Anda di halaman 1dari 18

Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.

1 (2014)

Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai Badan Usaha Dengan


Pengujian Model Kuadratik Pada Sektor Property,
Real Estate & Building Construction
Di BEI Periode 2009 2012

I Putu Suryawan
Jurusan Manajemen / Fakultas Bisnis dan Ekonomika / Universitas Surabaya
iwan.delapan@gmail.com

ABSTRACT
The purpose of this study was to find empirical evidence on the effect of
capital structure on the value of a business entity in accordance with the static
trade-off theory. This study used a sample of enterprises in the property, real
estate and building construction sector that are listed in the Indonesian Stock
Exchange during the period of 2009-2012. The selection of the sample in this
study using a non-probability sampling techniques with the type of purposive
judgment sampling. The samples used in this study are 160 during the years of
observation. The method of analysis in this study using quadratic regression. The
findings in this study indicate that capital structure significantly influence the
value of a business entity in accordance with the static trade-off theory.

Keywords : Capital Structure, Firm Value, Static Trade-Off Theory, Quadratic

INTISARI
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan bukti empiris
mengenai pengaruh struktur modal terhadap nilai badan usaha sesuai dengan
static trade-off theory. Penelitian ini menggunakan sampel dari badan usaha
dalam sektor property, real estate & building construction yang tercatat di Bursa
Efek Indonesia selama periode 2009-2012. Pemilihan sampel dalam penelitian ini
menggunakan teknik non-probability sampling dengan jenis purposive judgement
sampling. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak
160 selama tahun observasi. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan
regresi kuadratik. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa struktur
modal berpengaruh signifikan terhadap nilai badan usaha sesuai dengan static
trade-off theory.

Kata kunci : Struktur Modal, Nilai Badan Usaha, Static Trade-Off Theory,
Kuadratik

1
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

PENDAHULUAN
Kondisi persaingan usaha di Indonesia tampak akan semakin ketat, hal ini
karena akan segera diterapkan perdagangan bebas antar Negara ASEAN atau
ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015. Untuk bisa bertahan dari
kedatangan badan usaha badan usaha ASEAN yang lain, maka badan usaha di
Indonesia harus bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin dan juga
meninngkatkan kemampuan bersaing baik dalam produk, pelayanan dan hal-hal
lainnya. Sehingga badan usaha memerlukan sumber pendanaan yang cukup besar
untuk memiliki daya saing tersebut. Sumber pendanaan tersebut bisa berasal dari
internal maupun eksternal badan usaha. Bauran dari sumber-sumber dana tersebut
disebut dengan struktur modal.
Tujuan utama badan usaha adalah untuk memaksimalkan nilai pemegang
saham melalui peningkatan nilai badan usaha tersebut. Salah satu cara untuk
meningkatkan nilai badan usaha adalah dengan struktur modal yang optimal atau
struktur modal yang terbaik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Husnan dan
Pudjiastuti (2002) dalam (Hardiningsih, 2009) yang mengatakan bahwa struktur
modal yang terbaik adalah struktur modal yang dapat memaksimumkan nilai
badan usaha.
Peningkatan nilai badan usaha dapat dilihat dari seberapa tinggi harga
saham di pasar modal, karena setiap perubahan yang terjadi pada badan usaha
akan berpengaruh pada persepsi pasar. Pasar akan merespon setiap perubahan
positif maupun negatif dari perusahaan karena akan digunakan untuk menentukan
nilai sekarang dan masa mendatang dari badan usaha. Jika persepsi pasar baik,
maka harga saham akan naik, tetapi jika persepsi pasar buruk, maka harga saham
badan usaha juga akan turun.
Arifin (2005: 89) mengatakan bahwa besarnya biaya kebangkrutan dan
financial distress atau kesulitan keuangan bisa menjadi penghalang badan usaha
untuk selalu menambah utang, karena semakin besar beban yang harus
dikeluarkan badan usaha maka semakin besar juga kemungkinan badan usaha
mengalami kesulitan keuangan yang mengarah pada kebangkrutan. Hal ini
menunjukkan jika badan usaha sampai mengalami kesulitan keuangan, maka

2
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

pasar akan menilai hal tersebut sebagai hal yang buruk sehingga akan
menurunkan nilai badan usaha.
Tabel 1
Penelitian Terdahulu Mengenai Pengaruh Struktur Modal terhadap Nilai Badan Usaha

