Anda di halaman 1dari 13

1

PAPER SINKRONISASI ESTRUS PADA TERNAK

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Reproduksi

Oleh :

Ardan Legenda De A 135050100111093


Mirsa Ita Dewi Adiana 135050100111189
Ari Prayudha 135050100111098
Dwi Mardiko 135050100111082
Ibnu Satria A 135050100111154

Kelas G

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
2

Sinkronisasi Estrus Pada Sapi

Sinkronisasi estrus merupakan teknik manipulasi siklus estrus untuk


menimbulkan gejala estrus dan ovulasi pada sekelompok hewan secara
bersamaan. Prinsip sinkronisasi estrus adalah pengendalian panjang siklus
estrus yang dapat dilakukan melalui dua metode, yaitu: memperpanjang
masa luteal dan memperpendek fase luteal (Ismaya, 2014).
Sinkronisasi estrus bertujuan untuk mengatur waktu IB sesuai
ketersediaan waktu, tenaga, dan menginduksi terjadinya birahi, teknik
sinkronisasi sangat cocok di daerah yang ketersediaan pakannya
berlangsung musiman, maka teknik ini dapat membantu mengatur waktu
bunting sesuai ketersediaan pakan, disamping itu dapat pula mengatur waktu
produksi sesuai permintaan pasar (Kune dan Solihati, 2007).
Beberapa metode sinkronisasi estrus telah dikembangkan, antara lain
dengan penggunaan sediaan progesteron, Prostaglandin F2alpha (PGF2),
serta kombinasinya dengan Gonadotropin releasing hormone (GnRH)
(Putro, 2013). Prostaglandin berfungsi untuk mendukung kejadian estrus
atau mempersingkat masa siklus estrus sedangkan GnRH untuk mendorong
ovulasi atau mendukung perkembangan folikel (Ratnawati dan Affandhy,
2008).
Hormon reproduksi yang paling berpengaruh dalam siklus estrus
adalah hormon estradiol dan progesteron, pada saat estrus hormon estrogen
akan meningkat dan hormon progesteron akan menurun. Fungsi estradiol
berperan pada sistem saraf pusat dalam menginduksi tingkah laku birahi,
terutama pada sapi dan domba. Oleh karena itu hormon estrogen dan
progesteron digunakan untuk mendeteksi estrus.
Teknik sinkronisasi diperlukan oleh peternakan rakyat untuk
perbaikan efisiensi reproduksi sapi potong dan efisiensi penggunaan
inseminasi buatan. Sinkronisasi estrus yang digunakan dalam penelitian ini
adalah preparat hormon PGF2 dan kombinasi PGF2 dengan GnRH.
Banyak metode sinkronisasi, tetapi tidak semua metode sesuai dengan sapi
3

di peternakan rakyat, hal ini dikarenakan faktor ekonomi, waktu, dan


manajemen sapi.

A. Definisi Sinkronisasi Estrus


Suatu cara untuk mengatasi problema sulitnya deteksi berahi yaitu
dengan cara penerapan teknis sinkronisasi birahi, baik dengan menggunakan
sediaan progesteron dan prostaglandin (PGF2). Dengan teknik ini
problema deteksi berahi dapat dieliminir, sehingga pelaksanaan inseminasi
buatan dapat dioptimalisasi. (Salverson, 2006).
Penyerentakan berahi atau sinkronisasi estrus adalah usaha yang
bertujuan untuk mensinkronkan kondisi reproduksi ternak sapi donor dan
resipien. Sinkronisasi estrus umumnya menggunakan hormon prostaglandin
(PGF2) atau kombinasi hormon progesteron dengan PGF2. (Huznurizal,
2008).
Penggunaan teknik sinkronisasi berahi akan mampu meningkatkan
efisiensi produksi dan reproduksi kelompok ternak, serta mengoptimalisasi
pelaksanaan inseminasi buatan, mengurangi waktu dan memudahkan
observasi deteksi berahi, dapat menentukan jadwal kelahiran yang
diharapkan, menurunkan usia pubertas pada sapi dara, penghematan dan
efisiensi tenaga kerja inseminator karena dapat mengawinkan ternak pada
suatu daerah pada saat yang bersamaan. (Siregar, 2010).
Timbulnya estrus akibat pemberian PGF2disebabkan lisisnya CL
oleh kerja vasokonstriksi PGF2sehingga aliran darah menuju CL menurun
secara drastis (Toelihere, 1981; Senger, 2003).
Sinkronisasi atau induksi estrus adalah tindakan menimbulkan
birahi, diikuti ovulasi fertil pada sekelompok atau individu ternak dengan
tujuan utama untuk menghasilkan konsepsi atau kebuntingan. Sinkronisasi
estrus biasanya menjadi satu paket dengan pelaksanaan IB, baik berdasarkan
pengamatan birahi maupun IB Terjadwal (timed artificial insemination).
Angka konsepsi atau kebuntingan yang optimum merupakan tujuan dari
aplikasi sinkronisasi estrus ini. (Martinez, 2005).

