring karena terlalu

menderita oleh karena nyeri itu, sehingga tidak dapat

mengerjakan apapun. Ada diantara mereka yang

pingsan, mual dan sampai muntah. Disminorea

spasmodic banyak diderita wanita muda walaupun

dijumpai pula pada kalangan wanita yang berusia 40

tahun keatas. Disminorea spasmodic dapat diobati atau

paling tidak dikurangi dengan lahirnya bayi pertama

walaupun banyak pula wanita yang mengalami hal

seperti itu. (Medicastore. 2004. Dysminorea. http//

www.Medicine.com)

2. Disminorea Kongestif

Penderita disminorea kongestif biasanya akan

tahu sejak berhari-hari sebelum masa haid habis, karena

penderita dsminorea kongestif akan mengalami sakit

kepala, sakit pada punggung, lelah, mudah tersinggung,

gangguan tidur dan lain-lain. Proses menstruasi

mungkin tidak menimbulkan nyeri jika sudah

berlangsung. Bahkan setelah hari pertama masa haid,

orang yang menderita disminorea kongestif akan

merasa lebih baik. (Medicastore. 2004. Dsmonorea.

http// www.Medicine.com)
2.1.2.2 Berdasarkan ada Tidaknya Kelainan yang Dapat Diamati

Berdasarkan ada tidaknya kelainan yang dapat

diamati, nyeri haid dibagi menjadi : Disminorea Primer dan

Disminorea Sekunder.

1. Disminorea Primer adalah nyeri haid yang dijumpai

tanpa kelainan pada alat-alat genital yang nyata.

Disminorea primer terjadi beberapa waktu setelah

menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh

karena itu siklus-siklus haid pada bulan-bulan pertama

setelah menarche umumnya berjenis anovulatoar yang

tidak diseratai dengan rasa nyeri. Rasa nyeri timbul

tidak lama sebelumnya atau bersama-sama dengan

permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam,

walaupun pada bebrapa kasus dapat berlangsung

beberapa hari. Sifat rasa nyeri ialah kejang berjangkit-

jangkit, biasanya terbatas pad aperut bawah, tetapi

dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha.

Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual,

muntah, sakit kepala, iritabilitas, dan sebagainya

(Sarwono, 2009).

2. Disminorea sekunder disebabkan oleh kelainan

ginekologik (salpingis kronika, endometritis,

adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri dan lain-lain)

(Sarwono, 2009).
Disminorea sekunder adalah nyeri haid yang

disebabkan oleh patologi pelvis secara anatomis atau

makroskopis dan terutama pada wanita berusia 30-45

tahun (Widjanarko, 2006). Pengertian yang lain

menyebutkan definisi disminorea sekunder sebagai

nyeri yang muncul saat menstruasi namun disebabkan

oleh adanya penyakit lain. Penyakit lain yang sering

menyebabkan disminorea sekunder antara lain

endometriosis, fibroid uterin, adenomyosis uterin, dan

inflamasi pelvis kronis (Derby, 2008).

Pembagian klinis disminorea menurut Manuaba

(2001 : 518)

1. Disminorea ringan : berlangsung beberapa saat dan

dapat melanjutkan kerja sehari-hari

2. Disminorea sedang : diperlukan obat penghilang rasa

nyeri, tanpa perlu meninggalkan kerjanya

3. Disminorea berat : mengganggu aktivitas, perlu

istirahat beberapa hari dan dapat disertai sakit kepala,

kemeng atau nyeri pinggang, diare, pingsan.

2.1.2.3 Faktor penyebab terjadinya disminorea primer dan sekunder

Faktor penyebab disminorea primer menurut

Wiknjosastro (2005 : 229 - 230) yaitu :

1. Faktor kejiwaan : pada gadis-gadis yang secara

emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak


mendapat penerangan yang baik tentang proses haid,

mudah timbul dismenorea.

2. Faktor konstitusi : faktor ini, yang erat hubunganya

dengan faktor tersebut di atas, dapat juga menurunkan

ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor-faktor seperti

anemia, penyakit menahun, dan sebagainya dapat

mempengaruhi timbulnya dismenorea.

3. Faktor obstruksi kanalis servikalis : salah satu teori

yang paling tua untuk menerangkan terjadunya

disminorea primer ialah stenosis kanalis servikalis.

4. Faktor endokrin : pada anggapan bahwa kejang yang

terjadi pada disminorea primer disebabkan oleh

kontraksi uterus yang berlebihan. Faktor endokrin

mempunyai hubungan dengan soal tonus dan

kontraktilitas otot usus.

5. Faktor alergi : peningkatan kadar prostaglandin

memegang peranan penting dalam etiologi disminorea

primer.

2.1.2.4 Faktor penyebab disminorea sekunder menurut Morgan

(2009 : 182 - 183) :

1. Penyakit Radang Panggul (PRP)

a. Awitan akut

b. Dispareunia

c. Nyeri tekan saat palpasi dan saat bergerak

d. Massa adneksa yang dapat teraba


2. Endometriosis

a. Dispareunia siklik

b. Intensitas nyeri semakin meningkat sepanjang

menstruasi (tidak terjadi sebelum menstruasi dan

tidak berakhir dalam beberapa jam, seperti pada

kasus disminorea primer)