Peneliti Pengaruh
Bukit (2012) (+) signifikan
Pancawati Hardiningsih (2009) (+) signifikan
Wijaya, Bandi dan Wibawa (2010) (+) signifikan
Sari, Djazuli dan Aisjah (2013) (-) signifikan
Sujoko dan Soebiantoro (2007) (-) signifikan
Babalola (2012) Signifikan
Manurung (2012) Signifikan

Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa ada perbedaan hasil dari beberapa
penelitian terdahulu. Penelitian dari Hardiningsih (2009), kemudian penelitian
dari Wijaya dkk. (2010) dan juga penelitian dari Bukit (2012) menemukan bahwa
ada pengaruh yang positif dari struktur modal terhadap nilai badan usaha.
Pengaruh yang positif dari struktur modal terhadap nilai badan usaha
menunjukkan bahwa jika terjadi peningkatan pada struktur modal maka akan
diikuti dengan peningkatan nilai badan usaha, dan jika terjadi penurunan pada
struktur modal maka akan diikuti dengan penurunan nilai badan usaha. Sedangkan
penelitian dari Sari dkk. (2013) serta Sujoko dan Soebiantoro (2007) menemukan
ada pengaruh yang negatif dari struktur modal terhadap nilai badan usaha.
Pengaruh yang negatif dari struktur modal terhadap nilai badan usaha
menunjukkan bahwa jika terjadi peningkatan pada struktur modal maka akan
diikuti dengan penurunan nilai badan usaha, dan jika terjadi penurunan pada
struktur modal maka akan diikuti dengan peningkatan nilai badan usaha.
Babalola (2012) melakukan penelitian mengenai pengaruh curvilinear
struktur modal terhadap nilai badan usaha. Variabel independen yang digunakan
dalam penelitian Babalola (2012) adalah DTA (Debt to Total Assets), sedangkan
variabel dependennya adalah ROE (Return On Equity). Babalola (2012)
menemukan bahwa ada pengaruh curvilinear yang signifikan antara struktur

3
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

modal terhadap nilai badan usaha pada sektor food and beverages di Nigeria.
Struktur modal dapat mempengaruhi nilai badan usaha karena struktur modal bisa
menimbulkan tax benefit dan juga financial distress yang berdampak pada nilai
badan usaha. Jika peningkatan utang meningkatkan keuntungan pajak badan
usaha, maka persepsi pasar akan baik. Dan jika peningkatan utang badan usaha
sampai membuat badan usaha mengalami kesulitan keuangan, maka pasar akan
menilai hal tersebut sebagai hal yang buruk sehingga akan menurunkan nilai
badan usaha. Selain itu, penelitian Babalola (2012) juga menemukan ada struktur
modal optimal untuk badan usaha pada sektor food and beverages di Nigeria.
Dalam penelitiannya, Babalola (2012) mengatakan bahwa ada bukti bahwa
hubungan kuadrat yang signifikan, namun ini belum menerima banyak perhatian
dalam literatur keuangan.
Manurung (2012) melakukan penelitian mengenai struktur modal optimal
dengan variabel independen DER (Debt to Equity Ratio) dan DTA (Debt to Total
Asset). Dan variabel dependen yang digunakan adalah harga saham dan total aset.
Hasil dari penelitian Manurung (2012) adalah, bila total aset sebagai nilai
perusahaan maka DER, DTA dan dummy signifikan mempengaruhinya.
Kemudian hanya DER dan Dummy yang signifikan mempengaruh nilai badan
usaha jika proxy-nya harga saham. Manurung (2012) menggunakan dummy pada
penelitiannya karena melakukan penelitian pada periode krisis dan Manurung
(2012) mengatakan bahwa periode krisis sangat mempengaruhi nilai perusahaan.
Penelitian ini menggunakan objek sektor property, real estate & building
construction yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dikarenakan beberapa alasan,
yaitu ada pertumbuhan yang konsisten pada sektor ini yang diindikasikan dengan
banyaknya masyarakat yang menginvestasikan modal pada sektor property, real
estate & building construction.