Beberapa metode sinkronisasi estrus telah dikembangkan, antara lain


dengan penggunaan sediaan progesteron, prostaglandin F2 (PGF2), serta
4

kombinasinya dengan gonadotropin releasing hormone (gnrh). Pemberian


progesteron berpengaruh menghambat ovulasi, prostaglandin
F2menginduksi regresi korpus luteum, sedangkan Gnrh menambah sinergi
proses ovulasi (Rabiee Et Al., 2005; Kasamanickam et al., 2006).

B. Penjelasan Umum Sinkronisasi Estrus


Sinkronisasi estrus merupakan teknik manipulasi siklus estrus untuk
menimbulkan gejala estrus dan ovulasi pada sekolompok hewan secara
bersamaan. Penyerentakan berahi atau sinkronisasi estrus adalah usaha yang
bertujuan untuk mensinkronkan kondisi reproduksi ternak sapi donor dan
resipien. Sinkronisasi estrus umumnya menggunakan hormon prostaglandin
(PGF2) atau kombinasi hormon progesteron dengan PGF2. Penggunaan
teknik sinkronisasi berahi akan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan
reproduksi kelompok ternak, serta mengoptimalisasi pelaksanaan inseminasi
buatan, mengurangi waktu dan memudahkan observasi deteksi berahi, dapat
menentukan jadwal kelahiran yang diharapkan, menurunkan usia pubertas
pada sapi dara, penghematan dan efisiensi tenaga kerja inseminator karena
dapat mengawinkan ternak pada suatu daerah pada saat yang bersamaan.
Kesuksesan program sinkronisasi membutuhkan pengetahuan
mengenai siklus berahi. Hari ke-0 dari merupakan hari pertama estrus, pada
saat ini biasanya perkawinan secara alami terjadi. Hormon estrogen
mencapai puncaknya pada hari ke-1 dan kemudian menurun, level
progesteron rendah karena corpus luteum (CL) belum terbentuk. Ovulasi
terjadi 12-16 jam setelah akhir standing estrus. CL yang menghasilkan
hormon progesteron terbentuk pada tempat ovulasi dan secara cepat
mengalami pertumbuhan mulai dari hari ke-4 sampai ke-7, pertumbuhan ini
diikuti dengan peningkatan level progesteron. Mulai hari ke-7 sampai ke-16,
CL menghasilkan progesteron dalam level tinggi.
Selama periode ini, 1 atau 2 folikel mungkin menjadi besar, tetapi
dalam waktu yang singkat akan mengalami regresi, kira-kira hari ke-16,
prostaglandin dilepaskan dari uterus dan menyebabkan level progesteron
menjadi turun. Ketika level progesteron menurun, level estrogen meningkat
dan folikel baru mulai tumbuh, estrogen mencapai puncaknya pada hari ke-
5

