Anda di halaman 1dari 12

PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9

PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

STUDI FASIES GUNUNG API PURBA BERDASARKAN ANALISIS GEOMOROFOLOGI, ASOSIASI


LITOLOGI, DAN STRUKTUR GEOLOGI SERTA IMPLIKASINYA (STUDI KASUS: DAERAH PRIPIH,
KECAMATAN KOKAP, KABUPATEN KULON PROGO, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)

Topan Ramadhan1*
Faisal Sangaji1
Nenden Lestari Sidik1
1
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta
*corresponding author: topanramadhan@gmail.com

SARI
Berdasarkan kondisi suatu gunungapi purba saat ini sulit dikenali secara langsung suatu
kenampakannya, seperti dalam kompleks pegunungan Kulon Progo. Berdasarkan aktivitas gunungapi
menghasilkan material seperti lava, lahar, material piroklastik, dll. Selain itu proses magmatisme
menghasilkan banyak potensi seperti potensi mineralisasi. Untuk identifikasi suatu gunung api purba
dan fasisesnya dapat menggunakan pendekatan analisis geomorfologi, asosiasi litologi gunungapi,
struktur-struktur geologi pada batuan formasi Andesit Tua (Rahardjo, dkk, 1977). Penyelidikan yang
dilakukan dengan metode pemetaan geologi, analisis petrografi batuan gunungapi, analisis
stratigrafi, pola struktur-struktur vulkanik, serta arus purba sehingga didapatkan hasil fasies
gunungapi daerah sekitar, arah aliran purba material gunungapi. Daerah Pripih, Kecamatan Kokap,
Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta diidentifikasikan merupakan daerah fasies
pusat hingga proksimal dari gunungapi purba, dan berdasarkan Bronto,S (2013) termasuk dalam
kompleks gunung api purba Ijo. Sehingga data tersebut juga dapat berimplikasi terhadap
sumberdaya geologi seperti potensi mineralisasi dan bahan galian.
Kata kunci: fasies gunungapi purba, Gunung Ijo, Kulon Progo.

I. PENDAHULUAN Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta


(lihat Gambar 1).
Indonesia banyak memiliki gunungapi yang
sudah ada baik dari zaman pra-tersier
II. KONDISI GEOLOGI REGIONAL
maupun hingga sekarang kuarter.
Berdasarkan umur geologi, kegiatan Stratigrafi Pegunungan Kulon Progo sudah
gunungapi di Indonesia paling tidak sudah sering diteliti oleh para ahli geologi, dimana
dimulai sejak Zaman Kapur Atas atau sekitar masing-masing secara umum mempunyai
76 juta tahun yang lalu hingga masa kini. argumentasi yang berbeda-beda namun
Gunung api yang sudah tidak aktif hingga saling melengkapi mengenai stratigrafinya.
tubuhnya sebagian hilang atau sama sekali Geologi regional Kulon Progo
tidak ada dikenal sebagai fosil gunung api. (lihat Gambar 2) terdiri dari beberapa
formasi diantaranya Formasi Nanggulan,
Fosil gunung api dalam arti paleovulkanisme Formasi Andesit Tua, Formasi Jonggrangan
tersebar diseluruh nusantara, terutama di dan Formasi Sentolo. Pada lokasi penelitian
pulau jawa diantaranya yang terdapat di termasuk pada Formasi Andesit Tua.
kompleks pegunungan Kulon Progo. Formasi ini dicirikan oleh adanya batuan
Kompleks pegunungan Kulon Progo Volkanik Klastik tebal, yang teridiri dari
terdapat 3 gunung api purba yaitu G. Ijo, G. Breksi Vulkanik dengan sisipan Lava Andesit.
Gajah, dan G. Manoreh (Bronto, 2013).
Daerah penelitian berada di kompleks Umur formasi ini ditentukan berdasarkan
pegununga Kulon Progo tepatnya di selatan atas hubungan stratigrafi dengan dua
Gunung Purba Ijo, Daerah Pripih dan satuan batuan yang mengapitnya, karena
sekitarnya, Kecamatan Kokap, Kabupaten tidak mengandung fosil penunjuk umur,
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

