Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) adalah telaah tentang manusia dalam hubungan
sosialnya atau kemasyarakatannya. Manusia sebagai makhluk sosial akan mengadakan
hubungan sosial dengan sesamanya, mulai dari keluarga sampai masyarakat global. Hal ini
sebagaimana diungkap oleh Nursid Sumaatmadja (2007:13) bahwa setiap orang sejak lahir,
tidak terpisahkan dari manusia lain. Selain berinteraksi dengan sesama, manusia juga
berinteraksi dan memanfaatkan lingkungan alam, serta harus mempertanggungjawabkan
semua tindakan sosialnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Terkait dengan pengertian tersebut, mata pelajaran IPS dapat dikatakan sebagai mata
pelajaran di sekolah yang dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang
diorganisasikan dengan satu pendekatan interdisipliner, multidipliner atau transdisipliner dari
Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora. Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, dijelaskan bahwa IPS di SMP merupakan bahan kajian yang wajib dimuat dalam
kurikulum pendidikan dasar dan menengah, antara lain mencakup geografi, sejarah, ekonomi,
dan sosiologi yang dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan
kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat (Depdiknas RI, 2003).

Tuntutan Kurikulum 2013 mata pelajaran IPS adalah Sebagai mata pelajaran, IPS
menekankan pada pengambangan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang
diperlukan untuk menjadikan peserta didik aktif, kritis, beradab, dan berkesadaran sebagai
warga negara yang dapat berperan dalam kehidupan masyarakat multikultur pada tingkat
lokal, nasional, dan global (Permendikbud no. 58 tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 SMP
mata pelejaran IPS). Dengan kata lain, pembelajaran IPS ditekankan pada student center
oriented, dimana siswa dituntut lebih aktif dalam pembelajaran.

Akan tetapi yang terjadi di SMP Negeri 2 Sidoarjo kelas IX F dalam mata pelajaran
IPS berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan diketahui bahwa siswa cenderung
pasif. Siswa kurang tertarik pada mata pelajaran IPS, hal tersebut karena siswa menganggap
mata pelajaran IPS tidak penting dan membosankan. Situasi belajar seperti ini membuat

1
banyak diantara siswa melakukan hal yang tidak bermanfaat, seperti mengantuk, corat coret
dan juga ngobrol dengan temannya. Guru kurang memberi motivasi kepada siswa untuk lebih
bersemangat dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Selain itu, pemilihan metode
pembelajaran dirasa kurang dalam melibatkan siswa secara aktif. Pada prosesnya,
pembelajaran macam ini kurang membentuk sikap antusias pada diri siswa. Hal ini
menyebabkan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran IPS.

Dengan kurangnya pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran


menyebabkan hasil belajar peserta didik tidak maksimal dan tidak mencapai ketuntasan yang
telah ditetapkan. Hal ini terlihat pada hasil belajar IPS yang tergolong rendah. Oleh karena itu
diperlukan suatu strategi lain untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Salah satu
caranya dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Question Student Have. Dengan
model ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam berfikir kritis yang
berdampak pada pemahaman siswa atas materi yang dipelajari, dengan begitu hasil belajar
siswa akan meningkat.

Berdasarkan permaslahan tersebut, penulis menganggap sangat perlu melakukan


Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif
Tipe Question Student Have Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran
IPS Sub Tema : Potensi Lokasi Dan Upaya Pemanfaatannya Pada Kelas IX F SMP Negeri 2
Sidoarjo Tahun Ajaran 2017/2018.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah:
Apakah metode pembelajaran kooperatif dengan strategi pembelajaran Question Student
Have dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX F pada Mata Pelajaran Ips Sub Tema :
Potensi Lokasi Dan Upaya Pemanfaatannya Pada Kelas IX F SMP Negeri 2 Sidoarjo Tahun
Ajaran 2017/2018

C. TUJUAN PENELITIAN
a. Meningkatkan hasil belajar siswa di SMP Negeri 2 Sidoarjo Kelas IX F.
b. Mengetahui hasil belajar mata pelajaran IPS di SMP Negeri 2 Sidoarjo Kelas IX F
sebelum diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Question Student Have.
c. Mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD Question Student

2
Have dalam meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS di SMP Negeri 2 Sidoarjo
Kelas IX F
d. Mengetahui peningkatan hasil belajar mata pelajaran IPS di SMP Negeri 2 Sidoarjo
Kelas IX F

D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut:
a. Bagi siswa hasil penelitian ini sangat bermanfaat dalam menciptakan kebiasaan-
kebiasaan positif seperti kebiasaan bekerja sama dalam kelompok, aktif dalam
kegiatan belajar mengajar, bersosialisasi, mengemukakan pendapat, dan sebagainya.
b. Bagi guru dapat dijadikan pedoman dalam melakukan pengajaran kepada siswa
dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Question Student Have dalam
rangka meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPS.
c. Bagi sekolah dapat dijadikan rujukan dalam penggunaan metode pembelajaran
kooperatif tipe Question Student Have dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
d. Bagi peneliti, penelitian ini akan memberi manfaat karena peneliti akan lebih
mengetahui permasalahan-permasalahan yang timbul dalam kegiatan belajar mengajar
sekaligus menentukan solusinya, sebagai bekal bagi peneliti untuk menjadi tenaga
pendidik di masa yang akan datang dan dapat dijadikan referensi dalam melakukan
penelitian di bidang yang sama.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
3
A. KAJIAN TEORI
1. Hakikat Pembelajaran IPS
1.1. Pengertian Belajar
Menurut Thorndike dalam buku karangan Asri Budiningsih (2005: 21), belajar adalah
proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah sesuatu yang dapat merangsang
kegiatan belajar, mislanya pikiran ataupun perasaan. Sedangkan respon merupakan respon
yang diperlihatkan siswa ketika belajar.
Cronbach dalam Riyanto (2009: 5) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan
perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Menurut Cronbach bahwa belajar yang sebaik-
baiknya adalah dengan mengalami sesuatu yaitu menggunakan pancaindra. Dengan kata lain
belajar adalah suatu proses untuk mengubah performansi yang tidak terbatas pada
keterampilan, tetapi juga meliputi fungsi-fungsi, seperti skill, persepsi, emosi, proses berfikir
sehingga dapat menghasilkan perbaikan perfomansi
Menurut Reber dalam kamusnya Dictionary of Psychology (Muhibbin, 2005: 88-89)
membatasi belajar dengan dua definisi. Pertama, belajar adalah proses memperoleh
pengetahuan. Kedua, belajar adalah suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif
langgeng sebagai hasil praktek yang diperkuat. Maksud dari belajar dalam penelitian ini
yakni terjadinya perubahan tingkah laku yang signifikan yang terjadi pada diri siswa,
misalnya siswa dari yang belum bisa membaca berubah menjadi bisa membaca. Dan
perubahan tersebut dapat berasal dari pengalaman-pengalaman yang diperoleh siswa dari
lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Menurut Oemar Hamalik (2007: 27) belajar adalah modifikasi atau memperteguh
kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of
behavior through experiencing). Menurut pandangan ini belajar merupakan suatu proses,
suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi
lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan
melainkan pengubahan kelakuan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses secara sadar
yang dilakukan oleh peserta didik untuk menimbulkan sutu respon dan mencapai suatu
perubahan yang lebih baik.
1.2. Pengertian Pembelajaran
menurut Jogiyanto dalam Taofiq ismail (2006: 2) pembelajaran adalah ketika anda berubah
4
karena suatu kejadian dan perubahan terjadi bukan karena perubahan secara alami atau
karena menjadi dewasa yang dapat terjadi dengan sendirinya atau karena perubahan
sementara saja tetapi lebih dari reaksi dari situasi yang dihadapi.
Menurut Sugandi (2004: 9) pengertian pembelajaran secara khusus adalah sebagai
berikut:
a. Menurut teori Behavioristik pembelajaran adalah suatu usaha guru membentuk
tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan dengan stimulus yang
diinginkan perlu latihan, dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah
reinforcement (penguatan).
b. Menurut teori Kognitif pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang di
pelajari.
c. Menurut teori Gestalt pembelajaran adalah usaha guru memberikan mata pelajaran
sedemikian rupa sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya)
menjadi suatu Gestalt (pola bermakna), bantuan guru diperlukan untuk
mengaktualkan potensi mengorganisir yang terdapat dalam diri siswa.
d. Menurut teori Humanistik pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa
untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajari sesuai dengan minat dan
kemampuannya.
Dari uraian-uraian tersebut, dapat dipahami bahwa pembelajaran merupakan suatu
proses penggunaan sarana dan prasarana pendidikan oleh guru untuk mencapai perubahan
yang lebih baik melalui unsur-unsur pendidikan.
1.3. Mata Pelajaran IPS
a) Pengertian IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan
mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa,
fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata
pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata
pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang
demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.
Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena
kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata
pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan
analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang
dinamis.

