Anda di halaman 1dari 75

Geologi Pulau Bangka

1. Geologi Regional

Secara fisiografi, Pulau Bangka termasuk ke dalam Sunda Land dan merupakan bagian terangkat
dari peneplain Sunda. Bila ditinjau dari sudut geologi, penyebaran bijih timah di Indonesia masih
merupakan kelanjutan dari Granite Belt yang berumur Yura Kapur yang membentang mulai
dari Birma, Muangthai, Malasyia, Kepulauan Riau (Pulau Singkep, Pulau Karimun dan Pulau
Kundur), pulau Bangka dan Pulau Belitung hingga Pulau Karimata. Granite Belt sendiri
merupakan deretan formasi batuan granite kaya akan mineral cassiterite yang kemudian dikenal
dengan sebutan The Tin Belt.

Pulau-pulau dari The Tin Belt diinterpretasikan merupakan sisa bagian resisten dari
gunung yang muncul pada masa terbentuknya Sunda Shelf. Pupili (1973) menyatakan bahwa
Malaysia, Kepulauan Riau dan Bangka berada dalam kelompok elemen tektonik yang sama.
Evolusi tektonik di wilayah ini telah dimulai sejak Paleozoikum Bawah dimana berdasarakan
Teori Tektonik Lempeng bahwa daerah penunjaman (subduction zone) berada di bagian timur
Malysia dan pada Mesozoikum Bawah tengah menghasilkan busur gunung api (magmatic arc)
dalam bentuk deretan Pulau Kundur, Pulau Singkep, Pulau Bangka, Pulau Belitung dan sebagian
dari Kalimantan Barat.

2. Beberapa Aspek Geologi

P. Bangka merupakan daerah dengan stadia erosi tingkat lanjut, hal ini dicirikan dengan keadaan
yang umumnya relative datar dan adanya bukit-bukit sisa erosi(monadrock).

Bukit-bukit sisa erosi tersebut tersusun atas batuan beku granit yang umumnya menempati bagian
tepi P.Bangka.

Di bagian utara : Granit Klabat, yang berrrientasi barat-timur melewati teluk Klabat,granit
yang ada disekitarnya terdiri atas granit Pelangas, granit Menumbing, granit Mangkol.
Di bagian selatan : Tersusun atas pluton yang lebih kecil yaitu,Pluton Koba, Pluton Bebuluh,
Pluton Permis, dan granit Toboali, serta pluton yang lain yang terletak diantaranya.

Daerah pedatarAn menempati 80 % luas seluruh daerah. Daerah inilah merupakan tempat
endapan alluvial yang mengandung konsentrasi bijih Timah. Umumnya sungai-sungai yang ada
mengalir di atas endapan-endapan muda (Plistosen/Pliosen), kecuali pada hulu-hulu sungai /dekat
pada daerah perbukitan.

A. Sejarah Geologi

Pada zaman Paleozoikum P. Bangka dan laut di sekitarnya merupakan daratan. Selanjutnya pada
zaman Karbon-Trias berubah menjadi laut dangkal. Orogenesa kedua terjadi pada masa
mesozoikum, P. Bangka dan Riau muncul ke permukaan. Intrusi granit menerobos batuan sedimen
seperti batupasir, batulempung, dlll pada Trias-Yura atas. Pada batas antara sedimen dan granit
terjadi metamorfosa sentuh. Bersamaan intrusi granit ini terjadi proses pneumotolitik yang
menghasilkan kasiterit. Proses ini dengan proses hydrotermal yang menghasilkan kasiterit yang
mengisi rekahan-rekahan pada granit. Erosi intensif terjadi pada kenozoikum dimana lapisan yang
menutupi granit terkikis habis sehingga batuan granit tersingkap.

Selanjutnya diikuti oleh proses pelapukan, transportasi, dan pengendapan di lembah-lembah.


Suasana daratan bangka berlanjut sampai Tersier. Pencairan es pada kala Pliostosen
mengakibatkan beberapa daerah di Bangka menjadi laut dangkal seperti sekarang ini. Erosi
berlanjut membentuk P. Bangka menjadi daratan hampir rata seperti sekarang ini

B. Stratigrafi

Batuan-batuan yang dijumpai terdiri atas batuan Pra-Tersier diantaranya, batu pasir,
batulempung,lapisan-lapisan pasir, lempung mengandung sisa tanaan, campuran antara lempung-
pasir-lanau,dan sebagainya.

Pluton Granit di Pulau Bangka


Menurut Katili (1967) di P. Bangka terdapat 2 generasi granit. Granit yang tua tidak mengandung
kasiterit dan umunya terdapat di daerah rendah, yakni granit Klabat & A. Kapo. Granit generasi
muda sebagai pembawa Timah umumnya telah tererosi lanjut (monadnock).Menurut Suyitno, S
(1981), generasi granit tersebut adalah :

1. Granit Klabat-Jebus, terletak di utara.

2. Granit Belinyu-Sungailiat, menybar di bagian timur granit Jebus.

3. Granit Menumbing

4. Granit Tempilang

5. Granit Mangkol

6. Granit Pading-Koba

7. Granit Toboali

Granit yang terpenting adalah granit Klabat, Menumbing, Plangas, Tempilang, Mangkol,
dan Pading. Umumnya tubuh granit tersebut tersusun atas granit biotit, granit hornblende, granit
muskovit; mineral yang umum terdiri atas kwarsa, ortoklas, oligoklas, biotit, serta sebagai asesori
zircon,apatit, dan ortit.

Ada empat kelompok endapan yang dianggap mewakili sedimentasi Quarter di Pulau
Bangka, antara lain :

Lapisan Alluvium Muda, umumnya mengandung bijih timah, terdapat di lembah, di atas
batuan Pra Tersier dan dialasi lapisan lempung liat.

Lapisan Marine Muda, menutupi lapisan alluvium muda, berupa pasir hingga lempung.

Lapisan Alluvium Tua, mewakili keadaan daratan yang meluas pada saat regeresi muka ait
laut karena glacial.
Lapisan Marine Tua, merupakan bidang erosi dan dapat dikorelasikan dengan lapisan
lempung liat

Jenis cebakan bijih timah sekunder di Pulau Bangka, yakni :

1. Endapan kulit

Elluvium, terjadi akibat pelapukan pada batuan sumber diikuti pemindahan mineral
cassiterite secara vertical sehingga mengalami konsentrasi kemudian tertransport pada
lereng yang relative landai.

Colluvium, terjadi sama dengan elluvium, namun sepanjang tertransport lebih jauh lereng
menuju lembah.

2. Endapan Kaksa, terjadi karena proses erosi selektif terhadap elluvium dan colluvium, dimana
mineral berat diendapkan dekat sumber dan mineral ringan diendapkan jauh dengan sumber.
Endapan ini terletak di atas Batuan Pra-tersier dengan keterdapatan dominant pada lembah.

3. Endapan Meican, terjadi akibat proses transportasi endapan sediment sebelumnya, berupa
endapan lebih tipis dan tidak terdapat di atas batuan Pra Tersier.

Diantara endapan-endapan tersebut di atas yang terpenting adalah endapan kaksa yang
ditemukan di atas batuan dasar. Sedangkan jenis-jenis batuan dasar yang sering dijumpai antara
lain :

a. Batuan Dasar Granit lapuk

Batuan ini berwarna putih kekuningan dengan butir-butir mineral kuarsa berwarna putih susu
atau berwarna coklat terang, mineral biotit berwarana hitam gelap.

b. Batuan Dasar Batulempung

Batuan ini berwarna coklat kemerahan bergaris urat-urat mineral feldspar dan kuarsa.
c. Batuan Dasar Batu pasir

Batuan ini berwarna abu-abu gelap kompak, butiran kuarsa bertebaran dengan diselingi urat-
urat felsdpar.

d. Batu Dasar Malihan (Metamorf)

Biasanya berwaran abu-abu muda sampai abu-abu gelap. Sering terlihat lembaran-lembaran
mika yang halus dan berwarna putih mengkilat.

C. Struktur Geologi

Katili (1968), mengatakan bahwa pada batuan metamorf dan sedimen di Bangka Utara terdapat
adanya perlipatan silang akibat dua deformasi perbadaan. Deformasi pertama mengakibatkan
lipatan dengan arah barat laut-tenggara, umurnya sulit ditentukan dengan pasti. Struktur lipatan
berarah timur laut-barat daya (orogen II) disebabkan oleh deformasi pada Yura atas. Orogen yang
kedua ini menghilangkan jejak orogen yang lebih tua.

Stratigafi P.Bangka (Osberger, 1965 Vide Katili, 1967)

Keterangan
Umur Litologi
(Lingkungan pengendapan)
Pasir, Lempung dengan kasiterit
Resen Endapan sungai dan pantai
(kaksa)

Pleistosen ? ?

Pleiosen Pasir, lempung dan konglomerat Endapan sungai dan pantai

Miosen
Oligosen
Eosen Ketidak selarasan

Kapur
Yura
Sebagian batuan metamorf dinamik, batu pasir, serpih, rijang, batu gamping berfosil,
Trias
batu konglomerat, diabas (?), fosil noric.

Filit, kwarsa, serpih, batu pasir dengan lensa batu gamping berfosil, rijang yang
Perm
menyisip dalam tuff vulkanik.

Karbon .Ketidakselarasan

Pra-karbon Batu metamorf dinamik

Tabel 1. Stratigafi P.Bangka (Osberger, 1965 Vide Katili, 1967)

Sukendar Asikin dan Rubini Surya Atmaja (1972), berdasarkan penelitian dan analisa
keduduka rekahan-rekahan, urat-urat, dan korok-korok di daerah sambung giri dan pemali
menyimpulkan bahwa gerak-gerak orogen sebelum Yura atas mengakibatkan terjadinya deformasi
yang menyebabkan perlipatan pada batuan sedimen yang berumur karbon-trias. Deformasi ini
selain membentuk lipatan NW-SE juga menyebabkan terjadinya rekahan-rekahan (Shear dan
Tension fracture).

Struktur sesar, kekar, ditemukan dalam arah yang bervariasi, tetapi kecenderungannya
mempunyai arah utara selatan (Katili, 1967). Ukoko (1983), mengatakan di P.Bangka terdapat
beberapa sesar yang umurnnya berarah timur laut-barat daya sampai utara-selatan. Sesar utama
berarah N 30 E memotong granit klabat ke selatan sepanjang 3 km. Sesar utama ini dalam foto
udara tampak sebagai kelurusan sepanjang 50 km.

Diposkan oleh Hubertuzone di 20.10


Reaksi:
KONDISI GEOLOGI DAN POTENSI
BAHAN GALIAN KABUPATEN
BANGKA SELATAN
Posted on February 15, 2013 by Dedy Setyo Oetomo , ST.,MBA

KONDISI GEOLOGI DAN POTENSI


BAHAN GALIAN
KABUPATEN BANGKA SELATAN

3.1 Kondisi Geologi

Proses dan kondisi geologi sangat mempengaruhi terbentuknya potensi sumberdaya bahan galian
di suatu tempat/daerah. Proses geologi tersebut diantaranya berupa intrusi magma, tektonik,
perlipatan, pelapukan, pengayaan (leaching), erosi dan pengendapan. Berdasarkan keadaan
geologisnya Pulau Bangka dan wilayah sekitarnya berada pada Paparan Sunda atau bagian tepi
dari kerak benua (craton) Asia. Oleh karena itu, batuan dasar penyusun daerah ini selain batuan
malihan adalah batuan inti benua yang berupa batuan beku asam atau bersifat granitik.

Dilihat dari posisi waktu terbentuknya batuan beku granitik tersebut merupakan bagian dari
busur magmatik yang terbentuk pada umur Trias hingga Jura (230 s/d 135 juta tahun lalu).
Kondisi geologi wilayah Kabupaten Bangka Selatan telah digambarkan oleh U. Margono, dkk
(1995) dalam Peta Geologi Lembar Bangka Selatan, Sumatra, skala 1 : 250.000 yang diterbitkan
oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (Gambar 3.1).

3.1.1 Stratigrafi

Batuan tertua yang tersingkap di Kabupaten Bangka Selatan adalah batuan yang termasuk
dalam Komplek Malihan Pemali (CPp) yang memiliki umur KarbonPerem. Komplek ini terdiri
dari filit, sekis, dan kuarsit.

Filit berwarna abu-abu kecoklatan, struktur mendaun dan berurat kuarsa.


Sekis berwarna abu-abu kehijauan, struktur mendaun, terkekarkan, setempat rekahannya
terisi kuarsa atau oksida besi, berselingan dengan kuarsit; Kuarsit putih kecoklatan, keras,
tersusun oleh kuarsa dan feldspar berukuran halus sedang (U. Margono, dkk 1995).
Komplek Malihan Pemali tersebar di bagian Barat Daya Airbara dan sebelah Timur
Ranggas.
Tidak selaras di atas Komplek Malihan Pemali (CPp) diendapkan Formasi Tanjung Genting
(TRt) yang terdiri dari perselingan batupasir malihan, batupasir dan batulempung dengan

Gambar 3.1 Peta Geologi Lembar Bangka Selatan, Sumatra

lensa batugamping, setempat di jumpai oksida besi. Batuan-batuan pada formasi ini umumnya
berlapis baik, terlipat kuat, terkekarkan dan tersesarkan. Di dalam batugamping di jumpai fosil
Montlivaultia Molukkana J. Wanner, Peronidella G. Wilkens, Entrochus sp, dan Enricrinus sp,
yang menunjukkan umur Trias dengan lingkungan pengendapan laut dangkal.

Formasi Tanjung Genting (TRt) tersebar luas mulai dari bagian utara, tengah dan selatan
Kabupaten Bangka Selatan.

Granit Klabat (TRJkg) menerobos batuan/formasi yang lebih tua yaitu Formasi Tanjung
Genting (TRt) dan Kompleks Malihan Pemali (CPp), terdiri dari granit biotit, granodiorit dan
granit genesan,.

Granit biotit mempunyai tekstur porfiritik dengan ukuran kristal sedang-kasar, fenokris
feldspar, memperlihatkan struktur foliasi.
Granit genesan berwarna abu-abu dan berstruktur mendaun.
Umur Granit Klabat berdasarkan pentarikan dengan metoda K-Ardan Rb-Sr adalah Trias
Akhir-Jura Awal, tersebar cukup banyak meliputi seluruh kecamatan yang ada di wilayah
Kabupaten Bangka Selatan.

Di atas formasi batuan yang telah disebutkan terdahulu diendapkan secara tidak selaras Formasi
Ranggam (TQr) yang terdiri dari perselingan batupasir, batulempung dan konglomerat.

Batupasir berwarna putih kekuningan sampai dengan kecoklatan, berbutir halus-kasar,


menyudut-membundar tanggung, berlapis baik, memiliki struktur sedimen silang siur,
perairan sejajar dan perlapisan bersusun, mengandung lensa tipis batubara dan pasir
timah sekunder.
Batulempung mengandung bahan organik dan lensa gambut.
Konglomerat mengandung fragmen granit, kuarsa dan batuan malihan.

Fosil yang ditemukan pada formasi ini adalah Turritella terebra, Amonia sp, Triloculina sp, yang
menunjukkan umur pengendapan Miosen Akhir-Plistosen Awal di lingkungan fluvial. Formasi
Ranggam (TQr) terdapat di Lesat (selatan Kepoh) dan Mangkapas.