20, diikuti tingkah laku estrus pada hari ke-21. Pada saat ini siklus estrus
kembali dimulai.
Proses sinkronisasi dengan menggunakan preparat prostaglandin
(PGF2) akan menyebabkan regresi CL akibat luteolitik, secara alami
prostaglandin (PGF2) dilepaskan oleh uterus hewan yang tidak bunting
pada hari ke-16 sampai ke-18 siklus yang berfungsi untuk menghancurkan
CL. Timbulnya berahi akibat pemberian PGF2 disebabkan lisisnya CL
oleh kerja vasokontriksi PGF2 sehingga aliran darah menuju CL menurun
secara drastis, akibatnya kadar progesteron yang dihasilkan CL dalam darah
menurun, penurunan kadar progesteron ini akan merangsang hipofisa
anterior melepaskan fsh dan lh, kedua hormon ini bertanggung jawab dalam
proses folikulogenesis dan ovulasi, sehingga terjadi pertumbuhan dan
pematangan folikel. Folikel-folikel tersebut akhirnya menghasilkan hormon
estrogen yang mampu memanifestasikan gejala berahi. Kerja hormon
estrogen adalah untuk meningkatkan sensitivitas organ kelamin betina yang
ditandai dengan perubahan pada vulva dan keluarnya lendir transparan.
Prosedur sinkronisasi berahi sinkronisasi berahi pada kerbau seperti
pada sapi, paling umum menggunakan prostaglandin atau senyawa
analognya. Dengan tersedianya prostaglandin di pasaran memungkinkan
pelaksanaan sinkronisasi berahi di lapangan beberapa senyawa
prostaglandin yang tersedia antara lain 1) reprodin (luprostiol, bayer, dosis
15 mg), 2) prosolvin (luprostiol, intervet, dosis 15 mg), 3) estrumate
(CLoprostenol, ici, dosis 500 g) dan lutalyse (dinoprost, up john, dosis 25
mg). Cara standar sinkronisasi berahi meliputi 2 kali penyuntikan
prostaglandin dengan selang 10-12 hari. Berahi akan terjadi dalam waktu
72-96 jam setelah penyuntikan kedua.
Pelaksanaan inseminasi dilakukan 12 jam setelah kelihatan berahi,
atau sekali pada 80 jam setelah penyuntikan kedua. Prosedur yang
digunakan adalah: ternak yang diketahui mempunyai corpus luteum (CL),
dilakukan penyuntikan PGF2 satu kali. Berahi biasanya timbul 48 sampai
96 jam setelah penyuntikan. Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL,
penyuntikan PGF2 dilakukan dua kali selang waktu 11-12 hari. Setelah itu
dilakukan pengamatan timbul tidaknya berahi 36-72 jam setelah peyuntikan
6

kedua. Pemberian PGF2analog dapat menyebabkan luteolisis melalui


penyempitan vena ovarica yang menyebabkan berkurangnya aliran darah
dalam ovarium. Berkurangnya aliran darah ini menyebabkan regresi sel-sel
luteal. Regresi sel-sel luteal menyebabkan produksi progesteron menurun
menuju kadar basal mendekati nol nmol/lt, dimana saat-saat terjadinya
gejala berahi. Regresi korpus luteum menyebabkan penurunan produksi
progesterone.

C. Manfaat dan Keuntungan Sinkronisasi Estrus pada Ternak


Sinkronisasi atau induksi estrus adalah tindakan menimbulkan
birahi, diikuti ovulasi fertil pada sekelompok atau individu ternak dengan
tujuan utama untuk menghasilkan konsepsi atau kebuntingan. Sinkronisasi
estrus biasanya menjadi satu paket dengan pelaksanaan IB, baik berdasarkan
pengamatan birahi maupun IB terjadwal (timed artificial insemination).
Angka konsepsi atau kebuntingan yang optimum merupakan tujuan dari
aplikasi sinkronisasi estrus ini.
Manfaat dari tindakan sinkronisasi estrus pada sapi ada beberapa,
antara lain:
1) Optimalisasi dan efisiensi pelaksanaan IB. Dengan teknik ini
dimungkinkan pelaksanaan IB secara massal pada suatu waktu tertentu.
2) Mengatasi masalah kesulitan pengenalan birahi. Subestrus atau birahi
tenang yang umum terjadi pada sapi perah dan potong di Indonesia
dapat diatasi dengan teknik sinkronisasi estrus.
3) Mengatasi masalah reproduksi tertentu, misalnya anestrus post partum
(anestrus pasca beranak).
4) Fasilitasi program perkawinan dini pasca beranak (early post partum
breeding) pada sapi potong dan perah. Teknik ini dapat digunakan
untuk mempercepat birahi kembali pasca beranak, pemendekkan days
open (hari-hari kosong) dan pemendekkan jarak beranak.
5) Manajemen reproduksi resipien pada pelaksanaan transfer embrio sapi.
Dalam program transfer embrio, embrio beku maupun segar (diambil
dari sapi donor pada hari ke 7 setelah estrus) ditransfer ke resipien pada
fase siklus estrus yang sama. Sinkronisasi estrus biasanya digunakan
untuk maksud tersebut.
7

Adanya Kegiatan sinkronisasi estrus ini diharapkan dapat


meningkatkan kinerja reproduksi sapi Madura, meningkatkan produktivitas
sapi Madura, meningkatkan penghasilan peternak, meningkatkan jumlah
Akseptor IB, dan membantu program pemerintah dalam swasembada daging
Tahun 2014, sehingga diharapkan kegiatan ini dapat diadakan secara
berkelanjutan di tahun- tahun berikutnya.

