Anda di halaman 1dari 6

TEORI-TEORI KEBIJAKAN DIVIDEN

Dalam dunia keuangan, pada dasarnya terdapat 3 konsep tentang kebijakan dividen,
yaitu:irrelevance theory, bird in the hand theory, dan tax preference theory.
3.1 Irrelevance theory
Irrelevance theory adalah suatu teori yang menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak
mempunyai pengaruh baik terhadap nilai perusahaan maupun terhadap biaya modalnya. Menurut
teori ini, kebijakan dividen tidak mempengaruhi harga saham ataupun cost of capitalperusahaan.
Oleh karena itu, kebijakan dividen menjadi tidak relevan (irrelevant). Teori ini dikembangkan
oleh Miller dan Modigliani (1961), yang menyatakan bahwa nilai perusahaan hanya ditentukan
oleh expected earnings dan risiko perusahaan. Nilai perusahaan hanya tergantung pada laba yang
diekspektasikan dari aktiva, bukan dari pemisahan laba menjadi dividen dan laba ditahan. Teori
ini menganggap bahwa kebijakan dividen tidak membawa dampak apa-apa bagi nilai
perusahaan. Jadi, peningkatan atau penurunan dividen oleh perusahaan tidak akan mempengaruhi
nilai perusahaan.
3.2 Bird in the hand theory
Teori dari Lintner (1962), Gordon (1963), dan Bhattacharya (1979) menjelaskan bahwa investor
menyukai pendapatan dividen yang tinggi karena pendapatan dividen yang diterima seperti
burung di tangan (bird in the hand) yang mempunyai nilai yang lebih tinggi dan risiko yang kecil
daripada pendapatan modal (bird in the bush) karena dividen lebih pasti dari pendapatan modal.
Teori ini juga berpendapat bahwa investor menyukai dividen karena kas di tangan lebih bernilai
daripada kekayaan dalam bentuk lain. Konsekuensinya, harga saham perusahaan akan sangat
ditentukan oleh besarnya dividen yang dibagikan. Peningkatan dividen akan meningkatkan harga
saham yang akan berdampak pula pada nilai perusahaan.

3.3 Teori Dividen Residual (Residual Theory of Dividends)


Menurut teori dividen residual, perusahaan menetapkan kebijakan dividen setelah semua
investasi yang menguntungkan habis dibiayai. Dengan kata lain, dividen yang dibayarkan
merupakan sisa (residual) setelah semua usulan investasi yang menguntungkan habis dibiayai.

1. Teori Dividen Tidak Relevan

Modigliani dan Miller (MM) berpendapat, nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya
Dividend Payout Ratio, tapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak dan kelas risiko perusahaan. Jadi
menurut MM, dividen tidak relevan untuk diperhitungkan karena tidak akan meningkatkan
kesejahteraan pemegang saham. Menurut MM kenaikan nilai perusahaan dipengaruhi oleh kemampuan
perusahaan untuk mendapatkan keuntungan atau earning power dari asset perusahaan. Pernyataan
MM ini didasarkan pada beberapa asumsi seperti :

a. Pasar modal yang sempurna dimana para investor bersikap rasional.


b. Tidak ada biaya emisi saham.

c. Tidak ada pajak.

d. Leverage tidak berpengaruh terhadap biaya modal.

e. Para investor dan manajer mempunyai informasi yang sama.

f. Distribusi pendapatan diantara dividen dengan laba ditahan tidak berpengaruh terhadap biaya
ekuitas.

g. Kebijakan Capital Budgeting terlepas dari kebijakan dividen.

