Anda di halaman 1dari 34

SISTEM KEAMANAN BANGUNAN

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
UTILITAS
Yang dibina oleh Bapak Dr. Mujiyono, M.Pd.

Oleh:
Wiwin Setyorini 130522506279
Pandu Anom 130522506270
Ricky Bagus B. 130522506267
Syarif Hidayatullah 130522506277

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
PROGRAM D3 TEKNIK SIPIL DAN BANGUNAN OFF B
September 2014
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah membimbing kami menyelesaikan
makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan dan petunjuk-Nya,
penyusun tidak akan menyelesaikan makalah ini dengan penuh kelancaran.
Makalah ini kami susun untuk memudahkan pembaca untuk memahami
Sistem Keamanan Bangunan. Tidak lupa kami menyampaikan ucapan terima
kasih untuk dosen pembimbing kami yang bersedia mengarahkan kami untuk
menyelesaikan makalah ini. Semoga pengetahuan yang sederhana ini bisa
membantu para pembaca dalam memahami Sistem Keamanan Bangunan.
Kami menyadari kekurangan dalam penyusunan makalah ini, kami
mengharapkan kritik dan saran para pembaca. Atas segala perhatian kami ucapkan
terima kasih.

Malang, 23 September 2014

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Judul..........................................................................................................i
Kata Pengantar.........................................................................................................ii
Daftar Isi.................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................1
C. Tujuan Penulisan..........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. CCTV
1. Pengertian CCTV...................................................................................3
2. Jenis-jenis kamera CCTV......................................................................6
3. Prinsip Kerja Pada Kamera CCTV........................................................8
4. CCTV Difungsikan sebagai Sensor Posisi atau Sensor Jarak ...............9
5. Penempatan Kamera...............................................................................9
B. Tangga
1. Pengertian Tangga................................................................................10
2. Bagian-bagian Tangga.........................................................................11
3. Jenis-jenis Tangga................................................................................12
4. Bentuk Tangga.....................................................................................14
C. Sistem Alarm Pada Bangunan
1. Pengertian Sistem Alarm......................................................................15
D. Penanggulangan Kebakaran pada Bangunan
1. Pengertian Kebakaran..........................................................................18
2. Sistem Deteksi dan Tanda Bahaya Kebakaran....................................19
3. Sistem Evakuasi Bahaya Kebakaran ..................................................20
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................31
B. Saran...........................................................................................................31
DAFTAR RUJUKAN............................................................................................32
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bangunan merupakan bentuk dari suatu struktur buatan manusia yang terdiri
dari dinding dan atap yang didirikan secara permanen di suatu tempat. Bangunan
itu sendiri mempunyai sesuatu persyaratan dalam pelaksanaan konstruksi, semua
terjadi tergantung dari fungsi bangunan itu sendiri. Fungsi dari bangunan itu
sendiri dibedakan diantaranya sebagai berikut: 1. Bangunan umum, 2. Bangunan
pribadi, 3. Bangunan pemerintahan, 4. Bangunan swasta, 5. Perkantoran, dan lain
sebagainya. Dari fungsi bangunan yang berbeda itu, memungkinkan terjadinya
metode bangunan yang berbeda.
Bangunan yang baik adalah bangunan yang mempunyai sistem keamanan
yang baik. Sistem keamanan itu sendiri merupakan salah satu persyaratan dari
pendirian bangunan, cara dan alat-alat buatan manusia berdasarkan perkembangan
teknologi yang berguna untuk membantu manusia dalam kondisi kritis untuk
menjaga keamanan pada bangunan. Hal ini dilakukan untuk menghindari
terjadinya kecelakan-kecelakan pada suatu bangunan, selain sistem ini dilakukan
untuk menjauhkan dari orang-orang yang tidak baik. Sistem keamanan yang akan
dibahas dalam makalah ini mengenai CCTV, Tangga Darurat, Sistem Alarm, dan
Penanggulangan jika terjadi kebakaran.

B. Rumusan Masalah
Dari paparan pendahuluan diatas, penulis mengambil sebuah judul
SISTEM KEAMANAN BANGUNAN. Maka penulis mengemukakan pokok
pembahasan sebagai berikut.Apa yang dimaksud dengan sistem keamanan
bangunan?
1. Apa saja yang termasuk dalam sistem keamanan bangunan?
2. Pengertian CCTV?
3. Jenis-jenis CCTV?
4. Prinsip kerja CCTV?
5. Bagaimana CCTV difungsikan sebagai sensor posisi atau sensor jarak?
6. Bagaimana dengan penempatan CCTV?
7. Pengertian tangga?
8. Bagian-bagian tangga?
9. Jenis-jenis tangga?
10. Bentuk tangga?
11. Pengertian sistem alarm?
12. Pengertian kebakaran?
13. Bagaimana dengan sistem deteksi dan tanda bahaya kebakaran?
14. Bagaimana dengan sistem evakuasi bahaya kebakaran?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut.
1. Memahami sistem keamanan bangunan;
2. Mengetahui bagian-bagian sistem keamanan bangunan;
3. Mampu menjelaskan Pengertian CCTV;
4. Menegetahui jenis-jenis CCTV;
5. Mengetahui bagaimana prinsip kerja CCTV;
6. Mengetahui sistem kerja CCTV yang difungsikan sebagai sensor posisi atau
sensor jarak;
7. Mengetahui cara penempatan CCTV;
8. Mampu menjelaskan pengertian tangga;
9. Mampu menjelaskan bagian-bagian tangga;
10. Mengetahui jenis-jenis tangga;
11. Mengetahui bentuk tangga;
12. Mampu menjelaskan pengertian sistem alarm;
13. Mampu menjelaskan pengertian kebakaran;
14. Mengetahui bagaimana;sistem deteksi dan tanda bahaya kebakaran;
15. Mengetahui bagaimana dengan sistem evakuasi bahaya kebakaran.
BAB II
PEMBAHASAN

