Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENALAN EKOSISTEM HUTAN

OLEH :

ARTA ELYSA MUNTE

D1D015012

KELAS A

PROGRAM STUDI KEHUTANAN


FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
dan rahmat-Nya lah saya masih diberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga
saya bisa menyelesaikan praktek lapangan yang berjudul Pengenalan Ekosistem
Hutan.

Kegiatan praktikum lapangan ini dilaksanakan 13 hari dengan 2 jalur


dengan lokasi yang sama diantaranya jalur 1 dimulai dari Hutan Pegunungan,
Hutan Dataran Rendah dan Mangrove. Sedangkan jalur 2 dimulai dari Mangrove,
Hutan Dataran Rendah dan Hutan Pegunungan.
Disini saya dapat banyak pelajaran untuk mengenal hutan melalui kegiatan
praktik langsung di lapangan yang meliputi kegiatan analisa vegetasi, observasi
satwa, penanaman dan pembibitan serta mampu mengelola hutan sesuai dengan
perundang-undangan yang berlaku demi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian
hutan melalui kegiatan wawancara, pengamatan tempat wisata. Dalam kegiatan
Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (PEH), mahasiswa kehutanan diajar untuk
dapat saling bekerjasama, baik di lapangan dan dalam pengerjaan data laporan.
Terima kasih kepada para dosen pembimbing jalur 1 bapak Drs. Asrizal
Paiman Malano S.Hut M.Si bapak, Jouhar Khabibi S.Hut,M.Si dan ibu Corry
Wulan S.Hut M.Si yang telah membimbing kami dilapangan selama kegiatan
Pengenalan Ekoisistem Hutan, serta semua teman-teman yang telah bekerja sama
dan kekompakkannya dilapangan.
Laporan ini saya buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengenalan
Ekosistem Hutan (PEH) . Laporan praktek ini masih jauh dari yang namanya
sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat saya
harapkan demi kesempurnaan laporan pengenalan ekosistem hutan ini.

Jambi, 22 Juli 2017

ARTA ELYSA MUNTE


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Negara Indonesia mempunyai kawasan hutan yang luas dan berbagai macam
ekosistem hutan.Ada berbagai macam tipe ekosistem yang terdapat di dalam hutan
Indonesia, antara lain hutan hujan tropika, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan
pegunungan yang lebih tinggi atau temperate rain forest, hutan sub-alpin, hutan
pantai, hutan mangrove, hutan rawa gambut. Hutan yang terdapat di Indonesia
sebagian besar adalah hutan hujan tropis yang komposisinya sangat beragam, baik
jenis kehidupan yang ada di dalamnya maupun jenis interaksi yang terdapat di
dalamnya. Hal tersebut disebabkan karena tipe iklim dan ekosistem di Indonesia di
pengaruhi oleh dua benua dan dua samudera. Oleh karena hal tersebut sehingga
komposisi hutan di Indonesia terpengaruh oleh dua benua, hutan di wilayah bagian
barat Indonesia di pengaruhi oleh benua Asia, sedangkan hutan wilayah timur
Indonesia di pengaruhi oleh benua Australia.
Keanekaragaman spesies ekosistem dan sumberdaya genetik semakin menurun
pada tingkat yang membahayakan akibat kerusakan lingkungan. Kepunahan akibat
beberapa jenis tekanan dan kegiatan terutama kerusakan habitat pada lingkungan
alam yang kaya akan keanekaragaman hayati. Menurut Marsono (1977),vegetasi
merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri atas beberapa jenis yang
hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama
tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun
vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu
sistem yang tumbuh dan hidup serta dinamis (Marsono,1977).
Dalam menentukan langkah pengelolaan yang tepat terhadap suatu kawasan
hutan maka terlebih dahulu pengelolan harus mengetahui karakteristik hutan yang
dikelolanya.Melalui Pengenalan Ekosistem Hutan (PEH) yang diselenggarakan
oleh Fakultas Kehutanan Universitas Jambi ini diharapkan mahasiswa memiliki
kemampuan untuk mengindentifikasi serta mengamati karakteristik berbagai tipe-
tipe hutan yang ada di Indonesia serta pengelolaannya. Berbagai masalah yang
timbul juga dapat dikaji sehingga mahasiswa mampu menganalisa
permasalahannya tersebut dan menjadikan hutan Indonesia tetap lestari.
Untuk itu mata kuliah Pengenalan Ekosistem Hutan merupakan mata kuliah
wajib bagi mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Kehutanan UNJA untuk mengenali
tipe-tipe ekosistem hutan baik dari hutan pantai sampai hutan pegunungan yang
dilaksanakan selama 13 hari. Kuliah ini dalam bentuk praktikum lapangan
sehingga mahasiswa dan mahasiswi diajak untuk melihat, mengamati,
mengobservasi, mengukur parameter komponen ekosistem hutan untuk dianalisis
dan diambil kesimpulannya untuk kemudian dijadikan laporan tertulis.