D. Fungsi Sinkronisasi Estrus


1) Mengurangi waktu untuk menemukan hewan birahi
2) Memberi kemudahan bagi penggunaan inseminasi buatan, terutama
pada kawanan sapi pedaging, dengan memberi perlakuan pada
hewan secara berkelompok.
3) Dalam hubungan dengan prosedur saat ovulasi, agar dapat
melakukan inseminasi sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan
sebelumnya
4) Memungkinkan memberi makan hewan dalam kelompok yang
seragam, terutama bila ini menyangkut perubahan ransum sesuai
dengan fase kebuntingan.
5) Sebagai kelanjutan dari pembiakan serentak, membatasi keseluruhan
periode kelahiran pada kawanan atau kelmpok ternak
6) Memungkinkan melakukan pengawasan kelahiran dengan tujuan
mengurangi kematian anak baru lahir dan pengaturan pengasuhan
anak pada induk lain
7) Setelah pengendalian perkawinan yang berhasil, memungkinkan
untuk melakukan penyapihan, penggemukan, dan pemasaran
kawanan ternak yang seragam.
8) Memudahkan pemanfaatan transfer embrio (Hunter, 2000)

E. Keuntungan siklus estrus pada ternak adalah sebagai berikut


(Ismaya, 1998)
1) Memudahkan dan efisiensi deteksi birahi.
2) Memudahkan dalam pelaksanaan kawin buatan.
3) Memudahkan tata laksana pemberian pakan ternak bunting.
4) Memudahkan tatalaksana kelahiran dan pemeliharaan anak.
5) Memudahkan tatalaksana penggemukan anak jantan.
6) Memudahkan tatalaksana pemibibitan.
8

F. Mekanisme Sinkronisasi Estrus pada Ternak


Sikronisasi estrus pada sapi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu
:
Menghilangkan corpus luteum atau enukleasi luteal
Perusakan fisik pada CL dngan menggunakan jari melalui rektum,
pada saat CL dalam keadaan berfungsi (masak).
Perlu tenaga yang profesional.
50 60 % dari sekelompok sapi yang peka, empat hari kemudian
akan birahi.
Resiko hemorhagia dan perlekatan fimbria (Ismaya, 1998).
Penyuntikan Progesteron
Penyuntikan selama 18 -20 hari (50 mg/hari).
Menghambat fase luteal melalui umpan balik negatif.
Kelemahannya yaitu injeksi memerlukan waktu dan tenaga,
timbulnya birahi bervariasi kurang lebih 5 hari, fertilisasi
menurun/rendah (Ismaya, 1998).

1. Pemberian progestagen aktif per oral (mulut)


a. Mengatasi kesulitan kedua diatas dan lebih tepat untuk kelompok
ternak yang besar dikandang dan terprogram pemberian pakannya
b. Progestagen sintetik yaitu melengestrol Asetat (MGA) dan
Medroxiprogesteron (MPA), namun lebih bagus MGA daripada
MPA.
c. Pemberian lewat pakan selama 15-18 hari dan birahi terjadi 3-5 hari
kemudian setelah penghentian perlakuan.
d. Fertilisasi rendah (42%) dan menjadi 82 % pada estrus berikutnya.
e. Pemberian esterogen dan gonadotropin menghambat MGA,
fertilisasi tetap rendah (Ismaya, 1998).

2. Implan silastik
a. Implan silastik yang mengandung MGA ditanam dibawah kulit leher
atau dibawah kulit luar telinga selama 22-64 hari
b. 36-72 jam setelah penghentian perlakuan terjadi birahi 64 %
(Ismaya, 1998).

3. Spons intravagina
9

a. Progesteron juga dapat dimasukan ke vagina dengan memakai spons,


diharapkan dapat menghasilkan estrus yang baik.
b. Pemasangan spons selama 18-21 hari dan birahi akan tampak 24-72
jam setelah pengambilan spons dari vagina.
c. Kelemahan: spons sering berubah tempat, kerusakan mukosa vagina
dan serviks.
d. Progesteron releasing intra vagina device (PRID) adalah alat
intravagina pelepas progesteron dengan speculum pada bagian
vagina anterior (Ismaya, 1998).
e. Dengan penyuntikan PMSG (750-2000 IU) sebelum dan sesudah
pengeluaran spons dapat meningkatkan birahi dan fertilisasi
(Ismaya, 1998).

