Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

Infeksi selama kehamilan bermaksud terjadinya jangkitan patogen berupa

bakteria, virus, atau protozoa pada wanita yang sedang hamil. Terdapat dua jenis

infeksi pada kehamilan yaitu infeksi akut seperti infeksi virus, bakteria atau protozoa,

dan penyakit menular seksual seperti sifilis, gonore, lifogranuloma venereum, dan

AIDS. Selain itu, pada wanita hamil juga dapat terjadi infeksi cacing dari golongan

cacing nematoda, trematoda dan sestoda.

Jika penyakit infeksi timbul pada seorang wanita yang sedang hamil, akan

timbul beberapa pertanyaan pada dokter dan petugas medis lainnya, yaitu apakah

kehamilannya akan memperburuk penyakit infeksi tersebut atau apakah penyakit

infeksi tersebut akan mempengaruhi kehamilan yaitu seperti dapat menimbulkan

abortus, persalinan kurang bulan, atau dapat mempengaruhi bayi atau jalan

persalinan.

Atas alasan itu, penanganan penyakit infeksi pada wanita hamil harus

dilakukan dengan cermat dan teliti. Infeksi patogen sangat berpotensi untuk

menyebabkan kematian janin dengan cara mengeluarkan toksin yang meningkatkan

suhu dan metabolisme janin, invasi kuman ke dalam tubuh janin melalui plasenta, dan

menimbulkan perdarahan pada desidua. Dokter juga harus teliti dalam pemberian

obat-obat anti infeksi karena terdapat banyak obat-obat yang berpotensi teratogenik

dan mempengaruhi kehamilan pada seseorang wanita.

1
BAB II

PENYAKIT INFEKSI AKUT

Infeksi Virus

Terdapat banyak jenis virus yang bisa ditemukan dalam tubuh janin, tetapi

hanya 3 jenis virus yang mempunyai efek teratogenik yaitu virus rubella,

sitomegalovirus, dan herpes hominis. Ketiga jenis virus ini, bersama protozoa

Toksoplasma, termasuk dalam golongan TORCH yaitu merupakan patogen yang

sangat ditakuti pada wanita hamil. Istilah TORCH dikemukakan oleh Nahmias dkk

pada tahun 1971 untuk menggambarkan infeksi perinatal yang sama pada janin dan

ibu. Manifestasi klinik pada ibu sering tidak ada tetapi ancaman mortalitas pada janin

sangat besar.

Rubella

Rubella merupakan penyakit yang kurang berarti di luar kehamilan karena

tidak gejalanya tidak jelas atau sangat jarang dikeluhkan oleh pasien, tetapi dapat

2
meningkatkan angka kematian perinatal dan kecacatan kongenital pada janin. Jika

timbul pada wanita yang hamil dalam trimester pertama, 50% anaknya akan lahir

dengan kelainan kongenital pada mata, sistem kardiovaskular, sistem pendengaran

dan pada sistem saraf pusat.

Kelainan mata yang didapatkan pada janin yang dijangkiti rubella adalah

katarak kongenital, glaukoma dan mikroftalmia. Kelainan kardiovaskular yang

didapatkan pula adalah duktus arteriosus persistens, stenosis pulmonalis dan septum

terbuka.Pada sistem pendengaran janin pula akan terjadi ketulian yang bersifat

menetap, manakala pada sistem saraf pusat akan terjadi meningoensefalitis dan

retardasi mental.

Selain dari penyakit yang disebutkan di atas, janin yang terinfeksi dengan

virus rubella akan terhambat pertumbuhannya, mempunyai kelainan hematologik

seperti trombositopenia dan anemia, hepatosplenomegalia, dan ikterus. Penyakit

pnemonitis interstisialis kronika difusa dapat terjadi yaitu suatu penyakit yang

menyebabkan radang pada jaringan paru dan terjadinya kelainan kromosom seperti

retardasi mental. Janin dengan kelainan kromosom yang berat berisiko abortus. Selain

itu, bayi yang terinfeksi rubella dalam bulan-bulan pertama kehidupannya dapat

menjadi sumber infeksi bagi anak-anak dan orang dewasa.

Cara mendiagnosis rubella adalah sesuatu yang tidak mudah karena penyakit

ini sering muncul tanpa gejala. Jika gejalanya muncul, ia selalu tidak jelas atau

bersifat subklinis sahaja. Pada viremia, virus yang ada dalam darah ibu akan masuk

ke tubuh janin melalui plasenta dan merusak tubuh janin. Diagnosis penyakit ini

3
cuma bisa dilakukan dengan isolasi virus atau ditemukan titer antibodi rubella serum

yang meningkat.

Seorang wanita yang sudah kebal akan memiliki titer 1:10 atau lebih tetapi

apabila titernya mula-mula 1:8 dan 10-14 hari berikutnya titer ini meningkat 4 kali

lebih ditinggi, harus difikirkan kemungkinan viremia, walaupun wanita itu tidak

mempunyai keluhan apa-apa.

Penatalaksanaan penyakit ini pada wanita hamil yang terinfeksi adalah sangat

sulit karena tidak ada obat yang dapat mencegah viremia pada wanita yang tidak

kebal. Oleh karena itu, setiap anak perempuan yang memasuki usia produktif atau

yang akan menikah diberi vaksin rubella. Vaksin ini sangat baik untuk mencegah

penyakit rubella, tetapi dapat menimbulkan beberapa efek samping yaitu artralgia

atau artritis.

Jika seorang wanita hamil itu mendapat infeksi rubella pada trimester kedua,

kemungkinan cacat janin berkurang menjadi 6,8% dan dalam trimester ketiga, resiko

cacat janin berkurang menjadi 5,3%.