5
Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses
pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan
pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas
dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.
Pada dasarnya pembelajaran IPS ialah suatu program pendidikan yang merupakan
suatu keseluruhan yang pada pokoknya persoalan manusia dan lingkungan alamnya, pisik
maupun sosialnya yang bahannya diambil dari berbagai ilmu sosial seperti: sejarah, geografi,
antropoloi, sosiologi, ilmu politik, dan sebagainya. Dari pngertian tersebut tampak jelas
bahwa IPS terdiri dari himpunan pengetahuan tentang kehidupan manusia dan dari realitas
kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.
Menurut Social Studies, National for Social Studies (NCSS) mendefinisikan social
studies sebagai berikut:
Social studies is the integrated study of the social sciences and humanities to
promote civic competence. Within the school progam, social studies provides coordinated,
systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, archaeology, economisc,
geography, history, law, philoshophy, political science, psychology, religion, and sociology,
as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and the natural sciences
(savage and Armstrong, 1996:9).
Menurut Barr dalam Sapriya (2009:10) berpendapat bahwa:
The social studies is an integration of experience and knowledge concerning human relations
for the purpose of citizenship education.
Sedangkan menurut Banks dalam Sapriya (2009:10)
The social studies is that part of the elementary and high school curriculum which
has the primary responsibility for helping students to develop the knowledge, skills, attitudes,
and values needed to participate in the civic life of their local communities, the nation, and
the word.
Terkait dengan pengertian tersebut di atas, Numan Somantri (2001:74) mengatakan
bahwa pendidikan IPS adalah suatu penyederhanaan ilmu-ilmu sosial, ideology Negara dan
disiplin ilmu lainnya serta masalah-masalah sosial terkait, yang diorganisasikan dan disajikan
secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar dan
menengah.
Pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa IPS adalah perpaduan cabang-cabang
ilmu sosial dan humaniora termasuk di dalamnya agama, filsafat, dan pendidikan, bahkan
juga menyangkut aspek-aspek ilmu kealaman dan teknologi.
b) Tujuan Pembelajaran IPS
Tujuan pembelajaran IPS sangat bervariasi. Diah Harianti (2006:9) mengatakan
bahwa tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental
positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap
masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa

6
masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di
sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai
berikut:
1. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui
pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.
2. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang
diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan
masalah-masalah sosial. Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta
membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di
masyarakat.
3. Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu
membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
4. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri
agar survive yakemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.
Menurut Simangungsong (1987: 31-32) tujuan IPS adalah :
Meningkatkan kesadaran ekonomi rakyat, meningkatkan kesejahteraan jasmani dan rohani,
meningkatkan efisiensi, kejujuran dan keadilan dalam pelayanan umum, meningkatkan mutu
lingkungan, menjamin keamanan dan keadilan bagi semua warganya, memberi pengertian
tentang hubungan internasional, meningkatkan saling pengertian tentang kerukunan nasional
dan memelihara keagungan sifat-sifat kemanusiaan, kesejahteraan rohani dan jasmani dan
tata susila.
Etin Solihatin (2009: 15) berpendapat bahwa tujuan pendidikan IPS adalah untuk
mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri
sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta berbagai bekal bagi siswa
untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa siswa mampu memahami gejala lingkungan alam dan
kehidupan di muka bumi, ciri khas satuan wilayah serta permasalahan yang dihadapi sebagai
akibat adanya saling pengaruh antara manusia dan lingkungannya. pembelajaran tersebut
berfungsi mengembangkan kemampuan siswa dalam mengenali dan memahami gejala alam
dan kehidupan dalam kaitannya dengan keruangan dan kewilayahan serta mengembangkan
sikap positif dan rasional dalam menghadapi permasalahan yang timbul sebagai akibat
adanya pengaruh dengan manusia terhadap lingkungannya.
2. Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Question Student Have
2.1. Strategi Pembelajaran
Strategi adalah ilmu atau seni menggunakan semua sumber daya bangsa-bangsa untuk
melaksanakan kebijakan tertentu dalam perang dan damai. Dalam konteks pengajaran
menurut Gagne strategi adalah kemampuan internal seseorang untuk berpikir, memecahkan
masalah, dan mengambil keputusan (Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, 2008 : 2-3).
Strategi pembelajaran adalah cara sistematis yang dipilih dan digunakan seseorang
7
pembelajar untuk menyampaikan materi pembelajaran tertentu meliputi urutan kegiatan, cara
pengorganisasian materi pelajaran dan siswa, peralatan dan bahan, serta waktu yang
digunakan dalam proses pembelajaran.
Menurut J. R David dalam Eveline dan Hartini (2010 :77) strategi meliputi rencana,
metode, dan perangkat kegiatan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Strategi dapat
diartikan sebagai rencana kegiatan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara
untuk mencapai sesuatu. Untuk melaksanakan strategi tertentu diperlukan seperangkat
metode pengajaran salah satu unsur dalam startegi pembelajaran. Startegi pembelajaran harus
mengandung penjelasan tentang metode atau prosedur dan teknik yang digunakan selama
proses pembelajaran berlangsung. Dengan kata lain, strategi pembelajaran mengandung arti
lebih luas dari metode dan teknik, artinya metode dan teknik pembelajaran merupakan bagian
dari strategi pembelajaran.
Menurut Michael Presley dalam Trianto (2007: 85) strategi-srtategi belajar adalah
operator-operator kognitif dan meliputi proses-proses secara langsung terlibat dalam
penyelesaian suatu tugas (belajar).
Menurut Oemar Hamalik (2007:201) strategi pengajaran adalah keseluruhan metode
dan prosedur yang menitik beratkan pada aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar untuk
mencapai tujuan tertentu.
Pemilihan strategi pembelajaran sangatlah penting meskipun tidak ada satu pun
strategi pembelajaran yang paling sesuai untuk semua kondisi dan situasi yang berbeda,
walaupun tujuan pembelajaran yang ingin dicapai sama. oleh karena itu dibutuhkan
keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran, yaitu yang
disusun berdasarkan karakteristik peserta didik dan situasi kondisi yang dihadapinya. Adapun
strategi yang dipilih dan digunakan oleh guru bertitik tolak dari tujuan pembelajaran demi
memperoleh tahapan kegiatan pembelelajaran yang berdaya dan berhasil guna, maka guru
harus mampu menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan.
2.2. Pendekatan Belajar Kooperatif
Pendekatan belajar kooperatif dikenal pada tahun 1990-an. Oxford Dictionary (1992)
mendefinisikan kooperasi (cooperation) sebagai bersedia untuk membantu (to be of
assistance or be willing to assist). Kooperatif juga berarti bekerjasama untuk mencapai tujuan
efektif dan efisien. Menurut Salvin (1987), belajar kooperatif dapat membantu siswa dalam
mendefinisikan struktur motivasi dan organisasi untuk menumbuhkan kemitraan yang
bersifat kolaboratif. Pengelompokan siswa merupakan salah satu strategi yang dianjurkan
sebagai cara siswa untuk saling berpendapat, beragrumentasi, dan mengembangkan berbagai

