Anda di halaman 1dari 10

PENGANTAR MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN A

Tugas Kliping Tentang Wirausahawan

Dosen Pengampu :
Drs. Suharto, M. Kes.

Disusun Oleh :
Riftul Hasanah
1402010101031

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
Aang Permana, seorang sarjana Manajemen Sumber Daya Perikanan IPB ,
banting setir ke bisnis olahan ikan petek (glass fish). Bahkan, anak pertama dari
dua bersaudara itupun rela resign dari perusahaan oil and gas swasta yang
beroperasi di Indonesia, yaitu PT Radiant Utama Interinsco. Keputusannya keluar
dari perusahaan oil and gas pun menjadi gerbang meraih kesuksesan. Pasalnya,
pada saat masih bekerja di perusahaan tersebut, Aang mengaku banyak
mendapatkan pengalaman yang berharga, salah satunya pemanfaatan ikan-ikan air
tawar berbadan kecil.

Pria kelahiran 1990 ini melirik ikan petek karena potensi ikan ini cukup
besar dan belum dioptimalkan oleh masyarakat. Bahkan, masyarakat sekitar
enggan mengkonsumsi ikan yang bernama latin Prambassis ranga dikarenakan
bau amis pada tubuh ikan. Pekerja di sebuah perusahaan migas itu tahu bahwa di
balik bau amis ikan petek terkandung kalsium dan protein yang lebih besar
daripada ikan air tawar lainnya. Aang mengaku, tidak mudah meracik ikan sipetek
menjadi akrab di lidah masyarakat. Sebab, ikan kecil asal Cianjur ini memiliki
tingkat keamisan yang tinggi. Agar amisnya berkurang, alumnus Fakultas
Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut membungkus ikan
dengan terigu sebelum digoreng garing.

2
Aang memulai bisnis ikan petek pada 2014. Awalnya dia mengembangkan
makanan Crispy Ikan Sipetek dengan modal sebesar Rp3 juta, yang merupakan
sisa gaji saat masih bekerja di perusahaan oil and gas. Untuk menjamin
ketersediaan ikan petek yang menjadi bahan baku produknya, Aang bermitra
dengan sejumlah nelayan yang ada di Danau Cilatah Cianjur Jawa Barat. Aang
mendapatkan pasokan ikan dari 13 mitra nelayan di Waduk Cirata. Setiap hari,
Masper (akronim Mahasiswa Perikanan) membutuhkan pasokan ikan 2,5 kuintal.
Untuk proses produksi, Aang mempekerjakan belasan ibu-ibu berusia 4560
tahun di sekitar rumah produksi Masperfood di Ciranjang, Cianjur. Meskipun
belum memiliki rancangan bisnis yang matang, dia langsung memilih langsung
bereksperimen. Aang mengatakan tiga bulan pertama, dia dengan teman-
temannya melakukan riset di IPB supaya bau amis ikan petek itu hilang dan layak
dikonsumsi. Kemudian, tiga bulan berikutnya, dia langsung menguji coba ke
pasar. Ternyata, bisnis ikan petek yang bernama Crispy Ikan Sipetek ini mendapat
respons yang cukup bagus

Awalnya, Aang menawarkan ikan krispi dengan brand Crispy Ikan Sipetek
itu di situs jejaring sosial dan menitipkan pada toko oleh-oleh. Lantas, Masper
menggandeng 500 reseller di sejumlah kota di Indonesia untuk memasarkan
olahan ikan endemik Sungai Citarum tersebut. Aang lantas merekrut sejumlah
anak muda untuk mengembangkan bisnis Masperfood. Mereka bertugas
melakukan inovasi produk dan marketing. Yang awalnya hanya mampu menjual
beberapa kilogram per hari, kini penjualan Crispy Ikan mencapai 1.0001.500
bungkus per hari. Satu kemasan dibanderol dengan harga Rp 25 ribu. Dalam
setahun, perputaran modal Masper bisa mencapai miliaran rupiah.