c. Nyeri yanng menetap bukanya kram dan mungkin

spesifik pada sisi lesi

d. Kadang ditemukan nodul yang mungkin teraba

selama pemeriksaan

3. Fibroleiomioma dan polip uterus

a. Awitan disminorea sekunder lebih lambat pada

tahun reproduksi dari pada disminorea primer

b. Disertai perubahan dalam aliran menstruasi

c. Nyeri kram

d. Fibroleiomioma yang dapat teraba

e. Polip yang bisa atau tidak menonjol pada serviks

4. Prolaps Uterus

a. Awitan disminore sekunder lebih lambat pada

tahun-tahun reproduktif daripada disminore primer

b. Lebih umum terjadi pada pasien multipara

c. Nyeri punggung awalnya dimulai saat

premenstruasi dan menetap sepanjang menstruasi


d. Disertai dispareunia dan nyeri panggul yang lebih

berat saat pramentruasi, dan mungkin dapat

dipulihkan dengan posisi terlentang atau lutut-dada

e. Sistokel dan inkontinesia stres urine terjadi

bersamaan

5. Perbandingan gejala disminorea primer dengan

disminorea sekunder

Di bawah ini merupakan tabel perbandingan

antara gejala disminorea primer dengan disminorea

sekunder

Tabel 2.1 Perbandingan gejala disminorea primer dengan


disminorea sekunder

Disminorea Primer Disminorea Sekunder


Timbul segera setelah terjadinya Cenderung setelah mulai 2
siklus haid yang teratur tahun siklus haid teratur
Sering pada nullipara Tidak berhubungan dengan
Nyeri sering terasa sebagai paritas
kejang uterus dan spastik Nyeri sering terasa terus
Nyeri timbul mendahului haid menerus dan tumpul
dan meningkat pada hari Nyeri mulai pada saat haid
pertama atau kedua haid dan meningkat bersamaan
Tidak ada patologik pelvik dengan keluarnya darah
Terjadi pada siklus haid Tidak berhubungan dengan
ovulatorik adanya ovulasi
Pengobatan medikamentosa Pengobatan operatif
Sering disertai nausea, vomitus, Terdapat kelainan pelvik
diarea, kelelahan, dan nyeri
kepala
Sumber : (Ritaherlina, 2008)

2.1.3 Gejala Disminorea

Disminorea menyebabkan nyeri pada perut bagian bawah,

yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri


dirasakan sebagai kram yang hilang-timbul atau sebagai nyeri

tumpul yang terus menerus ada. Biasanya nyeri mulai timbul saat

sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu

24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang. Disminorea juga sering

disertai oleh sakit kepala, mual, sembelit atau diare dan sering

berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.

(Medicastore.2004.Disminorea.http// www.Medicine.com)

Menurut Maulana (2008) mengatakan bahwa gejala dan tanda

dari disminorea adalah nyeri pada bagian bawah yang bisa menjalar

ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai

kram yang hilang timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus

menerus ada. Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau

selama menstruasi, serta mencapai puncaknya 24 jam dan setelah 2

hari akan menghilang. Disminorea juga sering disertai oleh sakit

kepala, mual, sembelit, diare, dan sering kemih. Kadang terjadi

sampai muntah.

Disminorea merupakan nyeri hebat yang dirasakan pada saat

haid sehingga penderitanya tidak dapat beraktivitas secara normal.

Gejala-gejalanya antara lain dapat berupa:

1. Kram atau nyeri pada daerah perut atau punggung bagian bawah

2. Rasa nyeri seperti tertarik pada daerah paha bagian dalam

3. Diare

4. Nausea (mual)

5. Vomiting (muntah)
6. Sakit kepala

7. Pusing

(Riyanto, 2012)

Gejala disminorea yang paling umum adalah nyeri mirip

kram di bagian bawah perut yang menyebar ke daerah piggang, dan

paha. Gejala terkait lainnya adalah muntah, sakit kepala, cemas,

kelelahan, dare, pusig, dan kembung atau perut terasa penuh, bahkan

beberapa wanita mengalami nyeri sebelum menstruasi dimulai dan

biasa berlangsung hingga beberapa hari (Wiknjosastro, 2007).

2.1.4 Patofisiolgi disminorea

Disminorea adalah nyeri yang terjadi tanpa tanda-tanda

infeksi atau penyakit panggul. Disminorea biasanya terjadi akibat

pelepasan berlebihan suatu prostaglandin F2a, dari sel-sel

endometrium uterus. Prostaglandin F2a adalah suatu perangsang

kuat kontraksi otot polos miometrium dan kontraksi pembuluh darah

uterus, hal ini memperparah hipoksia uterus yang secara normal

terjadi pada haid, sehingga timbul rasa nyeri hebat. Nyeri hebat

tersebut dapat teratasi dengan inhibitor prostaglandin harus

digunakan pada saat tanda awal nyeri muncul, atau sebagian wanita

pad tanda pertama pengeluaran (Corwin, 2002).

Nyeri menstruai yang terjadi pada disminorea primer

terutama disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi

hiperkontratilitas uterin, kurangnya aliran darah ke uterin, atau

terjadi hipersentivitas saraf tepi (Dang, 2010). Prostaglandin dan


Leukotrien terjadinya disminorea primer, berhubungan dengan siklus

ovulasi yang normal tanpa disertai kelainan patologi pada panggul

yang jelas. Setelah ovulasi, terjadi penumpukan asam lemak pada

fosfolipid memberin sel sebagai respon terhadap progesteron.

Kemudian tepat sebelum menstruasi, terjadi progesteron witdrawal

sehingga asam lemak khususnya asam arakidonat dilepaskan dan

menginisiasi kaskade prostaglandin dan leukotrien dalam uterus. Hal

ini kemudian mencetuskan suatu respon inflamasi yang

menyebabkan kontraksi abnormal pada terus. Respon inflamasi yang

dimediasi oleh prostaglandin juga menimbulkan sistemik seperti

nausea, muntah, perut kembung dan sakit kepala (Dang, 2010).

Diketahui bahwa kebanyakkan wanita dengan disminorea

primer melepaskan prostaglandin F2 (PGF2) yang luar biasa

tinggi dalam cairan menstruasi dan jaringan endometrium. PGF 2

yang dilepaskan ini akan menyebabkan akan vasokontriksi dan

kontaraksi miometrium sehingga terjadi kram. Intensitas kram dan

segala lain yang terjadi saat menstruasi berbanding lurus dengan

kadar progesteron yang dilepaskan. Perbandingan PGF 2 : PGE2

yang abnormal memicu terjadinyadisminorea (Dang, 2010).