Sitomegalovirus

Infeksi sitomegalovirus dapat terjadi pada 1-2% kehamilan dan infeksi

kongenital pula dapat terjadi pada 1-2% kehamilan juga. Walaupun penyakit ini

jarang terjadi, tetapi 10-15% anak yang terinfeksi dari ibunya akan mengalami cacat

kongenital. Jika infeksi sitomegalovirus terjadi pada trimester pertama dan kedua,

akan terjadi hidrosefalus, mikroftalmia, hernia, gangguan pendengaran, retardasi

4
mental dan juga dapat ditemukan kalsifikasi serebral. Jika infeksi terjadi pada bulan-

bulan terakhir kehamilan, akan terjadi hepatosplenomegali, trombositopenia, purpura,

korioretinitis dan pneumonitis. Jika infeksi terjadi setelah lahir, pada bayi itu akan

terjadi pneumonia, hepatosplenomegali dan sepsis yang terjadi pada bulan pertama

kehidupannya. Infeksi setelah lahir ini umumnya terjadi karena kontak virus dari

serviks, ASI atau urin ibu pada saat lahir.

Penyakit ini didiagnosis dengan cara pemeriksaan serologik (biasanya dengan

cara ELISA). Ini dilakukan karena penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang khas

pada penderitanya.

Penyakit ini masih belum mempunyai cara pengobatan yang manjur dan pada

dasarnya pasien cuma diberi obat antivirus, pengobatan simptomatik dan dianjurkan

untuk istirahat.

Hepatitis Infeksiosa

Penyakit hepatitis infeksiosa sering ditemui pada remaja dan dewasa muda. Di

daerah khatulistiwa seperti Indonesia, terdapat banyak wanita hamil yang menderita

hepatitis terutama pada trimester ketiga. Penyakit ini sangat berbahaya dan dapat

menumbulkan nekrosis hati yang luas, sehingga dapat menyebabkan kematian fetal

dan maternal yang tinggi. Janin dapat terinfeksi dengan cara kontak langsung dari

sekret D'Cruz dan kawan-kawan melaporkan angka kematian maternal 2 kali lebih

tinggi pada wanita hamil dan dalam masa nifas berbanding penderita yang tidak

hamil.

5
Seperti rubella dan sitomegalovirus, penyakit ini tidak menimbulkan gejala

klinik yang khas. Gejala kliniknya berupa anoreksia, rasa mual, muntah, demam,

hepatomegali yang disertai rasa nyeri dan ikterus. Pada wanita hamil dengan hepatitis

berat akan menyebabkan abortus, partus prematurus dan cacat bawaan pada janinnya.

Cara mendiagnosis penyakit ini adalah dengan pemeriksaan serologik yaitu

memeriksa antigen HbsAg.

Pengobatan penyakit ini pada wanita hamil sama dengan pada orang biasa

yang tidak hamil, yaitu diberi obat antivirus, harus dirawat, dianjurkan tirah baring

dan diberi diet tinggi protein dan rendah lemak. Infus cairan diberi jika pasien mual

muntah.

Vaksinasi sebagai pencegahan penyakit ini harus dilakukan. Seorang wanita

yang HbsAg nya positif harus diberi imunisasi HBIG (Hepatitis B Immune Globulin)

dengan dosis 0,06ml/kg berat badan secara intramuskuler dalam dosis tunggal 14 hari

setelah terpapar. Setelah itu dilanjutkan dengan serial vaksin hepatitis B. Pada wanits

yang berisiko terpapar diberi vaksinasi 6 bulan setelah terpapar. Pada bayi yang lahir

dari ibu dengan HbsAg positif yang sedang hamil diberi vaksinasi HBIG 0.5ml secara

intramuskuler dalam dosis tunggal 12 jam setelah melahirkan dan diberi vaksinasi

serial hepatitis B 7 hari setelah lahir, usia 1 bulan dan pada usia 6 bulan.

Virus hepatitis bisa masuk ke dalam ASI, oleh itu proses menyusui hanya

diperbolehkan apabila telah dilakukan imunisasi, tetapi menghindari ASI bukan

berarti bayi terlepas dari kemungkinan tertular hepatitis karena cara penularan lainnya

masih mungkin mengancam.

6
Infeksi Virus Lainnya

Terdapat beberapa jenis virus lain yang bisa menyebabkan komplikasi yang

gawat bagi kehamilan, contohnya infeksi virus Coxsakie, parotitis epidemika, rubeola

(campak), variola (cacar), varisella (cacar air) dan demam berdarah dengue.

Pada infeksi virus Coxsakie, janin yang terinfeksi akan mati karena

miokarditis dan ensefalomielitis walaupun ibunya tidak menunjukkan gejala apapun.

Virus parotitis epidemika pula, walaupun jarang terjadi pada orang dewasa, dapat

menyebabkan kematian ibu dan dapat menyebabkan abortus, partus prematurus dan

cacat bawaan jika terinfeksi pada trimester pertama. Jika infeksi terjadi pada

kehamila lanjut bisa menyebabkan kematian janin.

Infeksi virus rubeola jarang dijumpai pada orang dewasa karena kebanyakan

orang dewasa sudah memperoleh kekebalan dari penyakit ini pada waktu kecil.

Antibodi yang ada di dalam tubuh ibu dapat melintasi plasenta dan mencegah bayi

dari terinfeksi selama 3 sampai 5 bulan pertama. Tetapi jika ibu itu tidak mempunyai

kekebalan, penyakit ini akan menjadi lebih berat. Pada janinnya bisa terjadi partus

prematurus atau kelahiran mati terutama apabila infeksi terjadi pada trimester

pertama.

WHO telah menyatakan bahwa dunia telah bebas dari variola pada tahun 1979

karena setiap negara mewajibkan rakyatnya mendapat vaksin variola, akan tetapi

penyakit ini bisa saja menginfeksi sebagian kecil golongan seperti petugas

laboratorium atau petugas medis yang terpapar pada virus ini, atau sekelompok orang

7
di daerah yang masih mungkin mengancam. Pada orang-orang ini diberikan vaksinasi

cacar akan tetapi vaksinasi ini sebaiknya tidak diberi pada wanita hamil karena

mengakibatkan rekasi terhadap janin sehingga bisa menyebabkan kematian janin

intrauterin.

Infeksi virus varicella pula merupakan penyakit pada anak-anak dan sangat

jarang dijumpai pada orang dewasa. Penyakit ini bukan merupakan penyakit yang

berat, tetapi jika menginfeksi wanita hamil akan menyebabkan partus prematurus.

Pada janin yang lahir akan timbul gelembung-gelembung setelah 10 hari kelahiran.

Virus dengue juga bisa menyebabkan masalah jika menginfeksi wanita hamil.