1.2 Tujuan
Tujuan dari kegiatan praktikum ini adalah untuk :
1. Mampu mengenali tipe-tipe ekosistem hutan beserta komponen-komponen
penyusunnya, dari pantai hingga pegunungan;
2. Mampu mengidentifikasi dan mengukur parameter dari komponen ekosistem di
setiap tipe hutan yang dikunjungi;
3. Memahami perilaku, interaksi, proses-proses, peranan dan fungsi setiap
ekosistem hutan bagi kehidupan;
4. Mampu menjelaskan tipe-tipe ekosistem hutan beserta komponen, interaksi,
proses-proses, peranan dan fungsi setiap tipe ekosistem hutan di Indonesia.
BAB II
METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat

1. Lokasi : Taman Hutan Raya Bukit Sari, Tebo


Hari/Tanggal : Kamis,13 Juli 2017
Pukul : 11.25 13.15
2. Lokasi : Hutan Pegunungan Tengah
Hari/Tanggal : Sabtu,15 juli 2017
Pukul : 14.06 15.07
3. Lokasi : Hutan Pegunungan Bawah
Hari/Tanggal : Minggu,16 Juli 2017
Pukul : 14.06-15.15
4. Lokasi : Hutan Gambut
Hari/Tanggal : Selasa,20 Juli 2017
Pukul : 11.25 13.15
5. Lokasi : Hutan Mangrove
Hari/Tanggal :Rabu,21 Juli 2017
Pukul : 08.00 11.00

2.2 Alat dan Instrumen Pengamatan

1. Kompas 5. Thermohigrometer
2. Pita Meter 20m dan 1m 6. Kertas Milimeter Block
3. Tali Rafia 7.Kamera
4. pH Meter 8. Alat Tulis

2.3 Cara Kerja

2.3.1 Cara kerja dalam Analisa Vegetasi

1. Menentukan lokasi untuk observasi lapangan di hutan dataran


rendah,hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan tengah, hutan
Gambut,hutan Mangrove.
2. Menentukan sudut Azimut dengan Kompas

3. Menarik garis lurus sesuai dengan arah sudut azimut dengan ukuran
20m X 20m (pohon)

4. Membuat petak 10m X 10m untuk tiang, 5m X 5m untuk pancang dan


2m X 2m untuk semai

5. Melakukan Analisa vegetasi pada plot yang sudah dibuat

6. Melakukan pengukuran keliling pada plot 20m X 20 m dan10m X 10m,


(Pohon dan Tiang)

7. Melakukan Konfersi keliling kedalam diameter

2.3.2 Cara Kerja Observasi Satwa Liar

1. Melakukan pengamatan mengenai satwa liar yang ada dalam plot yang
sudah dibuat

2. Melihat baik jejak maupun satwa liar yang berada pada sekitar plot

3. Melakukan pengambilan foto

4. Melakukan wawancara kepada pemandu lapangan mengenai jenis satwa


liar yang ada pada wilayah tersebut.
BAB III
HASIL PRAKTEK
PENGAMATAN SETIAP TIPE EKOSISTEM HUTAN

3.1 Hutan Pada Daerah Hutan Hujan Tropis


3.1.1 Hutan mangrove

. Kondisi Umum Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove atau
hutan air payau adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang
terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini
tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi
bahan organik .Hutan mangrove tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut
yang terhindar dari terjangan ombak secara langsung, serta juga terdapat pada teluk
atau muara sungai yang aliran airnya melambat serta banyak terdapat banyak
endapan tanah yang berasal dari erosi tanah yang berasal dari hulu sungai.

3.1.2 Tally Sheet Analisis Vegetasi Hutan Mangrove

Tanggal pengamatan : Jumat, 21 Juli 2017


Lokasi pengamatan : Desa Pangkal Babu, Dusun Bahagia, Kuala Tungkal.
Ukuran plot : 20m x 20m,5m x 5m,2m x 2m
Jumlah plot : 2 Plot
Azimut : 40o
Tabel 1.1 Analisis vegetasi hutan mangrove untuk tingkat semai plot 1

No.
Jumlah
Spesie Nama local Nama ilmiah Keterangan
individu
s
1 Api-api Avicennia marina 16
kuning
Tabel 1.2 Analisis vegetasi hutan mangrove untuk tingkat pancang

No. Nama local Nama ilmiah Jumlah Keterangan


spesies individu
1 Api-api kuning Avicennia marina 1
2 Tumu merah Bruguiera gymnorrhiza 1
3 Api-api hitam Avicennia eucalyptifolia 2
4 Nyirih Xylocarpus moluccensis 1
Tabel 1.3 Analisis vegetasi hutan mangrove untuk tingkat pohon

Tinggi Tinggi
No. Diameter
Nama local Nama ilmiah total bebas Keterangan
spesies (cm)
(m) cabang