A. CCTV
1. Pengertian Umum CCTV
CCTV (Closed Circuit Television) adalah perangkat digital (camera) yang
difungsikan untuk memantau dan mengawasi serta merekam suatu keadaan/
kegiatan pada satu ataupun beberapa tempat. CCTV pada dasarnya digunakan
untuk kebutuhan akan keamanan atau informasi terhadap suatu keadaan/ kegiatan
dalam suatu wilayah, ruangan, dan tempat-tempat yang diinginkan.
CCTV pertama kali dibuat oleh Walter Brunch, dan diisntal di sebuah area
peluncuran roket di Jerman. Oleh karena peluncuran tersebut dirasa berbahaya,
dan banyak orang yang ingin menyaksikannya, maka dibuatlah CCTV sehingga
dapat digambarkan secara detail mengenai peluncurannya. Teknologi CCTV
masih digunakan untuk melihat peluncuran roket, namun meluas fungsinya ke
keamanan bank, institusi militer dan tempat lain yang membutuhkan pengamanan
yang tinggi. Di tahun 1990 dan 2000, camera CCTV muali dipakai di area public,
seperti di sudut jalan di negara Inggris. Kualitas gambar yang diambil camera
CCTV berupa image crystal bening high-definition. CCTV untuk masa depan
juga dapat digunakan untuk membaca signature dan implementasi pemandangan
tengah malam (night-vision). Ketika CCTV mendeteksi adanya gerakan, maka
email akan dapat dikirimkan ke alamat yang dituju, memperingatkan pemilik
email akan keadaan bahaya. Adapun perlengkapan-perlengkapan CCTV, antara
lain sebagai berikut.
a. DVR (Digital Video Recorder) adalah sebuah media penyimpan hasil
rekaman video yang telah terpantau oleh kamera CCTV. Kapasitas penyimpanan
hasil rekaman tergantung pada harddisk yang terpasang . Hasil rekaman video
tersebut ada yang berformat QCIF, MPEG-4 dan avi. Dan biasanya input DVR
terdiri dari 4, 8, 16 dan 32 channel kamera.
b. Kabel Coaxial (RG-59, RG-6 dan RG-11) merupakan sebuah jenis kabel yang
biasa digunakan untuk mengirimkan sinyal video dari kamera CCTV ke monitor.
c. BNC (Bayonet Neill Concelman) connector, Tipe konektor RF yang pada
umumnya dipasang pada ujung kabel coaxial, sebagai penghubung kamera CCTV
dengan alat perekam (DVR) maupun secara langsung ke monitor CCTV.
d. Monitor untuk menampilkan keseluruhan gambar dari kamera sesuai inputan
DVR .

Gambar 1. Komponen CCTV

Gambar 2. Cara Kerja CCTV


Jika Anda pun ingin memasang perangkat ini, hal pertama yang harus ditilik
adalah menyesuaikannya dengan kebutuhan. Kamera CCTV bisa diletakkan
dalam maupun di luar rumah.

Gambar 3. CCTV Luar Ruangan


Untuk kamera luar ruangan, biasanya telah didesain agar lebih tahan cuaca
dan mampu menjangkau area yang lebih luas, dengan deteksi gerak yang lebih
akurat. Sementara kamera untuk dalam ruang, umumnya memiliki desain yang
lebih cantik agar tetap bisa berpadu apik dengan interior rumah.
Berikutnya, perhatikanlah sentifitas cahaya kamera, yang berpengaruh pada
kualitas gambar yang akan dihasilkan. Tentu saja, kualitas gambar ini, juga
tergantung dari tingginya resolusi yang dimiliki. Hal lain yang tidak kalah penting
untuk diperhatikan adalah menilik fitur pelengkap dari sebuah kamera CCTV.
Antara lain menilik kemampuan kamera untuk melakukan perubahan gerakan ke
arah kiri atau ke arah kanan (pan) dan gerakan ke atas atau ke bawah (tilp),
kemampuan zooming kamera untuk menangkap suatu obyek secara lebih detail,
ataupun warna gambar rekaman, hitam putih atau berwarna. Gambar hitam putih
pada umumnya lebih mampu mengkap gambar secara lebih tajam pada ruangan
yang memiliki penerangan minim. Namun, gambar berwarna kini juga ada yang
telah dilengkapi fitur untuk mengubah warna gambar untuk menjadi hitam putih.
Tentu saja, kelengkapan fitur yang dipilh sebaiknya disesuaikan dengan budget
yang tersedia.
Komponen kamera akan menangkap obyek gambar yang akan
ditransformasikan menjadi sinyal-sinyal elektronik, dan selanjutnya sinyal-sinyal
tersebut akan dikonversikan dari format analog menjadi format digital dan
ditransfer melalui sebuah komputer dan dikompresi untuk selanjutnya dikirim
melalui jaringan. Untuk sistem kamera CCTV surveillance yang digunakan di
lokasi tertentu misalnya dalam satu gedung, biasanya akan cukup mudah bagi kita
semua bila ingin menambah jumlah kamera yang dipasang tetapi kadang-kadang
untuk dapat melihat tampilan gambar dari setiap kamera yang ada menjadi
permasalahan tersendiri, karena sistem jaringan yang ada di gedung tersebut
kurang mendukung. Seharusnya bila gedung tersebut sudah dilengkapi dengan
sistem jaringan yang baik, berapapun penambahan jumlah kamera serta darimana
saja kita akan melihat tampilan gambar dari setiap kamera tidak akan menjadi
masalah.
Umumnya kualitas tampilan gambar yang kurang bagus juga karena
dipengaruhi pencahayaan yang tidak mencukupi atau sangat kurang yang akan
mengakibatkan warna yang muncul terlihat membosankan dan kabur. Ukuran
yang digunakan dalam dalam pencahayaan ini adalah Lux, misalnya sinar
matahari yang terang memiliki ukuran 100.000 Lux, sinar lilin hanya 1 lux. Untuk
mendapatkan kualitas gambar yang bagus biasanya dibutuhkan sekitar 200 lux.
2. Jenis-jenis Kamera CCTV
Adapun jenis-jenis kamera CCTV antara lain adalah sebagai berikut.
a. Box Kamera CCTV
Jenis kamera ini baik untuk digunakan untuk pengamatan jarak jauh dan
ditempatkan pada bidang vertikl. Untuk keadaan dimana cahaya yang minim tidak
terlalu menjadi pertimbangan. Bila kamera ini dipasang masih dalam jangkauan
tangan, lebih baik ditembahkan tempat untuk pelindung kamera tersebut. Kamera
jenis ini dapat digabungkan dengan alat tambahan yang mendukung teknologi
infra merah dengan (lensa kamera CCTV yang digunakan juga harus sensitif
terhadap sinar infra merah).

Gambar 4. Box Kamera CCTV


b. Dome Kamera CCTV
Dome kamera ini lensa CCTVnya dilindungi oleh kubah, karenanya jenis
kamera ini sulit rusak. Pemasangan model dome relatif lebih mudah. Orang sulit
menebak arah darii kamera karena posisi kamera tertutupi kubah.
Gambar 5. Dome Kamera CCTV
c. Infra Red Kamera CCTV
Infra red kamera ini baik untuk digunakan di tempat yang relatif gelap. Untuk
jauhnya jangkaun yang ditangkap tegntung dari kapasitas pencahayaan yang
dimiliki, yaitu LED yang dimiliki.

Gambar 6. Infra Red Kamaera CCTV


d. Wireless CCTV Kamera
Dikenal dengan IP Kamera, terdiri dari berbagai macam dan ukuran. Ada yang
menggunakan baterai dan tidak. Terkoneksi secara langsung dengan internet,
sehingga anda dapat melihat secara realtime yang anda awasi. Dapat diakses
melalui HP yang mendukung untuk livestream CCTV tersebut.