Beberapa ahli menentang pendapatan MM tentang dividen tidak relevan dengan menunjukkan adanya
biaya emisi saham baru yang akan mempengaruhi nilai perusahaan. Modal sendiri dapat berasal dari
laba ditahan dan menerbitkan saham biasa baru. Jika modal sendiri berasal dari laba ditahan, biaya
modal sendiri sebesar Ks (biaya modal sendiri dari laba ditahan). Tapi bila berasal dari saham biasa baru,
biaya modal sendiri adalah Ke (biaya modal sendiri dari saham biasa baru). Jika ada pajak maka
penghasilan investor dari dividen dan dari capital gains (kenaikan harga saham) akan dikenai pajak.
Seandainya tingkat pajak untuk dividen dan capital gains adalah sama, investor cenderung lebih suka
menerima capital gains dari pada dividen karena pajak pada capital gains baru dibayar saat saham dijual
dan keuntungan diakui.

2. Teori the bird in the hand

Gordon dan Lintner menyatakan bahwa biaya modal sendiri perusahaan akan naik jika Dividend Payout
rendah karena investor lebih suka menerima dividen dari pada capital gains. Menurut mereka, investor
memandang dividend yield lebih pasti dari pada capital gains yield. Perlu diingat bahwa dilihat dari sisi
investor, biaya modal sendiri dari laba ditahan (Ks) adalah tingkat keuntungan yang disyaratkan investor
pada saham. Ks adalah keuntungan dari dividen (dividend yield) ditambah keuntungan dari capital gains
(capital gains yield).

Kebanyakan pemilik saham lebih menyukai pembayaran dividen saat ini daripada menundanya untuk
direalisir dalam bentuk capital gain nanti. Tarif pajak untuk capital gain memang sering lebih rendah
daripada untuk dividen, namun para pemilik saham banyak yang lebih menyukai dividen saat ini, karena
dengan pembayaran dividen sekarang maka penerimaan uang tersebut sudah pasti, sedangkan apabila
ditunda ada kemungkinan bahwa apa yang diharapkan meleset.

Menurut Modigliani dan Miller pendapat Gordon dan Lintner merupakan suatu kesalahan, karena
akhirnya investor akan kembali menginvestasikan dividen yang diterima pada perusahaan yang sama
atau perusahaan yang memiliki resiko yang hampir sama.

3. Teori perbedaan pajak

Teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap
keuntungan dividen dan capital gains, para investor lebih menyukai capital gains karena dapat menunda
pembayaran pajak. Oleh karena itu investor mensyaratkan suatu tingkat keuntungan yang lebih tinggi
pada saham yang memberikan dividend yield tinggi, capital gains yield rendah dari pada saham dengan
dividend yield rendah, capital gains yield tinggi. Jika pajak atas dividend lebih besar dari pajak atas
capital gains, perbedaan ini akan makin terasa. Suatu teori yang menyatakan bahwa karena adanya
pajak terhadap dividen dan capital gains maka para investor lebih menyukai capital gains karena dapat
menunda pembayaran pajak dengan alasan :

a. Keuntungan modal dikenakan tarif pajak yang lebih rendah daripada untuk pembagian dividen,
karena itu investor yang kaya mungkin lebih suka perusahaan menahan dan menanamkan kembali laba
di dalam perusahaan.

b. Pajak atas keuntungan tidak dibayarkan sampai saham terjual, karena adanya nilai efek waktu, satu
dolar pajak yang dibayarkan di masa mendatang mempunyai biaya efektif yang lebih rendah daripada
satu dolar yang dibayarkan hari ini.

c. Jika selembar saham dimiliki oleh seseorang sampai ia meninggal, sama sekali tidak ada pajak
keuntungan modal yang terutang, ahli waris dapat terhindar dari pajak keuntungan modal.