Penyakit demam berdarah dengue merupakan penyakit menular yang endemis di

Indonesia dan sangat muda ditularkan dari orang yang sakit ke orang lain melalui

gigitan nyamuk Aedes aegypti atay Aedes albopictus. Pada pasien demam berdarah

dengue akan terlihat gejala demam tinggi yang mendadak disertai manifestasi

perdarahan seperti timbulnya ptechiae, melena dan epistaksis. Selain itu, gejala

mialgia, artralgia, nyeri kepala dan nyeri epigastrium juga bisa ditemukan. Gambaran

laboratorium demam berdarah dengue berupa leukopeni, trombositopeni, limfositosis,

peningkatan partial thromboplastin time dan peningkatan degradasi fibrin. Diagnosis

penyakit ini dapat ditegakkan dengan pemeriksaan serologi dan virologi. Terdapat

beberapa penelitian yang menunjukkan adanya kadar antibodi terhadap dengue di

dalam tali pusat yang didapatkan dari ibu secara transplasental. Antibodi ini bisa

mencegah terjadinya demam berdarah dengue atau sindroma renjatan bila terjadi

infeksi baru. Akan tetapi, sampai saat ini belum pernah ditemukan malformasi janin

8
akibat infeksi dengue, tetapi peningkatan suhu pada ibu yang demam dapat

menganggu proses organogenesis terutama pada kehamilan trimester pertama.

INFEKSI BAKTERIA

Tifus abdominalis

Tifus abdominalis pada kehamilan dan pada nifas akan menyebabkan

kematian yang lebih tinggi berbanding infeksi pada orang yang tidak hamil. Enam

puluh hingga lapan puluh persen wanita hamil yang terinfeksi penyakit ini akan

terjadi pengeluaran hasil konsepsi secara spontan. Oleh karena itu, jika terjadi wabah

tifoid pada suatu daerah, semua wanita hamil akan diberi vaksinasi. Wanita yang

terinfeksi juga dinasehatkan supaya tidak menyusui bayinya walaupun tidak ada bukti

yang menyatakan bakteri ini tidak masuk ke dalam ASI. Pengobatan pada penyakit

ini adalah dengan pemberian kloramfenikol atau tiamfenikol.

Kolera

Lima puluh empat persen wanita yang hamil dan terinfeksi kolera akan

mengalami abortus atau partus prematurus. Angka kematian pada wanita hamil

dengan kolea jauh lebih tinggi berbanding penderita kolera yang tidak hamil.

Tetanus

Tetanus selama kehamilan, terutama pada ibu yang abortus atau di dalam nifas

9
akan mengakibatkan komplikasi yang sangat berbahaya. Penyakit ini sering terjadi

pada abortus provokatus kriminalis yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak

berwenang. Masa inkubasi penyakit ini pada wanita hamil lebih pendek berbanding

pada orang yang tidak hamil yaitu rata-rata 9 hari. Semakin pendek masa inkubasi,

semakin berbahaya penyakitnya. Kematian terjadi karena asfiksia akibat spasmus

otot-otot pernafasan.

Cara mengobati tetanus adalah dengan melakukan pembersihan luka dan

tempat sumber infeksi. Pasien diberi antibiotika dan antitoksin tetanus 100.000 IU

dalam 2 bentuk yaitu intravena dan intramuskuler dan sebelumnya dilakukan skin tes

terlebih dahulu. Selain itu perlu disiapkan obat antikonvulsi dan obat-obat penenang

terlebih dahulu.

Penyakit tetanus dicegah dengan pemberian imunisasi TT (tetanus toksoid)

bagi ibu hamil sebagai salah satu cara untuk menurunkan angka kejadian tetanus

neonatorum.

Erisipelas

Erisipelas disebabkan oleh Streptococcus haemoliticus yang berbahaya

kepada wanita hamil karena mengakibatkan sepsis ibu, infeksi janin dan kematian

janin. Erisipelas juga menyebabkan bahaya yang mengancam pada infeksi nifas dan

sebagai pencegahannya, wanita yang terinfeksi harus diisolasi dan diobati dengan

tirah baring dan pemberian antibiotika.

10
Skarlatina

Penyakit ini disebabkan oleh Stretococcus haemolyticus dan jarang dijumpai

pada orang dewasa dan wanita hamil. Jika seorang ibu terinfeksi pada saat kehamilan

muda akan menyebabkan demam tinggi. Suhu tinggi menyebabkan peningkatan

metabolisme pada janin dan bisa menyebabkan abortus.

Difteria

Difteria tenggorokan jarang dijumpai pada wanita hamil tetapi apabila tidak

diobati, 30% akan menyebabkan abortus dan partus prematurus. Penyakit ini dapat

menyebabkan kerusakan otot jantung sehingga mudah terjadi gagal jantung pada

persalinan.

Ibu yang terinfeksi difteria harus diisolasi, diberi antibiotika procaine penisilin

G 2.000.000 IU dalam air selama 7-10 hari (atau eritromisin 40 mg/kg BB, 4 kali

sehari) dan antitoksin difteria dalam dosis tinggi yaitu 10.000 sampai 100.000 IU,

tergantung beratnya penyakit.

Lepra

Penyakit lepra, atau lebih dikenali dalam masyarakat sebagai kusta,

merupakan penyakit menular yang sering menginfeksi anak-anak yang mempunyai

hubungan erat dengan penderitanya. Oleh karena masa laten penyakit ini sangat

panjang, gejala hanya akan terlihat jika terjadi penurunan imunitas seperti pada

keadaan pubertas, kehamilan dan 6 bulan pertama setelah kelahiran. Karena hal itu,

11
penderita lepra dianjurkan untuk tidak hamil dan jika diagnosis lepra dibuat setelah

wanita itu hamil, yang harus diperhatikan adalah pencegahan infeksi terhadap bayi.

Mycobacterium leprae dapat dijumpai dalam plasenta dan tali pusat, dan

walaupun demikian infeksi kongenital lepra adalah sangat jarang. Duncan (1980)

melaporkan bahwa bayi yang lahir dari ibu penderita lepra sering mengalami

pertumbuhan janin terhambat dengan plasenta yang berukuran lebih kecil. Pada

waktu pertumbuhannya juga anak itu akan mengalami keterlambatan.