8
alternatif pandangan dalam upaya kontruksi pengetahuan. Pendekatan belajar kooperatif
menganut lima prinsip utama:
a. Saling ketergantungan positip; artinya ketergantungan dalam hal ini adalah
keberhasilan kelompok merupakan hasil kerja keras seluruh anggotanya. Setiap
anggota berperan aktif dan mempunyai andil yang sama terhadap keberhasilan
kelompok.
b. Tanggung jawab perseorangan; tanggungjawab perseorangan muncul ketika seorang
anggota kelompok bertugas untuk menyajikan yang terbaik dihadapan guru dan teman
sekelas lainnya. Anggota yang tidak bertugas, dapat melakukan pengamatan terhadap
situasi kelas, kemudian mencatat hasilnya agar dapat didiskusikan dalam
kelompoknya.
c. Interaksi tatap muka; bertatap muka merupakan satu kesempatan yang baik bagi
anggota untuk berinteraksi memecahkan masalah bersama, disamping membahas
materi. Anggota dilatih untuk menjelaskan masalah belajar masing-masing juga diberi
kesempatan untuk mengajarkan apa yang dikuasainya kepada teman satu kelompok.
d. Komunikasi antar anggota; model belajar kooperatif juga menghendaki agar para
anggota dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan
siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi.
Keberhasilan suatu kelompok juga tergantung pada kesedian para anggota untuk
saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapatnya.
Setiap siswa memperoleh kesempatan berlatih mengenai cara-cara berkomunikasi
secara efektif seperti bagaimana berpendapat tentang orang lain tanpa menyinggung
perasaan.
e. Evaluasi proses; perlu dijadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi
proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka agar selanjutnya bisa bekerjasama
dengan lebih efektif (Eveline dan Hartini, 2010 : 114).
Menurut Slavin dalam Hartati (1997:21) cooperative learning mempunyai kelebihan
dan kekurangan. Adapun kelebihannya adalah:
a. Dapat mengembangkan prestasi siswa, baik hasil tes yang dibuat guru maupun tes
baku.
b. Rasa percaya diri siswa meningkat, siswa merasa lebih terkontrol untuk keberhasilan
akademisnya.
c. Strategi kooperatif memberikan perkembangkan yang berkesan pada hubungan
interpersonal di antara anggota kelompok yang berbeda etnis.
Selain itu, terdapat keuntungan jangka panjang yang dapat dipetik dari pembelajaran
kooperatif menurut Nurhadi (2004:115-116) adalah sebagai berikut :

9
a. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial.
b. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi,
perilaku sosial, dan pandangan-pandangan.
c. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian.
d. Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen.
e. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri dan egois.
f. Membangun persahabatan yang dapat berkelanjutan hingga masa dewasa.
g. Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling
membutuhkan dapat diajarkan dapat dipraktekkan.
h. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia.
i. Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif.
j. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.
k. Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis
kelamin, normal ataucacat, etnis, kelas sosial, agama, dan orientasi tugas.
Kooperative learning merupakan model pembelajaran yang menekankan aktivitas
kolaboratif siswa dalam belajar yang berbentuk kelompok, mempelajari materi pelajaran, dan
memecahkan masalah secara kolektif kooperatif. Prinsip pelaksanaan belajar kooperatif pada
umumnya menitikberatkan pada struktur dan manajemen pembelajaran hal ini bisa dilihat
dalam hal distribusi jender, jumlah siswa dalam kelas, serta strategi pembagian tugas. Dengan
demikian, semua siswa akan aktif dalam mengerjakan tugas.
Strategi Question Student Have (QSH) dengan pendekatan Kooperative learning
menjadikan penerapan strategi menjadi lebih efektif dengan jumlah siswa banyak sehingga
pertanyaan, masalah, dan harapan siswa lebih mudah untuk didistribusikan. Dan pada proses
penerapan lebih memungkinkan siswa untuk berdiskusi dalam kelompok sebelum menuliskan
perrtanyaan pada kartu pertanyaan.
2.3. Metode Question Student Have
Metode Question Student Have (QSH) merupakan salah satu cara yang paling efektif
dan efisien untuk meningkatkan kegiatan belajar aktif. Karena Question Student Have (QSH)
dikembangkan untuk melatih peserta didik agar memiliki kemampuan dan ketrampilan
bertanya (Agus Suprijono, 2009: 108).
Strategi ini membagi peserta didik menjadi berkelompok sehingga dengan peserta
didik berkelompok hampir tidak mungkin bahwa salah satu peserta didik akan diabaikan dan
sulit juga bagi peserta didik untuk tidak aktif, sehingga dengan kelompok yang sedikit
diharapkan peserta didik dapat berpartisipasi dan berperan secara aktif.
Hal ini sesuai dengan pendapat Suyadi (2013: 36) Metode Question Student Have
adalah salah satu tipe instruksional dari belajar aktif (active learning) yaitu segala bentuk
pembelajaran yang memungkinkan peserta didik berperan secara aktif dalam proses