Di atas Formasi Ranggam (TQr) diendapkan endapan kuarter berupa Pasir Kuarsa
(Qak),berwarna putih, berbutir kasar sedang, membundar tanggung membundar. Endapan
rawa (Qs), Lumpur, lanau dan pasir. Aluvium (Qa) berupa lumpur, lempung, pasir, kerikil dan
kerakal, yang keterdapatannya sebagai endapan sungai, rawa dan pantai. Korelasi stratigrafi dan
penampang melintang Geologi Kabupaten Bangka Selatan dapat di lihat pada Gambar 3.2 dan
3.3

Gambar 3.2 Korelasi Stratigrafi Bangka Selatan


Gambar 3.3 Penampang Melintang (Cross Section) Geologi Bangka Selatan

3.2 Sumber Daya Bahan Galian

Kabupaten Bangka Selatan mempunyai sumberdaya mineral yang banyak dan beragam, mulai
dari bahan galian seperti timah serta bahan galian industri antara lain kasiterit, monosit/xenotime,
oksida besi, pirit, granit, diabas, kaolin, batupasir dan pasir kuarsa, pasir bangunan, tanah liat.
Akan tetapi, pemasukan dari pertambangan dan penggalian ini belum optimal walaupun
kontribusinya terhadap PDRB cukup, dan merupakan sumber utama bagi Pendapatan Asli
Daerah (PAD).

Sumberdaya bahan di Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari 7 (tujuh) jenis mineral/ bahan
galian, yaitu: granit, pasir kuarsa, kaolin, bijih timah, bijih besi, zircon, dan monasit (Gambar
3.4).

Berdasarkan data geologi, hampir di semua wilayah baik di darat maupun di laut mempunyai
cadangan bijih timah yang dikenal dengan istilah Worlds tin belt (sabuk timah dunia). Dengan
struktur tanah yang mempunyai pH rata-rata di bawah 5, di dalamnya mengandung mineral bijih
timah dan bahan galian lainnya seperti pasir kuarsa, kaolin, batu granit dan lain sebagainya.

Sampai dengan tahun 2004 eksploitasi timah untuk kuasa pertambangan (KP) timah PT.
Tambang Timah di Bangka Selatan yang berada di darat dengan luas areal 92.401,74 Ha.
Sedangkan yang berada di laut seluas 14.985 Ha. Luas KK PT. Koba Tin sebesar 19.340,74 Ha.
Jumlah perusahaan golongan C yang dilengkapi izin di Kabupaten Bangka Selatan sampai
dengan tahun 2006 tercatat 6 buah dengan luas areal 368,1 Ha.

3.2.1 Granit

Granit adalah jenis batuan beku berwarna putih/terang dengan komposisi utama orthoklas (K-
feldspar) dan kuarsa yang disertai dengan sedikit kandungan biotit, mika, dan amfibol (Gambar
3.5). Granit di wilayah Kabupaten Bangka Selatan terbentuk melalui pembekuan magma pada
zaman Trias-Jura.

Secara umum penambangan granit dilakukan dengan cara tambang terbuka. Mula-mula
dilakukan pembersihan lahan berupa pekerjaan pembabatan pepohonan dan semak belukar
dengan bulldozer atau scraper. Setelah itu dilakukan pengupasan tanah penutup dengan
menggunakan backhoe atau shovel. Selanjutnya penggalian granit dilakukan dengan jenjang
dengan mengatur ketinggian tiap jenjang 6 m dengan menggunakan alat/mesin potong mekanis
dan dragline.
Gambar 3.4 Sebaran Bahan Galian di Kabupaten Bangka Selatan

Berdasarkan variasi komposisi mineral penyusunannya, kadar silika, dan adanya kenaikan
tekanan dan/temperatur setelah pembentukan granit, maka di Kabupaten Bangka Selatan dapat
dibedakan 3 jenis granit, masing-masing granit biotit, granodiorit, dan granit genesen.

Granit biotit adalah jenis granit yang mengandung biotit 10% hingga 25%, ditemukan di
Pulau Lepar (Kecamatan Lepar Pongok).
Granodiorit adalah jenis granit yang memiliki kandungan mika lebih kecil, serta memiliki
kandungan biotit dan amfibol yang lebih besar dari pada granit, ditemukan di Pantai Pasir
Putih dan G.Muntai
Granit genesan adalah jenis granit yang telah mengalami proses malihan (metamorfosa)
akibat kenaikan tekanan dan/temperatur. Granit ini umumnya terdapat di bagian bawah
masa batuan granit.

Ketiga jenis granit di atas adakalanya terdapat pada suatu lokasi yang sama seperti yang dijumpai
di G. Namak.

Di Kabupaten Bangka Selatan, granit yang termasuk ke dalam kelompok Granit Klabat terbesar
cukup banyak, yaitu masing-masing di G.Muntai, G.Toboali, G.Namak, Pantai Pasir Putih,
Tanjung RU, Tanjung Kubu, dan Tanjung Mempunyai (Kecamatan Toboali, Gambar 3.6);
Bukit Murup, Bukit Trubuk manawar, G.Gebang, Bukit Burang, Bukit Keledang, G.Neneh, dan
G.Berah (Kecamatan Payung); Bukit Nangka dan Tanjung Berdaun (Kecamatan Simpang
Rimba); dan P. Lepar (Kecamatan Lepar Pongok).

Potensi cadangan /sumberdaya granit di Kabupaten Bangka Selatan sangat besar, seluruhnya
memiliki luas penyebaran 663.125.000 m2. Apabila diasumsikan granit yang

dapat ditambang rata-rata setebal 20 m, maka jumlah cadangan sumber daya granit di Kabupaten
Bangka Selatan dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1

Cadangan Sumber Daya Granit di Kabupaten Bangka Selatan

No Kecamatan Lokasi Cadangan (M)


1 Toboali Gn. Muntai

Gn Toboali

Gn. Namak

Pantai Pasir putih


3.392.500.000
Tanjung Ru

Tanjung Kubu

Tanjung Mempunai
2 Airgegas Bukit Murup

Bukit Trubukmanawar

Gn. Gebang

Bukit Burang

Bukit Keledang

Gn. Neneh

Gn. Berah 5.358.750.000


3 Payung Bukit Batang

Bukit Mundung

Paninyer 1.998.750.000
4 Simpang Rimba Bukit Nangka

Tanjung Berdaun 1.425.000.000


5 Lepar Pongok Pulau Lepar 1.087.500.000
Total 13.262.500.000

Berdasarkan keadaan batuan, bentuk mineral, komposisi, dan hasil kuat tekan dengan nilai rata-
rata > 340 kg/cm2, maka granit di Kabupaten Bangka Selatan dapat digunakan sebagai batu
ornamen, lantai, dinding, dan dinding bangunan.

Granit di daerah ini belum banyak diusahakan, sebagian kecil digali oleh penduduk untuk bahan
pengeras jalan dan pondasi rumah. Vegetasi yang menutupi sebaran granit pada umumnya
berupa hutan primer, sekunder dan lahan pertanian/kebun penduduk.

3.2.2 Pasir Kuarsa

Pasir kuarsa adalah jenis bahan terdiri dari butiran-butiran kuarsa yang berukuran 0,06 2,0
mm. Butiran-butiran kuarsa tersebut memiliki kadungan Si02 (>90%) Gambar 3.7. Bahan galian
ini terjadi dari hasil pelapukan batuan yang banyak mengandung kuarsa, feldsdpatic, dan
sebagainya yang tercuci atau terbawa air/angin dan diendapkan di sekitar sungai, pantai, atau di
tempat yang rendah.
Di Kabupaten Bangka Selatan pasir kuarsa terbentuk dari hasil pelapukan granit yang kaya akan
kuarsa dan K-felspar serta dari formasi-formasi batuan lainnya yang memiliki kandungan kuarsa.
Penggunaan pasir kuarsa terutama sebagai bahan baku utama atau bahan tambahan dalam
industri gelas-kaca, refraktori, pengecoran logam, pembuatan ferro silicon, silicon karbida,
ampelas, penyaring, bahan baku semen dan lain-lain.

Di samping itu, tidak tertutup kemungkinan memanfaatkan pasir kuarsa untuk penggunaan
lainnya, yakni dengan memenuhi persyaratan spesifikasi penggunaannya. Untuk

mencapai spesifikasi tersebut sering dilakukan pengolahan/pencucian guna menghilangkan zat-


zat/mineral pengotor serta meninggikan kadar Si02.

Selain itu untuk mencapai ukuran butir tertentu perlu dilakukan penggilingan untuk memperoleh
butiran yang sangat halus yang diperlukan dalam industri cat, ampelas, bahan pengisi dan
sebagainya. Dengan demikian tingkat pengolahan pasir kuarsa sangat ditentukan oleh jenis
penggunaannya.

Sebaran pasir kuarsa di Kabupaten Bangka Selatan sangat luas (Gambar 3.8), meliputi hampir
seluruh kecamatan yang ada, terutama di sekitar pantai, sungai dan tempat yang rendah/rawa.
Luas sebaran pasir kuarsa di Kabupaten Bangka Selatan diperkirakan mencapai 4.143.68 Ha
dengan ketebalan yang sangat bervariasi antara 2-6 mete,r sehingga potensi cadangannya
mencapai 200.000.000 m3.

Potensi pasir kuarsa di Kabupaten Bangka Selatan telah ada yang mengusahakan oleh suatu
perusahaan yang berizin dengan menambang endapan pasir kuarsa yang terdapat di sekitar
Tanjung Kubu. Pasir kuarsa tersebut tanpa melalui proses pengolahan dan pencucian terlebih
dahulu langsung dikirim ke Jakarta dengan kapal Tongkang melalui dermaga pantai Gambar
3.9.

3.2.3 Kaolin

Kaolin adalah bahan galian yang tersusun dari lempung kualitas tinggi, mempunyai komposisi
kimia hydrous aluminium silicate Al203, 2Si02.2H20, berukuran butir sangat halus dan bersifat
lunak.

Kaolin terdiri dari hasil pelapukan dan dekomposisi batuan feldpatic dimana mineral-mineral
potash alumunium silicate dan feldspar berubah menjadi kaolin. Endapan kaolin di Kabupaten
Bangka Selatan (Gambar 3.10) terbentuk dari hasil pelapukan dan dekomposisi batuan granit
yang banyak mengandung K-feldspar.

Endapan Kaolin di Kabupaten Bangka Selatan dijumpai pada beberapa tempat di antaranya di
daerah Parit 3 dan tepi jalan raya Toboali Sadai. Kaolin ini berwarna putih, berbutir halus,
lunak dan lengket apabila basah, sebagian bersifat pasiran. Endapan ini dapat di lihat pada
gambar 3.11.
Luas penyebaran kaolin ini pada dua lokasi tersebut di atas sekitar 4.42 Ha. Tebal kaolin belum
dapat diketahui dengan pasti, namun diperkirakan tidak lebih dari 3 m.

Dengan demikian, potensi cadangan kaolin diperkirakan mencapai 120.000 m3. Kaolin
dipergunakan pada industri karet, kertas, tekstil, keramik, refraktori, kimia, cat, pasta gigi, bahan
pemutih pada industri gula, makanan, obat-obatan dan sebagainya. Tiap-tiap penggunaan kaolin
memerlukan spesifikasi tersendiri, misalnya untuk bahan pelapis kertas digunakan mineral
lempungnya jenis kaolinit, berukuran <2 mikron sebanyak 80%, daya tukar kation 5-15 mili
ekuivalen/100 gr dan sebagianya.

Penambang kaolin biasanya dilakukan dengan sistem tambang terbuka dengan membersihkan
lahan di permukaannya terlebih dahulu menggunakan bulldozer. Selanjutnya penggalian dapat
dilakukan dengan shovel. Kaolin yang telah di tambang perlu diolah terlebih dahulu sesuai
dengan kebutuhan atau spesifiksi penggunaannya.

3.2.4 Bijih Timah

Mineralisasi timah di wilayah Pulau Bangka dan sekitarnya merupakan bagian dari sabuk timah
(tin belt) di Asia Tenggara yang memanjang mulai dari Yunan (cina), Myanmar, Thailand,
Semenanjung Malaysia sampai ke Indonesia. Tipe endapan timah yang terdapat pada sabuk
timah Asia Tenggara tersebut dapat dibagi atas lima tipe endapan kasiterit (Sn02) yaitu :

1. Magmatic Dissemination
2. Pegmantit dan Apliet
3. Cebakan Kontak Metamorfosa
4. Cebakan Hidroternal
5. Endapan Sekunder.

Endapan Bijih Timah di Pulau Bangka, terdiri dari 2 macam, yaitu : berupa mineralisasi pada
batuan granit dan berupa endapan sekunder baik di darat maupun di lepas pantai. Dalam
pengamatan lapangan kali ini jumlah cadangan timah di Kabupaten Bangka Selatan belum dapat
ditentukan, baik yang tergolong timah primer berupa urat-urat timah pada batuan granit maupun
yang tergolong endapan sekunder di darat dan lepas pantai.

Namun demikian, PT. Timah, Tbk telah melakukan eksplorasi bijih timah di wilayah ini,
sehingga jumlah dan kualitas cadangannya telah terdata. Endapan bijih timah tersebar luas di
Kabupaten Bangka Selatan, sehingga sebagian kelompok masyarakat telah mengembangkannya
sebagai kegiatan usaha pertambangan bijih timah. Meskipun legalitas pertambangan belum
dilengkap,i namun beberapa lokasi penggalian tetap berjalan, baik di darat maupun di perairan
pantai, seperti terlihat pada
Hingga saat ini penyelesaian masalah legalitas pertambangan timah ini masih dalam proses
penyelesaiannya antara Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, para pelaku pertambangan
(Masyarakat (Gambar 3.13) dan PT. Timah,Tbk), dan Pemerintah Pusat (Departemen Energi
dan Sumber Daya Mineral).

3.2.5 Besi

Endapan besi yang berupa batu besi di Kabupaten Bangka Selatan ditemukan di sebelah barat
Bukit Pelawan (Kecamatan Payung). Endapan besi tersebut berasal dari pengisian oksida besi
pada rekahan-rekahan batuan Formasi Tanjung Genting. Batu besi berwarna abu-abu kehitaman
sampai abu-abu kecoklatan, berupa magnetit, hematite, limonit, berasosiasi dengan psilomelan
dan urat kuarsa, bersifat berat dan bereaksi dengan magnet. Jumlah cadangan teridikasi batu besi
di Bukit Pelawan adalah sebesar 58.785,25 ton dengan kadar Fe = 45,24% (Direktorat Sumber
Daya Mineral, 1998).

Endapan bijih besi yang berupa batu besi di Kabupaten Bangka Selatan di temukan di sebelah
Barat Bukit Pelawan (Kecamatan Payung) Gambar 3.14. Endapan bijih besi tersebut berasal
dari pengisian oksida besi pada rekahan-rekahan batuan Formasi Tanjung Genting. Batu besi
berwarna abu-abu kehitaman sampai abu-abu kecoklatan, berupa magnetit, hematite, limonite,
berasosiasi dengan psilomelan dan urat kuarsa, bersifat berat dan bereaksi dengan magnet.