Gambar 7. Wireless Kamera CCTV


e. Bullet Kamera CCTV
Kamera ini cocok digunakan untuk pengamatan CCTV jarak pendek dan
menengah. CCTV ini memiliki jenis kamera yang terbatas, sehingga
mempengaruhi kualitas gambar yang dihasilkan.

Gambar 8. Bullet Kamera CCTV


f. Convert CCTV Kamera
Kamera CCTV ini dimaksudkan untuk penggunaan yng tersembunyi agar
orang-orang tidak menyadari dengan keberadaan kamera ini.

Gambar 9. Convert CCTV


3. Prinsip Kerja Pada Kamera CCTV
Kamera CCTV, pasti semua orang sudah mengetahui bahkan pernah melihat
kamera CCTV dimana-mana. Kamera CCTV memang sudah sangat banyak di
gunakan sebagai sarana pencegahan tindak kriminalitas yang ampuh maka dari itu
sudah banyak kamera CCTV yang di pasang di kantor, rumah, toko dan
sebagainya. Tidak hanya untuk tempat tapi kamera CCTV juga telah di gunakan
sebagai pemantau aktivitas lalu lintas dengan menempatkan kamera CCTV di
titik-titik pusat jalan perkotaan dan juga ada fasilitas kamera CCTV Online yang
dapat Anda cek hasil rekamanannya secara online. Meskipun kamera CCTV
sudah terpasang dimana-mana, sayangnya masih sedikit orang yang mengetahui
bagaimana cara kerja CCTV dan tetap saja masih ada orang yang belum
mengetahui apa itu CCTV. Sebenarnya cara kerja kamera CCTV tidaklah terlalu
berbeda dengan kamera video lainnya, yaitu bertugas sebagai alat perekam suatu
kejadian atau suatu aktivitas pada waktu dan tempat tertentu. Namun yang
menjadi pembeda cara kerja cctv dengan cara kerja kamera biasa yaitu:
a. Kamera CCTV dapat merekam Secara Otomatis
Kamera CCTV dapat merekam segala kegiatan atau aktivitas secara otomatis
dengan cara kerja yang dapat di atur pada pengaturan system CCTV terlebih
dahulu. Kamera CCTV akan selalu melakukan aktivitas perekaman selama
persediaan kapasitas media penyimpanan pada DVR CCTV masih tersedia.
b. Kamera CCTV sebagai Alat Pencegah Keamanan
yang membedakan cara kerja CCTV dengan cara kerja kamera biasa yaitu
kamera CCTV lebih di fungsikan sebagai kamera pengamanan karena beberapa
kamera CCTV dapat tersembunyi dengan baik sebagai alat pengintai yang cocok
di gunakan sebagai kamera pengaman.
4. CCTV difungsikan sebagai sensor posisi atau sensor jarak.
Adapun fungsi lain CCTV yakni sebagai sensor posisi atau sensor jarak,
syarat-syaratnya adalah sebagai berikut:
a. Akusisi Citra
Dalam proses akusisi citra dikenal dengan trigger (picu), frame, log, start dan
stop. Start adalah mulai gambar atau kamera berjalan dalam display, untuk ini
hanya memerlukan monitor. Trigger adalah picu saat kapan frame mulai masuk
kedalam memori. Frame masuk ke dalam memori bisa disetting. Trigger ini bisa
diatur pengulangan picu dalam video stream. Log adalah banyaknya frame yang
masuk dalam memori.
b. Pengolahan gambar Morphologi
Morpologi adalah satu teknik pengolahan citra yang berdasakan pada bentuk
obyek. Nilai dari tiap piksel pada citra keluaran berasal dari operasi perbandingan
suatu piksel dengan piksel-piksel disekitarnya (neighbors) pada citra masukan.
Operasi perbandingan ini bergantung pada suatu struktur elemen. Struktur elemen
adalah matrik yang digunakan untuk memberikan suatu tanda pada piksel-piksel
di sekitar piksel asal (origin) dengan suatu bentuk dan ukuran tertentu. Matrik ini
mempunyai bentuk dan ukuran yang bebas dan mempunyai nilai 1 dan 0. Operasi
morphologi dapat dibagi menjadi dua operasi dasar, yaitu Erosi dan Dilasi.
c. Segmentasi
Segmentasi adalah suatu proses untuk memisahkan sejumlah objek dalam
suatu citra dari latar belakangnya. Proses segmentasi dapat dilakukan dengan
menggunakan dua buah pendekatan sebagai berikut :
Metode berdasarkan tepi (edgebased)
Metode ini berbasiskan perbedaan atau perubahan mendadak nilai intensitas suatu
piksel terhadap piksel tetangganya.
Metode berdasarkan daerah (region-based)
Metode ini berbasiskan kesamaan nilai suatu piksel terhadap piksel tetangganya.
akan pada citra biner.
5. Penempatan Kamera CCTV
Hal lain yang membedakan cara kerja kamera CCTV dengan cara kerja
kamera video pada umumnya adalah penempatan kamera CCTV yang dipasang di
tembok, atas plafon atau tempat strategis lainnya yang diperhitungkan dapat
merekam suatu peristiwa atau kejadian di tempat tersebut dengan jangkauan lebih
luas.
B. Tangga
1. Pengertian Tangga
Tangga merupakan konstruksi yang dirancang untuk menghubungkan satu
lantai dengan lantai di atasnya, sehingga berfungsi sebagai jalan untuk naik dan
turun antara lantai tingkat.
Dari segi penggunaan bahan, tangga terbagi atas;
a. Konstruksi tangga kayu, untuk bangunan sederhana dan semi permanen.
Pertimbangan : material kayu ringan, mudah didapat serta menambahkan segi
estetika yang tinggi bila diisi dengan variasi profil dan difinishing dengan rapi.
Kelemahan : tidak dapat dilalui oleh beban-beban yang berat, lebarnya terbatas,
memiliki sifat lentur yang tinggi serta konstruksi tangga kayu tidak cocok
ditempatkan di ruang terbuka karena kayu mudah lapuk jika terkena panas dan
cahaya.
b. Konstruksi tangga baja, biasanya digunakan pada bangunan yang sebagian
besar komponen-komponen strukturnya terdiri dari material baja. Tangga ini
digunakan pada bangunan semi permanen seperti bangunan peruntukan bengkel,
bangunan gudang, dan lain-lain. Tangga ini kurang cocok untuk bangunan dekat
pantai karena pengaruh garam akan mempercepat proses karat begitupun bila
ditempatkan terbuka akan menambah biaya perawatan.
c. Konstruksi tangga beton, sampai sekarang banyak digunakan pada bangunan
bertingkat 2 (dua) atau lebih dan bersifat permanent seperti peruntukan kantor,
rumah tinggal, pertokoan.
d. Konstruksi tangga batu/bata, konstruksi ini mulai jarang digunakan karena
sudah ketinggalan dalam bentuk, kekuatan, efisiensi pembuatannya, dana sangat
terbatas dalam penempatannya. Teknik Keselamatan Departemen Biro Jasa
Pekerja Nasional Kompensasi telah menyiapkan standar berikut sebagai saran
untuk pembangun tangga untuk membantu menghilangkan beberapa penyebab
yang bertanggung jawab untuk banyak kecelakaan.
1) Tangga harus bebas dari goncangan keras.
2) Mudah ditemukan oleh semua orang.
3) Dimensi bordes harus sama dengan atau lebih besar dari lebar tangga antara
pegangan tangan dengan dinding.
4) Semua antride dan optride dalam setiap anak tangga harus sama.
5) Semua tangga harus dilengkapi dengan substansial dan 36 inci pegangan
tangan di ketinggian dari pusat dari tapak yang permanen.
6) Semua pegangan tangan harus memiliki sudut bulat dan permukaan yang
halus dan bebas dari serpihan.
7) Sudut tangga dengan horisontal tidak boleh lebih dari lima puluh derajat dan
tidak kurang dari dua puluh derajat.