4
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

Gambar 1
Kontribusi Investasi Terhadap PDB
(Sumber : Laporan Perekonomian Indonesia BI 2012)

Gambar 1 menunjukkan bahwa kontribusi investasi bangunan terhadap


PDB selalu menunjukkan pertumbuhan yang positif. Hal ini dikarenakan supply
akan bangunan bersifat tetap, sedangkan demand terus meningkat seiring dengan
pertumbuhan penduduk. Selain itu, pada dasarnya setiap kegiatan ekonomi baik
dalam bidang jasa maupun produksi memerlukan produk dari sektor property,
real estate & building construction sebagai salah satu faktor produksi. Hal ini
didukung dengan pernyataan dari Menteri Perindustrian, Hidayat (2013) yang
mengatakan bahwa Begitu sektor properti tumbuh, maka lebih dari 150 industri
penunjang akan tumbuh. Sektor properti, real estate & building construction
bisa menjadi pendorong perkembangan sektor yang lain.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan bukti empiris
mengenai pengaruh struktur modal terhadap nilai badan usaha dalam sektor
property, real estate & building construction yang tercatat di Bursa Efek
Indonesia selama periode 2009-2012 sesuai dengan static trade-off theory.

5
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

Sehingga dirumuskan hipotesis berikut : Diduga struktur modal berpengaruh


terhadap nilai badan usaha sesuai dengan static trade off-theory pada sektor
property, real estate & building construction yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia selama periode 2009-2012.
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi pihak
manajemen untuk dijadikan pertimbangan dalam menentukan bauran antara
penggunaan utang dan ekuitas dalam mencapai struktur modal yang optimal
sehingga bisa memaksimalkan nilai badan usaha. Sedangkan untuk para investor
Dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan keputusan berinvestasi
pada badan usaha yang tepat dalam sektor property, real estate & building
construction.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini tergolong applied research, yaitu penelitian yang
dikembangkan dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dan penerapan
dari pengetahuan serta teori-teori yang ada. Berdasarkan teknik penelitian,
penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimental dengan pendekatan
kuantitatif dengan menggunakan data-data kuantitatif untuk pembuktian teori.
Dari klasifikasi pendekatan penelitian, penelitian ini bersifat causal, yaitu
penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen
terhadap variabel dependen.Variabel independen yang digunakan dalam penelitian
ini adalah struktur modal dengan proxy Debt to Equity Ratio (DER), sedangkan
variabel dependen yang digunakan adalah nilai badan usaha dengan proxy Price
Book Value (PBV).
Untuk memudahkan pengertian dan agar tidak terjadi kesalahan persepsi
dari masing-masing variabel, maka diperlukan definisi dari masing-masing
variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Berikut adalah definisi beserta cara
pengukuran variabel-variabel yang digunakan
1. Struktur Modal (Debt to Equity Ratio )
Struktur modal merupakan bauran penggunaan modal sendiri dan
utang untuk memenuhi kebutuhan dana badan usaha, sehingga proxy

6
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

struktur modal yang digunakan dalam penelitian ini adalah Debt to Equity
Ratio.
Penghitungan Debt to Equity Ratio menggunakan perbandingan
antara Total Liabilities dengan Total Equity setiap tahun. Secara matematis
dapat dirumuskan sebagai berikut :

DER = ...................................................................................... (1)

Keterangan :
DER : Debt to Equity Ratio badan usaha sektor property, real estate
& building construction
TE : Total Equity badan usaha sektor property, real estate &
building construction
TL : Total Liabilities badan usaha sektor property, real estate &
building construction
2. Nilai Badan Usaha (PBV)
Proxy nilai badan usaha menggunakan Price to Book Value (PBV)
karena PBV menunjukkan perbandingan antara nilai pasar saham badan
usaha dengan nilai buku badan usaha. PBV diperoleh dengan menghitung
nilai pasar dibagi dengan nilai buku badan usaha setiap tahun. Penghitungan
PBV menggunakan persamaan berikut :
PBV = ....................................................................................(2)

Keterangan :
BV : Nilai buku badan usaha sektor property, real estate &
building construction
MV : Nilai pasar badan usaha sektor property, real estate &
building construction
PBV : Price to Book Value badan usaha sektor property, real estate
& building construction

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua badan usaha
yang ada dalam sektor property, real estate & building construction. Karakteristik
sampel yang digunakan adalah :