Pada ibu yang mengalami infeksi lepra, anaknya harus dipisahkan dari ibu

sejak saat lahir sampai ibunya sembuh. Jika tidak, terdapat resiko sebesar 25% yang

anaknya akan terinfeksi lepra juga.

Pengobatan penyakit ini memerlukan waktu yang lama sampai beberapa

tahun. Pengobatan dilakukan dengan obat-obat sulfa (diaminodietilsulfon) karena

berdasarkan penelitian, diketahui ibu yang menderita lepra dan mendapat pengobatan

sulfa, dapat menyusui bayinya seperti biasa tanpa ada resiko penularan melalui ASI.

INFEKSI PROTOZOA

Malaria

Malaria banyak terjadi di daerah endemis seperti di Indonesia timur seperti di

Papua dan Sulawesi. Walaupun begitu, penduduk di daerah endemik ini memiliki

kekebalan terhadap malaria yang tinggi. Sebaliknya di daerah yang tidak endemik

mudah terjadi wabah.

12
Pengaruh kehamilan pada malaria

Seorang wanita yang hamil, walaupun telah memiliki kekebalan terhadap

malaria, bisa saja mendapat dampak akibat penyakit ini karena terjadinya penurunan

imunitas karena kehamilannya. Jika di luar kehamilan, wanita-wanita ini tidak

merasakan apa-apa saat parasitemia, tetapi pada saat hamil, mereka akan merasakan

demam yang tinggi dan menjadi lebih parah lagi dengan tuanya kehamilan sehingga

dapat terjadi abortus. Malaria juga dapat memperburuk kondisi ibu sehingga

mengakibatkan kematian ibu dan janin. Secara singkat, dampak malaria pada

kehamilan adalah seperti berikut:

1. Terjadinya abortus pada trimester pertama karena pireksia dan abortus pada

trimester kedua karena anemia berat.

2. Kematian janin intrauterin karena pireksia, anemia berat karena adanya parasit

di dalam plasenta dan infeksi transplasental.

3. Dismaturitas janin karena insufisiensi plasenta akibat banyaknya parasit di

dalam plasenta.

4. Partus prematurus karena pireksia atau karena kematian janin

5. Kematian neonatus akibat asfiksia intrapartum akibat banyaknya parasit di

dalam plasenta atau anemia, karena prematuritas atau karena malaria kongenital.

Pada wanita hamil penderita malaria, plasenta itu dapat bekerja seperti limpa

di mana ruang-ruang intervilusnya dipenuhi dengan makrofag dan parasit. Ini terjadi

terutama pada malaria tertiana akibat infeksi Plasmodium falciparum dan dijumpai

13
pada trimester kedua kehamilan. Hal ini akan menghambat pertumbuhan janin dan

menganggu pasokan oksigen sehingga terjadi insufisiensi plasenta yang

mengakibatkan kematian perinatal yang tinggi.

Walaupun terdapat banyak parasit di dalam plasenta, infeksi transplasental

jarang terjadi sehingga malaria kongenital sangat jarang didapatkan. Imunitas yang

diperoleh oleh ibu-ibu di daerah endemis juga bisa menjadi faktor pelindung buat

janinnya.

Selain meningkatnya frekuensi dan bertambahnya berat serangan malaria pada

ibu hamil, pengaruh buruk lain penyakit ini adalah anemia hemolitik. Proses

hemolisis tidak hanya terjadi pada eritrosit yang diinvasi oleh parasit tetapi juga pada

eritrosit yang tidak mengandungi parasit. Hal ini terjadi karena eritrosit yang

mengandung parasit itu bersifat antigenik yang menyebabkan dibentuknya antibodi

yang menyebabkan hemolisis intravaskuler. Hal ini terjadi terutama pada malaria

tertiana.

Untuk mengimbangi hemolisis secara besar-besaran itu, sumsum tulang akan

membuat lebih banyak eritrosit baru sehingga dibutuhkan lebih banyak asam folat

sehingga terjadi defisiensi asam folat dengan akibat megaloblastosis dan anemia

megaloblastik.

Penyakit malaria diobati dengan obat antimalaria klorokuin, biasanya pada

kehamilan 20-28 minggu. Pemberian asam folat juga harus ada untuk memperbaiki

defisiensi dan untuk hemopoiesis yang meningkat. Jika anemia tidak membaik,

diberikan transfusi darah untuk mempertahankan kadar Hb pada tingkat yang cukup

14
aman. Pada pasien yang harus ditransfusi diberikan juga kortikosteroid untuk

mencegah hemolisis.

Pada saat persalinan, harus diperhatikan terjadinya dekompensasio kordis

terutama pada ibu yang menderita anemia berat. Ini terjadi karena pertambahan aliran

darah yang banyak secara tiba-tiba dan jantung ibu tidak mampu memompanya

sehingga terjadi dekompensasio kordis.

Anemia hemolitik karena malaria sering kambuh pada kehamilan berikutnya

tetapi bisa dicegah dengan pemberian profilaksis dengan obat anti malaria sejak

trimester pertama sehingga sampai 6 minggu setelah persalinan. Profilaksis juag

diberi kepada ibu yang berpindah dari daerah non endemik ke daerah endemik.

Profilaksis diberi dengan 600mg klorokuin. Pada bayinya juga diberi profilaksis 6,25

mg klorokuin setiap minggu dalam 6 bulan pertama.

Toksoplasmosis

Toksoplasmosis disebabkan oleh protozoa Toksoplasma gondii yang biasanya

didapatkan dari hewan terutama dari tinja kucing. Manusia bisa terinfeksi melalui

makanan yang terkontaminasi kistanya, dari transfusi darah, transplantasi organ atau

melalui tangan yang terkontaminasi.

Pada orang dewasa, penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang jelas, hanya

kadang-kadang ditemukan pembesaran kelenjar getah bening yang nyeri. Gejala-

gejala berat adalah pneumonia, polimiositis, miokarditis dan limfangitis. Beratnya

gejala klinik ditentukan oleh besarnya inoculum, status imunitas penderita dan juga

15
virulensi dari setiap strain toksoplasma.