8) Anak tangga tidak boleh licin, dan tanpa ada baut, sekrup, atau paku yang
menonjol.
2. Bagian-bagian Tangga
a. Ibu tangga :
Merupakan bagian tangga yang berfungsi mengikat anak tangga. Material
yang digunakan untuk membuat ibu tangga misalnya antara lain, beton bertulang,
kayu, baja, pelat baja, baja profil canal, juga besi.Kombinasi antara ibu tangga dan
anak tangga biasanya untuk bu tangga misalnya, beton bertulang di padukan
dengan anak tangga dari bahan papan kayu, bisa juga keduanya dari bahan baja,
untuk ibu tangga menggunakan profil kanal untuk menopang anak tangga yang
menggunakan pelat baja.
b. Anak Tangga
Merupakan elemen dari tangga yang perlu perhatian cukup penting. Karena
sering dilalui untuk naik turun pengguna, bahan permukaan anak tangga harus
benar-benar aman, nyaman agar terhindar dari kemungkinan kecelakaan seperti
terpeleset karna licin atau terlalu sempit. Anak tangga terdiri dari 2 bagian, yaitu
bagian horizontal (pijakan datar) dan vertical (pijakan untuk langkah naik).
Ukuran lebar anak tangga untuk hunian berkisar antara 20-33 cm. dan untuk
bagian vertical langkah atasnya berkisar antara 15-18 cm. untuk ukuran tangga
darurat biasanya bagian vertical mencapai 20 cm. Ukuran lebar tangga juga
penting diperhatikan, untuk panjang atau lebar tangga pada hunian tempat tinggal
adalah minimal 90 cm. sedangkan untuk tangga servis biasanya lebih kecil, yaitu
75 cm.
c. Railing
Merupakan pegangan dari tangga. Material yang bisa digunakan bermacam
jenis nya. Misalnya menggunakan pegangan dari bahan kayu, besi hollow bulat,
baja, dll. Terkadang saya juga sering jumpai tangga yang tanpa railing, dan ini
penting untuk diperhatikan, misalnya menjaga anak-anak yang ingin menaiki
tangga, jangan sampai terjatuh karena tidak ada railingnya. Ukuran pegangan
railing tangga dengan ukuran diameter 3,8 cm merupakan ukuran yang bisa
mengakomodasi sebagian besar ukuran tangan manusia. Untuk kenyamanan
pegangan tangga, perlu diperhatikan juga jarak antara railing pegangan tangga
dengan jarak tembok, jarak 5 cm saya rasa sudah cukup.
d. Bordes
Bordes biasa juga disebut Landing. Merupakan bagian dari tangga sebagai
tempat beristirahat menuju arah tangga berikutnya. Bordes juga berfungsi sebagai
pengubah arah tangga. Umumnya, keberadaan bordes setelah anak tangga ke 15.
Kenyamanan bordes juga perlu diperhatikan, untuk lebarnya harus diusahakan
sama dengan lebar tangga.
e. Baluster
Merupakan penyangga pegangan tangga, biasanya bentuknya mengarah
vertical. Material baluster bisa terbuat dari kayu, besi, beton, juga baja. Terkadang
juga saya pernah melihat material baluster menggunakan kaca. Untuk keamanan
dan kenyamanan pengguna tangga, usahakan jarak antar baluster tidak terlalu
jauh, terutama untuk keamanan anak kecil.Untuk ukuran ketinggian baluster,
standarnya kurang lebih antara 90-100 cm.
3. Jenis Tangga
a. Tangga Utama
Tangga utama berfungsi untuk sirkulasi orang berjalan kaki serta ke lintasan
utama pada bangunan gedung antar lantai tingkat dalam kondisi keseharian karena
menjadi sirkulasi utama maka pada tangga utama harus memenuhi persyaratan
kenyamanan pemakaian untuk naik maupun turun yang tidak melelahkan dan
membahayakan pemakainya.
Syarat tangga utama :
1) Letak tangga berada pada sirkulasi utama bangunan, mudah dilihat dan
dijangkau dari pintu masuk bangunan dan mempunyai penerangan yang cukup
baik dari alam maupun buatan.
2) Mempunyai penerangan yang cukup khususnya buatan.
3) Memenuhi persyaratan kenyamanan pemakain, misalnya;
Sudut kemiringan tangga 28-35
Jumlah anak tangga sampai bordes maksimal 12 trap
Tinggi trap anak tangga maksimal 19 cm
Lebar bordses = lebar ruang tangga
Perbandingan antrede : optrede memenuhi rumus (a + 2.O = 62 cm s/d 65
cm)
Perhitungan jumlah anak tangga : [2(n + 1) = t/O]
Perhitungan lebar bordes ; [P = (a x n) + b]
Harus dicek ; (b = l)
b. Tangga Darurat
Tangga darurat adalah tangga yang digunakan untuk mengevakuasi atau
menyelamatkan penghuni gedung dari pengaruh bahaya. Seperti kebakaran dan
gempa bumi.
Syarat tangga darurat :
1) Letaknya berhubungan dengan dinding luar bangunan dan mempunyai pintu
akses keluar gedung.
2) Dilengkapi dengan pintu dari bahan tahan api sekurang-kurangnya selama 3
jam.
3) Pada bagian bordes dilengkapi jendela kaca yang bisa dibuka dari luar untuk
penyelamatan penghuni.
4) Dilengkapi cerobong pengisap asap di samping pintu masuk.
5) Pada tangga darurat harus dilengkapi dengan lampu peneragnan dengan
supply baterai darurat.
Selain itu ada persyaratan lain yangharus diterapkan pad suatu bangunan.
Tangga kebakaran mempunyai beberapa persyaratan, yaitu :
1) tangga terbuat dari konstruksi beton atau baja yang mempunyai ketahanan
kebakaran selama 3 jam.
2) tangga dipisahkan dari ruangan-ruangan lain dengan dinding beton yang
tebalnya minimum 15 cm atau tebal tembok 30 cm yang mempunyai ketahanan
kebakaran selama 2 jam.
3) bahan-bahan finishing, seperti lantai dari bahan yang tidak mudah terbakar
dan tidak licin.
4) pintu tangga terbuat dari bahan yang tahan kebakar (pintu tahan api)
5) pintu paling atas membuka ke arah luar (atap bangunan) dan semua pintu
lainnya membuka ke arah ruangan tangga, kecuali pintu paling bawah membuka
ke luar dan langsung berhubungan dengan ruangan luar. supaya asap kebakaran
tidak masuk ke dalam ruangan tangga, maka di depan tangga dipasang exhaust
fan, sedangkan pada ruangan tangga dipasang pressure fan yang berfungsi
menekan atau memberi tekanan di dalam ruangan tangga yang lebih besar
daripada tekanan pada ruangan luar. Pada gedung yang menjadi objek pengamatan
kami exhaust fan dan pressure fan dapat kita lihat pada gambar potongan gedung.
6) di dalam dan di depan tangga diberi alat penerangan sebagai petunjuk arah ke
tangga dengan daya otomatis/emergency.
4. Bentuk Tangga
a. Tangga Lurus MODEL I
Tangga ini sering juga disebut atau dikenal dengan nama One Wall Stair.
Tangga ini menerus dari bawah ke atas tanpa adanya belokan. Tapi terkadang ada
juga yang berisi bordes atau tempat istirahat sementara.Tangga jenis ini sangat
banyak memerlukan lahan dan cocok untuk rumah yang luas. Selain itu bagian
yang berada dibawah tangga bisa dimanfaatkan menjadi ruangan tertentu.
b. Tangga Berbelok Arah - Model
Disebut dengan Tangga Model L karena tangga ini berbentuk seperti huruf L
yang pada bagian tertentu berbelok arah.Tangga Jenis ini banyak digunakan pada
hunian minmalis modern karena hemat tempat dan pas.
c. Tangga Berbalik Arah - Model U
Tangga paling umum digunakan oleh masyarakat kita. Hampir sama dengan
tangga model L, hanya saja tangga model ini pada ketinggian tertentu tidak hanya