Direktorat Sumber Daya Mineral (1998) memperkirakan jumlah cadangan terindikasi batu besi
di Bukit Pelawan adalah sebesar 58.785.25 ton dengan kadar Fe = 45.24%. Namun demikian
dalam pengamatan lapangan kali ini luas sebarannya kurang dari 1 Ha dan jumlah cadangan
tersebut telah berukuran. Pengurangan tersebut diperkirakan karena telah terjadi penggalian di
lokasi tersebut. Salah satu hasil penambangan bijih besi hasil rakyat dapat dilihat pada gambar
3.15.

3.2.6 Zirkon

Zirkon terbentuk sebagai mineral ikutan pada batuan yang mengandung Na-felspar seperti granit
dan syenit dan batuan malihan jenis genes dan sekis. Secara ekonomis zircon dijumpai dalam
bentuk butiran (pasir) baik yang terdapat pada sedimen sungai maupun sedimen pantai,
berasosiasi dengan mineral berat dan kasiterit.

Zirkon di Kabupaten Bangka Selatan diperkirakan terdapat bersamaan dengan endapan timah
sekunder, baik berupa endapan sungai maupun endapan pantai. Butirannya yang halus dan warna
yang bening agak sulit dibedakan dari butiran kuarsa yang banyak dijumpai di seluruh wilayah
Bangka Selatan. Sebagaimana endapan timah, untuk mengetahui potensi zirkon ini perlu
dilakukan penelitian dan eksplorasi lebih lanjut.

3.2.7 Monasit

Monasit banyak dijumpai berupa endapan sekunder bersama-sama dengan zircon dan kasiterit,
berupa dengan endapan sungai dan pantai. Selain itu monasit ditemukan juga pada batuan granit
berupa endapan primer. Hingga saat ini belum banyak penelitian tentang monazite di Indonesia,
baik jumlah cadangan maupun kualitasnya.

Endapan Monasit di Kabupaten Bangka Selatan ditemukan di Gunung Muntai Kecamatan


Toboali. Menurut Direktorat Sumber Daya mineral (Peta sebaran Mineral Logam P. Sumatera
Bagian Selatan, 1998) monasit di Gunung Muntai memiliki cadangan terukur sebesar 182.9 ton.
Selanjutnya dalam pengamatan lapangan di Gunung Muntai dijumpai banyak singkapan batu
granit yang diduga mengandung Monazit di bagian pinggang dan puncak gunung, namun secara
megaskopis sangat sulit mengetahui kandungan mineral tersebut dalam batu granit.

3.2.8 Tanah Liat

Bahan galian ini banyak ditemukan di beberapa daerah terutama di sekitar lokasi penambangan
timah. Ketebalannya bervariasi berkisar antara 1-3 meter, berwarna coklat kemerahan dan
lengket pada saat basah. Selain itu, endapan tanah liat juga banyak dijumpai di daerah Parit Tiga
dan lokasi pembangunan kantor bupati dengan luas sekitar 200 Ha. Meskipun kualitas tanah liat
ini tidak sebaik ballclay, namun jenis ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku : gerabah, batu
bata dan genteng.

3.2.9 Tanah Urug

Tanah urug merupakan jenis material yang sebelumnya tidak pernah di kategorikan sebagai
bahan galian. Jenis bahan galian ini telah banyak dimanfaatkan masyarakat pada pembangunan
berbagai sarana dan prasarana publik. Namun demikian, di wilayah Bangka Selatan belum
dikembangkan dengan baik meskipun cadangannya cukup besar.

Secara umum tanah urug adalah material bahan galian yang tidak diolah atau diproses lebih
lanjut, namun langsung digunakan sebagai filling material, seperti pengurugan untuk bangunan:
jalan, bendungan, gedung, dan fasilitas publik lainnya.

Potensi bahan galian yang terdapat di Kabupaten Bangka Selatan dapat di lihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2

Cadangan Bahan Galian Hasil Pengamatan Lapangan


No Jenis Bahan Galian Luas Sebaran Jumlah Lokasi
(Ha) Cadangan

(x 1000 M3)
1 Granit 66.312.50 13.262.500 Kec. Toboali, Air Gegas,
Payung, Simpang Rimba,
Lepar Pongok
2 Pasir Kuarsa 4.143.68 200.000 Kec. Toboali, Lepar
Pongok, Simpang Rimba,
3 Kaolin 4.42 120 Kec. Toboali
4 Bijih Timah*) 275.288.05 11.011.522 Kec. Seluruh kecamatan
5 Bijih Besi <1 15 Kec. Payung
6 Zirkon
7 Monasit 182.9 (ton) Gn. Muntai

Kec. Toboali
8 Tanah Liat **) 200 6000 Parit Tiga Kec. Toboali
9 Tanah Urug 100.000 Tersebar di seluruh
kecamatan

*) sampai kedalaman 6 M **) sampai kedalaman 3 M

3.3 Perijinan Pertambangan

Pada saat ini kegiatan usaha pertambangan yang dikeluarkan oleh Dinas Pertambangan, Energi
dan Lingkungan , Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari bahan galian pasir kuarsa dan timah.
Dari 17 Perusahaan yang diberikan ijin terdiri dari 8 perusahaan Pasir Kuarsa dengan luas
keseluruhan 368,1 Ha dan 9 Perusahaan Timah dengan luas keseluruhan 3.442,06 Ha.

17 perusahaan tersebut tersebar di Kecamatan Toboali, Kecamatan Lepar Pongok, Kecamatan


Simpang Rimba, Kecamatan Air Gegas. Yang tergolong masih aktif hanya dua perusahaan,
termasuk berhenti atau tidak aktif terdapat 12 perusahaan, 1 perusahaan masih tergolong belum
aktif atau belum proses.

Tabel 3.3

Daftar Izin Penambangan di Kabupaten Bangka Selatan

No. Nama Jenis Bahan Luas [Ha] Wilayah Status


Galian
1. PT. Surya Johari Pasir Kuarsa 120 Toboali, Kec. Toboali Berhenti
Abadi
2. PT. Cipta Karya Pasir Kuarsa 43.6 Tanjung Kubu, Kec. Berhenti
Lahanindo Toboali
3. CV. Kawo Karya Pasir Kuarsa 50 Desa Tanung Labu, Tidak aktif
Kec. Lepar Pongok
4. PT. Surya Salura Pasir Kuarsa 4.5 Gunung Namak Kec. Tidak aktif
Mandiri Toboali
5. CV. Sumber Alam Pasir Kuarsa 20 S. Gusung Desa Rias Berhenti
Antarnusa Kec. Toboali
6. CV. Confortindo Pasir Kuarsa 100 Ds. Tanjung Labu Berhenti
Bangka Kec. Lepar Pongok
7. PT. Surya Johor Pasir Kuarsa 10 Gn. Namak Berhenti
Abadi
8 CV. Harapan Maju Pasir Kuarsa 20 Ds. Pasir putih Aktif
Bersama
Total KP Kuarsa Total IUP = 368.1 Ha
9. PT. Tambang Timah 749.70 Laut Permis, Kec. Aktif
Timah Simpang Rimba
10. PT. Tambang Timah 199.85 Laut Permis, Kec. Aktif
Timah Simpang Rimba
11. PT. Serui indah Timah 28.510 Ds. Sebagin Belum
jaya Betumpang Kec. Aktif/Proses
Simpang Rimba
12. CV. Basuki Timah 200 Air Ketiak Kec. Air Tidak Aktif
Gegas
13. CV. Bayu Mandiri Timah 49 Sadai Kec. Toboali Tidak Aktif
Pratama
14. PT. Stania Prima Timah 500 Ds. Gumba Kec. Tidak Aktif
Indoncoi Toboali
15. PT. Prima Stania Timah 150 BangkaKota Kec. Tidak aktif
Nusantara Toboali
16. PT. Prima Stania Timah 730 Ds. Jelutung II Kec. Tidak aktif
Nusantara Simpang Rimba
17. PT. Prima Stania Timah 815 Ds. Pergam Kec. Air Tidak aktif
Nusantara Gegas
Total KP Timah 3.422.06 Ha

https://dedysetyopermata.wordpress.com/2013/02/15/kondisi-geologi-dan-potensi-bahan-galian-
kabupaten-bangka-selatan/

Sanitasi Hati
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan dan
sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang (Pasal 28 UUD '45)

Jumat, 13 Agustus 2010


Geologi Regional Pulau Bangka Dan Sekitarnya
I. Morfologi Dan Fisiografi

Secara fisiografi, Pulau Bangka termasuk kedalam Sunda Land dan merupakan bagian terangkat dan
paneplain Sunda Land. Bila ditinjau dari sudut geologi penyebaran bijih timah di Indonesia masih
merupakan kelanjutan dari Granit Belt yang berumur YuraKapur yang membentang mulai Birma,
Muangthai, Malaysia, Kepulauan Riau (Pulau Singkep, Pulau Karimun dan Pulau Kundur), Pulau Bangka
dan Pulau Belitung hingga Pulau Karimata.
Granite Belt sendiri merupakan deretan formasi batuan granit kaya akan mineral kasiterit yang akan
kemudian dikenal dengan sebutan The Tin Belt (gambar 3.1).

(Gambar menyusul)

Pulau-pulau dari The Tin Belt diinterpretasikan merupakan sisa bagian resisten dari gunung yang muncul
pada masa terbentuknya Sunda Shelf. Pupili (1973) menyatakan bahwa Malaysia, Kepulauan Riau, dan
Bangka berada dalam kelompok elemen tektonik yang sama. Evolusi tektonik di wilayah ini telah dimulai
sejak Paleozoikum Bawah dimana berdasarkan Teori Tektonik Lempeng bahwa daerah penunjaman
(subduction zone) berada di bagian timur Malaysia dan pada Mesozoikum Bawah-Tengah menghasilkan
busur gunung api (magmatic arc) dalam bentuk deretan pulau Kundur, Pulau Singkep, Pulau Bangka,
Pulau Belitung dan sebagainya dari Kalimantan Barat (gambar 3.2).

(Gambar menyusul)

Pulau Bangka merupakan daerah dengan stadia erosi tingkat lanjut, hal ini dicirikan dengan keadaan
yang umumnya relatif datar dan adanya bukit-bukit sisa erosi (monadrock).
Bukit-bukit sisa erosi tersebut tersusun atas batuan beku granit yang umumnya menempati bagian tepi
P. Bangka
a. Dibagian utara : Granit Klabat, yang berorientasi barat timur melewati teluk Klabat. Granit yang ada
disekitarnya terdiri atas granit Pelangas, granit Menumbing, granit Mangkol.
b. Di bagian Selatan : tersusun atas pluton yang lebih kecil yaitu Pluton, Koba, Pluton Bebuluh, Pluton
Permis, dan granit Toboali, serta pluton yang lain yang terletak diantaranya.
Daerah dataran menempati + 80 % luas seluruh daerah. Daerah inilah merupakan tempat endapan
alluvial yang mengandung konsentrasi bijih timah. Umumnya sungai-sungai yang ada mengalir di atas
endapan-endapan muda (Plistosen/Pliosen) kecuali pada hulu-hulu sungai /dekat pada daerah
perbukitan.

II. Stratigrafi
Menurut Katili (1967) batuan-batuan yang dijumpai di Pulau Bangka terdiri atas batuan Pra-Tersier
diantaranya, batupasir, batulempung, lapisan-lapisan pasir, lempung mengandung sisa tanaman,
campuran antara lempung-pasir-lanau. Kemudian granit dan batuan metamorf seperti sekis.

Berikut formasi yang merupakan penyusun stratigrafi daerah Pulau Bangka (gambar 3.3) :
1. Qa (Aluvium) : lumpur, lempung, pasir, kerikil, dan kerakal yang terdapat sebagai endapan sungai,
rawa dan pantai
2. Qs (Endapan rawa) : lumpur, lanau dan pasir
3. Qak (Pasir kuarsa) : pasir kuarsa berwarna putih, berbutir kasar-sedang, lepas, membundar tanggung-
membundar, tersingkap disepanjang pantai timur Pulau Sumatera di sekitar Tanjung Jati
4. TQr (Formasi Ranggam) : Perselingan batupasir, batulempung dan konglomerat. Batupasir putih kotor,
berbutir halus-kasar, menyudut-membundar tanggung, mudah diremas, berlapis baik, struktur sedimen
pada batupasir silang siur. Setemat ditemukan lensa-lensa timah dengan tebal 0,5 m dan mengandung
pasir timah sekunder yang tercampur dengan batupasir kuarsa. Batulempung mengandung sisa-sisa
tumbuhan dan lensa gambut. Konglomerat, komponen terdiri dari pecahan granit, kuarsa dan batuan
malihan. Di desa Nibung ditemukan fosil Vertebrata (? Stegodon) terdapat dalam konglomerat. Dalam
batupasir ditemukan fosil moluska terdiri dari Olivia iricinela Mart, Cyproea sonderava Mart, Arca
cornea Roeva, Topes mimosa Phil, dan Venus squanosa Lam, sedangkan fosil foraminifera bentos antara
lain Amonia sp., Triloculina sp. Berdasarkan fosil-fosil tersebut Formasi Ranggam diduga berumur
Miosen Akhir-Plistosen Awal dan terendapkan di lingkungan fluvial. Tebal formasi ini kira-kira 150 m
(Cobbing, 1984) dan menindih secara tidak selaras diatas formasi-formasi yang lebih tua dibawahnya.
Lokasi tipenya di Ranggam, sebelah timur Mentok.
5. Granit Klabat (Rjkg) : Granit biotit, granodiorit dan granit genesan. Granit biotit, kelabu, tekstur
porfiritik dengan butiran kristal berukuran sedang-kasar, fenokris feldspar panjangnya mencapai 4 cm
dan memperlihatkan struktur foliasi. Granodiorit, putih kotor, berbintik hitam. Granit genesan, kelabu,
berstruktur perdaunan. Nama satuan ini berasal dari lokasi tipenya di Teluk Klabat, Bangka Utara.
Pentarikhan dari 5 contoh granit berdasarkan metoda K-Ar dan Rb-Sr masing-masing menunjukan umur
201 + jt (Graha, 1990) dan 213 + 4,217 + 15,225 + 9 dan 223 + 16 (Cobbing, 1992). Berdasarkan
pemeriaan tersebut umur batuan granit ini Trias Akhir-Jura Awal dan menerobos Formasi Tanjung
Genting dan Kompleks Malihan Pemali.
6. Formasi Tanjung Genting (Rt) : Perselingan batupasir dan batulempung. Batupasir, kelabu kecoklatan,
berbutir halus-sedang, terpilah baik, keras, tebal lapisan 2-60 cm dengan struktur sedimen silangsiur dan
laminasi bergelombang, setempat ditemukan lensa batugamping setebal 1,5 m. Batulempung kelabu
kecoklatan, berlapis baik dengan tebal 15 m, setempat dijumpai lensa batupasir halus. Dalam lensa
batugamping, Osberger menemukan fosil Montlivaultia molukkana, Entrochous sp., dan Encrinus sp.,
yang menunjukan umur Trias. Berdasarkan fosil-fosil tersebut Formasi Tanjung Genting diduga berumur
Trias Awal dan terendapkan di lingkungan laut dangkal. Kontak dengan granit ditemukan di utara
Lembar. Formasi Tanjung Genting tidak selaras di atas batuan malihan.
7. Kompleks Malihan Pemali (CPp) : Filit, sekis, kuarsit. Filit, kelabu kecoklatan, struktur mendaun dan
berurat kuarsa. Sekis, kelabu kehijauan, struktur mendaun, terkekarkan, setempat rekahannya terisi
kuarsa atau oksida besi, berselingan dengan kuarsit. Kuarsit, putih kotor, kecoklatan, keras tersusun oleh
kuarsa dan feldspar, halus-sedang, perlapisannya mencapai tebal 1 cm. Umur satuan ini tidak diketahui
dengan pasti tetapi kedudukannya ditindih tidak selaras oleh Formasi Tanjung Genting maka umurnya
diduga Perm atau Karbon (Cissar dan Baum dalam Osberger, 1965).
Batuan beku pembawa timah adalah granit yang berhubungan dengan magma asam. Menurut Katili
(1967) di Pulau Bangka terdapat 2 generasi granit. Granit yang tua tidak mengandung kasiterit dan
umumnya terdapat di daerah rendah, yakni granit Klabat dan A. Kapo.
Granit generasi muda sebagai pembawa timah umunya telah tererosi lanjut (monadnock).