4. Teori Signaling Hypothesis

Menyatakan bahwa, jika ada kenaikan dividen sering kali diikuti dengan kenaikan harga saham. Terdapat
bukti empiris bahwa jika ada kenaikan dividen, sering diikuti dengan kenaikan harga saham. Sebaliknya
pernurunan dividen pada umumnya menyebabkan harga saham turun. Fenomena ini dapat dianggap
sebagai bukti bahwa para investor lebih menyukai dividen dari pada capital gains. Tapi MM berpendapat
bahwa suatu kenaikan dividen yang diatas biasanya merupakan suatu sinyal kepada para investor bahwa
manajemen perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik diveden masa mendatang.
Sebaliknya, suatu penurunan dividen atau kenaikan dividen yang dibawah kenaikan normal (biasanya)
diyakini investor sebagai suatu sinyal bahwa perusahaan menghadapi masa sulit dividen waktu
mendatang. Seperti teori dividen yang lain , teori Signaling Hypotesis ini juga sulit dibuktikan secara
empiris. Adalah nyata bahwa perubahan dividen mengandung beberapa informasi. Tapi sulit dikatakan
apakah kenaikan dan penurunan harga setelah adanya kenaikan dan penurunan dividen semata-mata
disebabkan oleh efek sinyal atau disebabkan karena efek sinyal dan preferensi terhadap dividen.

5. Teori Clientele Effect

Teori ini menyatakan bahwa kelompok (clientele) pemegang saham yang berbeda akan memiliki
preferensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen perusahaan. Kelompok pemegang saham yang
membutuhkan penghasilan pada saat ini lebih menyukai suatu Dividend Payout Ratio yang tinggi.
Sebaliknya kelompok pemegang saham yang tidak begitu membutuhkan uang saat ini lebih senang jika
perusahaan menahan sebagian besar laba bersih perusahaan.

Jika ada perbedaan pajak bagi individu (misalnya orang lanjut usia dikenai pajak lebih ringan) maka
pemegang saham yang dikenai pajak tinggi lebih menyukai capital gains karena dapat menunda
pembayaran pajak. Kelompok ini lebih senang jika perusahaan membagi dividen yang kecil. Sebalinya
kelompok pemegang saham yang dikenai pajak relatif rendah cenderung menyukai dividen yang besar.
Bukti empiris menunjukkan bahwa efek dari Clientele ini ada. Tapi menurut MM hal ini tidak
menunjukkan bahwa lebih baik dari dividen kecil, demikian sebaliknya. Efek Clientele ini hanya
mengatakan bahwa bagi sekelompok pemegang saham, kebijakan dividen tertentu lebih
menguntungkan mereka.

BENTUK-BENTUK KEBIJAKAN DIVIDEN

Kebijakan dividen yang dilakukan perusahaan bentuknya bisa bermacam-macam. Menurut


Bambang Riyanto (2001:269) menyatakan bahwa ada macam-macam kebijakan dividen yang
dilakukan oleh perusahaan antara lain sebagai berikut :

4.1 Kebijakan dividen yang stabil


Banyak perusahaan yang menjalankan kebijakan dividen yang stabil, artinya jumlah dividen
per lembar yang dibayarkan setiap tahunnya relatif tetap selama jangka waktu tertentu meskipun
pendapatan per lembar saham setiap tahunnya berfluktuasi.

4.2 Kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus jumlah ekstra tertentu
Kebijakan ini menetapkan jumlah rupiah minimal dividen per lembar saham tiap tahunnya.
Dalam keadaan keuangan yang lebih baik perusahaan akan membayarkan dividen ekstra diatas
jumlah minimal tersebut.
4.3 Kebijakan dividen dengan penetapan dividend payout ratio yang konstan
Jenis kebijakan dividen yang ketiga adalah penetapan dividend payout ratioyang konstan.
Perusahaan yang menjalankan kebijakan ini menetapkan dividen payout ratio yang konstan
misalnya 50%. Ini berarti bahwa jumlah dividen per lembar saham yang dibayarkan setiap
tahunnya akan berfluktuasi sesuai dengan perkembangan keuntungan netto yang diperoleh setiap
tahunnya.
4.4 Kebijakan dividen yang fleksibel
Kebijakan dividen yang terakhir adalah penetapan dividen payout ratio yang fleksibel, yang
besarnya setiap tahun disesuaikan dengan posisi financial dan kebijakan financial dari
perusahaan yang bersangkutan.