10
pembelajaran, baik dalam bentuk interaksi antar peserta didik ataupun peserata didik dengan
guru dalam proses pembelajaran.
Aktivitas peserta didik dalam metode Question Student Have merupakan salah satu
cara yang digunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan peserta didik sebagai
dasar untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Metode ini menggunakan teknik
untuk mendapatkan partisipasi peserta didik melalui tulisan. Hal ini sangat baik digunakan
pada peserta didik yang kurang berani mengungkapkan pertanyaan, keinginan dan harapan-
harapan melalui percakapan (Suyadi, 2013: 36).
Sebagaimana dikutip oleh Hisyam Zaini dkk (2008: 17-18), Silberman
mengungkapkan prosedur pembelajaran dengan menggunakan tipe Question Student Have
sebagai berikut:
1) Guru menjelaskan materi kepada peserta didik.
2) Guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok.
3) Guru memberikan potongan kertas kepada setiap peserta didik.
4) Guru meminta peserta didik untuk menulis satu pertanyaan apa saja yang berkaitan
dengan materi yang telah disampaikan atau yang berhubungan dengan kelas.
5) Membagikan potongan kertas yang berisi pertanyaan kepada teman di samping
kirinya. Nantinya akan terjadi gerakan perputaran searah jarum jam. Ketika masing-
masing potongan kertas dibagikan kepada peserta didik berikutnya, dia harus
membacanya dan memberikan tanda centang pada pertanyaan yang tidak dia
mengerti.
6) Ketika semua potongan kertas peserta didik kembali padanya pemiliknya, tiap peserta
didik harus meninjau pertanyaannya.
7) Meminta peserta didik untuk berbagi pertanyaan mereka secara suka rela, sekalipun
pertanyaan mereka itu tidak mendapatkan tanda centang paling banyak.
8) Memberikan respon kepada pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan:
a) Jawaban langsung secara singkat.
b) Menunda jawaban sampai pada waktu yang tepat atau pada waktu membahas
topik tersebut.
c) Menjelaskan bahwa pelajaran tidak akan sampai membahas pertanyaan tersebut.
Jawaban secara pribadi dapat diberikan diluar kelas.
9) Mengumpulkan semua potongan kertas. Potongan kertas tersebut mungkin berisi
pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dijawab pada pertemuan mendatang.

11
Metode pembelajaran tipe Question Student Have merupakan salah satu cara yang
efektif dan efisien untuk meningkatkan kegiatan belajar aktif. Karena metode Question
Student Have dikembangkan untuk melatih peserta didik memiliki kemampuan dan
keterampilan bertanya. Metode ini bisa divariasi dengan tidak menuliskan pertanyaan, peserta
didik juga bisa menuliskan harapan dan perhatian mereka terhadap pelajaran yang dipelajari.
Diharapkan setelah peserta didik menuliskan harapannya guru dapat mengetahui dan bisa
memperbaiki pembelajaran.
Berikut Kelebihan dan Kelemahan Metode Question Student Have
1) Kelebihan Metode Question Student Have
a) Dapat melatih kemampuan bekerja sama. Karena membagi peserta didik menjadi
berkelompok, dengan berkelompok peserta didik hampir tidak mungkin salah satu
peserta didik akan diabaikan dan sulit juga bagi peserta didik untuk tidak aktif.
b) Melatih kemampuan mendengarkan pendapat orang lain.
c) Mampu meningkatkan daya ingat terhadap materi yang dipelajari.
d) Dapat melatih rasa peduli dan kerelaan untuk berbagi.
e) Mampu meningkatkan rasa penghargaan terhadap orang lain.
f) Mampu meningkatkan minat, motivasi dan suasana belajar serta kecepatan
menangkap materi.
2) Kelemahan Metode Question Student Have
a) Guru harus mengeluarkan tenaga dan pikiran yang tidak sedikit demi tercapainya
tujuan pembelajaran.
b) Peserta didik mengalami kesulitan dalam menuliskan pertanyaan terhadap materi
yang kurang dipahami.
c) Dimungkinkan tidak semua pertanyaan dari peserta didik dapat dibahas dalam
satu kali pertemuan, karena keterbatasan waktu, sehingga membutuhkan jam
tambahan.
Dalam proses pembelajaran setiap siswa memiliki kelebihan dan kekurangan untuk
menguasai materi. Ada siswa yang cepat, sedang, bahkan lambat dalam menyerap materi dan
tidak semua siswa menangkap apa yang dijelaskan. Di sini guru diharapkan ikut
berpartisipasi dalam membuat pertanyaan mengenai materi yang belum dipahaminya.

3. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan puncak kita melakukan proses belajar mengajar, sebab
dengan hasil belajar maka guru dapat menyimpulkan berhasil tidaknya pencapaian tujuan
12
yang diinginkan oleh seorang guru.
Gane dalam Suwati (2010: 8) mengungkapkan hasil belajar dapat dikategorikan
menjadi lima yakni: keterampilan intelektual (intelectual skills), informasi verbal (verbal
information,), strategi kognetik (Cognetive strateges), ketrampilan motorik (motor skills) dan
sikap (attitudes).
Senada dengan hal tersebut Romiszowski dalam Uno, H.B (2007: 210)
mengemukakan bahwa asil belajar diktegorikan menjadi empat macam yakni: keterampilan
kognitif, keterampilan afektif, keterampilan psikomotor, dan keterampilan interaktif.
Syaiful Bahri (2006:105) mengemukakan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi
hasil belajar dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Tujuan
Perumusan tujuan akan berpengaruh besar terhadap proses belajar mengajar.
Kepastian perjalanan proses belajar mengajar berpangkal pada jelas tidaknya
perumusan tujuan pengajaran. Tercapainya tujuan sama halnya keberhasilan
pengajaran.
b. Guru
Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua aspek yang
mempengaruhi kompetensi guru. Hal ini membuktikan bahwa guru mempunyai
pengaruh terhadap keberhasilan belajar, dengan pengalaman dan latar belakang akan
mempunyai penilaian yang berbeda terhadap masalah di dalam proses belajar
mengajar.
c. Anak didik
Setiap siswa memiliki latar belakang sosial, ekonomi, karakteristik, kecerdasan,
keadaan tubuh atau bentuk tubuh yang berbeda. Berbagai perbedaan tersebut
mempengaruhi hasil belajar terutama aspek individu.
d. Kegiatan pengajaran
Penggunaan berbagai metode maupun model yang bervarisi akan berpengaruh
terhadap keberhasilan belajar.
e. Bahan dan Alat Evaluasi
Penyusunan bahan dan alat evaluasi yang bagus akan berpengaruh terhadap hasil
pembelajaran. Terutama adalah validitas dan reliabilitas data, bila alat tes itu tidak
valid dan tidak reliabel, maka tidak dapat digunakan untuk mengetahui tingkat
keberhasilan belajar mengajar.
f. Suasana Evaluasi
Suasana terutama di sini adalah suasana kelas berpengaruh terhadap hasil belajar. Hal
ini disebabkan kondisi ruangan, guru atau pengawas yang berbeda akan
menghasilkan hasil yang berbeda pula.
Sedangkan menurut Sugihartono, dkk. (2007: 76-77), menyebutkan faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut:
13
a. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor
internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis.
b. Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi:
faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar di atas, peneliti
menggunakan faktor eksternal berupa penggunaan model pembelajaran kooperatif Question
Student Have. Pelaksanaan dua jenis model pembelajaran kooperatif ini menuntut
keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran IPS.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah
penguasaan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki peserta didik setelah melalui
kegiatan belajar, berupa dampak pengajaran (kognitif) yang ditunjukkan dengan nilai tes atau
nilai yang diberikan guru dan dampak pengiring (afektif dan psikomotorik) yang ditunjukkan
dengan perubahan tingkah laku atau peningkatan kemampuan.