Karena pemasaran pada awalnya hanya melalui internet marketing, Aang


memperkirakan pembeli Crispy Ikan didominasi anak muda. Nyatanya, pembeli
muda hanya musiman karena tidak bisa menjadi konsumen loyal. Karena itu, kami
alihkan target ke ibu-ibu yang menjadikan ikan krispi sebagai pelengkap atau
pengganti abon, Awalnya, Crispy Ikan juga bermain aneka rasa seperti keju dan
balado. Namun, pembeli justru protes karena dua varian rasa tersebut

3
menggunakan penyedap makanan. Akhirnya, hanya dua rasa yang dipertahankan,
yakni original dan pedas. Saat ini Masper menyiapkan rasa daun jeruk, baby fish
nila, baby fish mas, dan sambal ikan kering. Bahkan, Aang mengungkapkan, ke
depannya akan mengembangkan produknya sebagai cendramata khas Cianjur.
Selain mengembangkan bisnis crispy ikannya, pria yang sempat mengenyam
pendidikan di Amerika Serikat selama 3 bulan ini, juga mengembangkan usaha
budidaya ikan air tawar. Ikan-ikan hasil budidayanya ini dipasok ke sejumlah
rumah makan yang ada di Cianjur dan Bandung.

Aang Permana kini mungkin bisa menikmati kesuksesannya. Namun


melihat ke belakang. Aang bukan berasal dari keluarga berada. Perekonomiannya
pas-pasan. Sejak kecil dia sudah terbiasa hidup dalam keterbatasan. Tiap tahun
Aang harus mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) ke kantor kepala
desa, agar bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP. Aang tidak pernah
membeli buku pelajaran seperti teman-teman lainnya. Ia kerap meminjam dari
temannya dan mengerjakan tugas-tugas di rumah lantas besoknya buku tersebut
dikembalikan.

4
Kerja keras dan ketekunan menjadi landasan Ibu Sri Astuti dalam
membangun bisnis. Meskipun produknya cukup sederhana yaitu bawang goreng
namun bisa mendunia. Awalnya Ibu Sri hanya seorang ibu rumah tangga biasa.
Wanita asal Yogyakarta ini merantau ke Palu pada 1981 karena harus mengikuti
suaminya yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Pertanian.
Di kota Palu, Ibu Sri tak mau hanya diam saja. Ia mencoba membuka bisnis.
Berbagai usaha pernah dicobanya, mulai dari membuka katering pada 1984
hingga akhirnya berkreasi membuat abon pada 1997. Waktu awal menjalankan
bisnis abon dia memproduksi abon sapi hanya 4 kilogram (kg), sekarang sudah
50 kg, diproduksi dua kali seminggu jadi 100 kg. Selain sapi, Sri juga
mengembangkan usaha dengan memproduksi abon lele dan ayam.

Dari abon, Wanita berusia 61 tahun ini melihat peluang lain yaitu bawang
goreng dengan bahan baku bawang batu, yang merupakan bawang khas Palu.
Bawang ini berkembang sangat baik di Lembah Palu yang berada di antara Kota
Palu dan Kabupaten Sigi. Kelebihan bawang ini kadar airnya rendah sehingga
sangat renyah jika digoreng.

5
Setiap hari sekitar 300 kg bawang batu diolah menjadi 100 kg bawang
goreng tanpa bahan pengawet. Ibu Sri mendapatkan pasokan bawang tersebut dari
para petani di lembah Palu. Dalam sehari bawang goreng laku terjual sekitar 30 kg
sampai 50 kg.

Usaha Ibu Sri terus berkembang. Saat ini, ia telah mempekerjakan 30


orang untuk bisnis bawang goreng saja, belum termasuk pekerjanya untuk bisnis
abon. Berkat kerja kerasnya membantu mengembangkan ekonomi sekitar, Ibu Sri
Astuti pernah mendapat penghargaan untuk kategori UKM dari mantan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 8 Desember 2005. Dia juga kerap kali
mengikuti pameran baik di dalam maupun luar negeri seperti di Singapura,
Malaysia hingga Perancis.

Perjalanan bisnis Sri tentu tak selalu mulus. Ia mengaku pernah ditipu
ratusan juta rupiah hingga membuat usahanya terpuruk pada 2005. Namun Ibu Sri
tak mau berlama-lama terlarut dalam kekecewaan. Berkat kegigihannya, Ibu
empat anak ini sanggup bangkit. Bahkan bawang yang diproduksinya sudah dijual
hingga ke Belanda, Australia dan Amerika Serikat. Tak kalah, abon ikan buatan
tangannya juga sudah merambah ke Negeri Kanguru dan Negeri Pam Sam.

Kini Ibu Sri telah menikmati hasil kerja kerasnya. Anak-anaknya telah
menyelesaikan kuliah berkat usaha bawang goreng khas Palu tersebut. Ibu Sri pun
hingga kini masih aktif mengelola bisnis bawang goreng Sri Rejeki.

"Jika ingin membangun bisnis harus pintar membaca peluang dan harus berani.
Untuk anak muda, jangan hanya bercita-cita jadi PNS, lebih bagus buka usaha
sendiri," pesan Ibu Sri.