Leukotrien sudah dikenal sebagai faktor yang menyebabkan

hipersenitivitas serabut nyeri pada uterus. Hal ini dikemukakan

karena ditemukan kadar leukotrien yang meninggi pada wanita

dewasa yang mengalami disminorea. Walaupun peran dan

mekanisme leukotrien dalam peristiwa disminorea masih belum


jelas, tetapi substansi ini merupakan vasokonstriktor dan

mediatorinflamasi yang poten. Peningkatan produsi leukotrien

melalui jalur yang melibatkan enzim 5-lipo-oksigenase dan

bukannya melalui jalur siklooksigenase (COX) meningkatkan

kemungkinan bahwa tipe disminorea yang tentu tidak beresponsi

terhadap terapi OAINS (Dang,2010). Vasopresin merupakan suatu

hormon yang dilepaskan oleh kelenjar pitutari posterior. Akan tetapi,

peranan vasopressin dalam menyebabkan disminorea belum

diketahui. Dikemukakan bahwa peningkatan kadar vasopresin saat

menstruasi menyebabkan kontraksi disritmia pada uterus diikuti

dengan penurunan aliran darah ke uterus, dan akhirnya menyebabkan

hipoksia pada uterus da hipersensitivitas miometrium ( Dang, 2010).

2.1.5 Pengobatan

Beberapa cara pengobatan di bawah ini mungkin dapat

menghilangkan atau minimal membantu mengurangi nyeri haid yang

mengganggu. Cara tersebut antara lain obat-obatan, rileksasi,

hipnoterapi, dan berbagai alternatif pengobatan (Arifin, 2008).

1. Obat-obatan

Wanita dengan disminorea primer banyak yang diabantu

dengan mengkonsumsi obat anti peradangan bukan (NSAID)

yang menghambat produksi dan kerja prostaglandin. Obat itu

termasuk aspirin, formula ibuprofen yang dijual bebas, dan

naproksen. Untuk kram yang berat, pemberian NSAID seperti

naproksen atau piroksikan dapatmembantu. Tidak ada satupun


NSAID yang superior tiap orang menanggapi setiap obat dengan

berbeda sehingga perlu dicoba beberapa jenis obat sampai

menemukan satu obat yang dapat bekerja dengan baik (Arifin,

2008)

Beberapa dokter meresepkan pil KB untuk meredakan

disminorea, tetapi hal itu tidak diaggap sebagai penggunaan

yang tepat. Namun, hal itu dapat menjadi pengobatan yang

sesuai bagi wanita yang ingin menggunakan alat KB berupa pil

(Arifin, 2008).

2. Relaksasi

Tubuh kita bereaksi saat kita stress maupun ketika kita

dalam keadaan rileks. Saat kita terancam atau takut, tubuh kita

memberikan 2 macam reaksi, fight of flight, yang dicetuskan

oleh hormon adrenalin. Otot tubuh menjadi tegang, nafas lebih

cepat, jantung berdenyut lebih cepat, tekanan darah meninggi

untuk menyediakan oksigen bagi otot tubuh, gula dilepaskan

dalam jumlah yang banyak dari hati untuk memberikan bahan

bakar bagi otot, keseimbangan natrium dan kalium berubah,

dan keringat mulai bercucuran. Tanda pertama yang

menunjukkan keadaan stress adalah adanya reaksi yang muncul

yaitu menegangnya otot (Arifin, 2008).

Akan tetapi jika kita rileks maka kita menempatkan

tubuh kita pada posisi yang sebaliknya. Otot tidak tegang dan

tidak memerlukan sedemikian banyak oksigen dan gula, jantung


berdenyut lebih lambat, tekanan darah menurun, nafas lebih

mudah, hati akan mengurangi pelepasan gula, natrium dan

kalium dalam tubuh kembali seimbang, dan keringat berhenti

bercucuran (Arifin, 2008).

Dalam kondisi rileks tubuh juga menghentikan produksi

hormon adrenalin dan semua hormon yang di perlukan saat kita

stress. Karena hormon seks esterogen dan progesteron serta

hormon stress adrenalin dari blok bangunan kimiawi yang sama,

ketika kita mengurangi stress kita juga telah mengurangi

produksi kedua hormon stress tersebut. Jika, dapat kita lihat

perlunya rileksasi untuk memberikan kesempatan bagi tubuh

untuk memproduksi hormon yang penting untuk mendapatkan

haid yang bebas dari nyeri (Arifin, 2008)

Beberapa posisi yoga dipercaya dapat menghilangkan

kram menstruasi. Salah satunya adalah peregangan kucing,

sebuah latihan yang dirancang untuk meningkatan kondisi otot

berguna juga untuk mengatasi nyeri saat haid (lihat majalah

Nirmala edisi no.09/II/September 2000 untuk lebih mengetahui

kombinasi gerakannya) (Arifin, 2008)

3. Hipnoterapi

Salah satu metode hipnoterapi adalah mengubah pola

pikir dari yang negatif ke positif. Pendekatan yang umumnya

dilakukan adalah memunculkan pikiran bawah sadar agar latar

belakang permasalahan dapat diketahui dengan tepat (Arifin,


2008). Elyarnis -31 tahun berhasil menghilangkan rasa sakit

saat menstruasi dan melahirkan setelah ia mencoba metode

hipnoterapi (Arifin, 2008)