Avicennia
1 Api-api kuning 14 9 7
marina

Avicennia
2 Api-api hitam eucalyptifolia 18 7 4

Avicennia
3 Api-api kuning marina 15 5 3

Avicennia
4 Api-api hitam eucalyptifolia 15 7 5

Avicennia
5 Api-api hitam eucalyptifolia 13 6 4.5

Tabel 1.4 Analisis vegetasi hutan mangrove untuk tingkat semai (2 x 2 m) Plot 2

Jumlah
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Keterangan
individu
Bruguiera
1 Tumu merah 8
gymnorrhiza
Avicennia
2 Api-Api Hitam eucalyptifolia 3

Tabel 1.5 Analisis vegetasi hutan mangrove untuk tingkat Pancang (5 x 5 m)

Jumlah
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Keterangan
individu
Bruguiera
1 Tumu merah 1
gymnorrhiza
Avicennia
2 Api-Api Hitam eucalyptifolia 4

Tabel 1.6 Analisis vegetasi hutan mangrove untuk tingkat pohon (10 x 10 m)

Tinggi Tinggi
No. Diameter
Nama local Nama ilmiah total bebas Keterangan
spesies (cm)
(m) cabang

Avicennia
1 Api-api Hitam 23,24 19 5
Eucalyptifolia

3.1.3 OBSERVASI SATWA LIAR DAN KONDISI LINGKUNGAN

Jenis satwa liar yang ada pada hutan Mangrove plot 20m X 20m

1. Ikan glodok
2. Siput daun
3. Siput batang
4. Ketam merah
5. Burung

Biofisik
Pengukuran pada jam 08.27
Suhu 28 C
Kelembapan 77 %
pH tanah 7,8
Pengukuran pada jam 08.42
Suhu 27,5 C
Kelembapan 72%

Hutan mangrove adalah ekosistem hutan daerah pantai yang berombak


kecil, dengan tanah berlumpur yang terdiri dari kelompok pepohonan yang bisa
hidup dalam lingkungan berkadar garam tinggi. Salah satu ciri tanaman mangrove
memiliki akar yang menyembul ke permukaan, dan dipengaruhi oleh pasang surut
air laut. Hutan mangrove biasanya seperti hutan tanaman karena komposisinya
yang hampir sam dan struktur pohonya tidak terlihat dengan jelas.Untuk
praktikum hutan mangrove mayor, kami mengambil data di desa pangkal babu,
Tanjung Jabung Barat. Suhu dihutan ini antara 27-30oc dengan kelembaban
berkisar 70-80 %. Jenis tanah yang teridentifikasi adalah jenis Lumpur berpasir
yang memilki pH 7,8, yang berarti tanah ini bersifat basa

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan secara langsung satwa yang paling


mendominasi pada hutan ini adalah burung, ikan glodok,kepiting, ketam dan
beberapa jenis siput. Untuk analisis vegetasi nya, pohon yang dominan tumbuh
pada hutan mangove ini adalah api-api putih (Avicennia marina) dan api-api
hitam(Avicennia eucalyptifolia).Untuk jenis tumbuhan bawah yang sering
ditemukan adalah jenis jeruju.

Menurut saya hutan mangrove yang terdapat pada desa pangkal babu ini
adalah hutan mangrove yang belum mengalami perubahan, dari hasil tanya jawab
yang saya lakukan dengan pak Sulaiman bahwa hutan mangrove di daerah ini
sejak awal keadaannya sudah begitu tanpa ada yang berganti, walaupun kita
menemukan ada beberapa jenis tumu (Bruguiera) itu hanya lah jenis pohon yang
tumbuh sendiri dan tidak begitu mendominasi dan hanya ada beberapa saja per
hektarnya. Hutan mangrove pada daerah ini dengan hutan mangrove yang telah
kami pelajari memiliki perbedaan yang sangat signifikan dimana pada hutan
mangrove pangkal babu kami tidak menemukan kelompok Rhizophora,sonneratia
pada hutan mangrove mayor sedangkan kedua jenis ini kami temukan pada
pinggir-pinggir sungai yang berada pada daerah pangkal babu. Jenis pohon yang
paling mendominasi pada hutan mangrove mayor adalah pohon api-api
(Avicennia). Sedangkan hutan mangrove mayor yang telah saya pelajari bahwa
komposisi hutan mangrove paling didominasi oleh jenis api-
api,pedada,perepat,bakau,dan tumu.
Untuk kendala, hutan mangrove di pangkal babu ini tidak memiliki masalah
besar seperti penebangan ilegal walaupun beberapa tahun yang lalu juga terjadi.
Sebab, sudah di edarkan sanksi yang akan didapat apabila melakukan penebangan
seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana penjual berikut pembeli
ditangkap dan dikenakan hukuman penjara. Hutan mangrove pangkal babu ini
terkendala karena tidak adanya dana yang diberikan oleh pemerintah untuk
melestarikan hutan mangrove tersebut.