6
Saat remaja seusianya disibukan dengan tren busana terkini atau artis
idola, Theresia Deka Putri tengah menyusuri jalan-jalan di Jawa Timur. Kala itu,
di tahun 2002, Putri yang bar berusia sekitar 16 tahun telah bergabung dalam
sebuah tim pemasaran dalam satu perusahaan kuliner. Ia berkeliling dari satu

7
warung kopi, pasar dan berbagai tempat lain untuk memasarkan beragam produk
kopi dan teh produksi perusahaan tersebut.

Masa lalu yang penuh kerja keras di usia muda ini, ternyata berbuah
manis. Kini di usianya yang ke-29 ini, Putri, begitu ia biasa dipanggil, memegang
tongkat komando dari perusahaan kopi luwaknya yang beromzet miliaran rupiah,
yakni CV Karya Semesta. Bahkan ketiga komoditasnya, yakni Kopi Luwak
Lanang, Lanang Landep dan Gajah Hitam, berhasil menembus pasar Taiwan,
Cina, Korea, Malaysia, Jepang, hingga Polandia.

Sejak SMP Theresia memang sudah mulai berbisnis untuk tambahan jajan
seperti membeli sepatu atau snack kemudian dijual kembali ke tetangga dan
teman-temannya. Modalnya dari tabungan sejak TK.

Bisnis kecil-kecilannya ini berlanjut hingga SMA, yang kemudian


mengantarkannya pada posisi sebagai tenaga marketing di perusahaan kuliner saat
usianya masih belasan. Berkat pengalaman keluar masuk pasar dan warung yang
rutin ia jalani ditambah dengan kejelian melihat kondisi pasar, Putri berhasil
melihat satu peluang usaha yang prospektif, yakni bisnis kopi.

Berbekal keuntungan dari hasil penjualan sebelumnya dan relasinya


dengan para pemilik warung, sekitar tahun 2007, Putri kemudian memberanikan
diri untuk menjual kopi komoditasnya sendiri. Bermodal Rp 200 juta, ia memulai
usahanya. Ia meminjam biji kopi yang akan dibayar belakangan, menyangrai biji
kopi tersebut dengan wajan kayu dan tanah liat, menggilingnya, kemudian ia
edarkan ke warung-warung kopi. Awalnya produk yang dijual polosan tanpa
merk.

Namun setelah usahanya mulai berkembang, ia mulai membuat merk


sendiri, yang bahkan memiliki identitas berbeda dengan kopi sejenis yang berbeda
di pasaran. Kopi luwak yang dipasarkannya, khusus berasal dari hewan jantan,
karena itu dinamakan Luwak Lanang. Luwak jantan dipilih karena menurutnya
jenis ini memliki enzim yang lebih kuat sehingga menghasilkan rasa dan aroma

8
yang khas. Tak hanya satu, ia juga melakukan diversifikasi produk dengan
meluncurkan kopi Lanang Landep yang berasal dari biji kopi berkeping tunggal
(peaberry coffee), dan Gajah hitam dari bjii kopi berukuran besar.

Tidak bisa di pungkiri lagi, dalam dunia bisnis harga terjangkau


merupakan salah satu peluang kesuksesan. Begitu juga dengan Theresia, kopi
yang dijual memiliki harga yang terjangkau. Selain itu suksesnya Theresia karena
ia, membuat produknya pun sendiri. kopi luwak yang di buat Theresia memiliki
aroma dan rasa yang khas tak heran jika kopinya sangat laku keras dan mampu
meraup omset hingga 1 miliar.

Berikut adalah harga kopi luwak Theresia :

UKURAN /
KET
NO JENIS g USER / HET
gram %
LUWAK
LANANG suchet,
1 10 40,000
arabica / alumunium
robusta
LUWAK
LANANG suchet,
2 30 80,000
arabica / alumunium
robusta
LUWAK
LANANG suchet,
3 50 110,000
arabica / alumunium
robusta
LUWAK
loss,
LANANG
4 100 160,000 suchet,
arabica /
alumunium
robusta
LUWAK loss,
5 LANANG 500 725,000 suchet,
arabica / alumunium

9
robusta
green
LUWAK
bean,
LANANG
6 1000 1,275,000 roasted
arabica /
bean,
robusta
powder
LANANG
7 150 30,000 powder
Landep
LANANG
8 500 85,000 powder
Landep
LANANG
9 1000 160,000 powder
Landep
Gajah
7 250 18,000 powder
Hitam
Gajah
8 500 30,000 powder
Hitam
Gajah
9 1000 50.000 powder
Hitam

10