Anda di halaman 1dari 5

1. a.

Pengantar Tata Hukum di Indonesia adalah ilmu yang mempelajari tata hukum atau
susunan hukum yang berlaku di Indonesia saat ini dimana obyeknya khusus mengenai
hukum positif.
b.Tujuan dan Manfaat PTHI:
-Untuk mengetahui peraturan-peraturan hukum yang berlaku saat ini di suatu wilayah
negara atau hukum positif (Ius Constitutum).
-untuk mengetahui perbuatan-perbuatan mana yang berdasarkan hukum dan perbuatan-
perbuatan yang melanggar hukum.
-untuk mengetahui kedudukan seseorang dalam masyarakat (hak dan kewajibannya).
-untuk mengetahui sanksi-sanksi apa yang diberikan kepada sesorang apabila orang
tersebut melanggar peraturan yang berlaku.
2. Proklamasi sangat berpengaruh dalam pembentukan sistem hukum di Indonesia karena
adanya tata hukum di Indonesia dimulai sejak saat Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17
Agustus 1945. Dimana berarti sejak saat proklamasi kemerdekaan sejak saat itu pula
bangsa Indonesia lahir sebagai negara dan telah mengambil keputusan menentukan dan
melaksanakan hukumnya sendiri.
3. Politik hukum adalah kebijakan, cara, strategi/taktik penguasa mengenai hukum yang ada
di wilayahnya. Politik Hukum dilaksanakan melalui dua segi, yaitu dengan bentuk hukum
dan corak hukum tertentu.
Bentuk hukum itu dapat:
(1) Tertulis yaitu aturan-aturan hukum yang ditulis dalam suatu Undang-Undang dan
berlaku sebagai hukum positif.
(2) Tidak tertulis yaitu aturan-aturan hukum yang berlaku sebagai hukum yang semula
merupakan kebiasaan-kebiasaan dan hukum kebiasaan.
4. Sejak zaman penjajahan Belanda di Indonesia berlaku hukum yang beraneka ragam,
bahkan pemberlakuan hukum oleh Pemerintah Belanda dibedakan antara penduduk
pribumi dengan golongan Eropa. Adapun pemberlakuan hukum yang beraneka macam,
diantaranya:
a. Algemene Bipalingen van Wetgeving voor Indonesia (AB), artinya peraturan umum
perundang-undangan untuk Indonesia, yang dikeluarkan pada 30 April 1847.
b. Regering Reglement (RR) dikeluarkan pada 2 September 1854.
c. Indische Staartregeling (IS) artinya peraturan ketatanegaraan Indonesia yang
dikeluarkan pada 23 Juni 1925.
Pada era Pemerintahan Jepang, pemerintahan militer Jepang mengeluarkan Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 1942 dimana dalam Pasal 3 yang berbunyi sebagai berikut:
Semua badan-badan pemerintahan yang dulu tetap diakui sah untuk sementara waktu
asal saja tidak bertentangan dengan aturan pemerintah militer. Sehingga secara otomatis
ketentuan yang telah berlaku sebelumnya tetap diberlakukan pada era penjajahan Jepang.
Sementara untuk Tata hukum Indonesia sendiri , ditetapkan oleh masyarakat hukum
Indonesia sejak lahirnya Negara Indonesia yaitu pada 17 Agustus 1945. Pada saat
berdirinya Negara Indonesia terbentuk juga tata hukumya.
5. Sumber hukum adalah segala hal yang dapat dijadikan dasar hukum. Macam-macam
Sumber Hukum Sumber hukum dibagi menjadi dua jenis yaitu sumber hukum material
dan sumber hukum formal.
1. Sumber hukum material
Yaitu semua aturan, norma atau kaidah yang menjadi sumber dari manusia untuk
bersikap dan bertindak.
2. Sumber hukum formal
Yaitu merupakan sumber hukum yang juga bisa disebut sebagai penerapan dari
hukum meterial. Macam-macam hukum formal adalah sebagai berikut:
Undang-undang, yaitu segala aturan yang mempunyai kekuatan hukum yang
mengikat, yang dijaga oleh pemerintah negara tersebut. Contohnya seperti: UU, PP,
Perpu, dan lain sebagainya.
Kebiasaan, yaitu segala macam perbuatan yang sama dan dilakukan secara continue
sehingga menjadi hal yang umum dilakukan. Contohnya: adat istiadat di daerah yang
dilaksanakan secara turun-temurun yang sudah menjadi hukum di daerah tersebut.
Yurisprudensi, yaitu segala macam keputusan hakim dari masa lampau atau masa lalu
dari suatu perkara yang sama, sehingga dijadikan keputusan oleh para hakim dimasa
kini.
Traktat, yaitu segala macam bentuk perjanjian yang dilaksanakan oleh 2 (dua) negara
atau lebih. Dan perjanjian tersebut mempunyai sifat yang mengikat bagi antar negara-
negara yang terlibat traktat ini, dan otomatis trakat tersebut juga mengikat warga
negara dari negara yang bersangkutan.
Doktrin, yaitu segala macam pendapat para ahli hukum terkenal yang dijadikan
patokan atau asas-asas penting dalam hukum dan penerapannya.
6. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum maksudnya setiap produk hukum
harus bersumber dan tidak boleh bertentangan dengan Pancasila. Karena Pancasila
tercantum dalam ketentuan tertinggi yaitu pembukaan UUD 1945, kemudian dijabarkan
dalam pokok-pokok pikiran yang meliputi suasana kebatinan UUD 1945 serta hukum
posistif lainnya.
Pancasila memenuhi syarat sebagai dasar negara bagi Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan alasan sebagai berikut:
1. Sila Pertama : Pancasila memiliki potensi menampung keadaan
pluralistik yang dialami oleh bangsa Indonesia, ditinjau dari keanekaragaman agama,
suku bangsa, adat budaya, ras, golongan dan sebagainya.
2. Sila Kedua : Pancasila memberikan jaminan terealisasinya
kehidupan yang pluralistik, dengan menjunjung tinggi dan menghargai manusia sesuai
dengan harkat dan martabatnya.
3. .Sila ketiga : Pancasila memiliki potensi menjamin keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, yang terdiri
atas ribuan pulau.
4. Sila keempat : Pancasila memberikan jaminan berlangsungnya
demokrasi dan hak asasi manusia sesuai dengan budaya bangsa.
5. Sila kelima : Pancasila menjamin terwujudnya masyarakat yang adil
dan sejahtera.
6. Ketuhanan Yang Maha Esa, menjamin kebebasan bagi warganegara
untuk beribadah sesuai dengan agama dan keyakinannya. Sementara itu Sila ketiga
persatuan Indonesia, mengikat keanekaragaman tersebut.
Pancasila merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa, maka ia
diterima sebagai dasar negara yang mengatur hidup ketatanegaraan.
7. Hukum transisitor atau ketentuan peralihan adalah ketentuan yang memuat penyesuaian
pengaturan tindakan hukum atau hubungan hukum yang sudah ada berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan yang lama terhadap Peraturan Perundang-undangan yang baru.
Ketentuan Peralihan dibuat bertujuan untuk:
a. menghindari terjadinya kekosongan hukum;
b. menjamin kepastian hukum;
c. memberikan perlindungan hukum bagi pihak yang terkena dampak perubahan
ketentuan Peraturan Perundang-undangan; dan
d. mengatur hal-hal yang bersifat transisional atau bersifat sementara.