Peran dan fungsi ekosistem hutan mangrove dalam kehidupan

1. Menumbuhkan pulau dan menstabilkan pantai


2. Menjernihkan air.
3. Mengawali rantai makanan
4. Melindungi dan memberi nutrisi
5. Tempat tambat kapal
6. Obat-obatan.
7. Pengawet
8. Pakan dan makanan
9. Bahan mangrove dan bangunan
3.2 Hutan Gambut
3.2.1 Rawa gambut
Dalam klasifikasi hutan, tipe hutan seringkali disebut dengan formasi yang
berbeda satu dengan yang lain dengan lahan basah yang tergenang yang biasanya
terletak dibelakang tanggul sungai. Hutan ini yang didominasi oleh tanah-tanah
yang berkembang dari tumbpukan bahan organik yang lebih dikenal sebagai tanah
gambut.
Karakteristik lingkungan hutan rawa gambut
1. Memiliki kemampuan sebagai penghambat air saat musim hujan dan melepaskan
aitr saat musim kemarau.
2. Kering tak balik yaitu ketika terjadi peralihan fungsi lahan gambut dan diganti
dengan system irigasi dan drainase berupa parit menyebabkan lahan gambut
kering dan sulit memunculkannya kembali.
3. Gambut dapat menghantar unsur hara dengan mudah secara horizontal,
sedangakan daya penyalur air pertical yang lambat, berarti gsmbut lapisan luar
cenderung kering meskipun bagian bawah hutan rawa gambut sangat basah.
4. Daya tumpu pori tanah yang besar dan kerapatan tanah menyebabkan tanah
gambut memiliki daya tumpu yang lemah.
5. Mudah terbakar.

Tanah gambut selalu terbentuk pada tempat yang kondisinya jenuh air atau
tergenang. Penumpukan bahan organic secara terus menerus menyebabkan lahan
gambut membentuk kubah, aliran air yang berasal dari hutan gambut bersifat
asam dan berwarna hitam atau kemerahan sehingga dikenal dengan nama sungai
air hitam.

3.2.2 TALLY SHEET ANALISIS VEGETASI HUTAN GAMBUT

Tanggal pengamatan : 15 Juli 2017


Lokasi pengamatan : PT Wira Karya Sakti ( Di Kawasan Konservasi )
Regu : 2A
Ukuran plot : 20x20m, 10x10m, 5x5m, 2x2m
Jumlah plot : 1 Plot

Tabel 2.1 Analisis vegetasi hutan gambut untuk tingkat semai (2x2m)

Jumlah
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Keterangan
individu
1 Kelat Syzygium sp 2
2 Spesies 1 4
Tabel 2.2 Analisis vegetasi hutan gambut untuk tingkat Pancang (5x5m)

Jumlah
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Keterangan
individu
1 Spesies 1 1
2 Spesies 2 1
2.3 Tabel Analisis vegetasi hutan gambut untuk tingkat tiang (10x10m)

Tinggi Tinggi
Nama Diameter
No. Nama lokal total bebas Keterangan
ilmiah (cm)
(m) cabang (m)
1 Spesies 1 8,59 21 16
2 Spesies 1 10,50 24 19
3 Spesies 2 8,28 22 17
4 Spesies 2 14,96 25 21
5 Spesies 1 19,10 26 22
6 Spesies 2 16,87 23 19
Jelutung Dyera
7 11,78 22 17
Rawa lowii
Tabel 2.4 Analisis vegetasi hutan gambut untuk tingkat pohon (20x20m)

Tinggi Tinggi
Nama Diameter
No. Nama lokal total bebas Keterangan
ilmiah (cm)
(m) cabang (m)
1 Spesies 2 24,20 29 23
2 Spesies 3 27,38 30 26
3 Spesies 1 38,21 37 33
4 Spesies 2 59,23 43 39
5 Spesies 1 28,34 33 28
6 Spesies 2 26,43 31 27
7 Spesies 3 30,57 34 30

3.2.3 Observasi Satwa Liar Dan Kondisi Lingkungan

Satwa liar adalah semua binatang yang hidup didarat,dan atau diair dan atau di
udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar baik yang hidup bebas maupun yang
dipelihara oleh manusia. Pada praktikum kali ini kami tidak melihat satwa pada
plot yang kami buat dikarenakan waktu pengamatan kami tidak sesuai dengan
waktu keluarnya satwa tersebut. Hasil observasi dan wawancara yang kami
lakukan pada narasumber bahwa pada daerah hutan gambut ini satwa yang paling
mendominasi adalah jenis satwa burung (seperti : burung rangkong,bioh,kacer),
beruang madu,babi hutan,primata (monyet ekor panjang,lutung),reptil (ular
piton,ular hijau,biawak) dan hariamau sumatera.