diperkirakan berumur Oligosen Akhir studi pustaka (literatur). Dalam metode


Miosen Awal, diendapkan pada lingkungan primer dilakukan dengan cara pemetaan
darat, berupa endapan lahar yang terpilah geologi pada wilayah seluas 3x3 km2 daerah
buruk dalam matrik relatif halus dan Pripih, kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon
kadang-kadang terlihat struktur perlapisan Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
berangsur dan perlapisan sejajar. Formasi pada lembar peta Rupa Bumi Indonesia
Andesit Tua secara stratrigrafis berada di (RBI) pada nomor lembar peta Bagelan
bawah Formasi Sentolo. Menurut peneliti 1408-213. Kemudian dalam pengambilan
terdahulu menyimpulkan bahwa umur data lapangan dilakukan observasi dan
Formasi Sentolo berdasarkan penelitian analisis baik litologi yang tersingkap
Foraminifera plantonik menunjukan umur dipermukaan, struktur-struktur geologi,
antara Awal Meiosen hingga Pliosen. serta geomorfologi yang ada pada daerah
Formasi Nanggulan, terletak di bawah penilitian. Selain itu untuk mendukung data
Formasi Andesit Tua mempunyai kisaran litologi selain melakukan identifikasi
umur Eosen Tengah hingga Oligosen Atas. dilapangan juga dilakukan analisis petrografi
untuk identifikasi batuan. Metode sekunder
Jika kisaran umur itu dipakai, maka Formasi
atau studi pustaka dilakukan guna
Andesit Tua diperkirakan berumur Oligosen
menunjang penelitian mengenai geologi
Atas sampai Meiosen Bawah. Umur Formasi
daerah penelitian dan Regional Lembar
Andesit Tua ini adalah Oligosen. Menurut
Yogyakarta. Kajian pustaka ini nantinya
Van Bemmelen (1949) formasi ini disebut
diharapkan dapat membantu kelancaran
Formasi Andesit Tua dengan ketebalan
penelitian yaitu dapat digunakan sebagai
mencapai 500 meter mempunyai
bahan acuan guna untuk mempelajari
kedudukan yang tidakselaras di atas
geologi daerah penelitian baik geologi
Formasi Nanggulan. Batuan penyusun
regional, stratigrafi regional, fisiografi
formasi ini berasal dari kegiatan vulaknisme
regional dan struktur geologi pada daerah
di daerah tersebut, yaitu dari beberapa
penelitian. Kajian pustaka dilakukan untuk
gunungapi tua di daerah Pegunungan-Kulon
menggali beberapa informasi dari beberapa
Progo yang disebut sebagai Gunung Api
referensi yang telah dilakukan oleh peneliti
Andesit Tua. Gunung Api tersebut adalah
terdahulu di daerah yang sama. Kajian
Gunung Gajah, Gunung Ijo, serta Gunung
pustaka juga dilakukan pada beberapa
Menoreh. Lokasi penelitian merupakan
referensi yang mendukung penelitian ini
daerah Gunung Ijo dimana letaknya berada
secara keilmuan sehingga dalam
di bagian selatan Kulon Progo.
pembahasannya akan ditunjang dengan
latar belakang serta teori yang kuat.
III. METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan IV. DATA DAN ANALISIS
analisis geomorfologi, asosiasi litologi, dan Dalam pemetaan geologi pada daerah
struktur geologi dalam identifikasi gunung Pripih, Kulon Progo menggunakan analisis
api purba yang mana cara pendekatan geomorfologi, struktur geologi, asosiasi
analisis ini dianggap paling mudah untuk litologi dan analisis aruspurba di beberapa
mengidentifikasi suatu gunung api purba lokasi pengamatan (lihat Gambar 3). Berikut
serta fasiesnya. Metode penilitian yang di bawah ini uraian dari analisis-analisis
dilakukan adalah primer dan sekunder. tersebut.
Metode primer merupakan metode dimana
data-data didapatkan secara langsung dari Analisis Geomorfologi
lapangan. Sedangkan, metode sekunder Pada analisis geomorfologi dilakukan
merupakan metode data-data berasal dari metode morfografi, morfometri, dan
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

