Anda di halaman 1dari 9

PEMERINTAH KABUPATEN GARUT

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. SLAMET


Alamat : Jl. Rumah Sakit No. 12 Telp. (0262) 232720 Garut 44151
Rekening : Bank Jabar Garut, Kelas : B Non Pendidikan, Status : PPK BLUD Penuh

KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. SLAMET GARUT
NOMOR : 445 / 21/RSUD/IV/2017

TENTANG

SKRINING PASIEN DI RSUD DR. SLAMET GARUT

DIREKTUR RSUD dr. SLAMET GARUT

Menimbang :
a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan
memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien di RSUD
dr.Slamet Garut, khususnya dalam skrining pasien, maka perlu
kebijakan yang mengatur Skrining Pasien di RSUD dr. Slamet Garut;

b. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam


huruf a, perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur tentang
Skrining Pasien di RSUD dr. Slamet Garut..

Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran;
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
3. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
4. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1438/MENKES/PER/IX/2010
tentang Standar Pelayanan Kedokteran;
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1691/MENKES/PER/III/2011
tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2052/MENKES/PER/X/2011
tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran;
8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56 Tahun 2014 tentang
Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit;
9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/MENKES/SK/II/2008
tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit.
MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD DR. SLAMET GARUT


TENTANG SKRINING PASIEN DI RSUD DR. SLAMET GARUT

Kesatu : Kebijakan Skrining Pasien di RSUD dr. Slamet Garut


sebagaimana tercantum dalam Lampiran keputusan ini.

Kedua : Kebijakan Skrining Pasien di RSUD dr. Slamet Garut


dipergunakan sebagai acuan dalam melakukan skrining
pasien di RSUD dr. Slamet Garut.

Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan


ketetentuan apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan
dalam penetapannya, akan diubah dan diperbaiki
sebagaimana mestinya.

Keempat : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan


apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam
penetapan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinya

Di tetapkan di : Garut
Pada Tanggal :20 April
2017

DIREKTUR,

Dr. H. Maskut Farid, MM


NIP. 19670625199803 1 004
Lampiran
Keputusan
Kepala RSU Dr. SLAMET GARUT
Nomor :
Tanggal :

SKRINING PASIEN DI RSUD DR. SLAMET GARUT


RSU Dr. SLAMET GARUT

I. PENDAHULUAN
Pelayanan di RSUD dr. Slamet Garut merupakan bagian dari
suatu sistem pelayanan yang terintegrasi dengan para profesional
dibidang pelayanan kesehatan dan tingkat pelayanan yang akan
membangun suatu kontinuitas pelayanan.

Tujuannya adalah menyelaraskan kebutuhan pasien dibidang


pelayanan kesehatan dengan pelayanan yang tersedia di rumah
sakit, mengkoordinasikan pelayanan, kemudian merencanakan
pemulangan dan tindakan selanjutnya.

Hasilnya adalah meningkatnya mutu pelayanan pasien dan efisieni


penggunaan sumbedaya yang tersedia di rumah sakit.
Menyesuaikan kebutuhan pasien dengan misi dan sumber daya
rumah sakit tergantung pada keterangan yang didapat tentang
kebutuhan pasien dan kondisinya melalui skrining pada kontak
pertama.

Skrining dapat dilaksanakan melalui kriteria triase, evaluasi visual


atau pengamatan, pemeriksaan fisik atau hasil dari pemeriksaan
fisik, psikologik, laboratorium klinik atau diagnostik imajing
sebelumnya

II. MAKSUD DAN TUJUAN


1. Maksud
Maksud dari kebiiakan ini adalah agar setiap pasien yang
datang ke RSUD dr. Slamet Garut mendapatkan pelayanan
medis yang sesuai dengan kebutuhannya yang disesuaikan
dengan sumber daya yang tersedia di RSUD dr. Slamet Garut.
2. Tujuan
a. Menyamakan visi dan persepsi tenaga medis dan paramedis
yang beke{a di RSUD dr. Slamet Garut dalam melakukan
skrining awal pasien-pasien yang masuk ke RSUD dr.
Slamet Garut, baik di Instalasi Gawat Darurat (IGD),
Instalasi Rawat Jalan (IR.I), maupun Instalasi Rawat Inap
(Ranap).
b. Untuk membangun respons yang sesuai oleh Instalasi
Gawat Darurat (IGD), Instalasi Rawat Jalan (IRJ) maupun
Instalasi Rawat Inap (Ranap) dalam menerima, menyaring
dan menstabilkan pasien yang datang dalam kondisi
apapun.
c. Untuk memberikan pedoman bagi semua staf petugas
kesehatan dalam memberikan perawatan untuk proses
akses bagi pasien untuk mendapat perawatan, serta
kontinuitas perawatan.
d. Untuk keamanan dan keselamatan pasien (patient safety).