Biofisik
Pengukuran pada jam 09.30
Suhu 29 C
Kelembapan 72 %
pH tanah 7 (alat tidak baik)
Pengukuran pada jam
Suhu 29,5 C
Kelembapan 71,5%

Ekosistem hutan gambut merupakan suatu tipe ekosistem hutan yang cukup
unik karena tumbuh di atas tumpukan bahan organik yang melimpah. Daerah
gambut pada umumnya mengalami genangan air tawar secara periodik dan
lahannya memiliki topografi bergelombang kecil sehingga menciptakan bagian-
bagian cekungan tergenang air tawar.

Pada praktikum hutan gambut kami mengambil data di hutan gambut PT


Wira Karya Sakti, di kawasan konservasi. Kawasan ini dijadikan kawasan
konservasi dikarenakan tanah ini memiliki tanah bergambut yang sangat dalam
mencapai 4 m. Menurut peraturan pemerintah, tanah bergambut yang seperti ini
sudah tidak boleh lagi diolah untuk lahan pertanian ataupun perkebunan. Suhu
dihutan ini adalah 29oc dengan kelembaban berkisar 70-73 %. Jenis tanah yang
teridentifikasi adalah jenis tanah gambut hemik yang memilki pH berkisar 3-4
yang berarti tanah ini bersifat asam. Untuk analisis vegetasi nya, pohon yang
dominan tumbuh pada hutan gambut ini tidak diketahui, karena banyak jenis
pohon kelat dan beberapa jenis pohon yang tidak diketahui namanya. Tumbuhan
bawah masih banyak dijumpai, karena dibeberapa tempat terdapat naungan yang
menyebabkan tumbuhan bawah masih mendapatkan pasokan cahaya yang baik.

Peran dan fungsi ekositem hutan gambut dalam kehidupan


1. Pengaturan banjir dan arus larian
2. Pencegahan instrusi air laut
3. Pasokan air
4. Stabilisasi iklim penyimpan karbon
5. Habitat hidup liar
6. Habitat tumbuhan
7. Bentang alam
8. Alam liar
9. Sumber hasil alam
10.
3.3 Hutan Dataran Rendah
3.3.1 Hutan dataran rendah

Hutan dataran rendah adalah hamparan luas tanah dengan tingkat


ketinggian yang diukur dari permukaan laut adalah relative rendah ( sampai
dengan ketinggian sekitar 200mdpl). Dataran rendah ini biasanya disebut dataran
alluvial.

3.3.2 TALLY SHEET ANALISIS VEGETASI HUTAN DATARAN RENDAH


Tanggal pengamatan : 13 Juli 2017
Lokasi pengamatan : TAHURA BUKIT SARI, Tebo
Regu : 2A
Ukuran plot : 20x20m, 10x10m, 5x5m, 2x2m
Jumlah plot : 1 Plot
Azimut : 63o

Tabel 3.1 Analisis vegetasi hutan dataran rendah untuk tingkat semai (2x2m)

Jumlah
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Keterangan
individu
1 Arang Arang Diospyros blancoi 1
2 Kempas Koompassia malaccensis 1
3 Petaling Ochanostachysamanteacea 1
4 Petai Parkia speciosa 1
Tabel 3.2 Analisis vegetasi hutan dataran rendah untuk tingkat Pancang (5x5m)

Jumlah
No. NamaLokal Nama Ilmiah Keterangan
individu
1 Balam Palaquium qutta 1
2 Imang 3
Tabel 3.3 Analisis vegetasi hutan dataran rendah untuk tingkat tiang (10x10m)

Tinggi Tinggi
Diameter
No. Nama lokal Nama ilmiah total bebas Keterangan
(cm)
(m) cabang
(m)
1 Spesies 1 6,36 17 13
2 Spesies 2 7,96 19 14
Jambu-
3 Syzygium 11,46 23 19
Jambuan
leguminosae
4 Legum 1 7,0 21 16
sp
leguminosae
5 Legum 2 8,59 22 17
sp
leguminosae
6 Legum 3 10,5 35 18
sp
Tabel 3.4 Analisis vegetasi hutan dataran rendah untuk tingkat pohon (20x20m)

Tinggi
Tinggi
Diameter bebas
No. Nama lokal Nama ilmiah total Keterangan
(cm) cabang
(m)
(m)
1 Plaju 25,15 32 29
2 Medang Phoebe sp 57,32 40 36
Ochanostachy
3 Petaling 44,58 35 30
samanteacea
4 Spesies 1 29,29 39 32
5 Kelat Syzigium sp 25,5 30 27
Merati
6 Shorea conica 58,91 42 37
kuning
7 Syzigium Syzigium sp 24,84 28 23

3.3.3 Observasi Satwa Liar Dan Kondisi Lingkungan

Pada praktikum yang dilaksanakan di TAHURA Bukit Sari ini, Hutan


dataran rendah ini didominasi oleh pepohonan besar yang membentuk tajuk
berlapis-lapis, sekurang-kurangnya tinggi tajuk teratas rata-rata 45 cm
dibandingkan hutan rapat, dan hijau sepanjang tahun.
Suhu di TAHURA Bukit Sari ini berkisar antara 29-30oc dengan
kelembaban berkisar 70-71 %. Jenis tanah yang teridentifikasi adalah tanah
vulkanik jenis Ultisol yang memilki pH 7,8 yang berarti ini tanah ini asam. Untuk
analisis vegetasi nya, banyak pohon-pohon yang menggunakan bahasa daerah,
sehingga sedikit susah untuk menemukan bahasa latin serta keterangan lebih
lanjut tentang pohon tersebut. Untuk jenis satwa yang diamati kami hanya
menemukan pacet dan beberapa jenis belalang.
Biofisik