Menurut Suyitno (1981), generasi granit tersebut adalah :


1. Granit Klabat-Jebus, terletak di utara.
2. Granit Belinyu-Sungailiat, menyebar di bagian timur granit Jebus.
3. Granit Menumbing
4. Granit Tempilang
5. Granit Mangkol
6. Granit Pading-Koba
7. Granit Toboali

Granit yang terpenting dalah garanit Klabat, Menumbing, Plangas, Tempilang, Mangkol, dan Pading.
Umumnya tubuh granit tersebut tersusun atas granit biotit, granit hornblende, granit muskovit, mineral
yang umum terdiri atas kwarsa, ortoklas, aligoklas, biotit, serta sebagai asesoris zircon, apatit dan ortit.
Ada empat kelompok endapan yang dianggap mewakili sedimentasi Quarter di Pulau Bangka, antara lain
:
1. Lapisan Alluvium Muda, umumnya mengandung biji timah, terdapat di lembah, diatas batuan Pra
tersier dan dialasi lapisan lempung liat.
2. Lapisan Marine Muda, menutupi lapisan alluvium muda, berupa pasir hingga lempung.
3. Lapisan Alluvium Tua, mewakili keadaan daratan yang meluas pada saat regresi muka air laut karena
glasial.
4. Lapisan Marine Tua, merupakan bidang erosi dan dapat dikorelasikan dengan lapisan lempung liat.

Granit di Pulau Bangka terdiri dari berbagai jenis yang terbagi menjadi beberapa formasi, yakni Formasi
Granit Klabat, Menumbing, Tempilang, Mangkol, Permis, Toboali, dan Sebuluh. Untuk penyebaran dari
jenis granit tersebut diperlihatkan pada gambar 3.7

(Gambar menyusul)

Endapan timah di Pulau Bangka umunya merupakan endapan placer yakni endapan sekunder yang
berasal dari timah primer yang kemudian tertransportasi oleh media air, proses kimiawi, gravitasi, iklim
tropis, dan perubahan muka air laut serta tektonik. Timah dapat membentuk endapan karena
mempunyai berat jenis (bj) dan kekerasan yang tinggi sehingga tidak mudah pecah. Timah sendiri
merupakan mineral yang tidak mudah larut dalam larutan asam ataupun basa.
Sedangkan karakteristik endapan timah sekunder adalah :
a. Terendapkan diatas kong (batuan dasar)
b. Kaksa ditemukan pada lembah sempit dan tertekan yang berasosiasi dengan boulder sebagai tempat
sebagai tempat terjebaknyanendapan timah placer.
c. Berasosiasi dengan Zircon (ZrSiO4), Monazite (Fe2O3), Magnetite, Kuarsa(SiO2), Ilmenite (FeTiO3),
Garnet, Emas (Au) dan Platina (Pt)
d. Mempunyai bentuk butir angular (bila dekat dengan sumber)
e. Umumnya di daerah sungai cukup jauh dari batuan sumber
f. Bila ukuran butir >48 # menunjukkan masih dekat dengan sumber.
Endapan timah sekunder terbentuk akibat proses pelapukan dari endapan primer selama rentang waktu
tertentu yang kemudian mengalami pencucian dan pengkayaan hingga pada akhirnya mengalami
transportasi oleh air dan terendapkan pada morfologi yang lebih rendah sebagai akumulasi.
Jenis cebakan bijih sekunder di Pulau Bangka, yakni :
1. Endapan Kulit
Elluvium, terjadi akibat pelapukan pada sumber diikuti pemindahan mineral kasiterit secara vertikal
sehingga mengalami transportasi kemudian tertransport pada lereng yang relatif landai. Colluvium,
terjadi sama dengan elluvium, namun sepanjang tertransport lebih jauh lereng menuju lembah.
2. Endapan Kaksa, terjadi karena proses erosi selektif terhadap elluvium dan colluvium, dimana mineral
berat diendapkan dekat sumber dan mineral ringan diendapkan jauh dari sumber. Endapan ini terletak
di atas batuan Pra Tersier dengan keterdapatan dominan pada lembah.
3. Endapan Meichan, terjadi akibat proses transportasi endapan sedimen, berupa endapan lebih tipis
dan tidak terdapat di atas batuan Pra Tersier.
Diantara endapan-endapan tersebut di atas yang terpenting adalah endapan kaksa yang ditemukan di
atas batuan dasar. Sedangkan jenis-jenis batuan dasar yang sering dijumpai antara lain :
a. Batuan Dasar Granit Lapuk
Batuan ini berwarna kekuningan dengan butir-butir mineral kuarsa berwarna putih susu atau berwarna
coklat terang, mineral biotit berwarna hitam gelap.
b. Batuan Dasar Batulempung
Batuan ini berwarna coklat kemerahan bergaris urat-urat mineral feldspar dan kuarsa
c. Batuan Dasar Batupasir
Batuan ini berwarna abu-abu gelap kompak, butiran kuarsa bertebaran dengan diselingin urat-urat
feldspar.
d. Batuan Dasar Malihan
Biasanya berwarna abu-abu muda sampai abu-abu gelap. Sering terlihat lembaran-lembaran mika yang
halus dan berwarna putih mengkilat.

III. Struktur Geologi

Menurut Katili (1968), menjelaskan bahwa pada batuan metamorf dan sedimen di Bangka Utara
terdapat adanya perlipatan silang akibat dua buah deformasi. Deformasi pertama mengakibatkan
lipatan dengan arah baratlaut-tenggara, umurnya sulit ditentukan dengan pasti.
Struktur lipatan berarah timurlaut-baratdaya (orogen II) disebabkan oleh deformasi pada Yura atas.
Orogen yang kedua ini menghilangkan jejak orogen yang lebih tua. Struktur lipatan ini kemungkinan
merupakan hasil tumbukan lempeng yang ada pada barat sumatera karena wilayah Bangka relatif stabil
atau tidak terlalu terganggu oleh pergerakan tektonik karena posisinya yang berada di back volcanic arc
seperti terlihat pada gambar 3.8.
(Gambar menyusul)
Menurut Sukendar Asikin dan Rubini Atmaja (1972), berdasarkan penelitian dan analisa kedudukan
rekaran-rekahan, urat-urat, dan korok-korok di daerah sambung giri dan pemali menyimpulkan bahwa
gerak-gerak orogen sebelum Yura atas mengakibatkan terjadinya deformasi yang menyebabkan
perlipatan pada batuan sedimen yang berumur Karbon-Trias. Deformasi ini selain membentuk lipatan
NW-SE juga menyebabkan terjadinya rekahan-rekahan (shear dan tension fracture)
Struktur sesar, kekar, ditemukan dalam arah yang bervariasi, tetapi kecenderungannya mempunyai arah
selatan (Katili, 1967). Ukoko (1983) mengatakan di Pulau Bangka terdapat beberapa sesar yang
umumnya berarah timurlaut-baratdaya sampai utara-selatan. Sesar utama berarah N 300 E memotong
granit klabat ke selatan sepanjang 3 km. Sesar utama ini dalam foto udara tampak sebagai kelurusan
sepanjang 50 km.

IV. Sejarah Geologi

Pada zaman Paleozoikum P.Bangka dan laut di sekitarnya merupakan daratan (gambar 3.9 A).
Selanjutnya pada zaman Karbon Trias berubah menjadi laut dangkal. Orogenesa kedua terjadi pada
masa Mesozoikum, Pulau Bangka dan Riau muncul ke permukaan. Intrusi granit menerobos batuan
sedimen sperti batupasir, batulempung, dan lainnya pada Trias Yura atas. Pada batas antara sedimen
dan granit terjadi metamorfosa kontak. Bersamaan intrusi granit ini terjadi proses pneumotolitik yang
menghasilkan kasiterit. Proses ini dengan proses hidrotermal yang menhasilkan kasiterit yang mengisi
rekahan-rekahan pada granit. Erosi intensif pada Kenozoikum diman lapisan yang menutupi granit
terkikis habis sehingga batuna granit tersingkap.
Selanjutnya diikuti oleh proses pelapukan, transportasi dan pengendapan di lembah-lembah. Suasana
daratan Bangka berlanjut sampai Tersier. Pencairan es pada kala Pleistosen mengakibatkan beberapa
daerah di Bangka menjadi laut dangkal seperti sekarang ini. Erosi berlanjut membentuk P. Bangka
menjadi daratan seperti sekarang ini (gambar 3.9 B).
(Gambar menyusul)

Pulau Bangka yang dahulunya merupakan bagian dari Sunda Land memiliki beberapa fase sedimentasi.
Ada 3 fase sedimentasi fluviatile pada Sunda Land (gambar 3.10), yaitu :
1. Late Miocene Early Pliocene, saat itu sea level sangat rendah, iklim semi arid dengan curah hujan
rendah. Dengan stabilnya Sunda Land terjadi laterisasi yang dalam pada Sunda Peneplain.
2. Late Pliocene Middle Pleistocene terjadi peningkatan hujan yang menyebabkan terbawanya
material erosi regolith tersebut ke lembah-lembah dan kemudian reworking dan diendapkan lagi
menjadi ekonomis.
3. Late Pleistocene Holocene
Selanjutnya sedimen dan heavy mineral ditransportasikan dan diendapkan sebagai paleo-channel dan
sebagian terdapat dibawah permukaan laut.
(Gambar menyusul)

http://sanitasihati.blogspot.co.id/2010/08/geologi-regional-pulau-bangka-dan.html
Ps: Terimakasiih buat mas Tian, Tian Hakim Geologi Undip'06 yang udah bantuuin saya banget buat
tugas tektonika ini. Semoga mas Tian cepet lulus dan dapet kerja yang bagus, cepet nikah dan sehat
selalu.

Hormat seniorr! Hehehee

yang nulis blognya

Helnaria Fermi Pandelisman

Bandung, Indonesia

Pernah mikir gini nggak: "Kenapa flashdisc tuh selalu ada tutupnya, atau d design tertutup kalo
udah dipake?!Soalnya kalo ga ditutup tar file-filenya pada jatoh, atau nguap!" ~saya pernah~
@%*^&*@%^$

Lihat profil lengkapku

Blognya temen2ku...
Yang baca blog saya
Facebook Badge
Helnaria Fermi Pandelisman

Create Your Badge


Template Kelembutan. Diberdayakan oleh Blogger.

Potensi pertambangan

Pertambangan di Bangka Belitung bukan hanya timah, melainkan juga kaolin, granit, pasir laut masih
menunggu garapan dari investor.

Luas perairan Bangka Belitung yaitu 65.301 km2 mengandung bahan galian dengan cadangan
melimpah namun belum optimal dimanfaatkan.

Sampai saat ini cadangan timah baru diambil dari cadangan perairan dangkal. Selain bahan galian
timah juga dari daerah ini dikenal adanya bahan galian pasir kuarsa dan kaolin.

Endapan kaolin yang terdapat di beberapa tempat di Bangka diusahakan oleh beberapa perusahaan
swasta. Sedangkan pasir kuarsa pada umumnya hampir seluruhnya diusahakan oleh pengusaha
swasta nasional.

Bangka dan Belitung dipisahkan oleh Selat Gaspar. Keadaan geomorfologi kedua pulau membentuk
perbukitan yang berbentuk undulasi yang didominasi oleh batuan granitik dan batuan sedimen serta
metaforsa.

Perbukitan yang terdapat di Bangka pada umumnya meperlihatkan perbukitan sedang dan rendah
dengan ketinggian secara umum 50-300 meter dari permukaan laut. Sedangkan bukit yang tertinggi
adalah gunung kelumpang dengan ketinggian 2.786 meter yang terdiri dari batuan granit.

Keadaan geologi Bangka yakni batuan tertua di daerah ini adalah batuan metaforsa kompleks pemali
yang terdiri dari batuan lifit, sekis, dengan sisipan kuarsit serata lensa-lensa batu gamping.
Kompleks pemali tersebut berumur lebih muda dari kompleks pemali dan terobosan bataun granit
klabat.

Formasi ini terdiri dari perselingan batu pasir malihan, batu pasir, batu pasir lempung, dan batu
lempung dengan lensa-lensa batu gamping, tersebar sangat luas meliputi hampir seluruh bagian
pulau bangka, fomasi batuan ini berumur trias. Pada akhir trias pertengahan jura aktifitas magma
membentuk granit Klabat yang menerobos semua satuan batuan terdahulu. Fomasi Ranggam terdiri
dari perselingan batu pasir dan lempung terbentuk pada kaal Pliosen. Pada zaman kuarter yakni kala
holosen terbentuk endapan aluvial.

Keadaan struktur geologi yang dapat dinikmati didaerah bagian utara bangka berupa sesar naik, sesar
geser, sesar normal selain struktur sesar dapat pula diamati struktur lipatan, kekar dan beberapa
kelurusan.

Batuan tertua di Pulau Belitung terdiri dari batuan sedimen yang terdiri dari batuan flysh, batu pasir,
batu sabak, dan batu lumpur yakni termasuk dalam formasi kelapa kampit (PCks).

Selanjutnya fomasi tajam (PCTm) yang terdiri dari batu pasir kuarsa bersisipan dengan batu lanau
dan terlipat sedang hingga kuat dan juga sebagai termalihkan. Kedua formasi diatas berumur
Permo_karbon.

Itulah Bangka Belitung, provinsi baru yang menyimpan berbagai potensi, bukan hanya
pertambangan.