morfogenesa. Metode morfografi dilakukan yang terdapat didaerah penelitian


dengan melihat kenampakan topografi yang menunjukan arah yang dominan utara-
ada di lapangan serta identifikasi pola selatan.
pengaliran. Didapatkan hasil bahwa Analisis Asosiasi Litologi (Stratigrafi)
Gunungapi purba Ijo memiliki topografi Pada analisis asosiasi litologi dilakukan
perbukitan bergelombang kuat sampai pengamatan pada litologi dan asosiasi
lemah. Metode morfometri dilakukan litologi pada daerah pemetaan. Litologi
dengan perhitungan besar lereng penyusun daerah pemetaan adalah Intrusi
berdasarkan peta topografi, didapatkan Andesit dan perselingan Lava Andesit
bahwa lokasi daerah pemetaan memiliki dengan Breksi Andesit. Pada daerah
slope rata-rata 55o yang membuktikan penelitian didapatkan 3 satuan batuan (lihat
bahwa dearah ini merupakan perbukitan Gambar 6) diantaranya Satuan Intrusi
bergelombang kuat dan 7o membuktikan Andesit, Satuan Breksi Andesit, dan Satuan
bahwa daerah pemetaan merupakan Endapan Campuran. Pada penelitian ini
perbukitan bergelombang lemah (lihat pembahasan dipusatkan pada batuan
Gambar 4). Pada metode analisis gunungapi yaitu Satuan Intrusi Andesit dan
morfogenesa, ditinjau dari asal Breksi Andesit. Pada lokasi penelitian
pembentukan batuan dimana litologi dijumpai intrusi Andesit dan perulangan
penyusun dominan daerah penelitian lava andesit dengan Breksi Andesit (lihat
dominan tersusun batuan gunungapi seperti Tabel 2) mencirikan bahwa daerah tersebut
Intrusi Andesit, Breksi Andesit dan Lava merupakan daerah gunung api pada
Andesit. Pada pembagian satuan geomorfik dulunya dimana asosiasi tersebut
daerah penelitian terbagi atas 2 satuan merupakan penciri fasies gunungapi (lihat
geomorfik yaitu satuan geomorfik fluvial Gambar 7). Dari asosiasi litologi yang
dan vulkanik. Dari satuan tersebut terbagi didapatkan dapat dihubungkan dengan
lagi menjadi 2 subsatuan geomorfik klasifikasi fasies gunung api menurut Bogie
diantaranya subsatuan Perbukitan Vulkanik & Mackenzie, 1998, bahwa daerah
Terdenudasi dan Dataran Fluvial, modifikasi penelitian termasuk fasies sentral bawah
Zuidam, 1983, yang terlihat pada peta proksimal (lihat Gambar 8).
Geomorfologi (lihat Gambar 5).
Analisis Paleocurrent
Analisis Struktur Geologi Analisis aruspurba adalah suatu teknik yang
Pada analisis struktur yang dilakukan pada digunakan untuk mengetahui arah aliran
daerah pemetaan, dilakukan dengan dari aruspurba. Dari hasil pengukuran (lihat
pengukuran bidang sesar dan cermin sesar Tabel 3) yang dilakukan di beberapa titik
yang terdapat pada tebing sungai. Pada pada daerah penelitian pada litologi Breksi
daerah pemetaan didapatkan 2 sesar utama Andesit didapatkan didapatkan arah umum
didaerah penelitian, diantaranya sesar aliran fragmen yaitu N 125 E Baratlaut
mendatar kiri Grumbang dan sesar Tenggara pada litologi Breksi Andesit dan N
mendatar kiri Kamal. Struktur geologi yang 205 E Timurlaut Baratdaya pada litologi
dominan di daerah penelitian yang tampak Breksi Polimik.
adalah berupa kekar dan sesar. Dalam
analisis data sesar dengan menggunakan Analisis Petrografi
aplikasi Win-Tensor (Delvaux dan Sperner, Berikut hasil analisis sayatan petrografi dari
2003) yang didapatkan sesar dengan nilai daerah penelitian:
bidang sesar N 28o E/67o dan rake 16o 1. Sampel sayatan tipis 1 (lihat Gambar 9)
dengan nama sesar Normal Sinistral Fault. menunjukkan batuan beku Andesit yang
Kemudian sesar dengan nilai bidang sesar N telah teralterasi propilitik intensitas
170o E/61o dan rake 18o dengan nama sesar sedang, berwarna abu-abu kehijauan
Normal Sinistral Fault (lihat Tabel 1). Sesar
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

kecoklatan, bertekstur porfiritik dengan dijumpai di bagian utara daerah penelitian