Caranya adalah saat menstruasi belum datang, rilekskan

tubuh dalam posisi terlentang di tempat tidur dengan kedua

tangan berada disamping tubuh. Nonaktifkan pikiran. Dengan

mata yang terpejam, sadari kondisi saat itu. Satelah benar-benar

rileks dan nyaman, pelan-pelan instruksikan pada diri sendiri

sebuah perintah yang bunyinya, rasa sakit yang biasanya

datang saat menstruasi, hilang!. Ucapkan kalimat itu berulang-

ulang dalam hati sembari meyakini bahwa hal itu pasti akan

terjadi. Sekitar 15 menit kemudian, buka mata. Maka anda akan

merasa segar dan nyaman, dan pikiran terasa lepas dari beban

(Arifin, 2008)

Instruksikan itu dengan sendirinya menunjukkan pola

pikir kita telah berubah. Menstruasi itu tidak harus sakit. Selama

ini pikiran kita berpola bahwa menstruasi itu sakit , maka benar-

benar sakit (Arifin 2008)

Seminggu sesudah terapi, meskipun jadwal menstruasi

tinggal 1 hari lagi datang, ia tidak merasakan apa-apa. Ketika

haid muncul, tidak aad rasa panas dan nyeri yang biasa

menyertainya. Pegel-pegel sedikit memang masih ada tepi tidak

terasa mengganggu (Arifin, 2008)


4. Alternatif pengobatan lain

Dalam mengatasi nyeri haid terdapat alternafive

pengobatan lain selain obat, relaksasi, dan hipnoterapi seperti :

kompres air hangat, olahraga teratur, terapi, visualisasi aroma

terapi, dan pemijatan (masase).

a. Kompres air hangat

Kompres hangat merupakan suatu cara memberi rasa

hangat dan pada klien dengan menggunakan heating pad

(bantal pemanas), kompres dengan handuk atau botol yang

berisi air hangat di perut dan punggung bawah, serta dapat

pula dilakukan dengan cara berendam dalam air hangat.

(Medicastore, 2004. Dysminorrhoea. http//.www.Medicine.

com)

b. Olahraga yang teratur

Olahraga yang teratur selain dapat mengurangi nyeri

juga dapat meningkatkan endorphin otak, dimana endorphin

merupakan penawar sakit alami tubuh.

c. Terapi visualisasi

Terapi visualisasi yaitu visualisasi konsentrasi pada

warna sakit sampai mencapai penguasaan atas nyeri yang

nantinya akan mengurangi nyeri masayarakat.

d. Aroma terapi dan pemijatan (masase)

Aroma terapi dan pemijatan juga dapat mengurangi

raa tidak nyaman. Pijatan yang ringan dan melingkar


dengan menggunakan telunjuk pada perut bagian bawah

akan sementara membantu mengurangi nyeri haid

(Medicastore. 2004. Dysmenorrhoea.http//www.Medicine.

com)

2.1.6 Derajat nyeri disminorea

Ditinjau dari rasa nyeri tingkat nyeri disminorea dibagi

menjadi :

1. Derajat 0 : Tanpa rasa nyeri dan aktivitas sehari-hari tidak

terpengaruhi.

2. Derajat 1 : Nyeri ringan dan memerlukan obat rasa nyeri seperti

paracetamol, antalgin, postan, namun aktivitas jarang

terpengaruhi.

3. Derajat 2 : nyeri sedang dan dapat tergolong dengan obat

penghilang nyeri tetapi mengganggu aktivitas.

4. Derajat 3 : nyeri sangat hebat, nyeri berlangsung dan tidak

berkurang walaupun minum obat dan tidak mampu bekerja.

(Harun Riyanto, 2008)

2.1.7 Faktor yang Menimbulkan Disminorea

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan disminorea antara

lain :

1. Menstruasi ovulator

Disminorea disini hany terjadi atau timbul bila uterus

berada dibawah pengaruh progesteron.


2. Faktor psikologis

Pada disminorea faktor pendidikan dan psikis pada

penderita sangat berpengaruh. Nyeri dapat dibangkitkan atau

diperberat oleh keadaan psikis penderita. Sering kali setelah

menikah dan melahirkan membawa perubahan psikis.

3. Faktor hormon steroid

Disminorea timbul karena pengaruh progesteron,

sedangkan sintesis prostaglandin berhubungan dengan fungsi

ovarium. Kadar progesteron yang rendah akibat regresi corus

luteum menyebabkan terganggunya stabilitas membrane lisosom

A-2 yang berperan sebagai katalisotor dalam sontesis

prostaglandin melalui perubahan fosfolipid menjadi asam

arakidonat.

4. Faktor vasopressin

Wanita dengan disminorea primer ternyata memiliki

kadar vasopresin yang sangat tinggi dibandngkan dengan wanita

tanpa disminorea. Ini menunjukkan bahwa vasopresin pada saat

haid menyababkan meningkatnya kontraksi uerus dan

berkurangnya darah haid. Namun demikian peranan pasti

vasopesin dalam mekanisme disminorea sampai saat ini belum

jelas.

5. Faktor saraf simpatikus dan parasimpatikus

Uterus dipersarafi oleh sistem saraf otonom yang terdiri

dari sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Jeffcoate


mengemukakan bahwa disminorea ditimbulkan oleh

ketidaksinambungan pengendalian sistem saraf otonom terhadap

miometrium. Pada keadaan ini terjadi perangsangan yang

berlebih oleh saraf simpatik sehingga serabut-serabut sirkuler

pada itsmus dan ostium uteri internum menjdi hipertonik.

6. Berdasarkan teori prostaglandin

Peningkatan kadar prostaglandin penting peranannya

sebagai penyebab terjadinya disminorea. Jeffcoate berpendapat

bahwa terjadinya spasme miometrium dipacu oleh zat dalam

darah haid, mirip lemak alamiah yang kemudan diketahui

sebagai prostaglandin. Kadar zat ini meningkat pada keadaan

disminorea dan dikemukakan di dalam otot uterus. (Manuaba,

Ida Bagus Gede, 2002).