Pada ibu hamil yang terinfeksi akan mula-mula terjadi parasitemia dan infeksi

pada janin dimulai dengan masuknya parasit tersebut ke dalam plasenta sehingga

terjadi plasentitis yang terbukti dengan adanya gambaran plasenta dengan gambaran

inflamasi menahun pada desidua kapsularis dan reaksi fokal pada villi.

Menurut Sayogo (1978), dari 288 wanita hamil di RSCM, Jakarta, 14,25%

positif terhadap toksoplasms. Dari penelitian selanjutnya, pada ibu dengan

toksoplasmosis, 4 orang mengalami persalinan prematur dan 1 kasus kelainan

kongenital.

Selain itu, jika seorang wanita yang telah memasuki masa subur terinfeksi

toksoplasmosis, wanita itu mungkin mengalami gangguan imunitas yang

menyebabkan gangguan infertilitas karena parasit menyerang setiap sel berinti

termasuk sel gamet. Hal ini dibuktikan oleh penelitian Jacoeb (1990) yang

menyatakan pada wanita dengan infertilitas, terdapat titer IgG toksoplasma yang

tinggi.

Pada janin yang ibunya terinfeksi toksoplasma bisa terjadi abortus, kematian

janin, pertumbuhan janin terhambat, partus prematurus, dan kematian neonatal. Jika

bayinya hidup akan mengalami kecacatan bawaan seperti hidrosefalus, mikrosefalus,

meningoensefalomeilitis dengan perkapuran di otak, korioretinitis, iridosiklisis, atrofi

nervus optikus, iritis, nistagmus, dan lain-lain. Anak itu juga di saat pertumbuhannya

mudah terjadi kejang dan retardasi mental. Toksoplasmosis kongenital merupakan

sindroma TORCH yang paling berat.

16
Diagnosis toksoplasmosis sangat sulit dibuat karena tidak disertai gejala

penyakit dan kecurigaan hanya timbul jika ditemui kelainan seperti yang disebutkan

di atas. Pengobatan pula dengan diberi pirimetamin oram 25mg/hari dengan

sulfadiazin oral 1g/hari selama 28 hari disertai asam folat 6g IM atau oral

3kali/minggu. Selama pengobatan dilakukan pemeriksaan darah tepi 2 kali/minggu.

Pemberian pirimetamin tidak bisa pada kehamilan trimester pertama dan sulfadiazin

tidak bisa diberikan pada kehamilan aterm. Selain itu, ibu juga dianjurkan untuk USG

untuk mengetahui kondisi janin dan setelah bayinya lahir, tetap memberikan ASI

seperti biasa karena toksoplasma tidak ditularkan via ASI.

PENYAKIT AKIBAT HUBUNGAN SEKSUAL

Sifilis

Infeksi sifilis, atau dikenali dalam masyarakat sebagai lues, disebabkan oleh

Treponema pallidum. Jika seorang ibu memiliki sifilis, ia bisa menularkan kepada

janinnya dan sifilis kongenital merupakan infeksi sifilis yang terberat dengan gejala

klinisnya berupa janin dan plasenta yang tampak hidropik, pemfigus sifilitikus,

deskuamasi telapak kaki dan tangan, serta rhagade di sekitar mulut. Selain itu, sifilis

bisa menyebabkan kematian janin, partus immaturus, dan partus prematurus.

Pada orang yang terinfeksi, pada infeksi primernya akan timbul chancre,

tergantung besarnya inokulum serta imunitas penderita. Dalam banyak kasus sering

tidak ada gejala sehingga kelahiran mati dan lahirnya bayi dengan sifilis kongenital

sering merupakan petunjuk pertama ke arah diagnosis sifilis pada ibu.

17
Cara mendiagnosis penyakit ini adalah dengan melakukan anamnesia tentang

adanya kontak seksual dengan penderita sifilis. Selain itu, bisa dilakukan swab pada

lesi dengan direct flourescent antibody test dan ini menjadi hal yang rutin dilakuka

pada skrining antenatal saat kunjungan pertama. Pemeriksaan ini harus diulang pada

trimester terakhir dan pada persalinan. Pemeriksaan serologik memakan waktu yang

lama yaitu selama 4-6 minggu setelah infeksi. Semua pasien sifilis harus dikonsultasi

untuk resiko kemungkinan menderita AIDS sehingga diperlukan juga pemeriksaan

antibodi HIV.

Pengobatan sifilis harus segera setelah diagnosis ditegakkan karena

pengobatan yang lebih dini adalah lebih baik buat janin. Obat yang diberi adalah

penisilin dan jika pasien alergi terhadap penisilin, diberi secara disentisasi.

Eritromisin tidak dianjurkan karena tidak bisa mengobati infeksi pada janin. Penisilin

yang dipakai adalah benzathine penisilin G dengan dosis 2,4 juta satuan IM sekali

suntik. Untuk sifilis kronis, dosis yang dibutuhkan adalah 7,2 juta satuan dibagi

dalam 3 dosis dengan masing-masing 2,4 juta satuan IM perminggu selama 3 minggu.

Pada neonatus, diberi aqueous crystalline penicillin G 100.000-150.000

satuan/kg BB/hari dibagi dalam 2 dosis. Bayi yang lahir dari ibu yang menderita

sifilis tetap diberikan ASI seperti biasa karena Treponema tidak bisa melewati ASI

tetapi pemberian ASI dihindarkan pada ibu yang mempunyai lesi pada kulit.

Gonorea

Penyakit ini disebabkan oleh Neisseria gonorrhea dan meningkatnya kasus

18
gonorea pada kehamilan setara dengan peningkatan kejadian ketuban pecah dalam

kehamilan, korioamniositis dan sepsis neonatus. Gonorea pada kehamilan dijumpai

dalam bentuk kronis dan sampai 80% kasus tidak terdiagnosis karena tidak adanya

gejala klinis yang dikeluhkan oleh penderita. Diagnosis sering dibuat setelah bayi

lahir dengan oftalmia neonatorum.