7
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

1. Terdaftar dalam sektor property, real estate & building construction di


Bursa Efek Indonesia selama periode 2009-2012 dan tidak delisting.
2. Badan usaha tersebut harus memiliki data lengkap yang berupa laporan
keuangan dan mempublikasikan laporan keuangannya secara runtut setiap
tahun selama periode 2009 sampai 2012.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Non-


Probability Sampling dengan jenis Purposive Judgement Sampling karena peneliti
menentukan subjek dari sampel yang terpilih hanya berdasarkan dari penilaian
(judgement) peneliti saja (Efferin dkk., 2008).
Selanjutnya uji Asumsi Klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data
berdistribusi normal atau tidak (Priyatno, 2010). Kriteria pengujian adalah
dengan melihat nilai signifikasi (Sig) > 0,05, maka data berdistibusi normal.
2. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi berfungsi untuk mengetahui apakah pada model regresi
ada korelasi antara residual pada periode t dengan residual pada periode
sebelumnya (t-1) (Priyatno, 2011). Pendeteksian ada tidaknya autokorelasi
dengan menggunakan Uji Durbin-Watson (DW Test) (Priyatno, 2011).
Model regresi dikatakan bebas dari autokorelasi jika nilai Durbin Watson
(DW) yang dihasilkan memenuhi syarat DU < DW < 4-DU.
3. Uji Heterokedastisitas
Uji Heterokedastisitas berfungsi untuk melihat apakah model regresi terjadi
ketidaksamaan varian dari residual pada satu pengamatan ke pengamatan
yang lain dengan cara menggunakan uji koefisien korelasi Spearman
(Priyatno, 2011). Model regresi dikatakan bebas dari heterokedastisitas jika
tingkat signifikansi dari masing-masing variabel independen > 0.05.
Penelitian ini menggunakan regresi kuadratik yaitu dengan menggunakan
persamaan kuadrat. Persamaan kuadrat yang digunakan adalah sebagai berikut :

8
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

PBV = + 1.DER + 2.DER2 + U ......................................................... (3)


Keterangan :
DER = Debt to Equity Ratio
PBV = Price Book Value
= Konstanta
1 = Koefisien regresi DER
2 = Koefisien regresi DER2
U = Residual

Kemudian pengujian hipotesis dengan regresi kuadratik adalah sebagai


berikut:
1. Uji Simultan (Uji F)
Uji F berguna untuk menguji apakah secara bersama-sama variabel
independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Priyatno,
2011). Apabila tingkat signifikansi < 0.05, maka terdapat pengaruh
signifikan dari variabel-variabel independen terhadap variabel dependen.
2. Uji Parsial (Uji t)
Uji t berfungsi untuk mengetahui pengaruh signifikasi antara variabel
dependen dengan variabel independen (Priyatno, 2011). Apabila tingkat
signifikansi < 0.05, maka terdapat pengaruh signifikan dari variabel
independen terhadap variabel dependen.
3. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar
kemampuan variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen
(Priyatno, 2011).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Penelitian ini menggunakan data sekunder dari laporan keuangan dan juga
factbook tahunan selama periode 2009, 2010, 2011, dan 2012. Sampel yang
digunakan harus memenuhi karakteristik yang sudah ditetapkan. Berdasarkan
kriteria tersebut, sampel yang memenuhi kriteria dalam penelitian ini adalah

9
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

sejumlah 40 badan usaha selama 4 tahun, sehingga didapatkan data sebanyak 160
sampel. Pengolahan data lebih lanjut menggunakan metode regresi kuadratik
dengan bantuan software SPSS 20.
Tabel 2
Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std.


Deviation
PBV 160 .13 6.32 1.4483 1.11694
DER 160 .00131 6.59841 1.0090873 1.00011772
DER2 160 .00000 43.53897 2.0122400 5.20852262
Valid N (listwise) 160

Dari tabel 2, terlihat bahwa jumlah sampel yang digunakan adalah 160
sampel. Variabel PBV memiliki nilai terendah sebesar 0,13, nilai tertinggi sebesar
6,32, nilai rata-rata sebesar 1,4483 dan nilai penyebaran data dari nilai rata-rata
sebesar 1,11694. Variabel DER memiliki nilai terendah sebesar 0,00131, nilai
tertinggi sebesar 6,59841, nilai rata-rata sebesar 1,0090873 dan nilai penyebaran
data dari nilai rata-rata sebesar 1,00011772. Variabel DER2 memiliki nilai
terendah sebesar 0,00000, nilai tertinggi sebesar 43,53897, nilai rata-rata sebesar
2,0122400 dan nilai penyebaran data dari nilai rata-rata sebesar 5,20852262.

