Anda di halaman 1dari 6

3.2.

1 Prinsip Kerja Transistor

Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit
pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai
fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus
inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat
akurat dari sirkuit sumber listriknya. Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal, yaitu
Basis (B), Emitor (E) dan Kolektot (C). Tegangan yang di satu terminalnya misalnya Emitor
dapat dipakai untuk mengatur arus dan tegangan yang akan dikuatkan melalui kolektor.Selain
digunakan untuk penguat transistor bisa juga digunakan sebagai saklar. Caranya dengan
memberikan arus yang cukup besar pada basis transistor hingga mencapai titik jenuh. Pada
kondisi seperti ini kolektor dan emitor bagai kawat yang terhubung atau saklar tertutup, dan
sebaliknya jika arus basis teramat kecil maka kolektor dan emitor bagai saklar terbuka.
Dengan sifat pensaklaran seperti ini transistor bisa digunakan sebagai gerbang atau yang
sering kita dengar dengan sebutan TTL yaitu Transistor Transistor Logic.
Gambar bentuk fisik transistor
Note :
Prinsip Transistor sebagai Penguat (amplifier): artinya transistor bekerja pada wilayah antara
titik jenuh dan kondisi terbuka (cut off), tetapi tidak pada kondisi keduanya.
Prinsip Transistor sebagai penghubung (saklar) : transistor akan mengalami Cutoff apabila
arus yang melalaui basis sangat kecil sekali sehinga kolektor dan emitor akan seperti kawat
yang terbuka, dan Transistor akan mengalami jenuh apabila arus yang melalui basis terlalu
besar sehingga antara kolektor dan emitor bagaikan kawat terhubung dengan begitu tegangan
antara kolektor dan emitor Vce adalah 0 Volt dari cara kerja diataslah kenapa transistor dapat
difungsikan sebagai saklar.
3.2.2 Transistor Sebagai Saklar (Switching)

Salah satu fungsi transistor adalah sebagai saklar yaitu bila berada pada dua daerah
kerjanya yaitu daerah jenuh (saturasi) dan daerah mati (cut-off). Transistor akan mengalami
perubahan kondisi dari menyumbat ke jenuh dan sebaliknya. Transistor dalam keadaan
menyumbat dapat dianalogikan sebagai saklar dalam keadaan terbuka, sedangkan dalam
keadaan jenuh seperti saklar yang menutup.

A. Titik Kerja Transistor

1. Daerah Jenuh Transistor

Daerah kerja transistor saat jenuh adalah keadaan dimana transistor mengalirkan arus
secara maksimum dari kolektor ke emitor sehingga transistor tersebut seolah-olah short pada
hubungan kolektor emitor. Pada daerah ini transistor dikatakan menghantar maksimum
(sambungan CE terhubung maksimum)

2. Daerah Aktif Transistor

Pada daerah kerja ini transistor biasanya digunakan sebagai penguat sinyal. Transistor
dikatakan bekerja pada daerah aktif karena transistor selelu mengalirkan arus dari kolektor ke
emitor walaupun tidak dalam proses penguatan sinyal, hal ini ditujukan untuk menghasilkan
sinyal keluaran yang tidak cacat. Daerah aktif terletak antara daerah jenuh (saturasi) dan
daerah mati (Cut off).

3. Daerah Mati Transistor

Daerah cut off merupakan daerah kerja transistor dimana keadaan transistor
menyumbat pada hubungan kolektor emitor. Daerah cut off sering dinamakan sebagai
daerah mati karena pada daerah kerja ini transistor tidak dapat mengalirkan arus dari kolektor
ke emitor. Pada daerah cut off transistor dapat di analogikan sebagai saklar terbuka pada
hubungan kolektor emitor.
B. Grafik Kurva Karakteristik Transistor

Grafik Kurva Karakteristik Transistor,karakteristik transistor,transistor sebagai


sakalar,daerah jenuh transistor,daerah mati transistor,daerah kerja transistor,titik cut-off
transistor,titik saturasi transistor,daerah aktif transistor

Untuk membuat transistor menghantar, pada masukan basis perlu diberi tegangan. Besarnya
tegangan harus lebih besar dari Vbe (0,3 untuk germanium dan 0,7 untuk silicon).

Dengan mengatur Ib>Ic/ kondisi transistor akan menjadi jenuh seakan kolektor dan emitor
short circuit. Arus mengalir dari kolektor ke emitor tanpa hambatan dan Vce0. Besar arus
yang mengalir dari kolektor ke emitor sama dengan Vcc/Rc. Keadaan seperti ini menyerupai
saklar dalam kondisi tertutup (ON).
Transistor Kondisi Jenuh (Saklar Posisi ON)

Transistor Sebagai Saklar Kondisi Saturasi,transistor ON,transistor saturasi,transistor


jenuh,rangkaian saklar transistor,saklar transistor,saklar ON transistor,arus saklar
transistor,rumus saklar transistor,rumus transistor sebagai saklar

Besarnya tegangan kolektor emitor Vce suatu transistor pada konfigurasi diatas dapat
diketahui sebagai berikut.

Vce=Vcc-Ic\cdot Rc

Karena kondisi jenuh Vce = 0V (transistor ideal) maka besarnya arus kolektor (Ic) adalah :

Ic=\frac{Vcc}{Rc}

Besarnya arus yang mengalir agar transistor menjadi jenuh (saturasi) adalah:

Rb=\frac{Vi-Vbe}{Ib}

Sehingga besar arus basis Ib jenuh adalah :

Ib\geq \frac{Ic}{\beta }
Transistor Kondisi Mati (Saklar Posisi OFF)

Transistor Sebagai Saklar Posisi Cut Off,sakalr transistor off,transistor mati,transistor


cut-off,saklar transistor off,teori transistor sebagai saklar,teori saklar transistor,daerah mati
transistor,saklar transistor off

Dengan mengatur Ib = 0 atau tidak memberi tegangan pada bias basis atau basis diberi
tegangan mundur terhadap emitor maka transistor akan dalam kondisi mati (cut off), sehingga
tak ada arus mengalir dari kolektor ke emitor (Ic0) dan Vce Vcc. Keadaan ini menyerupai
saklar pada kondisi terbuka seperti ditunjukan pada gambar diatas.

Besarnya tegangan antara kolektor dan emitor transistor pada kondisi mati atau cut off
adalah :

Vce=Vcc-Ic\cdot Rc

Karena kondisi mati Ic = 0 (transistor ideal) maka:

Vce=Vcc\cdot Rc

Vce=Vcc

Besar arus basis Ib adalah

Ib=\frac{Ic}{\beta }

Ib=0