M. Syahran W. Lubis

Belitung terdiri dari batuan sedimen yang terdiri dari batuan flysh, batu pasir, batu sabak, dan
batu lumpur yakni termasuk dalam formasi kelapa

file:///C:/Users/ASUS/AppData/Local/Temp/digital_blob_F29249_Bangka%20Belitung%20tak%20hanya-
BI.htm
Jurnal Promine,
J
uni 2015, Vol. 3 (1), hal. 1
0
-
20
10
Interpretasi Struktur Geologi Regional Pulau Bangka
Berdasarkan
Citra
Shuttle Radar Topography Mission
(
SRTM
)
(Interpretation Structure of Regional Geology on Bangka Island with
Shuttle
Radar Topography Mission (SRTM))
Franto
1
1
Jurusan Teknik Pertambang
an UBB,
Kepulauan Bangka Belitung
Abstract
This paper aims to present the regional geological information related to geologic
structure on the
Bangka
island
.
I
n this paper
the processing
done digitally
on the image of
SRTM (Shuttle Radar
Topography Mis
sio
n) by combining the value of
azimuth and altitude in order
to obtain the number of
alignment able delineated and recognizable become more by incorporating
N0
o
E, N45
o
E, N90
o
E and
N315
o
E artificial lighting as well as the value of the slope of the sun at
45
o
.
Based on the
interpretation of the results obtained Hillshade and rose diagram direction relative
straightness
dominant northwest
-
southeast trending interpreted as a manifestation of the direction
stance layers,
but it also contained lineament tre
nding northeast
-
sout
hwest according Margono
et al.
(1995)
a rock
folds covering
Tanjung
Genting Formation and
Ranggam
Formation
,
large tilt
between 18
o
-
75
o
and
showed great intensity and there is tectonic lineament trending north
-
south,
according to
Mangga
and
Djamal
(
1994
)
was a fault and the fault is in the phase of the youngest as well
as the fracturing
horizontal
cut of
older faults (Crow , 2005).
Straightness morphological pattern of spread and intensity
level of tectonic deformation by the force in t
he research area is obtained by calculating
the count
lineament density
base
d Geographic Information System
with ArcGIS 9.3 in order
to obtain density
interval straightness into three classes, 0
-
28.72503662 km / km
2
(low),
28.72503663
-
57.45007324 km
/ km
2
(medium) and 57.45007325
-
86.17510986 km / km
2
(height) The higher the intensity, the area is
assumed to be much deformed and most likely close to the
structure geology
.
Keywords
:
Tektonic,S
truc
tur
e
,L
ineament
,
H
illshade,
G
IS
.
1.
P
endahuluan
Pengkajian
men
genai
struktur geologi
merupakan hal menarik khususnya di
Indonesia, Kepulauan Indonesia sebagai
jalur hasil tumbuka
n tiga lempeng litosfer,
yaitu
L
empeng Indo
-
Australia, yang bergeser
ke utara, Lempeng Pasi
fik yang bergeser ke
barat dan L
empeng Asia Tengg
ara yang
bergeser relatif ke selatan. Hal ini tentunya
mempengaruhi kondisi struktur geologi
wilayah Indonesia.
Struktur geologi terbentuk setelah
batuan terbentuk dan merupakan hasil
deformasi akibat gaya yang bekerja pada
batuan dalam waktu yang panjan
g. Struktur
-
struktur yang dihasilkan dapat berupa kekar
(
joint
), sesar (
fault
) dan lipatan (
fold
), foliasi
(foliation)
*
Korespondensi Penulis: (Franto
)
Jurusan Teknik
Pertambangan U
niversitas Bangka Belitung,
Kawasan
Kampus Terpadu UBB
, Merawang, Bangka
.
E
-
mail:
franto@yahoo.com
HP. 08127376439
(
foliation
) dan lineasi (
lineation
). Kehadiran
kekar, sesar dan foliasi pada batuan dapat
memperlemah kekuatan (
strength
) batuan,
sedangkan pergeseran sesar (tektonik)
da
pat menimbulkan gempa bumi, tsunami,
erupsi vulkanik dan longsoran tanah yang
merupakan
fenomena
destruktif
bagi
kehidupan manusia.
Struktur geologi di
Pulau Bangka meliputi kelurusan, kekar,
lipatan dan patahan. Lipatan terjadi pada
batuan berumur Perm da
n Trias (Mangga
dan Djamal, 1994). Lipatan batuan meliputi
Formasi Tanjung Genting dan Formasi
Ranggam,
mempunyai
arah
sumbu
timurlaut
-
baratdaya dan kemiringan besar
antara 18
o
-
75
o
, yang menunjukkan intens
itas
tektonik besar (Margono dkk
, 1995).
S
ebaran b
atuan plutonik mengikuti arah
lipatan dan terletak pada inti antiklin,
Demikian juga bentuk lintasan garis pantai
Pulau Bangka mengikuti arah struktur
geologi, khususnya sumbu lipatan. Adapun
kehadiran arah sumbu lipatan acak
Jurnal Promine, J
uni 2015, Vol. 3 (1), hal. 1
0
-
20
Teknik Pertambangan, Univ. Bangka Belitung
11
dimungkinkan hasil deformasi b
atuan yang
lebih tua dari Masa Mesozoikum.
Struktur kekar dan patahan memiliki
banyak orientasi. Arah umum utara
-
selatan,
timurlaut
-
baratdaya, dan tenggara
-
baratlaut.
Patahan dan kekar tersebut berkaitan erat
terhadap
perlipatan
(Katili,
1967).
Patahannya
berupa patahan naik, geser dan
patahan normal. Pola patahan berarah
utara
-
selatan merupakan fase patahan
paling muda (Mangga dan Djamal, 1994).
Patahan naik dan normal mempunyai arah
relatif baratlaut
-
tenggara, serta patahan
mendatar dengan arah relatif
utara
-
selatan
memotong patahan lebih tua (Crow, 2005).
Pengembangan tek
n
ologi satelit saat ini
telah digunakan untuk keperluan berbagai
disiplin ilmu pengetahuan, khususnya untuk
keperluan pemetaan geologi dan eksplorasi
sumber daya alam yang semakin inte
nsif
dilakukan.
Salah satu
hasil dari teknologi
satelit ini adalah
Digital Elevation Model
(DEM).
Digital Elevation Model
(DEM)
meru
pakan informasi
yang
sangat penting
untuk
berbagai
keperluan
analisis
permukaan
pada tahap lanjut dapat
diimplementasikan
un
tuk
membantu
kegiatan
pemetaan struktur geologi
yang
didukung dengan
tool
spatial analysis
p
a
d
a
A
rc
GIS
9.3 serta
dipadukan dengan piranti
lunak
rockwork
v.15
untuk
statistik
kelurusan
.
Digital Elevation Model
(DEM)
ad
a
l
ah
data digital y
an
g menggambarkan ge
ometri
dari bentuk permukaan bumi atau bagiannya
y
an
g terdiri dari himpunan titik
-
titik
koordinat
hasil
sampling
dari permukaan dengan
algoritm
a
yang
mendefinisikan permukaan
t
er
s
e
b
ut
menggunakan himpunan koordinat
.
keperluan analisis permukaan y
an
g pada
k
elanjutannya
d
a
p
a
t
diimplementasikan
untuk
berbagai eksplorasi sumberdaya
geologi.
L
okasi
Penelitian
Pulau Bangka merupakan bagian dari
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
yang
dibentuk berdasarkan UU No.27 Tahun 2000
yang terdiri dari Kabupaten Bangka,
Kab
upaten
Belitung
dan
Kota
Pangkalpinang, Adapun luas Pulau Bangka
11.693.54 km
2
yang terletak di sebelah
pesisir timur Sumat
era Selatan, berbatasan
dengan L
aut China Selatan di sebelah utar
a,
Pulau Belitung di timur dan Laut J
awa di
sebelah selatan yaitu
0
1
o
20
-
0
3
o
07

LS dan
105
o
-
107
o
BT memanjang dari barat laut ke
t
enggara sepanjang 180 km
(Gambar 1)
.
Gambar 1. Pulau Bangka
Tinjauan Pustaka
Fisiografi Regional
Pulau Bangka
Secara
fisiografi
Pulau
Bangka
merupakan pulau terbesar dalam Paparan
Sun
da (
Sunda
land
) dan merupakan
Sunda
Peneplain
,
dicirikan oleh daerah berbukit
dengan ketinggian batuan dasar yang
membatasi Cekungan Sumatra Selatan di
bagian timur dan Cekungan Sunda di bagian
utara
, Pulau
Bangka termasuk
Tin Islands
,
terletak pada
Sundala
nd Craton
Lempeng
Eurasia (Barber et
al., 2005), serta
merupakan bagian Sabuk Timah Asia
Tenggara
(Cobbing, 2005)
.
Stratigrafi Regional
Pulau Bangka
Pada Peta Geologi Lembar Bangka
Utara
dan Selatan
, Sumatra, skala 1 :
250.000,
Mangga
dan
Djamal (1994)
dan
Margono dkk (1995)
yang dipublikasikan
oleh Pusat
Penelitian Pengembangan
Geologi,
memetakan batuan tertua di
Bangka diwakili oleh
Kompleks Malihan
Pemali (CPp), terdiri dari filit dan sekis,
disisipi oleh kuarsit
dan lensa batugamping,
Sumsel
P.Bangka
Jurnal Promine, J
uni 2015, Vol. 3 (1), hal. 1
0
-
20
Teknik Pertambangan, Univ. Bangka Belitung
12
dengan
lokasi
di
D
aerah
Pemali
,
s
ebelumnya
Ko
(1986)
telah
mengilustrasikan batuan tertua di Pulau
Bangka
sebagai Kelompok Pemali
yang
diperkirakan
beru
mur Karbon
-
Perm (Mangga
dan
Djamal, 1994 dan Margono dkk
, 1995)
atau pada Paleozoikum
Atas (Ko, 1986),
sedangkan Crow dan
Barber (2005)
mendeskripsikan Kelompok
Pemali berumur
Devon?