Pengukuran pada jam 09.30


Suhu 29 C
Kelembapan 72 %
pH tanah 7,8
Pengukuran pada jam
Suhu 29,5 C
Kelembapan 75%

Peran d

an fungsi hutan dataran rendah dalam kehidupan

1. Hutan memiliki banyak manfaat untuk kita semua

2. mencegah erosi dan tanah longsor

3. Tinggi rendahnya permukaan bumi

4. Mahluk hidup ( biotik )

3.4 Hutan Pegunungan Bawah


3.4.1 Hutan Pegunungan Bawah( 1438 - 1449 mdpl )

Di bagian-bagian hutan yang lapisan pohon-pohonnya tidak begitu lebat


sehingga cukup cahaya yang dapat menembus ke lantai hutan, mungkin di dalam
hutan dapat berkembang vegetasi tanah berwarna hijau yang cukup, yang seperti
pohon-pohon dominan, tidak bergantung pada bantuan dari luar. Vegetasi yang
rendah demikian itu dalam keadaan lembab cenderung bersifat seperti terna,
dengan paku-pakuan dan paku lumut (Selaginella sp.) yang kadang-kadang
menyolok, sedang pada gigir-gigir yang kering dapat sebagian besar terdiri atas
tumbuhan berkayu (Polunin 1994).
Tumbuhan lapis bawah merupakan tumbuhan yang menutupi lantai hutan
yang berupa tumbuhan setrata semak, herba, dan beberapa jenis tumbuhan
penutup tanah yang lain. Tumbuhan semak adalah tumbuhan yang tidak seberapa
besar, batang berkayu, dan bercabang-cabang dekat permukaan tanah atau
terkadang berada di dalam tanah. Tumbuhan herba adalah tumbuhan yang tidak
seberapa besar dan berbatang basah yang tumbuh pada permukaan tanah
(Tjitrosoepomo, 1994).
Menurut Damanik et al. (1984), kelimpahan dari vegetasi bawah di hutan
pegunungan berbeda seiring bertambahnya ketinggian. Hal ini dipengaruhi oleh
perubahan struktur pohon pembentuk tajuk yang semakin ke atas akan semakin
pendek, tajuk rata, batang dan cabang berlekuk, daun tebal dan kecil. Selain itu
dengan bertambahnya ketinggian, terjadi perubahan suhu yang drastis pula. Arus
angin yang menuju ke arah pegunungan menyebabkan terjadinya pengembunan
sehingga suhu di pegunungan akan turun.

3.4.2 Tally Sheet Analisis Vegetasi Hutan Pegunungan Bawah


Tanggal pengamatan : 16 Juli 2017
Lokasi pengamatan : Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS),
Ketinggian 1809 mdpl
Regu :2A
Ukuran plot : 20 x 20 m, 10 x 10 m, 5 x 5 m , 2 x 2 m
Jumlah plot : 2 Plot
Azimut : 45
Pos 1 : S : 01 42 498
E : 101 22 694
Ketinggian : 1890 mdpl

Plot 1
Tabel 4.1 Analisis vegetasi hutan pegunungan bawah untuk tingkat semai (2 x 2
m)
Jumlah
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Keterangan
individu
1 Jambu hutan Syzygium sp 3
2 Sp1 2
3 Kayu aro Ficus sp 2
Tabel 4.2 Analisis vegetasi hutan pegunungan bawah untuk tingkat Pancang (5 x
5 m)

No. NamaLokal Nama Ilmiah Jumlahindividu Keterangan


1 Jambu Hutan 3
2 Melakosrian 2
3 Medang hijau 1
4 Sp1 1
Tabel 4.3 Analisis vegetasi hutan pegunungan bawah untuk tingkat Tiang (10 x
10 m)

Tinggi Tinggi
Nama Diameter
No. Nama lokal total bebas Keterangan
ilmiah (cm)
(m) cabang (m)
1 Mendri 11,78 23 19
2 Mendri 19,10 29 22
Medang
3 18,15 24 20
hijau
Tabel Analisis 4.4 vegetasi hutan pegunungan bawah untuk tingkat pohon
(20x20m)

Tinggi
Tinggi
Diameter bebas
No. Namalokal Namailmiah total Keterangan
(cm) cabang
(m)
(m)
1 Medang Hijau 20,38 28 20
2 Medang Hijau 22,29 30 24
3 Mendri 21,01 32 25
4 Melakosrian 23,24 34 27
5 Kayu Aro 27,70 37 32