Tabel 3
Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Unstandardized DER DER2
Residual
N 152 152 152
Mean 0E-7 .9998792 2.0297016
Normal Parametersa,b
Std. Deviation .80655562 1.01821668 5.33785355
Absolute .127 .183 .352
Most Extreme Differences Positive .127 .183 .309
Negative -.094 -.168 -.352
Kolmogorov-Smirnov Z 1.562 2.259 4.338
Asymp. Sig. (2-tailed) .015 .000 .000
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.

10
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai Asymp. Sig (2-tailed) dari DER dan
2
DER adalah sebesar 0,000 serta Unstandardized Residual yang sebesar 0,015
menunjukkan bahwa variable penelitian tidak berdistribusi normal, karena nilai
Asymp. Sig (2-tailed) < 0,05. Hasil tersebut adalah hasil Uji Normalitas setelah
dilakukan pengurangan sampai 8 sampel atau 5% dari total sampel yang
digunakan dengan menggunakan boxplot pada software SPSS 20, tetapi data
masih tidak berdistribusi normal.
Central Limit Theorem (Gujarati, 1988: 66) menyatakan bahwa jika ada
sejumlah besar variabel random yang didistribusikan secara independen dan
identik, maka dengan beberapa pengecualian, data tersebut cenderung
berdistribusi normal. Gujarati (1995: 782) menyatakan bahwa variabel dengan
n>25 merupakan sampel yang besar. Dengan begitu, 152 sampel yang digunakan
dalam penelitian ini bisa dikatakan berdistribusi normal.
Tabel 4
Hasil Uji Heteroskedastisitas

Correlations
DER DER2 Unstandardized
Residual
Correlation
1.000 1.000** -.013
Coefficient
DER
Sig. (2-tailed) . . .872
N 152 152 152
Correlation
1.000** 1.000 -.013
Coefficient
Spearman's rho DER2
Sig. (2-tailed) . . .872
N 152 152 152
Correlation
-.013 -.013 1.000
Unstandardized Coefficient
Residual Sig. (2-tailed) .872 .872 .
N 152 152 152
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Tabel 4 menunjukkan bahwa variabel DER dan DER2 telah melebihi


tingkat signifikansi 0,05. Variabel DER dan DER2 memiliki nilai signifikansi
masing-masing sebesar 0,872. Hal ini menunjukkan bahwa data yang digunakan
dalam penelitian dapat dikatakan bebas dari heteroskedastisitas.

11
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

Tabel 5
Hasil Uji Autokorelasi dan Koefisien Determinasi

Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Std. Error of the Durbin-Watson
Square Estimate
1 .293a .086 .074 .81195 2.160
a. Predictors: (Constant), DER2, DER
b. Dependent Variable: PBV

Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai Durbin Watson (DW) adalah sebesar


2,160, sedangkan nilai untuk k=2 pada 152 sampel, tabel Durbin Watson
menunjukkan nilai sebesar 1,7616. Sesuai dengan syarat untuk bebas autokorelasi
yaitu DU < DW < 4-DU, maka nilai untuk uji autokorelasi adalah 1,7616 < 2,160
< 2,2384 yang menyatakan bahwa pada model tidak ada korelasi antar variabel.
Hasil pengolahan data pada tabel 5 menunjukkan nilai adj R2 adalah
sebesar 0,074 atau 7,4%. Nilai adj R2 ini menunjukkan bahwa variabel DER dan
DER2 mampu berperan sebesar 7,4% dalam menjelaskan perubahan variasi yang
terjadi pada variabel PBV, sedangkan 92.6% dijelaskan oleh variabel lain diluar
variabel dalam penelitian ini. Nilai koefisien determinasi yang kecil ini
dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhi nilai badan usaha.
Sujoko dan Soebiantoro (2007) melakukan pengujian terhadap 10 faktor
yang bisa mempengaruhi nilai badan usaha dan mendapatkan hasil bahwa 8 dari
10 faktor yang diuji tersebut berpengaruh signifikan terhadap nilai badan usaha.
Delapan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap nilai badan usaha dalam
penelitian Sujoko dan Soebiantoro (2007) antara lain : kepemilikan institusional,
suku bunga, pertumbuhan pasar, profitabilitas, dividen, ukuran badan usaha,
pangsa pasar relatif dan juga leverage. Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai
koefisien determinasi yang sebesar 7,4% dalam penelitian ini sudah relevan.