Perm
.
Pada Perm terjadi
penerobosan Diabas Penyabung (PTrd)
terhadap
Malihan Pemali (Mangga dan
Djamal, 1994). Lembaran diabas mengintrusi
batuan
sedimen Kelompok Pemali di Bukit
Penyabung (Ko,
1986). Seri sedimen yang
dilintasi
dike dolerite
(diabas) memiliki arah
sebaran
timurlaut
-
baratdaya.
Menurut
Westerveld (1937)
Batuan diabas
sebagai
intrusi
sill
, dan merupakan pendahuluan
(
precursors
) dari granit yang diintrusikan
pada
tahap
selanjutnya.
Selanjutnya
diendapkan Formasi Tanjung Genting (Trt)
yang terdiri dari
perselingan batupasir malih,
batupasir,
batupasir
lempungan
dan
batulempung
dengan lensa batugamping,
secara setempat dijumpai oksida besi,
berlapis baik
dan terlipat
kuat, terkekar da
n
tersesarkan
(Mangga dan Djamal, 1994)
ber
umur Trias (De Neve dan De Roever,
1947).
Granit
Klabat
(TrJkg)
kemudian
menerobos ketiga formasi batuan di
atasnya.
Jenis
batuannya
terdiri
dari
granit,
granodiorit, adamalit, diorit dan diorit
kuarsa,
secara se
tempat dijumpai retas aplit dan
pegmatit (Mangga dan Djamal,
1994 dan
Margono
dkk
,
1995). Kemudian secara tidak
selaras
diendapkan
batuan
Formasi
Ranggam
(TQr) terdiri perselingan batupasir,
batulempung dan batulempung tufaan,
disisipi
lapisan tipis batula
nau dan bahan
organik
,
berlapis baik, struktur sedimen
berupa
laminasi sejajar dan perlapisan
silang siur,
beru
mur tidak lebih tua
dari
Miosen Akhir, atau diperkirakan berumur
Miosen Akhir
-
Pleistosen
.
Osberger (1965) dalam Katili (1967)
sebelumnya
men
deskr
ipsikan urutan
formasi
bantuan di Pulau Bangka
(Tabel 1)
. Formasi
batuan tertua digambarkan berupa batuan
metamorf dinamik (Pra Karbon)
yang ditindih
secara tidak selaras oleh filit, kuarsit,
batulanau dan batugamping (Perm).
Pada
Trias diendapkan batuapsi
r
dan Lapisan
Ranggam (Pleistosen
-
Pliosen).
Tabel 1.
Stratigrafi r
egional Pulau Bangka
(Osberger, 1965 dalam Katili, 1967)
Tektonik
Regional Pulau Bangka
Pulau Bangka pada mula Paleozoik
berhubungan erat dengan tektonik yang
membentuk Semananjung Malaya
dan
umumnya
terrane
Asia
Tenggara
(
Sundaland
) yang berasal dari Gondwana.
Blok
-
blok benua yang me
mbentuk Paparan
Sunda meliputi B
lok Malaya Timur, Indo
China, Sibumasu,
West Burma
dan
SW
Borneo
dari batas timur Gondwana seiring
dengan terbukanya
P
a
leo
-
Tet
hys
selama
Paleozoik
um
hingga Kenozoik
um
(Metcalfe,
2013) yang menghasilkan tumbukan antara
Sibumasu dan Malaya Timur
-
Indochina
(Metcalfe, 2009). Menurut Setijadji (2014)
Pulau Timah berada sepanjang Z
ona
S
uture
Bentong
-
Raub u
tama yang membuat batas
antara
t
imur
dan
T
erranes
Malaya
Sibumasu.
Suture
Bentong
-
Raub adalah
salah
satu sisa
-
sisa deformasi yang paling
dikenal
dari
kompleks
akresi
yang
membentang di sepanjang Semenanjung
Melayu melalui pulau timah, terkait dengan
subduksi dan penutupan
Paleo
-
Tethys
,
diikuti oleh tabr
akan benua selama Trias
-
Jura Awal (Barber et
al., 2005; Metcalfe,
1996, 2006). Di Semenanjung Melayu, yang
disebut
Main
(utama)
Province
Sabuk
Granitoid Asia Tenggara yang terdiri dari
granitoid
S
-
type
berumur Trias Akhir
-
Jurassic Awal (G
asparon dan Varne, 1995).
Sementara itu, di sisi timur dari
S
uture
Raub
-
Bentong, granitoid didominasi oleh
I
-
type
yang
usianya bervariasi dari Perm
-
Trias dan
Kapur Atas, batuan ini secara kolektif
diklasifikasikan sebagai sabuk Granitoid
Province
bagian Ti
mur Asia Tenggara
(Gasparon dan Varne, 1995).
Jurnal Promine, J
uni 2015, Vol. 3 (1), hal. 1
0
-
20
Teknik Pertambangan, Univ. Bangka Belitung
13
Kegiatan
tektonik
ditafsirkan
berlangsung sejak Perm, ditandai dengan
pembentukan Kompleks Malihan Pema
li
(CPp)
,
k
emudian
p
eriode Trias Awal terjadi
penurunan dan pengendapan
Formasi
Tanjung Genting (Trt) di l
ingkungan lau
t
dangkal
.
Berlanjut pada Trias Akhir
-
Jura
Akhir
terjadi
pengangkatan
dan
penerobosan Grani
t Klabat (TrJkg) (Margono
dkk
, 1995).
Setelah transgresi maksimum (Miosen
Tengah), kemudian mulai tahap
regresi oleh
pengangkatan Perbukitan Barisan (D
e Smet
dan Barber, 2005).
Pengendapan kembali
dimulai Kala Miosen Akhir
-
Pleistosen Awal
berupa
batuan Formasi Ranggam (TQr)
,
Selanjutnya
pengangkatan, pendataran dan
pengendapan aluvium sungai, rawa dan
pantai
berlangs
ung Kala Holosen (Margono
dkk
, 1995).
Struktur geologi di Pulau Bangka
meliputi kelurusan, kekar, lipatan dan
patahan. Lipatan terjadi pada batuan
berumur Perm dan Trias (Mangga dan
Djamal,
1994). Lipatan batuan meliputi
Formasi Tanjung Genting dan Formasi
Ranggam,
mempunyai
arah
sumbu
timurl
aut
-
baratdaya dan kemiringan besar
antara 18
o
-
75
o
, yang menunjukkan intensita
s
tektonik besar (Margono dkk
, 1995).
Berdasarkan Katili (1967) arah struktur
Kepulauan Busur Mesozoikum memiliki
pola
bentuk S, dimana perlipatan berhubungan
dengan pola struktur
S waktu Jura
Akhir.
Sebaran batuan plutonik mengikuti arah
lipatan dan terletak pada inti
antiklin
,
Demikian juga bentuk lintasan garis pantai
Pulau Bangka mengikuti arah
struktur
geologi, khususnya sumbu lipatan. Adapun
kehadiran arah sumbu lipatan
acak
dimungkinkan hasil deformasi batuan yang
lebih tua dari Masa Mesozoikum.
Struktur kekar dan patahan memiliki
banyak orientasi. Arah umum
utara
-
selatan,
timurlaut
-
baratdaya, dan tenggara
-
baratlaut.
Patahan dan kekar
tersebut berkaitan erat
terhadap
perlipa
tan
(Katili,
1967).
Patahannya berupa
patahan naik, geser dan
patahan normal. Pola patahan berarah
utara
-
selatan
merupakan fase patahan
paling muda (Mangga dan Djamal, 1994).
Patahan
naik
dan normal mempunyai arah
relatif baratlaut
-
tenggara, serta patahan
mendatar
dengan arah relatif utara
-
selatan
memotong patahan lebih tua (Crow, 2005).
SRTM (Shuttle Radar Topography Mission)
Data SRTM pada saat ini lebih banyak
digunaka
n
dibandingkan denga
n
data DEM
dari produk lainnya. Hal i
tu dikarenakan
beberapa keun
ggul
an yang dimiliki oleh
DEM SRTM antara lain, DEM RBI tidak
dapat
menampilkan
bukit
-
bukit
pada
ketinggian tertentu sedangkan tidak untuk
DEM SRTM, DEM dapat menampilkan
flat
area with city building
sedang untuk DEM
RBI tidak dapat terlihat.
Keunggulan la
in DEM SRTM :
1. Mudah didapat, karena
free
untuk seluruh
area di Indonesia
2. Kualitas yang bagus, lebih bagus karena
dengan
DEM Fill
3. Informasi yang didapat lebih banyak,
sampai dengan bangunan kota
4. Hampir sama dengan DEM RBI skala 1 :
25.000.
Inter
pretasi Geologi Citra Penginderaan
Jauh
Secara umum interpretasi citra untuk
survei
geologi
harus
memperhatikan
beberapa faktor, yaitu: (a) Unsur
-
unsur
dasar pengenalan citra dan (b) Unsur dasar
pengenalan geologi.
Unsur Dasar Interpretasi Geologi
Unsur da
sar interpretasi geologi adalah
gejala alam yang terlihat pada citra yang
memberikan kemungkinan kepada orang
untuk mengetahui keadaan geologi daerah
itu (Sudradjat dalam Soetoto, 1985). Unsur
dasar interpretasi geologi meliputi:
a
.
Relief
Relief yaitu beda t
inggi antara puncak
timbulan dan dasar lekukan (lembah)
serta curam landainya lereng
-
lereng
yang ada di daerah tersebut (Soetoto,
1995). Relief ini pada dasarnya
menggambarkan
ketahanan batuan
terhadap tenaga eksogenik.
b
.
Pola penyaluran
Pola penyaluran ber
hubungan dengan
sifat dan sejarah geomorfologi dan
geologi lokal daerah tersebut (Bates dan
Jackson, 1987, dalam Soetoto, 1995).
c
.
Budaya
Obyek budaya/bentanglahan budaya
kerapkali
dapat
dipakai
untuk
interpretasi geologi misalnya areal
persawahan biasanya t
erdapat di
Jurnal Promine, J
uni 2015, Vol. 3 (1), hal. 1
0
-
20
Teknik Pertambangan, Univ. Bangka Belitung
14
dataran aluvial, dataran kaki gunungapi
dan
residual soil
.
d
.
Vegetasi
Vegetasi kerapkali dapat memberikan
keterangan mengenai kondisi geologi
suatu daerah, misalnya pohon karet
tumbuh subur di daerah berbatuan
volkanik, pohon jati tumbuh subur d
i
daerah berbatu gamping.
Interpretasi Struktur Geologi
Pada
interpretasi
struktur
geologi
dengan menggunakan citra Landsat
-
7 ETM+
hanya akan diketahui struktur geologi yang
bersifat regional saja, seperti: lipatan, sesar
dan kekar.
Pengenalan kelurusan m
erupakan suatu
hal yang sangat penting dalam melakukan
interpretasi
struktur
geologi
dengan
menggunakan citra Landsat
-
7 ETM+. Al
Fasatwi dan
V
an Dijk (1990), mengatakan
bahwa ada hubungan yang kuat antara
kelurusan dan patahan sehingga dapat
disimpulkan ke
lurusan merupakan daerah
prospek
untuk
identifikasi
patahan.
Kelurusan
dapat
terekspresi
sebagai
kelurusan sungai, defleksi sungai yang
mendadak, kelurusan depresi
sinkhole
,
kelurusan
offset
topografi serta kelurusan
rona.
Struktur lipatan dapat diketahui
dari
kedudukan perlapisan batuan dan pola
singkapan. Menurut Soetikno (1977), lapisan
batuan dengan dip berlawanan dapat
ditafsirkan sebagai struktur antiklin maupun
sinklin. Apabila arah kemiringan perlapisan
batuan yang berlawanan mengarah ke luar
maka
dapat ditafsirkan sebagai struktur
antiklin, sedangkan bila mengarah ke dalam
dapat ditafsirkan sebagai struktur sinklin.
2.
Metode Penelitian
Analisis DEM
SRTM (
Shuttle Radar
Topography Mission
)
Pada tahap ini dilakukan beberapa
pengolahan data yaitu pem
buatan citra DEM
berupa
surface
analysis
,
delineasi,
pembuatan diagram
rose
dan densitas
kelurusan.
1
.
Analisis permukaan y
an
g dilakukan
tersusun atas analisis lereng dan
hillshade
. Analisis lereng dilakukan untuk
mengetahui sudut kemiri
n
gan lereng di
daerah
penelitian, Analisis ini bertujuan
untuk menentukan sudut kemiringan
matahari pada analisis
hillshade
agar
bayangan pada
shade relief
image
menjadi optimal di daerah penelitian,
khususnya untuk dilakukan penarikan
kelurusan secara manual. Analisis lereng
dilakuan dengan menggunakan
piranti
lunak
ArcGIS 9.3, melalui
spatial analyst
tool
yaitu
surface analyst
.
2
.
Tahap analisis data selanjutnya adalah
penarikan kelurusan (delineasi) secara
manual
.
3
.
Pembuatan
diagram
rose
untuk
menentukan
distribusi
pola
arah
ke
lurusan.
Rose
diagram
yang
dihasilkan akan digunakan untuk analisis
dan interpretasi struktur geologi
.
4
.
Pembuatan peta densitas kelurusan
yang dilakukan dengan
piranti lunak
ArcGIS 9.3.
Analis
is
Permukaan (
Surface Analyst
)
DEM khususnya digunakan untuk
me
nggambarkan relief medan. Gambaran
model relief rupabumi tiga dimensi (3
dimensi
yang
menyerupai
keadaan
sebenarnya di dunia nyata (
real world
)
divisualisaikan dengan bantuan teknologi
komputer grafis dan teknologi
virtual reality
(Mogal, 1993).
.
Pola
-
pola
elevasi permukaan
yang
tidak
tampak pada DEM d
a
p
a
t dimunculkan
dengan
menggunakan
fitur
analisis
permukaan
pada
piranti lunak
ArcGIS 9.3
.
Beberapa analisis permukaan
yang
dapat
dilakukan adalah analisis lereng dan analisis
hillshade
(ESRI Educational Serv
ice., 2007)
.
A
nalisis Lereng (
Slope Analyst
)
Menurut
Sukiyah
et
al.
(
2007
)
perhitungan
kemiringan
lereng
dapat
di
lakukan secara konvensional mela
lui
media peta topografi (
hadcopy
) dan melalui
peta dalam format digital. Keuntungan
perhitungan kemiringan ler
eng dalam format
digital adalah relatif lebih cepat, akurat dan
efisien dibandingkan dalam media
hardcopy
.
Salahsatu cara yang dapat digunakan
adalah metode
grid
sederhana yang
dilakukan dengan bantuan piranti lunak
ArcGIS.
Dalam penarikan kelurusan secara
digital, analisis lereng berguna
untuk
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=435422&val=5438&title=Interpretasi%20Struktur
%20Geologi%20Regional%20Pulau%20Bangka%20Berdasarkan%20Citra%20Shuttle%20Radar%20Topog
raphy%20Mission%20(SRTM)%20(Interpretation%20Structure%20of%20Regional%20Geology%20on%2
0Bangka%20Island%20with%20Shuttle%20Radar%20Topography%20Mission%20(SRTM))

Pelajar Sukses
Wednesday, October 30, 2013
Endapan Timah di Kepulauan Bangka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indoensia merupakan Negara yang kaya akan bahan galian industri dimana sektor
pertambangan merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam pemasukan devisa yang
besar bagi negara. Bahan galian adalah bijih (ore), mineral industri (industrial minerals) atau
bahan galian Golongan C dan batu bara (coal). Pengolahan bahan galian (mineral
beneficiation/mineral processing/mineral dressing) adalah suatu proses pengolahan dengan
memanfaatkan perbedaan-perbedaan sifat fisik bahan galian untuk memperoleh produkta bahan
galian yang bersangkutan.
Salah satu bahan galian yang berpotensi besar di Indonesia adalan timah. Adapun
penghasil timah di dunia diantaranya Nigeria,Thailand,dan Bolivia. Adapun penghasil timah
terbesar di dunia berturut-turut Malaysia (35%), Indonesia (20%) & Bolivia (10%). Indonesia
merupakan penghasil timah terbesar ke-2 setelah Malaysia. Timah adalah logam berwarna putih
keperakan, dengan kekerasan yang rendah, berat jenis 7,3 g/cm3, serta mempunyai sifat
konduktivitas panas dan listrik yang tinggi. Dalam keadaan normal ( 131600C ), logam ini
bersifat mengkilap dan mudah dibentuk. Timah terbentuk sebagai endapan primer pada batuan
granit dan pada daerah sentuhan batuan endapan metamorf yang biasanya berasosiasi dengan
turmalin dan urat kuarsa timah, serta sebagai endapan sekunder, yang di dalamnya terdiri dari
endapan alluvium, elluvial, dan koluvium. Persebaran timah di Indonesia terdapat di daerah
Kepulauan Riau, Pulau Bangka, Pulau Belitung, Pulau Singkep, dan Pulau Karimun atau
persebaran timah mengikuti the south east tin belt ( jalur timah Asia Tenggara ).
Pada makalah ini penulis akan membahas tentang keterjadian timah, sebaran timah, jenis
endapan timah, mineral yang berasosiasi dengan timah. Dalam makalah ini penulis akan
mengkaji masalah timah dari keterbentukan sampai pemanfaatannya.oleh karena itu dalam
penjelasan tentang timah akan di bahas pada pembahasan berikutnya.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud
Adapun maksud dari makalah ini adalah untuk menambah ilmu pengetahuan tentang
terbentunya genesa bahan galian terutama keterbentukan timah serta untuk memenuhi tugas
pada mata kuliah Genesa bahan Galian.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah:

Untuk mengetahui keterbentukan(genesa) timah.

Untuk mengetahu jenis-jenis endapan timah

Untuk mengetahui jenis-jenis mineal utama timah dan mineral asosiasi timah.

Untuk mengetahui manfaat dari timah.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Geologi Umum


Indonesia merupakan salah penghasil timah, yang terletak pada jalur timah Asia Tenggara
( the south east tin belt ). Jalur ini dimulai dari Birma, Thailand, semenanjung Malaysia, hingga
indonesia. Jalur timah Asia Tenggara ini di Indonesia 2/3 bagiannya terdapat di dasar laut,
dengan sisa-sisa daratan berupa sederetan pulau-pulau yang bertebaran dari arah barat laut
pulau Karimun, Kundur, Singkep, Bangka, hingga Belitung dan jejak granit terakhir terdapat di
pulau Karimata di timur pulau Belitung. Secara geografis gugusan kepulauan tersebut terletak
diantara 980 1100 T dan 30 U 90 S.

Endapan alluvial yang terbentang sepanjang Jalur Timah Indonesia (Indonesia Tin Belt),
dari kepulauan Karimun dan Kundur di sebelah barat daya serta Pulau Bangka dan Belitung di
sebelah tenggara dari Jalur Timah Asia Tenggara (South East Asian Tin Belt) yang terbentang
sepanjang 3000 Km dari Myanmar bagian utara sampai dengan Indonesia bagian selatan.Tin
Mayor South East Asian Tin Belt, dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
a. Sabuk timah bagian barat (Western Range)
Pada western range, terdapat 2 jenis granit yaitu tipe I dan tipe S. Granit ini umumnya
mempunyai butir granular walaupun kadang ditemukan juga megakristal hornblend. Sebagian
besar granit mempunyai tipe I, namun demikian beberapa granit tipe S juga dijumpai.
b. Sabuk timah bagian tengah ( Main Range)
Granit tipe main range , umumnya mempunyai ciri-ciri : megakristal (terutama K-Feldspar) dan
terjadi mineralisasi timah serta mineral asosiasinya seperti monasit dan wolframit. Granit ini
umumnya terdiri atas granit biotit dan granit muskovit yang semuanya merupakan tipe sedimen
tipe S, diperkirakan umurnya Trias.
c. Sabuk timah bagian timur (Eastern Range)
Granit tipe eastern range, mempunyai komposisi bervariasi dari diorite, gabro, monzogabro, dan
granit. Pada granit ini umumnya ditemukan megakristal hornblend. Granit yang dijumpai
adalah tipe I. Umurnya diperkirakan Permo-Trias.
2.2 Geomorfologi
Secara fisiografsis daerah pulau Bangka termasuk dalam paparan sunda ( Sunda craton
) yang telah mengalami perataan pada tahap yang sangat tua, karena daerahnya hampir rata dan
merupakan bagian dari mandala Indonesia barat yang dicirikan oleh struktur yang sedehana dan
merupakan paparan dengan kedalaman kurang dari 200m dari permukaan laut ( Van
Bemmelen,1949).
Paparan Sunda membentuk tepi kontinen yang kurang stabil, dikelilingi oleh sistem busur
vulkanik Sunda. Ini dikonsolidasikan oleh orogenesa yang terjadi di daerah ini pada Palaesoikum
Muda Mesosoikum Tua. Siklus diatrofisma ini berawal di kepulauan Anambas dan menyebar
ke arah timur laut ke Natuna dan ke arah barat daya ke kepulauan Riau dan Bangka Belitung.
Secara morfologis daerah pulau Bangka sangat dipengaruhi oleh jenis batuan dan struktur
geologinya. Bentang umum pulau bangka pada umumnya relatif datar sampai hampir datar (
peneplain ) yang merupakan hasil proses pelapukan yang ditutupi endapan alluvial yang berumur
kuarter dan bukit sisa-sisa batuan beku ( granit ). Dengan stadia geomorfologi tahap lanjut, yang
dicirikan mulai tersingkapnya lapisan batuan dasar dan keadaan morfologi yang diukur atau
hampir datar dengan lembah. Lembah- lembah tersebut terisi material sedimen. Sistem aliran
sungai antara lain membentuk pola dendritik.