kenampakan mineral plagioklas pada telah mengalami proses alterasi dari
fenokris dan massa dasar, bentuk intensitas lemah sampai kuat dan semakin
subhedral-anhedral, Komposisi batuan ke selatan intensitas alterasi semakin tidak
tersusun oleh mineral plagioklas (45%), nampak. Hal ini ditunjukkan dari
piroksen (2%), karbonat (15%), silika kenampakan megaskopis dan mikroskopis
(10%), serisit (9%), klorit (1%), mineral batuan dengan mulai terubahnya plagioklas
opak (3%) dan gelas (15%). menjadi mineral mineral karbonat dan
2. Sampel sayatan tipis 2 (lihat Gambar 10) serisit serta piroksen yang terubah menjadi
menunjukkan Lava Andesit teralterasi klorit sehingga nampak berwarna kehijauan.
propilitik intensitas sedang, berwarna Kehadiran urat-urat kuarsa dan mineral
abu-abu, kehijauan-kecoklatan, sulfida seperti Pirit juga menandai adanya
bertekstur trakitik, bentuk subhedral- pengaruh fluida hidrotermal yang
anhedral. Komposisi batuan tersusun mengontrol sehingga menghasilkan adanya
oleh mineral plagioklas (55%), piroksen alterasi yang berkembang pada daerah
(2%), karbonat (15%), silika (5%), serisit tersebut. Sehingga dari parameter-
(4%), klorit (1%), mineral opak (3%) dan parameter tadi diidentifikasi bahwa
gelas (15%). semakin ke utara daerah penelitian semakin
Dari analisis sayatan petrografi mendekati dengan fasies pusat gunung api
menunjukkan bahwa pada daerah purba. Perlu dilakukan penelitian lebih
penelitian sebagian batuannya telah lanjut mengenai persebaran alterasi dan
mengalami proses alterasi yang cukup analisis geokimia pada daerah penelitian
intens ditunjukkan dengan mulai adanya guna mengetahui luasan daerah dari fasies
suksesi mineral plagioklas ke mineral gunung api pada Gunung Ijo.
karbonat dan sebagian menjadi Serisit serta
mineral piroksen menjadi mineral Klorit. VI. KESIMPULAN
Kehadiran mineral Serisit menunjukkan Daerah Pripih, Kecamatan Kokap,
bahwa sebagian batuan yang menyusun Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa
daerah penelitian terbentuk sebagai batuan Yogyakarta merupakan fasies sentral bawah
beku hypabisal / subvolcanic intrusion. proksimal dari Gunung Ijo. Berdasarkan
pendekatan geomorfologi didapatkan
V. DISKUSI bahwa topografi yang tampak pada daerah
Indonesia memiliki iklim tropis dimana penelitian adalah morfologi perbukitan
pelapukan terjadi secara intensif, hal ini bergelombang kuat sampai lemah dengan
menyebabkan gunung api purba seperti slope rata-rata 55 sampai 7 serta bentuk
Gunung Ijo sudah tidak memiliki bentang pola penyaluran adalah radial dengan
alam berupa tinggian dan tidak memiliki penyusun batuan merupakan batuan beku
bentuk kerucut sehingga diperlukan vulkanik yang sudah dipengaruhi oleh
ketelitian dalam melakukan penelitian studi pelapukan yang intensif yaitu pelapukan
fasies. Konsep dasar pemahaman dalam biologi serta adanya erosi.
vulkanologi sangatlah membantu dalam Dari hasil analisis struktur yang berkembang
menentukan ciri-ciri dari fasies gunung api pada daerah pemetaan adalah sesar
tersebut. Struktur geologi yang berkembang mendatar kiri Grumbang dan sesar
di daerah penelitian berkembang sesar- mendatar kiri Kamal. Kemudian analisis
sesar miring/mendatar yang berarah relatif berdasarkan pendekatan asosiasi litologi
utara-selatan dengan pergerakan sesar menyatakan bahwa litologi di daerah
mendatar kiri turun. Tetapi, pada umumnya pemetaan merupakan litologi penciri fasies
yang dikemukakan (Bronto, S. 2013) bahwa gunung api yaitu fasies sentral bawah-
umumnya sesar yang berkembang di daerah proksimal. Penciri litologi pada fasies sentral
pusat adalah sesar turun akibat deflasi dan adalah adanya Intrusi dan Lava Andesit yang
gravitasi dan sesar-sesar miring hingga sudah teralterasi karena pengaruh fluida
geser pada daerah proksimal. Litologi yang hidrotermal. Penciri litologi pada fasies
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