B. HASIL PENELITIAN YANG RELEVAN


Dalam penelitian ini, peneliti mengacu pada penelitian terdahulu di antaranya
penelitian dengan judul:
1. Skripsi Misbahul Munir (01304227) dengan judul Pengaruh Strategi Question
Student Have terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Siswa pada Bidang Studi
Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Islam KH. Romly Tamim Kelurahan
Kenjeran Kecamatan Bulak Surabaya
Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran Strategi
Question student Have Sekolah Dasar Islam KH Romly Tamim Kenjeran Surabaya
dalam proses pelaksanaannya dapat berjalan efektif dan efisien atau tergolong baik,
karena hasil perhitungan persentase menunjukkan antara 76%-100%. Dan
peningkatan prestasi siswa di Sekolah Dasar Islam KH Romly Tamim Kenjeran
Surabaya setelah diterapkan pembelajaran Strategi Question student Have mengalami
peningkatan dalam pencapaian hasil prestasi belajar siswa pada bidang studi
Pendidikan Agama Islam yang cukup, hal ini berdasarkan pada hasil perhitungan
persentase pada peritem pertanyaan nilai yang diperoleh berada antara 56%-75%
dengan kreteria tergolong cukup. Sedangkan dalam pengaruh Strategi Question
Student Have Sekolah Dasar Islam KH Romly Tamim Kenjeran Surabaya mempunyai
implikasi (dampak/pengaruh) yang positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa

14
pada bidang studi Pendidikan Agama Islam dalam katagori tinggi atau kuat. Hal ini,
berdasarkan dari hasil penghitungan product moment, hasil yang di peroleh adalah
0,722 dan pada tabel interpretasi barada pada nilai r = 0,70 0,90 menunjukkan
bahwa antara variabel X dan Y terdapat pengaruh yang kuat atau tinggi.1
2. Skripsi Marina dengan judul Upaya Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar
Fisika Peserta didik Dengan Menggunakan Metode Belajar Aktif Tipe Question
Student Have (QSH) Di Kelas VII SMP Negeri 17 Kota Jambi. Hasil penelitian
diketahui dari hasil belajar siklus I yang diikuti 42 orang siswa. Nilai rata-rata yang
diperoleh meningkat dari 59,52 pada siklus I menjadi 68,22 pada siklus II dan
meningkat menjadi 76,18 pada siklus III. Siswa yang memperoleh nilai 6,5
sebanyak 36 orang, ini berarti keberhasilan klasikal telah mencapai 85,71%.
Sedangkan siswa yang belum berhasil 6 orang atau sekitar 14,28%. Angka ini
menunjukkan bahwa tindakan dapat dikatakan berhasil.2
3. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Lutfiyah (073511019) pada tahun 2011 mahasiswi
IAIN Walisongo Semarang dengan judul penerapan metode pembelajaran Active
Learning Tipe Question Student Have (QSH) untuk meningkatkan hasil belajar
peserta didik pada materi pokok logika Matematika Kelas X A MA Tajul Ulum Brabo
Grobogan Tahun pelajaran 2010/2011. Pada penelitian tindakan kelas ini dirancang
dua siklus yaitu siklus 1 dan 2. Dari hasil penelitian diketahui hasil belajar siklus I
nilai rata-rata yang diperoleh meningkat 50,60 dari pra siklus menjadi 60,67 dan
meningkat menjadi 71,48 pada siklus II. Peserta didik yang memperoleh nilai 6,5
sebanyak 27 orang, ini berarti keberhasilan klasikal telah mencapai 87,10%.
Sedangkan peserta didik yang belum berhasil 4 orang atau sekitar 12,90%. siklus I
yang diikuti oleh 33 peserta didik hasil yang diperoleh menunjukkan adanya
perkembangan prestasi belajar. Hal ini didasarkan pada perolehan rata-rata hasil
belajar peserta didik yaitu 60,67 dan ketuntasan klasikalnya mencapai 66,67%. Pada
akhir siklus II, hasil rata-rata peserta didik meningkat menjadi 71,48 dan ketuntasan
klasikalnya mencapai 87,10%. Angka keberhasilan ini menunjukkan bahwa tindakan
1
Misbahul Munir, Pengaruh Strategi Question Student Have terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Siswa pada
Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Islam KH. Romly Tamim Kelurahan Kenjeran Kecamatan
Bulak Surabaya, Skripsi, (Surabaya, Perpustakaan IAIN Sunan Ampel, 2009) http://digilib.sunan-
ampel.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptiain--misbahulmu-
7992&newlang=english&newtheme=gray

2
Marina, Upaya Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Fisika Peserta didik Dengan Menggunakan Metode
Belajar Aktif Tipe Question Student Have (QSH) Di Kelas VII C SMP Negeri 17 Kota Jambi, Skripsi, (Jambi:
Perpustakaan FKIP Universitas Jambi, 2009)
15
dapat dikatakan berhasil. Peningkatan hasil belajar pra siklus, siklus I, dan siklus II
mengalami peningkatan dikarenakan peserta didik lebih memahami dan mengingat
materi yang telah diberikan dengan menggunakan metode belajar tipe Question
Student Have.3
Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti merujuk dari ketiga penelitian di atas,
dimana letak kesamaannya pada metodenya. Sedangkan perbedaan dari ketiga penelitian di
atas pada penggunaan materi dan mata pelajaran yang berbeda. Peneliti akan menggunakan
metode belajar aktif tipe Question Student Have (QSH) apakah juga dapat meningkatkan
hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS Sub Tema : Potensi Lokasi Dan Upaya
Pemanfaatannya.

C. KERANGKA BERPIKIR
Berdasarkan hasil observasi pra siklus, pembelajaran IPS di SMPN 2 Mojokerto
menunjukkan partisipasi aktif siswa dalam mata pelajaran IPS masih rendah. Saat
pembelajaran berlangsung peserta didik terlihat bosan dan cenderung pasif karena metode
yang digunakan kurang mendukung siswa untuk aktif di kelas. Kurangnya keaktifan peserta
didik terhadap materi IPS sub tema Potensi lokasi dan upaya pemanfaatannya akan sangat
berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik.
Kondisi tersebut diatas merupakan kondisi umum yang sering terjadi di lingkungan
sekolah khususnya SMPN 2 Mojokerto. Dengan kurang memberikan kesempatan pada siswa
untuk aktif, maka tingkat pemahaman siswa terhadap materi akan rendah. Hal ini
menyebabkan rendahnya hasil belajar peserta didik dan tidak mencapai ketuntasan yang telah
ditetapkan.
Melihat situasi yang demikian perlu dilakukan upaya pemecahan masalah melalui
penerapan pembelajaran yang berpusat pada aktivitas peserta didik. Sebagai alternatif
pembelajaran yang dapat dilakukan adalah dengan penerapan metode pembelajaran
kooperatif Question Student Have. Question Student Have (QSH) dirasa peneliti sangat sesuai
jika digunakan dalam menyampaikan materi IPS sub tema Potensi lokasi dan upaya
pemanfaatannya, karena melihat kelebihan-kelebihan dari metode ini mendorong
pembelajaran aktif oleh siswa. Metode ini dapat melatih kemampuan bekerja sama, karena
membagi peserta didik menjadi berkelompok sehingga dengan peserta didik berkelompok
3
Siti Lutfiyah, Penerapan Model Pembelajaran Active Learning Tipe Question Student Have (QSH) untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik pada Materi Pokok Logika Matematika kelas X A Ma Tajul Ulum Brabo
Grobogan Tahun Pelajaran 2010/2011, Skripsi, (Semarang: Perpustakaan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo,
2011)
16
hampir tidak mungkin bahwa salah satu peserta didik akan diabaikan dan sulit juga bagi
peserta didik untuk tidak aktif, melatih kemampuan mendengarkan pendapat orang lain,
peningkatan daya ingat terhadap materi yang dipelajari, melatih rasa peduli dan kerelaan
untuk berbagi, meningkatkan rasa penghargaan terhadap orang lain, meningkatkan motivasi
dan suasana belajar serta kecepatan dan hasil belajar dapat lebih meningkat.
Materi IPS sub tema Potensi lokasi dan upaya pemanfaatannya memungkinkan
peserta didik untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran yang aktif. Peserta didik dapat
mengungkapkan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang telah dipelajari sehingga
peserta didik dapat terlibat langsung dalam pembelajaran dan memahami materi IPS Potensi
lokasi dan upaya pemanfaatannya. Melalui penerapan model model pembelajaran Kooperatif
tipe Question Student Have (QSH) pada sub tema Potensi lokasi dan upaya pemanfaatannya
diharapkan dapat menjadi solusi dalam proses pembelajaran IPS untuk meningkatkan hasil
belajar peserta didik.