2.3 Stratigrafi
Formasi yang tertua yang tersingkap di pulau Bangka adalah berumur Permokarbon yang
merupakan batuan derajat rendah yang terdiri dari batuan sedimen antara lain : batuan pasir,
batu lempung, lanau, dan batu gamping yang diterobos granit biotite. Di daerah daratan pulau
Bangka tidak dijumpai adanya endapan tersier, dan diatas endapan Mesozoikum langsung di
endapkan pada endapan kuarter. Sedangkan dilaut dapat dijumpai adanya endapan tersier yang
berumur meosen- pliosen yaitu formasi ranggam yang terdapat disekitar laut ranggam
Adapun urutan stratigrafi yang dijumpai dengan urutan dari muda ketua adalah :
a. Formasi Alluvium (Qa).
Formasi ini terdiri dari bongkah, kerakal, kerikil, pasir, lempung, lumpur dan gambut. Pada bagian
selatan Pulau Bangka, formasi ini terdapat sebagai endapan sungai, rawa dan pantai menutupi
ketida selarasan batuan yang lebih tua. Satuan ini berumur Holosen. U Koko (1984)
mengemukakan salah satu bagian dari formasi alluvium ini adalah gravel yang kaya akan timah
dengan ketebalan mencapai 2 meter, bentuk butir menyudut tanggung, mengandung fosil kayu,
fosil buah-buahan dan fosil cangkang. Formasi ini diperkirakan berumur Tersier Atas sampai
Kuarter.
b. Formasi Ranggam (TQr)
Formasi Ranggam merupakan perselingan batupasir, batulempung dan batulempung tufaan
dengan sisipan tipis batulanau dan bahan organik; berlapis baik, struktur sedimen berupa
perairan sejajar dan perlapisan silang siur, tebal 150 m Formasi Ranggam berumur Pliosen. Fosil
yang dijumpai antara lain moluska, Amonia sp., Quinqueloculina sp., dan Trilocullina sp., dan
menunjukkan umur relatif tidak tua dari Milosen Akhir.
c. Formasi Tanjung Genting (TRt)
Formasi ini terdiri dari perselingan batupasir malihan, batupasir, batupasir lempungan dan
batulempung dengan lensa batugamping, setempat dijumpai oksida besi. Berlapis baik, terlipat
kuat, terkekarkan dan tersesarkan, tebalnya antara 250 1.250 m. Lingkungan pengendapan
diperkirakan laut dangkal, berumur Trias. Lokasi tipe terdapat di Tanjung Genting dan dapat
dikorelasikan dengan Formasi Bintan.
d. Formasi Granit Klabat (TR Jkg)
Formasi ini terdiri dari granit, granodiorit, diorit kurasa, formasi ini terdiri dari Granit biotit,
Granodiorit dan Granit genesan. Granit biotit berwarna kelabu, tekstur porfiritik, dengan butiran
kristal-kristal berukuran sedang-kasar, fenokris felspar panjangnya mencapai 4 cm dan
memperlihatkan struktur foliasi. Granodiorit berwarna putih kotor, berbintik hitam. Granit genesan
berwarna kelabu dan berstruktur perdaunan.Umur satuan Granit berumur 228 juta tahun yang
lalu ini adalah Trias Akhir-Yura Awal dan menerobos Formasi Tanjung Genting dan Kompleks
Malihan Pemali.
e. Formasi Kompleks Pemali (CPp)
Formasi batuan di bagian utara terdiri dari filit dan sekis dengan sisipan kuarsit dan lensa
batugamping, terkekarkan, terlipatkan, tersesarkan dan diterobos oleh Granit Klabat (TR Jkg).
Formasi batuan di bagian selatan terdiri dari filit, sekis dan kuarsit. Umur satuan ini tidak diketahui
dengan pasti tetapi diduga Perem atau Karbon (Cissar dan Baum dalam Osberger, 1965).
f. Formasi Diabas Penyambung (DPp)
Formasi ini terdiri dari diabas yang terkekarkan dan tersesarkan, diterobos oleh Granit Klabat (TR
Jkg) dan menerobos Kompleks Malihan Pemali (CPp). Umur diperkirakan Perem.
Jadi, stratigrafi regional Pulau Bangka dibagi menjadi enam formasi, berurutan dari
berumur paling tua sampai berumur muda yaitu : Formasi Kompleks Pemali, Formasi Diabas
Penyambung, Formasi Tanjung Genting, Formasi Granit Klabat, Formasi Ranggam dan Formasi
Alluvium berdasarkan(Osberger 1965).

2.4 Struktur Geologi


Batuan yang terdapat pada pulau bangka pada umumnya terlipat kuat dengan lurus yang
berarah timur barat dengan kemiringan curam. Struktur geologi regional yang dijumpai yaitu :
sesar naik, sesar geser, sesar normal, lipatan, kekar dan kelurusan yang terjadi pada batuan
Perm dan Trias. Lipatan berupa sinklin dan antiklin. Pola sesar yang berarah utara selatan
merupakan fase sesar yang paling muda.
Perlapisan sebagian besar terdiri hampir tegak, dengan sudut kemiringan antara 700
sampai dengan 900. Arah lapisan tidak sama disemua tempat, dibagian utara Bangka perlapisan
berarah timur laut barat daya yang disebabkan adanya perlapisan silang, sedangkan bagian
timur laut bangka dengan arah utara N 1200 E, dan Bangka Tengah dengan arah N 900 E .

2.5 Genesa Timah


Secara umum endapan timah di pulau Bangka berdasarkan genesanya terdiri dari
endapan timah primer dan endapan timah sekunder. Genesa endapan timah primer terbentuk
akibat dari intrusi batuan granit biotite , dan pada daerah kontak batuan endapan
malihan biasanya berasosiasi dengan tourmaline dan urat kuarsa timah pada zaman Triasic atas.
Proses terbentuknya bermula dari adanya tekanan panas dari dalam bumi (Pneumatik
hydrothermal) yang menyebabkan cairan magma yang bersifat asam mengandung gas
SnF4 menerobos dan mengisi celah-celah rekahan, kemudian kontak dengan lapisan tanah
penutup yang berupa pasir, lanau, ataupun schist dan membeku secara perlahan-lahan maka
terjadilah reaksi kimia dasar yang membentuk endapan timah primer.
SnF4 + 2H2O SnO2 + 4HF
SnCl4 + 2H2O SnO2 + 4Cl
SnO2 yang dikenal dengan kasiterite, merupakan senyawa Sn yang utama. Seiring
proses pembekuan mulailah terbentuk mineral-mineral ikutan, seperti : monazite (CeLaYTh),
ilmenite (FeTiO3), xenotime (YPO4), zircon (ZrSiO4), tourmaline (HgAl3(BOH)), dan sebagainya.
Dalam proses kelanjutan dialam tropis yang panas dan lembab akan terjadi proses pelapukan,
baik secara mekanik ataupun kimiawi yang kemudian berlanjut dengan proses erosi. Hasil
pelapukan tersebut diangkut oleh air hujan lewat sungai-sungai dan terendapakan sepanjang
aliran sungai dan lembah. Kasiterite sebagai mineral berat akan terendapkan lebih dulu,
sedangkan kwarsa, zircon, monazite, ilmenite, dan xenotime sebagai mineral yang lebih ringan
akan mengendap kemudian.
Proses pengendapan yang menghasilkan timah sekunder dapat dibagi tiga tahapan, yaitu
:
Tahapan Pendahuluan ( Early Stage )
Terbentuk karena proses pelapukan kimiawi yang dilanjutkan dengan proses
pengendapan. Pada tahap ini terbentuk Primitive Placer Deposit yang pada umumnya
diketemukan pada kedalaman 0 10 meter dari permukaan tanah. Primitive Placer Deposit terdiri
dari:
a. Residual Deposit, adalah endapan yang terjadi akibat pelapukan batu induk dan tidak mengalami
pengangkutan.
b. Elluvial Deposit, adalah endapan hasil pelapukan yang dilakukan oleh air hujan tetapi belum
diangkut oleh air hujan.
c. Colluvial Deposit, adalah endapan hasil pelapukan yang terjadi akibat peluncuran tanah, tetapi
pada suatu tempat yang agak rata terhenti, lalu diikuti oleh proses pengayaan
d. Kaksa, adalah endapan biji timah yang langsung berada diatas batuan dasar.
T Tahapan Pertengahan ( Middle Stage )
Pada tahap ini mineral yang telah lapuk diangkut dan diendapkan sehigga membentuk
endapan alluvial yang biasa diketemukan pada kedalaman kurang dari 30 m. Endapan alluvial
tersebut meliputi:
a. Mincan, adalah endapan timah yang berada diantara dua over burden dan membuat seolah-olah
orebody ini melayang.
b. Kaksa, adalah endapan bijih timah yang langsung berada diatas batuan dasar ( granit).
Tahapan Lanjut ( Advanced stage )
Pada tahap ini material yang diangkut dan diendapkan mengalami proses pengendapan
kembali akibat perubahan muka air laut selama masa Pleistosen, sehingga membenuk Modern
Placer Deposite yang meliputi antara lain :
a. Alluvial Deposite, adalah endapan yang telah mengalami transportasi yang relatif jauh, baik yang
disebabkan oleh air hujan maupun oleh aliran sungai yang kemudian diendapkan didaerah
lembah sungai. Ciri dari bentuknya ,mempunyai butiran yang halus dan membulat.
b. Beach Deposite, adalah endapan hasil pelapukan yang diangkut oleh air hujan dan aliran air
sungai, lalu diendapkan dipantai dengan bantuan ombak laut.
Lapisan endapan kaksa ini biasanya terdapat pada lembah - lembah sungai purba,
dimana merupakan hasil erosi pada granit. Tipe-tipe endapan timah kaksa antara lain:
a. Endapan Kaksa Dangkal, yaitu dengan kedalaman maksimal 5 meter, ketebalan lapisan tanah
penutup sekitar 3 meter dan ketebalan lapisan timah 2 meter.
b. Endapan Kaksa Agak Dalam, yaitu dengan kedalaman 3 13 meter, ketebalan lapisan tanah
penutup sekitar 10 meter dan ketebalan lapisan timah 3 meter.
c. Endapan Kaksa Dalam, yaitu dengan ketebalan 10 20 meter, ketebalan lapisan tanah penutup
sekitar 15 meter dan ketebalan lapisan timah 5 meter,.
d. Endapan Kaksa Sangat Dalam, yaitu dengan ketebalan < 20 meter, ketebalan lapisan tanah
penutup sekitar 30 meter dan ketebalan lapisan timah 10 meter.
Endapan alluvium muda yang mengandung lapisan timah mincan juga dijumpai di daerah
Bemban dengan penyebarannya sesuai dengan arah lembah. Endapan ini sering terdapat pada
atas endapan alluvium tua. Ciri khas endapan ini adalah kandungan bahan organik yang
berwarna hitam dan bersifat humus, terdapat pada jenis tanah lempungan atau pasir lepas. Pasir
ini berbutir kasar tetapi jarang dijumpai fragmen-fragmen yang berukuran gravel,

2.6 Mineral Utama dan Mineral Asosiasinya

Di Pulau Bangka mineralisasi berlangsung disekitar badan granit yang berhubungan


dengan magma asam dan menembus lapisan batuan sedimen (disebut intrusi granit) sehingga
deposit ditemukan di daerah kontak (Contact Zone). Dalam proses kelanjutannya terjadi proses
pelapukan baik kimiawi maupun mekanis, yang kemudian berlanjut dengan proses erosi, dan
tertransportasi lewat sungai. Bijih timah terdiri dari mineral Cassiterite (SnO 2) sebagai mineral
utama dan selalu diikuti pula oleh beberapa mineral assosiasi serta sekelompok gangue mineral.
a. Mineral utama
Mineral utama bijih timah adalah Cassiterite (SnO2). Mineral ini secara alami terbentuk dari proses
hydrothermal magmatik. Timah di Indonesia (Bangka, Belitung, Singkep, dan sekitarnya) pada
umumnya merupakan timah sekunder, walaupun dibeberapa tempat ditemukan timah primer.
Bentuk dan system kristal Cassiterite tetragonal system. Warna mineral ini coklat atau hitam,
dengan ukuran butiran yang umum terdapat +200 mesh.
b. Mineral assosiasi
Mineral assosiasi yang umum terdapat dalam bijih timah pada umumnya juga merupakan mineral
sekunder, dengan proses pengkayaan atau terendapnya mineral tersebut bersamaan dengan
pengendapan timah. Mineral assosiasi yang umum terdapat dalam bijih timah berdasarkan sifat
fisik mineral dan karakteristiknya dapat ditunjukkan pada tabel 2.2
Tabel 2.1
Sifat Fisik Mineral Ikutan dan Karakteristik

Berat
No Mineral Rumus Kimia Warna Kekerasan Kelistrikan Kemagnetan
Jenis

1. Cassiterite SnO2 6,8 Kuning, Coklat, 67 Conduktor Non


7,1 Kuning magnetic
kemerahan,
Coklat
kehitaman,
Coklat tua

2. Ilmenite FeTiO3 4,5 5 Hitam besi, 56 Conduktor Magnetic


Hitam keabuan

3. Monazite (CeLaYTh) PO4 4,6 Kuning, Jaring- 5 5,5 Non Magnetic


5,3 jaring hijau Conduktor

4. Xenotime YPO4 4,4 Kuning keabu- 45 Non Magnetic


5,3 abuan Conduktor

5. Z ZrSiO4 4,2 Putih bening 7,5 Non Non


4,7 hingga kuning, Conduktor Magnetic
kehijauan

6. Pyrite FeS2 4,8 5 Kuning, Kuning 6 6,5 Conduktor Non


tembaga muda Magnetic

7. Marcasite FeS2 4,8 5 Kuning 6 6,5 Conduktor Non


tembaga muda, Magnetic
kuning keabuan

8. Hematite Fe2O3 5 5,2 Hitam besi, 5,5 6,5 Conduktor Magnetic


abu-abu besi

9. Topaz Al2SiO4 3,5 Tidak 8 Non Non


3,6 berwarna, Conduktor Magnetic
(FOH)2 Merah jambu,
Ungu

10. Limonite 2FeO33H2O 3,6 4 Coklat tua 5 5,5 Conduktor Magnetic


sampai Hitam

11. Tourmaline HgAl3(BOH)2S14O19 3 3,2 Hijau 7 7,5 Non Non


kehitaman, Conduktor Magnetic
Hitam

12. Quartz SiO2 2,6 Tidak 7 Non Non


2,65 berwarna, Conduktor Magnetic
Bening putih

13. Anatase TiO2 2,9 Kuning Conduktor Non


keputihan, Magnetic
Coklat, Coklat
hitam
14. Rutile TiO2 4,2 Merah, Merah 6 6,5 Conduktor Magnetic
4,3 kehitaman,
Kuning tua,
Coklat

15. Magnetite FeOF2O3 4,9 Hitam bersih 5,5 6 Conduktor Magnetic


5,2

16. Siderite FeCO3 3,8 4 Kuning 3,5 4 Non Magnetic


kecoklatan Conduktor

17. Spinel MgAl2O3 3,5 Biru violet, 8 Non Non


4,1 Hijau Conduktor Magnetic

18. Galena PbS 7,4 Biru kehitaman 3 Conduktor Magnetic


7,6

19. Wolframite (Fe, Mn)WO4 7,1 Hitam, Coklat, 5 5,5 Conduktor Magnetic
7,5 kelabu gelap

20. Colombite (Fe, Mn)Nb2O6(Fe, 5,5 - Hitam, Hitam 6 Conduktor Magnetic


Mn)Ta2O6 8,2 kecoklatan

21. Tantalite (Fe, Mn)(Nb, 7,1 Hitam 6 Conduktor Magnetic


Ta)2O6 7,5

22. Kaoline Al2O3.2SiO2.2H2O 2 2,6 Putih 2 2,5 Non Non


Conduktor Magnetic

2.7 Manfaat Timah


Data pada tahun 2006 menunjukkan bahwa logam timah banyak dipergunakan untuk
solder(52%), industri plating (16%), untuk bahan dasar kimia (13%), kuningan & perunggu (5,5%),
industri gelas (2%), dan berbagai macam aplikasi lain (11%).
a. Logam Timah dan Paduannya
Logam timah banyak manfaatnya baik digunakan secara tunggal maupun sebagai paduan logam
(alloy) dengan logam yang lain terutama dengan logam tembaga. Logam timah juga sering
dipakai sebagai container dalam berbagai macam industri. Contoh-contoh paduan antara
tembaga dan timah adalah:

Pewter, merupakan paduan antara 85-99% timah dan sisanya tembaga, antimony, bismuth, dan
timbale. Banyak dipakai untuk vas, peralatan ornament rumah, atau peralatan rumah tangga.