2.1.8 Pengukuran skala nyeri

1. Verbal Descripor Scale (VDS)

Menurut Potter (2006), karakteristik yang paling

subyektif pada nyeri adalah tingkat keparahan atau intensitas

nyeri tersebut. Klien sering kali diminta mendeskripsikan nyeri

sebagai nyeri ringan, sedang, atau berat. Skala deskriptif

merupakan alat pengukuran tingkat keparahan yang lebih

obyektif. Skala pendeskripsi verbal Descrption Scale (VDS)

merupakan suatu garis yang terdiri dari 3-5 kata. Pendeskrpsian

ini dirangking mulai dari tidak terasa nyeri sampai nyeri


yang tidak tertahankan. Alat VSD ini memungkinkan klien

untuk mendeskripsikan nyeri.

Gambar 2.1 skala intensitas nyeri deskriptif sedarhana

2. McGill Pain Questoinare

Menentukan mengalami rasa sakit subyektif

menggunakan indra, evaluatif kata deskriptor dan evektif. Ada

tiga langkah utama : nyeri rating indeks, didasarkan pada dua

jenis nilai numerik yang dapat diberikan untuk setiap deskripsi

kata, jumlah kata-kata yang dipilih. Intensitas nyeri ini

didasarkan pada skala intensitas 1-5, berisi 11 pertanyaan yang

mengacu pada dimensi sensoris ari pengalaman rasa sakit dan

empat terkait dengan dimensi afektif. Deskriptor setiap

diranking pada titik skala intensitas empat (0 = none, 1 = ringan,

2 = sedang, 3 = berat). Peringkat indeks dari rasa sakit MPQ

stanar juga disertakan serta skala analog visual. (Hidayat, 2006)

Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut

mudah digunakan dan tidak mengonsumsi banyak waktu saat

klien melengkapinya. Apabila klien dapat membaca dan

memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala

deskriptif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat

keparahan nyeri, tapi juga mengevaluasi perubahan kondisi


klien. Perawat dapat menggunakan setelah teraoi atau saat gejala

menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami

penurunan dan peningkatan. (Potter & Perry, 2005)

2.2 Konsep nyeri

2.2.1 Definisi Nyeri

Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang

tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau

potensial (Brunner & Sudart, 2002). Rasa nyeri merupakan sensasi

fisik yang tidak menyenangkan dan kadang-kadang menimbulkan

ansietas atau rasa putus asa. (Lumbantobing, 2004)

2.2.2 Fisiologi Nyeri

Sebagian besar nyeri karena trauma, iskemia, inflamasi

disertai kerusakan jaringan mengakibatkan terlepasnya zat kimia

tertentu seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin yang dapat

berperan dalam merangsang ujung-ujung saraf perifer (Lumbatobing,

2004)

Nyeri juga dapat timbul karena distorsi mekanis ujung-ujung

saraf, misalnya karena meningkatkan tekanan dinding viskus

(organ).
Didapatkan 3 konsep yang menonjol mengenai rasa nyeri.

1. Teori modalitas sesifik

Didapatkan ujung saraf khusus dan serabut saraf khusus

yang menghantarkan impuls ke spinal khusus yang naik ke pusat

nyeri di otak.

2. Teori pola

Serabut eferen yang sama digunakan untuk

meghantarkan segala jenis sensansi. Adanya kualitas

sensasibilitas yang berbeda terjadi karena analisi sentral dari

pola aktifitas.

3. Sintasa dari pada kedua padangan diatas

Sampai derajat tertentu didapatkan spesifisitas daripada

reseptor dan jalurnya. Namun interpretasi akhirnya ditentukan

oleh analisispola impuls di sentral (Lumbantobing, 2004)

Menurut Melzack dan Wall yang mengemukakan gade

control bahwa impuls eferen rasa nyeri dikelola oleh mekanisme

gerbang yang beroperasi oleh keseimbangan antara esitasi di

serabut perifer yang besar akan menutup gerbang, sedangkan

aktifitas yang meningkat di serabut saraf perifer yang berukuran

kecil akan membuka gerbang (gate).

Gerbang juga di pengaruhi oleh jalur desenden dari atas

(sentral) sehingga aktifitas eferen dapat di modulasi oleh keadaan

sentral. Teori gade control mengemukakan bahwa input sensori

dimodulasi dicornu posterior medula sinalis dan gerbang akan


menutup oleh aktifitas di serabut saraf ukuran kecil. Mekanisme ini

dipengaruhi pula oleh aktiftas yang turun dari korteks melalui sistem

aktifitas retikuler (Lumbantobing, 2004)

2.2.3 Respon Nyeri

2.2.3.1 Respon fisiologi terhadap nyeri

Perubahan fisiologis involunter dianggap sebagai

indicator nyeri yang lebih akurat dibanding laporan verbal

pasien. Respon fisiologi terhadap nyeri dibagi menjadi 2

yaitu:

1. Respon simpatik

a. Meningkatkan denyut jantung

b. Meningkatkan frekuensi pernapasan

c. Meningkatkan tekanan darah

d. Mual/ muntah

e. Pupil melebar

f. Pucat

g. Meningkatkan ketegangan otot

h. Mudah terangsang (irritable)

2. Respon parasimpatis

a. Menurunnya tekanan darah

b. Menurunnya denyut jantung

c. Menurunnya frekuensi pernapasan

d. Kulit hangat dan kering

e. Pupil menyempit
f. Bicara pelan/ monoton

g. Menarik diri

h. Malaise (Tamsuri, Anas, 2006)

2.2.3.2 Respon perilaku terhadap nyeri

1. Verbal

Mengaduh, menangis, sesak nafas, mendengkur.

2. Ekspresi wajah

Menangis, mengeluarkan gigi, menggigit bibir.