8. a. Kodifikasi ialah disusunnya ketentuan-ketentuan hukum dalam sebuah kitab secara


sistematik dan teratur.
b. Asas konkordansi adalah asas yang melandasi untuk diberlakukannya hukum eropa
atau belanda pada masa itu untuk diberlakukan juga kepada bangsa pribumi / Indonesia.
Sehingga hukum eropa yang diberlakukan kepada pihak belanda pada masa itu, dikenai
juga oleh bangsa Indonesia.
c.Asas Legalitas adalah suatu jaminan dasar bagi kebebasan individu dengan memberi
batas aktivitas apa yang dilarang secara tepat dan jelas. Asas ini juga melindungi dari
penyalahgunaan wewenang hakim, menjamin keamanan individu dengan informasi yang
boleh dan dilarang.
d.Pacta Sunt Servanda adalah asas Kepastian Hukum dalam perjanjian, yaitu para pihak
dalam perjanjian memiliki kepastian hukum dan oleh karenanya dilindungi secara
hukum, sehingga jika terjadi sengketa dalam pelaksanaan perjanjian, maka hakim dengan
keputusannya dapat memaksa agar pihak yang melanggar itu melaksanakan hak dan
kewajibannya sesuai perjanjian.
e.Asas Geen Straf Zonder Schuld (Asas Tiada Hukuman Tanpa Kesalahan) Artinya tak
seorangpun dapat dijatuhi pidana jika tidak ada kesalahan yang ia perbuat.
f.Lex specialis derogat lex generalis adalah asas penafsiran hukum yang menyatakan
bahwa hukum yang bersifat khusus (lex specialis) mengesampingkan hukum yang
bersifat umum (lex generalis).
g.Asas lex superior derogat legi inferior yang artinya peraturan yang lebih tinggi
mengesampingkan yang rendah (asas hierarki).
h.Asas Lex Posterior Derogat Legi Priori yaitu pada peraturan yang sederajat, peraturan
yang paling baru melumpuhkan peraturan yang lama. Jadi peraturan yang telah diganti
dengan peraturan yang baru, secara otomatis dengan asas ini peraturan yang lama tidak
berlaku lagi.
i.Putusan hakim dianggap benar oleh semua pihak, kecuali dapat dibuktikan bahwa
putusan itu salah.
j.Ius Curia Novit/Curia Novit Jus berarti hakim dianggap mengetahui semua hukum
sehingga Pengadilan tidak boleh menolak memeriksa dan mengadili perkara.