berbelok arah tapi berbalik arah dari arah datang. Tidak terlalu membutuhkan
ruang seluas tangga model I ataupun U. Sangat umum digunakan di unit-unit
perumahan yang rata-rata tidak terlalu luas. Ruang bawah tangga lebih luas
dibandingkan dengan model I dan L, bahkan bisa digunakan untuk kamar mandi
atau gudang.
d. Tangga Bercabang - Model Y
Adalah tangga yang bercabang. Bentuknya mirip huruf Y dengan bordes
sebagai pusat tangga. Biasanya pada rumah-rumah besar. Tangga jenis ini
memakan ruang yang cukup luas bahkan sangat luas untuk menampilkan kesan
megah dan mewah. Alurnya, naik dari bawah kemudian pada area peralihan atau
bordes, arah tangga berikutnya akan bercabang ke kiri dan kekanan. Biasanya dari
lantai 1 ke lantai 2. Jarang ada yang menggunakan untuk step tangga berikutnya
karena tangga bentuk ini fungsi estetisnya lebih ditonjolkan. Selain dirumahrumah
mewah biasanya dibangun di gedung-gedung penting.
5. Tangga Putar - Model Spiral
Tak memiliki lahan yang luas untuk menempatkan tangga? Gunakan tangga
putar. Tangga putar ini kadang ada yang menyebutnya tangga spiral.Tangga ini
adalah tangga yang paling hemat tempat. Biasanya hanya membutuhkan area
tidak lebih dari 1,5mx1,5m. Sering digunakan sebagai tangga menuju loteng atau
tempat jemuran. Penempatannya kadang-kadang di luar ruangan. Bahan material
pembuat tangga ini biasanya dari besi karena relatif mudah untuk dibuat
melengkung atau spiral. Lebar rata-rata anak tangga horizontal adalah 60 cm.
sedang tinggi injakan anak tangga biasanya lebih tinggi dari tangga lain yaitu rata-
rata 25 cm. Hanya untuk dilewati satu orang. Tangga ini lebih menekankan fungsi
dari pada keindahan meskipun ada juga yang membuatnya tampil menarik.
6. Tangga Melingkar
Bisa jadi inilah tangga yang paling mewah, karena bentuknya yang sangat
artistik karena melengkung dimana lengkungannya menciptakan keindahan ruang.
Biasanya digunakan pada rumah yang luas dan memiliki atap yang tinggi. Jika
memilih mempunyai tangga melingkar, sebaiknya jangan gunakan ruang bawah
tangga untuk fungsi apapun karena bisa mengurangi tampilan tangga. Lebih cocok
untuk model rumah type klasik, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk
yang diterapkan pada rumah minimalis.
C. Sistem Alarm Pada Bangunan
1. Pengertian Sistem Alarm
Sistem alarm pada bangunan dimaksudkan untuk memberikan peringatan dini
pada penghuni bangunan berkaitan dengan hal-hal yang terjadi pada bangunan
seperti kebakaran, getaran gempa (vulkanik atau tektonik), bahaya tsunami, ,
keamanan dan kekuatan elemen struktur. Sistem alarm ini dapat pula
diintegrasikan atau dipisahkan dengan sistem alarm yang menyangkut keamanan
dan kenyamanan penghuninya, seperti ancaman pencurian dan perampokan, teror
dan aksi kejahatan lainnya, radiasi bahan berbahaya (nuklir), dan emisi gas buang.
Penggunaan sistem alarm pada bangunan ini tentunya tidak terbatas hanya
pada bangunan gedung/rumah, tapi juga bangunan yang menyangkut infrastruktur
transportasi seperti jembatan, dan bangunaan infrastruktur keairan seperti dam,
bendungan, tandon dan sebagainya.
Secara umum, sistem alarm terdiri atas 3 unsur yaitu unsur detektor, unsur
sinyal tanda bahaya, dan unsur pengendali. Unsur detektor adalah piranti yang
dapat mendeteksi beberapa isyarat dan tanda yang berkaitan dengan fenomena
yang dideteksi. Misalkan detektor untuk bahaya kebakaran akan mendeteksi
munculnya asap atau panas yang berlebihan dalam ruangan, atau detektor getaran
gempa akan mendeteksi simpangan bangunan yang berlebihan akibat getaran
gempa. Informasi dan peringatan dini yang telah disampaikan sistem alarm ini
diharapkan dapat memberikan reaksi bagi alat pengendali untuk bekerja secara
otomatis atau memberitahu penghuni bangunan untuk mengaktifkan alat
pengendali atau menyelamatkan diri atau meningkatkan kewaspadaan.
Sistem alarm pada bangunan gedung, terutama bangunan-bangunan publik
seperti perkantoran, mall/supermarket, hotel, apartemen, gedung sekolah/kuliah
dan sebagainya, umumnya memasang sistem alarm untuk kebakaran, sistem alarm
keamanan. Sedangkan sistem alaram untuk getaran gempa umumnya dipasang
pada bangunan gedung bertingkat tinggi, dan sistem alarm bahaya banjir biasanya
dipasang pada bangunan-bangunan yang rawan terjadinya genangan banjir.
Pada sistem alarm bahaya kebakaran, apabila detektor asap dan panas yang
berlebih ini memberikan sinyal yang akan diterima oleh panel induk pada ruang
pengendali, dan seketika panel pengendali akan memberikan peringatan berupa
lampu nyala tertentu disertai dengan bunyi sirine atau alarm, dan secara otomatis
akan menyalakan sprinkle yang akan menyemprotkan air di ruangan yang timpul
asap atau panas yang berlebihan. Tentunya dengan peringatan dini ini penghuni
dan petugas pengaman bangunan gedung akan segera melakukan upaya
pemadaman kebakaran dengan peralatan pemadam kebaran yang sudah
terintegrasi dengan bangunan gedung pada lokasi timbulnya api. Bahkan ada pula
sistem alarm kebakaran yang sudah terhubung dengan sistem alarm pada dinas
pemadam kebakaran pada suatu kota. Sehingga, apabila terjadi kebakaran pada
bangunan gedung tersebut maka tim pemadam kebakaran langsung meluncur ke
lokasi. Sedangkan detektor yang digunakan pada sistem alarm terhadap terjadinya
bahaya gempa adalah detektor perpindahan atau simpangan yang ditempatkan
pada beberapa titik sepanjang tinggi gedung. Apabila terjadi getaran gempa, maka
bangunan akan ikut bergetar. Getaran (simpangan) bangunan gedung ini akan
bergantung pada besar kecilnya getaran gempa. Getaran/simpangan bangunan ini
pada setiap bangunan gedung sudah dibatasi sesuai dengan persyaratan bangunan
dan ketinggian bangunan. Bila getaran/simpangan telah mencapai batas untuk
evakuasi, maka alarm akan berbunyi dan proses evakuasi harus segera dilakukan.
Pada sistem alarm untuk pengamanan dari bahaya kejahatan, detektor sistem
keamanan (security system) yang digunakan berupa detektor model sensor yaitu
sensor ultrasonik, sensor gelombang mikro, sensor infra merah dan sensor suara
suara. Masing-masing jenis sensor mempunyai keunggulan. Prinsipnya apabila
ada benda bergerak, maka akan terjadi perubahan panjang gelombang yang
dipancarkan. Sensor ultrasonik dan gelombang mikro termasuk dalam kategori
sensor aktif, dibandingkan sensor infra merah yang hanya menangkap gelombang
infra merah yang dihasilkan oleh tubuh manusia atau benda-benda panas yang
mempunyai radiasi infra merah dan dapat dipasang sampai jarak 30 m.
Penggunaan CCTV (closed circuit television) dan alat detektor logam pun
saat ini telah menjadi bagian dari sistem alarm keamanan pada bangunan gedung.