3. Interaksi sosial

Menghindari percakapan, menghindri kontak sosial,

penurunan rentang perhatian fokus pada aktivitas

menghilangkan nyeri.

4. Gerakan tubuh

Gelisah, imobilisasi, ketagangan otot, peningkatan

gerakan jari dan tangan.

2.2.4 Fakor-faktor yang mempengaruhi nyeri

1. Usia

Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi

nyeri, khususnya pada anak-anak dan lansia. Perbedaan

perkembangan yang ditemukan diantara usia ini dapat

mempengaruhi bagaimana anak-anak dan lansia bereaksi

terhadap nyeri, anak-anak yang masih kecil kesulitan memahami

nyeri dan mengungkapkan secara verbal serta mengekspresikan

nyeri sebagai pengalaman yang terjadi diberbagai situasi,


sedangkan lansia telah hidup lebih lama, mereka kemungkinan

lebih tinggi untuk mengalami kondisi psikologis yang menyertai

nyeri, lansia mempunyai kemampuan untuk menginterpretasikan

nyeri (Potter & Perry, 2005).

2. Jenis kelamin

Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara

bermakna dalam berespon terhadap nyeri. Beberapa kebudayaan

yang mempengaruhi jenis kelamin musalnya menganggap

seorang anak laki-laki harus berani dan tidak boleh menangis

dalam situasi yang sama (Potter & Perry, 2005).

3. Kebudayaan

Keyaknan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara

individu mengatasi nyeri. Individu mempunyai apa yang

diharapkan apa ang diterima oleh kebudayaan mereka, hal ini

meliputi bagaimana bereaksi dengan terhadap nyeri, misalnya

orang hispanik peduli dengan suatu kondisi yang segera dan

sensasi actual nyeri, dengan suatu kondisi yang segera dan

sensasi actual nyeri, dengan demikian mengalami prekupasi

untuk mengatasi nyeri. Orang Cina memiliki suatu sejarah yang

telah memberikan pilihan, diwaktu lampau yaitu dapat mnerima

nyeri sebagai bagian dari kehidupan. Suatu kejadian yang

alamiah, dengan demikian nyeri merupakan suatu yang dapat

ditoleransi. Orang Amerika memiliki kemungkinan untuk lebih


memikirkan bagaimana nyeri akan mempengaruhi kesehatan di

masa yang akan datang (Potter & Perry, 2005).

4. Makna nyeri

Makna seseorang yang dikatakan dengan nyeri

mempengaruhi pangalaman nyeri dan cara seseorang

beradaptasi terhadap nyeri. Individu akan memperssepsikan

nyeri dengan ancaman, suatu kehilangan, hukuman, dan

tantangan yang haus dihadapi. Derajat dan kualitas nyeri yang

dipersepsikan klien berhubungan dengan makna nyeri (Potter &

Perry, 2005)

5. Perhatian

Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya

terhadap nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian

yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat.

Sedangkan upaya penglihatan (distraksi) dihubungkan dengan

respon nyeri yang menurun. Konsep ini sering diterapkan oleh

perawat untuk mengatasi nyeri (Potter & perry, 2005)

6. Keletihan

Keletihan meningkat persepsi rasa nyeri. Rasa kelelahan

menyebabkan sensasi nyeri semaki intensif dan menurunkan

kemampuan koping. Apabila keletihan disertai kesulitan tidur,

maka persepsi nyeri akan terasa lebih berat lagi. Nyeri seringkali

lebih berkurang setelah individu mengalami suatu periode tidur


yang tetap dibanding pada akhir yang melelahkan (Potter &

Perry, 2005)

7. Ansietas

Hubungan antera nyeri dan ansietas bersifat kompleks,

ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri

juga dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas. Stimulasi

nyeri mengaktifkan bagian sistem limbik yang diyakini

mengendalikan emosi seseorang, khususnya ansietas (Potter &

Perry, 2005).

8. Pengalaman sebelumnya

Setiap individu belajar dari pengalaman nyeri tetapi

pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu berarti bahwa

individu tersebut akan menerima nyeri dengan lebih mudah pada

masa yang akan datang. Apabila individu sejak lama sering

mengalami serangkaian episode nyeri tanpa pernah sembuh atau

menderita nyeri yang hebat maka ansietas dapat muncul. Jika

klien yang tidak pernah mengalami nyeri maka persepsi pertama

nyeri dapat mengganggu koping terhadap nyeri (Potter & Perry,

2005).

9. Gaya koping

Pengalaman nyeri dapat menjadi suatu pengalaman yang

membuat anda merasa kesepian, merasa tidak berdaya, hal yang

sering terjadi adalah klien merasa kehilangan control terhadap

hasil akhir dari peristiwa-peristiwa yang terjadi, dengan


demikian gaya koping mempengaruhi kemampuan individu

tersebut untuk mengatasi nyeri, misalnya berkomunikasi dengan

keluarga, pendukung, melakukan latihan, dan menyanyi (Potter

& Perry, 2005).

10. Dukungan keluarga dan sosial

Kehairan orng-orang terdekat klien dan bagaimana sikap

mereka terhadap klien dapat mempengaruhi respon nyeri,

kehadiran orang-orang yang dicintai dapat meminimalkan

kesepian dan ketakutan akibat nyeri (Poterr & Perry, 2005).

2.2.5 Pengertian Relaksasi

Menurut Thantawy (1997: 67) relaksasi adalah teknik

mengatsi kekhawatiran/ kecemasan atau stress melalui pengendoran

otot-otot dan syaraf, itu terjadi atau bersumber pda obyek-obyek

tertentu . Relaksasi merupakan suatu kondisi istirahat pada aspek

fisik da mental manusia, sementara aspek spirit tetap aktif bekerja.