Jika seorang wanita hamil terinfeksi gonorea setelah 4 minggu kehamilannya,

akan terjadi penjalaran dari genitalia eksterna ke interna sehingga terjadi

endometritis, endosalpingitis, pelvioperitonitis pasca abortus dan pasca nifas. Selain

itu, sering juga ditemukan kemandulan dengan satu anak (one child sterility) pada

penderita atau bekas penderita gonorea.

Diagnosis gonorea akut pada kehamilan ditegakkan dengan adanya gejala

klinik seperti disuria, uretritis, servisitis, fluor albus berupa nanah encer yang

berwarna kekuningan atau kuning-hijau dan kadang-kadang dijumpai bartholinitis

akut atau vulvokolpitis. Pada pemeriksaan laboratorium lendir uretra dan kanalis

servikalis yang dipulas dengan biru metilen ditemukan banyak sel nanah dan

ditemukan banyak diplokokus intra dan esktra seluler. Apabila hasil dari pemeriksaan

ini meragukan, dilakukan pembiakan. Pada penyakit gonorea yang kronis harus

dilakukan pemeriksaan pembiakan saja karena pemeriksaan apus tidak memberi arti

apa-apa. Selain penderita, suaminya juga harus diperiksa dan dilarang koitus sebelum

pasien benar-benar sembuh.

Pada persalinan, bisa terjadi infeksi pada jalan lahir sehingga menyebabkan

konjungtivitis gonoroika neonatorum (blenorrhea noenatorum) ketika mata bayi

19
tersentuh dengan bagian-bagian yang mengandungi gonokokkus.

Pengobatan penyakit ini adalah dengan antibiotika penisilin G dalam larutan

sebanyak 4,8 juta IU, di kanan dan kiri secara setengah-setengah. Terdapat juga

penelitian dari Johnson dan rekan (1970) yang menganjurkan pemberian ampisilin

dosis tunggal sebanyak 3,5 gram. Jika penderita alergi penisilin, diberi eritromisin 0,5

gram 4 kali sehari selama 5-10 hari atau suntikan kanamisin dosis tunggal (1 gram di

kanan dan 1 gram di kiri). Pilihan obat lainnya adalah ceftriaxone 250 mg IM dosis

tunggal dan pada setiap pengobatan perlu dipertimbangkan adanya ko-infeksi gonorea

dengan sifilis dan chlamydia.

Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium setiap 3 hari setelah

pengobatan selesai. Jika kambuh, penderita diobati lagi dengan dosis dua kali lipat.

Untuk mencegah kemungkinan blenorrhea neonatorum, semua janin yang

lahir diberi salep mata eritromisin atay kloromisetin. Pemberian ASI juga harus

dianjurkan karena penyakit ini tidak dapat ditularkan melalui ASI.

Chlamydia trachomatis

Prevalensi penyakit infeksi chlamydia semakin lama semakin meningkat yaitu

sebanyak 2 37% dari seluruh wanita hamil. Penyakit ini disebabkan oleh Chlamydia

trachomatis yang menjalar dari saluran urogenital yang dimulai dari serviks atau

uretra ke atas sehingga menyebabkan terjadinya bartholinitis, endoservisitis,

sindroma uretra akut, endometritis, salpingitis yang akhirnya dapat menyebabkan

infertilitas. Salpingitis akut juga dapat menyebabkan perihepatitis akut di mana terjadi

20
proses inflamasi dan fibrinasi permukaan anterior hepar serta peritoneum di

sekitarnya sehingga menimbulkan perlekatan hepar dan diafragma. Keadaan tersebut

dikenal sebagai sindroma Fitz-Hugh-Curtis.

Pada ibu-ibu yang terinfeksi chlamydia bisa terjadi abortus, kematian janin,

persalinan preterm, pertumbuhan janin terhambat, ketuban pecah dini serta

endometritis postabortum maupun postpartum.

Bayi yang lahir per vaginam dari ibu yang terinfeksi chlamydia, 20-50% dapat

mengalami konjugtivitis inklusi dalam 2 minggu pertama kehidupannya. Pneumonia

dapat terjadi paa usia 3-4 bulan dengan prevalensi 10-20%. Selain itu, dapat juga

terjadi otitis media, obstruksi nasal, dan bronkiolitis. Resiko infeksi perinatal dapat

dikurangkan dengan dilakukan operasi seksio sesarea, dengan syarat belum pecah

ketuban sebelumnya.

Diagnosis infeksi Chlamydia dapat ditegakkan dengan adanya sekret

mukopurulen dari ostium uteri eksternum atau apusan serviks pada biakan ditemukan

mikroorganisme ini. Selain itu dilakukan pemeriksaan sitologi yang memperlihatkan

adanya badan inklusi intrasel, dan pada pemeriksaan serologik didapatkan adanya

kenaikan titer antibodi.

Pengobatan infeksi chlamydia pada kehamilan perlu memperhatikan tentang

adanya infeksi campuran dengan gonorea. Pengobatan dilakukan dengan eritromisin

500 mg secara oral 4 kali/hari selama 7 hari atau eritromisin 250 mg secara oral 4

kali/hari selama 14 hari. Jika pasien mempunyai intoleransi terhadap eritromisin

dapat diberi amoksisilin 500 mg 3 kali/hari secara oral selama 7 hari.

21
Pencegahan terhadap ophtalmia neonatorum perlu dilakukan dengan

memberikan salep mata eritromisin 0,5 atau tetrasiklin 1% segera setelah bayi lahir

sampai 1 jam postpartum. Pemberian ASI juga tetap diteruskan karena Chlamydia

trachomatis tidak dapat melewati ASI.

Herpes simpleks

Infeksi virus hominis pada orang dewasa biasanya ringan tetapi dapat

menyebabkan kematian janin. Pada bayi dapat ditemukan gelembung-gelembung di

kulit pada seluruh tubuh atau pada konjungtiva dan selaput lendir mulut. Kematian

bayi juga dapat disebabkan oleh ensefalitis herpes virus.

Virus herpes tipe II dapat menyebabkan herpes genitalis dengan adanya

gelembung-gelembung berisi cairan di vulva, vagina dan serviks. Penyakit ini

dikenali dengan nama herpes simpleks. Penyakit ini juga dihubungkan dengan

kemungkinan adanya infeksi HIV.