Plot 2

Tabel 4.5 Analisis vegetasi hutan dataran rendah untuk tingkat semai (2 x 2 m)

Jumlah
No. NamaLokal Nama Ilmiah Keterangan
individu
1 Mendri 3
2 Karamunting 2
Tabel 4.6 Analisis vegetasi hutan pegunungan bawah untuk tingkat Pancang (5 x
5 m)

Jumlah
No. NamaLokal Nama Ilmiah Keterangan
individu
1 Medang Ringgit 2
2 Kayu Sampah 1
3 Melakosrian 2
4 Kandi 2
Tabel 4.7 Analisis vegetasi hutan pegunungan bawah untuk tingkat tiang (10 x 10
m)

Tinggi Tinggi
Nama Diameter
No. Nama lokal total bebas Keterangan
ilmiah (cm)
(m) cabang (m)
1 Kayu Aro 11,78 27 20
2 Mendri 10,19 23 19
3 Karamunting 12,10 27 16
4 Karamunting 15,60 25 17
Tabel 4.8 Analisis vegetasi hutan pegunungan bawah untuk tingkat pohon (20 x
20 m)

Tinggi Tinggi
Nama Diameter
No. Nama lokal total bebas Keterangan
ilmiah (cm)
(m) cabang (m)
1 Mendri 23,24 36 31
2 Mendri 65,60 40 37
3 Kayu Aro 59,23 43 38

Keterangan tabel

OBSERVASI SATWA LIAR DAN KONDISI LINGKUNGAN

Jenis satwa liar yang ada pada hutan Gambut plot 20m X 20m

1. Pacet
2. Belalang

Biofisik

Pengukuran pada jam 09.30


Suhu 16 C
Kelembapan 81 %
pH tanah 7,5
Pengukuran pada jam
Suhu 17 C
Kelembapan 81%

Peranan Ekosistem Hutan Pegunungan Bagi Kehidupan

1. Hutan sebagai penyerap dan penyimpanan karbon


2. Hutan menjadi gantungan hidup
3. Untuk memenuhi kebutuhan manusia
4. Menjadi habitat alami untuk burung, serangga hingga mamalia
5. Pencegah banjir
6. Sumber oksigen
7. Sumber cadangan air
8. Mencegah erosi dan tanah longsor
9. Tempat wisata
10. Tempat riset dan studi biologi
11. Mengatur iklim
12. Sarana olahraga
3.5 Hutan Pegunungan Tengah
3.5.1 Hutan pegunungan tengah
Hutan Pegunungan tengah yang kami amati merupakaan hasil suksesi
sekunder akibat letusan gunung. Sehingga keadaan vegetasinya mulai memadat
dan penutupan tajuknya mulai merapat. Analisis vegetasi hutan pegunungan
bawah dilakukan pada ketinggian sekitar 1.800 sampai 1.900 mdpl. Dari hutan
pegunungan, mereka memanfaatkan tumbuhan dan hewan sebagai makanan, obat-
obatan, kayu bakar, bahan bangunan dan lain sebagainya. Selain itu masyarakat
yang tinggal di bawahnya membutuhkan hutan pegunungan yang lestari sebagai
daerah tangkapan air atau resapan air. Dominasi vegetasi di hutan ini berbeda-
beda, tergantung pada ketinggiannya.
3.5.2 Tally Sheet Analisis Vegetasi Hutan Pegunungan Tengah
Tanggal pengamatan : 15Juli 2017
Lokasi pengamatan : Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS),
Ketinggian 2225 mdpl
Regu : 2A
Ukuran plot : 20x20m, 10x10m, 5x5m, 2x2m
Jumlah plot : 1 Plot
Pos 3 S : 01 42 345
E : 101 23 249

Ketinggian : 2225 mdpl

Tabel 5.1 Analisis vegetasi hutan pegunungan tengah untuk tingkat semai (2x2m)

Jumlah
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Keterangan
individu
1 Kramunting 2
2 Kayu aro 4
3 Menri 1
4 Jambu hutan 2
Tabel 5.2 Analisis vegetasi hutan pegunungan tengah untuk tingkat Pancang
(5x5m)

Jumlah
No. NamaLokal Nama ilmiah Keterangan
individu
1 Kayu aro 3
2 Karamunting 2
3 Menri 2
Tabel 5.3 Analisis vegetasi hutan pegunungan tengah untuk tingkat tiang
(10x10m)

Tinggi Tinggi
Nama Diameter
No. Nama local total bebas Keterangan
ilmiah (cm)
(m) cabang (m)
Medang
1 19,10 27 23
hijau
2 Kandri 16,87 25 21
Tabel 5.4 Analisis vegetasi hutan pegunungan tengah untuk tingkat pohon
(20x20m)

Tinggi Tinggi beba


Nama Diameter
No. Nama local total scabang Keterangan
ilmiah (cm)
(m) (m)
1 Kayu aro 57,96 42 38
Medang
2 42,03 37 32
Hijau 1
Medang Hiau
3 24,20 30 27
2
4 Kramunting 28,66 33 28