Bronze adalah paduan logam timah dengan tembaga dengan kandungan timah sekitar 12%.
b. Plating
Logam timah banyak dipergunakan untuk melapisi logam lain seperti seng, timbale dan baja
dengan tujuan agar tahan terhadap korosi. Aplikasi ini banyak dipergunakan untuk melapisi
kaleng kemasan makanan dan pelapisan pipa yang terbuat dari logam.
c. Superkonduktor
Timah memiliki sifat konduktor dibawah suhu 3,72 K. Superkonduktor dari timah merupakan
superkonduktor pertama yang banyak diteliti oleh para ilmuwan contoh superkonduktor timah
yang banyak dipakai adalah Nb3Sn.
d. Solder
Solder sudah banyak dipakai sejak dahulu kala. Timah dipakai dalam bentuk solder merupakan
campuran antara 5-70% timah dengan timbale akan tetapi campuran 63% timah dan 37% timbale
merupakan komposisi yang umum untuk solder. Solder banyak digunakan untuk menyambung
pipa atau alat elektronik
e. Pembuatan Senyawa Organotin
Senyawa organoti merupakan senyawa kimia yang terdiri dari timah (Sn) dengan hidrokarbon
membentuk ikatan C-Sn. Senyawa ini merupakan bagian dari golongan senyawa organometalik.
Senyawa ini banyak dipakai untuk sintesis senyawa organic, sebagai biosida, sebagai pengawet
kayu, sebagai stabilisator panas, dan lain sebagainya.
f. Pembuatan Senyawaan Kimia Untuk Berbagai Keperluan
Logam timah juga dipakai untuk membuat berbagai maca senyawaan kimia. Salah satu senyawa
kimia yang sangat penting adalah SnO2 dimana dipakai untuk resistor dan dielektrik, dan
digunakan untuk membuat berbagai macam garam timah. Senyawa SnF2 merupakan aditif yang
banyak ditambahkan pada pasta gigi. Senyaan timah, tembaga, barium, kalsium dipakai untuk
pembuatan kapasitor. Dan tentu saja senyawaan kimia juga sering dipakai untuk pembuatan
katalis. Senyawaan Timah yang penting adalah organotin, SnO2, Stanat, timah klorida, timah
hidrida, dan timah sulfida.
BAB III
KESIMPULAN

Pada makalah ini penulis dapat menyimpulkan bahwa keterbentukan timah primer
terbentuk akibat dari intrusi batuan granit biotite yang menerobos batuan sedimen. Proses
terbentuknya bermula dari adanya tekanan panas dari dalam bumi (Pneumatik hydrothermal)
yang menyebabkan cairan magma yang bersifat asam mengandung gas SnF4 menerobos dan
mengisi celah-celah rekahan, kemudian kontak dengan lapisan tanah penutup yang berupa pasir,
lanau, ataupun schist dan membeku secara perlahan-lahan maka terjadilah reaksi kimia
dasar yang membentuk endapan timah primer.
Timah terbentuk sebagai endapan primer pada batuan granit dan pada daerah sentuhan
batuan endapan metamorf yang biasanya berasosiasi dengan turmalin dan urat kuarsa timah,
serta sebagai endapan sekunder. Adapun jenis-jenis endapan timah terdiri dari tiga yaitu elluvial,
colluvial dan alluvial. Tetapi untuk daerah Bangka lebih banyak terdapat endapan alluvial atau
lebih banyak ditemukan timah sekunder dan sedikit di temukan timah primer.
Adapun mineral utama bijih timah adalah Cassiterite (SnO2), sedangkan mineral
assosiasi yang umum terdapat dalam bijih timah pada umumnya juga merupakan mineral
sekunder, dengan proses pengkayaan atau terendapnya mineral tersebut bersamaan dengan
pengendapan timah adapun contoh mineral asosiasi adalah pirit, kuarsa, zircon, ilmenit,
plumbum, bismut, arsenik, stibnite, kalkopirit, kuprit, xenotim, dan monasit dan bisa di sebut juga
sebagai mineral ikutan.
Adapun manfaat dari timah adalah sebagai pelat timah, campuran tambal gigi, sebagai
pelapis stik golf maupun pelapis kaleng, dan bisa juga di buat kerajinan tangan seperti pewter.

DAFTAR PUSTAKA

Idris, Jimmy, Tambang Timah Alluvial, PT. KOBA TIN.

Sugiantoro, Orientasi Winchaman Traininig, PT KOBA TIN, 2005.


Sujitno, Sutedjo, 2007, Sejarah Penambangan Timah Di Indonesia, PT. TIMAH,Tbk, Pangkal
Pinang, Hal 7-106.

Sunhardi, Sundrijo, Some Essential Aspects Of The Geological Chracthers Of Various secondary
Tin Deposits, PT. TIMAH, Tbk.
http://www.artikelkimia.info/unsur-golongan-iv-a-timah-sn-37591519092011

http://belajarkimia.com/2010/06/timah-sn/

Editor : Aditya M. Ramdhan. Ginan Ginanjar Kosim, Rd. Firlan Firmansyah, Alzur Zanni

Posted by Rwui Genetic at 3:40 PM


Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest

Labels: Ganesa Bahan Galian, Genesa Batuan

1 comment:

1.

Rooly UtomoFebruary 19, 2016 at 9:31 PM

Kami akan membantu Anda dalam pengajuan KTA dan KARTU KREDIT sehingga bisa
disetujui, GRATIS tanpa dipungut biaya sama sekali.
persyaratan untuk pengajuan KTA ialah
KTP
Kartu Kredit limit min 6 juta dan sudah berjalan 1 tahun
pemakaian limit jangan di bawah 45% dan tidak ada keterlambatan pembayaran selama 6
bulan
tidak terkena kredit macet baik di bank,leasing,bpr dan lembaga keuangan lain nya, dana
cair 2-3 kali limit kartu kredit anda
telp rumah atau saudara wajib telp kabel
telp kabel kantor wajib
NPWP
Cover rekening tabungan
persyaratan untuk pengajuan kartu kredit
fc ktp
npwp
slip gaji min 3.5 juta perbulan
telp rumah atau saudara wajib dan telp kabel kantor wajib
khusus pengusaha wajib memiliki kartu kredit usia min 3 bulan
dan segera email ke roolyutomo@gmail.com , setelah semua data dan dokumen kami
terima, kami akan melakukan konfirmasi serta ferifikasi ulang, . Setelah semuanya
lengkap dan semua nomor telepon bisa dihubungi, pengajuan Anda segera kami
masukkan ke bagian proses. Proses KTA , membutuhkan waktu 14-20 hari kerja hari
kerja. Proses akan semakin cepat, kalau semua nomor telepon bisa dihubungi. Aktifkan
nomor telepon ketika proses berlangsung.
Jaga Kartu Kredit yang menjadi referensi pengajuan KTA, selama proses berlangsusng,
bayar dulu kartu kredit Anda sehingga masih tersisa limit 50%. Sabar, selama 7 hari,
kartu kredit Anda jangan digunakan dulu.
Jika pengajuan KTA disetujui, dana akan langsung ditransfer ke rekening bank Anda.
Ajukan segera KTA Anda, kami akan membantu semasimal mungkin sehingga
pengajuan Anda bisa disetujui. Demikian tentang kami,berkas aman 100% , alamat
kantor di gedung bank anz pandanaran semoga bermanfaat untuk Anda.
Anda juga bisa menghubungi kami melalui :
Telepon/sms/wa/kakao/line
GSM : 085600125176
pin : 5CE06341
email : roolyutomo@gmail.com
Facebook : rooly utomo

Reply

Load more...

Links to this post

Create a Link

Newer Post Older Post Home

Subscribe to: Post Comments (Atom)

All Of Mine
47941

Popular Posts

TIMAH di PT. TIMAH (PERSERO) TBK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia merupakan salah satu Negara yang
kaya akan sumber daya alam termasuk ...
Endapan Timah di Kepulauan Bangka

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indoensia merupakan Negara yang kaya akan
bahan galian industri dimana sektor pe...

Kristalografi, Mineralogi, Petrologi kaitanya dengan dunia pertambangan

Geologi dalam bahasa yunani terbagi menjdai 2 bagian yaitu geo yang berarti bumi dan logos
yang berarti i...

Galena

Galena (PbS) atau biasa disebut Timah Hitam merupakan mineral logam yang mengandung Pb
dan kaya akan Sulfida, berasosiasi dengan mineral ...

Theodolit dan penyipat ruang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pengukuran menggunakan alat alat ukur seperti penyipat
datar dan penyipat ruang. Biasanya pengukuran den...

Busur Sulawesi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara yang kaya akan
bahan galian industri dimana sektor pe...

Batuan Piroklastik

Dimuka bumi ini terdapat berbagai macam jenis batuan yang dapat digunakan sesuai dengan
kebutuhan setiap orang. Pada dasarnya batuan terbag...

PENGOLAHAN BAHAN GALIAN INDUSTRI

A. Bahan Galian Industri Bahan Galian Industri dapat diartikan sebagai keseluruhan satuan
mineral dan batuan kecuali mineral l...

(no title)

Ternyata dbumi ini banyak bgt hal2 yg aneh gan. Termasuk hal2 yang bisa dliat dari atas bumi.
Buat ngeliatnya agan2 gak usah nyewa pesawat m...

Batuan Metamorf
A. Batuan Metamorf Batuan metamorf atau yg sering sekali disebut sebagai batuan malihan ini
merupakan batuan yang terjadi atau terbentuk...

Siapa itu saya?

Rwui Genetic

View my complete profile

Followers
Blogger templates
Subscribe To
Posts

Comments
2014 PT TIMAH (Persero) Tbk. All rights reserved.
http://www.timah.com/v3/ina/manajemen-struktur-organisasi/
listrik tenaga panas bumi biasanya dibagi menjadi dua kategori. rendah suhu sedang, digunakan untuk
pemanasan lokal dalam negeri menggunakan dipompa air panas, dan sumber daya yang dapat
digunakan untuk pembangkit bertenaga listrik suhu tinggi (lebih besar dari 150 celcius).
Dr Subir Sanyal, presiden dan manajer jasa rekayasa resevoir di geothermEx, telah menetapkan apa yang
dapat dianggap sebagai situs komersial berdasarkan keberlanjutan mereka. tujuan penting dilakukan
adalah 'kemampuan untuk ekonomi mempertahankan kapasitas pembangkit terpasang selama masa
diamortisasi dari pembangkit listrik, termasuk mengambil langkah-langkah praktis untuk mengimbangi
degradasi resource.this berarti menggunakan make-up pengeboran sumur untuk componsate untuk
kehilangan suhu dan tekanan.
karena situs komersial terkait dengan generator uap turbin yang digerakkan, keberlanjutan bidang panas
bumi terbatas pada kehidupan yang pembangkit listrik, yang berlaku umum berada di sekitar 30 tahun.
ini berarti bahwa panas dapat diekstraksi dari lapangan panas bumi di tingkat yang lebih besar dari
proses alami bumi dapat mengisi Sytem. Sanyal telah mengumpulkan data dari 37 bidang yang memiliki
kapasitas pembangkit dari 2 MW pada tingkat terbarukan. bersama-sama mereka berjumlah 386 MW
dari kapasitas terpasang, namun kapasitas berkelanjutan didasarkan pada siklus hidup 30 tahun akan
menjadi 2.056 MW - faktor 5,3 kali lebih tinggi dari ini. dalam konteks setara di Amerika Serikat
menggantikan 22 juta ton karbon dioksida, 220.000t sulfur dioksida, 80,000t oksida nitrogen, dan
110.000 dari emisi yang akan menemani generasi batubara. begitu juga hal ini dalam hal energi
terbarukan? energi panas bumi menawarkan sumber karbon bebas dari kekuasaan, dan dengan
demikian dapat diperdagangkan di bawah perjanjian kyoto off pengaturan batubara, gas atau generasi
minyak US $ 5-20 / t. ekonomi generasi panas bumi hanya benar-benar datang ke dalam bermain di
levelthat 10mW dipenuhi oleh semua kecuali satu dari 37 bidang studi Sanyal, dan ia menghitung bahwa
hanya 11 bidang akan lolos di tingkat terbarukan. ia juga memperkirakan bahwa bahkan jika tingkat
berkelanjutan menguras sumber daya yang dikenal, ini akan sembuh dalam jangka waktu 100 sampai
300 tahun. skenario ini, kata Sanyal, mengedepankan kasus untuk tenaga panas bumi. ada kebajikan
sosial dalam melestarikan sumber daya fosil bahan bakar untuk masa depan, katanya. teknologi baru
dapat meningkatkan efisiensi dari stasiun termal hidrokarbon, dan mungkin juga mengatasi emmisions
CO2 ke atmosfer (melihat dunia materi, berbaris 2003 pp10-12).
panas bumi teknologi pengeboran dalam peralatan, pemantauan dan gaya, pengeboran panas bumi
berikut minyak daripada praktik pertambangan. lubang bor yang jauh lebih dalam, sering directional,
dan diminta untuk bertindak sebagai saluran, dan karena tujuan utamanya adalah untuk memulihkan air
panas atau uap, ada kesamaan langsung dengan pengeboran minyak dan gas.
Namun, ada tantangan lain, terutama yang berhubungan dengan panas yang ditemui di pengeboran ke
dalam sistem panas bumi dan batu jenis yang lebih umum di pertambangan. kesulitan-kesulitan ini
berhubungan dengan ekspansi termal dan retak peralatan, kerusakan cairan pengeboran tradisional,
dan elektronik peralatan pemantauan krisis. tekanan tinggi juga fitur lubang panas bumi, menyebabkan
penguncian tekanan dari bagian yang bergerak internal dan segel memecah antara bagian yang
bergerak. Tekanan juga dapat membatasi pengukuran sementara pengeboran dan mengurangi sirkulasi
cairan pengeboran.