12
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

Tabel 6
Hasil Uji Simultan (F-test)

ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Regression 9.218 2 4.609 6.991 .001b
1 Residual 98.230 149 .659
Total 107.449 151
a. Dependent Variable: PBV
b. Predictors: (Constant), DER2, DER

Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan software SPSS


20, diperoleh hasil nilai Fhitung sebesar 6,991 dengan tingkat signifikasi sebesar
0,001. Tingkat signifikansi tersebut berada dibawah 0,05, sehingga menunjukkan
bahwa DER dan DER2 berpengaruh signifikan secara simultan terhadap PBV.
Hasil penelitian ini sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya yang
menemukan ada pengaruh signifikan yang positif maupun negatif dari struktur
modal terhadap nilai badan usaha.
Penelitian Hardiningsih (2009), kemudian penelitian dari Wijaya dkk.
(2010) dan juga penelitian dari Bukit (2012) menemukan adanya pengaruh yang
positif signifikan dari struktur modal terhadap nilai badan usaha. Pengaruh
struktur modal yang positif terhadap nilai badan usaha ini menunjukkan bahwa
jika ada peningkatan pada struktur modal maka akan diikuti dengan peningkatan
pada nilai badan usaha, begitu juga jika terjadi penurunan pada struktur modal
maka akan diikuti dengan penurunan nilai badan usaha.
Pada penelitian Sari dkk. (2013) serta Sujoko dan Soebiantoro (2007)
ditemukan ada pengaruh yang negatif dari struktur modal terhadap nilai badan
usaha. Pengaruh struktur modal yang negatif terhadap nilai badan usaha ini
menunjukkan bahwa jika ada peningkatan pada struktur modal maka akan terjadi
penurunan pada nilai badan usaha, sedangkan jika terjadi penurunan pada struktur
modal maka akan terjadi peningkatan pada nilai badan usaha.

13
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

Tabel 7
Hasil Uji Parsial (t-test)

Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.
Coefficients
B Std. Error Beta
(Constant) .885 .125 7.063 .000
1 DER .553 .161 .668 3.446 .001
DER2 -.079 .031 -.497 -2.566 .011
a. Dependent Variable: PBV

Pengujian untuk variabel DER terhadap PBV memiliki nilai sebesar


0,553 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,001. Tingkat signifikansi tersebut
berada dibawah 5%, sehingga dapat dikatakan bahwa DER berpengaruh positif
dan signifikan terhadap PBV.
Pengujian untuk variabel DER2 terhadap PBV memiliki nilai sebesar -
0,079 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,011. Tingkat signifikansi tersebut
berada dibawah 5%, sehingga dapat dikatakan bahwa DER2 berpengaruh negatif
dan signifikan terhadap PBV.
Hasil penelitian ini sudah konsisten dengan static trade-off theory dan
sesuai dengan hipotesis yang dirancang. Hal ini karena terjadi pengaruh
curvilinear antara struktur modal terhadap nilai badan usaha yang ditunjukkan
dengan nilai 1 pada DER yang menunjukkan nilai positif dan nilai pada 2 pada
DER2 yang menunjukkan nilai negatif. Hal ini menunjukkan bahwa struktur
modal akan meningkatkan nilai badan usaha pada mula-mula, kemudian pada
suatu titik tertentu akan menyebabkan penurunan nilai badan usaha. Hal yang
menyebabkan kenaikan dan penurunan nilai badan usaha ini adalah pada awalnya
badan usaha akan mendapatkan keuntungan atau manfaat penghematan pajak dari
adanya peningkatan utang, kemudian pasar akan menilai baik hal tersebut,
sehingga nilai badan usaha akan mengalami peningkatan. Namun peningkatan
utang yang terus-menerus ini bisa menyebabkan badan usaha mengalami kesulitan
keuangan karena beban badan usaha yang juga terus meningkat, pasar tentu akan