Dalam keadaan relaksasi, seluruh tubuh dalam keadaan homeostatis

atau seimbang, dalam keadaan tenang tapi tidak tertidur, da seluruh

tot-otot dalam keadaan rileks dengan posisi tubuh yang nyaman,

menurut pendapat Cormier dan Cormier, 1985 (Abimanyu dan

Manrihu, 1996: 320).

Relaksasi dapat diartikan sebagai: Usaha untuk mengajari

seseorang untuk rileks, dengan menjadikan orang itu sadar tetang

perasaan-perasaan tegang dan perasaan-perasaan rileks kelompok-

kelompok otot utama seperti tangan, muka, leher, dada, bahu,

punggung, perut, dan kaki.


Adapun pendapat Benson (Buchori, 2008: 10) Relaksasi

adalah prosedur empat langkah yang melibatkan :

1. Menemukan suasana lingkungan yang tenang;

2. Mengendorkan otot-otot tubuh secara sadar;

3. Selama sepuluh sampai dua puluh menit memusatkan diri pada

perangkat mental;

4. Menerima dengan sikap yang pasif terhadap pikiran-pikiran

yang sedang bergolak.

Sedangkan menurut Hakim (2004: 41) relaksasi merupakan

suatu proses pembebasan diri dari segala bentuk keegangan otot

maupun pikiran senetral mungkin atau tidak memikirkan apapun.

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa

teknik relaksasi adalah salah satu bentuk terapi yang berupa

pemberian instruksi kepada seseorang dalam bentuk gerakan-

gerakan yang tersusun secara sistematis untuk merileksasikan otot-

otot dan mengembalikan kondisi dari keadaan tegang ke keadaan

rileks, normal, dan terkontrol, mulai ari gerakan tangan sampai

kepada gerakan kaki. Dengan kendornya otot-otot tubh, yag tegang

menjadi rileks (santai), maka akan tercipta suasana yang tenang dan

nyaman. Perasaan yang tenang dan nyaman akan menopang lahirnya

pla pikir dan tingkah laku yang positif, normal dan terkontrol pula.

Relaksasi adalah proses melepaskan ketegangan dan

mengembalikan keseimbangan baik pikiran maupun tubuh. Teknik

relaksasi sangat penting dalam mengelola strees. Karena stress


dikenal untuk berkonstribusi bagi perkembangan banyak penyakit,

orang perlu penangka pertempuran stress. Bahkan, relaksasi

mungkin menjadi salah satu faktor yang paling penting dalam

menjaga kesehatan tubuh dan fikiran. Relaksasi yang sangat penting

untuk kesehatan dan disarankan terapis harus menggunakan teknik

relaksai untuk mngelola stress, stress tidak hanya dalam kehidupan

sehari-hari tetapi juga stress yang disebabkan oleh kondisi kesehatan

tiap pasien. Teknik relaksasi dapat mengntungkan baik ksehatan

psikologis dan fisik. (http//www.reflectionmassage.com) atau

(http//www.reflectionmassage.com/materi-kursus-refleksi/teknik-

relaksasi).

Salah satu teknik relaksasi ini disebut

1. Relaksasi Autogenik.

Teknik ini memanfaatkan baik kesadaran tubuh dan citra

visual untuk melepaskan ketegangan dan stres. Salah satu

contoh relaksasi autogenik yang membayangkan diri Anda

dalam lingkungan yang damai dan kemudian berfokus pada

pengendalian pernapasan, denyut jantung, atau sensasi fisik

lainnya (http://www.reflectionmassage.com).

2. Relaksasi Visualisasi

Adalah teknik relaksasi lain. Dalam memanfaatkan

teknik ini, Anda menciptakan citra mental untuk dapat

mengambil sendiri ke tempat yang damai atau situasi yang

menenangkan. Ketika berlatih visualisasi, Anda mencoba untuk


menggunakan semua indra jika mungkin. (http://www.reflection-

massage.com)

3. Relaksasi Otot Progresif

Merupakan teknik relaksasi yang berfokus pada perlahan

tegang dan santai otot. Teknik ini akan membuat Anda lebih

menyadari perbedaan antara relaksasi dan ketegangan otot, ini

adalah cara untuk menjadi lebih sadar akan sensasi fisik Anda.

Teknik relaksasi yang disebutkan di atas yang paling

sering biasanya dilakukan dengan gerakan minimal dan sambil

berbaring atau duduk. Teknik ini disebut latihan relaksasi pasif

atau formal. Teknik relaksasi juga dapat menggabungkan latihan

seperti yoga, berkebun, Tai chi, dan Chikung. Bodyworks

seperti penggunaan pijat, refleksi, akupunktur dan sauna juga

digunakan untuk mempromosikan relaksasi.

(http://www.reflection-massage.com)

Manfaat Relaksasi terhadap Kesehatan Fisik

Relaksasi dapat membawa sejumlah manfaat kesehatan

fisik. Selama relaksasi, denyut jantung dan pernapasan

melambat. Tekanan darah menurun, dan aliran darah ke otot-

otot utama Anda meningkat. Sakit kronis dan ketegangan otot

juga berkurang secara signifikan ketika berlatih teknik relaksasi.

Sistem tubuh termasuk peredaran darah, sistem kekebalan tubuh,

pencernaan, dan pernapasan juga berfungsi lebih baik.


Relaksasi juga telah ditunjukkan untuk memperbaiki kondisi

kesehatan tertentu. Gangguan kulit seperti eksim, dermatitis

psoriasis, dan cenderung memperbaiki relaksasi. Luka bakar,

bisul, asma, emfisema, arthritis, migrain, epilepsi, sindrom

pramenstruasi dan menopause, angina, fibromyalgia, insomnia,

dan diabetes mellitus adalah beberapa kondisi yang diketahui

meningkatkan dengan relaksasi (http://www.reflection

massage.com)

Manfaat Relaksasi tentang Kesehatan Psikologis

Relaksasi adalah cara untuk menenangkan pikiran. Orang

yang mempraktekkan teknik relaksasi dikenal untuk

mendapatkan tidur yang lebih baik. Relaksasi juga dapat

membantu Anda menjaga emosi Anda di cek menyebabkan

serangan kurang marah dan menangis. Selain itu, dapat

meningkatkan memori, konsentrasi, dan pemecahan masalah

keterampilan. Gangguan kecemasan, depresi, dan serangan

panik juga dikenal untuk meningkatkan dengan relaksasi.