Gambar 10. (a) sistem alarm (b) perangkat pendukung sistem alarm
D. Penanggulangan Kebakaran
1. Pengertian Kebakaran
Kebakaran adalah bahaya yang diakibatkan oleh adanya ancaman potensial
dan derajat terkena pancaran api sejak dari awal terjadi kebakaran hingga
penjalaran api, asap dan gas yang ditimbulkan. (SNI 03 1736 2000) Adapun
klasifikasi bangunan terhadap kemungkinan bahaya kebakaran menurut dapat
dikelompokan menjadi :
a) Bahaya Kebakaran Ringan
Bangunan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar rendah dan apabila
terjadi kebakaran melepaskan panas rendah, dan kecepatan menjalar api lambat.
b) Bahaya Kebakaran Rendah Kelompok I
Bangunan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar rendah, penimbunan
bahan yang mudah terbakar sedang dengan tinggi tidak lebih dari 2,5 m dan
apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang, kecepatan penjalaran sedang.
Contoh: bangunan yang fungsinya bukan bangunan industri, dan memiliki
ruangan terbesar tidak melebihi 125m.
c) Bahaya Kebakaran Rendah Kelompok II
Bangunan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar sedang, penimbunan
bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 4,00 m dan apabila
terjadi kebakaran melepaskan panas sedang, kecepatan penjalaran sedang.
Contoh: bangunan komersial dan industri yang berisi bahan yang dapat terbakar.
d. Bahaya Kebakaran Rendah Kelompok III
Bangunan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila
terjadi kebakaran, melepaskan panas yang tinggi, sehinnga menjalarnya api cepat.
d) Bahaya Kebakaran Berat
Bangunan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila
terjadi kebakaran, melepaskan panas yang tinggi, sehingga menjalarnya api cepat.
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah bangunan komersil dan bangunan
industri yang berisi bahan-bahan yang mudah terbakar, seperti karet rusak, cat,
spiritus dan bahan bakar lainnya. (Juwana, 2005;134) Sistem pencegahan secara
pasif bertumpu pada rancangan bangunan yang memungkinkan orang keluar dari
bangunan dengan selamat pada saat terjadi kebakaran atau kondisi darurat lainnya.
Berdasarkan SNI 03-1736-2000, Suatu bangunan gedung harus mempunyai
bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu bisa mempertahankan
stabilitas struktur selama terjadi kebakaran, yang sesuai dengan : 1) fungsi
bangunan 2) beban api 3) intensitas kebakaran 4) potensi bahaya kebakaran 5)
ketinggian bangunan 6) kedekatan dengan bangunan lain 7) sistem proteksi aktif
yang terpasang dalam bangunan 8) ukuran kompartemen kebakaran 9) tindakan
petugas pemadam kebakaran 10) elemen bangunan lainnya yang mendukung, dan
11) evakuasi penghuni
2. Sistem Deteksi dan Tanda Bahaya Kebakaran
Bangunan dilengkapi dengan sistem tanda bahaya (alarm system) jika terjadi
kebakaran yang panel induknya berada dalam ruang pengendali kebakaran,
sedang sub-panelnya dapat dipasang disetiap lantai berdekatan dengan kotak
hidran. Pengoperasian tanda bahaya dapat dilakukan secara manual dengan cara
memecahkan kaca tombol saklar tanda kebakaran atau bekeraj secara otomatis,
dimana tanda bahaya kebakaran dihubungkan dengan sistem detektor (detektor
asap atau panas) atau sistem sprinkler.
Ketika detektor berfungsi, hal itu akan terlihat pada monitor yang ada pada
panel utama pengendali kebakaran, dan tanda bahaya dapat dibunyikan secara
manual, atau secara otomatis, di mana pada saat detektor berfungsi terjadi arus
pendek yang akan menyebabkan tanda bahaya tertentu berbunyi. Persyaratan
pemasangan detektor panas :
a. Dipasang pada posisi 15 mm hingga 100 mm di bawah permukaan langit-
langit.
b. Pada satu kelompok sistem ini tidak boleh dipasang lebih dari 40 buah.
c. Untuk setiap luas lanatai 46 m dengan tinggi langit-langit 3,00 meter.
d. Jarak antar detektor tidak lebih dari 7,00 meter untuk ruang aktif, dan tidak
lebih dari 10,00 meter untuk ruang sirkulasi.
e. Jarak detektor dengan dinding minimum 30 cm.
f. Pada ketinggian berbeda, dipasang satu buah detektor untuk setiap 92 m luas
lantai.
g. Dipuncak lekukan atap ruangan tersembunyi, dipasang sebuah detektor untuk
setiap jarak memanjang 9,00 meter.
Persyaratan pemasangan detektor asap :
a. Untuk setiap luas lantai 92 m.
b. Jarak antar detektor maksimum 12,00 meter di dalam ruang aktif dan 18,00
meter untuk ruang sirkulasi.
c. Jarak detektor dengan dinding minimum 6,00 meter untuk ruang aktif dan
12,00 meter untuk ruang sirkulasi.
d. Setiap kelompok sistem dibatasi maksimum 20 buah detektor untuk
melindungi ruangan seluas 2000 m.
Persyaratan pemasangan detektor api :
a. Setiap kelompok dibatasi dibatasi maksimum 20 buah detektor.
b. Detektor yang dipasang di ruang luar harus terbuat dari bahan yang tahan
karat, tahan pengaruh angin dan getaran.
c. Untuk daerah yang sering mengalami sambaran petir, harus dilindungi
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan tanda bahaya palsu.
3. Sistem Evakuasi Bahaya Kebakaran
a. Konstruksi Tahan Api
Konsep konstruksi tahan api terkait pada kemampuan dinding luar, lantai, dan
atap untuk dapat menahan api di dalam bangunan atau kompartemen. Dahulu,
sistem yang mengukur ketahanan terhadap kebakaran dihitung dalam jumlah jam,
dan kandungan bahan struktur tahan api. Namun sekarang, hal ini dianggap tidak
cukup, dan spesifikasi praktis yang digunakan adalah suatu konstruksi yang
mempunyai tingkat kemampuan untuk bertahan terhadap api. Definisi ini
menyatakan beberapa ketentuan yang terkait pada kemampuan struktur untuk
tahan terhadap api tanpa mengalami tanpa mengalami perubahan bentuk
(deformasi) yang berarti, dan mencegah menjalarnya api keseluruh bangunan.
Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api, terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi
(SNI 03 1736 2000), yaitu:
1) Tipe A :
Konstruksi yang unsur struktur pembentuknya tahan api dan mampu menahan
secara struktural terhadap beban bangunan. Pada konstruksi ini terdapat
komponen pemisah pembentuk kompartemen untuk mencegah penjalaran api ke
dan dariruangan bersebelahan dan dinding yang mampu mencegah penjalaran
panas pada dinding bangunan yang bersebelahan.
2) Tipe B :
Konstruksi yang elemen struktur pembentuk kompartemen penahan api
mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam
bangunan, dan dinding luar mampu mencegah penjalaran kebakaran dari luar
bangunan.
3) Tipe C :
Konstruksi yang komponen struktur bangunannya adalah dari bahan yang
dapat terbakar serta tidak dimaksudkan untuk mampu menahan secara struktural
terhadap kebakaran. Dengan demikian, setiap komponen bangunan, dinding,
lantai, kolom, dan balok harus dapat tetap bertahan dan dapat menyelamatkan isi
bangunan, meskipun bangunan dalam keadaan terbakar. Untuk mengetahui lebih
rinci mengenai konstruksi tahan api ini diuraikan dalam SNI 03 1736 2000
tentang Tata Cara Proteksi Pasif Bahaya Kebakaran.
b. Pintu Keluar
Beberapa syarat yang perlu dipenuhi oleh pintu keluar diantaranya adalah:
1) Pintu harus tahan terhadap api sekurang-kurangnya dua jam.
Gambar 11. Pintu Darurat