PENGARUH KEBIJAKAN DIVIDEN TERHADAP ASSET


PEMEGANG SAHAM

Kebijakan dividen menyangkut keputusan untuk membagikan laba sebagai deviden atau
menahannya guna diinvestasikan kembali di dalam perusahaan (laba ditahan). Dividen yang
dibayarkan kepada para pemegang saham tergantung kepada kebijakan masing-masing
perusahaan, sehingga memerlukan pertimbangan yang lebih serius dari manajemen perusahaan.
Konsekuensinya, tugas manajer keuangan dituntut untuk bisa menentukan kebijakan dividen
yang optimal, yang menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini dan pertumbuhan
dimasa mendatang. Oleh karena itu, dalam menentukan kebijakan dividen perusahaan perlu
mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhinya sehingga dapat memaksimalkan
nilai perusahaan. Berdasarkan pada pemikiran di atas, penulis mencoba untuk melakukan
penelitian dalam skripsi yang berjudul Analisis Faktor-faktor Kebijakan Dividen dan
Pengaruhnya Terhadap Harga Saham . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor
kebijakan dividen yang meliputi posisi solvabilitas, posisi likuiditas, tingkat keuntungan (ROA),
dan ukuran perusahaan baik secara simultan maupun parsial terhadap nilai perusahaan yang
tercermin pada harga pasar saham perusahaan pada sektor industri perbankan tahun 2003. Dalam
penelitian ini unit observasi yang digunakan adalah 19 perusahaan pada sektor industri
perbankan yang sudah go public atau sudah terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode analisis yang
digunakan adalah analisis regresi berganda. Berdasarkan pengujian secara simultan, faktor-faktor
kebijakan dividen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga pasar saham perusahaan
dengan nilai koefisien determinasi sebesar 44.02%. Berdasarkan pengujian secara parsial, hanya
terdapat faktor kebijakan dividen yang berpengaruh signifikan terhadap harga pasar saham
perusahaan, yaitu tingkat keutungan (ROA). Sedangkan tiga faktor kebijakan dividen lainnya,
yaitu posisi solvabilitas, posisi likuiditas, dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan
terhadap harga pasar saham perusahaan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

Beberapa faktor lain yang mempengaruhi manajemen dalam menentukan kebijakan dividen, antara lain:

1. Kas atau likuiditas perusahaan. Bagi perusahaan yang memiliki laba ditahan yang cukup tetapi
manajemen memutuskan untuk menginvestasikan kedalam aktiva riil maka perusahaan tidak
membayar dividen dalam bentuk kas.
2. Kebutuhan pembayaran utang perusahaan. Adanya batasan dalam perjanjian pinjaman kepada
kreditur. Misalnya pembayaran dividen hanya dapat dilakukan setelah laba yang tersedia bagi
pemegang saham dikurangi dengan angsuran pinjaman atau apabila modal kerja mencapai
tingkat tertentu.
3. Tingkat ekspansi yang tinggi memerlukan dana yang besar sehingga laba yang diperoleh lebih
baik ditahan.
4. Aksesibilitas perusahaan di pasar modal berpengaruh terhadap kebijakan dividen, yaitu
dipengaruhi oleh usia dan skala perusahaan. 108
5. Pembatasan dari saham Preferen, tidak ada pembayaran dividen untuk saham biasa jika dividen
saham preferan belum dibayar.
6. Kebutuhan dana untuk Investasi, perusahaan yang berkembang selalu membutuhkan dana baru
untuk diinvestasikan pada proyek proyek yang menguntungkan. Sumber dana baru yang
merupakan modal sendiri (equity) dapat berupa penjualan sham baru dan laba ditahan.
Manajemen cenderung memanfaatkan laba ditahan karena penjualan saham baru
menimbulkan biaya peluncuran saham (flotation cost).