3.5.3 Observasi Satwa Liar Dan Kondisi Lingkungan


Jenis satwa liar yang ada pada hutan Gambut plot 20m X 20m

3. Pacet
4. Belalang

Biofisik

Pengukuran pada jam 09.30


Suhu 10 C
Kelembapan 83 %
pH tanah 7,8
Pengukuran pada jam
Suhu 11 C
Kelembapan 82%
3.6 Observasi Hutan Pegunungan Atas
3.6.1 Hasil Observasi Pegunungan Atas

Pintu Rimba
S : 01 42 562
E : 101 22 258
Ketinggian : 1561 mdpl

Pos 1
S : 01 42 498
E : 101 22 694
Ketinggian : 1890 mdpl

Pos 2
S : 01 42 487
E : 101 22 707
Ketinggian : 2010 mdpl

Pos 3
S : 01 42 345
E : 101 23 249
Ketinggian : 2225 mdpl
Flora 50m kiri :
Pohon Mindri / puspa (Schima wallichii)
Begonia (Begonia spp.)
Paku setrang (Asplenium nidus)
Dendrobium (Dendrobium lasianthera)
Tepus (Amomum blumeanum)
Kelat merah (Syzygium lineatum)
Flora 50m kanan :
Keramunting (Eurya obovata)
Kayu ubi (Exbucklandia populnea)
Cemara gunung/ taksus (Taxus sumatrana)
Medang rotan (Sloanea sigun)
Anggrek bambu
Junjng bukit (Saurauia sp)
Melakosurian (Dysoxylum acutangulum)
Fauna yang teridentifikasi :
Burung panca warna
Burung tanah
Burung murai batu
Tupai
Shelter 1
S : 01 42 414
E : 101 22 885
Ketinggian : 2505 mdpl
Flora 50m kiri :
Medang tumpuy
Mambung
Kayu mello
Karamunting (Eurya obovata)
Kayu tulang / pare
Medang kuning (Turpinia macrocarpa)
Flora 50m kanan :
Junjung bukit (Saurauia sp)
Rasberry buah merah
Rasberry batang berduri
Pakis tiang
Paku resam
Kantung semar (Nephenthes sp.)
Fauna yang teridentifikasi :
Burung panca warna
Burung tanah
Burung murai batu
Lintah
Simpay

Shelter 2
S : 01 42 320
E : 101 23 248
Ketinggian : 3056 mdpl
Flora 50m kiri :
Medang hijau biasa (Memecylon sp.)
Pakis tiang
Paku resam
Flora 50m kanan :
Medang rotan (Sloanea sigun)
Tembilik
Kayu andalas
Medang loncek (Macropanax dispermus)
Medang ringgit (Symplocos cochinchinensis)
Medang tempurung
Medang mello
Fauna yang teridentifikasi :
Burung tanah
Burung murai batu

Shelter 3
S : 01 42 354
E : 101 23 253
Ketinggian : 3291 mdpl
Flora 50m kiri dan kanan :
Cantigi
Paku-pakuaan
Jambu arang
Edelweis

Tugu yudha
S : 01 42 366
E : 101 23 259
Ketinggian :
Pada ketinggian ini tidak terdapat tumbuhan apapun.
Puncak Indrapura
S : 01 43 48
E : 101 23 56
Ketinggian : 3805 mdpl
Di ketinggian ini tidak terdapat tumbuhan apapun.

3.7 Observasi Hutan Tanaman


3.7.1 Hutan tanaman
Adalah bentuk simplifikasi system alam dengan tuntutan ekonomis sebagai
pengendali utama.
3.7.2 Observasi Hutan Tanaman Akasia
Tanggal pengamatan : 19 juli 2017
Lokasi pengamatan : lahan akasia PT. WKS
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan kedelapan tipe ekosistem hutan yang telah diamati dalam


praktikum pengenalan ekositem hutan (PPEH), kedelapan tipe hutan tersebut
memiliki karakteristik tersendiri dalam mencirikan tipe dan komponen
ekosistemnya. Dari pengenalan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin
tinggi suatu tempat, suhu semakin rendah, tekanan udara semakin turun, tetapi
kesuburan tanah semakin tinggi.

Berkurangnya jenis serta ukuran vegetasi dan hewan seiringnya


pertumbahan tinggi suatu tempat karena sulitmasuknya cahaya matahari karena
terhalang oleh kabut. Hal ini menyebabkan tumbuhan sulit untuk melakukan
fotosintesis sehingga pertumbuhannya terganggu begitu juga dengan satwa liar,
karena berkurangnya vegetasi, satwa liar tersebut sulit untuk mendapatkan
makanan.

5.2 Saran

Untuk mendapatkan hasil yang akurat dan cepat, sebaiknya persiapkan


peralatan yang memadai, baik dari jumlah, kondisi peralatan, maupun tingkat
teknologinya.