2) Pintu harus dilengkapi dengan minimal tiga engsel.


3) Pintu juga harus dilengkapi dengan alat penutup pintu otomatis (door closer).
4) Pintu dilengkapi dengan tuas atau tungkai pembuka pintu yang berada di luar
ruang tangga (kecuali tangga yang berada di lantai dasar, berada di dalam ruang
tangga), dan sebaiknya menggunakan tuas pembuka yang memudahkan, terutama
dalam keadaan panik (panic bar).
5) Pintu dilengkapi tanda peringatan: TANGGA DARURAT TUTUP
KEMBALI.
6) Pintu dapat dilengkapi dengan kaca tahan api dengan luas maksimal 1 m2 dan
diletakkan di setengah bagian atas dari daun pintu.
7) Pintu harus dicat dengan warna merah.
c. Koridor dan Jalan Keluar
Koridor dan jalur keluar harus dilengkapi dengan tanda yang menunjukan
arah dan lokasi pintu keluar. Tanda EXIT atau KELUAR dengan anak panah
menunjukkan arah menuju pintu keluar atau tangga kebekaran/darurat, dan harus
ditempatkan pada setiap lokasi di mana pintu keluar terdekat tidak dapat langsung
terlihat.
Gambar 12. Lokasi Tanda Eksit (EXIT)
d. Kompartemen Darurat

Gambar 13. Kompartemen Darurat dan Tangga Kebakaran


Pada bangunan tinggi di mana mengevakuasi seluruh orang dalam gedung
dengan cepat adalah suatu hal yang mustahil, kompartemen dapat menyediakan
penampungan sementara bagi penghuni atau pengguna bangunan untuk menunggu
sampai api dipadamkan atau jalur menuju pintu keluar sudah aman.
e. Evakuasi Darurat
1) Tangga Darurat/Tangga Kebakaran
Pada saat terjadinya kebakaran atau kondisi darurat, terutama pada bangunan
tinggi, tangga kedap api/asap merupakan tempat yang paling aman dan harus
bebas dari gas panas dan beracun. Ruang tangga yang bertekanan (presurized stair
well) diaktifkan secara otomatis pada saat kebakaran. Pengisian ruang tangga
dengan udara segar bertekanan positif akan mencegah menjalarnya asap dari
lokasi yang terbakar ke dalam ruang tangga. Tekanan udara dalam ruang tangga
tidak boleh melampaui batas aman, karena jika tekanan udara dalam ruang tangga
terlalu tinggi, justru menyebabkan pintu tangga sulit/tidak dapat dibuka.