14
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

menilai hal tersebut sebagai hal yang tidak baik sehingga akan mengakibatkan
penurunan nilai badan usaha.
Hasil penelitian ini juga konsisten dengan hasil penelitian Babalola (2012)
yang melakukan penelitian pada badan usaha food and beverages yang terdaftar
pada bursa saham Nigeria dan menemukan bahwa struktur modal berpengaruh
signifikan terhadap nilai badan usaha, karena hasil dari regresi menunjukkan
pengaruh curvilinear antara struktur modal terhadap nilai badan usaha yang
disebabkan oleh costs and benefits dari penggunaan utang. Babalola (2012) juga
menemukan bahwa ada struktur modal optimal untuk suatu sektor badan usaha.
Hasil penelitian ini juga konsisten dengan penelitian Manurung (2012)
yang melakukan penelitian pada badan usaha sektor manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia. Manurung (2012) dalam penelitiannya menemukan bahwa
struktur modal berpengaruh signifikan terhadap nilai badan usaha jika proxy
struktur modal menggunakan DER & dummy, serta nilai badan usaha
menggunakan proxy harga saham.

Gambar 2
Gambar Curve Estimation

15
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

Pada gambar 2 dapat dilihat bahwa hasil regresi menggunakan curve


estimation pada software SPSS 20 menunjukkan gambar kurva U-shape terbalik
yang menunjukkan bahwa ada pengaruh curvilinear dari struktur modal terhadap
nilai badan, sehingga dapat menunjukkan adanya struktur modal optimal untuk
badan usaha sektor property, real estate & building construction yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia selama periode 2009 2012. Struktur modal optimal
didapatkan dari hasil penghitungan expected value PBV yang tertingi dengan
menggunakan persamaan regresi pada rumus 3, sehingga akan menghasilkan
persamaan berikut :
PBV = 0,885 + 0,553. DER 0,079. DER2
Dari hasil penghitungan tersebut, didapatkan expected value PBV
tertinggi dengan nilai sebesar 1,844 dengan nilai DER sebesar 3,828. Hal ini
menunjukkan bahwa ada struktur modal optimal yang dapat meningkatkan nilai
badan usaha, yaitu total liabilities yang sebesar 3,828 kali dari total ekuitas untuk
badan usaha sektor property, real estate & building construction yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia selama periode 2009 2012.
Implikasi bagi pihak manajemen adalah apabila pihak manjemen akan
meningkatkan utang, maka harus mempertimbangkan sejauh mana peningkatan
utang tersebut bisa menaikkan nilai badan usaha, karena sesuai dengan trade-off
theory, penggunaan utang bisa meningkatkan nilai badan usaha yang disebabkan
adanya manfaat penghematan pajak, akan tetapi pada suatu titik tertentu
penggunaan utang yang terlalu tinggi bisa menurunkan nilai badan usaha yang
disebabkan badan usaha mengalami kesulitan keuangan karena penggunaan utang
yang terlalu tinggi.
Implikasi bagi pihak investor adalah badan usaha yang menggunakan
utang yang terlalu tinggi bisa menyebabkan resiko kesulitan keuangan. Investor
yang risk seeker akan berani untuk berinvestasi pada badan usaha yang memiliki
DER terlalu tinggi, sedangkan investor yang risk averse cenderung akan
menghindari untuk berinvestasi pada badan usaha yang memiliki DER terlalu
tinggi dan lebih berani berinvestasi pada badan usaha yang memiliki DER rendah.