proksimal adalah adanya perselingan Lava galian C (Pasir dan Batu) dan potensi
dan Breksi Andesit. Analisis paleocurrent mineralisasi.
didapatkan dua arah umum yaitu Baratlaut
Tenggara dengan litologi Breksi Andesit dan VII. ACKNOWLEDGEMENT
Timurlaut Baratdaya dengan litologi Breksi
Terima kasih penulis ucapkan kepada
Polimix. Kemudian analisis petrografi
Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi
menunjukkan jenis batuan Lava Andesit
yang telah mengalami alterasi intensif GAIA, Dosen-dosen Jurusan Teknik
ditunjukkan dengan adanya suksesi mineral Geologi Fakultas Teknologi Mineral Institut
plagioklas ke mineral karbonat. Selain itu, Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta,
terdapat potensi sumber daya geologi yang MBC Consulting dan siapapun yang telah
ada pada daerah penilitian yaitu bahan membantu penelitian dan penulisan paper
ini.

DAFTAR PUSTAKA
Bemmelen, R.W Van. 1949. The Geology of Indonesia Vol. IA, Martinus Nijhoff. Belanda.
Bogie, I. dan Mackenzie, K.M., 1998. The application of a volcanic facies models to an andesitic
stratovolcano hosted geothermal system at Wayang Windu, Java, Indonesia. Proceedings of
20th NZ Geothermal Workshop, h.265-276.
Bronto, S., 2013. Geologi Gunung Api Purba. Badan Geologi, Bandung.
Bronto, S., 2006. Fasies Gunung Api dan Aplikasi. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 2: 59-71,
Bandung.
Delvaux, D. dan Sperner, B., 2003. Stress Tensor Inversion from Fault Kinematic Indicators and Focal
Mechanism Data: the TENSOR program.In: New Insight into Structural Interpretation and
Modelling (D. Nieuwland Ed.), Geological Society, London, Special Publication, 212:75-100.
Mulyaningsih, S., 2013. Vulkanologi. AKPRIND PRESS, Yogyakarta.
Purnamaningsih, S. dan Pringgoprawiro, H. 1981, Stratigraphy and planktonic foraminifera of the
Eocene-Oligocene Nanggulan Formation, Central Java, Geol.Res.Dev.Centre Pal.Ser.
Bandung,Indonesia, No. 1, 9-28.
Prasetyadi, C., 2008. Evolusi Tektonik Paleogen Jawa Timur. Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Pringgoprawiro H. 1969, On the age of the Sentolo Formation based on planctonic foraminifera,
Bandung Inst.Technology, Dept.Geol.Contr., No. 64, 5-21.
Pringgoprawiro,H. dan Riyanto, B. 1988, Formasi Andesit Tua suatu Revisi, Bandung Inst.Technologi,
Dept.Geol.Contr., 1-29.
Rahardjo,W., Rumidi S. dan Rosidi H.M.D. 1977, Geological map of the Yogyakarta Quadrangle, Java,
skala 1 : 100.000, Geological Survey of Indonesia, 1-15.
Zuidam, R.W Van. 1983. Guide to Geomorphologic Aeral Photographic Interpretastion and Mapping,
Section of Geology and Geomorphology, ITC, Enschede, The Netherlands.
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

TABEL

Tabel 1. Analisis Sesar didaerah penelitian dengan aplikasi Win-Tensor (Delvaux dan Sperner, 2003)

Tabel 2. Stratigrafi Daerah Penelitian


PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

Tabel 3. Analisis Paleocurrent

GAMBAR

Gambar 1. Diagram Lokasi Penelitian (Modifikasi Google Map)


PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 2. Peta Geologi Regional Lembar Yogyakarta (Modifikasi Rahardjo,1977)

Gambar 3. Peta Lokasi Pengamatan dan Pengambilan Data Geologi


PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 4. Kenampakan Morofologi Daerah Penelitian

Gambar 5. Peta Geomorfologi Daerah Penelitian


PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 6. Peta Geolologi Daerah Penelitian

Gambar 7. Fasies Gunung Api Purba Daerah Penelitian (Modifikasi Bogie & Mackenzie, 1998)
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 8. Peta Fasies Gunung Api Purba Daerah Penelitian (Modifikasi Bogie & Mackenzie, 1998)

Gambar 9. Sayatan Petrografi Litologi Andesit Pada Koordinat 396.692mT 913.2392mU.


PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-9
PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
6 - 7 OKTOBER 2016; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 10. Sayatan Petrografi Litologi Andesit Pada Koordinat 396.647mT 913.2559mU

Gambar 11. Potensi Bahan Galian di Daerah Pripih, Kokap, Kulon Progo.