III. METODE SKRINING


Metode skrining di RSUD dr. Slamet dilakukan melalui
1. Pertanyaan/kuisioner
2. Pemeriksaan visual
3. Pemeriksaan laboratorium
4. Pemeriksaan radiologi
5. Pencitraan diagnostik

IV. SKRINING LAYANAN PERAWATAN


Skrining layanan perawatan dilakukan di:
1. Instalasi Gawat Darurat
2. Instalasi Rawat Jalan
3. Instalasi Rawat Inap

V. PERTIMBANGAN UMUM
1. RSUD dr.Slamet Garut hanya akan menerima sesuai dengan
misi dan sumber daya yang tersedia di rumah sakit.
2. Misi dan ketersediaan sumber daya rumah sakit ditentukan
berdasarkan hasil skrining yang dilakukan terhadap semua
pasien yang datang RSUD dr.Slamet Garut.
3. Pasien-pasien rawat jalan, rawat inap dan pasien IGD hanya
akan diterima apabila RSUD dr.Slamet Garut mampu
menyediakan kebutuhan pelayanan pasien.
4. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan uji laboratorium
diagnostik, RSUP Dr. Hasa RSUD dr.Slamet Garut akan
menentukan apakah pasien harus dirawat, dirujuk atau
dipulangkan.
5. Untuk pasien-pasien rawat jalan, rawat inap dan pasien IGD
harus dilakukan skrining atau evaluasi khusus sebelum
dilakukan proses registrasi rawat jalan atau penerimaan pasien
untuk rawat inap.
6. Pasien tidak boleh dimasukkan ke rawat inap, ditransfer atau
dipulangkan sebelum ada hasil test untuk pengambilan
keputusan.