4. Progestagen dalam waktu singkat


a. Untuk meningkatkan fertilisasi prostagen diberikan 9-12 hari saja.
b. Sebelumnya disuntikan 5-7,5 mg EB dan 50-250 mg progesteron
dan setelah penghentian perlakuan, maka 56 jam kemudian birahi
dan dapat di IB (Ismaya, 1998).

5. Injeksi prostaglandin PGF 2alfa


a. Publikasi pertama mengenai terapi prostalglandin baru muncul tahun
1970 dan terus berkembang sejalan ditemukannya analog
prostaglandin.
b. Lebih sederhana dan mencegah menurunya fertilisasi.
c. Penyuntikan intra muskular tunggal untuk fase luteal dan ganda (10-
12 hari) untuk yang heterogen fasenya, IB dilakukan 58-72 jam atau
72 dan 96 jam (IB Ganda)

G. Metode Sinkronisasi Pada Ternak


Pada Babi
Bahan yang digunakan adalah bahan kimia bukan steroid yang
diberikan melalui ransum selama 20 hari. Setelah itu pemberian
dihentikan dan 5 hari setelah penghentian akan terjadi estrus secara
serentak. Selain itu bisa juga digunakan PGF2 alpha melalui
suntikan intra muskuler dengan dosis 8 mg/ekor,ini dilakukan pada
hari ke 12 dari siklus berahi maka berahi akan muncul 1-3 hari
kemudian.
10

Pada Domba
Sinkronisasi pada domba dapat dilakukan dengan dua cara:
a. Pemberian progesterone dengan suntikan intra muskuler,intra
vena, dan intra vagina. Melalui intra vagina adalah dengan jalan
mencelupkan spons yang telah berisi larutan progesterone dan
dimasuk kan kedalam saluran reproduksi betina yang tidak
bunting selama 14-19 hari. Spons ini berbentuk bulat panjang
sebesar ibu jari dengan panjang nya sekitar 4 cm dan
dibelakangnya diikat dengan tali nilon 2 hari setelah penarikan
spons yang berisi progesterone dan diserap oleh vagina sehingga
masuk keperedaran darah dan menekan kejadian berahi, berahi
akan terjadi 1-3 hari kemudain. Secara fisologis,setelah
penarikan spons maka suplay progesterone akan terhenti ini
menyebabkan ransangan pada hipofisa untuk mengeluarkan FSH
dan LH,selanjutnya folikel akan tumbuh pata taraf yang matang
sehingga terjadilah estrus.

b. Pemberian PGF2 alpha secara umum dilakukan dengan suntikan


intra muskuler dengan dosis 6-8 mg/ekor.Berahi akan muncul 1-
3 hari kemudian.

Pada Sapi
Pada sapi sering digunakan PGF2 alpha yang berfungsi
menghancurkan korpus leteum yang sedang berfungsi dan tidak
efektif pada korpus luteum yang sedang tumbuh. Pada dasarnya
korpus luteum tumbuh pada 0-5 hari setelah estrus dan pada hari 6-
16 korpus luteum berfungsi. Cara penyuntikan PGF2 alpha.
a. Penyuntikan satu kali
Pada cara ini sebua betina yang tidak bunting disuntik dengan
PGF2 alpha,estrus akan terjadi 1-3 hari kemudian. Secara teori
kebrhasilan cara ini sekitar 75% kerena diperkirakan 25% ny
masih berada pada kondisi estrus sampai 5 hari setelah
estrus.untuk mendapatkan hasil 100% maka diperlukan
penyuntikan kedua.
b. Penyuntikan dua kali
11

Semua betina yang tidak bunting disuntik dengan PGF 2 alpha,


kemudian penyuntikan diulangi lagi pada hari kesebelas (11).
Berahi terjadi secara serentak 1-3 hari kemudian dan 100%
berahi. Dosis PGF 2 alpha adalah 5 35 mg/ekor.