Kondisi Tindakan Hasil

Guru belum Penerapan Dengan penerapan


melaksanakan metode metode
pembelajaran pembelajaran pembelajaran
menggunakan metode kooperatif tipe kooperatif tipe
pembelajaran Question Question Student
kooperatif tipe Student Have Have membuat
Question Student Have siswa aktif dan
memahami materi
Metode pembelajaran
sehingga ada
yang digunakan guru
peningkatan hasil
belum memberikan
belajar
kesempatan kepada
siswa untuk aktif

siswaSecara
kurang grafis pemikiran yang dilakukan oleh peneliti dapat digambarkan dengan
memahami
bentuk diagrammateri yangberikut:
sebagai
disampaikan
menyebabkan hasil
belajar yang dicapai
belum optimal
17

Kondisi awal Evaluasi Efek Evaluasi Akhir


Pembelajaran IPS
D.

D. HIPOTESIS TINDAKAN
Berdasarkan kerangka berpikir yang sudah diurai di atas, maka dapat dirumuskan
hipotesis sebagai berikut: Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Question Student
Have (QSH) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik Kelas IX F SMP Negeri 2
Mojokerto Tahun Ajaran 2017/2018.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

18
A. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas IX F SMP SMP Negeri 2 Sidoarjo Tahun


Ajaran 2017/2018

2. Waktu Penelitian

Untuk waktu penelitian adalah bulan Juli dari tanggal 17 Juli 2017, 21 dan 28
Agustus 2017. Untuk lebih jelasnya ada pada jadwal penelitian sebagai berikut:

Tabel 1

Jadwal Penelitian Tindakan Kelas

No Tahapan Tanggal/Bulan Alokasi Waktu Kegiatan

1 Observasi awal 17 Juli 2017 11.30-12.00 Wawancara dengan guru IPS

Pra Siklus 31 Juli 2017 Jam ke 6-7 1. Perkenalan peneliti dengan


peserta didik
2 2. Mengamati guru dalam
mengajar
3. Mengambil data hasil belajar

Siklus 1 21 Agustus Jam ke 6-7 Pertemuan I


2017
1. Guru menyampaikan materi
tentang potensi lokasi
Indonesia
3 2. Guru melaksanakan model
pembelajaran kooperatif tipe
Question Student Have
3. Pemberian Ujian Siklus I
4. Pemberian tugas

4 Siklus II 28 Agustus Jam ke 6-7 Pertemuan III


2017
1. Guru menyampaikan materi
tentang jalur pelayaran yang
melewati Indonesia dan
pemanfaatan lokasi Indonesia
yang strategis

19
2. Guru melaksanakan model
pembelajaran kooperatif tipe
Question Student Have
3. Pemberian Ujian Siklus II
4. Pemberian tugas

B. SUBJEK PENELITIAN

Subyek penelitian ini adalah siswa di SMPN 2 Sidoarjo di kelas IX F pada mata pelajaran
IPS. Berikut ini daftra nama-nama peserta didik kelas XI F SMPN 2 Sidoarjo:

Tabel 2

Daftar Peserta Didik IX F SMPN 2 Sidoarjo Tahun Ajaran 2017/2018

No NAMA L/P
1 ADDIN HADI RIZAL L
2 ADELIA MARISKA DEVITANIA P
3 ADHIE YUDANTOE WARDHANA L
4 ALBERT PUTRA DIRGANTARA L
5 ARIQ ATHALAH L
6 BERLIAN MUSTIKA SARI P
7 BRYAN IDHATUL FITRAHAQ KRISNA L
8 DEANANDA LARISSA PUTRI P
9 DEO SATRIA PUTERA L
10 ERIKA FARHANAH MEUTIAH P
11 GAVRELLA KANAKU ELBOFANO L
12 IMROATU NAJWAN NAFII P
13 ISNAINI RISZYKA PUTRI P
14 LINA ILIS SYARIFATUS SADIYA P
15 M. ABIYYU DZAKY HAMZAH L
16 MARTINO RIZKI RIADI L
17 MOCH. RIZALDI ILHAN L
18 MUHAMMAD ERLANGGA L
19 MUHAMMAD RAFFA SYAHPUTRA S L
20 MUHAMMAD REKSA ARERL ANNAF L
21 MUHAMMAD SYAIFUDIN RIZKY S. L
22 MUHAMMAD THUFAIL DHANY HYLM L
23 NEVIA RAHMADHANI P
24 NI PUTU AYU VEBRIA LEKSANA P
25 NOVITASARI P
26 NUANGGA ERVIN DWI SYAHPUTRA L
27 OCHRINIA AMEL TRI TALLAH P
28 RAHMANIA NOVITA AYU SAFITRI S. P
20
29 REZZA NUGROHO MAHENDRA L
30 RIKY BAKTI SAPUTRA L
31 RIVAYANI DWI APRILIA P
32 RIZMAYA DWI MUMTAAZAH P
33 SHABUNA FAYI AINUNNISA P
34 SHAUFA EDITA NIRMALA P
35 VIANDRA RAFELIA CAHYA SUNARK P
36 YANUAR AGENG ACHMADHA L
37 YENI MAULIDINA P

C. PROSEDUR PENELITIAN

Secara umum, terdapat empat langkah dalam melakukan penelitian tindakan kelas,
yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.4 Kegiatan penelitian ini dilakukan
berdasarkan pra siklus dan siklus. Dalam penelitian ini direncanakan dalam dua siklus, setiap
siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu : perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Berikut
gambaran siklus yang dilaksanakan dalam Perencanaan
penelitian ini.5

Refleksi SIKLUS 1 Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan

Pengamatan
4
Suyadi, Panduan Penelitian Tindakan Kelas (Buku Panduan Wajib Bagi Para Pendidik),(Jogjakarta: Diva Press,
2010), Cet I, hlm. 49
5
Prof. Suharsimi Arikunto dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Cet VII, hlm. 16
21

?
1. Pra Siklus

Pra siklus dilakukan peneliti dengan mengamati jalannya pembelajaran yang


dilakukan oleh guru sebelum peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe
Question Student Have (QSH). Pada pembelajaran Pra siklus guru masih belum
menggunakan metode yang memberikan kesempatan pada siswa untuk aktif dalam
pembelajaran dan mengungkapkan apa yang ingin dipahami oleh siswa. Dalam pelaksanaan
pembelajaran Pra siklus ini juga akan diukur dengan indikator penelitian yaitu hasil belajar
peserta didik (rata-rata kelas). Hal ini dilakukan sebagai dasar untuk membandingkan
keberhasilan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Active Learning tipe
Question Student Have (QSH) pada siklus I dan siklus II.