VI. SKRINING ISTALASI GAWAT DARURAT


1. Pasien dapat mengakses layanan perawatan di Instalasi
Gawat Darurat 24 jam/hari, 7 hari/minggu. Semua pasien
akan menjalani skrining triase dan dilakukan penilaian
saat itu juga.
2. RSUD dr.Slamet Garut menetapkan bahwa skrining triase
di IGD harus dilakukan oleh staf medis darr atau
paramedis yang bertugas di triase RSUD dr.Slamet Garut.
3. Semua pasien yang masuk ke IGD harus dilakukan
skrining triase oleh staf medis dan atau paramedis yang
bertugas saat itu.
4. Skrining dilakukan saat kontak pertama kali dengan
pasien.
5. Bila pasien datang dengan mempergunakan transportasi
ambulans, proses skrining mungkin sudah dilakukan oleh
petugas kesehatan yang mengantar. Dalam hal ini petugas
kesehatan IGD akan menentukan apakah pasien akan
dilakukan skrining triase terlebih dahulu atau langsung
dimasukkan ke ruang tindakan atau ruang resusitasi
untuk dilakukan skrining triase.
6. Bila pasien datang dengan mempergunakan transportasi
selain ambulans, petugas kesehatan IGD akan menjemput
pasien dengan mempergunakan kursi roda atau stretcher
dan akan ditentukan apakah pasien akan dilakukan
skrining triase terlebih dahulu atau langsung dimasukkan
ke ruang tindakan atau ruang resusitasi untuk dilakukan
triase.
7. Bilamana diperlukan, petugas skrining IGD akan
memberikan terapi oksigen atau bantuan ventilasi
tekanan positif atau tindakan lainnya bila terdapat
indikasi bahwa pasien sudah mengalami gagal respirasi
atau terdapat ancarnan gagal respirasi sambil tetap
dilakukan skrining (in walk screening).
8. Dalam kasus tersebut, pasien akan langsung dibawa ke
ruang resusitasi untuk dilakukan skrining sambil tetap
diberikan terapi oksigen atau bantuan ventilasi tekanan
positif atau tindakan lainnya.
9. Skrining triage IGD akan memisahkan pasien infeksi yang
menular lewat udara (airborne disease) dan non infeksi.
10. Untuk pasien yang masuk kategori infeksi yang menular
lewat udara (airbome disease) akan diarahkan langsung ke
ruang isolasi.
11. Untuk pasien non infeksi akan diarahkan ke ruang
tindakan IGD.
12. Proses triase dilakukan paling lama dalam waktu 5 menit
setelah pasien datang, termasuk pengukuran tanda-tanda
vital.
13. Apabila pasien masih dalam proses menunggu, perawat /
dokter triase harus melakukan penilaian ulang secara
terus menerus dan jika tejadi perubahan kondisi klinis
maka pasien harus diiakukan re-triase.
14. Penentuan kategori triage pasien didasarkan pada
minimal 1 parameter dari kategori yang paling berat.
15. Dokter atau perawat triase boleh melakukan pengelolaan
awal sesuai dengan Panduart Praktek Klinik IGD.
16. Area triase harus dilengkapi dengan peralatan emergensi,
fasilitas untuk pengendalian infeksi standar (cuci tangan,
sarung tangan), alat-alat keamanan dan a.lat-alat
komunikasi (telepon atau intercom).
17. Jika waktu skrining triase melebihi 10 menit,
penambahan perawat harus dilakukan.
18. Kecepatan dan ketepatan triase adalah kunci pengelolaan
IGD yang efektif.
19. Efektifitas triase bergantung pada pengetahuan,
ketrampilan dan perilaku perawat / dokter triase.
20. Pemeriksaan tanda-tarda vital pasien pediatrik dilakukan
tiap 30 menit atau sesuai indikasi dan pasien-pasien yang
lain harus dilakukan triase ulang tiap jam atau sesuai
indikasi.
21. Berdasarkan hasil skrining triase, petugas akan
menentukan apakah pasien harus masuk ke ruang
resusitasi, ruang tindakan atau Pulang.
22. Berdasarkan evaluasi hasil skrining, petugas akan
menentukan apakah pasien akan mendapatkan
pengobatan, dirawat atau dirujuk ke fasilitas kesehatan
lain.
23. Pasien-pasien yang akan dirawat harus dilakukan test
diagnostik atau eva,luasi terlebih dahulu sebelum pasien
masuk ke ruang perawatan.
24. Untuk pasien-pasien dengan kondisi emergensi yang
akan dirujuk ke rumah sakit lain, pasien harus
distabitsasi terlebih dahulu.
25. Proses stabilisasi didokumentasikan di dalam rekam
medis pasien.
26. Dalam kasus bencana massal (mass disaster), apabila
ruang tindakan dan ruang resusitasi tidak dapat
menampung jumlah pasien, maka pasien akan
ditempatkan di ruang atrium dan skrining triase
dilakukan di ruang atrium instalasi gawat darurat.
27. Semua staff medis dan paramedis yang bertugas di triase
IGD harus pemah menjalani pelatihan tentang triase.
28. Perpindahan pasien dari ruang triase menuju ke ruang
resusitasi, tindakan atau isolasi IGD tidak memerlukan
formulir transfer antar ruangan.
29. Perpindahan pasien antar ruang tindakan di IGD atau ke
radiologi IGD tidak memerlukan formulir transfer internal.
30. Mengingat aliran volume pasien yang sangat tinggi di IGD
sehingga sa.ngat mungkin pasien-pasien infeksi airborne
atau droplet tidak terskrining dengan baik, maka untuk
meminimalkan resiko penularannya, setiap petugas medis
dan non medis IGD, pasien IGD, keluarga pasien IGD atau
siapapun yang berada di IGD wajib menggunakan masker.

VII. SRINING INSTALASI RAWAT JALAN


1. Skrining pasien di Instalasi Rawat Jalan bertujuan untuk mengetahui
apakah pasien membutuhkan pelayanan preventif, paliatif, dan
rehabilitatif dan memilih pelayanan yang paling tepat sesuai dengan
urgensinya.
2. RSUD dr.Slamet Garut menetapkan bahwa skrining di Instalasi
Rawat Jalan harus dijalankan oleh stalf medis, paramedis atau
petugas non medis yang bertugas di Instalasi Rawat Jalan RSUD
dr.Slamet Garut.
3. Proses skrining awal dilakukan secara visual untuk menilai kondisi
pasien apakah bisa dilayani di Instalasi Rawat Jalan atau harus
dikirim ke IGD.
4. Proses skrining juga dapat dilakukan oleh dokter di Pusat Pelayanan
Kesehatan satu tingkat dibawah RSUD dr. Slamet Garut dengan
menunjukkan surat rujukan.
5. Skrining dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium, rontgen
maupun pemeriksaan penunjang lainnya.
6. Berdasarkan hasil skrining, ditentukan apakah pasien dapat
menjalali pengobatan di RSUD dr. Slamet Garut atau harus di rujuk
ke fasilitas kesehatan yang lain.
7. Jika semua skrining selesai dike{akan, dokumentasikan di dalam
rekam medis pasien.