Hubungan teknik relaksasi yaitu relaksasi dapat

dipercaya untuk menurunkan rasa nyeri dengan merelaksasikan

ketegangan otot yang mendukung rasa nyeri. Tindakan relaksasi

dapat dipandang sebagai upaya pembebasan mental dan fisik

dari tekanan dan stress. Dengan relaksasi, klien dapat mengubah

persepsi terhadap nyeri. Teknik relaksasi yang paling sederhana


terdiri atas nafas abdomen dengan frekwensi lambat, dan

berirama.

Pengaruh kejadian disminorea dengan teknik relaksasi

yaitu Tubuh kita bereaksi saat kita stress maupun ketika kita

dalam keadaan rileks. Saat kita terancam atau takut, tubuh kita

memberikan 2 macam reaksi, fight of flight, yang dicetuskan

oleh hormon adrenalin. Otot tubuh menjadi tegang, nafas lebih

cepat, jantung berdenyut lebih cepat, tekanan darah meninggi

untuk menyediakan oksigen bagi otot tubuh, gula dilepaskan

dalam jumlah yang banyak dari hati untuk memberikan bahan

bakar bagi otot, keseimbangan natrium dan kalium berubah,

dan keringat mulai bercucuran. Tanda pertama yang

menunjukkan keadaan stress adalah adanya reaksi yang muncul

yaitu menegangnya otot (Arifin, 2008).

Akan tetapi jika kita rileks maka kita menempatkan

tubuh kita pada posisi yang sebaliknya. Otot tidak tegang dan

tidak memerlukan sedemikian banyak oksigen dan gula, jantung

berdenyut lebih lambat, tekanan darah menurun, nafas lebih

mudah, hati akan mengurangi pelepasan gula, natrium dan

kalium dalam tubuh kembali seimbang, dan keringat berhenti

bercucuran (Arifin, 2008) .

Dalam kondisi rileks tubuh juga menghentikan produksi

hormon adrenalin dan semua hormon yang di perlukan saat kita

stress. Karena hormon seks esterogen dan progesteron serta


hormon stress adrenalin dari blok bangunan kimiawi yang sama,

ketika kita mengurangi stress kita juga telah mengurangi

produksi kedua hormon stress tersebut. Jika, dapat kita lihat

perlunya rileksasi untuk memberikan kesempatan bagi tubuh

untuk memproduksi hormon yang penting untuk mendapatkan

haid yang bebas dari nyeri (Arifin, 2008)

Beberapa posisi yoga dipercaya dapat menghilangkan

kram menstruasi. Salah satunya adalah peregangan kucing,

sebuah latihan yang dirancang untuk meningkatan kondisi otot

bergunajuga untuk mengatasi nyeri saat haid (lihat majalah

Nirmala edisi no.09/II/September 2000 untuk lebih mengetahui

kombinasi gerakannya) (Arifin, 2008).

2.2.6 Pengaruh teknik relaksasi nafas panjang terhadap nyeri

1. Memperbaiki sirkulasi darah

Menarik nafas panjang secara teratur dapat

meningkatkan dan memperbiki pengiriman oksigen ke seluruh

organ tubuh. Cobalah menarik nafas panjang melalui perut Anda

untuk meningkatkan suplai oksigen ke organ-organ tubuh dan

membantu seluruh perkembangan dari sistem tubuh. Saat

kondisi emosi meninggi dan detak jantung terasa cepat, tariklah

nafas dalam-dalam. Cara ini bisa sangat efektif menurunkan

detak jantung saat kondisi Anda sedang stres. Ambil nafas

dalam-dalam dengan benar, lakukanlah sebanyak tiga kali.

Detak jantuk dan tekanan darahpun akan menurun.


2. Menurunkan tensi/ tekanan darah

Bernafas secara dalam merangsang munculnya oksida

nitrat alami yang berfungsi membuat seseorang lebih tenang. Zat

tersebut akan memasuki paru-paru bahkan pusat otak, sehingga

tekanan darah yang dalam keadaan tinggi bisa menurun.

Pasien jantung yang mengambil nafas pendek sebanyak

12-14 hembusan per menit (enam hembusan nafas permenit

sudah dianggap optimal) lebih cenderung memiliki kadar

oksigen rendah, yang dapat merusakan otot rangka dan fungsi

metabolisme, sehingga menyebabkan atrofi otot (penurunan

massa otot). Rutin menarik nafas dengan dalam telah terbukti

menurunkan tekanan darah.

3. Membantu mengurangi rasa sakit

Dengan menarik nafas panjang, tubuh akan

mengeluarkan hormon endorfin. Ini adalah sejenis zat yang

memberikan rasa nyaman dan juga merupakan pereda rasa sakit

alami. Hormon ini juga dapat membuat otot-otot menjadi lebih

rileks. Otot yang tegang meruoakan penyebab utama nyeri pada

leher, punggung dan lambung. Sejumlah penelitian

menunjukkan bahwa menarik nafas panjang memberikan

manfaat bagi penderita asma.

4. Relaksasi perut

Penelitian telah menunjukkan dengan menarik nafas

dengan panjang dapat merelaksasi perut dan membantu perut


Anda untuk bergerak dengan tepat. Jadi, jika Anda sedang

mengalami pergejolakan di dalam perut cobalah untuk menarik

nafas dengan panjang, terutama ketika Anda berada di toilet