Gambar 14. Penempatan Peralatan Tekanan Udara


Pada gedung yang sangat tinggi perlu ditempatkan beberapa kipas udara
(blower) untuk memastikan bahwa udara segar yang masuk ke dalam ruang
tangga jauh dari kemungkinan masuknya asap. Di samping itu, bangunan yang
sangat tinggi perlu dilengkapi dengan lift kebakaran.
Gambar 15. Tangga Dan Lift Kebakaran
2) Evakuasi Darurat pada Bangunan Tinggi
Suatu sistem yang dikembangkan baru-baru ini di Amerika Serikat
merupakan fasilitas evakuasi sebagai upaya yang terakhir jika orang terperangkap
pada bangunan tinggi. Teknologi ini bergantung pada tahanan udara dinamik.
Pada saat evakuasi darurat, dimana tangga dan lif tidak lagi berfungsi, maka
penghuni/pengguna bangunan akan menggunakan sejenis sabuk pengaman yang
dikaitkan pada gulungan kabel. Begitu gulungan ini terkunci pada sistem inti,
yang merupakan perangkat kipas udara yang kokoh dan diangkur pada bangunan,
maka orang dapat melompat dan mendarat di tanah dengan selamat. Tahanan dari
bilah baling-baling kipas udara akan berputar pada saat gulungan kabel terurai
pada kecepatan di bawah 3,7 meter/detik.

Gambar 16. Sistem Evakuasi Darurat


Evakuasi darurat lain yang dapat digunakan adalah menggunakan semacam
kantong peluncur (chute system) yang ditempatkan pada ruang tangga. Dengan
adanya sistem ini, orang dapat memilih untuk keluar bangunan melalui tangga
darurat atau menggunakan kantor peluncur. Chute system ini dapat digunakan
dengan aman oleh orang cacat untuk mencapai lantai dasar dengan aman dan
cepat.

Gambar 17. Chute System


f. Pengendalian Asap
Asap menjalar akibat perbedaan tekanan yang disebabkan oleh adanya
perbedaan suhu ruangan. Pada bangunan tinggi, perambatan asap juga disebabkan
oleh dampak timbunan asap yang yang mencari jalan keluar dan dapat tersedot
melalui lubang vertikal yang ada, seperti ruang tangga, ruang luncur lift, ruang
saluran vertikal (shaft) atau atrium. Perambatan ini dapat pula terjadi melalui
saluran tata udara yang ada dalam bangunan.
Gambar 18. Tirai Penghalang Asap
Pengalaman menunjukkan bahwa ruang yang luas, seperti pusat perbelanjaan,
mal, bioskop, dan ruang pertemuan/konvensi, berpeluang untuk menghasilkan
asap dan panas pada waktu terjadinya kebakaran. Pada situasi seperti ini, asap
dapat menjalar secara horizontal, menghalangi petugas pemadam kebakaran dan
menyebabkan terjadinya panas lebih awal sebelum api menjalar ke tempat itu.
Asap panas dapat menimbulkan titik api baru dan mengurangi efektivitas sistem
sprinkler. Untuk mencegah terjadinya penjalaran asap secara horizontal, dalm
gedung perlu dipasang tirai penghalang asap. Beberapa media yang dapat
digunakan untuk mengendalikan asap sangat tergantung dari fungsi dan luas
bangunan, di antaranya:
Jendela, pintu, dinding/partisi, dan lain-lain yang dapat di buka sebanding
dengan 10% luas lantai.
Saluran ventilasi udara yang merupakan sistem pengendalian asap otomatis.
Sistem ini dapat berupa bagian dari sistem tata udara atau ventilasi dengan
peralatan mekanis (exhaust fan atau blower).
Gambar 19. Pengendalian Asap Pada Bangunan Tinggi
Ventilasi di atap gedung dapat secara permanen terbuka atau dibuka dengan
alat bantu tertentu atau terbuka secara otomatis.

Gambar 20. Ventilasi Atap Bangunan


Sistem penyedotan asap melalui saluran kipas udara di atas bangunan.
Sebelum tahun 1982, atrium dilarang pada bangunan tinggi, karena atrium
dikuatirkan dapat menjadi cerobong asap bagi penjalaran api dan asap ke seluruh
bangunan. Tetapi sekarang banyak bangunan tinggi mempunyai atrium di
dalamnya. Dengan tambahan persyaratan yang harus diperhatikan, yaitu:
Pintu keluar yang berada pada sekeliling atrium harus menggunakan pintu
tahan api.
Bangunan dengan fungsi hotel, apartemen dan asrama hanya boleh
mempunyai atrium maksimal 110 m dan dilengkapi dengan pintu keluar
yang tidak menuju atrium.
Adanya pemisahan vertikal, sehingga lubang atrium maksimal terbuka
setinggi tiga lantai.
Pemisahan vertikal ini berlaku pula bagi ruang pertemuan dengan kapasitas
300 orang atau lebih dan perkantoran yang berada di bawah apartemen, hotel,
atau asrama.
Mezanin dibuat dengan bahan yang tahan api sekurang-kurangnya dua jam.
Ruangan yang bersebelahan dengan mezanin dibuat dengan bahan tahan api
sekurang-kurangnya satu jam.
Jarak dari lantai dasar ke lantai mezanin sekurang-kurangnya adalah 2,2
meter.
Mezanin tidak boleh terdiri dari dua lantai.
10 % dari luas mezanin dapat ditutup misalnya untuk kamar kecil, ruang
utilitas dan kompartemen).

Gambar 21. Dimensi Minimum Atrium

Ruang mezanin yang tertutup harus mempunyai dua pintu keluar.


Jarak tempuh antar pintu keluar maksimum adalah 35 meter.
Beberapa tipikal tangga yang kedap asap, baik yang menggunakan ventilasi
alamiah maupun ventilasi mekanik.
Gambar 22. Tipikal Tangga Kedap Asap
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sistem keamanan bangunan merupakan sebuah persyaratan yterbuat dari cara
atau alat yang dibuat oleh manusia dengan perkembangan teknologi yang ada
dengan maksut membantu manusia dalam kondisi kritis untuk menjaga keamanan pada
bangunan. Sistem keamanan bangunan sendiri itu ada empat item, diantaranya
adalah sebagai berikut.
1. Kamera CCTV
2. Tangga darurat
3. Sistem alarm
4. Penanggulangan kebakaran
Dengan adanya sistem keamanan bangunan ini diharapkan dapat menciptakan
bangunan yang aman dan tenang bagi penghuni bangunan.

B. Saran
Pembuatan makalah ini ditujukan kepada mahasiswa khususnya jurusan sipil
agar sedikit mengerti mengenai sistem keamanan bangunan. Dengan bekal materi
yang ada dapat memambantu mahasiswa dalam proses perkuliahan.