VIII. SKRINING INSTALASI RAWAT INAP


1. Pasien dapat mengakses layanan perawatan di kantor admisi dengan
datang langsung.
2. Skrining pasien rawat inap dilakukan oleh tenaga medis atau
paramedis.
3. Pasien hanya dapat dilayani dan dirawat di RSUD dr. Slamet Garut
jika tersedia jenis layanan yang di butuhkan.
4. Apabila layanan yang di butuhkan tidak memadai atau tidak ada,
maka pasien harus di rujuk ke rumah sakit lain yang memiliki
kebutuhan jenis layanan yang di butuhkan pasien saat itu dengan
sebelumnya dilakukan test pemeriksaan penunjang sebagai dasar
pengambilan keputusan sesuai standard pelayanan medis.
5. Akses masuk pasien ke rawat inap adalah melalui IGD, rawat jalan
atau secara langsung dengan membawa surat pengantar dari dokter
yang memiliki Surat Ijin Pralrtek di RSUD dr. Slamet Garut.
6. Untuk pasien rawat inap yang masuk melalui IGD, skrining
dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan
penunjang khusus lainnya sesuai dengan Panduan Praktek Klinik
masing-masing SMF.
7. Untuk pasien rawat inap yang masuk melalui IRJ, skrining dilakukan
dengan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan penunjang
khusus lainnya sesuai dengan Panduan Praktek Klinik masing-
masing SMF.

IX. SKRINING INSTALASI RAWAT INTENSIF


1. Skrining pasien rawat intensif merupakan suatu sistem pemilahan
pasien berdasarkan penilaian klinis dan laboratoris serta surat
rujukan dan merupakan suatu instrumen untuk menetapkan suatu
keputusan apakah perlu pasien untuk dirawat di ICU.
2. Secara umum skrining pasien yang memerlukan perawatan di
Instalasi Rawat Intensif adalah
A. Pasien-pasien dengan ancarnan sumbatan jalan napas
B. Pasien-pasien dengan henti napas
C. Laju respirasi > 40 ka-li / menit atau < 8 kali per menit
D. Saturasi oksigen < 9O% pada fraksi inspirasi oksigen >5O%
E. Henti jantung apapun penyebabnya
F. Laju nadi < 40 kali / menit atau > 14O kali / menit
G. Tekanan darah sistolik < 9O mmHg atau lebih dari 200 mmHg
H. Penurunan kesadaran tiba-tiba (Penurunan Glasgow Coma Scale
lebih dari 2 pointl
I. Kejang yang berulang atau berlangsung lama
J. Peningkatan tekanan CO2 arteri yang disertai dengan asidosis
respiratorik
Dan dari laboratorium didapatkan hasil salah satu dari hal hal
berikut ini:
A. Hiperkalemia atau hipokalemia yang disertai dengan perubahan
gambaran ECG
B. Hipernatremia atau hiponatremia yang disertai dengan gangguan
kesadaran
C. Hipocalcemia atau hipercalcemia yang disertai dengan kejang
atau perubahan gambaran ECG
D. Hipomagnesemia atau hipermagnesemia yang disertai dengan
kelemahan otot pernapasan, perubahan gambaran ECG.
E. Hiperglikemia atau hipoglikemia yang disertai dengan gangguan
kesadaran
F. Hiperkarbia atau hipoksia yang disertai dengan gangguan
kesadaran, gangguan irama jantung dan gangguan hemodinamik.
3. Diluar kriteria tersebut diatas, adalah merupakan hak dan tanggung
jawab Kepala Ruang Rawat Intensif atau DPJP pasien untuk
menentukan apakah indikasi masuk ke Ruang Rawat Intensif sudah
tepat dengan tidak mengesampingkan indikator-indikator lain diluar
indikator medis.

X. SKRINING LABORATORIUM DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Skrining diagnostik laboratorium dan penunjang lain dilakukan
kepada semua pasien atau pasien-pasien dengan kasus khusus yang
datang ke RSUD DR. Slamet Garut untuk menentukan apakah
pasien tersebut harus dirawat atau dirujuk ke fasilitas kesehatan lain
sesuai dengal hasil skrining yang didapat.
2. Apabila belum ada hasil skrining laboratorium dan pemeriksaan
penunjang, maka pasien belum dapat dipindahkan ke ruangan atau
dikirim ke fasilitas kesehatan lain.

XI. MONITORING DAN KEPATUHAN STAF MEDIS


1. Staf medis harus terbiasa dan mematuhi kebijakan proses skrining
pasien yang berlaku di RSUD dr. Slamet Garut.
2. Para kepala instalasi, unit kerja, manajer on duty dan case manajer
bertanggung jawab untuk memastikan kepatuhan pada kebiiakan ini.