Penularan dari ibu ke anak dapat terjadi karena hematogen melalui plasenta,

akibat penjalaran dari vagina, ke janin apabila ketuban pecah atau melalui kontak

langsung saat bayi lahir. Cara melakukan diagnosis tidak sulit karena pada alat

kelamin penderita akan terlihat gelembung-gelembung. Selain itu, ditemukan benda-

benda inklusi intranuklear yang khas di dalam epitel vulva, vagina atau serviks yang

akan memberikan hasil positif setelah dipulas dengan Papanicolaou. Selain itu bisa

dilakukan pemeriksaan serologik.

Herpes genitalis merupakan infeksi virus yang bersifat kronis dan rekuren

22
sehingga dikatakan sulit diobati. Pengobatan penyakit ini adalah dengan diberikan

antivirus Acyclovir dan pemberian obat analgetik untuk mengurangi rasa nyeri di

daerah vulva. Pemberian Acyclovir tidak dianjurkan pada waktu hamil kecuali jika

mengancam nyawa ibu seperti adanya ensefalitis, pneumonitis atau hepatitis dan

diberikan secara intravena. Jika seorang ibu itu menunjukkan gejala aku pada

genitalia, persalinan dilanjutkan dengan seksio sesarea karena jika persalinan

berlangsung secara per vaginam, 50% bayinya akan mengalami infeksi. Setelah

persalinan, ibu yang menderita herpes aktif harus diisolasi dan apabila mau menyusui,

ibu harus membersihkan diri, mencuci tangan dan mengganti bajunya terlebih dahulu.

HIV/AIDS

Jumlah penduduk dunia yang menderita HIV/AIDS semakin lama semakin

banyak, terutama di kalangan wanita. Penderita AIDS anak-anak 80% daripadanya

mendapat infeksi dari ibunya. Menurut laporan Centre for Disease Control (CDC) di

Amerika, seroprevalensi HIV pada ibu prenatal adalah sebanyak 0,0 1,7 %, pada

ibu di saat persalinan sebanyak 0,4-2,3% dan 9,4 29,6% pada ibu hamil pemakai

narkotika intravena. Transmisi vertikal dari ibu ke janinnya sering terjadi dan ada

penelitian di Amerika Serikat yang menunjukkan resiko transmisi perinatal pada ibu

hamil adalah sebanyak 20-40%. Transmisi dapat terjadi melalui plasenta, perlukaan

dalam proses persalinan atau melalui ASI. Walaupun demikian, WHO menganjurkan

ibu yang HIV positif tetap menyusui bayinya karena mengingat manfaat ASI yang

besar dibandingkan dengan resiko penularan HIV.

23
Pada setiap ibu hamil sebaiknya dilakukan langkah-langkah pelaksanaan

seperti berikut seperti:

1. Identifikasi resiko tinggi HIV/AIDS yaitu pada pemakai narkotika intravena,

pasangan seksualnya, golongan biseksual dengan HIV positif, penderita penyakit

hubungan seksual lainnya dan pada pekerjaan tuna susila.

2. Melakukan pemeriksaan darah terhadap HIV

3. Diberi edukasi

4. Konseling

5. Pencegahan sumber infeksi

Setelah terdiagnosis adanya AIDS, perlu dilakukan pemeriksaan apakah ada

penyakit hubungan seksual lainnya seperti gonorea, chlamydia, hepatitis, herpes, atau

infeksi TORCH.

Gejala klinis pada penderita AIDS di stadium awal biasanya tidak spesifik.

Pasien cuma menunjukkan gejala malaise, anoreksia, berat badan menurun atau

mungkin menderita kandidiasis oral atau vaginal. Kematian ibu hamil yang HIV

positif kebanyakannya disebabkan oleh penyakit opportunistik seperti Pneumocystis

carinii pneumonia. CDC telah menetapkan sistem klasifikasi pasien HIV berdasarkan

kondisi kliniknya.

Grup I : Infeksi akut

Grup II : Infeksi asimptomatik

Grup III : Limfadenopati persisten generalisata

24
Grup IV : Penyakit lain

Subgrup A: Penyakit konstitutional

Subgrup B: Penyakit neurologik

Subgrup C: Penyakit infeksi sekunder

Kelompok ini terbagi lagi dalam kategori C-1 dan C-2

tergantung jenis infeksi sekundernya.

Subgrup D: kanker sekunder

Subgrup E: kondisi lainnya

Sampai saat ini belum ada pengobatan AIDS yang memuaskan. Pemberian

AZT (Zidovudine) dapat memperlambat kematian dan menurunkan frekuensi serta

beratnya infeksi opportunistik. Pengobatan infeksi HIV dan penyakit

opportunistiknya dalam kehamilan merupakan masalah, karena banyak obat yang

belum diketahui dampak buruknya terhadap kehamilan. Dengan demikian,

pencegahan menjadi sangat penting peranannya yaitu mengedukasi pasien tentang

hubungan seksual yang sehat, menggunakan alat kontrasepsi dan mengadakan tes

terhadap HIV sebelum kehamilan.

Dalam persalinan, seksio sesarea bukan merupakan indikasi untuk

menurunkan resiko infeksi pada bayi yang dilahirkan. Penularan kepada penolong

persalinan dapat terjadi dengan rate 0-1% per tahun exposure. Oleh karena itu

dianjurkan untuk melaksanakan upaya pencegahan terhadap penularan infeksi bagi

petugas kamar bersalin seperti berikut:

25
1. Gunakan gaun, sarung tangan, dan masker yang kedap air dalam menolong

persalinan.

2. Gunakan sarung tangan saat menolong bayi.

3. Cucilah tangan setiap selesai menolong penderita AIDS.

4. Gunakan pelindung mata.

5. Peganglah plasenta dengan sarung tangan dan beri label sebagai barang

infeksius.

6. Jangan menggunakan penghisap lendir bayi melalui mulut.

7. Bila curiga adanya kontaminasi, lakukan konseling dan periksa antibodi

terhadap HIV serta dapatkan AZT sebagai profilaksis.