16
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil pengujian secara simultan (uji F) menunjukkan hasil
yang signifikan dari pengaruh struktur modal terhadap nilai nadan usaha, karena
memiliki tingkat signifikasi sebesar 0.001 (lebih kecil dari 5%).
Berdasarkan hasil pengujian secara parsial (uji t) untuk variabel DER
memiliki nilai sebesar 0.553 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.001.
Sedangkan DER2 memiliki nilai sebesar -0.497 dengan tingkat signifikansi
sebesar 0.011. Tingkat signifikansi kedua variabel tersebut berada dibawah 5%,
sehingga dapat dikatakan bahwa DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap
PBV, sedangkan DER2 berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PBV.
Pengolahan data model persamaan dalam penelitiian ini menggunakan
metode regresi kuadratik. Hasil pengolahan data menunjukkan nilai koefisien
determinasi (R2) yang diperoleh adalah sebesar 0.074 atau 7.4%. Hal ini
menunjukkan bahwa variabel struktur modal mampu berperan sebesar 7.4%
dalam menjelaskan perubahan variasi yang terjadi pada variabel nilai badan
usaha, sedangkan 92.6% dijelaskan oleh variabel lain diluar variabel dalam
penelitian ini.
Rekomendasi yang diberikan oleh peneliti untuk pihak manjemen adalah
sebaiknya meningkatkan kapasitas utang untuk bisa meningkatkan nilai badan
usaha, selama badan usaha masih mendapatkan manfaat dari penggunaan utang
tersebut dan tidak mengalami kesulitan keuangan karena penggunaan utang yang
terlalu tinggi.
Rekomendasi yang diberikan oleh peneliti untuk para investor adalah
sebaiknya memperhatikan tingkat penggunaan utang suatu badan usaha sebelum
mengambil keputusan untuk berinvestasi, karena penggunaan utang yang terlalu
rendah maupun terlalu tinggi tidaklah terlalu baik bagi suatu badan usaha.
Untuk peneliti selanjutnya, peneliti merekomendasikan untuk
menggunakan variabel yang berbeda untuk sektor yang berbeda dan melakukan
lebih banyak penelitian pada sektor yang lain yang jarang mendapatkan perhatian
untuk diteliti. Kemudian menambah periode waktu pengamatan, misalnya
menggunakan periode pengamatan 8 tahun atau mengganti periode pengamatan

17
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.3 No.1 (2014)

menjadi semester maupun triwulanan. Sehingga diharapkan periode yang panjang


akan mampu memperlihatkan hasil yang lebih jelas.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal, 2005, Teori Keuangan dan Pasar Modal, EKONISIA.
Babalola, Yisau Abiodun, 2012, The Effects of Optimal Capital Structure on
Firms Performances in Nigeria, Journal of Emerging Trends in Economics
and Management Sciences (JETEMS), 3(2):131-133.
Bukit, Rina Br, 2012, Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan
Melalui Profitabilitas : Analisis Data Panel Perusahaan Manufaktur Di
Bursa Efek Indonesia, Jurnal Keuangan dan Bisnis, Vol. 4, No. 3.
Efferin, S., S.H. Darmaji, dan Y. Tan, 2008, Metode Penelitian Akuntansi :
Mengungkap Fenomena dengan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif,
Graha Ilmu.
Gujarati, Damodar N, 1995, Basic Econometrics Fourth Edition, McGraw-Hill.
Hardiningsih, Pancawati, 2009, Determinan Nilai Perusahaan, JAI Vol.5, No.2,
page : 231-250.
Manurung, Adler Haymans, 2012, Struktur Kapital Optimal Perusahaan
Manufaktur di BEI. Journal of Capital Market and Banking, Vol. 1, No. 2;
Agustus 2012.
Merdeka, 2013, Properti Sokong Pertumbuhan Nasional,
http://theglobejournal.com/ekonomi/properti-sokong-pertumbuhan-
nasional/index.php, diakses pada tanggal 11 September 2013.
Priyatno, Duwi, 2010, Paham Analisa Statistik Data dengan SPSS, MediaKom.
______________, 2011, Cara Kilat Belajar Analisis Data dengan SPSS 20,
ANDI.
Sari, Dessy Handa, Atim Djazuli, dan Siti Aisjah, 2013, Determinan Struktur
Modal dan Dampaknya terhadap Nilai Perusahaan (Studi pada Perusahaan
Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia), Jurnal Aplikasi
Manajemen, Vol. 11, No. 1, Maret 2013.
Sujoko dan Soebiantoro, Ugy, 2007, Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham,
Leverage, Faktor Intern dan Faktor Ekstern Terhadap Nilai
Perusahaan (Studi Empirik Pada Perusahaan Manufaktur Dan Non
Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta), Jurnal Manajemen dan
Kewirausahaan, Vol.9, No.1, Maret 2007:41-48.
Wijaya, L.R.P., Bandi, dan Anas Wibawa, 2010, Pengaruh Keputusan Investasi,
Keputusan Pendanaan dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan,
Proc. Simposium Nasional Akuntansi XIII Purwokerto 2010.
Zain, Sumarno, 1988, Ekonometrika Dasar. Erlangga.

www.idx.co.id, diunduh pada tanggal 17 September 2013.

www.bi.go.id, diunduh pada tanggal 27 September 2013.

18