2. Siklus I

22
a. Perencanaan (Planning)

1. Mengidentifikasi masalah dan merumuskan masalah.

2. Mempersiapkan instrumen yang dibutuhkan seperti:

a) Membuat rencana pembelajaran (RPP), sesuai materi pokok yang diambil.

b) Membuat lembar observasi peserta didik

c) Membuat soal-soal tes untuk siklus I

d) Membuat kisi-kisi jawaban soal tes siklus I

b. Pelaksanaan (Acting)

Semua tindakan yang sudah dibuat dalam perencanaan pembelajaran dilaksanakan


dalam bentuk langkah nyata dalam proses pembelajaran, yaitu:

Kegiatan Pendahuluan

1. Peserta didik dengan dipimpin oleh ketua kelas mengucapkan salam kepada guru.

2. Guru membimbing siswa untuk memimpin doa

3. Guru mengadakan presensi kehadiran peserta didik.

4. Menyanyikan lagu Dari Sabang sampai Merauke dilanjutkan Tanya jawab makna lagu
itu

5. Guru menyampaikan topik yang akan dibahas pada pertemuan hari ini

6. Guru menjelaskan kepada peserta didik tentang pembelajaran yang akan dilakukan
yaitu pembelajaran kooperatif tipe Question Student Have (QSH) dan guru akan
membagikan peserta didik dalam beberapa kelompok.

Kegiatan Inti

1. Guru menjelaskan materi yang ada dalam power point tentang posisi Indonesia
diantara negara-negara lainnya, peta jalur pelayaran internasional, posisi atau letak
Indonesia yang berada dalam jalur pelayaran intenasional.
2. Guru menerangkan sembari memberi kesempatan siswa bertanya

23
3. Guru menyuruh siswa mengeluarkan satu kertas dan menulis pertanyaan tentang
materi yang disampaikan.
4. Setelah pertanyaan terkumpul, guru membagi pertanyaan tersebut secara acak untuk
dijawab oleh siswa.
5. Siswa dan guru bersama-sama membahas pertanyaan tersebut dan mencari
jawabannya
Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan tes akhir siklus I (evaluasi) untuk mengetahui hasil belajar

2. Guru memberikan Tugas

c. Pengamatan

Pengamatan dilakukan dengan beberapa aspek, yaitu

1. Pengamatan kepada peserta didik, meliputi:

a) Mengamati aktivitas peserta didik, keberhasilan dan hambatan peserta didik dalam
melaksanakan tugas.

b) Memberikan penilaian untuk masing-masing peserta didik tentang indikator


keberhasilan.

2. Pengamatan terhadap guru, meliputi:

a) Penampilan guru di depan kelas

b) Mengamati guru saat menyajikan materi.

c) Mengamati jalannya pembelajaran apakah sudah sesuai dengan langkah-langkah


dalam model Question Student Have

3. Pengamatan secara kolaboratif, meliputi:

a) Mengamati jalannya proses pembelajaran.

b) Mengamati hasil evaluasi akhir apakah sudah mengalami peningkatan rata-rata.

c) Peneliti mengamati keberhasilan dan hambatan-hambatan yang dialami dalam


proses pembelajaran yang belum sesuai dengan harapan penelitian.

d) Refleksi

24
Refleksi merupakan langkah untuk mengevaluasi hasil kerja peserta didik. Evaluasi
dilakukan untuk mengukur kelebihan maupun kekurangan yang terdapat pada siklus I
kemudian mendiskusikan hasil analisis secara kolaborasi untuk perbaikan pada siklus II.

3. Siklus II

a. Perencanaan

Setelah merefleksi dari hasil siklus I didapatkan kekurangan. Untuk memperbaiki


kekurangan yang ada pada siklus I maka ditindak lanjuti perencanaan siklus II.

Kegiatan tahap siklus II sebagai berikut :

1. Identifikasi masalah dan observasi masalah berdasarkan refleksi pada siklus I,

2. Merancang kembali pembelajaran dengan membentuk kelompok,

3. Mempersiapkan instrumen yang dibutuhkan, seperti:

a) Membuat rencana pembelajaran (RPP), sesuai materi pokok yang diambil

b) Membuat lembar observasi peserta didik

c) Membuat soal-soal tes untuk siklus II

d) Membuat kisi-kisi jawaban soal tes siklus II

e) Membentuk kelompok peserta didik secara heterogen

b. Pelaksanaan

Tindakan pada siklus II terdiri dari dua rencana pembelajaran. Langkah-langkah yang
dilakukan pada siklus II sama dengan siklus I yaitu dengan melakukan perbaikanperbaikan
yang telah dirumuskan pada refleksi siklus I. Untuk mengetahui tingkat penguasaan materi
pada siklus II maka dilakukan tes siklus II.

Kegiatan Pendahuluan

1. Peserta didik dengan dipimpin oleh ketua kelas mengucapkan salam kepada guru.

2. Guru membimbing siswa untuk memimpin doa

3. Guru mengadakan presensi kehadiran peserta didik.


25
4. Menyanyikan lagu Menyanyikan lagu Nenek Moyangku dilanjutkan Tanya jawab
makna lagu itu
5. Bersama siswa, guru mengulas kembali meteri pertemuan minggu lalu tentang posisi
Indonesia diantara negara-negara lainnya, peta jalur pelayaran internasional, posisi
atau letak Indonesia yang berada dalam jalur pelayaran intenasional.

6. Guru menyampaikan topik yang akan dibahas pada pertemuan hari ini

7. Guru menjelaskan kepada peserta didik tentang pembelajaran yang akan dilakukan
yaitu pembelajaran kooperatif tipe Question Student Have (QSH) dan guru akan
membagikan peserta didik dalam beberapa kelompok.

Kegiatan Inti

1. Guru menjelaskan materi yang ada dalam power point tentang jalur yang dilewati oleh
sejumlah negara ketika akan mengekspor atau mengimpor suatu komoditas tertentu
yang melewati wilayah Indonesia dan bagaimana pemanfaatan lokasi yang strategis
oleh Indonesia.
2. Guru menerangkan sembari memberi kesempatan siswa bertanya
3. Guru memandu pembentukan kelompok yang terdiri dari 6 kelompok secara
heterogen
4. Guru memberikan kesempatan kepada tiap kelompok untuk membuat 2 pertanyaan
kritis dari materi yang sudah disampaikan. Dari 2 pertanyaan nanti akan dipilih 1
pertanyaan kritis ehingga totalnya ada 6 pertanyaan
5. Bersama siswa, guru menentukan 6 pertanyaan yang dianggap kritis untuk
didiskusikan bersama kelompok
6. Pertanyaan tersebut dibagi secara acak sehingga masing-masing kelompok
mendapatkan pertanyaan yang dibuat kelompok lain.
7. Jawaban dari pertanyaan tersebut akan dipresentasikan tiap kelompok, tiap kelompok
dapat menanggapi maupun manambah jawaban dari kelompok yang presentasi.
c. Pengamatan

Pengamatan dilakukan dengan beberapa aspek, yaitu:

1. Pengamatan kepada peserta didik, meliputi:

a. Mengamati aktivitas peserta didik, keberhasilan dan hambatan peserta didik dalam
melaksanakan tugas.