F. Perbedaan Angka Kebuntingan yang Birahi Alami dan Birahi


Sinkronisasi

Fertilitas yang dihasilkan dari estrus hasil sinkronisasi menurut


laporan laporan dari negara maju dan berdasarkan pengalaman pribadi
penulis dapat dikatakan sama dengan hasil dari estrus alami. Inseminasi
buatan berdasarkan deteksi birahi alami mempunyai angka konsepsi normal
60 75%, sedangkan sinkronisasi estrus dengan inseminasi terjadwal juga
menghasilkan angka yang sama. Pada aplikasi sinkronisasi estrus dengan
inseminasi buatan terjadwal pelaksanaannya akan lebih efisien, karena tanpa
diperlukan lagi deteksi birahi. Hasil konsepsi dari sinkronisasi estrus dan
inseminasi buatan memang tidak dapat dibandingkan dengan hasil kawin
alami dengan pejantan langsung. Pejantan sapi sesungguhnya merupakan
detektor birahi terbaik bagi sapi betina, dalam aplikasi IB peran deteksi itu
digantikan oleh manusia yaitu peternak dan inseminator dengan hanya
mengandalkan visualisasi gejala estrus. Perkawinan alam pada sapi secara
bebas tanpa diatur manusia (natural mating) normal dapat mencapai hasil
90% atau lebih, bahkan kalau sapi Bali yang dipelihara ekstensif dapat
mendekati 100%. Hasil konsepsi aplikasi teknologi sinkronisasi estrus baku
diharapkan tidak kurang dari 60% hasil konsepsinya apabila persyaratan
minimum sapi betina akseptor sinkronisasi dipenuhi.
12

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Peternakan. 2014. Kegiatan Sinkronisasi Estrus pada Sapi


Madura.http://disnak.pamekasankab.go.id/index.php/berita/151-
kegiatan-sinkronisasi-estrus-pada-sapi-madura (online). Diakses
pada 28 Februari 2016.
Hastono. 2012. Upaya Peningkatan Efisiensi Reproduksi Ternak Domba Di
Tingkat Petani-Ternak. Lokakarya Nasional Domba dan Kambing.
Balai penelitian ternak : 236-240
Husnurrizal. 2008. Sinkronisasi Birahi Dengan Preparat Hormon
Prostaglandin (PGF2a). Lab. Reproduksi. Fakultas Kedokteran
Hewan Universitas Syiah Kuala.
Kasimanickam, R., Collins, J. C., Wuenschell, J., Currin, J. C., Hall, J. B.
and Whittier, D. W. (2006).Effect Of Timing Of Prostaglandin
Administration, Controlled Internal Drug Release Removal And
Gonadotropin Releasing Hormone Administration On Pregnancy
Rate In Fixed-Time AI Protocols In Crossbred Angus Cows.
Theriogenology 65: 1-14.
Martinez, M. F., Kastelic, J. P. , Bo, G. A., Caccia, M. and Mapletoft, R. J.
(2005) Effect Of Oestradiol And Some Of Its Esters On
Gonadotrophin Release And Ovarian Follicular Dynamics In CIDR
Treated Beef Cattle. J. Anim. Sci. 86: 37-52.
Putro, Prabowo Purwono.2013. Dinamika Folikel Ovulasi Setelah
Perlakuan Sinkronisasi Estrus dengan Implan Progesteron
Intravagina pada Sapi Perah. Jurnal sain veteriner. Vol 31(2) : 128-
137.
Ratnawati, Dian dan L. Affandhy. 2008. Implementasi Sinkronisasi Ovulasi
Menggunakan Gonadotrophin Releasing Hormone (Gnrh) Dan
Prostaglandin (Pgf2) Pada Induk Sapi Bali. Seminar nasional
teknologi peternakan dan veteriner : 72-76
Salverson, R.( 2006).Manipulation Of The Oestrus Cycle In Cow. South
Dakota State University- Cooperative Extension Service-USDA,
USA.
Senger, P .L. 2003. Pathways To Pregnancy And Parturition. Washington
State University Research & Technology Park. 2nd ed.. Current
13

Conception Inc., Washington.


Siregar, T.N., T. Armansyah, A. Sayuti dan Syafruddin. 2010. Tampilan
Reproduksi Kambing Betina Lokal Yang Diinduksi Berahinya
Dilakukan Dengan System Sinkronisasi Cepat. Jurnal
Veteriner11(1):30-35.
Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Penerbit Angkasa,
Bandung.
Toelihere, M. R. 1985. Inseminasi Buatan pada Ternak. Penerbit Angkasa.
Bandung.