Perawatan pasca persalinan perlu memperhatikan kemungkinan penularan

melalui pembalut wanita, lokhia, luka episiotomi atau pun luka seksio sesarea. Bayi

pula harus ditangani oleh dokter anak yang khusus menangani kasus ini, tetapi

perawatan ibu dan anak tidak perlu dipisah. Pada bayi jangan dilakukan tindakan

yang mengakibatkan luka, seperti sirkumsisi. Perawatan tali pusat harus dijalankan

dengan cermat dan hati-hati supaya darah tidak terkena penolong. Imunisasi bayi

yang menggunakan virus hidup sebaiknya ditunda sampai bayi diyakini tidak

terinfeksi HIV. Antibodi yang didapatkan pasif dari ibu dapat bertahan sampai 15

bulan jadi diperlukan pemeriksaan ualng berkala untuk menentukan apakah kondisi

bayi semakin membaik atau memburuk. Infeksi pada bayi mengambil waktu yang

lama untuk tampak, dan akan kelihatan pada usia 12-18 bulan.

26
Bacterial vaginosis

Penyakit ini dahulunya dikenal sebagai vaginitis nonspesifik atau vaginitis

yang disebabkan oleh Haemophillus atau Gardnella vaginalis. Diagnosis ditegakkan

dengan ditemukan 3 dari 4 gejala berikut: sekret vagina homogen, pH lebih dari 4,5,

tes bau amin positif, atau dijumpainya clue cells pada sediaan basah. Diagnosis

ditegakkan dengan pemeriksaan pewarnaan Gram karena biasanya infeksinya

asimptomatik.

Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa penyakit ini merupakan faktor

penyebab pecahnya selaput ketuban pada kehamilan dan persalinan prematur.

Pengobatan terhadap infeksi ini di luar kehamilan adalah dengan metronidazole tetapi

karena obat ini kontraindikasi pada kehamilan trimester pertama dan belum diketahui

dampaknya pada kehamilan yang lebih lanjut, maka sebaiknya obat ini tidak diberi

dalam kehamilan. Sebagai penggantinya dapat diberi clindamycin 300 mg secara oral

2 kali/hari selama 7 hari.

Kondiloma akuminata

Seperti diketahui, penyakit yang disebabkan oleh Human papilomavirus

(HPV) sering dikaitkan dengan displasia dan karsinoma dan karena itu, harus sering

dilakukan pengawasan secara berkala.

Jika kondiloma terlalu besar sehingga menghalangi jalan lahir atau pada

persalinan per vaginam dikhuatirkan terjadi perdarahan hebat, maka dilakukan

27
operasi seksio sesarea. Oleh karena itu jika ditemukan kondiloma dalam kehamilan,

sebaiknya dilakukan ablasi dengan cara kauterisasi, krio ataupun dengan terapi laser.

Kandidiasis

Ibu yang menderita kandidiasis sering melahirkan bayi yang menderita

kandidiasis di daerah orofaring. Oleh karena itu pengobatan terhadap kandida di jalan

lahir perlu dilakukan sebelum persalinan berlangsung. Biasanya pemberian antifungal

secara topikal sudah bisa mengatasi masalah ini.

Trikomonas vaginalis

Ibu yang terinfeksi bisa menularkan trikomonas ke bayinya, dan bayi yang

terinfeksi akan menunjukkan gejala sekret vagina berlebihan (pada bayi perempuan),

piuria dan bayi rewel. Penyakit ini diobati dengan pemberian metronidazole pada

trimester kedua atau ketiga dengan dosis tunggal sebanyak 2 gram.

28
BAB III

KESIMPULAN

Ibu hamil lebih rentan mengalami infeksi yang bisa mempengaruhi kehamilan

dan bayi yang dikandung. Umumnya ibu hamil tidak mengetahui ketika ia memiliki

infeksi karena gejala yang munul bersifat asimtomatik padahal pengobatan yang

tertunda bisa berbahaya bagi kesehatan ibu dan juga bayi yang dikandung.Untuk itu

ketahui cara menghindari infeksi selama kehamilan dengan memberi edukasi kepada

ibu hamil untuk melakukan beberapa hal seperti menjaga kebersihan seperti rajin

mencuci tangan, menjaga kebersihan kuku serta selalu mengeringkan tangan,

menjaga makanan yang dikonsumsi, usahakan untuk mengonsumsi makanan yang

matang dan hindari makanan mentah atau setengah matang karena berpotensi

menyebabkan infeksi seperti toksoplasma. Selain itu, lingkungan dipastikan agar

tetap bersih sehingga terhindar dari penyakit menular seperti demam berdarah, cacar

atau malaria. Ibu hamil juga perlu menjaga kebersihan daerah vagina terutama setelah

buang air kecil agar terhindar dari infeksi seksual seperti chlamydia, dan melakukan

imunisasi secara teratur sebelum merencanakan kehamilan sehingga tubuh sudah

memiliki antibodi tersendiri.

29
Daftar Pustaka

1. Wiknjosastro, H et al. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Jakarta: Yayasan Bina

Pustaka Sarwono,Bagian Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia, 2007.

2. Sastrawinata, S., Martaadisoebrata D., Wirakusumah F., Obstetrik Patologi Edisi 2.

Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Jakarta: EGC, 2004.

3. Cunningham F, et al. William's Obstetrics 23rd edition. United States of America:

Mc-Graw Hill Professional; 2009.

4. Glmezoglu AM, Azhar M. Interventions for trichomoniasis in pregnancy.

Cochrane Database of Systematic Reviews;2011

5. Blencowe H, Cousens S, Kamb M, et al. Detection and Treatment of syphilis in

pregnancy to reduce syphilis related stillbirths and neonatal mortality. United

Kingdom: BMC Public Health;2011

30
6. McCarthy F, Giles M, Rowlands S, et al. Antenatal interventions for preventing the

transmission of cytomegalovirus (CMV) from the mother to fetus during pregnancy

and adverse outcomes in the congenitally infected infant. Ireland: Anu Research

Centre, Department of Obstetrics and Gynaecology, University College Cork, Cork

University Maternity Hospital, Cork, Ireland; 2011.

7.Chango A, Abdennebi-Najar L. Folate metabolism pathway and Plasmodium

falciparum malaria infection in pregnancy. France: Department of Nutritional

Sciences and Health, EGEAL Unit, Institut Polytechnique Lasalle Beauvais,

Beauvais, France; 2011

31