26
b. Memberikan penilaian untuk masing-masing peserta didik tentang indikator
keberhasilan.

2. Pengamatan terhadap guru, meliputi:

a. Penampilan guru di depan kelas

b. Mengamati guru saat menyajikan materi.

c. Mengamati jalannya pembelajaran apakah sudah sesuai dengan langkah-langkah


dalam model pembelajaran kooperatid tipe Question Student Have (QSH).

3. Pengamatan secara kolaboratif, meliputi:

a. Mengamati jalannya proses pembelajaran.

b. Mengamati hasil evaluasi akhir apakah sudah mengalami peningkatan rata-rata

c. Peneliti mengamati keberhasilan dan hambatan-hambatan yang dialami dalam proses


pembelajaran yang belum sesuai dengan harapan penelitian.

d. Refleksi

Refleksi merupakan evaluasi yang berkaitan dengan pelaksanan kegiatan


pembelajaran aktif tipe Question Studet Have (QSH) pada tahap siklus I yang dilakukan
peneliti bersama kolaborator.

1) Menganalisis hasil pengamatan siklus II untuk membuat simpulan terhadap


pelaksanaan pengajaran di siklus II.

2) Mendiskusikan hasil analisis dalam pelaksanaan siklus II untuk mendapatkan suatu


kesimpulan. Pada siklus II ini melalui model pembelajaran aktif tipe Question Student
Have (QSH) diharapkan hasil belajar matematika peserta didik kelas IX F SMP
NEGERI 2 MOJOKERTO lebih meningkat dari siklus I.

D. INSTRUMEN TEKNIK PENGAMBILAN DATA

1. Metode Observasi

27
Observasi (mengamati) adalah menatap kejadian, gerak atau proses.6 Metode ini
digunakan untuk mengamati kegiatan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran
sehingga dapat diketahui apakah proses pembelajaran berlangsung efektif.

2. Wawancara (Interview)

Wawancara adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan
jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak, karena dalam wawancara tersebut
responden tidak diberi kesempatan sama sekali untuk mengajukan pertanyaan.7

3. Metode dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal/ variable yang berupa catatan
transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya.8
Metode ini digunakan untuk mengetahui dan mendapatkan daftar nama peserta didik yang
akan diteliti

4. Metode tes

Tes dipakai untuk mengukur kemampuan peserta didik yang mencakup pengetahuan dan
ketrampilan sebagai hasil kegiatan belajar mengajar.9 Metode ini digunakan untuk mengukur
hasil belajar peserta didik dalam belajar dan pembelajaran matematika, tes dilaksanakan pada
setiap pembelajaran dan akhir siklus.

E. TEKNIK ANALISIS DATA

Data hasil pengamatan diolah dengan analisis deskriptif untuk menggambarkan


keadaan peningkatan indikator keberhasilan setiap siklus dan untuk menggambarkan
keberhasilan pembelajaran melalui model pembelajaran Active Learning tipe Question
Student Have (QSH).

1. Data keaktifan peserta didik

6
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineke Cipta, 2006), Cet, 13, hlm
230
7
Dr. Dimyati dan Drs Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta : Rineka Cipta, 1999), Cet I, hlm. 216
8
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, hlm 231
9
Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M. Ag, Guru Dan Anak Didik dalam Interaktif Edukatif Suatu Pendekatan Teoritis
Psikologis, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), Cet. III, hlm. 256
28
Adapun perhitungan persentase keaktifan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran
adalah sebagai berikut:

Keterangan:

n = skor yang diperoleh setiap peserta didik

N = jumlah seluruh skor

Kriteria penafsiran variabel penelitian ini sebagai berikut:10

86% - 100 % = baik sekali (A)

76% - 85% = baik (B)

60% - 75% = cukup (C)

55% - %59 = kurang (D)

54% = kurang sekali (E)

2. Data mengenai hasil belajar

Data mengenai hasil belajar diambil dari kemampuan kognitif peserta didik dalam
memecahkan masalah dianalisis dengan menghitung rata-rata nilai ketuntasan belajar.

a. Menghitung rata-rata

Untuk menghitung rata-rata digunakan rumus.11

Keterangan:

= rata-rata nilai

= jumlah seluruh nilai

n = jumlah peserta didik

10
Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008),
Cet. XIV, hal. 103
11
Sudjana, Metoda Statistika, (Bandung: Tarsito, 2005)., hlm.67
29
b. Menghitung ketuntasan belajar

a) Ketuntasan belajar individu

Data yang diperoleh dari hasil belajar peserta didik dapat ditentukan ketuntasan
belajar individu menggunakan analisis deskriptif presentase dengan perhitungan:

b) Ketuntasan belajar klasikal

Data yang diperoleh dari hasil belajar dapat ditentukan ketuntasan belajar klasikal
menggunakan analisis deskriptif persentase dengan perhitungan:

Keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu menyelesaikan atau
mencapai minimum 65 sekurang-kurangnya 75% dari jumlah peserta didik yang ada
di kelas tersebut.12

F. INDIKATOR KEBERHASILAN

1. Hasil Belajar Peserta Didik 65

2. Ketuntasan Belajar Klasikal 75%

3. Aktivitas Belajar Peserta Didik 75%13

12
Asep Jihad, Pengembangan Kurikulum Matematika, (Yogyakarta: Multi Presindo, 2008), hlm.112.
13
Asep Jihad, Pengembangan Kurikulum Matematika, hlm.112.
30
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta

Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Dimyati dan Mujiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Djamarah, Saiful Bahri dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Rineka
Cipta

Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru Dan Anak Didik dalam Interaktif Edukatif Suatu
Pendekatan Teoritis Psikologis. Jakarta: Rineka Cipta

Eveline dan Hartini.2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia

Hamalik, Oemar. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara

31
Hamalik, Oemar. 2007 Proses Belajar Mengajar Cet VI. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Hisyam Zaini dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
Jihad , Asep. 2008. Pengembangan Kurikulum Matematika. Yogyakarta: Multi Presindo

Muhibbin. 2005. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: remaja


Rosdakarya.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban) . Jakarta: Grasindo.


Purwanto, Ngalim. 2008. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya

Riyanto. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Sapriya, 2012. Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: Rosdakarya.

Slavin, E Robert. 2002. Cooperative Learning (Teori, Riset dan Praktik). Bandung: Nusa
Media.

Somantri, N. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya

Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito

Sugandi, Ahmad. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang:UNNES Press

Sugihartono, dkk.2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.

Suwati. 2010. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasann Sifat-Sifat Cahaya
Dengan Menggunakan Komponen Kit di Kelas V SD. 014. Tarakan: Universitas Berneo
Unpuldised.

Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.
Trianto. 2007. ModelModel Pembelajaran Inovativ Berorientasi Kontruktivistik. Jakarta:
Prestasi Pustaka.

Uno, HB. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Efektif. Jakarta. PT.Bumi
Aksara.

32
33